September's Blue : My Rainy Days byh Lovelyn

Go down

September's Blue : My Rainy Days byh Lovelyn

Post by DragonFlower on Mon Jul 15, 2013 4:50 am



Tittle : September's Blue : My Rainy Days
this is my little fairy tale story .....

By : Lovelyn Ian Wong

Cast :
Lee Min Ho as Lee Jung Min
Goo Hye Sun as Goo Jie Ah



PROLOGUE


Menengadah ke langit, hujan turun lagi. Dia menunduk perlahan. Mengorek tanah basah dengan boots karet yang dipakainya. Detak-detik halus terdengar seiring air hujan yang jatuh mengenai payung yang menaungi kepalanya. Dekat ujung kakinya, serumpun mawar liar hampir mati tergenang air hujan.

Gadis muda berparas lembut dengan kulit seputih salju itu mendesah halus. Sepasang matanya yang sayu menjadi semakin sendu. Kepalanya terangkat dan beralih ke sudut belakang pondok tua yang didominasi warna putih. Sebuah rumah kaca kecil berdiri tegak di sana. Beranekaragam bunga tertanam di rumah kaca tersebut.

Sekali lagi, dia menghembuskan nafas berat. Seharusnya serumpun ini dia pindahkan ke dalam rumah kaca beberapa hari yang lalu. Seharusnya dia melakukannya!! Cuaca sangat aneh akhir-akhir ini. Hujan turun terus. Walaupun cuaca ini memudahkannya melakukan segala sesuatu (ya, karena dia hanya bisa bergerak bebas dalam udara sejuk seperti ini …), tapi tetap ada beberapa hal yang menyusahkannya. Seperti saat ini. Karena keteledorannya, salah satu peninggalan paling berharga dari orangtua yang meninggal dalam kecelakaan bersama kakak kembarnya sebulan yang lalu, tersia-siakan.

Dia mengamati serumpun dekat kakinya lagi. Air bening perlahan mengalir menuruni pipinya yang mulus dan jatuh ke tanah, berbaur dengan air hujan yang mengenangi tanah setinggi 2 senti. Tidak terdengar isakan keluar dari mulutnya. Sepasang mata itu juga tidak memperlihatkan perasaan apa-apa. Tetap sendu dan tidak bercahaya.

Lima menit kemudian, dia memutar tubuh kearah pondok kecil yang sudah ditinggalinya bersama keluarganya selama dua tahun. Masuk ke dalam pondok, dia menutup payung dan menyandarkannya ke dinding dekat pintu. Air merembes keluar, membasahi lantai. Tapi dia tidak perduli. Tanpa melepaskan sepatu karet yang masih membalut sepasang kakinya, dia mendekati sebuah kursi kecil dan menjatuhkan diri tepat di depan sebuah lukisan dari cat air. Dia mengamati lukisan hampir jadi itu tanpa berkedip.

Pondok dari kayu bercat putih itu tampak berantakan. Hampir seluruh sudut ruangan dipenuhi perlengkapan melukis. Kuas-kuas beraneka jenis dan ukuran berserakan di lantai, begitu juga kertas-kertas, pensil-pensil dan kaki-kaki penyangga lukisan.

Gadis itu masih tidak bergerak dari posisinya. Pandangannya terarah lurus ke punggung pria jangkung yang membelakanginya dalam lukisan tersebut. Tangan kanan pria itu memengang payung, menaunginya dan gadis di sebelah dari hujan deras yang ditumpahkan dari langit. Tangan kirinya merangkul erat gadis itu, seakan takut air hujan akan melukai gadis itu.

Dia tersenyum perlahan. “Pabo-a, bagaimana mungkin air hujan dapat melukai seseorang!!!”, dia mengutuk diri sendiri dalam hati. Bibirnya digigit kuat-kuat.

Kemudian dia meraih salah satu kuas yang tergeletak di lantai. Membasahinya dengan cat yang belum kering benar dari piring kaca di atas lantai. Setelah itu dia mulai mengoles lukisan tersebut. Mempertegas garis-garis yang masih kabur dari lukisan itu dengan hati-hati.

Dia melakukannya selama sepuluh menit. Setelah selesai, dia meletakkan kuas di tangannya keatas lantai. Dia merentangkan sepasang tangan lebar-lebar dan mengeluarkan suara “Ahhh … “ untuk merengangkan tubuh dari ketengangan selama sepuluh menit itu.

Perlahan, tangan kanannya terjulur, menyentuh punggung pria dalam lukisan. Bergerak dari atas ke bawah. Sangat pelan dan halus. Sepasang matanya semakin redup. Tidak bersinar.

“Kapan kamu hadir dalam hidupku? … Adakah orang sepertimu? … Datanglah segera! Munculah segera dalam hidupku! … Tarik aku keluar dari kegelapan ini, .. saya mohon …. “

Tangannya terkulai ke lantai dan kepalanya tertunduk dalam-dalam. Titik-titik air mulai jatuh ke lantai. Bukan air hujan yang dijatuhkan ke bumi, seperti yang ditumpahkan di luar sana. Tapi airmata yang hampir setiap hari menemani hidupnya.

-------------


Anak laki-laki kecil berusia sekitar 4 tahun itu berdiri tegak di depan pintu gerbang pondok dari kayu bernama ‘Everlasting’. Dia memakai jas hujan, lengkap dengan sepatu karet dan payung kecil yang melindungi kepalanya dari terpaan hujan lebat. Dia kelihatan ragu-ragu sejenak, sebelum akhirnya melangkahkan kakinya ke gerbang pondok itu.

“Bi-a!!! Apa yang kamu lakukan??!!”

Sebuah tangan menariknya kembali. Seorang wanita muda memandanginya dengan mata terbelalak lebar.
“Apa yang kamu lakukan?!!”, tanyanya lagi. Kali ini tidak sekeras tadi.

Bi menoleh pada ommanya. Sepasang mata yang polos itu berkedip berkali-kali.
“Bi mau ke sana ..”, tangan mungilnya yang tidak memengang payung menunjuk ke depan.

Ibu muda itu mengikuti arah yang ditunjuk putranya. Dia menahan nafas sejenak. Pondok ‘Everlasting’ terlihat kelam di cuaca sekelabu ini. Walaupun seluruh dindingnya dicat putih, tetap saja tidak memberi warna kehidupan terhadap pondok itu. Bulu kuduknya mulai berdiri.

Segera dia menarik tangan putranya dan menyeretnya pergi dari situ.
“Ingat Bi!!! Jangan sekali-kali mendekati pondok itu!! ..”

“Weo?”, tanya anak itu polos.

“Banyak kejadian sial terjadi di sana dan omma tidak ingin sesuatu terjadi padamu, arasso?!”, sahut si ibu muda tegas.

Anak itu tidak menjawab. Dia menoleh kembali ke pondok itu. Kekelaman semakin menyelimuti ‘Everlasting’. Mungkin karena hujan dan guntur yang semakin menghebat penyebabnya.

“Araso, Bi-a?”. Wanita muda itu mengayunkan tangan putra dalam genggamannya dan menatapnya tajam-tajam. “Araso?!”

Anak itu mengangguk perlahan. “Ne, omma .. “

---------------


Pemuda jangkung itu berlari di tengah hujan lebat. Sebelah tangannya mengenggam erat setumpuk kertas, sedangkan tangannya yang lain menarik jaket yang dipakainya ke atas, menutupi kepalanya dari air deras yang ditumpahkan dari langit.

Tanpa menghentikan langkahnya, dia menoleh ke kanan dan kiri, berusaha mencari tempat berteduh dari siraman hujan lebat. Tapi tidak ditemukannya. Tempat yang dilaluinya sekarang adalah sebuah lapangan luas. Lima menit kemudian, baru dilihatnya sebuah pondok kecil dari kayu, samar-samar di kejauhan sana. Pemuda itu mempercepat larinya.

Setelah sampai di sana, dia bernafas lega. Agak gugup dia membuka tumpukan kertas dalam tangannya. Basah semua. Kerja kerasnya selama dua minggu musnah sudah. Lukisan dan cerita yang dibuatnya dengan susah payah, dan kesempurnaan … , benarkah kesempurnaan?

Dia tersenyum lebar. “Tidak!! Semua ini hanya sampah!”

Kertas-kertas di tangannya berisi sketsa manga yang akan diterbitkannya tiga bulan mendatang. Tapi apa yang digambarnya di sana? Tidak ada!! Semuanya hanya berisi karakter utama pria dalam berbagai pose. Tertunduk dalam kehampaaan dengan rokok terselip di bibir. Kakinya yang panjang terlihat menarik. Begitu juga model rambut dan penampilannya. Tapi semua itu kurang dan bukan apa-apanya. Ada sesuatu yang hilang dalam sketsa-sketsa tersebut.

Dan dia tahu pasti apa kekurangannya. KARAKTER UTAMA WANITA, itulah yang kurang. Sampai sekarang, dia belum mendapat gambaran sedikitpun bagaimana mengeluarkan karakter tersebut lewat goresan tangannya.

Seorang gadis lugu dengan tampang sendu. Sepasang mata tanpa ekspresi, yang belum tersentuh kebiadaban dunia. Rambut lebat dan panjang yang menaungi wajah malaikatnya. Kulit putih bersih, seakan bersinar dalam kegelapan. Sepasang telinga yang panjang dan lancip, lengkap dengan sayap lebar dan indah yang transparan. Sepasang telapak kaki yang polos dan seakan melampung ketika dia melangkah di atas genangan air hujan.

Mata pemuda itu terpejam perlahan. “Mana ada gadis seperti itu?”, bentaknya dalam hati. Gadis dalam bayangannya tidak akan hidup di dunia ini. Dia merupakan bayangan seorang malaikat. Malaikat tanpa cacat. Pemuda itu menghembuskan nafas perlahan.

Dia menengadah ke langit. Air semakin deras ditumpahkan ke bumi. Dia sangat membenci cuaca seperti ini. Hari hujan selalu membuatnya gelisah.

Dia pecinta matahari. Sinarnya yang terang selalu memberikan pengharapan padanya. Begitu juga panasnya matahari, memberi dorongan padanya untuk berbuat lebih banyak. Menyelesaikan semua pekerjaan dengan semangat tinggi. Matahari perlambang kehidupan. Berbeda dengan hujan yang menimbulkan kekelaman dan kegelisahan dalam hatinya. Dia selalu berbuat salah jika hujan sudah turun. Tidak ada yang beres di hari hujan.

“Tidak seorangpun di dunia ini, yang menyukai cuaca seperti ini!!!”, ucapnya penuh keyakinan.

Tidak diketahuinya sama sekali kalau jauh di belakang sana, … di dalam pondok kecil di belakangnya, ada seseorang yang hanya dapat hidup di hari hujan .. di cuaca yang sangat dibencinya …..

_________________oOo_______________________


_________________


♥️ "Everywhere ★ we learn ★ only from ★ those whom ★ we love" ♥️
avatar
DragonFlower

Posts : 94
Join date : 2013-06-17
Location : | Trapped in CNBLUE Dorm |

View user profile

Back to top Go down

September's Blue : My Rainy Days ~ CHAPTER ONE (Part i)

Post by DragonFlower on Mon Jul 15, 2013 7:06 pm



Tittle : September's Blue : My Rainy Days
this is my little fairy tale story .....

By : Lovelyn Ian Wong


CHAPTER ONE (Part i)





Lima menit berlalu. Bayangan dalam pondok tua yang sedari tadi hanya berdiam diri dengan sepasang pundak naik turun akibat menahan gejolak perasaan, bergerak dari posisinya. Dia meraih kuas terkecil dengan ujung lancip dari mangkuk kaca di atas lantai. Sebagai sentuhan terakhir, gadis muda berparas lembut dengan sepasang mata sendu itu menorehkan sebuah nama di sudut kiri paling bawah lukisan 'seorang pria yang sedang memayungi wanita dalam rangkulannya. Berusaha melindungi bidadarinya dari siraman deras air hujan, dengan posisi memungungginya.' -GOO JIE AH-




--------------------


Pemuda jangkung itu mengulurkan tangan ke depan. Segera saja, air deras langsung menerpa telapak tangannya. Dia langsung menghembuskan nafas panjang-panjang. Hujan lebat belum juga mereda. Langit sangat kelam. Guntur dan petir menyambar silih berganti. Pakaiannya sudah basah kuyup. Begitu juga kumpulan sketsa dalam genggaman tangannya.




----------------------

Jie Ah berdiri dari kursi. Setelah mengamati lukisan dihadapannya untuk terakhir kali, dia berjalan ke deretan jendela panjang dari kaca di ruang depan. Memonitori keadaan luar lewat gorden jendela yang terbuka dengan sepasang mata sendunya. Cuaca di luar semakin memburuk.




Guntur bergemuruh sahut-menyahut, diiringi petir yang saling menyambar, menimbulkan kebisingan luar biasa. Kegelapan mulai menyelimuti jagat raya, walaupun waktu itu baru menunjukkan pukul 5 sore. Pohon-pohon besar di halaman depan meliyuk-liyuk, bergoyang dengan keras tertiup angin kencang.

Perlahan, Jie Ah bergerak dari jendela, menuju pintu depan. Setelah meraih payung yang disandarkan di dekat sana, dia membuka pintu dan melangkah keluar.

Air hujan yang terbawa angin langsung menerpa tubuhnya. Terburu, Jie Ah membuka payung dan berusaha melindungi diri dari terpaan air hujan.

Tanpa ragu dia memajukan langkah ke depan. Sekitar tiga meter, dia berhenti, tepat di depan serumpun mawar liar yang sudah tergenang air. Agak berjongkok, dia menarik beberapa batang dari rumpun mawar tersebut, sampai ke akar-akarnya.

"Akhhh ...", rintihnya pelan ketika dirasakan duri-duri tajam dari batang-batang mawar liar tersebut mengores telapak tangannya.

Jie Ah mengigit bibir bawah keras-keras. Sepasang matanya terpejam. Dengan usaha keras, dia menahan rasa sakit dan nyeri yang menyerang telapak tangannya. Yang perlahan menjalari lengan, dan naik ke seluruh tubuhnya. Darah segar mulai mengalir keluar dari goresan-goresan panjang yang terbentuk oleh sayatan duri-duri tajam dari serumpun mawar liar di tangannya. Selain rintihan pelan tadi, tidak ada suara lain terlontar dari bibir gadis itu. Jie Ah membuka matanya lagi.




Perlahan, air hujan mulai merembes masuk ke dalam pakaian yang dikenakannya. Hawa dingin menjalari tubuh, mulai dari kaki, naik sampai keatas kepala.

---------------


Pemuda berparas sempurna itu menengadah ke langit untuk kesekian-kalinya. Tidak ada tanda hujan akan berhenti. Angin bertiup semakin kencang. Membawa bulir-bulir air sebesar butiran beras kearahnya.

"Grrrr .....!!!". Si pemuda berusaha merapatkan jaketnya. Hawa dingin terasa mengigit sampai ke tulang.

"Huhhh sial benar!!!", makinya.

Terjebak di tempat asing selama setengah jam membuat perasaannya mulai tidak tenang. Ditambah lagi, rasa perih di wajah yang semakin terasa akibat goresan air hujan yang mengiris kulit wajahnya.

"Cuaca apa ini??!!", dengusnya, kesal.

Mendadak, angin yang teramat kencang mengulung genangan air dari tanah kearahnya.
"Ahhh ....!!!", dia berteriak keras, dan spontan mundur ke belakang. Agak memojok ke tepi paling sudut, pintu dari kayu tua yang memagari pondok di dalamnya.

Wajahnya berhasil diselamatkan dari Semprotan keras tadi. Tapi sekujur badannya tidak dapat menghindar lagi, basah semua oleh air hujan bercampur tanah.
"Aishhhhh!!!!!!". Dia mengibaskan tangan ke baju yang melekat di tubuhnya berkali-kali. Udara terasa semakin dingin. Giginya mulai bergemelatuk pelan. Kumpulan sketsa di tangannya sudah tidak berbentuk lagi. Gambar-gambar yang digores dengan pencil, memudar karena siraman air hujan.

Klekkk ......

Deritan halus dari sebelah, membuatnya berpaling. Pintu kayu yang sudah tua tapi terlihat tetap kokoh itu terbuka perlahan. Pemuda itu mengerutkan alisnya. Mengapa penghuni rumah ini keluar di cuaca seburuk ini?

Dia menunggu selama beberapa detik. Keheningan menyelimuti pintu gerbang yang dibuka dari dalam tersebut. Tidak ada reaksi sedikitpun dari dalam sana. Dia sudah bermaksud bergerak dari posisinya ketika sebuah kaki tiba-tiba terjulur keluar. Kaki itu sangat putih dan mulus tanpa cacat. Mulutnya mengangga perlahan. Untuk pertama kalinya dia melihat kaki seindah itu.

Kemudian, pemilik kaki sempurna itu tampil dihadapannya. Dengan sebuah payung melindungi kepala dan badan dari siraman air deras, sedangkan tangan yang satu mengenggam beberapa batang mawar yang sudah layu. Perhatian pemuda itu masih tertuju pada sepasang kaki yang terbalut boots karet. Keindahan itu terbentang di depan matanya hanya dalam lima detik. Gaun putih panjang bergelombang langsung terjuntai, menutupi sepasang kaki mulus itu.

Pemuda jangkung itu menegakkan tubuh dan mengamati orang dihadapannya. Dia seorang gadis berdandanan sederhana. Kaos dan rok panjang berwarna putih, dengan syal abu-abu melilit bagian lehernya. Rambut hitam bergelombak yang teramat panjang, menjuntai sampai ke pinggang. Wajah tersebut teramat putih, seakan bersinar di kekelaman senja itu. Sepasang matanya tak terpusat, hampa dan tidak melukiskan perasaannya.




Tanpa menoleh padanya, gadis itu bergerak perlahan. Kelihatannya dia tidak menyadari keberadaan seseorang di sekitar tempat itu. Kakinya bergerak, membelah genangan air di jalanan tanah yang terbentang sampai ke ujung bukit.

Pemuda itu memperhatikan punggung gadis yang mulai menjauh dari pandangannya. Matanya menyipit. Apakah dia tidak salah lihat? Entah mengapa, samar-samar .. dia melihat daun telinga gadis itu mulai memanjang dan ujungnya melancip ke atas. Sepasang sayap transparan dan indah menyembul keluar dari balik kaos yang dikenakannya.

Seperti terhipnotis, pemuda tersebut mulai mengikuti langkah gadis itu. Jarak di antara mereka sekitar tujuh meter. Jalanan mulai menanjak ke atas. Dan hujan masih turun dengan derasnya. Tubuh pemuda itu sudah basah semua, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tapi dia tidak perduli. Langkahnya tidak berhenti. Terus mengikuti langkah gadis itu, seperti tertarik seutas tali kuat dan kekal yang tidak tampak.

Matanya berkedip berulangkali, guna mempertajam pandangan ke depan, dan mengusir air hujan yang memasuki matanya. Dia mengelengkan kepala keras-keras. Telinga yang panjang dan lancip, juga sepasang sayap yang sangat indah dan transparan itu sudah menghilang dari postur gadis itu. Dia menghembuskan nafas perlahan. Khayal, dia sudah mengkhayal terlalu banyak!!!

Tanjakan yang mereka lewati semakin tajam, mengarah ke atas bukit. Tidak banyak pohon tumbuh di sana. Rerumputan lebih mendominasi bukit kecil tersebut. Gadis itu belum menghentikan langkahnya. Tanpa disadari, hujan mulai mereda walaupun belum benar-benar berhenti. Selama sepuluh menit mereka mendaki bukit kecil yang terhampar di depan mata.




Tiba-tiba gadis mungil itu menghentikan langkahnya. Pemuda itu sangat terkejut. Spontan, dia mundur ke balik pohon yang tumbuh dekat situ. Dia berusaha menajamkan pandangan ke depan. Apa yang akan dilakukan gadis itu?

Perlahan, gadis itu menaruh batangan mawar di tangannya ke tanah. Tunggu dulu! Bukan tanah, tapi gundukan tanah. Ada tiga gundukan tanah di depannya. Tiga buah nisan yang masih baru.

Pemuda itu tertegun. Tangannya terangkat, menghapus air hujan dari wajahnya. Mengapa ada nisan di bukit ini? Gadis di hadapannya sangat aneh!!

Gadis itu tidak bergerak dari posisinya selama beberapa menit. Dia mengamati ketiga nisan itu. Kehampaan dan kesenduan terlukis jelas dari wajahnya. Hanya bayangan sekilas itu yang berhasil tertangkap oleh pandangan pemuda di belakangnya. Setelah itu, gadis tersebut mulai bergerak dari tempat itu. Menuruni bukit dengan langkahnya yang lamban dan seakan meluncur di permukaan tanah basah yang tergenang air hujan.

Pemuda jangkung itu mendekati ketiga nisan tersebut. Dia menunduk, dan terbaca olehnya beberapa nama, GOO HYUNG BUN, JUNG GAE IN, dan GOO SI HWAN. Dia mengangkat kepala perlahan, dan menoleh ke belakang. Bayangan gadis tadi sudah mengecil dari pandangannya. Hampir menghilang di kaki bukit, di mana perumahan yang tadi disinggahinya, dan tempat tinggal gadis itu berada.


_________________oOo_______________________


_________________


♥️ "Everywhere ★ we learn ★ only from ★ those whom ★ we love" ♥️
avatar
DragonFlower

Posts : 94
Join date : 2013-06-17
Location : | Trapped in CNBLUE Dorm |

View user profile

Back to top Go down

September's Blue : My Rainy Days--Chapter Two ( Part I )

Post by DragonFlower on Mon Jul 15, 2013 7:09 pm


Tittle : September's Blue : My Rainy Days
this is my little fairy tale story .....

By : Lovelyn Ian Wong


CHAPTER TWO (Part i)





"Huhhhh hujan lagi, hujan lagi!!!". Petugas DHL express itu mengibaskan butir-butir air hujan dari seragamnya. Bukan butir-butir hujan, tepatnya .. seragamnya sudah benar-benar basah tersiram air hujan yang turun dengan derasnya sejak sepuluh menit yang lalu.

Masih kesal, dia berbalik ke pintu gerbang dari kayu tua di belakangnya. Ini alamat menurut yang tertera di list mesin pendeteksi yang mesti ditujunya, "Huhhhh .. pondok tua ini lagi ...", gerutu petugas tersebut untuk kedua kalinya.




Perlahan dia meraih gagang dari gelang besi yang terpasang di dinding dan membenturkannya.

tok .. tok ... tok ..., diulang berkali-kali ...

Pada menit yang kelima, pintu kokoh dari kayu tua tersebut dibuka.

drekkk .... seraut wajah yang agak pucat, dipadu sepasang mata besar yang sayu dengan sepasang tangan memegang payung warna putih yang menaungi kepala, menyembul keluar dari balik pintu.

"Pesanannya di mana?", tanya petugas itu dingin.

Jie-Ah sedikit menundukkan kepalanya -dari dulu dia memang senggan bertatap-muka dengan orang asing-, lambat-lambat dia mundur ke belakang dan memberi jalan pada pria dihadapannya untuk masuk ke dalam.

Begitu berada di ruang depan, Jie-Ah menunjuk sebuah lukisan yang sudah dibungkusnya dengan kertas karton dan plastik berlapis-lapis.

Petugas tersebut melangkah ke depan.
"Yang itu?", tanyanya sambil perpaling ke belakang. "Ohhh tuhan!!!!", dia berteriak keras ketika tiba-tiba Jie-Ah sudah berada beberapa inci di belakangnya. "Bisakah anda jalannya jangan mengendap-endap seperti itu??", serunya kesal.

Hati petugas itu berdebar keras dengan tindakan Jie-Ah yang mendadak. Ini wajar saja, berada di pondok suram dan cuaca luar yang buruk, -hujan keras, angin bertiup kencang dan petir yang menyambar sesekali, ditambah kebisuan gadis pucat ini, tentu saja membuatnya gelisah. Kalau perlu, ingin sekali dia lenyap dari pondok ini sekarang juga.

Jie-Ah tidak menjawab pertanyaan tersebut, karena memang pertanyaan itu tidak perlu dan tidak membutuhkan jawaban. Pertanyaan tersebut lebih merupakan pelampiasan kekesalan si petugas padanya daripada pertanyaan yang sesungguhnya.

"Ckk ... ", petugas itu berdecak keras. Dia menulis dan menandatangani sesuatu di secarik kertas kemudian memberikannya pada Jie-Ah. "Ini tanda terimanya .. Lain kali jangan memasukkan pesanan di hari hujan lagi! Kamu juga tahu kan kalau pesananmu tidak boleh basah ...? ". Dengan susah payah petugas express tersebut mengeluarkan lukisan yang cukup besar itu dari dalam pondok.

Jie-Ah memandanginya dalam kebisuan. "Jika saja .. saya dapat melakukannya ... ", ujarnya lirih.




***************


Jie-Ah menghentikan langkah tepat di depan serumpun mawar yang tertanam di taman depan pondok, yang tergeletak di tanah yang terendam air hujan, mati.

"Kenapa? .. kenapa bisa begini?", serunya tak percaya.

Jie-Ah segera berjongkok dan meraih sekuntum mawar yang mekar di antara kuntum-kuntum lain yang sudah mati.


Tangannya bergetar, 'bagaimana mungkin rumpun bunga yang jelas-jelas sudah mati bisa bersemi lagi?'. Jie-Ah tertegun untuk beberapa saat. Hujan makin deras menguyur payung yang menaungi kepalanya. Rok panjang yang dia kenakan sudah basah semua, begitu juga kaos lengan pendek yang dikenakannya, sudah basah sebagian, tapi Jie-Ah tidak memperdulikannya.

Masih dalam keadaan jongkok, dia bergeser ke pagar rendah dalam taman, kemudian meraih sekop kecil yang bersandar di situ. Perlahan Jie-Ah mengorek tanah yang tergenang air di sekeliling kuntum mawar yang mekar mendadak di tengah hujan. Dia melakukannya dengan sangat hati-hati seakan takut sekop tersebut akan merusak akar-akar tanaman itu.

Setelah selesai, Jie-Ah mengangkat batang mawar itu, beserta tanah yang menempel di akar-akarnya, dan membawa tanaman tersebut ke rumah kaca di belakang pondok.


***************


Jung-Min menghentikan cadillac peraknya di depan jalan masuk tanah pemukiman yang terlihat sepi dan hanya terbentuk dari beberapa rumah kayu sederhana dan pondok-pondok tua. Sengaja dia tidak memasukkan mobil tersebut ke dalam gang guna menghindari jalanan lembab yang bisa menyedot roda-roda mobilnya kapan saja.

Jung-Min melepas sabuk pengaman dari badannya, setelah itu dia meraih kunci mobil yang tergantung di sebelah gagang kemudi. Dengan susah payah dia memanjangkan tangan ke jok belakang guna mengambil payung yang dipinjam dengan paksa dari Seung-Gi. Berhasil!! Jung-Min tersenyum perlahan.

Setelah itu dia membuka pintu mobil dan membuka payung dalam genggamannya, kemudian bergabung dengan hujan deras di luar sana.


Jung-Min mempercepat langkahnya. Tidak berapa lama sepatu converse merah yang dikenakannya basah semua. Beruntung tas selempang yang dibawanya ditinggal dalam mobil, jika tidak. .. tak bisa dibayangkan bagaimana nasib sketsa-sketsa kesayangannya.

Hujan semakin deras menguyur bumi. Keadaan di pemukiman tersebut juga semakin suram. Grrrr .. sesekali petir menyambar di angkasa diikuti guntur saling sahut-menyahut. Jung-Min berlari cepat menuju pondok Everlasting. Keadaan pondok itu terlihat tidak berbeda dari kedatangannya dulu, -suram, sunyi dan mati. Titik-titik air hujan yang besar-besar mengalir turun dari atap gerbang utama, seakan berlomba siapa yang terlebih dahulu sampai ke bumi.

Jung-Min menutup payungnya, kemudian menyandarkannya ke pintu gerbang tua tersebut. Dia menengadah ke langit, hujan kelihatan tidak bakal berhenti dalam waktu terdekat.


"Ggrrr .. ". Jung-Min mengigil kedinginan. Pakaiannya basah semua, dari pakaian dalam, kemeja, celana sampai mantel panjang yang dipakainya.

Berulangkali Jung-Min mengibaskan mantel tersebut, berusaha membuatnya lebih kering. Tapi usahanya untuk merasa lebih nyaman dengan percobaan tersebut gagal total karena mantel yang dikenakannya benar-benar sudah menyerap terlalu banyak air hujan.

"Ggrrrrrr ... ", sekali lagi Jung-Min mengigil di tempatnya.

kemudian dia memperhatikan keadaan di sekitar pemukiman itu. Dia mengeleng perlahan, 'cuaca di bulan September ini sungguh tidak bisa diramalkan!'.

Drekkkkk ....., suara halus terdengar dari belakang ..

Jung-Min segera menoleh, pintu gerbang tersebut terbuka dan ... gadis yang selama ini memenuhi pikirannya melangkah keluar dari balik pintu. Jung-Min langsung menyusut dari posisinya.

Jie-Ah berdiri untuk beberapa lama di sana. Pandangannya sayu dan tertuju ke depan, Jung-Min bisa melihat dengan jelas ekpresi wajah gadis itu dari tempatnya berdiri. Jung-Min mundur dua langkah ke belakang, semakin menyusut ke pojok pintu begitu melihat Jie-Ah mulai bergerak perlahan. Tapi ketakutannya terlihat oleh Jie-Ah tidak beralasan karena gadis itu sama sekali tidak meliriknya.

Jie-Ah membuka payung, kemudian menapakkan kakinya ke jalan kecil yang tergenang air. Dia berjalan kearah berlawanan dengan posisi Jung-Min sehingga ia tidak melihat keberadaan pemuda itu. Langkahnya lamban dan berirama. Gaun panjang yang dikenakannya menyapu tanah sehingga gaun yang sudah basah itu menjadi semakin basah.


Jung-Min bergerak dari posisinya. Dia berpikir sejenak sebelum akhirnya mengambil keputusan mengejar gadis itu. Jung-Min mengangkat tangan keatas kemudian menerjang keluar. Maksudnya untuk melindungi kepala dari siraman air hujan tapi tentu saja sia-sia. Air deras yang ditumpahkan dari langit langsung menyiram kepala dan tubuhnya, menjadikannya basah kuyup dalam sekejap. Jung-Min menoleh ke belakang, payung yang tadi dibawanya masih menyandar di tempat yang sama ketika tadi ditinggalkan. "Huhhh sudah kepalang basah .. ", gumamnya sambil terus berlari ke depan.

Yang ditujunya hampir sampai dan ...
"Hi ..", sapa Jung-Min, "Tidak keberatan memberiku tempat berteduh kan?". Sekarang dia sudah menjejajari langkah Jie-Ah.

Gadis itu menoleh, tidak menjawab. Sesaat kemudian dia menatap lurus ke depan lagi.

"Anyong!!!". Jung-Min mengibaskan tangannya di hadapan Jie-Ah.

Gadis itu tetap tidak bereaksi. Langkahnya tidak berhenti dan pandangannya tetap terpusat ke depan.

"Agashi mau kemana? Mian, saya agak asing dengan daerah sini, tadi tidak sengaja masuk ke sini dan sialnya hujan turun mendadak .. saya tidak membawa payung jadi basah semua deh ... ", Jung-Min mencerocos terus, yang sama sekali tidak digubris Jie-Ah.

"O ya saya Lee Jung-Min! Kalau boleh tahu siapa nama agashi?"

Jie-Ah bergerak terus ke depan, berpalingpu tidak apalagi menanggapi perkataan-perkataan Jung-Min.

"Bagaimana kalau kita bersahabat?"

Langkah Jie-Ah berhenti mendadak. "Sahabat?", alisnya berkenyit perlahan.

SAHABAT, kata yang sangat asing baginya. Selama hidup delapan belas tahun di dunia ini, dia tidak mengenal kata itu. Dia lahir, tumbuh dan dibesarkan dalam lingkungan tertutup, bahkan sekolah saja harus menyewa guru pribadi, jika tidak .. dia hanya belajar dari internet dengan pemahaman dari oppa dan kedua orangtuanya. Dia sama sekali tidak punya kesempatan bergaul dengan dunia luar. Jadi, .. sebenarnya apa arti seorang sahabat baginya?

"Ne, chingu.", sahut Jung-Min kebingungan melihat reaksi Jie-Ah. 'Apa ada yang aneh dengan kata itu?'

Perlahan Jie-Ah menoleh padanya, "Denganku?"


"Ne .. "

"Tapi ... weo?"

"Karena ... ", Jung-Min berpikir sebentar, kemudian .. " .. insting .. "

"Insting?!"

"Ne insting, .. itu kata yang tepat. Kita bertemu di sini karena takdir, sedangkan .. mengambil inisiatif mendekatimu dan bersahabat denganmu, itu instingku .. Aku juga tidak tahu mengapa ... "

"O .. ", Jie-Ah memutar tubuh ke samping kemudian meneruskan langkahnya yang tertunda.

"Heii ... ". Jung-Min tiba-tiba menyambar payung dalam genggaman Jie-Ah, "Biar saya yang memayungimu! Saya kesusahan, harus menunduk terus kalau kamu yang memegang payung ini,,, badanku kepanjangan he .. he ... "

Jie-Ah melirik Jung-Min sekilas. Leluconnya tidak membuatnya tertawa, juga tersenyum. Sesaat kemudian dia berpaling ke depan lagi.

"Lalu ... siapa namamu?"

"Goo Jie-Ah .. ", jawab Jie-Ah pelan dan agak gugup. Mengenalkan namanya ke orang lain merupakan sesuatu yang pertama kali dilakukannya seumur hidup .

"Nama yang indah .. ", puji Jung-Min, yang membuat Jie-Ah segera berpaling padanya. "Ingat namaku?", sambungnya.

"Lee ... Jung-Min .. ", jawab gadis itu lagi.

Jung-Min mengangguk puas. "Bagus! Saya kira kamu tidak mendengarkan tadi .. "


Jie-Ah menundukkan kepala perlahan. Pandangan lekat dan senyuman Jung-Min membuat hatinya berdebar keras, ingin sekali dia lenyap sekarang juga dari sisi pemuda ini. Dia merasakan sesuatu yang asing, yang tidak pernah dirasakannya, perlahan-lahan merayap masuk ke dalam hatinya,, entah perasaan apa itu,,, dia tidak menyukainya.

"Kamu mau kemana Jie-Ah ssi?"

"Belanja .. ", jawaban pendek, khas Jie-Ah terdengar lagi.

"Bagaimana kalau saya mengantarmu? Mobilku terparkir di depan gang .. "

Jie-Ah segera berpaling padanya. "Tidak .. tidak perlu .. saya .. saya naik bis kota saja .. "

"Mengapa? Bukankah kita sudah bersahabat? ... Tidak ada salahnya saya mengantarmu, .. lagipula naik mobilku lebih praktis .. "

"TIDAK!!", potong Jie-Ah tegas.

Lalu .. tanpa pemberitahuan lebih dahulu, dia merampas payung dalam genggaman Jung-Min, meninggalkannya sendirian bermandikan air hujan ke terminal bis yang berada beberapa meter di depan, bertepatan dengan merapatnya bis yang dituju di terminal tersebut.

"Aishhh .. ", teriak Jung-Min. Tubuhnya yang tadi lumayan kering menjadi basah kuyup seketika.


_________________oOo_______________________


_________________


♥️ "Everywhere ★ we learn ★ only from ★ those whom ★ we love" ♥️
avatar
DragonFlower

Posts : 94
Join date : 2013-06-17
Location : | Trapped in CNBLUE Dorm |

View user profile

Back to top Go down

SEPTEMBER'S BLUE : MY RAINY DAYS--CHAPTER TWO (Part ii)

Post by DragonFlower on Mon Jul 15, 2013 7:11 pm




Tittle : September's Blue : My Rainy Days
this is my little fairy tale story .....

By : Lovelyn Ian Wong


CHAPTER TWO (Part ii)





Jie-Ah berdiri menghadapi kotak pos di depan gerbang Everlasting dengan sekantong belanjaan di tangannya. Hujan sudah hampir berhenti saat itu. Untuk kesekian kali tangannya terjulur ke kotak kecil tersebut, tapi untuk kesekian kali juga tangannya ditarik kembali. Jantungnya berdebar keras, ini untuk pertama kalinya dia membuka kotak tersebut, biasanya tugas ini dilakukan orangtua dan oppanya ketika mereka masih hidup. Biasanya Jie-Ah tidak tertarik pada kotak kecil ini tapi entah mengapa hari ini, kotak ini menarik perhatiannya.

Setelah mengumpulkan seluruh kekuatannya, Jie-Ah mengulurkan tangannya kembali. Dibukanya pintu kotak pos itu, sebuah bungkusan langsung tertangkap penglihatannya. Kening Jie-Ah berkenyit, tangannya bergetar ketika meraih bungkusan itu. ‘bungkusan apa ini?”, tanyanya dalam hati. Keningnya berkenyit lebih dalam lagi ketika mendapati secarik kertas terlipat rapi tertimpa bungkusan tersebut. Jie-Ah mengambil kertas tersebut, membukanya kemudian mulai menelusuri kalimat demi kalimat yang tertulis dengan tinta warna hitam di atas surat itu. Sampai kalimat terakhir, agak terkejut juga dia mendapati siapa yang menandatangani surat tersebut.




Setelah selesai membaca, Jie-Ah melipat kertas surat tersebut dan memasukannya ke dalam tas. Dia memperhatikan sebentar rintik-rintik air yang mulai mengecil dari atas langit, kemudian dia membuka pintu gerbang dan masuk ke dalam. Beberapa detik dia sudah sampai di ruang depan pondoknya.

Jie-Ah meraih remote AC yang tergelak di atas ranjang, kemudian menekan tombol ON, setelah itu dia berjalan ke dapur dan mengeluarkan semua belanjaannya. Setelah menata semua barang di tempat masing-masing, dia keluar dari dapur. Bungkusan obat yang diperoleh dari dokter Kim Dae-Won yang tadi diletakkannya begitu saja di atas meja rias dekat ranjang masih tergeletak di sana. Jie-Ah mendekati meja itu, meraih bungkusan tersebut dan mengamatinya sejenak dengan pikiran melayang.




Dia menghembuskan nafas perlahan, tangannya bergerak membuka laci kecil di bawah meja rias, kemudian melemparkan bungkusan tersebut ke dalam laci.


**************


Jung-Min memasuki kantor 'Sketch Your Dream' dengan pakaian setengah basah. Baru setengah perjalanan dari ruang kantornya, dia sudah dicegat Seung-Gi. Pemuda itu melirik berkali-kali ke ruangan belakang dengan gelisah.

“Wegude?”, tanya Jung-Min heran.

Seung-Gi mengangkat tangan ke dada Jung-Min, “Tante Shin,, dia mengunjungimu di sini dan .. Hye-Mi juga bersamanya,, sekarang mereka berada di ruang kantormu .. “, jawabnya dengan nafas memburu.

“MWO?!!”, Mata Jung-Min langsung terbelalak lebar, “ … mengapa hyung tidak mengabariku sebelumnya .. ?”, tanyanya gusar.

“Saya sudah berusaha menghubungimu tapi ponselmu tidak aktif .. “, Seung-Gi membela diri.

“Apa? .. tidak aktif? ,,, mana mungkin?!”, sahut Jung-Min, tidak percaya. Tergesa dia mengeluarkan ponsel dari dalam tas kemudian mengamatinya, ternyata ponselnya mati. “Ohh miane hyung-a,, baterainya habis .. he .. he .. “. Jung-Min mengacungkan ponsel ke atas dan tertawa perlahan.  

“Dasar!!”, kesal Seung-Gi. Dia mempelototi Jung-Min sejenak, sebelum mendorongnya ke samping, “Sana,, temui ommamu!!”

“Ne …. He .. he …”




“Saya keluar sebentar, .. Kobayashi-san sedang menunggu penjelasan kita tentang konsep Dream, semoga pihaknya tertarik menerbitkan manga ini.. “, lanjut Seung-Gi sambil melewati Jung-Min. “O ya mana payungku?”, dia berhenti melangkah kemudian menoleh ke belakang.

“Payung?!”, tanya Jung-Min linglung.

“Yaa Lee Jung-Min, tadi kamu meminjam payungku kan?”

Jung-Min langsung menepuk jidatnya, “Ahh ya,, saya ingat sekarang .. “, tapi dia langsung ngakak setelah itu, “.. ha .. ha .. miane hyung, payungnya hilang entah kemana .. “

“Yaa LEE JUNG MIN!!”, teriak Seung-Gi kesal. “Sudah berapa kali kamu menghilangkan payungku?!!”

“Miane, saya tidak sengaja .. “, Jung-Min membungkuk dalam-dalam.

“Ahh sudahlah!!”, Seung-Gi mengibaskan tangannya keras-keras. “Kalau berdebat terus denganmu, bisa-bisa saya terlambat meeting dengan tuan Kobayashi .. Saya akan membeli payung di toko bawah, kelihatannya hujan belum berhenti, .. dan ingat, jangan sekali-kali menyentuh payungku lagi .. “, omelnya berkepanjangan. Setelah itu dia meneruskan langkah kearah pintu.

“ARASO,, Hyung!!”, teriak Jung-Min di tempat sambil mengulum senyum.






**************


Ceklekk .. pintu ruang kantor kecil itu dibuka Jung-Min.




Dua orang wanita di dalam sana langsung berpaling padanya.

“Oppa .. “, seru Hye-Mi manja. Dia berlari kearah Jung-Min dan melingkarkan tangannya ke lengan pemuda itu.

“O .. “, reaksi Jung-Min terhadap keagresifan Hye-Mi.

Dengan halus dilepaskannya gayutan wanita muda itu dari tangannya, kemudian dia mendekati wanita satunya lagi, yang berusia sekitar 50 tahun namun masih terlihat cantik.

Jung-Min merangkul wanita tersebut. “Anyongheseyo nyonya Lee Shin yang cantik .. angin apa yang membawamu kemari?”




Nyonya Lee tertawa perlahan, “He .. he .. mulut putraku semakin manis saja .. bagus kalau dipakai mengejar cewek .. “, pujinya sambil membelai wajah Jung-Min, “ .. untuk apa omma kemari? .. tentu saja karena omma merindukanmu .. Kamu pergi begitu saja dari rumah tanpa alasan yang jelas, sekarang kamu bisa memberi penjelasan pada omma kan? “

Jung-Min mengerakkan bahunya sedikit, kelihatan risih mendapat pertanyaan dari ommanya. Bagaimana dia bisa menjelaskan alasan kepergiannya dari rumah ada di ruangan ini, bersama mereka ,, yaitu si Hye-Mi ...

Jung-Min kemudian mengandeng nyonya Lee ke meja kerja dan mendudukkan wanita setengah baya itu ke kursinya.

“Bagaimana? Bisa menjelaskannya pada omma?”

“Itu hmmm … “, Jung-Min menghentikan perkataannya.

Nyonya Lee melirik pemuda itu sebentar kemudian beralih pada Hye-Mi yang sedang cemberut di tempatnya.
“Hye-Mi a, bisa mencarikan makanan ringan buat omma?”, tanyanya lembut.

Hye-Mi tersentak dari lamunannya, dia segera mengangguk keras-keras. “Ne!!”, dalam sekejap dia menghilang dari ruangan itu.

“Jadi sekarang kamu bisa menceritakannya pada omma kan?”, nyonya Lee mengalihkan perhatian pada Jung-Min.

“De??!”, mata bulat Jung-Min perlahan-lahan melebar.

“Gara-gara Hye-Mi kan? Karena kepulangannya yang mendadak membuatmu keluar dari rumah .. “, wanita itu mengungkapkan pendapatnya. “Benar begitu?”

Jung-Min tidak menjawab, dia hanya mampu mengangukkan kepalanya.

“Kamu tahu sejak dulu omma sangat mencintai Hye-Mi? Omma sudah menganggapnya putri sendiri, .. waktu kepergiannya ke Canada, kamu tahu bagaimana sakitnya hati omma?”

“Ne .. “, Jung-Min mengiyakan lagi.

“Omma sering berpikir, betapa bahagianya jika kalian menikah .. dengan begitu, Hye-Mi tidak perlu kembali ke bibinya .. Dia akan tinggal bersama kita, selamanya, seperti dulu … “

“Omma … “, desah Jung-Min putus asa.

“Tapi sepertinya kamu tidak tertarik padanya .. “, lanjut nyonya Lee kecut. “ … bukannya tidak menyukainya, kamu hanya menganggapnya seorang adik, seorang dongseng yang sangat kamu sayangi, seorang dongseng yang tidak mungkin berubah menjadi seorang istri, begitu kan?”

“Miane, omma … saya .. “

“Cukup … “, potong nyonya Lee, “ .. sekarang, jawab dengan jujur pertanyaan omma .. apa ada wanita lain?”

Jung-Min terkejut, dia tidak menyangka ommanya akan seterus-terang ini. Selama beberapa detik tidak ada reaksi darinya, sedangkan nyonya Lee mengamatinya dengan sinar mata tajam, menunggu jawabannya.
“Lee Jung-Min …. “

“Belum,, .. tapi, mungkin tidak lama lagi .. “, jawab Jung-Min. Bayangan Jie-Ah tiba-tiba melintas dalam pikirannya.

Nyonya Lee mengangguk perlahan, dia tersenyum. “ .. kelihatannya putraku mulai jatuh cinta … “, gumamnya pelan. Dia berdiri dari kursi yang didudukinya, kemudian mulai melangkah kearah pintu. Sampai di ambang pintu yang pintunya sudah dibuka olehnya, dia berhenti. Perlahan, wanita itu menoleh pada Jung-Min, yang pandangannya jatuh ke lantai. “Siapa wanita itu?”, tanyanya halus.

“Mwo?!”, Jung-Min mengangkat wajah dan memandangi nyonya Lee.

“Wanita yang berhasil merebut hatimu itu .. “

“O Goo Jie-Ah .. “, jawab Jung-Min lirih.

Sekali lagi nyonya Lee menganggukan kepalanya, “ .. lain kali kenalkan omma padanya … “

“Ne .. “




“Soal Hye-Mi, …”, nyonya Lee berhenti sejenak, “… kamu tidak perlu khawatir .. “, lanjutnya, “ .. omma akan menjelaskan padanya .. Cinta tidak bisa dipaksakan kan?”, dia mengedipkan sebelah mata pada Jung-Min.

“Gumawo omma … “

Wanita itu berhenti selama sedetik sebelum akhirnya melanjutkan perkataannya, “Jika memang merasa risih dengan keberadaan Hye-Mi di rumah, kamu tidak perlu kembali .. Lakukan saja yang menurutmu nyaman, omma akan selalu mendukungmu … “

“Ne .. “, sahut Jung-Min terharu. Sepasang matanya mulai berkaca-kaca mendengar dukungan dari ommanya ini.

“Heyy anak laki-laki jangan menanggis … “, ujar nyonya Lee sambil menunjuk kearah Jung-Min, “jangan cengeng begitu he .. he .. sudahlah .. omma pergi dulu,, .. sampai ketemu lagi .. “. Nyonya Lee melambaikan tangan dari ambang pintu, dia berlalu dari ruangan itu, meninggalkan Jung-Min yang tersenyum lebar di tempatnya.


**************


Keesokan harinya, hujan turun lagi. Jung-Min yang sedang berkutat dengan sketsa-sketsa segera menghentikan pekerjaannya. Dia berpaling ke barisan jendela kaca di belakang meja kerjanya, air deras laksana tertumpah langsung dari langit menyapu jendela-jendela kaca tersebut, seperti badai sunami yang menyemburkan ombak-ombak tinggi kemana-mana.




Jung-Min berdiri dari posisinya. Tergesa-gesa dia menata sketsa-sketsa yang berserakan di meja ke tempat semula. Setelah itu dia melintangkan tas yang tergeletak di lantai ke tubuhnya, kemudian berlari kearah pintu.

“Heyyy Lee Jung-Min,, mau kemana?!!”, teriak Seung-Gi begitu Jung-Min berkelebat dari belakang, melewatinya begitu saja.

Jung-Min menghentikan langkah tepat di ambang pintu. Dia menepuk keras jidatnya, kemudian berbalik ke meja Seung-Gi. Tanpa dikomando terlebih dahulu, dia menyambar payung yang tersandar di kaki meja kerja Seung-Gi.

“Pinjam payungnya, hyung!!!”, teriak Jung-Min sambil melesat keluar dari kantor itu.

Seung-Gi yang kebingungan mendengar perkataan Jung-Min, menoleh ke tempat payungnya tadi diletakkan, .. kosong!!

Seung-Gi segera meloncat dari kursinya, “YAA LEE JUNG-MIN,, BAGAIMANA DENGANKU?!!”, teriaknya, tapi Jung-Min sudah menghilang dari situ. “ HUHHHH dasar!!! selalu saja begitu!! Mengapa dia tidak membeli payung sendiri?!”, gerutunya. “Tapi .. itu juga percuma, dia selalu menghilangkan payung yang dibawanya .. “, lanjutnya pelan sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.



_________________oOo_______________________



_________________


♥️ "Everywhere ★ we learn ★ only from ★ those whom ★ we love" ♥️
avatar
DragonFlower

Posts : 94
Join date : 2013-06-17
Location : | Trapped in CNBLUE Dorm |

View user profile

Back to top Go down

September's Blue : My Rainy Days --CHAPTER TWO (Part iii)

Post by DragonFlower on Mon Jul 15, 2013 7:13 pm



Tittle : September's Blue : My Rainy Days
this is my little fairy tale story .....

By : Lovelyn Ian Wong


CHAPTER TWO (Part iii)





Jung-Min mengibas-ngibaskan mantel yang membalut tubuhnya. Butir-butir air beterbangan seiring gerakan-gerakan tangannya. Mantelnya basah, walaupun tidak basah semua. Lain dengan celana jeans ketat yang membalut kakinya, benar-benar basah semua. Payung yang dipinjam paksa dari Seung-Gi tidak mampu melindungi dirinya dari terpaan hujan deras.
Jung-Min menengadah. Pintu gerbang Everlasting sudah di depan mata. Dia mempercepat langkahnya. Setengah berlari dia menuju ke sana.
Nafasnya ngos-ngosan begitu sampai di pintu gerbang dari kayu itu. Jung-Min menutup payungnya dan menyandarkannya di pinggir pintu. Sekali lagi dia mengibaskan air yang melekat di tubuhnya. Hujan belum berhenti saat itu. Deru dan terpaannya terasa sangat keras di telinga dan kulitnya.
Jung-Min berbalik dan mengamati sekeliling pemukiman tersebut. Terasa sunyi dan mati. Yea, siapa yang akan berkeliaran dalam cuaca seperti ini? tanyanya dalam hati.
Jung-Min menghembuskan nafasnya. Entah apa yang dilakukan pemilik pondok di belakangnya sekarang ini! Jung-Min memutar tubuh kembali ke pintu gerbang tersebut. Ragu-ragu sejenak, akhirnya dia memutuskan mengetok pintu yang terlihat kokoh itu.
tok .. tok .. tok ...
Dia mendengarkan selama beberapa lama. Tidak terdengar suara. Hanya hembusan angin dan suara guntur mengelegar di angkasa luar yang terdengar. Suasana di tempat itu juga mulai kelam. Bukan karena hari sudah malam ataupun sore, tapi karena matahari tertutup gumpalan-gumpalan awan tebal nan gelap yang menumpahkan hujan lebat ke bumi.
krekkk .....
Pintu gerbang dari kayu itu terbuka perlahan. Jung-Min menajamkan penglihatannya. Seraut wajah yang sangat diharapkan kemunculannya, hadir di depan mata. Sepasang mata besar yang kelabu itu melebar melihat keberadaannya di situ. Bibir mungilnya terbuka--mengangga, seakan tidak mempercayai penglihatannya sendiri. Payung di tangannya agak goyah. Hampir terlepas dari tangannya.
Dengan gugup gadis itu memperbaiki posisinya dan bertanya dengan suara terbatah-batah. "A .. ada .. apa?"
Jung-Min tersenyum. Maksudnya untuk menenangkan gadis di hadapannya. Tapi usahanya tidak membantu. Gadis itu malah kelihatan semakin gugup.
"Hi .. ," sapa Jung-Min. "Masih ingat padaku?"
Gadis itu menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya yang seperti tercekik. Dia mundur selangkah. Wajah yang sudah pucat itu semakin pucat. Seperti tidak berdarah.
"Apa saya mengejutkanmu?" tanya Jung-Min khawatir. "Saya tersesat lagi di sini." alasannya. "Dan juga tidak membawa payung ... ," lanjut Jung-Min sambil tertawa pendek. Kebohongan yang untuk kedua kali diucapkannya terdengar mengelikan. Dia tidak kuasa menahan tawanya walaupun dia yakin ini bukan saatnya untuk tertawa. Gadis di hadapannya terlihat tidak nyaman.
"Lihat pakaianku basah semua .. ," sambung Jung-Min setelah berhasil mengendalikan dirinya. "Saya berusaha mencari tempat berlindung dan tanpa sengaja terlihat olehku pondok ini ... ," dia tersenyum, ".. tidak kukira akan bertemu kembali denganmu .. "
Gadis itu semakin gelisah. Payung dalam genggamannya dipindahkan ke tangannya yang lain. Dari kanan ke kiri. Kemudian dia menoleh ke belakang, selanjutnya berbalik lagi pada Jung-Min.
"Lupa ya?" Jung-Min melebarkan senyumnya. "Saya Lee Jung-Min. Ingat?"
Gadis itu tidak bersuara. Dia mengangguk perlahan.
"Dan kamu ... ," Jung-Min menunjuk ke arahnya. "Goo Jie-Ah .. "
Mulut Jie-Ah mengangga. "Ka .. mu ingat?!" pertanyaan itu terlontar begitu saja. Terdengar sangat polos. Bukan pertanyaan yang memerlukan jawaban, tapi pertanyaan yang memastikan sesuatu.
Jung-Min mengangguk. "Tentu saja!" jawabnya mantap. "Nama seindah itu tidak mudah dilupakan .. " Dia tahu jawabannya terdengar gombal. Tapi dia tidak peduli karena jawaban itu benar adanya. Dia benar-benar merasa nama Jie-Ah adalah nama terindah yang pernah didengarnya.
Jie-Ah tidak bereaksi. Jawaban tersebut membuat sekujur tubuhnya membeku. Untuk pertama kali dia mendengar pujian dari seseorang yang bukan keluarganya. Bukan omma, aboji maupun oppanya. Tapi dari seorang asing yang ditemuinya baru untuk kedua kali.
"Boleh saya masuk ke dalam?"
Pertanyaan itu mengejutkan Jie-Ah. Semua lamunannya buyar seketika itu juga. Jung-Min terlihat agak menyusut ke pintu. Menghindari gulungan air hujan yang semakin menggila.
Jie-Ah mundur selangkah dengan kepala tertunduk. Tubuhnya menempel ke daun pintu. Dengan suara pelan dia berkata, "Silahkan .. "
Jung-Min mengosok-gosokkan sepasang tangan ke lengannya yang terbalut mantel basah. Sekali loncat dia memasuki gerbang pembatas--pemisah jalan kecil di luar dengan pondok tua di dalamnya. Perlahan dia melangkahkan kakinya ke pondok yang pertama kali dilihatnya ini. Pondok tersebut terlihat kelam dan suram. Walaupun cat-cat yang terpoles di dinding-dindingnya berwarna putih polos, tetap saja kekelaman itu sangat terasa. Mata Jung-Min bergerak semakin lebar. Setiap sudut di luar pondok itu tidak lepas dari pengamatannya.
Jie-Ah mengikuti Jung-Min dari belakang. Rok panjangnya bergerak-gerak menyapu air yang mengenangi sepanjang jalan kerikil ke pondok kecil di hadapannya. Payung di tangannya teracung tinggi-tinggi. Berusaha menaungi tubuh jangkung Jung-Min. Tapi tidak begitu berhasil. Payung itu menempel ketat di batok kepala pemuda di depannya.
***********
Jung-Min mengangga setelah berada di dalam pondok. Lukisan-lukisan yang terpajang di beberapa kaki penyangga, yang tergeletak begitu saja di atas meja kayu di tengah ruangan, dan di atas lantai, bersama segala peralatan lukis--dari kanvas-kanvas, kuas-kuas dan tinta-tinta, berikut kertas-kertas gambar yang berserakan ke mana-mana membuatnya takjub. Dia berdiri kaku di depan pintu.
Jie-Ah menyandarkan payung di tangannya ke dinding dekat pintu, tanpa mengetahui keadaan pemuda itu. Dia berjalan ke satu-satunya meja di ruangan itu. Segala sesuatu di atas meja disingkirkan dengan tangannya. Kemudian dia mengambil sebuah gelas dari nampan yang hampir tertutup segala peralatan lukis di atas meja dan menuangkan air dari cerek ke dalamnya. Setelah itu, dia menyambar handuk yang tersampir di sandaran kursi. Dua menit kemudian dia mendekati Jung-Min yang masih terpaku di posisinya.
"Air .. ," kata Jie-Ah pelan sambil menyodorkan gelas di tangan kanannya. "Dan ... handuk ... ," diikuti handuk di tangan kirinya yang agak bergetar.
Jung-Min tersentak. Pandangannya beralih pada Jie-Ah. "Thanks .. ," dia mengambil gelas itu, begitu juga handuk yang tersodor padanya. Kemudian dia tersenyum.
Jie-Ah terlihat kaku. Sesaat dia berbalik kembali ke dalam ruangan. Jung-Min mengikutinya. Pandangan pemuda itu merajarela di seputar ruangan tersebut.
"Kamu ... mengerjakan semua ini?" akhirnya dia berhasil mengeluarkan pertanyaan yang memenuhi otaknya.
Dia mendekati meja dan meletakkan gelas berisi air di tangannya, begitu juga handuk yang telah digunakan membilas tubuh sekedarnya--disampirkan ke tempat semula.
Jie-Ah yang sudah berkutat dengan salah satu lukisan di tangannya menengadah. Dia tidak menjawab. Hanya mengangguk halus.
Mulut Jung-Min kembali mengangga. Luar biasa!![/b] Pujinya dalam hati. Kemudian dia berbalik ke lukisan-lukisan yang terpajang di atas kaki-kaki penyangga. Dihayatinya lukisan-lukisan tersebut satu-persatu. Langkahnya terayun seiring pandangannya yang tak terlepaskan dari hasil-hasil karya tangan Jie-Ah.
Lukisan-lukisan tersebut kebanyakan adalah lukisan-lukisan abstrak. Lukisan kasat mata yang belum tentu bisa tertangkap maknanya oleh orang awam. Warna-warna yang digunakannya sangat kelam dan cenderung gelap. Dari hitam, coklat, sampai kelabu. Ada juga warna merah dan biru. Tapi itu juga berkesan tua dan menyedihkan. Hati Jung-Min tersengat. Entah mengapa dia merasa bisa menangkap kepiluan-kepiluan dan teriakan-teriakan kesakitan yang ditumpahkan lewat sepasang tangan pelukisnya--Goo Jie-Ah.
Lalu langkah Jung-Min terhenti. Lukisan yang sekarang terpampang di hadapannya berbeda dengan lukisan-lukisan sebelumnya. Lukisan ini bukan lukisan abstrak. Juga tidak gelap. Warna-warna yang terpoles di lukisan tersebut termasuk atraktif. Penggunaan warna-warnanya sangat berani.
Lukisan itu menampakkan seorang pria yang sedang melindungi gadisnya dari siraman air hujan. Hanya terlihat punggung-punggung mereka, tapi efek-efeknya terekpos jelas. Lekuk-lekuk tubuh, beserta kecerahan suasananya menimbulkan nuansa lain bagi Jung-Min. Perlahan mata pemuda itu menurun ke bawah. Nama yang tertera di sana langsung membuat tubuhnya tersentak. Bukan hanya kata Goo Jie-Ah penyebabnya, tapi yang terutama dan yang paling penting judul yang diberikan buat lukisan tersebut--DREAM.

"Dream?" Jung-Min membaca kata itu.
Jie-Ah mengangkat wajahnya. Dia berpaling ke arah pemuda jangkung itu dengan kepala dimiringkan sedikit. "Ada apa?" tanyanya pelan. Tindakan yang segera menciptakan keanehan pada dirinya sendiri. Sejak kapan dia tertarik dengan urusan orang lain?
"Ini nama yang kamu berikan buat lukisan ini?" tanya Jung-Min sambil menunjuk lukisan di hadapannya.
Jie-Ah melirik Dream, kemudian mengangguk.
"Aneh sekali .. ," gumam Jung-Min.
"Memangnya kenapa?" tanpa sadar, pertanyaan terlontar lagi dari mulut Jie-Ah.
"Judul yang sama dengan manga terbaruku .. ," jawab Jung-Min, yang langsung disambut pandangan bertanya dari gadis di hadapannya. "O saya seorang penulis manga .. " jelas Jung-Min cepat, " .. dan tidak kusangka kamu memberi judul yang sama untuk lukisanmu ini .. ," dia tersenyum.
Jie-Ah tertegun. Kembali dia melirik lukisan di atas kaki penyangga di hadapan Jung-Min. "Jeongmal?"
Jung-Min mengangguk. "Kelihatannya selera kita tidak jauh berbeda .. ," candanya. "Atau .. mungkinkah pemuda dalam lukisan ini saya?" dia tertawa. "Lihat! Dia juga begitu jangkung .. ," sambungnya, " .. saya jadi berpikir. Gadis ini, mungkin juga kamu adanya .. " tawa Jung-Min semakin lebar.
Jie-Ah membisu selama beberapa detik. Pandangannya beralih dari Dream ke Jung-Min. Kemudian, perlahan-lahan, senyuman tersungging di bibir mungilnya.
***********
Tiga hari berlalu sudah. Jung-Min tenggelam dalam kesibukkan-kesibukkannya. Sketsa-sketsa manga yang pembuatannya diburu waktu dan juga rencana pembuatan film animasi buat manga tersebut.
Matahari bersinar terik selama dua hari terakhir. Sinarnya menerobos masuk lewat jendela kaca dalam ruang kantor Jung-Min. Terasa panas dan menyengat. Sekalipun dalam ruangan ber-AC seperti ruang kantor Jung-Min.
Pensil di tangan Jung-Min terlepas dan mengelincir ke atas meja. Pemiliknya bergerak perlahan. Pemuda itu melepaskan beberapa kancing kemejanya. Dia merasa gerah. Keasyikannya terganggu akibat reaksi kecil dari alam itu.
Jung-Min berdiri dari kursinya. Mendadak perasaannya tidak enak. Dia berputar-putar dalam ruangan itu dengan gelisah. Usahanya untuk menenangkan diri dengan cara itu ternyata tidak berhasil. Perasaan tidak enak itu semakin kuat.
Jung-Min membuka pintu ruang kantornya dan berjalan keluar. Diamatinya keadaan di luar sambil lalu. Para bawahannya tampak sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Seung-Gi tidak kelihatan. Mungkin ada pekerjaan lain di luar. Pikir Jung-Min.
Kemudian, perasaan tidak enak itu kembali mengerogotinya. Seperti firasat buruk yang membayang-bayangi dan mematikan daya pikir serta gerak-gerik tubuhnya. Tergesa-gesa Jung-Min berlari ke pintu depan. Semoga tidak terjadi sesuatu dengannya! Doanya dalam hati. Dalam sekejap, bayangannya sudah lenyap dari kantor kecil itu.
***********
"Gi oppa!!"
Hye-Mi melambaikan tangannya begitu melihat kemunculan Seung-Gi di cafe itu.
"Hi Hye-Mi .. ," Pemuda bertampang chubby tersebut membalas lambaian tangan Hye-Mi dan mendekatinya. Tubuhnya dihempaskan ke kursi di depan gadis itu. Dia tersenyum cerah. "Bagaimana kabarmu?"
"Baik .. ," jawab Hye-Mi. "Oppa minum apa?"
"Latte saja .. ," Seung-Gi memperlebar senyumnya.
Hye-Mi mengangguk, kemudian meneriakkan pesanan Seung-Gi pada seorang pelayan muda yang berada di dekat situ. Pelayan tersebut terburu-buru menuju meja bar dan melakukan pesanan mereka.
"Lalu .. apa sebenarnya maksud undanganmu ini?" tanya Seung-Gi halus.
Hye-Mi tidak menjawab. Dia meraih cangkir kopi dari atas meja dan menyeruput isinya dengan nikmat.
"Jung Hye-Mi ... ," panggil Seung-Gi, masih dengan nada lembut.
Hye-Mi meletakkan cangkir kopinya. "Oppa ini tidak sabaran aja .. ," semburnya. Tampang imut itu berubah cemberut. Bibirnya panjang ke depan hampir satu senti.
Seung-Gi tertawa. "Tidak. Bukan begitu Hye-Mi-a .. ," dia berusaha membela diri. "Oppa hanya ada pekerjaan penting yang mendesak .. "
"Jadi oppa diburu waktu?" selidik Hye-Mi.
"Ne .. "
Hye-Mi mengangguk. "Kalau begitu, langsung ke pokok masalah saja." katanya. "Saya ingin oppa menyelidiki Min-oppa untukku .. "
Mata Seung-Gi terbelalak. "Menyelidiki Jung-Min?" tampangnya terlihat tidak percaya. "Tapi .. untuk apa?"
"Saya curiga Min-oppa ada wanita lain .. , " kata Hye-Mi. "Omma memang tidak mengatakannya. Tapi saya mempunyai perasaan yang kuat itu. Karenanya, saya ingin mengetahuinya .. Siapa wanita itu dan bagaimana dia bisa membuat Min oppa tergila-gila padanya .. "
"Apa .. ini tidak keterlaluan?" tanya Seung-Gi lagi--ragu-ragu.
"Tentu saja tidak." sahut Hye-Mi tegas. Tampangnya langsung mengeras. "Oppa tidak bersedia menolongku?" tanyanya curiga.
Pemuda itu segera mengeleng keras-keras. "Tentu saja bukan, Hye-Mi a .. ," katanya memelas, "Kamu tahu oppa bersedia melakukan apa saja demi kamu ... "
Hye-Mi tersenyum. Dia mengangguk puas. "Tidak usah dikatakan juga, saya tahu oppa menyayangiku .. ," ujarnya sambil meraih cangkir di hadapannya. Dihirupnya dalam-dalam aroma kopi yang menyembur keluar dari dalam cangkir. Matanya terpejam. "Jadi jangan lupa melakukannya untukku, oppa ... "
Seung-Gi menghembuskan nafasnya berat. "Ne .. ," apalagi yang bisa dikatakannya selain kata itu.
Sebentar kemudian, pelayan tadi mendekati mereka dengan secangkir latte pesanan Seung-Gi.
***********
Jung-Min sampai di depan pintu gerbang Everlasting. Diketuknya pintu tersebut berulangkali. Tujuh menit berlalu dan tidak ada yang membukakan pintu buatnya. Jidat Jung-Min berkenyit. Tangannya bergerak lagi--mengetuk pintu itu, lebih keras dari tadi.
tok .. tok .. tok ...
"Jie-Ah!!!" teriaknya. "Buka pintunya!! Saya mohon,,, GOO JIE-AH!!"
tok .. tok .. tok ...
Masih tidak ada reaksi dari dalam pondok. Jung-Min semakin gelisah.
"GOO JIE-AH!!"
tok .. tok .. tok ...
"APA KAMU ADA DI DALAM?" teriaknya. "KAMU BAIK-BAIK SAJA KAN?!! BUKA PINTUNYA,,, GOO JIE-AH!!"
Hati Jung-Min campur-aduk. Firasat buruk yang dirasakannya sejak dari kantor 'Sketch Your Dream' semakin kuat saja. Jung-Min memperkeras ketukannya. Pintu dari kayu tua yang masih kokoh itu bergoyang-goyang hebat akibat perbuatannya.
tok .. tok .. tok ...
"GOO JIE-AH!!!"
drekk .... pintu di hadapannya terbuka perlahan-lahan. Tangan Jung-Min hampir mengenai kepala orang yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
Wajah pucat Jie-Ah tampil dengan ekspresi menderita. Wajahnya lebih pucat dari yang dilihatnya tiga hari yang lalu. Bibirnya digigit keras-keras. Sedangkan mata bulatnya redup. Tidak bercahaya sedikitpun.
"Rumah ... sakit ... KimSeoul ... ," gumam gadis itu pelan. Hampir tak terdengar oleh Jung-Min.
Lalu tubuhnya ambruk dalam dekapan pemuda yang terlihat kaget setengah mati itu.
"Goo Jie-Ah!! Heiiii ,,, bangunlah!!" Jung-Min menguncang keras tubuh Jie-Ah. "Ada apa? Apa yang terjadi?!! Goo Jie-Ah?!!"
Jie-Ah membuka mata perlahan. Wajahnya semakin pucat. Dengan nafas terengah-engah, dia berkata, "Rumah .. sakit .. KimSeoul .... Dok .. dokter ... Kim .. Dae .. Won ... " Tangannya terkulai ke lantai. Begitu juga kepalanya--terkulai dalam dekapan Jung-Min.
"Goo Jie-Ah!!"
Jung-Min menepuk-nepuk pipi Jie-Ah. Berulangkali. Dari pipi kanan ke pipi kiri dan berbalik lagi. Begitu seterusnya. Tapi usahanya untuk menyadarkan Jie-Ah sia-sia. Gadis itu seperti orang mati saja. Kaku dan dingin. Beruntung dia masih bisa mendengar bunyi jantungnya yang berdetak lemah. Dengan ketakutan Jung-Min menaikkan Jie-Ah ke punggungnya.
"Saya mohon ... bertahanlah! Jangan sampai terjadi apa-apa pada-mu!" kata Jung-Min kalang-kabut. Dia berlari ke jalan kecil tanah yang terpentang di sepanjang pemukiman sepi itu. "Kamu dengar saya, Goo Jie-Ah?!!" teriaknya. "Kamu tidak boleh pergi begitu saja!! Kamu berhutang padaku! Kamu harus melunasinya ... GOO JIE-AH!!"
Jung-Min menuju mobilnya. Sinar terik mentari mengenai kulitnya. Panas, seperti membakar seluruh tubuhnya. Tapi Jung-Min tidak peduli. Yang dikhawatirkannya saat ini adalah gadis dalam gendongannya. Tidak ada yang lebih berarti dari keselamatan Jie-Ah. Jung-Min mempercepat langkahnya. Perjalanan tiga menit yang ditempuhnya laksana bertahun-tahun. Tanpa terasa, beberapa butir airmata mengalir turun, membasahi mantel dan celana jeans yang dikenakannya.
***********
Mobil Jung-Min berhenti di depan rumah sakit KimSeoul. Tergesa-gesa dia keluar dari mobil. Berjalan lebar ke bangku di sebelahnya dan mengendong Jie-Ah keluar.
Seperti orang yang kehilangan akal sehatnya, Jung-Min melesat masuk ke rumah sakit.
"Dokter!!! .. Suster, tolong! ... tolong temanku!! .. tolong dia,, saya mohon!!" teriak Jung-Min histeris.
"Selamatkan dia ... Saya .. saya mohon ... ," Jung-Min tersungkur ke lantai dengan Jie-Ah yang masih terpeluk erat dalam dekapannya.
Orang-orang dalam rumah sakit mulai menaruh perhatian pada Jung-Min begitu melihat pemuda jangkung itu menanggis tersedu-sedu. Beberapa suster mendekatinya.
"Ada apa?" tanya salah seorang dari mereka. Tangannya menyentuh lengan Jung-Min.
"Selamatkan dia ... ," hanya perkataan ini yang mampu dikeluarkan Jung-Min. "Dokter Kim .. ," tiba-tiba nama itu teringat olehnya. Jung-Min mengumam lagi. "Dokter Kim Dae Won .. Saya mencari dokter Kim Dae Won ... "
"Telepon dokter Kim .. ," seru seorang suster pada suster yang lain. Suster yang mendapat perintah itu segera meninggalkan mereka.
"Tuan .. ," suster muda tadi kembali menyentuh lengan Jung-Min. Kali ini dia mengoyangnya agak keras. "Sebaiknya nona ini serahkan pada kami ... ," sarannya.
Dengan linglung Jung-Min mengangguk. "Dia tidak apa-apa." katanya pelan. Suaranya terdengar bergetar hebat. "Tidak mungkin terjadi apa-apa padanya .. "
Para regu penolong pertama di rumah sakit itu mulai menangani Jie-Ah. Alat pembantu pernafasan dipasangkan di bagian bibir dan hidungnya. Jung-Min meliriknya putus asa. Salah seorang regu penolong membantunya bangkit dari lantai dan mendudukannya di kursi panjang yang terdapat di sana. Jung-Min menyandar ke sandaran kursi. Matanya terpejam perlahan. Dan airmata kembali mengalir dari kedua sudut matanya.
"Dia tidak apa-apa ... ," desisnya lirih. "Dia akan baik-baik saja .. Akan baik-baik saja ... Penyakitnya tidak parah .. tentu tidak parah ... "
Suster yang masih berdiri di samping Jung-Min menoleh padanya. Ekspresinya tidak mengisyaratkan harapan Jung-Min.
"Saya tidak yakin, tuan .. ," kata suster itu. "Anda tahu siapa dokter Kim Dae Won?"
Mata Jung-Min terbuka. Perlahan-lahan dia menoleh ke arah suster itu. Dia tidak menjawab. Ditatapnya suster muda itu dengan pandangan nanar.
"Dokter Kim Dae Won, dokter spesialis jantung di rumah sakit ini."
Jawaban itu laksana petir menyambar sanubari Jung-Min. Lututnya langsung lemah. Sekalipun dia duduk di kursi, badannya hampir tersungkur ke depan. Tak terkendali lagi oleh pikirannya. Agak sempoyongan dia menyandar kembali ke sandaran kursi. Matanya terbelalak lebar pada suster yang kelihatan agak menyesal dengan perkataannya barusan.
"Yoona!!" terdengar teriakan dari meja resepsion. Suster yang tadi diminta menghubungi dokter Dae Won melambai ke arah suster di sebelah Jung-Min. "Dokter Kim belum kembali dari luar kota." kata suster itu. "Dokter Song yang akan mengambil-alih kasus ini. Dia dalam perjalanan kemari ... "
Suster muda yang diteriakinya mengangguk. Sedangkan Jung-Min, begitu mendengar kabar itu semakin terpuruk di tempatnya. Tubuhnya lunglai. Oh tuhan, Selamatkan dia! Aku mohon selamatkan dia! Aku rela membayarnya dengan umurku jika dia diberi kesempatan hidup, bernafas lagi.


_________________oOo_______________________



_________________


♥️ "Everywhere ★ we learn ★ only from ★ those whom ★ we love" ♥️
avatar
DragonFlower

Posts : 94
Join date : 2013-06-17
Location : | Trapped in CNBLUE Dorm |

View user profile

Back to top Go down

Re: September's Blue : My Rainy Days byh Lovelyn

Post by lee minsun4ever on Tue Jul 16, 2013 4:29 am

Mkasih y sis dah update,,,,
penasaran nih,,,ma kelanjutan nya ni ff,,,soal nya belum pernah baca,,,
avatar
lee minsun4ever

Posts : 5
Join date : 2013-06-26
Age : 28

View user profile

Back to top Go down

CHAPTER THREE (Part i)

Post by DragonFlower on Sat Jul 27, 2013 4:44 am



Tittle : September's Blue : My Rainy Days
this is my little fairy tale story .....

By : Lovelyn Ian Wong


CHAPTER THREE (Part i)





Jung-Min terhempas di bangku di belakangnya.

Dia capek--sangat capek. Habis sudah tenaganya setelah mondar-mandir hampir setengah jam di depan pintu ruang gawat darurat tempat Jie-Ah menjalani pertolongan darurat dari dokter Song dan beberapa dokter dan suster berpengalaman. Dia mengangkat wajah dan berpaling ke samping--belum ada reaksi dari ruangan tersebut. Jung-Min menghembuskan nafas berat-berat. Matanya yang bengkak akibat terlalu banyak menanggis terpejam perlahan. Dia berdoa dalam hati--seperti doa-doa sebelumnya. Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Jie-Ah. Asal dia membuka matanya, dia bersedia mengantinya dengan usianya sendiri.

drekkk .... pintu ruang gawat darurat di sebelahnya terbuka. Beberapa dokter dan suster yang berpakaian serba putih--lengkap dengan masker--keluar dari ruangan tersebut. Jung-Min segera berdiri dari tempatnya. Tubuhnya agak oleng. Untuk bertahan, tangannya menumpu ke dinding di sebelah pintu.

"Pekerjaan yang bagus dokter Song .. ." Seorang pria bertubuh kurus dan berkacamata--salah satu dokter specialis jantung yang bertugas hari itu--menepuk lengan dokter bertubuh mungil di sebelahnya.

Dokter Song tersenyum dan balas menepuk lengan dokter berumur tigapuluhan itu. "Thanks, dokter Park. Saya benar-benar berterimakasih buat bantuan anda." kemudian dia beralih ke rekan-rekannya yang lain. "Terimakasih buat semuanya." dia membungkuk dalam-dalam. "Hari yang melelahkan." katanya sambil menghela nafas. "Saya akan bergabung buat operasi jantung satu jam lagi dokter-dokter dan suster-suster sekalian. Masih ada keterangan yang harus kujelaskan pada keluarga Jie-Ah ssi, jadi saya tinggal sebentar di sini. Sekali lagi, thanks .. "

Petugas-petugas rumah sakit itu meninggalkan tempat itu satu-persatu. Dokter Song membuka maskernya. Seraut wajah manis yang putih mulus terkuak dari balik masker.


"Bagaimana dok?" tanya Jung-Min dengan suara gemetar setelah berhasil berdiri tegak di posisinya. "A .. apa sebenarnya yang terjadi padanya?"

Dokter Song mendekati Jung-Min dengan senyum menenangkan. "Dia tidak apa-apa." jawabnya. "Ya walaupun keadaannya tidak bisa dikatakan stabil, tapi .. paling tidak, tidak membahayakan." dokter muda itu berhenti dan mengamati Jung-Min. "Anda keluarga Goo Jie-Ah ssi?"

Dada Jung-Min tercekat--terpukul sakit. Pertanyaan tersebut membuatnya membisu tak mampu bersuara.

"Tuan?" dokter Song menyentuh lengan Jung-Min. "Gwencana?"

Jung-Min tersentak. "Ohh .. "

"Gwencana?" tanya dokter Song lagi.

Jung-Min mengatupkan rahangnya dan menjawab pelan. "Ne."

"Jadi .. apa anda keluarga Goo Jie-Ah ssi?"

Jung-Min mengeleng. "Tidak. Saya .. saya hanya temannya."

"O ...," dokter Song mengangguk. "Apa kita bisa menghubungi keluarganya? Ada yang ingin saya jelaskan tentang penyakit Jie-Ah ssi .. "

Jung-Min mendesah. "Keluarganya tidak akan datang ... ," katanya pelan.

"Mwo?" mata dokter itu melebar. "Tapi mengapa?" Kemudian dia menatap Jung-Min dengan ekspresi serius. "Jika anda ketahui penyakit Jie-Ah ssi sangat serius!"

"Saya menyadarinya." sela Jung-Min cepat. "Saya menyadarinya setelah tahu ada yang tidak beres dengan jantungnya." dia menatap dokter Song, "Tapi tetap saja mereka tidak akan datang."

Wajah dokter Song berkerut sangat dalam. "Mengapa?"

"Keluarganya meninggal dalam kecelakaan tragis sebulan yang lalu, tak terkecuali .. ," tubuh Jung-Min langsung lemas. Susah payah dia meraih bangku di belakangnya, dan menjatuhkan diri di sana. "Dia sendirian .. sendirian ... ," wajahnya tertunduk dan airmata kembali mengalir--tumpah di pangkuannya.

"Ohh ..," dokter Song menutup mulut dengan tangannya. Syok, ya dia tidak kalah syoknya dengan Jung-Min. "Tuhan ... ," tangannya turun dan mengelus-ngelus dadanya. "Di ... dia sendirian sekarang?"

Jung-Min mengangguk. Dokter Song menghembuskan nafasnya berat. Kemudian dia menjatuhkan diri di samping Jung-Min.

"Cuma kamu yang dimilikinya sekarang. Iya kan?"

Jung-Min menoleh padanya. Berusaha mendapatkan arti dari pertanyaan tersebut.

"Kamu pasti heran dan bingung?" kata dokter Song pelan. "Goo Jie-Ah ssi adalah pasien dokter Kim. Maksudku dokter Kim tua, bukan dokter Kim Dae-Won. Beliau adalah ayah dari dokter Kim Dae-Won."

"Maksud dokter?"

Dokter Song tersenyum getir. "Anda pasti menganggapku gila karena membicarakan sesuatu yang tidak berarti." dia berhenti beberapa detik, kemudian melanjutkannya lagi. "Tapi tidak. Penjelasan ini sangat berarti. Ini menyangkut penyakit Jie-Ah ssi."

Jung-Min memperhatikan dokter Song dengan seksama, tanpa berani mengucapkan apa-apa--apalagi menyelanya.

"Dokter Kim tua merupakan dokter pribadi keluarga Goo. Beliau tidak hanya dokter pribadi tapi juga dokter specialis jantung. Beliau juga pendiri dan pemilik rumah sakit ini." dokter Song melanjutkan ceritanya. Dia menatap Jung-Min, kemudian menekan kata-kata yang keluar selanjutnya."Goo Jie-Ah ssi divonis tidak dapat bertahan hidup sejak dalam kandungan."

Mata Jung-Min melebar. "MWO?"

Dokter Song menghela nafas. "Ya, jantungnya tidak tumbuh dengan normal. Karena itu kehidupannya selama ini merupakan keajaiban. Bayangkan, delapan belas tahun. Dia sangat istimewa."

Jung-Min menyandar di sandaran kursi dengan perlahan-lahan. Jadi ini asal-usul Jie-Ah? Asal-usul seorang Goo Jie-Ah--Gadis yang dianggapnya aneh sejak pertemuan pertama? Jung-Min menghembuskan nafasnya keras-keras.

"Dokter Kim Dae Won mengambil-alih tugas menangani penyakit Jie-Ah ssi begitu ayahnya pensiun empat tahun yang lalu." terdengar dokter Song melanjutkan ceritanya. "Selama ini, setiap Jie-Ah ssi melakukan check-up rutin selalu ditemani keluarganya. Kalau tidak salah--appa, omma dengan oppanya. Mereka sangat menyayangi gadis itu. Ya, karena dia sangat luar biasa--saya tahu itu." Dokter Song kembali menghela nafasnya.

Jung-Min menunduk perlahan.

"Tapi tidak kukira nasibnya akan lebih buruk dari itu ... ," kata dokter Song dengan nada menyesal. "Kehilangan orang-orang yang dicintainya hanya dalam sekejap? Menjadi seseorang yang tidak memiliki apapun di dunia ini--dengan tubuh yang digerogoti penyakit, yang siap merenggut nyawanya setiap saat? Jika aku menjadi dia, mungkin sudah lama mengakhiri hidupku .. "

Jung-Min mengangkat wajahnya. "Dokter Song .. "

"Iya?" dokter Song menyahut samar-samar. "Sebaiknya anda memanggil namaku saja. Aku merasa sudah akrab dengan tuan." Dokter Song mengulurkan tangannya. "Aku Song Eun-Hye .. "

Jung-Min menyambut tangan Eun-Hye. "Lee Jung-Min." katanya dengan suara yang agak serak. "Boleh saya menanyakan sesuatu, Eun-Hye ssi?"

"Ne. Apa itu?"

"Bukankah dokter yang menangani penyakit Jie-Ah itu dokter Kim? Ke mana dia? Mengapa anda mengantikannya?"

Eun-Hye menegakkan tubuhnya. "Dokter Dae-Won ada tugas di luar kota selama seminggu. Besok dia akan kembali. Untuk sementara aku yang menangani tugas-tugasnya di sini. Terutama penyakit Jie-Ah ssi .. "

"O .. ," Jung-Min mengangguk kemudian menundukkan wajah lagi.

Keadaan jagi hening. Eun-Hye mengamatinya lewat sudut mata. Selama beberapa saat dia berusaha menilai pemuda itu. Apa sebenarnya arti pemuda ini bagi Jie-Ah? Lima menit berlalu dia bangkit dari bangku dan menepuk lengan Jung-Min.

"Saya harus pergi sekarang, Jung-Min ssi. Masih ada operasi yang harus kulakukan." kata Eun-Hye. "Anda juga, sebaiknya pulang saja. Jie-Ah ssi tidak akan sadar sampai besok."

Jung-Min berdiri dari tempatnya dan membungkuk dalam-dalam. "Araso. Terimakasih, Eun-Hye ssi."

Eun-Hye mengangguk dan kembali menepuk lengan Jung-Min. "Buat dia--bertahanlah!"

"Ne."

Setelah itu Eun-Hye meninggalkan Jung-Min yang segera menjatuhkan dirinya kembali di kursi. Dia menghabiskan waktu sepuluh menit menenangkan diri baru berani membuka pintu ruang rawat Jie-Ah dan masuk ke dalam.

Jie-Ah terbaring dengan tenang di ranjang. Sebuah alat bantu pernafasan terpasang di wajahnya. Begitu juga lengannya terpasang alat infus. Detak-detik dari alat pendeteksi jantung di sebelah ranjang membuat Jung-Min gelisah. Dia mendekati Jie-Ah. Meletakkan tangan di wajahnya--mengelusnya lembut. Wajah yang beberapa jam lalu sangat pucat sudah berwarna lagi. Bunyi nafasnya yang hampir tidak terdengar juga sudah berjalan normal.

Jung-Min menghela nafas. "Jangan khawatir, aku akan menjagamu. Apapun yang terjadi, kamu tidak akan sendirian."

Kemudian ditariknya selimut menyelimuti tubuh Jie-Ah, lalu dia keluar dari ruangan itu.

Tidak ada lagi yang bisa kulakukan! Semua yang terbaik sudah kulakukan. Sekarang, semoga ENGKAU mendengar doa-doaku. Semoga Jie-Ah dapat bertahan hidup. Tidak hanya delapan belas tahun seperti pemberian-Mu, tapi ... akan lebih dari itu. Bisik Jung-Min dalam hati.


***** >< >< *****



Tiga hari kemudian--Jung-Min melempar pensil di tangannya. Huhh .. dia tidak dapat berkonsentrasi. Kepalanya dipenuhi bayangan Jie-Ah. Dia menghembuskan nafas keras-keras, berdiri dari kursi kemudian keluar dari ruang kerjanya. Tiga menit kemudian dia kembali lagi dengan secangkir kopi pahit di tangannya.

Dia mereguk kopi tersebut. Huekk,, terasa sangat memuakkan. Ya, dia memang tidak biasa minum kopi pahit. Tapi dia tidak punya pilihan. Saat ini dia membutuhkan sesuatu yang merangsang otaknya buat melupakan bayangan-bayangan Jie-Ah.

kring .. kring .. kring .. , ponselnya berbunyi.

Jung-Min meletakkan cangkir di tangannya dan meraih ponsel tersebut.

"Yeboseyo ... Mwo? .. Keluar dari rumah sakit? .. Ba .. bagaimana mungkin? Keadaannya belum sehat benar-kan? .. Dia berkeras? .. O araso, aku akan segera ke sana."


Jung-Min menutup pembicaraan dan memasukkan ponsel ke saku jasnya. Tergesa dia mengambil tas yang tergeletak di meja dan menghambur keluar ruang kantornya.

Seung-Gi yang baru memasuki kantor 'Sketch Your Dream' hampir terpelanting ketika Jung-Min sukses menabraknya.

"Hey!!" protes Seung-Gi.

"Miane hyung. Saya sedang diburu waktu!" teriak Jung-Min sambil berpaling ke belakang. "Saya akan kembali agak siangan! See you!" dia melambai pada Seung-Gi, dan dalam sekejap sosoknya lenyap dari situ.

Seung-Gi terbengong-bengong di tempatnya. Dia mengaruk kepalanya yang tidak gatal, kemudian menoleh ke rekan-rekan kerjanya yang lain.

"Wegude?"

Semua dalam ruangan itu langsung mengangkat bahu.

Tiba-tiba Seung-Gi menepuk jidatnya. "Oh pasti ada sesuatu!" katanya.

Dia mengatupkan geraham. Setelah mengambil keputusan kilat, dia memutar tubuh dan berlari mengejar Jung-Min.


***** >< >< *****



"Anda harus mencegahnya, tuan!" kata seorang suster yang bersusah-payah mensejajari langkah Jung-Min.

"Dia tetap berkeras keluar dari rumah sakit?"

"Ne." jawab suster itu di sela-sela nafasnya yang memburu.

Jung-Min berhenti kemudian berbalik padanya. "Di mana dokter Song?"

"Dokter Song dalam perjalanan kemari, tuan." jawab suster tersebut. "Tadi beliau ada operasi mendadak jadi tidak bisa langsung kemari."

Jung-Min mengangguk, kemudian melanjutkan langkahnya. Lima menit kemudian mereka sampai di ruangan Jie-Ah dirawat. Seorang suster tampak sedang menarik tangan Jie-Ah--melarangnya keluar dari kamar itu--sedangkan seorang suster muda lainnya susah payah memberi penjelasan yang sama sekali tidak didengar pasien itu.

"Apa yang kamu lakukan?"

Pertanyaan Jung-Min menghentikan atraksi tarik-menarik dalam ruangan tersebut. Jie-Ah dan kedua suster yang merawatnya segera berpaling kepada pemuda itu.

"Ada apa?" Jung-Min berjalan kearah mereka. Ditatapnya mereka satu-persatu dengan pandangan tajam.

Jie-Ah tidak menjawab. Dia menarik diri kembali--duduk di atas ranjang.

"Jie-Ah ssi berkeras keluar dari rumah sakit hari ini, tuan .. ," Salah seorang suster--yang tadi memberi penjelasan pada Jie-Ah--menjawab pertanyaan Jung-Min.

"Begitu?" Jung-Min berpaling pada Jie-Ah. "Benar begitu?" tanyanya. "Mengapa?"

Jie-Ah tetap membisu. Dia membuang wajah ke samping--menghadap ke dinding--ekspresi wajahnya sangat keras.

"Apa kamu tahu keadaanmu tidak baik?" tanya Jung-Min sambil menghela nafas. "Bisakah kamu mendengarkanku, .. kali ini saja?"

Jie-Ah mengigit bibirnya. "Saya tidak ingin berada di sini." sahutnya tegas. "Saya mau pulang."

Jung-Min berhenti di depan Jie-Ah. "Lalu apa yang akan kamu lakukan di rumah? Siapa yang menjagamu?"

Jie-Ah mengangkat wajah dan membalas pandangan Jung-Min. "Tidak ada urusannya denganmu!"

Mendengar itu, Jung-Min memejamkan mata dan menghembuskan nafasnya.


"Saya sahabatmu Jie-Ah ya ... ," katanya lirih. "Saya ingin yang terbaik buatmu. Penyakitmu tidak main-main. Kamu tahu itu."

Jie-Ah mengatupkan rahangnya. Pandangannya dilemparkan ke jendela. "Saya tidak perlu sahabat. Apalagi itu kamu--saya tidak perlu itu."

"Ada apa?" Eun-Hye muncul dari balik pintu. "Jie-Ah ssi, saya dengar kamu berkeras keluar hari ini .. "

Semua berpaling pada dokter cantik yang baru datang itu. Jie-Ah berdiri dari ranjang dan mendorong Jung-Min ke belakang.

"Saya mau keluar hari ini." katanya tegas.

"Tidak bisa!" Jung-Min menyelanya. "Sudah kubilang tidak bisa! Kesehatanmu tidak mengijinkan."

"Benar kata Jung-Min ssi, Jie-Ah ssi." Eun-Hye menyambung perkataan Jung-Min. "Tunggu beberapa hari lagi. Kami harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap penyakit anda."

"Saya mau keluar!" Jie-Ah tidak bergeming di tempatnya. Dia melangkah ke depan dan membalas pandangan mereka satu-persatu. "Apapun perkataan kalian, saya tetap akan keluar dari sini--dengan atau tanpa seijin kalian--"


***** >< >< *****



Karena kekerasan hatinya, akhirnya Jie-Ah diijinkan keluar rumah sakit oleh Eun-Hye.

"Saya akan mengantarmu." Jung-Min menawarkan diri.

Jie-Ah melewatinya. "Tidak usah." katanya dengan nada datar. "Saya bisa pulang sendiri."

"Tapi ... "

Sebuah tangan tiba-tiba menyentuh pundak Jung-Min. Dia berpaling. Eun-Hye yang berada di sebelahnya mengeleng perlahan. "Biar saya saja."

"Tapi ... ," kata Jung-Min ragu-ragu.

"Dia sangat keras kepala." Eun-Hye menunjuk punggung Jie-Ah yang semakin jauh dari pandangan mereka dengan wajahnya. "Semakin kamu mendesak, semakin dia menjauh."

Jung-Min menghela nafas. Akhirnya dia mengangguk pasrah.


***** >< >< *****


Eun-Hye mengejar Jie-Ah. Sebentar saja dia sudah sampai di sebelah gadis yang memang berjalan tidak begitu cepat itu.

"Bagaimana kalau saya yang mengantarmu?"

Jie-Ah berpaling pada Eun-Hye--tidak menjawab.

"Kebetulan saya masih ada urusan lain di rumah sakit yang sejurusan dengan rumahmu." sambung Eun-Hye dengan senyum cerah. "Kamu tidak menolak penawaran kecil ini kan?"

Jie-Ah masih membisu sambil meneruskan langkahnya. Eun-Hye mengikuti di langkah Jie-Ah di sebelah.

"Mobilku ada di lapangan parkir di luar rumah sakit ini." Eun-Hye tidak menyerah. "Kita ke sana sekarang ya?"

Kedua wanita itu keluar dari pintu masuk rumah sakit KimSeoul menuju lapangan parkir yang ada di depan. Walaupun Jie-Ah tidak mengatakan apa-apa terhadap tawaran Eun-Hye, dia akhirnya menerima juga tawaran tersebut.


***** >< >< *****



Setelah kepergian Jie-Ah dan Eun-Hye, Jung-Min berjalan gontai ke luar dari rumah sakit tersebut. Dia sampai di sebelah mobilnya. Membuka pintu mobil tersebut dan masuk ke dalam. Tak berapa lama mobil itu sudah melaju di jalan raya--bergabung dengan kendaraan lainnya.

Tanpa disadari Jung-Min, adegan-adegan dalam rumah sakit KimSeoul tertangkap semua oleh Seung-Gi.

"Jadi gadis itu yang mencuri hati Jung-Min ... ," Seung-Gi melamun dalam mobilnya. "Tapi mengapa?" kepalanya bergerak ke kanan. "Mengapa gadis berpenyakitan seperti dia?"


Terbayang kembali pembicaraannya dengan salah seorang suster yang merawat Jie-Ah.

Flashback ...

Seung-Gi berdiri di lorong rumah sakit yang menghubungkan beberapa kamar darurat. Dia mendengar semua apa yang terjadi dalam kamar rawat Jie-Ah. Tentang kekhawatiran Jung-Min tentang keadaan gadis yang berkeras keluar dari rumah sakit itu.

Keadaan dalam ruangan masih memanas ketika dua orang suster yang merawat Jie-Ah meninggalkan ruang gawat darurat tersebut. Seung-Gi langsung memojok ke sudut lorong--takut terlihat oleh kedua suster tersebut.

Dua suster muda itu berhenti tepat di depan Seung-Gi sehingga pembicaraan mereka terdengar jelas olehnya.

"Pasien itu sangat keras kepala .. ," gerutu salah seorang dari mereka.

"Iya." suster satunya menyetujui. "Kasian dokter Song harus menangani pasien seperti dia."

"Lebih kasihan lagi dokter Kim." sahut suster pertama. "Beliau kan yang menangani penyakitnya dari empat tahun yang lalu."

"Iya benar." kata rekan kerjanya. "Sepertinya penyakit agashi itu semakin parah. Mudah-mudahan kasus ini tidak menunda pernikahan dokter Song dan dokter Kim."

Suster satunya langsung tertawa. "Tentu saja tidak. Walaupun agashi itu pasien yang sangat diistimewakan dokter Kim tua, tetap saja dia tidak punya pengaruh sebesar itu."

Rekannya mengangguk. "Kalau dipikir-pikir benar juga." dia ikut tertawa.

Tidak lama kemudian mereka berpisah. Si suster pertama masuk kembali ke ruang rawat Jie-Ah untuk berberes-beres sedangkan suster kedua bermaksud keluar dari rumah sakit bagian gawat darurat itu.

Langkahnya baru mencapai setengahnya ketika dihentikan Seung-Gi.

"Anyongheseyo .. "

Suster muda itu berpaling. "Dhe? Memanggilku?"

"Ne." Seung-Gi mendekatinya. "Anyong suster cantik .. "

Suster itu langsung tersenyum-senyum sendiri mendengar pujian Seung-Gi. "Ne. Ada apa?" tanyanya malu-malu.

"Boleh saya menanyakan sesuatu?" Seung-Gi berusaha tersenyum semanis mungkin.

"Iya?"

"Agashi yang dirawat di ruangan itu .. ," Seung-Gi menunjuk ke ruang Jie-Ah dirawat. "Dia sahabatku." katanya masih dengan senyuman tersungging di bibir. "Sudah lama kami tidak bertemu. Tadi saya habis menjenguk seorang sepupu dan kebetulan melihatnya di ruangan itu. Kelihatannya terjadi perselisihan kecil?"

"Iya." jawab suster tersebut. "Agashi itu berkeras keluar dari rumah sakit hari ini padahal kesehatannya tidak mengijinkan untuk itu."

"Memangnya dia sakit apa?" tanya Seung-Gi.

"Hmm--tuan tidak tahu?" si suster memandanginya dengan pandangan menyelidik. Alarmnya langsung berbunyi begitu mendengar pertanyaan yang menyangkut keprofesionalan pekerjaannya tersebut.

"O tidak ... ha .. ha .. ," Seung-Gi tertawa kaku. "Sudah saya katakan kami sudah lama tidak bertemu .. "

"Benarkah?" alis suster itu berkerut. "Aneh sekali."

"Memangnya kenapa?"

"Penyakit Jie-Ah ssi kan sudah dari dulu." jawab suster itu lambat-lambat. "Maksudku ... dia mengidap kelainan jantung sejak dalam kandungan."

"MWO?"

"Tuan tidak tahu." tanya suster itu--semakin curiga.

"Oh!" tiba-tiba Seung-Gi menepuk jidatnya keras-keras. "Sosoengheyo suster cantik ..," dia membungkukkan badannya. "Saya ada urusan penting. Harus pergi sekarang. Permisi ... anyongheseyo ... "

Tergesa-gesa Seung-Gi meninggalkan suster yang terbengong-bengong di tempatnya.

The End of Flashback ...

Seung-Gi menghela nafas, kemudian menstarter mobilnya.

"Mengapa wanita seperti dia yang kau pilih, Jung-Min ya? Bukankah Hye-Mi sudah yang terbaik, tapi mengapa .. ?"

Seung-Gi mengeleng perlahan. Dia menginjak pedal gas dan mobil itu kembali meluncur ke jalan raya.


***** >< >< *****



Duapuluh menit lamanya Jie-Ah tidak bergerak dari posisinya. Dia menyandar ke sandaran kursi di sebelah Eun-Hye yang sedang memegang stir kemudi. Sedangkan pandangannya yang semu terlempar ke luar jendela.

"Hmm--pemuda itu .. ," Eun-Hye berusaha memulai pembicaraan di antara mereka setelah kebisuan yang berkepanjangan. "Maksudku--Jung-Min ssi, .. sepertinya dia menaruh perhatian terhadap kamu .. "

Jie-Ah tidak bereaksi. Bergerakpun tidak apalagi menyahut. Perhatiannya--atau dia berpura-pura menaruh perhatian--terpusat ke pemandangan di luar sana.

"Mengapa kamu tidak memberinya kesempatan?" Eun-Hye melirik Jie-Ah.

Umpannya berhasil! gadis itu bergerak perlahan. Dia menoleh ke arah Eun-Hye yang masih meliriknya. "Kesempatan?" kata Jie-Ah pelan--lebih seperti gumaman. "Apa saya punya kesempatan itu?" katanya pada diri sendiri. Dia mendesah, kemudian mengalihkan pandangan kembali ke luar jendela.


Eun-Hye tertegun. Pertanyaan tersebut begitu menyayat hati. Apalagi pandangan yang teramat sayu dan tak bercahaya itu, entah mengapa seakan mengoyak perasaannya menjadi serpihan-serpihan kecil.

"Jie-Ah ya ... "

"Saya bukan menyerah." kata Jie-Ah--yang begitu mengagetkan Eun-Hye, karena tidak mengira gadis murung ini akan menyahutnya lagi. "Tidak. Saya tidak menyerah! Jika saya menyerah, saya sudah mati sejak dulu." Jie-Ah menghembuskan nafasnya sehingga menghasilkan uap-uap halus di jendela mobil. "Saya hanya ... tidak ingin memberi harapan yang hampir mustahil." suaranya memelan. "Apa itu salah?"

Eun-Hye kembali tersentuh dengan perkataan-perkataan Jie-Ah. Walaupun penumpang mudanya ini tidak menatapnya, dia bisa melihat kesenduan lewat pundak yang terlihat kaku itu.

"Kalau begitu lupakan saja .. ," kata Eun-Hye tiba-tiba.

Jie-Ah menoleh perlahan dan memandanginya dengan sinar mata bertanya.

"Lupakan para pria." Eun-Hye tersenyum. "Mulai saat ini kita bersahabat, ok?" dia mengedipkan sebelah matanya. "Saya bangga bersahabat denganmu. Karena itu, kabulkan permintaanku! Maukan?"

"Sahabat?" Jie-Ah mengulang kata yang terasa asing baginya tersebut.

Pertama kali dia mendengar kata ini, ketika Jung-Min memintanya padanya--dan kali ini dokter yang pandai dan cantik ini juga mengutarakan maksud bersahabat dengannya? Mengapa?

"Ne, sahabat." Eun-Hye mengulurkan tangannya. "Dan sebagai sahabat-- apapun yang terjadi, kamu harus memberitahukannya padaku, araso?"

Jie-Ah tidak menjawab. Kepalanya tertunduk memandangi kuku-kuku jemari tangannya.

"Mulai besok dokter Kim akan mengambil-alih tugas memeriksamu." lanjut Eun-Hye begitu melihat gadis di sebelahnya membisu. "Ingat memeriksakan dirimu besok siang, gadis bengal!" dia mengelus halus kepala Jie-Ah sambil tersenyum lembut. Dia mengamati Jie-Ah sejenak, kemudian mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dari tas kulitnya. "Ini obatmu." dia menyodorkan bungkusan tersebut. "Jangan lupa memakannya." katanya dengan nada mengancam. "Jangan sekali-kali melanggar perintahku ini, Jie-Ah ya. Saya tahu obat yang dokter Kim berikan padamu tidak kamu makan."

Jie-Ah memandangi bungkusan di tangan Eun-Hye. Agak lama dia tidak bergerak dari posisinya. Mobil yang dikemudikan Eun-Hye perlahan menanjak ke atas--memasuki pemukiman ter-pencil di sudut kota Seoul tersebut.

"Takut saya meracunimu?" goda Eun-Hye tanpa berpaling dari jalanan di depannya. "Tenang saja saya bukan dokter berhati hitam kok .. " dia tertawa.

Mau tidak mau Jie-Ah tersenyum--tapi hanya sesaat. Tangannya kemudian terjulur menerima bungkusan dari tangan Eun-Hye. "Ghamsamida .. ," katanya pelan.

Tak terasa mobil yang mereka tumpangi berhenti dengan decitan pelan di depan pintu gerbang Everlasting.


Jie-Ah membungkuk perlahan, "Ghamsamida .. "

Eun-Hye mengangguk. "Hati-hati Jie-Ah ya .. "

"Ne." jawab Jie-Ah.

Dia membuka pintu, kemudian keluar dari mobil--diiringi helaan nafas Eun-Hye.



_________________oOo_______________________



_________________


♥️ "Everywhere ★ we learn ★ only from ★ those whom ★ we love" ♥️
avatar
DragonFlower

Posts : 94
Join date : 2013-06-17
Location : | Trapped in CNBLUE Dorm |

View user profile

Back to top Go down

CHAPTER THREE (Part ii)

Post by DragonFlower on Sat Jul 27, 2013 4:46 am



Tittle : September's Blue : My Rainy Days
this is my little fairy tale story .....

By : Lovelyn Ian Wong


CHAPTER THREE (Part ii)





tok .. tok .. tok ....

"Masuk!"

drekkk ... sesosok tubuh mungil muncul dari balik pintu yang terbuka. Dia memakai jubah panjang warna putih dengan rambut panjang yang disangul ke atas. "Dear, sedang sibuk?" tanyanya.

Dokter muda dalam ruangan itu mengangkat wajah dari laporan-laporan pasien di atas meja. Dia tersenyum begitu melihat tunangannya mendekatinya.

"Sedikit." katanya sambil berdiri dari kursi. "Ada urusan mencariku?" Dia memberi kecupan hangat di pipi wanita berpakaian dokter tersebut.

"Ne. Tentang Jie-Ah."

"Goo Jie-Ah?" raut wajah si dokter pria berkerut. "Hmm--kelihatannya kau tertarik padanya, Eun-Hye a?" dirangkulnya tubuh Eun-Hye dari belakang.




"Ne." jawab Eun-Hye. "Dia, .. bagaimana menjelaskannya ya?" pandangannya menerawang ke langit-langit ruangan. "Dia .. mengingatkanku pada Hong-Ki." kemudian dia menoleh ke dokter muda di sebelahnya. "Kamu ingat Hong-Ki, Dae-Won a?"

Dae-Won berpikir sejenak. "Maksudmu ... sepupumu yang meninggal karena kelemahan jantung itu?"

Eun-Hye mengangguk. Pikirannya kembali menerawang ke masa lalu.

"Kamu teringat padanya karena kasus Jie-Ah?"

Eun-Hye mendesah perlahan. "Keadaan Jie-Ah lebih parah dari Hong-Ki kan?"

Dae-Won melepaskan rangkulannya dari pinggang Eun-Hye, kemudian mengandeng tangan tunangannya itu menuju meja kerjanya yang berserakkan barang-barang yang berhubungan dengan laporan-laporan kesehatan para pasien yang ditanganinya. Dia menarik selembar gambar X-ray yang memperlihatkan keadaan jantung Jie-Ah.

"Kamu lihat ini .. ," diberikannya gambaran X-ray tersebut pada Eun-Hye. "Sangat buruk ... "

Eun-Hye mengarahkan foto X-ray tersebut ke dekat lampu yang berada di atas papan yang menempel di dinding.

"Keadaan jantungnya semakin lemah .. ," lanjut Dae-Won begitu sampai di sebelahnya. "Tidak ada jalan lain selain menganti jantungnya dengan segera. Tapi sayang, sampai sekarang belum ditemukan jantung yang cocok buat jantungnya .. "

Eun-Hye mendesah lagi. Diletakkannya kembali foto X-ray itu ke atas meja.

"Keajaiban .. tidak akan terjadi dua kali kan?" katanya pelan.

"Mwo?" Dae-Won berpaling padanya.

Eun-Hye tersenyum kecut. "Tidak apa-apa." katanya. "Hidupnya selama 18 tahun adalah keajaiban, jadi menurutmu,, apa keajaiban itu akan terjadi lagi, Dae-Won a?"

Dae-Won terdiam--tidak mampu menjawab. Beberapa menit ke depan, ruangan tersebut menjadi senyap. Sampai Dae-Won bergerak, mendekati Eun-Hye dan memeluknya. "Mungkin ada pengecualian buat Jie-Ah ..," desahnya di telinga kekasihnya itu. "Semoga saja ... " Kemudian dia memutar Eun-Hye kearahnya. "Tapi .. masalah ini tidak akan menghambat rencana pernikahan kita kan? Kamu tahu appa sudah ngebet untuk menimang cucu .. "

Eun-Hye tersenyum. Dipeluknya Dae-Won erat-erat. "Tentu saja tidak. Pernikahan kita tetap akan dilaksanakan dua bulan mendatang .. Semua persiapannya sudah matang .. tidak mungkin ditunda lagi."

Dae-Won mengecup kening Eun-Hye. "Gumawo .. "



***** >< >< *****



Semburat merah mentari pagi menimpa rambut Jung-Min. Dia berdiri di depan gerbang Everlasting dengan dua kantong berisi makanan di tangannya.

tok .. tok .. tok .., diketuknya pintu tersebut dengan tangan kanannya yang menjinjing kantong besar.

Dia menunggu selama beberapa menit kemudian mengulangi ketukannya ketika tidak terlihat tanda-tanda pintu tersebut akan dibuka Jie-Ah. Dia menunggu lagi. Lima menit kemudian terdengar deritan pelan dari pintu kayu di hadapannya.

Jie-Ah muncul di depan pintu dengan sepasang mata melebar perlahan-lahan. Dia sangat terkejut mendapatkan kemunculan Jung-Min di situ.

"Ka .. kamu .. ," tangannya terarah ke Jung-Min. "Kenapa?"

Jung-Min tersenyum sambil mengangkat tangannya yang penuh bawaan. "Mengantar makanan .. Kamu belum sarapan, kan?"

"Makanan?" kepala Jie-Ah bergerak ke samping. "Sa .. saya tidak memesannya padamu .. ," tolaknya halus.

"Ne. Saya tahu." Jung-Min menurunkan kedua tangannya. tampangnya jadi serius sekarang."Beri saya kesempatan, Jie-Ah a! Jeobal,, Hanya sebatas sahabat."

Beberapa saat mereka saling berpandangan. Sinar mata Jung-Min menyusup sampai ke kalbu, membuat Jie-Ah membisu. Dia ingin menolak lagi tapi suaranya tidak keluar. Tatapan penuh pengharapan itu begitu hangat--mampu mencairkan kekerasan hatinya. Mata Jie-Ah meredup perlahan. Dia bergeser dari tempatnya dan memberi jalan kepada Jung-Min.

"Tidak lebih dari setengah jam. Saya .. saya sangat capek. Ingin segera istirahat." ujar Jie-Ah lambat-lambat.

Jung-Min melewatinya sambil tersenyum. "Tentu saja. Saya tidak masalah .. Tapi .. ," tiba-tiba dia berbalik hingga Jie-Ah hampir menabraknya. " .. kita lihat saja nanti .. ," lanjut Jung-Min.

Setelah itu dia memutar tubuh dan meneruskan langkahnya. Mata bulat Jie-Ah berkejap-kejap mengikuti kepergian Jung-Min.



***** >< >< *****



Jung-Min dan Jie-Ah menyelesaikan sarapannya dalam waktu setengah jam. Jie-Ah berdiri dari kursi kemudian mengayunkan tangannya ke arah pintu.

"Kamu boleh pergi sekarang .. ," katanya pada Jung-Min dengan ekspresi datar.

Jung-Min mengambil piringnya yang telah kosong kemudian menimpanya menjadi satu dengan piring-piring kotor lainnya. "Seserius ini?"





"Seperti yang telah kukatakan padamu. Saya ingin istirahat .. Peralatan-peralatan ini biar saya yang membersihkannya. Sekarang keluarlah dari sini ... "

"Tidak bisa!" Jung-Min berkeras. Tanpa memperdulikan reaksi Jie-Ah dibawanya piring-piring kotor tersebut ke dapur. "Saya akan membawamu ke satu tempat!" teriaknya dari dapur. Terdengar air mengalir dan bunyi dentingan piring ketika Jung-Min mulai mencuci piring-piring tersebut.

"Sudah kubilang saya yang akan membersihkannya .. ," kata Jie-Ah dari ambang pintu.

"Tidak apa." sahut Jung-Min tanpa berbalik. "O ya, apa kamu sudah makan obat?"

Tidak terdengar jawaban. Jung-Min menoleh ke belakang. Ternyata Jie-Ah sudah beranjak dari tempatnya. Jung-Min menghembuskan nafas perlahan sambil beralih kembali ke pekerjaannya mencuci piring.

Tujuh menit kemudian dia keluar dari dapur. Dilihatnya Jie-Ah berdiri menghadap jendela. Tubuhnya tak bergerak. Hanya pandangannya yang semu tertuju ke pemandangan di luar. Suhu udara mulai memanas sekarang. Mentari pagi yang bersinar lembut tadi sudah memperlihatkan keperkasaannya. Sinar-sinarnya membakar kulit.

Jung-Min mendekati Jie-Ah. Mendadak diraihnya tangan gadis itu.

"Ayo ikut denganku!"

Jie-Ah tersentak. Matanya melebar. "Mwo?!" kemudian dikibaskannya tangan Jung-Min. "Lepas! Apa-apaan ini?!"

"Ikut denganku?!" ulang Jung-Min.

"Pergi saja sendiri!" ketus Jie-Ah. Nafasnya agak memburu setelah mengatakan itu.

"Tidak!" ujar Jung-Min tegas. Ditariknya Jie-Ah sampai ke sofa. Kemudian meraih tas selempangnya. "Kita pergi bersama."

"Tidak mau!" Jie-Ah berusaha melepaskan pegangan Jung-Min tapi tidak berhasil. Genggaman tangan kekar itu sangat kuat. "Memangnya mau ke mana?"

"Ke laut.," jawab Jung-Min.

"MWO?!" mata Jie-Ah terbelalak lebar. "Ke .. ke laut?" sambungnya tak percaya--seakan kata 'laut' pertama kali didengarnya. "Laut .. katamu?"

"Ne." Jung-Min menoleh, "Memangnya kenapa?"

Jie-Ah mengeleng pelan. Dia tidak berontak lagi sekarang. Seperti orang linglung dia mulai bergerak. Perlahan-lahan kakinya melangkah ke depan mengikuti langkah Jung-Min.



***** >< >< *****



"Bagaimana?" Jung-Min menoleh ke arah Jie-Ah. "Indah, kan?"




Jie-Ah tidak menjawab. Dia bergerak lambat-lambat ke depan. Pasir halus yang dihempaskan ombak laut menerpa kakinya yang tak beralas. Riak-riak kecil membuat pergelangan kakinya seperti digelitik--terasa sangat geli. Sedangkan langit biru di atas membentang berupa lingkaran melengkung, terlihat sangat dekat--seakan terjamah oleh tangannya. Tangan Jie-Ah terjulur ke depan--berusaha menyentuh garis langit dan pantai. Yang tentu saja tidak tergapai oleh tangannya. Sungguh ciptaan Tuhan yang maha sempurna, desis Jie-Ah halus.

Berulangkali burung-burung laut melayang di atas kepalanya. Berputar-putar dengan suaranya yang berkeok-keok--seakan menyambut kedatangannya kemudian menancap ke dalam laut dan terbang kembali ke atas dengan ikan yang terjepit di paruh-paruhnya yang tajam. Mulut Jie-Ah mengangga perlahan. Tidak mampu mempercayai apa yang dilihatnya di depan mata. Untuk pertama kali dia melihat pemandangan seperti ini. Pemandangan laut yang memukau. Untuk pertama kali pula kakinya menapak pasir halus yang terpentang begitu luas dan untuk pertama kalinya dia mendengar suara ombak-ombak yang menampar garis pantai dan batu karang.

Biasanya pemandangan ini hanya dapat dinikmatinya di televisi. Atau .. didengarnya dari orangtua dan oppanya. Sekarang dia melihatnya dengan mata dan kepala sendiri. Sungguh menakjubkan. Tiba-tiba ombak membesar dan menerpa kakinya sampai ke pinggang. Jie-Ah sangat terkejut dan langsung mundur ke belakang. Dia mendengar seseorang tertawa halus. Jie-Ah berbalik.

"Gwencana?" tanya Jung-Min begitu sampai di sebelahnya. "Jangan berdiri terlalu ke tengah. Nanti ombak besar datang lagi .. "

Jie-Ah menatap Jung-Min tak berkedip. "Gumawo .. ," katanya pelan.

"Untuk apa?" Jung-Min membalas pandangan Jie-Ah serius.

"Untuk semua ini .. ," Jie-Ah memandang ke depan. "Sejujurnya .. pertama kali saya menapakkan kaki di pantai--di laut. Sangat indah .. "

Jung-Min langsung membisu. Tidak dikira jawaban ini yang akan didapatkannya. "Kamu .. belum pernah ke pantai?"




Jie-Ah mengeleng sambil tersenyum hambar. "Tidak. Udara laut tidak baik buat kesehatanku .. ," belum habis perkataan itu, dadanya terasa sesak. Tangan Jie-Ah menekan dadanya sendiri. Dia berusaha menarik nafas dalam-dalam.

Melihat perubahan mimik wajah Jie-Ah, Jung-Min segera bergerak ke depan. "Weo? Gwencana?"

Jie-Ah mengeleng. "Aku ... aku ti .. dak .. tidak bisa .. ber .. na ..fas .. Sangat .. sangat ter .. tersiksa ..," jawabnya dengan susah payah. Kata-katanya terputus-putus dan wajahnya pucat pasi. Tekanan di bagian dadanya semakin kuat. Sampai akhirnya dia ambruk dalam dekapan Jung-Min.

"GOO JIE-AH!!!" teriak Jung-Min kaget. Diguncangnya tubuh Jie-Ah keras-keras. "GOO JIE-AH!! Heyy!! Bangun,, sadarlah!!" Tidak ada reaksi sama sekali dari tubuh yang terkulai tak berdaya itu.

Nafas Jung-Min tertahan. Tanpa berpikir panjang lagi dia mengangkat tubuh Jie-Ah dan membawanya berlari dari pantai menuju mobilnya yang terparkir di pinggir jalan--beberapa meter dari tempat itu.



***** >< >< *****



Dae-Won keluar dari ruang rawat Jie-Ah. Wajahnya terlihat kusut. Dilepaskannya masker dan stetoskopnya dengan kesal. Dia berjalan ke arah Jung-Min yang menyandar di dinding dengan kepala tertunduk.

"KAMU!! Tahu apa akibat dari yang kau lakukan?!" teriaknya marah.




Jung-Min mengangkat wajah dan tersentak melihat kehadiran Dae-Won. Dia terlalu tenggelam dalam perasaan dan ketakutannya tadi sehingga tidak menyadari keluarnya dokter itu dari dalam ruang UGD di belakangnya.

"Ba .. bagaimana keadaannya dok? Ti .. tidak parah, kan?"

Dae-Won menarik kerah baju Jung-Min dan menekan tubuh jangkungnya ke dinding. "Kamu hampir membunuhnya, tahu?!"

"A .. APA?" mata Jung-Min terbelalak lebar. "Ta .. tapi .. dia .. dia .. baik-baik saja kan sekarang?" tanyanya ragu-ragu dan sangat pelan. Penyesalan yang sangat dalam menyusup ke dalam hatinya.

"Jika tidak memahami keadaan penyakitnya--tidak tahu apa yang boleh dilakukan dan tidak--jangan sekali-kali membawanya ke mana-mana!!" mata Dae-Won hampir meloncat keluar saking murkanya. "Kami berusaha mempertahankan hidupnya selama 18 tahun. 18 tahun!" Dae-Won menarik tubuh Jung-Min kemudian menghentakkannya kembali ke belakang. Jung-Min meringis. Punggungnya terasa perih ketika menabrak dinding di belakangnya. "Apa kamu bisa membayangkan itu, keparat?! Kamu hampir merenggut nyawanya!! Apa kamu tahu dia tidak boleh berkeliaran di udara terbuka--apalagi menghirup udara laut dan cuaca panas seperti hari ini?!"

Seruan-seruan ketus dan bertubi-tubi dari Dae-Won membuat lutut Jung-Min lemah. Dia hampir tersungkur ke depan jika Dae-Won tidak menekannya begitu kuat ke dinding. "Sosoengheyo .. ," ujarnya lemah.

Dae-Won mendorong Jung-Min ke pintu ruang UGD. "Bukan padaku! Yang harus kamu mintai maaf ada di dalam." tangannya menunjuk ke ruang gawat darurat di depannya. "Dia berbaring dalam keadaan lemah .. Jantungnya hampir berhenti berdetak. Jika bukan dibawa ke sini tepat waktu, dia sudah meninggal. Dan itu karena kecerobohan anda!"

Jung-Min menghela nafas berat. Dia tidak berani membalas pandangan pria di hadapannya ini. Perlahan dia memutar tubuh dan berjalan ke ruang UGD yang pintunya tidak tertutup.





Dia sadar kesalahan yang dibuatnya memang sangat fatal. Perkataan dokter ini benar. Dia keparat. Tidak menyelami apa yang sebenarnya terjadi pada Jie-Ah. Tidak memahami penyakitnya. Mengapa gadis itu selalu keluar di waktu hujan, seharusnya dia menyadarinya. Udara panas dan pengap tidak cocok buat jantungnya yang lemah. Seharusnya dia tahu itu. Tapi dia tidak memikirkan ini. Dia tidak memberi perhatian lebih. Yang dipikirkannya hanya ingin menyenangkan hatinya dan juga memberi kejutan-kejutan yang dipikirnya akan membuat hatinya tersentuh.

Jung-Min menekan gagang pintu itu, membukanya kemudian masuk ke dalam.



***** >< >< *****



Jie-Ah terbaring di atas ranjang. Wajahnya masih terlihat pucat walaupun pernafasannya mulai terkendali. Pandangannya terlihat semu terarah ke langit-langit ruangan. Jung-Min mendekatinya dengan perlahan-lahan. Jie-Ah sama sekali tidak menyadari kehadirannya di situ.

"Jie-Ah .. "

Jie-Ah menoleh ke samping. Ketika bermaksud mengatakan sesuatu tiba-tiba kerongkongannya terasa tercekat. Tampang memelas Jung-Min membuatnya terbatuk-batuk kecil. "Weo?" tanyanya dengan suara kering. "Disembur dokter Kim?" tebaknya sambil tersenyum perlahan.




"O .. ," mulut Jung-Min terbuka. "Kamu tahu dari mana?"

Jie-Ah tertawa tertahan. Dia terbatuk-batuk lagi. Tenggorokannya terasa gatal dan kering. "Tampangmu seperti oppa ketika dimarahi dokter Kim .. "

"Oppamu?"

Jie-Ah mengangguk lemah. "Ne. Oppa sangat bandel. Dia selalu membawaku manjat pohon di belakang rumah. Sering begitu!" katanya dengan pikiran menerawang. "Oppa tidak pernah mau mendengarkan nasehat dokter Kim. Yang dipikirkannya hanya bagaimana caranya menyenangkan hatiku. Oppa tahu aku tidak suka dikurung dalam rumah. Karenanya dia selalu membawaku bermain di luar. Memanjat pohon dan menanam bunga-bunga di rumah kaca, tapi tentu saja .. ," perhatiannya beralih ke Jung-Min dan dia tersenyum lembut dengan sinar mata meredup, " .. tidak sejauh tindakanmu. Oppa tidak pernah membawaku jauh-jauh dari rumah. Apalagi ke laut. Oppa sadar itu titik matiku. .. Akibatnya aku selalu dilarikan ke rumah sakit karena kenakalan-kenakalannya .. "

Tampang Jung-Min jadi muram. "Miane .. ," katanya pelan. "Jeongmal miane."




Jie-Ah mengeleng. "Tidak. Kamu tidak perlu minta maaf." dia tersenyum lagi. "Seharusnya aku berterimakasih padamu, Jung-Min a. Ini pengalaman pertama bagiku. Walaupun menyakitkan dan hampir merenggut nyawaku, aku tidak menyesal. Aku akan mengingatnya seumur hidup .. "

"Jie-Ah a .. ," Jung-Min menyentuh lengan Jie-Ah. "Aku tidak mengijinkanmu berkata begitu .. Kamu akan panjang umur, percayalah .. aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja. Aku berjanji, mulai sekarang aku akan belajar memahami penyakitmu. Apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak. Aku akan mencari pengobatan terbaik buatmu .. Jie-Ah a, agar kamu terus berada di sisiku .. "

"Gumawo .. ," kata Jie-Ah lemah. "Tapi kamu tidak perlu berbuat begitu. Hubungan kita hanya sebatas sahabat biasa. Tidak lebih. Biarlah semua berjalan apa adanya."

Jie-Ah memejamkan matanya. Ya, ini jalan terbaik. Dia tidak akan menghindari Jung-Min lagi. Tapi dia juga tidak akan menerimanya melebihi seorang sahabat biasa. Tidak jika begitu kepergiannya pemuda ini akan bersedih dan merana. Dia tidak mampu membayangkan kejadian ini. Hatinya akan terasa lebih sakit melebihi penyakit yang selama ini mengerogoti tubuhnya.



_________________oOo_______________________



_________________


♥️ "Everywhere ★ we learn ★ only from ★ those whom ★ we love" ♥️
avatar
DragonFlower

Posts : 94
Join date : 2013-06-17
Location : | Trapped in CNBLUE Dorm |

View user profile

Back to top Go down

CHAPTER THREE (Part iii)

Post by DragonFlower on Sat Jul 27, 2013 4:47 am



Tittle : September's Blue : My Rainy Days
this is my little fairy tale story .....

By : Lovelyn Ian Wong


CHAPTER THREE (Part iii)






Jung-Min menapakkan kakinya di jalan, membuka pintu dan menghempaskannya. Dia berjalan memutari mobilnya kemudian membukakan pintu sebelah buat Jie-Ah.

“Aku tidak mengerti kau!” omelnya. “Mengapa selalu berkeras keluar dari rumah sakit? Lihat, keadaanmu belum sehat benar!”

Jie-Ah menerima uluran tangan Jung-Min dan keluar dari mobil. “Aku benci aroma rumah sakit.” Jawabnya halus. Dia berhenti sesaat. Raut wajahnya berubah sendu. “Jika sepanjang hidupmu harus keluar masuk rumah sakit .. kau akan memahami bagaimana perasaanku .. ,” lanjutnya pelan.

Jung-Min tertegun. Perkataan yang seperti didesahkan tersebut menancap di hatinya—bak anak panah yang diarahkan langsung, jitu mengenai relung hatinya yang paling dalam.

“Miane .. ,” katanya dengan nada menyesal. “Saya .. saya selalu .. mengatakan sesuatu … yang tidak pada tempatnya. Dan juga berbuat sesuatu yang tidak seharusnya kuperbuat .. “

Jie-Ah tersenyum. “Itu gunanya seorang sahabat, kan?”

“Dhe?”

Jie-Ah mulai melangkahkan kakinya sehingga Jung-Min yang menuntunnya ikut bergerak juga. Mereka sampai di depan pintu gerbang Everlasting dan Jie-Ah membuka pintu itu.

“Setelah mengenalmu, aku mengerti apa artinya seorang sahabat.” Jie-Ah melirik Jung-Min. “Tempat mencurahkan perasaan—terkadang juga tempat menampung saran-saran dan ide-ide, baik bermanfaat maupun tidak.” Sekali lagi dia tersenyum.

Jung-Min tidak mampu berkata-kata. Ditatapnya Jie-Ah secara seksama. Gadis ini tampak berbeda dengan Jie-Ah yang dia kenal beberapa hari yang lalu. Dia lebih terbuka, dan kelihatannya pemikirannya sudah jauh ke depan.

“Lain kali saya akan lebih memperhatikan perkataanku.” Ujar Jung-Min. “Saya berjanji akan memahami seutuhnya—baik perasaan maupun penyakitmu .. “

“Gumawo .. ,” jawab Jie-Ah perlahan.

Dia membuka pintu dengan kunci di tangannya. Kemudian mereka masuk ke dalam. Jung-Min membawa Jie-Ah ke ranjang. Setelah mendudukkan dirinya di sana, dia berjalan ke meja dan menuang segelas air buat Jie-Ah. Dia mengeledah tas di atas ranjang dan mengeluarkan sebuah bungkusan.

“Waktunya minum obat .. ,” katanya sambil tersenyum menenangkan.

Jie-Ah mengangguk. Tangannya terjulur menerima pil-pil yang diserahkan Jung-Min. Setelah menelan pil-pil tersebut, pemuda disebelahnya menyodorkan gelas di tangannya. Jie-Ah minum sampai tandas air yang terisi dalam gelas dengan bantuan Jung-Min.

“Gumawo … “

Jung-Min menaruh gelas di atas meja kecil dekat ranjang. “Sama-sama .. ,” katanya sambil melirik sekilas jam tangan yang melingkar di lengan kirinya.

Tanpa diketahui Jung-Min, Jie-Ah menangkap lirikan halus itu. “Ada keperluan lain?”

Jung-min tersentak. “Dhe?!”

Jie-Ah tersenyum. “Kalau ada keperluan lain, pergilah! Saya bisa menjaga diri sendiri.”

“Ah tidak. Tidak penting!” Jung-Min mengibaskan tangannya. “Hanya rapat dengan salah seorang partner kerja.” Katanya sambil tertawa kikuk. “Tidak penting kok. Saya bisa menundanya.”

“Jangan!” sela Jie-Ah. “Kamu pergilah! Saya merasa capek dan ingin istirahat.” Alasannya.

“Sungguh tidak apa-apa saya tinggal sendiri?” tanya Jung-Min ragu-ragu.

“Tidak.” Jawab Jie-Ah pasti. “Saya tidak akan kemana-mana jadi tidak mungkin terjadi sesuatu padaku.”

Jung-Min terlihat berpikir sebentar. “Kalau begitu .. ,” dia meraba-raba dagunya—mempertimbangkan apa yang harus dilakukan selanjutnya. “Baiklah.” Akhirnya dia berkata. “Saya akan datang lagi besok pagi. Membawakan keperluan-keperluan rumah yang kau butuhkan. Ingat jangan kemana-mana tanpa seijinku, dan obatnya juga jangan lupa dimakan … , araso?”

“Ne.”

Jung-Min tidak bergerak selama beberapa menit. Diamatinya Jie-Ah yang mulai merebahkan diri di atas ranjang. Wajah itu masih terlihat pucat. Dia berpikir, betapa menderitanya gadis itu. Bukan hanya jasmani, tapi juga rohani. Dia menderita lahir batin. Tapi penderitaan seperti apa? Jung-Min mengeleng. Apakah dia bisa merasakannya? Tidak. Dia hanya bisa melihat, tapi tidak memahami. Apa yang telah dibuatnya untuk Jie-Ah? Tidak ada.

Jung-Min meraih selimut dari sudut ranjang kemudian menyelimuti Jie-Ah. “Saya pergi sekarang .. “

“Ne.” jawab Jie-Ah sambil memejamkan matanya.



----- oooOooo -----



”Ini ditaruh di mana?” tanya Jung-Min sambil mengangkat belanjaan di tangannya. Saat itu pukul setengah sembilan pagi.

“Di lemari gantung di atas saja .. ,” jawab Jie-Ah sambil menunjuk barisan lemari gantung di dapur.

“Di sini?” Jung-Min mengarahkan telunjuknya ke salah satu lemari.

“Ne.”

Jung-Min mulai bekerja. Dikeluarkannya seluruh isi belanjaan kemudian diatur dengan rapi dalam lemari gantung paling ujung sebelah kanan. Lalu dia berjongkok. Yang perlu ditaruh di temperatur dingin dimasukkannya semua ke dalam kulkas.

“Ok, selesai .. ,” dia berdiri dan tersenyum pada Jie-Ah.

“Gumawo .. ,” jawab Jie-Ah. “Minum?” tawarnya.

Jung-Min mengangguk. “Boleh .. “

Jie-Ah berjalan ke meja di tengah ruangan kemudian menuang segelas air yang disodorkannya pada Jung-Min yang sudah berada di sampingnya.

“Thanks .. “

“Seharusnya saya yang berterimakasih padamu .. ,” ujar Jie-Ah.

Jung-Min segera mengerakkan tangannya. “Tidak penting siapa yang berterimakasih pada siapa.” Katanya. “Bagaimana keadaanmu? Agak baikkan?”

“Lumayan .. ,” jawab Jie-Ah.

Jung-Min tersenyum. “Bagus.” Kemudian dia berpaling ke jendela. “O ya, sebaiknya kau tidak keluar hari ini. Sewaktu datang tadi hujan mulai turun .. “

“Chinja?” Jie-Ah mengangkat alisnya. “Tapi apa kau tak tahu, aku peri hujan?” tanyanya dengan senyum mengoda.

“Yaa--,” seru Jung-Min—keras. “Peri hujan atau bukan, aku tidak ingin kau keluyuran di cuaca seperti itu! Araso?”

Tawa Jie-Ah meledak. Sampai-sampai dia menekan dadanya yang terasa agak sesak. “Saya hanya bercanda, mengapa reaksimu sebesar itu?”

“Ini tidak main-main!” ujar Jung-Min tidak senang. “Jangan bercanda dengan penyakitmu! Aku tidak suka itu!”

Jie-Ah langsung terdiam. Selama beberapa menit dia tidak bersuara. “Sosoengheyo .. ,” katanya perlahan-lahan. “Tidak pernah lagi. Saya berjanji .. ,” lanjutnya pelan.

Jung-Min menghela nafas, lalu memejamkan matanya lambat-lambat. “Apa kau tahu hatiku terasa sakit setiap kali kau berkata begitu?”



----- oooOooo -----



Incheon airport ….

Hye-Mi melirik kesana-kemari tapi belum menemukan kemunculan Seung-Gi. Tampangnya terlihat kesal ketika untuk kesekiankalinya dia melirik jam tangan mungil yang melingkar di lengan kirinya. Sudah pukul 12 siang dan Seung-Gi belum menampakkan batang hidungnya. Padahal menurut berita yang diperoleh dari salah seorang rekan kerjanya, dia akan tiba di Seoul sekitar pukul setengah duabelas pagi.

“Sudah terlambat setengah jam!” umpat Hye-Mi. Cangkir plastik berlabel lingkaran hijau Starbuck di tangannya yang sedari tadi telah kosong dilemparkannya ke tong sampah.

Lima menit berlalu dan segerombolan orang mendekatinya. Hye-Mi memperpanjang leher ke depan—nah, itu dia. Dia mendapati Seung-Gi sedang memeriksa sesuatu dalam saku jasnya di antara orang-orang itu.

“Gi oppa!” teriak Hye-Mi. Tangannya dilambai-lambaikan.

Terlihat Seung-Gi berhenti dan memandang kearahnya. “Hey, Hye-Mi .. ,” balas pria itu agak kaget. Dengan langkah lebar dia mendekati Hye-Mi. “Mengapa bisa berada di sini?”

Hye-Mi cemberut. Ditepuknya pundak Seung-Gi keras-keras. “Mengapa oppa terlambat sekali?” dia balas bertanya.

“O itu .. ,” Seung-Gi mengangkat tangan ke atas. “Penerbangannya delay sepuluh menit.” Katanya. “Memangnya ada apa menungguku di sini?”

“Tentang permintaanku itu .. ,” kata Hye-Mi. “Bagaimana? Apa yang oppa dapat?”

Alis Seung-Gi terangkat. Rupanya itu alasannya mengapa Hye-Mi sampai bersusah-payah menantinya di bandara. “Kau sungguh ingin mengetahuinya?”

“Ne.”

“Apa ada gunanya?” tanya Seung-Gi untuk memastikan.

“Jangan bertele-tele. Katakan sekarang juga!” pinta Hye-Mi serius.

Seung-Gi tidak menjawab.

“Oppa!” tegur Hye-Mi kesal.

Seung-Gi tersentak. “Sebaiknya kita mencari tempat untuk bicara … ,” katanya setelah menarik nafas. Dia melewati Hye-Mi—menuju ke sebuah café kecil yang terletak tidak jauh dari situ. Hye-Mi memanjangkan bibirnya. Dengan terpaksa dia mengikuti langkah Seung-Gi.



----- oooOooo -----



”Bagaimana, oppa?” tanya Hye-Mi tak sabar.

Seung-Gi meletakkan cangkir kopi di tangannya. “Sungguh kau ingin mengetahuinya?”

“Ne!” sahut Hye-Mi cepat. “Tentu saja! Jika tidak, saya tidak akan meminta Gi oppa mengikuti Min oppa. Ayo cepat, ceritakan sekarang juga!” desak Hye-Mi.

“Untuk apa?” Seung-Gi tidak menjawab, malah bertanya lebih lanjut pada Hye-Mi.

“Untuk apa? .. Saya yakin oppa tahu untuk apa .. ,” dengus Hye-Mi. “Min oppa tidak boleh tertarik pada wanita lain. Tidak boleh!” giginya bergemelatuk keras. “Hanya saya, menantu yang diinginkan omma. Omma mencintaiku .. ,” lanjutnya dengan nada bangga. “Dan saya yakin oppa akan menyadari ini setelah saya mendatangi wanita itu .. “

“Kau tidak boleh menganggunya .. ,” sela Seung-Gi keras.

Alis Hye-Mi berkerut. “Mengapa?” tanyanya menyelidik. “Oppa berubah haluan membelanya?” tiba-tiba dia tertawa hambar. “Hebat! Sebegitu mudahnya dia membuat para pria tertarik padanya? Menarik sekali! Saya bahkan semakin tertarik menemuinya sekarang .. “

“Bukan begitu, Hye-Mi a .. ,” bantah Seung-Gi sambil mencondongkan badan ke depan. “Hanya saja .. dia, .. kondisinya tidak begitu baik .. “

“Tidak begitu baik?” Hye-Mi mengangkat alisnya. “Maksud oppa?”

Seung-Gi terdiam selama beberapa menit.

“Oppa!” tegur Hye-Mi.

Seung-Gi menghela nafas perlahan. “Gadis itu .. mengidap penyakit mematikan .. “

“Mwo?!” Hye-Mi tersentak dari tempatnya. “Penyakit mematikan?”

“Ne .. ,” jawab Seung-Gi. “Menurut para suster yang merawatnya, kelainan jantung sejak lahir .. “

“Hah?!!” mata Hye-Mi terbelalak lebar.

“Ne .. ,” Seung-Gi mengangguk. “Karena itu .. jangan menganggunya, Hye-Mi a .. Akan sangat berbahaya .. dan Jung-Min pasti akan murka jika mengetahuinya .. “

“Apa oppa sudah gila?” seru Hye-Mi tiba-tiba. Suaranya menjadi keras. “Membiarkan Min oppa berhubungan dengannya sama saja dengan mendorongnya ke kuburan!”

“Mwo?”

“Bukahkah begitu?”

Seung-Gi tidak menjawab.

“Apa oppa kira kelainan jantung sejak lahir bisa disembuhkan?”

Lagi-lagi, Seung-Gi membisu. Hye-Mi menatapnya sesaat, kemudian mengulurkan tangannya.

“Mwo?”

“Berikan nama dan alamat orang itu!”

“Kau sungguh akan mendatanginya?”

“Ne .. ,” jawab Hye-Mi sambil berdiri dari kursi yang didudukinya. “Saya tidak akan melakukan sesuatu yang berlebihan, jadi oppa tidak perlu khawatir .. “

“Tapi .. “

“Nama dan alamatnya … ,” pinta Hye-Mi lagi. Kali ini lebih tegas dari tadi.

Seung-Gi menghela nafas. Dengan agak sungkan dia menuliskan sesuatu di secarik kertas yang diambil dari dalam tasnya, kemudian menyobek dan memberikannya pada Hye-Mi.

“Janji pada oppa?”

“Ne .. ,” Hye-Mi menerima kertas tersebut. Ditelusurinya sekilas, lalu dia beranjak dari situ. “Saya akan menghubungi oppa lagi nanti .. “



----- oooOooo -----



Hye-Mi mengumpat. Begitu pintu taxi yang ditumpanginya dibuka, air hujan langsung menerjang masuk membasahi pakaiannya. Air hujan tersebut terbawa angin yang bertiup kencang saat itu. Sambutan alam yang membuatnya mengerutu lagi.

Hye-Mi kelihatan ragu-ragu sejenak, sebelum akhirnya memutuskan keluar dari dalam taxi. Dia harus menemui wanita itu. Harus! Tidak boleh tidak! Hye-Mi melawan hujan—berlari ke arah pintu gerbang Everlasting di depan. Gaun yang dikenakannya basah kuyup begitu dia sampai di sana. Hye-Mi mengibas-ngibaskan butiran-butiran air dari pakaiannya. Sekali lagi dia mencaci-maki. Jika bukan karena Jung-Min, dia tidak akan melakukan kebodohan ini. Dia selalu benci pada hujan.

Hye-Mi mengetuk pintu dengan gerakan tak sabar. Dia menunggu sebentar. Beberapa menit kemudian, pintu tersebut dibuka. Seorang wanita berkulit putih mulus—seputih salju dan semulus kapas—berdiri di hadapannya dengan payung tergenggam di tangan. Mata bulat itu melebar perlahan.

“Dhe?!” tanya wanita muda itu.

“Anda—Goo Jie-Ah ssi?” tanya Hye-Mi dingin.

“Ne.” jawab Jie-Ah dengan ekspresi heran. “Dan agashi—siapa?”

“Saya Jung Hye-Mi .. ,” jawab Hye-Mi. “Adik angkat Min oppa. Maksudku, Lee Jung-Min oppa .. “, dia membenarkan.

“O .. ,” Jie-Ah mengangguk—masih dengan ekspresi heran. “Tapi … apa maksud kunjungan nona?”

“Boleh saya masuk dulu?” tanya Hye-Mi tanpa basa-basi.

Jie-Ah mengamatinya. Hye-Mi agak mengigil ketika hujan deras kembali menerpa badannya. Akhirnya Jie-Ah mengangguk, mengerti. Sambil meminggir dari pintu, dia mempersilahkan Hye-Mi masuk ke dalam.



----- oooOooo -----



”Tinggalkan oppa!”

Brakkk .. , gelas berisi air hangat di tangan Jie-Ah jatuh dan pecah berkeping-keping di lantai.

“Mwo?!”

“Perkataanku sangat jelas!” kata Hye-Mi tegas. “Tinggalkan oppa .. ,” ulangnya. “Jangan mengikatnya dengan hubungan yang mustahil. Saya tahu oppa tertarik pada anda, tapi saya juga yakin anda menyadari seberapa panjang umur anda .. “

“Mwo?” pertanyaan Jie-Ah memelan. Tangannya memegang bagian dadanya yang terasa sedikit sesak.

“Anda tak ingin melihatnya menderita melihat kepergian anda, kan?”

“Maksud nona?” tanya Jie-Ah dengan suara bergetar. Jantungnya berdetak semakin keras dan pernafasannya semakin berat.

“Jangan berlagak tidak mengerti, Jie-Ah ssi!”

“Saya .. ,” Jie-Ah menekan dadanya.

“Dan jangan berlagak semenderita itu!” sahut Hye-Mi kesal. “Oppa akan lebih menderita jika anda memaksa bersamanya!”

“Saya .. “

Pandangan Jie-Ah melemah. Tangannya menekan dada semakin keras. Nafasnya sangat sesak. Dia berusaha mengambil nafas dalam-dalam, tapi tak berhasil. Apa yang dihirupnya terasa hampa. Udara terasa nihil. Brukkk,, tubuh Jie-Ah ambruk ke lantai.

“Yaa—“

Hye-Mi yang masih menyerocos sangat terkejut.

“Jangan main-main!” ujarnya. “Saya tidak mudah dikelabui .. “

Dia mendekati tubuh Jie-Ah dan mengoyangkannya. “Hey—Jie-Ah ssi .. ,” tapi tangannya yang terjulur langsung ditarik kembali. Tubuh itu terasa dingin sekali. Dengan tangan gemetar, Hye-Mi mendekatkan telunjuk ke hidung Jie-Ah. Dia sangat terkejut. Nafas gadis itu sangat lemah—bahkan hampir tidak terasa.

Hye-Mi bergeser ke belakang dengan ketakutan. Matanya terbelalak lebar dan nafasnya memburu. Deringan telepon dari dalam tas membuatnya terlonjak kaget.

Dengan tangan bergetar hebat dia mengambil ponselnya. Beberapa kali ponsel tersebut jatuh ke lantai sebelum berhasil di dekatkan ke telinganya.

“Ye .. yeoboseyo .. “

“Hye-mi a, kau ada di mana?” terdengar suara Seung-Gi dari seberang.

“Oppa .. ,” teriak Hye-Mi. Dia menanggis. Ya, ketakutan yang teramat sangat membuatnya menanggis tersedu-sedu.

“Ada apa?”

“Saya .. saya membunuhnya .. ,” kata Hye-Mi tidak jelas.

“Mwo?”

“Apa .. apa yang harus kulakukan, .. oppa? .. Saya rasa dia .. dia sudah mati … Dia akan mati .. “

“Apa yang kau katakan, Hye-Mi a?” tanya Seung-Gi tak mengerti.

“Saya membunuhnya .. ,” teriak Hye-Mi. “Saya membunuh Goo Jie-Ah .. “

“MWO?!!”

“Bagaimana ini, oppa? Saya .. saya tidak bermaksud begitu .. Dia .. dia .. mendadak tersungkur ke lantai .. dan .. dia .. dia tidak bernafas .. ,” Hye-Mi menanggis makin keras.

“Tenang dulu .. ,” ujar Seung-Gi dari seberang. “Dengarkan oppa, semua akan baik-baik saja. Sekarang kau ada di mana?”

“E .. Everlasting .. “

“Oppa akan ke sana!” kata Seung-Gi. “Ingat tunggu oppa. Jangan menyentuh apapun. Oppa akan tiba di sana sekitar lima menit kemudian.”

“Ne .. ,” tangan Hye-Mi yang memegang telepon terkulai lemas di lantai.

Dia menatap Jie-Ah. Wajah yang menengadah itu sangat pucat. Hye-Mi segera menyembunyikan wajahnya dibalik lututnya yang dirangkul dengan sangat erat.



----- oooOooo -----



”Bagaimana ini oppa?”

Hye-Mi menanggis tersedu-sedu dalam pelukan Seung-Gi. Sekarang mereka berada dalam ambulance yang membawa Jie-Ah ke rumah sakit. Gadis malang itu sedang mendapatkan pertolongan darurat dari tim medis rumah sakit Seoul.

“Tidak apa-apa. Tenanglah!” Seung-Gi berusaha memenangkan Hye-Mi walaupun dia tidak yakin itu berhasil.

Kondisi Jie-Ah benar-benar kritis. Para regu penolong berusaha memberinya pernafasan buatan lewat selang dari tabung yang berisi udara tapi ternyata tidak membuahkan hasil. Jantungnya terus dipompa. Berulangkali pihak tim medis mengelengkan kepalanya.

“Susah .. ,” kata seseorang dari mereka. “Percepat laju mobil ke rumah sakit!” perintahnya pada sopir. Pria setengah baya di bangku kemudi mengangguk. Laju mobil dipercepat. Sekejap saja ambulance tersebut seperti terbang—melesat ke depan.



----- oooOooo -----



Semua tampak tegang. Terutama Jung-Min. Dia mundar mandir di depan ruang UGD, tanpa tahu apa yang harus diperbuatnya. Berulangkali dia mengelengkan kepala, masih tidak mempercayai apa yang didengarnya dari Seung-Gi dua jam yang lalu. Jie-Ah dimasukkan ke rumah sakit? Bagaimana mungkin? Dia baik-baik saja tadi pagi. Tapi ternyata benar. Penyakit Jie-Ah kambuh lagi, dan kali ini sangat parah. Jung-Min menghempaskan tubuhnya ke bangku. Satu setengah jam sudah Jie-Ah berada di dalam dan sampai sekarang tidak diketahui kondisinya.

Jung-Min menoleh ke samping. Hye-Mi masih menanggis sejak tadi. Nyonya Lee memeluknya erat-erat. Berusaha menghibur dan menyakinkannya bahwa apa yang terjadi pada Jie-Ah bukan kesalahannya. Tapi tidak berhasil. Hye-Mi terus menyalahkan dirinya sendiri. Jung-Min menghela nafas perlahan. Perasaannya sangat sesak. Entah mengapa dia merasa sesuatu yang sangat buruk akan terjadi. Dua detik berlalu dan dua tetes airmata menitik turun dari pelupuk matanya.

Pintu UGD terbuka. Tim medis dan paramedis rumah sakit keluar dengan tampang lesu.

“Bagaimana, dok?” tanya Jung-Min sambil menerjang ke arah Dae-Won. Tidak diberinya kesempatan dokter itu melepas maskernya. “Bagaimana keadaannya?”

Dae-Won menatapnya sesaat, kemudian .. perlahan-lahan, dia mengelengkan kepalanya. “Sosoengheyo .. “

Jung-Min mundur ke belakang. “Tidak mungkin … ,” dia mengeleng keras-keras. “Anda berbohong … ,” teriaknya. “Dia tidak mungkin pergi begitu saja .. “
Pada saat itu tanggisan Hye-Mi yang sudah memelan, meledak lagi. “Oh tuhan!! Miane oppa .. jeongmal miane .. “

“Jung-Min a .. ,” panggil Nyonya Lee, berusaha menenangkan Jung-Min.

Tapi pemuda itu sudah tidak terkendali. Dia mendorong Dae-Won sampai terhempas ke dinding sambil berusaha menerobos benteng para dokter dan suster di depan.

“Kalian bohong! Menyingkirlah dari situ! Saya ingin menemuinya .. “

Dae-Won menariknya ke belakang. “Dia tidak ingin dilihat olehmu!”

“Mwo?”

“Ini amanatnya yang terakhir .. ,” sahut Dae-Won dengan sangat menyesal. “Dia tidak ingin dilihat olehmu .. dalam .. dalam keadaan seperti itu .. ,” ditepuknya pundak Jung-Min. “Kau mengerti, kan? Wajahnya .. ,” dia mendesah. Air bening meluncur dari sudut matanya. Begitu juga Eun-Hye yang berdiri di sebelahnya. “seorang gadis ingin diingat sebagai bidadari tercantik dalam hati pria yang dicintainya … karena itu .. “

“Anda bohong .. ,” tanggis Jung-Min. “Dia tidak mungkin pergi—meninggalkanku … “

“Sosoengheyo .. “

Dae-Won merogoh ke dalam saku dan mengeluarkan secarik kertas. Dia menyodorkan kertas tersebut pada Jung-Min. “Terimalah! Ini permintaannya padaku .. “

Jung-Min mengangkat wajahnya dan menatap kertas bunga-bunga kecil warna pink itu. Dia tidak bergerak, dan juga tidak menerimanya.

“Dari Jie-Ah .. ,” kata Dae-Won sambil menghapus airmatanya. “Dia ingin kau membacanya .. “

Dengan tangan gemetar Jung-Min menerima kertas tersebut. Digenggamnya erat-erat. Kemudian .. brukk, tubuhnya ambruk ke lantai.



----- oooOooo -----



Jung-Min duduk di bangku panjang di tengah taman kecil rumah sakit Seoul. Kertas dari Jie-Ah diremasnya—dikucek berulangkali. Dia ingin membuka dan membacanya tapi tidak berani.

Jung-Min menengadah. Matahari sore mulai membiaskan cahaya lembut, mengantikan sinar menyengat yang dipancarkannya di siang hari. Daun-daun kering berjatuhan dari pohon-pohon, mengelus wajahnya kemudian mendarat dalam kertas genggamannya. Musim gugur telah tiba! Bulan September yang kelabu beranjak pergi, meninggalkan kenangan-kenangan manis selama sebulan ini. Hari terakhir di bulan yang seharusnya tidak dinominasi air hujan.

Jung-Min menunduk perlahan. Kertas yang sudah kucel karena sering diremas dibukanya pelan-pelan. Walaupun hatinya memberontak, dia tahu—dia harus melakukannya. Apa yang ingin dikatakan Jie-Ah, apa yang diharapkannya dan apa yang dipikirkannya selama ini, mungkin tertulis dalam kertas kecil dalam tangannya. Jadi, dia harus membacanya!

Anyong mimpiku ..

Kata pembuka itu membuatnya tersenyum.

Ketika aku percaya di dunia ini sudah tidak ada pengharapan lagi, kau datang dalam hidupku. Seperti mimpi, kau menarikku keluar dari dunia gelap yang selama ini mengurung langkahku.

Terasa hangat ketika kau mengiringi setiap langkahku menapaki hujan. Aku tersentuh ketika kau menaungiku dengan payung di tanganmu. Apalagi ketika senyuman terkembang di bibirmu. Aku sangat tersanjung, mimpiku …

Jung-Min menghapus airmatanya yang mulai mengalir keluar. Setelah itu dia meneruskan membaca.




Mungkin ini anugerah yang diberikan Tuhan kepadaku. Anugerah terindah seumur hidupku. Aku tidak menyesal pemberian-Nya sependek ini. Mungkin akan terdengar memaksa jika aku memintamu mengingatku. Tapi kumohon .. hanya sekali saja. Aku tidak serakah. Setelah mengingatku dengan sungguh-sungguh, lupakanlah namaku—diriku. Mulailah hidupmu yang baru, karena kau yang terbaik.

Jung-Min memejamkan matanya. “Apa maksudmu, paboya? Segitu mudahnya-kah melupakan dirimu?”

Aku yakin kau sedang memarahiku sekarang. Dalam kuburpun, aku akan tertawa membayangkannya. Jangan marah, dan jangan bersedih, karena kenangan indah yang mesti diingat.

Aku bersyukur telah mengenalmu. Bersyukur pernah memiliki seorang sahabat seperti dirimu. Apa kau tahu sesuatu? Sesungguhnya .. aku mencintaimu …

Ha .. ha .. ha …

“Kau masih bisa tertawa?” Jung-Min memukul surat di tangannya. “Apa meninggalkan dunia jahat ini membuatmu lega? Lalu bagaimana dengan diriku? Apa yang bisa kulakukan tanpamu? Apa? Pabo-a .. “




Kamu tahu sekarang! Mungkin sangat terlambat, tapi aku ingin kau mengetahuinya. Sampai di sini, mimpiku. Bertemu lagi di dunia lain. Tak tahu akan menunggu berapa lama. Tapi aku setia menunggumu di sini …

Salam sayang dan cinta dari mimpimu,
Goo Jie-Ah

Pegangan Jung-Min mengendor. Kertas yang sudah pudar akibat airmata di tangannya melayang ke atas. Tertiup angin ke udara, berputar-putar kemudian jatuh ke tanah yang ditumbuhi rumput-rumput halus. Jung-Min mengikuti perjalanan kertas tersebut dengan pandangan sendu. Kembali, airmatanya menitik keluar.



----- oooOooo -----



Pemakaman Jie-Ah dilakukan seminggu kemudian. Yang hadir hanya segelintir orang. Sahabat-sahabatnya beserta beberapa suster dan dokter yang sudah mengenalnya sejak kecil. Jung-Min menghapus airmatanya. Untuk kesekiankalinya selama seminggu ini dia menanggis. Didengarnya juga tanggisan Hye-Mi. Jung-Min mendekatinya dan merangkul pundaknya.

“Miane oppa .. ,” kata Hye-Mi entah keberapakalinya. “Saya yang .. “

“Sudahlah .. ,” potong Jung-Min. “Setelah membaca surat darinya, saya mengerti yang diinginkannya hanya satu hal .. “

“Apa?”

“Dia ingin saya bahagia.” Jung-Min tersenyum hambar. “Membencimu hanya menjadi beban dan itu tidak akan membuatku bahagia. Semua sudah terjadi .. “

“Miane .. ,” Hye-Mi menundukkan kepalanya.

Jung-Min mengelus pundaknya, lalu berpaling ke depan. Gundukan merah itu sekarang bergabung dengan orangtua dan oppanya.

“Beristirahatlah, Jie-Ah a .. ,” bisik Jung-Min halus. “Aku akan berusaha mengikuti permintaanmu .. Satu yang kusesalkan, aku tidak bisa melihatmu untuk terakhir kali. Tapi seperti permintaanmu, kenangan terindah yang patut kuingat—parasmu yang tercantik .. “



----- oooOooo -----



”Sungguh kau akan pergi?” tanya Nyonya Lee.

“Ne.” jawab Jung-Min sambil memasukkan pakaian ke dalam kopor.

“Lalu bagaimana dengan perusahaanmu?”

“Seung-Gi yang akan mengurusnya .. “

“Kau melarikan diri, anakku?”

Jung-Min menghentikan kesibukkannya. Dia berjalan kearah Nyonya Lee dan mendudukkannya di atas ranjang.

“Aku tidak melarikan diri, omma.” Katanya sambil bersujud di depan wanita itu. “Aku hanya ingin mencari sesuatu yang tidak kupahami selama ini .. “

“Haruskah dengan berkeliling Eropa seperti itu?” tanya Nyonya Lee pelan.

Jung-Min mengangkat bahunya. “Entahlah .. Mungkin aku akan mendapatkan jawabannya di sana. Siapa tahu? .. “

Dia berdiri dari lantai, lalu menjatuhkan diri di sebelah Nyonya Lee. “Everlasting sudah saya tutup.” Lanjutnya. “Tidak akan ada lagi kesedihan-kesedihan di sana. Katakan pada Hye-Mi, omma .. Seung-Gi pasangan yang terbaik buatnya .. “

Nyonya Lee tersenyum sambil mengucek rambut Jung-Min. “Sudah bisa memperhatikan orang lain, jadi benar kau sudah sembuh .. “

“Ne .. ,” Jung-Min tertawa. Perhatiannya kemudian tertuju ke depan. “Ini yang diinginkan Jie-Ah .. ,” desisnya halus.


_________________oOo_______________________


_________________


♥️ "Everywhere ★ we learn ★ only from ★ those whom ★ we love" ♥️
avatar
DragonFlower

Posts : 94
Join date : 2013-06-17
Location : | Trapped in CNBLUE Dorm |

View user profile

Back to top Go down

Re: September's Blue : My Rainy Days byh Lovelyn

Post by Sponsored content


Sponsored content


Back to top Go down

Back to top

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum