The Sounds of Death--by Lovelyn

Go down

The Sounds of Death--by Lovelyn

Post by DragonFlower on Sat Jun 29, 2013 1:50 pm


The Sounds of Death--
By Lovelyn Ian Wong



Tittle : The Sounds of Death
Genre : mystery and drama
Cast : Lee Min Ho, Goo Hye Sun, Kim So Eun,
Yoon Eun Hye, Jang Geun Suk

Introduction

Characters :



Goo Sun-Hye, —gadis berusia 18 tahun. Karena kematian harabojinya, si tuan Goo tua, akibat kecerobohan kepala pelayan, Joan ahjumma, ... atau—adakah yang lain?, —membuat sifatnya yang ceria menjadi waspada dan cenderung gelisah. Dia tidak puas dengan teori pembunuhan tidak sengaja yang diajukan tim pemeriksa polisi. Pasti ada sesuatu dibalik kematian haraboji, pikirnya. Orang-orang rumah yang tidak menyukai tuan Goo tua, —orang-orang yang akan mendapatkan keuntungan dari kematiannya (ya, walaupun dia termasuk orang-orang ini, ....), —orang-orang berdarah dingin yang sudah merencanakan pembunuhan tersebut dengan matang! Lalu siapa mereka, atau .. siapa dia? Ini yang ingin diketahui Sun-Hye, sebelum ... mungkin maut, juga sedang mengintainya setiap saat. Mengirimkan dengung-dengung kematian sebelum usianya yang ke-21, —sebelum semua harta kekayaan Goo jatuh ke dalam tangannya.



Lee Si Hwan, —detektif muda yang dimintai pertolongannya oleh Sun-Hye. Langsung tertarik dan menerima kasus ini begitu mendengar kata Goo's Mansion. —Walaupun sebelumnya dia jarang melibatkan diri dalam kasus-kasus pribadi, selain kasus-kasus yang ditangani pihak kepolisian. MENGAPA?


Lee Min Chan, —putra dari nyonya muda Goo. Wanita berusia 40 tahun yang dinikahi tuan Goo tua—tiga bulan sebelum kematiannya. Mempunyai sifat tertutup dan rada aneh. Selalu memisahkan diri dari pertemuan-pertemuan keluarga. Bertampang muram dan kelihatan berbahaya. Seringkali kedapatan sedang mengawasi setiap gerak-gerik Sun-Hye, baik secara langsung maupun secara sembunyi-sembunyi. Apakah dia curiga pada gadis itu, atau karena .... dia takut ketahuan telah melakukan sesuatu yang mengakibatkan kematian seseorang? TUAN GOO TUA? Sun-Hye agak ngeri padanya, dan sedapat mungkin dia menghindari pemuda ini.


Additional characters :


Kim So-Eun, —sahabat karib Sun-Hye sejak sekolah menengah pertama. Ditinggal orangtuanya dari kecil. Dia dibesarkan pamannya, inspektur Joo—polisi yang merekomendasikan Si-Hwan kepada Sun-Hye.


Jang Geun-Suk, —pacar Sun-Hye. Sebenarnya dia tidak bisa dicurigai atas kematian tuan Goo tua karena—dia tidak tinggal di Goo's mansion. Tapi berhubung dia hadir dalam acara makan malam pada malam sebelum kematian tuan Goo tua, dia juga termasuk daftar orang-orang yang dicurigai.


Yoon Eun-Hye, —sepupu jauh Sun-Hye. Putri tunggal dari cucu luar—adik perempuan tuan Goo tua, yang menikah dengan pria dari kalangan rendah. Neneknya Eun-Hye diusir oleh tuan Goo tua karena dianggap telah mencemarkan nama baik keluarga dengan pernikahannya. Eun-Hye baru dijemput—pulang ke Goo's mansion oleh kakek jauhnya itu setelah kematian orangtua dan neneknya dalam sebuah kecelakaan mobil yang mengenaskan. Dia calon dokter. Pengetahuannya tentang obat-obatan dan keanehan sifatnya, juga kenyataan—dengan kematian tuan Goo tua, dia tidak akan mendapat apa-apa—jika tuan Goo tua berhasil merubah surat wasiatnya, membuat dia menjadi kandidat terkuat orang-orang yang dicurigai.


Nyonya muda Goo/ibunya Min-Chan, —seorang wanita lemah lembut, baik dalam perkataan maupun perbuatannya. Walaupun begitu, dia tidak disukai orang-orang yang tinggal di Goo's mansion, karena mereka menganggap dengan kedatangannya harta kekayaan yang semula mungkin mereka peroleh akan beralih ke tangan wanita ini. Tapi tidak bagi Sun-Hye. Gadis ini sangat mencintai Nyonya Goo muda. Begitu juga wanita ini, sangat memperhatikan dan menyayangi cucu tirinya ini. Lalu .. adakah kemungkinan nyonya Goo muda merupakan orang yang membunuh suaminya sendiri?


Inspektur Joo, —paman So-Eun. Tidak terlibat langsung dalam kasus pembunuhan tuan Goo tua. Dia hanya menjadi pelantara pertemuan antara Sun-Hye dan Si-Hwan—detektif muda yang membantu Sun-Hye membongkar kasus pembunuhan berdarah dingin terhadap kakeknya tersebut.


Joan Ahjumma, —orang yang dikambinghitamkan. Kepala pelayan yang menyediakan kopi pahit terakhir buat tuan Goo tua. Dan satu-satunya orang yang ditemukan sidik jarinya dalam kamar kakek malang itu. Apakah benar ada peluang pembunuh yang lain selain dia?


Tuan Goo tua/Haraboji Sun-Hye, —orang tua yang menjadi korban pembunuhan. Menelan endapan strychnine berlebihan yang dicampurkan ke dalam kopi pahitnya. Apakah benar yang melakukannya pelayan pribadinya sendiri, si Joan Ahjumma? Ataukah ada yang lain? Seseorang atau sekelompok orang yang menginginkan kematiannya? Yang mengintai harta kekayaan berlimpah yang akan ditinggalkannya dari Goo Global?

Son Hae, —pelayan pribadi Sun-Hye. Tidak dicurigai karena waktu kejadian tragis tersebut dia sedang diliburkan oleh majikannya. Tapi .. apa mungkin ada kemungkinan lain? Dia bekerja di Goo's Mansion sejak dua tahun yang lalu. Berasal dari keluarga sederhana. Kadang-kadang sikapnya agak ceroboh dan .. mencurigakan?


________________oO___________________



_________________


♥️ "Everywhere ★ we learn ★ only from ★ those whom ★ we love" ♥️
avatar
DragonFlower

Posts : 94
Join date : 2013-06-17
Location : | Trapped in CNBLUE Dorm |

View user profile

Back to top Go down

Re: The Sounds of Death--by Lovelyn

Post by DragonFlower on Sat Jun 29, 2013 1:52 pm




The Sounds of Death--
CHAPTER ONE

By Lovelyn Ian Wong





Goo’s mansion—menyimpan sejuta misteri dan kepicikan. Bukan dari rumah besar itu sendiri. Tapi dari penghuni-penghuninya yang sangat acak. Kecurigaan-kecurigaan dan ketakutan-ketakutan mewarnai semua penghuni rumah ketika pemiliknya, si Goo tua, ditemukan meninggal dalam kamarnya. Malam naas yang tak pernah terpikirkan, ataupun terlupakan oleh mereka. Karena sebelumnya tidak ada yang mengira, strychnine yang dibuat mengendap dalam tonik yang biasa dikonsumsinya dicampurkan oleh seseorang ke dalam kopi pahit yang diminumnya setiap malam.

Tim pemeriksa kriminal dan polisi berdatangan keesokkan harinya. Penyelidikan dilakukan. Fakta-fakta terkumpul dengan mudah. Tidak ada sidik jari lain dalam kamar orang tua itu. Begitu juga orang yang dicurigai. Siapa yang menyediakan kopi dan tonik baginya setiap malam. Hanya satu orang. Joan Ahjumma langsung diamankan pihak polisi.

Tapi … apakah kasus tersebut segampang ini? Goo Sun-Hye, cucu tunggal dari korban, tidak mau percaya begitu saja. Semuanya terlalu jelas. Fakta-fakta yang menyudutkan. Bahkan botol tonik yang tidak disingkirkan—masih tergeletak di atas meja dekat cangkir kopi yang mematikan itu, meragukannya. Seperti seseorang telah menyiapkan perangkap sempurna buat kepala pelayan malang, yang merangkap pelayan pribadi itu.

Kalau begitu .. siapa yang pantas dicurigai? Malam itu, semua penghuni rumah terlihat mencurigakan. Bukan hanya kerlingan takut-takut dari mata mereka yang mengisyaratkan itu, tapi juga alasan-alasan yang mungkin mereka lakukan sehubungan dengan pembunuhan mengerikan tersebut. Alasan-alasan yang akan menguntungkan posisi mereka setelah kematian orang tua kaya berpengaruh itu.

Sun-Hye mengamati mereka satu-persatu.

Nyonya muda Goo—wanita yang dinikahi haraboji tiga bulan yang lalu. Dalam arti—halmonie tirinya. Terlihat lemah dan senyumnya sangat manis. Sun-Hye mengeleng perlahan. Tidak mungkin dia pelakunya.

Dia beralih ke pemuda di sebelahnya. Lee Min-Chan—pemuda yang sangat angkuh. Pendiam dan jarang berkata-kata. Dia selalu terlihat muram dan tidak bersahabat. Putra tunggal dari nyonya muda Goo. Seharusnya Sun-Hye memanggilnya paman. Tapi kenyataannya dia tidak pernah bertutur-sapa dengan pemuda itu. Sekalipun mereka sudah serumah tiga bulan lamanya. Sun-Hye selalu takut padanya. Terkadang dia mendapati pemuda itu sedang mengawasinya. Mengikuti setiap gerak-geriknya. Kalau sudah ketahuan, dia akan segera membuang muka acuh.

Orang ketiga, Jang Geun-Suk. Min-Hye menghembuskan nafasnya. Untuk apa dia datang pada malam naas itu? Jika tidak, dia tidak akan dicurigai. Setidaknya olehku! sesalnya dalam hati. Pemuda itu adalah pacarnya. Orang yang dikenalnya sejak sekolah menengah pertama—sama seperti Kim So-Eun, sahabatnya yang satu lagi—, dan sudah dipacarinya dari setahun yang lalu. Dia pemuda yang ceria dan kocak. Selalu gembira tapi terkadang agak urakan dan sedikit berbahaya. Sun-Hye sebenarnya sudah ingin putus darinya. Tapi dia tidak ada alasan untuk itu. Karenanya, dia sering menghindari pemuda ini beberapa hari terakhir. Jadi jangan heran jika kedatangan pemuda tidak diundang ini, di acara makan malam di malam mengenaskan itu sangat mengejutkannya.

Sun-Hye mengalihkan perhatiannya perlahan-lahan. Alisnya berkerut. Yang ini, kandidat terkuat dari daftar-daftar di atas. Yoon Eun-Hye—paling mengerti efek-efek dari obat-obatan. Dia calon dokter dan hubungannya dengan haraboji tidak begitu baik. Walaupun tidak bisa juga dikatakan terlalu buruk. Eun-Hye memiliki sifat yang aneh. Dia suka menyendiri. Mungkin semuanya disebabkan kecelakaan mobil mengenaskan yang telah merenggut nyawa orangtua dan neneknya, yang merupakan adik kandung dari haraboji. Jadi tidak mengherankan-kan kalau Eun-Hye dicurigai? Lagipula, bukankah dia punya dendam tersembunyi pada haraboji? Berhubungan dengan masa lalu neneknya yang diusir dari rumah oleh orang tua malang itu?

Sun-Hye menghempaskan badannya ke sofa. Tidak. Dia tidak bisa memutuskan siapa sebenarnya yang terlibat dalam pembunuhan berdarah dingin ini. Yang jelas, semua pelayan termasuk sopir dan para koki dibebaskan. Mereka tidak mungkin melakukannya karena kematian haraboji tidak menguntungkan bagi mereka. Kepala Sun-Hye tertunduk ke lantai. Dia menanggis. Harabojinya sudah mati.



****************



Pemakaman terhadap tuan Goo tua dilakukan seminggu kemudian. Banyak orang yang menghadiri acara pemakaman tersebut. Para pengusaha kaya dan terpandang dari segala penjuru Asia, juga Eropah dan Amerika. Ini tidak mengherankan mengingat tuan Goo tua adalah pemilik tertinggi dari Goo Global, perusahaan paling terkenal dan memiliki basis yang sangat kuat—tidak hanya di Korea Selatan tapi juga di seluruh penjuru dunia.

Sun-Hye menanggis sepanjang acara itu. So-Eun, yang senantiasa menemaninya, menyangga tubuh sahabatnya dengan lembut. Berulangkali dia menghiburnya dengan kata-kata meneguhkan. Anggota keluarga yang lain juga terlihat sendu. Tapi mereka tidak tersedu-sedu seperti Sun-Hye. Bunga-bunga sudah dilemparkan ke liang kubur dan tanah lembab juga sudah ditimbun ke atas peti mati dari kayu pilihan ketika para pelayat berangsur-angsur meninggalkan tempat pemakaman yang terasa dingin itu.

Sun-Hye memeluk erat tubuh So-Eun. Menyandarkan kepalanya di pundak sahabatnya itu. Dia membutuhkan tempat untuk berpegang. Tempat untuk bertahan. Selain So-Eun, dia tidak tahu siapa lagi yang bisa diharapkannya. Orang-orang yang selama ini tinggal seatap dengannya mendadak menjadi asing. Dia seperti tidak mengenal mereka. Semuanya memakai kedok. Bahkan nyonya muda Goo yang selama ini menyayanginya sekalipun. Dia tidak ingin bertumpu padanya. Karena dia tidak sanggup.

Sebelum semua misteri ini terbongkar, dia tidak akan percaya kepada siapapun. Selain So-Eun tentunya. Bahkan Geun-Suk sekalipun tidak dihiraukannya. Pemuda itu memandanginya kesal dari sisi berlawanan dengan tempatnya berdiri. Sun-Hye memalingkan wajahnya. Dan pada saat itu sepasang mata tajam lainnya tertangkap olehnya. Lee Min-Chan mengamatinya lagi. Seperti yang sering dilakukannya.



****************



”Kamu harus menolongku, Soeun-a!” kata Sun-hye pada suatu hari.

Saat itu, dua minggu berlalu sudah sejak pemakaman haraboji.

So-Eun mengalihkan perhatian dari majalah gosip di tangannya. “Apa itu?”

Sun-Hye bangkit dari ranjang dan mendekati So-Eun yang duduk di bangku putar dekat jendela. Dia menjatuhkan diri ke sofa kecil yang bersebelahan dengan So-Eun. “Pamanmu kan seorang polisi?” dia memulai. “Nah beliau pasti mengenal detektif-detektif pribadi yang hebat! Saya ingin menyewa salah seorang dari mereka .. “

Tangan So-Eun yang bermaksud menyibak halaman majalah gosip yang kembali dihadapinya terhenti. Dia menutup majalah tersebut dan melemparkannya ke atas meja rias.

“Buat menyelidiki kematian haraboji?” selidiknya.

Sun-Hye mengangguk.

“Kamu bersungguh-sungguh?” tanya So-Eun lagi. “Maksudku, kamu masih beranggapan peristiwa itu bukan kesalahan Joan Ahjumma?”

Sun-Hye memasang tampang serius dan membalas pandangan berkenyit So-Eun. “Berikan alasan padaku mengapa Joan Ahjumma melakukannya!”

So-Eun tidak mampu menjawab. Ya, apa alasannya? Pelayan pribadi itu tidak akan memperoleh keuntungan apa-apa dari perbuatan itu. Dengan atau tanpa kematian haraboji, uang yang akan diperolehnya tidak berubah. Jadi untuk apa dia melakukannya? So-Eun mengaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Tidak ada!” jawabnya putus asa.

Sun-Hye tersenyum penuh kemenangan. “Karena itu, tolong aku!”

So-Eun mengeleng kaku. “Tidak bisa!”

“Weo?”

“Karena paman .. ,” So-Eun berhenti sejenak. Berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk menolak Sun-Hye. “Paman tidak akan tertarik dengan kasus yang sudah jelas .. “

“Kasus ini tidak jelas, Soeun-a ..,” sambar Sun-Hye. “Maksudku …,” dia terlihat kewalahan sendiri. “Saya yakin kamu mengerti maksudku. Semua faktanya memang sudah jelas. Bahkan terlalu jelas. Karenanya kasus ini jadi mencurigakan… “

Sun-Hye menyandar ke sandaran sofa yang terbalut kain bulu halus di belakangnya. “Terlalu jelas untuk sebuah pembunuhan … ,”gumamnya. “Kecuali .. kematian haraboji bukan karena dibunuh tapi hanya kecelakaan biasa, aku dapat menerimanya … ,” dia mengangkat wajah ke arah So-Eun. “Tapi, ini jelas-jelas pembunuhan, Soeun-a, … pembunuhan terhadap harabojiku!” Tampang Sun-Hye mengeras. “Aku harus mengetahui siapa pelakunya. Sebelum semuanya jelas. Alasan-alasan dibalik pembunuhan ini. Aku tidak akan mempercayai teori-teori murahan dari para polisi itu. Terlalu sederhana. Tidak mungkin pembunuhannya seperti itu. Sangat menggelikan membayangkan Joan Ahjumma melakukan pembunuhan yang tidak berpengaruh terhadap dirinya … Yang tidak menguntungkannya sama sekali … “

“Lalu kamu akan mengorbankanku?” kata So-Eun memelas. “Kamu tahu bagaimana sifat paman Joo. Terlebih padaku. Dia sangat tegas dan tidak pilih kasih. Sulit mengorek informasi yang berhubungan dengan pekerjaannya .. “

“Ini bukan permintaan resmi Soen-a.” Sun-Hye menyentuh lengan So-Eun. “Aku tidak menginginkan skandal di rumah ini. “ dia mengeleng, “Tidak. Aku yakin, haraboji juga tidak menginginkannya. Karena itu .. aku membutuhkan seorang detektif pribadi. Yang tidak begitu dikenal, tapi cara kerjanya efisien dan cermat. “ dia menatap So-Eun lekat-lekat. “Aku yakin paman Joo mempunyai calon itu. Dari begitu banyak detektif yang membantu Bagian Penyelidik Kriminal cabang Seoul, pasti ada detektif seperti itu … “

“Tapi … ,” So-Eun memalingkan wajahnya gelisah.

“Kim So-Eun! Kamu sahabatku kan?”

So-Eun menoleh kembali pada Sun-Hye. “Tentu saja!” jawabnya agak tersinggung. “Memangnya siapa yang menemanimu selama ini jika bukan sahabatmu ini … “

“Iya. Iya.” Sun-Hye tertawa dan memeluk So-Eun erat-erat. “Miane. Aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu .. “

So-Eun meletakkan tangannya di lengan Sun-Hye yang melingkari pundaknya. “Aku tahu perasaanmu sedang kacau Sunhye-a. Kamu ingin masalah ini segera selesai. Tapi … ,” dia menatap Sun-Hye. “ … paman Joo, sangat sulit … “

Sun-Hye tersenyum. “Aku percaya padamu … “ katanya. “Kamu pasti punya cara menghadapi paman Joo … “

So-Eun mengangkat tangan ke atas. “Entahlah … “

“Kim So-Eun!!” Sun-Hye langsung menguncang-guncang badan So-Eun.

“Ok! Ok!” teriak So-Eun. Mengakhiri perbuatan gila Sun-Hye dari tubuhnya. “Aku akan berusaha … “ suaranya memelan. Seperti orang terpojok.



****************



"Di sini?," tanya Sun-Hye tak percaya.

Matanya yang letih dan sembab melayang ke pemukiman di sekitarnya. Tua dan tak terurus, itu kesan pertama yang tertangkap oleh penglihatannya. Kemudian dia beralih ke flat yang berdiri tegak di depan. Sama tua dan kotornya, dengan dinding-dinding yang mulai mengelupas.

"Ne," jawab So-Eun, sahabat karibnya, " .. paman Joo yang menganjurkannya padaku-untukmu. Kamu tidak ingin skandal-kan? Kata paman, dia merupakan pilihan yang tepat. Dia tidak terikat organisasi resmi apapun. Dan juga keberadaannya tidak begitu diketahui oleh massa. Tapi, meskipun begitu, keahliannya tidak perlu diragukan lagi. Dia sudah banyak membantu kesatuan polisi menyelesaikan kasus-kasus rumit."

So-Eun kemudian menarik tangannya. "Ayo kita masuk! Flatnya ada di lantai dua .."

Sun-Hye tak bergeming dari tempatnya walaupun tarikan So-Eun cukup keras. "Tapi .. ," katanya ragu-ragu.

"Yaa Goo Sun-Hye!!," ujar So-Eun kesal. "Kamu yang memintaku bertanya pada paman mengenai detektif-detektif yang bisa dimintai pertolongan dan sekarang- kamu ingin menghindar?"

Sun-Hye menyurut sedikit. Agak ngeri juga melihat kejengkelan So-Eun yang biasanya manis ini.

"Saya tidak memaksa ...," lanjut So-Eun, sedikit dibuat lembut, " .. tapi saya sudah memohon-mohon pada paman Joo supaya diberikan alamat detektif ini. Menurut paman, biasanya orang ini hanya membantu Departemen Penyelidikan Kriminal Polisi. Dia jarang terlibat kasus-kasus yang bersifat pribadi. Ini kesempatan yang sangat baik. Jadi lihat," mendadak dia mendorong lengan Sun-Hye, "perjuanganku sudah besar kan?". Setelah pertanyaan itu, tampang So-Eun perlahan-lahan menjadi khawatir, "Apa jadinya kalau paman Joo mengetahui kemunduranmu ini? Beliau pasti menganggapku mempermainkannya? Bisa-bisa uang jajan bulan ini lenyap tak berbekas ... "

Sun-Hye termangu. Mungkin benar apa yang dikhawatirkan So-Eun. Paman Joo tidak segan-segan bertindak keras dalam mengajar keponakan satu-satunya ini. Sudah sering uang jajan So-Eun lenyap gara-gara tidak mendengarkan perkataan Inspektur Joo. Jadi tidak mengherankan melihat sahabatnya ini begitu khawatir.

"Bagaimana?" sekali lagi So-Eun mendorong lengannya. Kali ini lebih keras.

Sun-Hye menarik nafas kuat-kuat dan mengambil tekad. "Kita masuk sekarang juga!"

Sun-Hye mendahului So-Eun menaiki tangga pendek di depan serambi yang memanjang sepanjang flat tersebut. Kemudian mereka berlari-lari kecil menuju lantai atas lewat tangga yang terdapat di sebelah kanan kediaman pribadi tersebut. Dua menit kemudian, mereka sampai di depan pintu flat yang alamatnya tertera dalam kertas genggaman So-Eun.

"Benar flat nomor ini?" tanya Sun-Hye.

So-Eun meneliti kertas dalam genggamannya. Dia mengangguk. "Benar. Cepat tekan bellnya!"

Sun-Hye tidak bergerak. Tangannya terangkat perlahan tapi dia kelihatan ragu untuk menekannya. So-Eun langsung berdecak tak sabar.

"Biar saya saja!" katanya sambil mendorong tubuh Sun-Hye.

ting .. tong .. ting .. tong .. , mereka bisa mendengar bell tersebut berbunyi berkali-kali.

Kemudian mereka menunggu. Mendengarkan. Tidak lama kemudian, terdengar langkah kaki terburu-buru dari dalam flat. Walaupun lemah tapi bisa tertangkap dengan jelas.

drekkkk ... pintu dibuka dari dalam. Dan seraut wajah kelam dengan ekspresi tembok- tidak terbaca, terlihat dingin dan agak menakutkan- muncul dari balik pintu. Dia berpakaian rapi ala pelayan pribadi. Lengkap dengan rompi dan dasi kupu-kupunya.

"Iya. Ada yang bisa saya bantu?" tanya pria itu dengan suara datar.

"Ne .... ," sahut Sun-Hye dan So-eun bersamaan, gugup. Tanpa sadar mereka mundur selangkah ke belakang.

"Ada apa?"

"Ka .. kami .. ingin bertemu ... detektif .. Lee .. " jawab So-Eun dengan susah payah.

"Anda ada janji?" tanya pria angker itu lagi sambil mengamati mereka dengan seksama. Seperti memotori setiap gerak-gerik mereka.

"Ti .. tidak ... " suara So-Eun terdengar semakin lemah. "Tolong katakan pada ... detektif Lee, ... kami .. kami datang atas .. atas anjuran inspektur Joo ..."

"Inspektur Joo?" pria tersebut mengulangi nama itu. Dia bergerak sedikit. Sepertinya nama paman Joo cukup berpengaruh terhadapnya. Kemudian dia bergeser dari tempatnya. Agak menempel ke pintu dan mempersilahkan kedua tamu wanitanya memasuki ruangan. "Silahkan masuk nona-nona!"

Sun-Hye dan So-Eun saling berpandangan selama sedetik. Tanpa dikomando mereka menelan secara bersamaan.

"Ghamsamida."

Sambil membungkuk dalam-dalam, mereka memasuki ruangan kelam tersebut dengan sepasang kaki gemetar. Diikuti pria di belakangnya dengan sikap sempurna.



****************



Sun-Hye dan So-Eun mengamati ruangan di mana mereka di tempatkan. Dua cangkir teh telah diletakkan pelayan bermuka tembok tadi di atas meja. Sekarang mereka ditinggalkan sendiri di ruang kerja sang detektif. Mengapa di ruang kerja? Mereka juga tidak tahu. Sepertinya detektif itu mempunyai cara aneh dalam menerima tamu-tamunya.

Ruangan itu cukup besar. Tapi ruang geraknya sangat sedikit. Tiga lemari besar mengelilingi ruangan tersebut. Semuanya terdesak penuh oleh buku-buku tebal yang sebagian sudah menguning. Begitu juga meja kerja panjang satu-satunya yang terletak di depan mereka. Buku-buku dan koran-koran berserakan di mana-mana. Sofa lusuh di sudut ruangan juga tidak terlepas dari lautan buku. Sun-Hye jadi berpikir. Mungkin detektif ini termasuk spesies kutu buku yang membosankan.

drekkk ... pintu ruangan itu dibuka. Sun-Hye dan So-Eun menoleh secara bersamaan. Seorang pria berperawakan tinggi--mencapai 187 cm--melintas di ruangan itu. Hanya bayangannya yang tertangkap samar-samar oleh Sun-Hye dan So-Eun. Penerangan di ruangan itu memang sangat parah. Seekor lalat yang melintas sekalipun mungkin tidak terlihat dalam ruangan itu.

bukk .. setumpuk buku dihempaskan pria itu di depan mereka. Bersamaan dengan jatuhnya tubuh jangkung itu di kursi panjang di belakang meja.

"Ada urusan apa?" tanya si pemilik suara parau.

Kedua gadis itu saling berpandangan. Perasaan tidak enak sejak memasuki flat ini jadi semakin mengelisahkan. Jemari mereka saling meremas. Sun-Hye melirik pria di hadapannya secara diam-diam. Wajah itu tidak terlihat jelas karena tertunduk menghadapi tumpukan buku di atas meja. Walaupun begitu, ada sesuatu yang tidak asing dengan pria ini. Jidat lebar dan tidak terlindungi oleh rambutnya yang digel agak ke samping itu, mengingatkannya pada seseorang. Tapi dia lupa pada siapa.

"Bisa katakan sekarang?" Pria itu mengangkat wajahnya.

Tenggorokan Sun-Hye langsung tercekat. Dia tahu sekarang dia mirip siapa. Tidak. Bukan hanya mirip. Tapi wajahnya benar-benar seperti pinang dibelah dua.

"Kamu?!!" Tanpa sadar dia menuding pria itu dengan telunjuknya. Suaranya bergetar hebat. Lelucon apa ini?!, teriaknya dalam hati.

"Bukankah dia paman Chan-mu?" dia merasa lengan So-Eun menyenggolnya.

Sun-Hye berpaling pada So-Eun. Keheranan lebih dalam terpancar dari wajahnya. Dia mengeleng perlahan. Aku tidak tahu. Mungkin jawaban itu yang ingin disampaikannya lewat gelengan itu.

Pria di hadapan mereka termangu. Agak terkejut juga melihat reaksi Sun-Hye. Dia terdiam beberapa saat. Bermaksud mengeluarkan suara tapi segera diurungkannya.

"Kamu ... Lee Min-Chan?" So-Eun yang mengeluarkan pertanyaan ini.

Pria itu beralih padanya. "Siapa yang kalian cari?" dia balas bertanya.

"Detektif Lee Si-Hwan ... ," jawab So-Eun ragu-ragu.

Pria itu menghempaskan tubuhnya ke belakang. "Itu SAYA!"

"Apa-apaan ini?!" teriak Sun-Hye setelah sadar dari keterkejutannya. "Ini sudah tidak lucu lagi!" tampangnya mengeras dengan sepasang mata membara.

Dia sangat marah. Pemuda yang selama ini tidak acuh padanya, mendadak muncul dan memperkenalkan diri dengan identitas lain padanya. Apa maunya pemuda berengsek ini sebenarnya?

"Aku tidak main-main." Pemuda yang mengaku bernama Lee Si-Hwan itu membalas pandangan Sun-Hye. "Namaku memang Lee Si-Hwan dan aku detektif yang kalian cari." dia berpaling pada So-Eun kemudian beralih lagi pada Sun-Hye, "Apa kalian mencurigai inspektur Joo juga?" tanyanya dingin.

Begitu nama inspektur Joo disebut, Sun-Hye dan So-Eun langsung lemas di tempatnya. Benar. Pemuda ini rekomendasi dari inspektur Joo, jadi dia tidak mungkin palsu. Tapi mengapa wajahnya bisa begitu mirip dengan Lee Min-Chan? Apa ada kemungkinan dua orang yang benar-benar mirip di dunia ini? Selain saudara kembar? Sun-Hye mengeleng untuk kesekiankalinya. Dia tidak pernah mendengar dari nyonya muda Goo kalau Min-Chan punya saudara kembar.

"Aku tahu apa yang kamu pikirkan .. ," perkataan itu menyadarkan Sun-Hye dari lamunan. Perhatiannya kembali terpusat pada pemuda itu.

Si-Hwan tidak melanjutkan perkataannya. Dia mengangkat bahu dan menarik kursinya lebih mendekat ke meja. "Lupakan saja! Sekarang katakan padaku, apa maksud kalian kemari?"

Sun-Hye dan So-Eun saling berpandangan lagi. Mengapa untuk memulai masalah ini terasa begitu sulit?

Sun-Hye membersihkan tenggorokannya. "Ehmmm begini ... Saya bermaksud meminta bantuan anda untuk menyelesaikan kasus pembunuhan terhadap harabojiku ... "

Si-Hwan menajamkan pandangannya. "Harabojimu?"

"Goo Joong. Pemilik Goo Global." Sun-Hye menelan ludahnya.

"O ... ," Si-Hwan mengangguk-anggukkan kepalanya. "Tapi bukankah kasus itu sudah final?"

"Tidak. Belum ..," seru Sun-Hye cepat. "Bukan Joan Ahjumma yang membunuh haraboji!"

"Maksudmu, kamu tidak percaya keputusan itu?" selidik Si-Hwan.

Sun-Hye mengangguk.

Tubuh jangkung Si-Hwan menegak perlahan. "Jadi kamu mencurigai pelakunya salah satu dari penghuni rumah?"

Sun-Hye mengeleng putus asa. "Tidak tahu! Saya tidak ingin menduga apa-apa. Perasaanku sangat kacau ... ," dia berkata dengan nada memohon, "Karena itu saya mendatangimu. Tolong saya!"

"Kejadiannya di Goo's mansion kan?"

Sun-Hye mengiyakan.

"Dalam kamar korban?"

"Ne .. "

"Apa semua bukti sudah disingkirkan?"

Mata Sun-Hye melebar. Pertanyaan ini tiba-tiba menyadarkannya betapa pentingnya bukti-bukti itu. Tonik dan cangkir yang berisi kopi pahit itu. "Iya. ... A .. apa itu menyusahkan penyelidikanmu?"

"Tidak." jawab detektif itu cepat. "Lupakan saja." dia tersenyum. "Aku bisa memintanya ke pihak pemeriksa polisi jika memang membutuhkannya ... "

"Jadi .. tuan menerima permintaanku?" tanya Sun-Hye tak percaya.

Pria itu mengangguk. "Aku memang tidak pernah menerima kasus pribadi. Tapi ... ," dia mengangkat tangannya, "... tidak ada salahnya aku mencobanya .. "

"Bagus Sunhye-a .. ," bisik So-Eun di telinga Sun-Hye.

Mereka tersenyum secara berbarengan.

"Ne .. ," angguk Sun-Hye pelan.

Kemudian dia beralih pada Si-Hwan. "Kapan tuan datang ke Goo's mansion?"

Detektif muda itu berdiri dari posisinya. Butir-butir coklat yang terbungkus kantung kecil yang tadi diletakkan di atas meja, bersamaan dengan tumpukan buku, dituangkan ke telapak tangan kemudian dimasukkan ke dalam mulutnya.

"Nona-nona ... ," dia menawarkan coklat gelap di tangannya.

Kedua gadis itu saling berpandangan, lalu mengeleng dengan cepat.

Si-Hwan melempar kantung coklat itu ke atas meja. "Besok." katanya. "Besok pagi aku ke sana. Bersama Dorky."

"Dorky?" ulang Sun-Hye. Dia melirik So-Eun dan sahabatnya itu hanya mengangkat bahu. "Tapi .. saya tidak ingin urusan ini diketahui orang lain. Apalagi polisi .. "

Si-Hwan tertawa. Mendadak wajahnya dicondongkan ke depan. Hampir menyentuh wajah Sun-Hye. "Dorky itu anak anjingku .. "

Sun-Hye mengangga. Begitu juga So-Eun. Dia seorang detektif handal? Yang benar saja? Sun-Hye lemas di tempatnya. Sepertinya dia telah salah pilih orang. Atau .. paman Joo sengaja mempermainkan mereka dengan mengenalkan detektif gadungan seperti dia?


OOOOOOOO

_________________


♥️ "Everywhere ★ we learn ★ only from ★ those whom ★ we love" ♥️
avatar
DragonFlower

Posts : 94
Join date : 2013-06-17
Location : | Trapped in CNBLUE Dorm |

View user profile

Back to top Go down

Re: The Sounds of Death--by Lovelyn

Post by loveminsun on Sat Jul 06, 2013 10:49 pm

lanjutkan onnie!!! hahahahhahaaa
avatar
loveminsun

Posts : 5
Join date : 2013-07-06

View user profile

Back to top Go down

The Sounds of Death--Chapter Two

Post by DragonFlower on Mon Jul 15, 2013 4:18 am




The Sounds of Death--
CHAPTER TWO

By Lovelyn Ian Wong





Sun-Hye menghempaskan tubuhnya ke sofa ruang tengah. Dua bungkusan di tangannya dilemparkan begitu saja ke lantai berkarpet tebal. Dia melirik jam besar yang berdiri angkuh di sudut ruangan. Sudah pukul sembilan malam. Waktu yang sangat terlambat buat peraturan pulang ke rumah yang diterapkan haraboji ketika masih hidup. Sun-Hye menghembuskan nafas kuat-kuat. Hari ini hari yang melelahkan. Sudah lama dia tidak bermain segila ini. Sehabis dari apartemen tua milik detektif gadungan—Lee Si Hwan—dia memang memaksa So-Eun menemaninya shopping. Semoga So-Eun tidak mendapat masalah dari paman Joo, harap Sun-Hye dalam hati.

Seorang pelayan yang khusus ditunjuk haraboji untuk merawatnya tergopoh-gopoh mendekatinya. Wajah pelayan muda tersebut bersemu merah ketika sampai di dekatnya. Nafasnya memburu.

“Agashi sudah pulang?” dia membungkuk dengan hormat.

Sun-Hye tersenyum. Pelayan ini sudah bekerja untuknya selama dua tahun tapi sikapnya masih saja sekaku ini.

“Ne, Hae-a .. “

“Apa agashi sudah makan?” tanya Hae ragu-ragu. “Makan malamnya sudah dibereskan tadi .. “

“Tidak apa-apa .. ,” jawab Sun-Hye. “Saya sudah makan kok .. “ Kemudian dia berdiri dari tempatnya. “Tolong bawa belanjaanku ke kamar, Hae-a. Saya akan mandi dulu. Tubuhku lengket oleh keringat .. “

“Ne, agashi .. “ Hae mengambil dua bungkusan tadi kemudian mengikuti Sun-Hye. Tiba-tiba langkahnya terhenti. “O ya, agashi?”

Sun-Hye menoleh. “Ya?”

“Tadi sore Jang Geun Suk-ssi kemari .. “

“Mwo?” Sun-Hye berhenti kemudian berbalik menghadapi Hae. Rautnya berubah tak senang. “Buat apa dia ke sini?”

“Katanya mencari agashi .. ,” jawab Hae.

“Lalu apa katamu?”

“Saya bilang agashi sedang keluar dengan So Eun-ssi .. “

Sun-Hye menghela nafas kemudian meneruskan langkahnya. “Lain kali jika dia ke sini katakan padanya saya sibuk dan tidak ingin diganggu .. “

“Ne .. ,” jawab Hae.

Mereka keluar dari ruang tengah menuju lorong besar di sudut kanan ruangan itu. Di sana terdapat tangga putar yang menuju lantai atas. Langkah Sun-Hye tersendat. Hae hampir menabraknya. Pelayan pribadi itu memekik pelan.

Sun-Hye melihat seorang pria muda sedang menyandar di jendela kaca besar yang terpasang di sepanjang lorong tersebut. Wajah pemuda itu tertunduk. Kakinya yang beralas sepatu kets warna hitam bergaris putih menyepak-nyepak lantai. Sepasang tangannya terselip ke dalam saku celana sedangkan rambutnya yang halus dan berwarna hitam pekat menutupi wajahnya. Sun-Hye tidak mampu menangkap ekspresi pemuda itu lewat posisinya sekarang.

Perlahan dia melanjutkan langkahnya. Ketika melewati pemuda tersebut, dia menunduk perlahan.

“Paman Chan .. ,” sapa Sun-Hye pelan.

Min-Chan mengangkat wajahnya. Wajah yang datar tanpa ekspresi. Sun-Hye mendesah dalam hati. Tidak mengerti mengapa pemuda ini selalu memperlihatkan respon seperti ini. Atau .. mungkinkah dia yang tidak pandai membaca raut seseorang? Apakah raut datar ini telah mengambarkan perasaannya? Tapi apa? Sun-Hye mengeleng tak mengerti.

Gadis itu berusaha tersenyum tapi Min-Chan tidak menyambutnya. Tubuh pemuda itu menegak. Kepalanya ditarik ke belakang sehingga poninya yang terjuntai menutupi jidatnya agak tersibak. Kening Sun-Hye berkerut. Samar-samar dia menangkap goresan yang cukup panjang—sekitar 2 cm—di jidat yang tinggi dan lebar itu. Mulutnya terbuka, bermaksud mengatakan sesuatu tapi pemuda itu dengan tenang sudah bergerak dari tempatnya--ke arah berlainan. Tanpa mengatakan apa-apa? Tidak menyahutnya?! Wajah Sun-Hye mengeras. Ok, saya sudah mencoba bersikap sopan. Kalau memang tidak dianggap masa bodoh. Memangnya kamu siapa, Lee Min-Chan? Mengapa harus selalu saya yang memulainya? Mengapa harus saya yang menyapamu lebih dahulu? Karena kamu pamanku? Oh come on, apa hebatnya seorang paman?! Huhhh!!

Sun-Hye berlari menaiki anak tangga. Hae sangat terkejut. Tergesa-gesa dia mengejar Sun-Hye.

“Agashi, ada apa?”

“Tidak apa-apa!” jawab Sun-Hye tanpa berbalik. “Saya hanya .. ingin cepat-cepat membersihkan diri. Setelah menaruh isi belanjaan itu, siapkan teh hangat buatku, Hae-a .. “

“Ne, agashi .. ,” jawab Hae dengan terengah-engah.



***********



Sinar mentari pagi berusaha menembus tirai jendela kamar Sun-Hye. Hae masuk dengan nampan berisi segelas susu hangat di tangannya. Setelah meletakkan nampan tersebut ke meja pendek di tengah ruangan yang luas itu, dia berjalan ke deretan jendela kaca besar di ujung ruangan. Dibukanya tirai yang menutupi jendela-jendela kaca tersebut. Sinar yang menyilaukan langsung menerobos masuk mengenai wajah Sun-Hye.

Tubuh mungilnya bergerak. Matanya berkejap-kejap. Setelah terbiasa Sun-Hye bangun dengan posisi duduk di ranjangnya.

“Selamat pagi, agashi .. ,” sapa Hae halus.

Sun-Hye tersenyum sambil mengerak-gerakkan tubuhnya. “Pagi, Hae-a. Pagi yang cerah, ya?”

“Ne.” Hae berjalan ke meja pendek dan mengambil gelas dari dalam nampan. “Apa agashi akan sarapan di ruang makan atau di dalam kamar saja?” Hae menyerahkan gelas di tangannya.

Sun-Hye menerima gelas tersebut dan meminum susu di dalamnya. “Apa yang lain sudah siap? Jam berapa sekarang?”

Hae melihat jam tangannya. “Pukul setengah delapan, agashi. Ketika melewati ruang makan, saya melihat nyonya muda dan Min-Chan doronim sudah berada di sana.”

Sun-Hye mengangguk dan menyerahkan gelas kosong di tangannya. “Kalau begitu saya sarapan di bawah saja.” Dia turun dari ranjang lalu berjalan ke kamar mandi dalam ruangan itu. “Saya akan selesai dalam lima menit, Hae-a. Tolong beritahu yang lain.”

“Ne, agashi.” Hae berjalan ke lemari dan mengambil sepotong sweater abu-abu beserta jeans ketat warna putih kemudian menyerahkannya pada Sun-Hye.

Majikan mudanya itu masuk ke dalam kamar mandi. Dalam hitungan detik kepalanya nonggol lagi di ambang pintu. “Hae-a?!”

Hae menghentikan langkahnya dan berpaling, “Dhe?”

“Apa ada yang mencariku?”

“Maksud agashi, Jang Geun Suk-ssi?” Hae balas bertanya.

Sun-Hye mengeleng keras-keras. “Anhi! Seseorang yang .. hmm—mirip paman Chan?” suaranya memelan begitu mencapai kata-kata terakhir.

“Mirip Min-Chan doronim?” gumam Hae kebingungan. “Tidak. Apa agashi menunggu orang seperti itu?”

“Kira-kira begitu .. ,” jawab Sun-Hye risih. Kemudian dia mengibaskan tangannya. “Tidak ada perintah lagi, Hae. Keluarlah!”

“Ne.” Hae membungkuk dalam-dalam kemudian berlalu dari ruangan itu.

Sun-Hye memperhatikannya sampai lenyap dari pandangan.

“Apa reaksi penghuni rumah yang lain jika bertemu detektif gadungan itu? Wajah yang begitu mirip .. ,” dia mengeleng perlahan. “Anhi .. bukan mirip. Tapi sama … “

Sun-Hye menarik diri kembali ke kamar mandi kemudian menutup pintunya.



***********



Ruang makan di Goo’s mansion sangat sunyi. Hanya suara benturan-benturan dari peralatan makan di tangan orang-orang yang berada di ruangan itu dengan peralatan di atas meja yang terdengar. Semua penghuninya sarapan tanpa bersuara. Tidak ada pembicaraan atau tawa ceria yang mengiringi acara sarapan tersebut. Bukan karna larangan di rumah itu tapi karna para penghuninya saja yang tidak berniat memulai tindakan kecil ini.

Drekkk ..

Sun-Hye mengangkat wajah dari piring yang dihadapinya. Tepat di hadapannya, Min-Chan sudah berdiri dari tempat duduknya. Rupanya suara menderek tadi adalah suara kursi yang didorong ke belakang oleh pemuda jangkung itu. Wajah Sun-Hye berkerut. Apa dia tidak bisa menunggu sampai semua selesai sarapan?. Sun-Hye menghembuskan nafas lewat hidungnya. Semakin kesal aja dia pada pemuda aneh ini.

Min-Chan membungkuk pada ommanya. “Saya selesai .. ,” katanya pendek dengan suara khas yang agak serak-serak basah yang sangat diingat Sun-Hye. Mengapa? Mungkin karena dia jarang mendengar pemuda ini mengeluarkan suara. Ya, tentu saja itu alasannya. Min-Chan mengalihkan perhatiannya satu-persatu kepada orang-orang yang mengelilingi meja makan. “Permisi .. ,” dia membungkuk lagi. Kemudian pandangannya bertemu dengan pandangan Sun-Hye. Sekali lagi wajah itu tidak memperlihatkan perasaan apa-apa. Hanya sekilas tatapan mereka saling beradu. Min-Chan lalu memutar tubuhnya dan keluar dari ruangan itu.

Terdengar nyonya muda Goo tertawa risih. “Ha .. ha .. miane, si Chan selalu begitu .. “

Sun-Hye berpaling padanya. Dia ikut tersenyum. “Tidak apa, halmonie. Kita semua tahu kok .. “

Nyonya muda Goo menatapnya terharu. “Gumawo, Sunhye-a. Kamu selalu perhatian .. “

Dipuji begitu Sun-Hye menjadi kikuk. “Ha .. ha .. halmonie pandai bercanda .. “

“Halmonie tidak bercanda, Sunhye-a.” Nyonya muda Goo jadi serius. “Halmonie selalu berharap … ,” dia berhenti, kemudian mengeleng perlahan. Senyuman tersungging di bibirnya. “Mungkin harapan selamanya hanya harapan. Tidak akan menjadi kenyataan.” Dia tertawa. “Lalu bagaimana sekolahmu? Dua bulan lagi kamu kuliah, kan? Sudah menentukan jurusan yang akan diambil?”

Sun-Hye meletakkan sendok di tangannya. “Ne. Saya akan belajar hukum.”

“Hukum?” wanita setengah baya itu terlihat keheranan.

“Ne.” Sun-Hye menatapnya dengan seksama. “Memangnya kenapa, halmonie? Ada yang salah?”

Nyonya muda Goo mengeleng. “Tidak.” Dia tertawa perlahan. “Saya hanya merasa heran. Apa kamu tidak berniat melanjutkan usaha kakekmu?”

“Itu .. ,” Sun-Hye terdiam sebentar. Tangannya menopang dagu. Tiba-tiba perasaannya berdesir halus. Dia merasa ada yang memperhatikannya. Dengan cepat ia menoleh ke samping. Tepat saat itu tertangkap olehnya pandangan tajam dari Eun-Hye.

Gadis yang sudah berseragam dokter itu langsung memalingkan mukanya. Alis Sun-Hye berkerut. Apa Eun-Hye ingin menghindari sesuatu? Bertatap muka denganku? Tapi mengapa? Karena dia bersalah? Sun-Hye menghela nafas berat. Dia tidak tahu. Terlalu banyak kedok dari para penghuni rumah ini. Dia tidak mengenali mereka.

“Gimana?”

Pertanyaan tersebut menyadarkan Sun-Hye. Dia beralih kembali pada Nyonya muda Goo. “Sejujurnya saya tidak tertarik pada usaha haraboji. Tapi .. entahlah .. ,” dia tersenyum hambar. “Saya masih memiliki waktu kan? Tiga tahun lagi. Setelah menyelesaikan kuliah baru deh saya menentukan pilihan. Mana yang terbaik .. “

Nyonya muda Goo menyentuh pundaknya. “Pikirkanlah masak-masak. Halmonie akan mendukungmu .. “

Sun-Hye mengangguk. “Gumawo, halmonie …”



***********



Pukul 11 kurang tujuh menit, Hae berlari mendekati Sun-Hye.

"Agashi!"

Sun-Hye mengangkat wajah dari majalah di tangannya. Alisnya terangkat begitu melihat wajah Hae bersimbah keringat.

"Weo?" dia melirik ke belakang. "Dikejar hantu?"

Hae mengeleng sambil menelan dengan susah payah. "Anhi .. agashi ... "

Sun-Hye tertawa. "Tentu saja tidak. Saya hanya bercanda kok." dia meletakkan majalah di tangannya ke samping kemudian menatap Hae. "Memangnya ada apa?"

Hae menunjuk ke belakang. Tenggorokannya terasa kering sehingga tidak mampu menyahut.

"Mwo?!" tanya Sun-Hye lagi.

"O .. orang .. orang yang ditunggu agashi .. ," kata Hae terbatah-batah.

"Sudah tiba?!" Sun-Hye tersentak bangun dari tempatnya.

Hae mengangguk. "Dan ... ," dia mengigit bibir keras-keras. "Dia .. dia ... "

"Mirip paman Chan maksudmu?" Sun-Hye membantunya.

Hae mengangguk lagi. "Ba .. bagaimana mungkin?" katanya lirih.

Sun-Hye melewatinya. "Saya juga tidak tahu, Hae-a .. "

Hae memutar tubuh kemudian berlari-lari kecil di belakang Sun-Hye. "Apa dia .. dia bukan orang yang sama, agashi? .. Maksud saya .. Min-Chan doronim?"

Sun-Hye mengeleng. Sekarang mereka sudah keluar dari ruang tengah. "Tidak, Hae. Dia orang yang berbeda. Dia bukan paman Chan."

"Oh ... ," Hae menutup mulut dengan kedua tangannya. Sepasang mata beningnya yang selalu gugup terbelalak lebar. Bagaimana mungkin ada orang yang begitu mirip?, batinnya tak percaya.

"Dia ada di mana sekarang?" tanya Sun-Hye tanpa menoleh ke arah Hae.

Pelayan berbadan kecil itu tersentak. Lamunan-lamunannya buyar seketika. "Di .. di ruang tamu lantai atas, agashi."

Langkah Sun-Hye terhenti. Dia berbalik dengan alis terangkat tinggi-tinggi. "Lantai atas? Mengapa?"

Hae menjadi heran. "Dia bilang, itu keinginan agashi. Supaya kedatangannya dirahasiakan dulu dari orang-orang rumah. Apa .. bukan begitu?" lanjutnya ragu-ragu.

Sun-Hye menghembuskan nafas mendengar penjelasan itu. Perlahan dia mengangguk sebagai tanda membenarkan. Kemudian langkahnya diteruskan mulai menaiki tangga bundar yang menuju lantai atas.



***********



Pintu ruang tamu lantai dua dibuka oleh Hae. Dia agak membungkuk ketika Sun-Hye melewatinya. Kemudian dia mengekor dari belakang. Seorang pemuda dengan postur yang sangat tinggi memutar badan perlahan begitu mendengar suara saling bersahutan di belakangnya. Suara-suara tersebut berasal dari sepatu Sun-Hye dan Hae yang beradu dengan lantai kayu.

Terdengar suara anjing menyalak. Mata Sun-Hye terbelalak perlahan. Tidak mampu mempercayai apa yang dilihatnya. Jadi benar dia memiliki seekor anak anjing .. dan .. dibawa kemari? Ohhh!! Tiba-tiba Sun-Hye merasa seseorang menyenggol tangannya. Dia menoleh.

"Miane, agashi. Saya lupa memberitahukan tentang .. anjing itu .. ," seru Hae lirih. Penuh penyesalan.

Sun-Hye tidak mampu berkata apa-apa. Pikirannya dipenuhi oleh keanehan-keanehan dari pemuda yang mengaku detektif ternama ini. Oh well, mungkin bukan pengakuannya, hanya pengakuan paman Joo. Tapi itu tidak berbeda. Sikapnya menunjukkan kalau dia mengetahui segalanya. Dan ini lebih parah dari pengakuan yang keluar dari mulutnya sendiri. Sun-Hye membela dalam hati.

Pemuda di hadapannya tersenyum. Tangannya menepuk halus kepala anjing berbadan kecil dalam rangkulannya sehingga berhenti menyalak.

"Anyong .... hmm--," tangan pemuda itu menunjuk Sun-Hye. Dia terlihat sedang berpikir, kemudian .., " ... o ya, Goo Sun Hye-ssi .. ," lanjutnya dengan mata berbinar. Jarinya dijentikkan pada saat bersamaan. Ia terlihat puas. Apa buat tebakannya barusan?

Raut wajah Sun-Hye berubah dongkol. Langkahnya yang sempat terhenti diteruskan ke pemuda itu. "De ... "

"Ssstttt!!" sebelum ucapan itu dikeluarkan, telunjuk si pemuda sudah mendarat di bibirnya.

Sun-Hye sangat terkejut. Dia langsung mundur ke belakang dengan sempoyongan. Hae menahan tubuhnya sehingga kakinya terinjak. Pelayan malang itu langsung meringis kesakitan.

Mata Sun-Hye melebar menghadapi pemuda itu. Kurang ajar sekali dia!! Mulutnya terbuka buat menyemburkan kata-kata pedas. Tapi lagi-lagi terpotong begitu pemuda tersebut mencondongkan tubuh ke depan. Wajah mereka hampir bertabrakan.

"Apa ... "

"Bukankah kau ingin semuanya dirahasiakan?" sela Si-Hwan. Sun-Hye terpaku. "Jika iya, jangan memanggilku detektif Lee .. ," lanjutnya halus di telinga Sun-Hye.

Lalu tubuhnya ditarik ke belakang. Dia melirik Hae yang kebingungan. "Bisa menolongku, nona?"

"Dhe?!" Hae tersentak.

Si-Hwan melewati Sun-Hye dan mendekati Hae yang berada sekitar tiga langkah di belakangnya. "Tolong jaga Dorky untukku. Ada yang ingin saya bicarakan dengan majikanmu .. " Dia menyodorkan anjing berbadan mungil yang bernama Dorky itu.

Hae memandanginya sesaat. Wajahnya terlihat tegang. Seumur hidup ia memang belum pernah berurusan dengan binatang. Apalagi binatang yang suka menyalak. Dorky terlihat mengerikan baginya. Hae beralih pada Sun-Hye. Seakan meminta pertolongannya. Tapi Sun-Hye mengangguk sehingga mau tak mau Hae menerima Dorky dengan takut-takut.

"Jangan khawatir. Dia tidak akan mengigitmu .. ," Si-Hwan tertawa. Membuat Hae semakin kaku.

Sun-Hye menepuk lengan Hae. "Bawalah dia keluar. Kami tidak ingin diganggu. Tanpa perintah dariku, jangan biarkan seorangpun memasuki ruangan ini. Araso!"

Hae mengangguk dengan ekspresi seperti orang menanggis. Dia berusaha menjauhkan Dorky dari tubuhnya. Anjing kecil itu menyepak-nyepak tak karuan, membuat Hae memekik pelan. "Agashi .. ," serunya memelas.

"Peluk dia. Jika tidak, nanti jatuh ke lantai .. ," kata Si-Hwan segera. Dia menekan Dorky sehingga merapat ke tubuh Hae. Sekali lagi pelayan malang itu memekik.
"Agashi .. " teriaknya jijik.

"Keluarlah!" perintah Sun-Hye tanpa membantu. "Jika kewalahan, berikan pada pak Jung. Kalau tak salah, dia suka anjing." tangannya dikibaskan--memaksa Hae berlalu dari situ.

Dengan tubuh lunglai, Hae keluar ruangan. Dorky masih terlihat memberontak dalam dekapannya. Sun-Hye mendesah. Dia merasa kasihan pada Hae tapi apa boleh buat dia tidak bisa berbuat apa-apa. Yang lebih penting sekarang adalah masalah yang menyangkut kematian harabojinya. Dan dia tidak ingin Hae mendengar rencana penyelidikan yang akan dilakukannya dengan detektif gadungan ini sehingga Hae terpaksa harus disingkirkan dalam pembicaraan rahasia ini.

Si-Hwan menjatuhkan diri ke sofa. "Saya habis dari badan penyelidik polisi .. ," mulainya. "Semua bukti sudah kuketahui dengan jelas .. "

Badan Sun-Hye menegang. Langkahnya diperlebar ketika mendekatinya. "Lalu .. bagaimana? Apa ada yang mencurigakan?"

Si-Hwan mengangkat bahunya. "Mungkin .. ," jawabnya seenaknya.

Alis Sun-Hye terangkat, "Maksud anda?"

"Bukti itu tidak perlu .. " si detektif merogoh ke dalam saku celana dan mengeluarkan sebuah bungkusan kecil.

Sun-Hye mempertajam penglihatannya. Oh,, mulutnya terbuka. Ternyata itu bungkusan coklat. Dengan santai detektif muda itu menuang butiran-butiran coklat pekat ke telapak tangannya dan menyodorkan pada Sun-Hye. Gadis itu segera mengeleng kuat-kuat.

"Tidak! Terimakasih .. ," katanya dengan wajah merah padam. Dia tidak suka coklat dan sekarang perasaan tidak suka itu semakin dalam begitu melihat ketergantungan detektif, yang mestinya bisa diandalkannya ini, pada coklat.

Si-Hwan mengangkat bahu lagi--cuek, kemudian dia memasukkan butiran-butiran coklat tersebut ke mulutnya. Dikunyahnya perlahan sehingga menimbulkan bunyi halus. Tampang Sun-Hye semakin dongkol.

"Apa tidak ada lagi yang anda selidiki?"

Telunjuk Si-Hwan terangkat. "Ada!" katanya seperti mendapat ide. "Saya tahu pengacara tuan Goo, yaitu harabojimu, akan datang hari ini dan mengumumkan isi surat wasiat kakekmu tersebut .. "

"MWO?" Sun-Hye sangat terkejut. "Bagaimana kamu mengetahuinya?"

"Apa kamu tidak tahu?" Si-Hwan balas bertanya.

"Saya tahu .. ," Sun-Hye membela diri.

"Dan anda tidak memberitahukannya padaku?" Si-Hwan berkata dengan nada menyalahkan.

Sun-Hye menjadi risih. "Bu ... bukan begitu. Sa .. saya hanya ... ," wajahnya tertunduk perlahan. "Well,, saya lupa .. "

Si-Hwan mengibaskan tangannya. "Tidak apa-apa. Saya tidak akan menyalahkanmu .. "

Sun-Hye mengangkat wajah, kemudian mendelik. "Tapi, walaupun begitu .. apa masalah ini penting untuk kau ketahui?"

"Tentu saja!" jawab Si-Hwan tegas. Sesaat mereka berpandangan dengan ekspresi keras. Sampai sikap Si-Hwan melunak perlahan. "Sudahlah, lupakan saja .. ," tiba-tiba dia berdiri. "Bisa membantuku mengatur sesuatu?"

"Mwo?" tanya Sun-Hye, masih dengan nada tidak senang.

"Aku ingin bertemu dengan istri kakekmu dan juga putranya .. "

Wajah Sun-Hye berkerut. "Untuk apa?" pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulutnya.

Si-Hwan mengelus-ngelus dagunya. "Ada aja .. "

Tepat pada saat itu, pintu ruang tamu diketuk. Sun-Hye berpaling dengan jengkel.

"SIAPA?!" teriaknya keras.

"Sa .. saya, agashi .. ," terdengar suara Hae menyahut takut-takut dari luar.

"MASUKLAH!!"

Pintu ruangan dibuka. Hae melangkah masuk dengan perlahan-lahan. Dia tidak berani menatap Sun-Hye.

"Sudah kubilang saya tidak ingin diganggu!" sembur Sun-Hye. "Mengapa masih mengangguku? Ada apa?!"

"Miane, agashi .. ," jawab Hae pelan. "Tapi .. tuan Moon sudah tiba dan .. "

Sun-Hye menghembuskan nafas keras-keras sehingga memutuskan perkataan Hae. "Mana yang lain?" tanya Sun-Hye.

"Sudah menunggu di ruang pribadi, agashi .. "

Sun-Hye mengangguk kemudian berpaling pada Si-Hwan.

"Saya tahu .. ," kata Si-Hwan sebelum Sun-hye mengeluarkan suaranya. "Pergilah. Saya akan menunggumu di sini. Tidak akan kemana-mana."

"Bagus .. ," kata Sun-Hye sambil membalikkan badannya.

"Tapi ingat dengan permintaanku tadi .. ," seru Si-Hwan.

Sun-Hye memejamkan matanya tanpa berbalik. "Araso .. "

"Satu lagi .. ," lanjut si detektif. "Nona Hae, mana Dorky?"

Hae tampak tersentak. "Oh, dia .. dia kuberikan pada pak Jung. Apa .. apa tuan menginginkannya sekarang? Saya bisa .. ," wajahnya perlahan-lahan berubah pucat. ".. bisa mengambilkannya buat tuan?"

Si-Hwan mengeleng. "Tidak perlu. Pak Jungmu menyukainya, kan?"

Hae berubah ceria. "Ne ... "

"Kalau begitu biarkan saja begitu .. ," Si-Hwan tersenyum.

Senyuman yang membuat Hae terpaku. Bukan karena apa-apa, tapi karena senyuman itu sangat mirip majikannya yang lain, Lee Min-Chan. Brakkk ... bunyi pintu dihempaskan menghentak Hae. Dia menoleh, ternyata Sun-Hye sudah menghilang dari situ. Dia membungkuk kearah Si-Hwan dan tergesa-gesa mengejar majikan mudanya itu.



***********



Tuan Moon, pemilik—sekaligus pengacara berpengaruh dari badan pengacara Moon & Mine, mengamati secara seksama orang-orang yang duduk mengelilingi meja di ruang pribadi dengan sepasang matanya yang luwes dan waspada. Semua orang tampak tegang. Dan ini terlihat jelas dari sikap duduk dan pandangan mereka. Lirikan-lirikan saling mencurigai antara yang satu dengan yang lainnya terlihat berulangkali. Hanya satu orang yang kelihatan tidak terpengaruh dengan keadaan ini. Tatapan pemuda yang duduk di sofa di hadapannya terarah keluar jendela.

Tuan Moon menghela nafas sejenak. Tugas pembacaan isi surat wasiat ini sebenarnya sudah sangat terlambat. Banyak hal-hal yang menyulitkan penanganan terhadap wasiat yang dipercayakan pemilik Goo Global kepada perusahaannya ini. Saat-saat terakhir sebelum kematian tuan Goo tua, si pemilik tertinggi dari Goo Global ini memang sering merubah surat wasiatnya. Dan ini baru diketahui oleh tuan Moon setelah kematian si Goo tua.

Setelah melakukan pemeriksaan yang berkepanjangan. Dengan mengikutsertakan pengacara-pengacara berpengalaman dari Moon & Mine, akhirnya pihak badan pengacara yang mengurus semua urusan hukum tuan Goo, memutuskan bahwa surat wasiat lama yang berlaku. Sedangkan beberapa surat wasiat yang dibuat tuan Goo sesudahnya dinyatakan tidak sah karena tidak sesuai dengan ketentuan hukum. Tuan Moon cukup heran dengan kenyataan ini. Sepengetahuannya, tuan Goo tua bukan orang yang ceroboh dalam mengurus kepentingan harta kekayaannya. Beliau selalu memperhatikan dengan seksama semua yang berhubungan dengan pembagian hartanya setelah dia meninggal nanti. Mungkin si tua bangka itu kembali lagi ke masa kanak-kanak. Ingin mempermainkan anggota keluarganya yang mungkin akhir-akhir ini sangat mengecewakannya. Akhirnya tuan Moon berpendapat demikian.

Tuan Moon berdeham dan asisten pribadinya, pria muda berkacamata tebal yang kelihatan agak gugup, segera menyerahkan arsip dalam map cokelat tua di tangannya. Tuan Moon membuka map tersebut dengan tenang. Kemudian mulai menyelusuri setiap perkataan yang sudah dihapalnya di luar kepala dengan pandangannya, untuk kemudian mengamati para penghuni rumah lagi.

“Begini nyonya Goo, tuan muda Lee dan nona-nona sekalian. Pertama-tama saya ingin meminta maaf atas keterlambatan pemberitahuan isi surat wasiat ini. Seperti yang pernah saya katakan bahwa ada hal-hal lain yang harus kami periksa terlebih dahulu .. ,” tuan Moon berhenti sejenak.

Semua mengamatinya dengan penuh perhatian. Alis tuan Moon berkerut perlahan. Sikap pemuda yang duduk tepat di hadapannya tidak berubah. Dia tidak meliriknya sedikitpun. Sepasang mata yang tajam itu tetap tertuju ke arah jendela. Tuan Moon menarik nafas dalam-dalam. Dia merasa agak terganggu juga dengan sikap pemuda ini. Mengapa dia terlihat tidak peduli sama sekali?

“Untuk pembayaran yang tidak perlu, seperti pembayaran kecil kepada para pembantu, dan juga sumbangan-sumbangan ke yayasan-yayasan sosial, saya rasa tidak perlu dijelaskan dengan panjang lebar. Selain pengeluaran-pengeluaran tersebut, masih tersisa Goo Global dan semua kekayaannya, baik dalam bentuk tunai, saham maupun asset-asset berharga lainnya, misalnya hotel-hotel, merek-merek fashion-elektronik-makanan dan lain-lain, juga supermarket-supermarket, gedung-gedung, apartemen-apartemen, rumah sakit-rumah sakit, sekolah-sekolah dan masih banyak lagi. Yang saya yakin kalau dihitung, jumlahnya pasti memukau hadirin sekalian. Kemudian masih ada Goo’s mansion, dan beberapa apartemen pribadi di luar negeri, seperti New York, Paris, Tokyo, dan Sydney.” Tuan Moon mengambil nafas, kemudian melanjutkan perkataannya yang tertunda. “Nyonya Goo akan mendapat tunjangan sebesar US$10.000 setiap bulannya. Dan ini akan diberikan seumur hidup selama nyonya Goo tetap menjanda.” Tuan Moon berhenti lagi dan memperhatikan reaksi dari mereka. Hening. Tidak ada yang berkomentar atau merasa keberatan dengan ketentuan yang satu ini.

Tuan Moon menegakkan badannya kemudian melanjutkan. “Sedangkan Yoon Eun-Hye ssi, tidak jauh berbeda dengan nyonya Goo, hanya saja .. ,” tuan Moon sengaja mengulur perkataannya. Dan benar saja, Eun-Hye langsung meliriknya dengan pandangan menyelidik.

“Hanya apa?” tanyanya dengan nada tajam.

“Ada sedikit perbedaan, Eun-Hye ssi .. ,” kata tuan Moon. “Tunjangan yang diberikan pada anda hanya berhubungan dengan kuliah kedokteran yang anda ambil. Tuan Goo akan menanggung semua biaya kuliah anda sampai selesai. Tapi setelah itu, anda diharapkan bisa mandiri sendiri .. “

“MWO?!” Eun-Hye melompat dari duduknya. “Maksudmu si tua bangka itu tidak bersedia menunjang hidupku?”

“Tidak. Hanya sebatas pendidikan. Itu saja.” Jawab tuan Moon tegas.

Tangan Eun-Hye terkepal. Dadanya naik turun karena menahan gejolak perasaannya yang memburu. Tidak mengira usahaku selama ini sia-sia. SIA-SIA SAJA!!” teriaknya dalam hati.

“Omong Kosong!!” dia mengeleng. “Tidak mungkin. Ini tidak adil!”

“Duduklah dulu nona.” Tuan Moon berusaha menenangkannya. “Dengarkan dulu detail-detail yang belum selesai kubacakan.”

Eun-Hye mengerling tajam ke semua orang yang mengelilingi ruangan itu. Seakan bermaksud menelan mereka bulat-bulat. Sinar matanya penuh amarah. Dia berpaling menghadap tuan Moon lagi. Sinar mata menenangkan itu akhirnya membuatnya menjatuhkan diri kembali ke sofa. Tangannya masih terkepal erat.

“Bagus.” Kata tuan Moon sambil tersenyum. Diliriknya sekilas map file di tangannya, lalu berkata lagi. “Untuk kekayaan yang lain—setelah dikurangi pembagian-pembagian yang telah kukatakan tadi, seluruhnya, tanpa terkecuali, diberikan kepada cucu perempuan satu-satunya, Goo Sun-Hye, dengan semua kepengurusan akan diwakili oleh tuan Lee Min-Chan sampai Sun-Hye ssi berumur 21 tahun. Min-Chan ssi dipercayakan mengurus Goo Global sampai Sun-Hye ssi cukup umur untuk menanganinya. Dan Min-Chan ssi hanya akan mendapat keberuntungan dari laba perusahaan selama kepengurusannya itu. Jika tidak—rugi misalnya, dia tidak akan mendapat apa-apa.”

“MWO?!” sekarang nyonya Goo yang tersentak dari posisinya. “Chan tidak mendapat apa-apa? Ti .. tidak mungkin!”

“Ini isi surat wasiat almarhum yang saya bacakan, nyonya .. ,” kata tuan Moon dengan nada tersinggung.

“Bukan itu maksud perkataanku, tuan Moon. Hanya saja .. hanya saja .. Chan, dia .. dia .. “

Drekkk!! Terdengar bunyi kaki sofa tergeser dari tempatnya. Semua berpaling. Min-Chan sudah berdiri dengan posisi tangan terselip di saku celana.

“Bagaimana jika saya menolaknya?” tanya pemuda itu dingin.

Suaranya mengiris kalbu. Sun-Hye menghela nafasnya berat. Kelihatannya keadaan semakin tak terkendali. Jika boleh memilih, dia ingin melepas semua yang menjadi haknya saat ini agar keharmonisan keluarganya bisa terbina kembali.

“Jika anda tidak mau menerima keputusan tersebut, maka .. terpaksa nona Sun-Hye yang akan menerima tanggungjawab ini.”

Merasa namanya disebut, Sun-Hye mengangkat wajahnya. Di saat bersamaan dia mendapat tatapan yang tak tertafsirkan dari Min-Chan.

Perkataan-perkataan tuan Moon masih bersahut-sahutan di gendang telinga Sun-Hye kala itu.

“Walaupun dia belum cukup umur, tapi jika ditemani pengacara, saya rasa tidak masalah.”

“CUKUP!” potong Min-Chan. “Saya menerimanya.”

“Chan-a!” seru nyonya Goo tak percaya.

“Apa salahnya?” pemuda itu mengangkat bahu kemudian menghempaskan diri kembali ke sofa. “Terima atau tidak, sama saja kan?”

Tidak ada yang berkomentar lagi. Tuan Moon melanjutkan pemberitahuan mengenai beberapa hal kecil yang tidak berarti kemudian menutup map file di tangannya. Dia menunggu sebentar. Setelah tidak mendapatkan tanggapan apa-apa dari para ahli waris dalam surat wasiat di tangannya, dia mengangguk sedikit, dan berlalu dari ruangan itu. Diikuti oleh si asisten berkacamata.

Kekakuan mulai tercipta dalam ruang pribadi yang terhias apik tersebut. Tidak ada yang bergerak terlebih dahulu. Lima menit berlalu dan Eun-Hye mula-mula yang berdiri dari tempatnya. Dengan langkah lebar dia menuju ke pintu. Nyonya Goo mengikutinya kemudian. Begitu juga Min-Chan.

Tergesa-gesa Sun-Hye mengejar mereka.

“Halmonie, bisa ikut denganku ke suatu tempat?” tanyanya salah tingkah.

Min-Chan berhenti di sebelah ommanya. Setelah melirik sekilas, dia melangkahkan kaki ke arah pintu.

“Kamu juga, paman Chan!” seru Sun-Hye sebelum sosok jangkung itu berlalu dari situ.

Min-Chan berbalik. Wajahnya berkerut perlahan. Tapi seperti biasa, dia tidak menyahut perkataan Sun-Hye.

“Ada yang ingin kutunjukkan.” Sun-Hye mengeleng. “Tidak. Maksudku, ada orang yang ingin bertemu kalian.”

Sun-Hye menatap nyonya Goo dan Min-Chan, yang dibalas pandangan tajam dari mereka. Kemudian dia bergerak perlahan. “Ikuti saya .. “

Min-Chan mengerakkan badannya sedikit dan berniat berjalan kearah berlawanan tapi segera ditarik kembali oleh nyonya Goo.

“Kita lihat siapa yang ingin dipertemukan Sun-Hye kepada kita .. ,” bisiknya halus di telinga Min-Chan.

Pemuda itu berdeham pelan. Nyonya Goo sudah bergerak dari situ. Mau tak mau, dia mengikuti langkah kedua wanita tersebut.



***********



Si-Hwan membalikkan badan ketika pintu ruang tamu dibuka. Dua orang wanita tampak sedang bercakap-cakap seru sedang memasuki ruangan. Agak jauh di belakang—seorang pria jangkung mengikuti mereka dengan tampang datar. Salah seorang dari wanita tersebut—wanita setengah baya yang berada di sebelah kanan tercekat. Langkahnya terhenti tepat di tengah ruangan, di depan Si-Hwan.

“Ka .. kamu .. ,” telunjuknya bergetar ketika menunjuk ke depan. Begitu juga bibirnya. Sinar matanya mengambarkan ketidakpercayaan yang begitu besar. “Ba .. bagai .. mana mungkin .. “

Si-Hwan tersenyum. Dengan langkah mantap, dia mendekati nyonya Goo. Min-Chan sudah berdiri di belakang mereka sekarang. Kepalanya agak dimiringkan ketika melihat reaksi yang terjadi pada ommanya. Tapi seperti biasa, dia tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Sedangkan Sun-Hye, melirik kedua orang ini silih berganti dengan alis yang dikerutkan dalam-dalam. Semakin penasaran dengan hubungan mereka. Sepertinya kedua orang ini saling mengenal. Dia juga berpaling pada Min-Chan. Pemuda itu sikapnya tetap kaku. Sama sekali tidak terpengaruh dengan sikap nyonya Goo. Mungkin hanya sedikit .. hmm—heran tersirat di wajahnya. Dan itu juga sangat samar. Sun-Hye mendesah. Sulit sekali membaca pikiran pemuda yang satu ini.

Si-Hwan sampai di depan nyonya Goo yang masih dalam keterkejutan luar biasa.

“Ti .. tidak mungkin … Bagai .. bagaimana bisa berada .. di .. di sini? .. Tidak mungkin … saya .. saya pasti bermimpi … “

“Omma!” sapaan yang cukup keras itu mengetarkan seisi ruangan—mengejutkan semua orang yang berdiri tegak dengan posisi tegang di tengah ruangan.

Mata Sun-Hye terbelalak, “Omma?” dia berharap telah salah dengar.

Tubuh Min-Chan agak bergerak sedikit. Sun-Hye berpaling padanya. Tapi tampang kaku itu tidak mengisyaratkan apapun.

Yang paling terguncang adalah nyonya Goo. Tubuhnya hampir ambruk ke depan jika saja Si-Hwan tidak segera menahan berat badannya dan begitu juga Min-Chan yang tidak segera menariknya ke belakang. Kedua pemuda dengan wajah serupa itu saling menatap secara bersamaan. Tangan mereka masih berada di lengan kanan dan kiri nyonya Goo. Wanita malang itu terhimpit di tengah-tengah dua postur raksasa ini. Entah atmosfir apa yang sekarang menguasai ruang tamu tersebut. Sun-Hye menyusut perlahan dari posisinya.


OOOOOOOO



_________________


♥️ "Everywhere ★ we learn ★ only from ★ those whom ★ we love" ♥️
avatar
DragonFlower

Posts : 94
Join date : 2013-06-17
Location : | Trapped in CNBLUE Dorm |

View user profile

Back to top Go down

The Sounds of Death--Chapter Three

Post by DragonFlower on Mon Jul 15, 2013 4:20 am




The Sounds of Death--
CHAPTER THREE

By Lovelyn Ian Wong





Nyonya Goo mengangkat sepasang tangannya yang bergetar, kemudian mengelus perlahan-lahan wajah Si-Hwan. Masih sulit untuk dipercaya bahwa putra sulungnya sekarang sedang berdiri di hadapannya dan membalas tatapannya senyum lembut terpancar di wajahnya. Wanita paruh baya itu terisak perlahan, .. setelah sekian lama dia mencari, dengan mengupayakan berbagai cara, .. akhirnya Tuhan mengabulkan permintaannya jua.

"Kemarilah, Chan-a .. ," kata wanita itu sembari menarik tangan pemuda di belakangnya. "Kenalan dengan hyungmu ... "

"Hyung?!" Suara dari belakang terdengar datar dan tak menyiratkan perasaan apa-apa.

Sun-Hye segera mengangkat kepalanya. Lalu perhatiannya dialihkan dari pemuda yang satu ke pemuda yang lainnya, kemudian sebaliknya, begitu silih berganti. Mereka benar-benar mirip .. , desisnya dalam hati.

"Ne!--hyung .. ," sahut Nyonya Goo beberapa saat kemudian, seraya menghapus airmatanya dengan punggung tangan. "Ini hyungmu--Lee Si-Hwan ... "

Min-Chan perlahan mengalihkan pandangannya pada Si-Hwan. "Sejak kapan saya punya saudara?" tanyanya dengan suara bariton yang sangat kental.

"Kau memang punya saudara!" Si-Hwan yang menjawabnya. Dia tersenyum tapi tidak dibalas dongsengnya yang terlihat tidak tertarik itu. "Hanya kau tidak tahu saja!" lanjut Si-Hwan kemudian, seraya mengembalikan ekspresinya ke posisi wajar.

"Miane ... ," sesal Nyonya Goo. Dia berbalik menghadapi Min-Chan, suaranya terdengar menyayat ketika melanjutkan, "Miane karena omma tidak pernah menceritakannya padamu, sayang .. ," katanya sambil mengenggam erat-erat tangan putra bungsunya itu. "Setelah perceraian omma dan aboji kalian, Omma diharuskan memilih salah seorang dari kalian .. Dan selama 23 tahun ini, omma tidak pernah berpikir akan bertemu kembali dengan orang-orang dari keluarga Lee, apalagi dengan hyungmu .. karena itu--omma tidak merasa perlu untuk menceritakannya padamu .. miane ... "

Nyonya Goo menundukan kepalanya dan kembali menangis tersedu-sedu. Min-Chan perlahan melepaskan genggaman wanita itu dari tangannya, kemudian mundur selangkah. Diamatinya wanita itu selama sekian lama, .. tidak ada seorangpun yang bereaksi dalam ruangan itu. Min-Chan tidak mengerti, mengapa wanita yang dipanggilnya omma ini selalu begitu, .. selalu mengambil keputusan sepihak buat dirinya. Apakah dia pernah mengerti, atau coba merenung sebentar saja, .. apa yang sebenarnya diinginkannya? Tidak! Min-Chan tahu tidak mungkin, .. karena beginilah ommanya.

Min-Chan melirik pria berwajah serupa di depannya, hanya sekilas, kemudian berbalik kembali pada Nyonnya Goo. Dia terlihat menghela nafas. Lalu, sebentar saja .. dia berbalik dan berjalan kearah pintu.

“Chan-a .. ,” panggil Nyonya Goo.

Tapi Min-Chan tak menghiraukannya. Pemuda itu terus saja melangkah, sampai di depan pintu, kemudian membukannya. Dia melangkah keluar dengan langkah tegap, tidak terlihat keraguan sedikitpun.

“Chan!!!”

Bukk, pintu ditutup Min-Chan.

Nyonya Goo menutup mata dengan sepasang tangan. Dia kembali menangis, .. pundaknya terguncang-guncang akibat letupan perasaannya kala itu. “Miane .. miane .. ,” ucap wanita itu berkali-kali, sambil mengeleng-gelengkan kepalanya. “Omma .. tidak bermaksud begitu, Chan-a .. jeongmal miane .. “

Sebuah tangan kekar didaratkan di pundaknya kemudian menepuknya pelan. Nyonya Goo menoleh dengan lambat-lambat. “Jangan terlalu sedih, omma .. ,” hibur Si-Hwan yang sudah berada di sebelahnya. Pemuda itu tersenyum, seraya menghapus airmata dari sepasang pipinya. “Suatu saat Chan akan menyadari pengorbanan omma .. “

Nyonya Goo kembali mengelengkan kepalanya. Isak tangis masih terdengar deras dari mulutnya. “Tidak. Kau tidak mengerti, sayang …. Chan ikut dengan omma adalah sebuah kesalahan … Kau tidak akan pernah tahu, atau membayangkan bagaimana kehidupannya selama ini .. Omma salah .. “

“Saya mengetahui banyak hal .. ,” sela Si-Hwan.

“Tidak!” Nyonya Goo kembali membantah. “Omma tidak tahu apa yang kau ketahui tapi, .. kau bukan hidup dalam lingkungan itu .. Apa yang dialami Chan, selamanya, kau—dan aku, tidak akan pernah memahaminya … Kehidupannya terlalu keras .. Pengorbanannya sia-sia .. Kau tahu tidak? Seharusnya saat ini, dia sudah merupakan seorang pengacara handal .. tapi nasib berkata lain .. Dia harus mendekam di sini dengan cita-cita dan keahlian yang terpendam. Omma sudah berusaha membantunya, namun tetap saja tidak berhasil … “ Wanita itu menunduk, .. dia terlihat rapuh.

Si-Hwan mendengarkan dengan seksama, .. sampai pada akhir cerita, diraihnya tubuh kurus wanita itu ke dalam pelukannya.

“Semua sudah berakhir .. ,” desisnya pelan di sela-sela telinga Nyonya Goo. “Aku akan selalu berada di sisi omma, dan juga Chan, mulai detik ini .. “

Nyonnya Goo mengangkat wajahnya, .. dan ada gurat kekhawatiran tersirat dari wajah itu. “Tapi .. appamu .. “

Si-Hwan segera menyela dengan senyuman manisnya. “Itu tidak masalah .. Appa bukan orang yang kolot, .. lagipula, kami hidup terpisah. Beliau sudah mempunyai keluarga sendiri .. “

“O ya?” Mata Nyonya membulat.

Si-Hwan mengangguk. “Ne … “

“Dia .. dia tetap baik padamu, kan?” tanya Nyonya Goo lebih lanjut.

“Tentu saja .. “ Si-Hwan terkekeh pelan. “Hubungan kami baik-baik saja. Bahkan sangat baik. Bibi Jin sangat menyayangiku .. “

“O—“ Nyonya Goo membuka mulut lebar-lebar, kemudian mengangguk lega. “Syukurlah kalau begitu .. “

Sementara itu, .. Sun-Hye mengikuti adegan-adegan dalam ruangan itu seakan menyaksikan pentas drama. Matanya berair ketika Nyonya Goo menangis, .. pandangannya teralih seiring kepergian Min-Chan, begitupun hatinya—tersenyum begitu ibu dan anak ini saling berbagi kejadian-kejadian di masa lalu.

“Gentwee, .. kenapa kau bisa sampai berada di sini?” pertanyaan Nyonya Goo terdengar beberapa saat kemudian.

“Itu—“ Si-Hwan terlihat melirik Sun-Hye. Lalu tiba-tiba tangannya terjulur dan ditariknya lengan wanita muda itu sampai berdiri di depannya, “Ada perlu dengan pacarku!” lanjutnya sambil nyengir lebar dengan telunjuk yang diarahkan ke kepala Sun-Hye.

Gubrak! Dunia Sun-Hye seakan runtuh saat itu juga. Bagaimana mungkin detektif gadungan ini mengakui dia sebagai pacarnya—begitu saja?!! Sun-Hye segera berpaling dengan pandangan mendelik. Namun, sebelum umpatan-umpatannya dilancarkan, si pemuda sudah melanjutkan perkataannya kembali. Kali ini sangat pelan dan merapat di daun telinganya, sehingga hanya terdengar oleh Sun-Hye seorang.

“Kau tidak mau rencana yang telah disusun, hancur berantakan kan?”

Sun-Hye memejamkan mata rapat-rapat. “Tapi kau juga tidak perlu pakai cara ini?” balasnya dengan nada tidak kalah pelannya. “Bagaimana kalau halmonie sampai menganggap beneran?”

“Benarkah?!” Suara histeris Nyonya Goo terdengar, .. sehingga menghentikan perdebatan berupa bisik-bisikan dari dua dua muda-mudi di depan yang segera berpaling padanya. “Sungguh kalian pacaran?” tanya wanita paruh baya itu. Boleh dikatakan dia lebih terlihat bahagia bercampur kaget daripada tidak senang. “Sejak kapan?” lalu pandangan Nyonya Goo beralih dari Si-Hwan ke Sun-Hye. “Bukankah kau masih berpacaran dengan Geun-Suk, Sunhye-a?”

“Itu—“ Sun-Hye kelihatan serba salah mendapat pertanyaan seperti itu. Untung saja Si-Hwan segera menyahutnya.

“Sun-Hye sudah putus dari pemuda itu kok. Kami bersama juga belum lama, .. baru sekitar setengah bulan, .. Benar kan, Sunhye-a?”

Sun-Hye nyengir paksa. “Eh-he he .. Ne .. “ Kemudian volume suaranya diturunkan sampai ke batas yang tak mungkin terdengar oleh Nyonya Goo. “Jangan keterlaluan!”

Si-Hwan mengangkat bahu cuek. Namun di wajahnya tersungging senyum puas.

“Bagus kalau begitu!” sahut Nyonya Goo tiba-tiba. “Dulu halmonie berharap Chan yang menjadi pendampingmu, Sunhye-a. Namun, karena kalian paman dan keponakan tiri resmi maka itu tidak mungkin. Hwan lain—dia tidak terdaftar resmi dalam keluarga ini, dan juga—keberadaannya sebagai bagian dari keluarga Goo tidak diketahui. Halmonie rasa hubungan ini tidak akan menimbulkan skandal .. “ Nyonya Goo lalu meraih tangan Sun-Hye. “Sudah halmonie bilang kan, si Geun-Suk itu bukan pemuda baik-baik. Dia tidak cocok buatmu .. “

“Eh—“ Diperlakukan begitu, Sun-Hye jadi risih setengah mati. Seolah kebohongan yang sudah di-‘iyakan’ olehnya telah mendatangkan dosa besar. Melihat kebahagiaan wanita ini, membuat hatinya jadi asem. “Halmonie .. “ Dia bermaksud berujar ketika pintu ruangan itu dibuka secara tiba-tiba.

Brakk, Hae menghambur masuk dengan wajah pucat.

“AGASHI!!”

ooOOOoo



"Goo Sun Hye!!! Saya tahu kau di dalam, keluarlah!! Jangan menghindariku terus!!"

Teriakan-teriakan dari teras luar memasuki telinga Sun-Hye begitu menuruni anak tangga.

"Goo Sun Hye!!!"

Tangan Sun-Hye terkepal. Dengan langkah lebar-lebar, dan agak berlari, dia menyeberangi ruang tamu yang berseberangan dengan dapur, melalui lorong tengah menuju pintu depan. Beberapa pelayan yang sedang saling menyahut dengan berisik di situ, segera menghentikan suaranya dan memberi salam pada Sun-Hye.

"Agashi .. " Mereka membungkuk dengan hormat.

Sun-Hye tidak membalas salam itu, .. setelah sampai di depan pintu, segera diraihnya gagang yang terbuat dari perunggu murni itu dan membukanya. Sesosok tubuh mungil tampak terkatung-katung mengikuti dari belakang. Si Hae, pelayan pribadi Sun-Hye terengah-engah begitu menghentikan langkah di dekat majikannya.

"Goo Sun Hye!!"

Seorang pemuda, yang tidak lain Geun-suk adanya, segera meraih tubuh Sun-Hye ke dalam pelukannya.

"Aku tahu kau masih perduli padaku .. ," ujarnya sambil tersenyum lebar.

Sun-Hye mendesis dan segera menjauhkan diri dari pemuda itu.

"Untuk apa kau kemari?" tanyanya tajam.

"Hey--kenapa?" tukas Geun-Suk heran. "Tentu saja karna aku merindukanmu! Kau juga merindukanku, kan?"

Raut Sun-Hye berubah kesal mendengar perkataan Geun-Suk. Tatapan pemuda itu sekarang menimbulkan rasa muak dalam hatinya, .. entah kenapa. Sambil membalikan badan, Sun-Hye kemudian berujar pelan.

"Kita bicara di dalam saja ... "

Geun-Suk terlihat mengangkat pundaknya. "Okay, ... no problem .. "


ooOOOoo



Sun-Hye membuka mulut hendak menjerit begitu sepasang tangan tiba-tiba merangkul pinggangnya. Saat itu, dia dan Geun-Suk sudah memasuki ruang tamu kecil di lantai bawah yang dihubungkan langsung dengan ruang tamu besar. Dan Hae sudah tidak bersama mereka.

Geun-Suk tertawa.

"Kena kau!!" seru pemuda itu, sambil memeluknya erat-erat.

"Kau menyebalkan!!" jerit Sun-Hye.

Dia memukuli dada Geun-Suk dengan marah. "Kau gila!! Kau benar-benar gila!!! Untuk apa kemari?!!"

"Hey--tenang!" protes Geun-Suk. "Saya cuma bergurau--ok?"

"Bergurau?" Sun-Hye mendelik. "Sudah kubilang bahwa aku tidak ingin bertemu denganmu lagi--apa kau pikun?!!"

"Sun-Hye, tenang!"

"Lepaskan!!" Sun-Hye berjuang melepaskan diri dari rangkulan Geun-Suk. "Lepaskan aku!!"

Geun-Suk melepaskan pelukannya, dan mundur selangkah. "Ada apa denganmu? Selama sebulan ini kau selalu menghindariku. Sikapmu seakan kau tidak menginginkan ku di sini .. "

"Memang!!" sembur Sun-Hye sengit.

"Mwo?"

"Kau seharusnya tidak berada di sini. Di malam tragis itu juga--seharusnya kau tidak berada di sini!! Aku memang sengaja tidak mengundangmu. Kenapa kau mesti muncul di Goo's mansion?"

"Saya tidak mengerti apa yang kau katakan!"

Wajah Geun-Suk berubah tegang saat menatap Sun-Hye. Dan Sun-Hye pernah menyaksikan ekspresi Geun-Suk seperti ini. Tepat sebelum amarahnya meledak. Sun-Hye memberanikan diri dan mengawasi reaksi Geun-Suk.

"Apa salahku?" tanya pemuda itu.

"Tidak ada!" sahut Sun-Hye akhirnya. Dia mengeleng, "Cuma .. ," dan dia berhenti. Dia tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan.
Tapi dia tahu harus memberitahu Geun-Suk. "Dengar, aku tidak mengundangmu karena aku tidak ingin bertemu denganmu. Kurasa, aku tidak ingin bertemu denganmu lagi .. "

"Hah?!" Geun-Suk maju selangkah mendekati Sun-Hye.

Sun-Hye mundur. "Kau .., mau apa?" tanyanya gugup.

"Kenapa, Sunhye-a?" tanya Geun-Suk. Dia mencibir. "Takut?"

"Ti .. tidak. Aku tidak takut!" sahut Sun-Hye sambil mundur selangkah lagi.

Sun-Hye beringsut-ingsut menjauhi Geun-Suk.

ooOOOoo


Sun-Hye keluar dari pintu kaca yang dihubungkan langsung ke taman belakang beberapa saat kemudian. Sendirian, tanpa ditemani Hae. Pikirannya masih melayang kala menjejakan kaki di jalan kerikil yang berkelok di sepanjang taman itu.

Sun-Hye meremas tangannya yang bergetar. Kejadian beberapa saat lalu, masih bermain-main dalam pikirannya, .. dan mengoncang jiwanya. Tidak disangka, Geunsuk akan sebegitu beringas--hampir memperkosanya. Mengingat ini, membuat Sun-Hye mengigit bibir lemas.

Tiba-tiba kehadiran sesosok jangkung dekat air mancur menyita perhatiannya. Sun-Hye mengeryitkan alis perlahan. Siapakah pemuda itu? Detektif gadungan Si-Hwan, ataukah paman Chan-nya? Lalu matanya melebar begitu mengingat perbedaan cara berpakaian kedua pemuda itu, .. yang untuk sementara waktu dapat digunakan untuk membedakan keduanya.

Perlahan Sun-Hye menghampiri sosok jangkung tersebut. "Paman Chan .. ," sapanya pelan.

Min-Chan yang berjalan dengan kepala tertunduk, mengangkat kepalanya. Langkahnya tercekat seketika, begitu melihat siapa yang berdiri di hadapannya saat ini.

"Gumawo buat ... buat pertolongan tadi .. ," lanjut Sun-Hye lirih. Dan tanpa dapat ditahan lagi, airmatanya tumpah begitu saja.

Min-Chan terlihat agak terperangah, .. tapi dia tidak tahu harus berbuat apa, .. bahkan untuk bergerak sekalipun, .. apalagi mengeluarkan suaranya. Pemuda bertampang kaku itu membisu sampai Sun-Hye berhasil menguasai emosinya.

"A .. agak baikan?" tanya Min-Chan kemudian, .. kaku dan risih.

"Ne ..," sahut Sun-Hye, .. masih dengan isakan-isakan halus dari bibirnya. "Gumawo .. "

"Emm--" Hanya itu yang keluar dari mulut Min-Chan menanggapi ucapan terimakasih dari Sun-Hye. Sikapnya terlihat tidak wajar, .. mungkin karena berdiri terlalu dekat dengan gadis itu. Sepasang tangannya yang sejak tadi terselip dalam saku celana, dikeluarkannya .., kemudian menyisir pelan poni tebal warna coklat pekat yang menjuntai hampir menutupi matanya. Dan untuk kedua kalinya pula Sun-Hye dapat melihat jelas bekas goresan yang memanjang di situ. Mata gadis itu menyipit perlahan.

"I .. " Sun-Hye bermaksud mengeluarkan suara, tapi segera terputus oleh gerakan kepala dari pemuda itu.

Min-Chan menoleh ke dalam rumah. "Masuk ke dalam ..., waktunya afternoon tea .. ," katanya sembari membalikan badannya.

Sun-Hye meruncingkan bibir ke depan. Pemuda ini selalu susah diajak bicara!! Dari empat bulan yang lalu, selalu begitu!! Sun-Hye membuka mulut buat protes, tapi salakan dari belakang segera menghentikannya.

Guk ... Guk .. Guk .. , seekor anjing jenis Chihuahua meloncat keluar dari semak-semak, .. dan berlari kearah mereka.

Sun-Hye melebarkan matanya, .. sebelum menyadari apa yang terjadi, tiba-tiba pundaknya dicengkram seseorang.

"Yaaa--Yaaa--kenapa ada anjing di sini??!!!"

Sun-Hye menoleh, .. dan alangkah terkejutnya begitu mendapati pemilik sepasang tangan kekar itu ternyata Min-Chan adanya.

"Yaishh--singkirkan dia dari sini?!!!" teriak Min-Chan dengan wajah memucat. Telunjuknya tidak henti-hentinya ditujukan pada anjing kecil yang sedang meloncat-loncat girang di depan mereka, .. sementara tangan yang satunya lagi menekan erat pundak Sun-Hye.

"Woaaa--Goo Sun Hye!!!" jerit Min-Chan begitu dilihatnya Chihuahua kecil itu bermaksud menerkam ke arah mereka. Masih mengunakan tubuh Sun-Hye sebagai tameng, pemuda itu bergerak ke kanan dan kiri dengan ekspresi horor. Kelihatan jelas, dia sangat ketakutan.

"Goo Sun Hye!!! Singkirkan anjing itu!!! Paliiiii!!!"

"Saya?" Sun-Hye ikut berseru ngeri.

"Ne!! Palii!!" jerit Min-Chan.

"Ta .. tapi ... ," Sun-Hye mengelengkan kepalanya. Dengan paksa, dia menyusut ke belakang, .. sehingga posisi Min-Chan makin terpojok.

"Yaa!!" protes Min-Chan.

Tapi Sun-Hye tidak memperdulikannya. Dia menatap anjing kecil itu dengan pandangan memelas. Sungguh--dia juga bukan pengemar anjing. Dia tidak termasuk dalam orang-orang yang takut anjing, tapi dia tidak menyukai mereka. Dia oke oke saja berhadapan dengan anjing-anjing tersebut, asal jangan diminta menyentuh mereka. Bulu-bulu halus tersebut akan membuatnya alergi.

Sejak kecil Sun-Hye paling benci yang namanya alergi. Bukan hanya sekujur tubuh yang akan tumbuh bintik-bintik merah dan gatal, .. lebih parah dari itu, mungkin akan bengkak-bengkak sampai mati rasa. Dan itu sangat menderita.

"GOO SUN HYEEE!!!" seruan Min-Chan menghentaknya.

"Dhe?"

"Dia kemari!!!" tunjuk Min-Chan ketakutan. Wajahnya sudah seputih kapas. "Pali!!! Usir diaaa!!!" ujarnya sembari mendorong gadis itu.

"Ta .. tapi ... " Bantahan Sun-Hye terputus begitu dilihatnya Min-Chan sudah hampir pingsan. Gadis itu mengigit bibirnya, lalu berbalik sambil mengambil tekad. "Mati, .. ya mati deh!!" ucapnya bulat sembari menutup mata rapat-rapat.

Sun-Hye menerjang ke depan dan menyambar tubuh binatang kecil di hadapannya dari tanah. Makhluk malang itu meronta-ronta sambil menyalak-nyalak keras.

"YAAAAA--!!!" jerit Sun-Hye sambil menjulurkan tangan sepanjang-panjangnya. Tubuh mungil dalam genggamannya meronta semakin keras. Kaki kecilnya menyepak-nyepak. "Akh!!! .. Tolong!!!"

"Ada apa?" Suara bariton yang memiliki persamaan dengan suara Min-Chan terdengar bertanya. Si-Hwan hadir di antara mereka melalui kerimbunan tanaman rambat yang banyak tumbuh melalui kerimbunan tanaman mawar yang tumbuh menutupi jalan masuk ke mansion. Alisnya berkerut melihat anjing mungil dalam cengkraman Sun-Hye. "Dorky?" Dia mendekati gadis yang sedang mengeryit dalam-dalam itu. "Kenapa ada di sini?"

Sun-Hye membuka mulut, bermaksud menjawab, .. tapi terbungkam oleh seruan keras dari belakang Si-Hwan.

"Oh--ternyata kau berada di situ!"

Seorang pria bertopi anyaman yang sudah kumal dan teramat ceking keluar dari balik rimbunan semak-semak dengan tergopoh-gopoh. Sebuah pacul kecil tampak tergenggam di tangannya.

"Agashi?" Pria itu sedikit tercekat, .. lalu perlahan-lahan, dia membungkukan badannya. "Sosoengheyo, .. tadi kutinggal sebentar untuk mengambil pupuk tanaman, ... tidak disangka anjing kecil itu keluar sendiri dari taman .. ," katanya sambil menunjuk Dorky yang masih dalam pegangan Sun-Hye.

Sun-Hye mengeleng. "Tidak apa, Pak Jung. Di sini tidak ada urusanmu lagi, .. kau kembalilah ke pekerjaanmu .. "

"Ne!" Pak Jung membungkuk dalam-dalam, seraya berlalu dengan sesekali melirik ke arah Si-Hwan dan Min-Chan--penuh tanya. Dia mengucek sepasang mata tuanya berkali-kali. "Sepertinya aku harus memeriksakan mata .. ," desisnya halus. Bagaimana mungkin dia seakan melihat dua Min-Chan di situ?

"Dorky .. "

Sun-Hye merasa ada seseorang menyentuh tangannya. Ketika berbalik, dia melihat Si-Hwan sudah meraih Dorky dari tangannya. Segera saja dia melepas pegangan dari tubuh mungil berbulu halus itu, .. menyerahkan pada majikannya.

"Ada apa?" Saat itu juga Nyonya Goo menghampiri mereka. Matanya terbelalak ketika melihat Dorky. "Kenapa ada anjing di sini?!! Para pembantu itu--kemana mereka?!! Kenapa membiarkan seekor anjing berkeliaran di sini?!!! Kerja mereka semakin tidak becus!!!" teriak wanita itu murka.

Sun-Hye melebarkan matanya. Untuk pertama kali selama mengenal Nyonya Goo, dia melihatnya semarah itu.

"Ini anjingku, omma .. ," tukas Si-Hwan dengan senyum lebarnya.

Masih bisa tersenyum? rutuk Sun-Hye.

"Lain kali, jangan bawa anjing berbentuk apapun kemari!!" ujar sebuah suara, .. dingin dan menusuk.

Semua orang mengalihkan pandangan. Ternyata Min-Chan belum berlalu dari tempatnya. "Aku tidak ingin melihatnya lagi!!"

Dua pasang mata, antara Min-Chan dan Si-Hwan, saling beradu selama beberapa detik. Atmosfir membekukan serasa mengigit tulang Sun-Hye. Dia melihat Min-Chan mulai bergerak, ... perlahan memutar tubuh jangkungnya, .. kemudian berjalan dengan langkah satu-satu, meninggalkan mereka.

"Chan-a!!" Panggil Nyonya Goo. Tapi seruannya yang memprihatinkan tidak dianggap pemuda itu. Min-Chan tidak berhenti, menolehpun tidak. Sosoknya semakin jauh, dan akhirnya menghilang di balik pohon.

"Ada apa dengannya?" gerutu Si-Hwan. Tangannya mengelus kepala Dorky. Anjing mungil itu dengan gerakan malas-malasan menyusupkan kepalanya ke dada Si-Hwan kemudian memejamkan mata.

"Jangan menyalahkannya, Hwan-a .. ," desah Nyonya Goo lirih. "Semua akibat trauma masa kecil ... "

"Trauma?" Sun-Hye mengeluarkan suara.

Nyonya Goo mengangguk. "Ya, trauma. Waktu kecil, Chan pernah digigit anjing sampai harus dirawat dan tinggal di rumah sakit selama setengah bulan, .. infeksi yang sangat parah, dan hampir merenggut nyawanya. Sejak itu hingga sekarang, dia sangat takut pada anjing .. " Wanita itu tersenyum kecut mengingat masa lalu yang tidak menyenangkan itu. "Jadi, jangan menyalahkannya .. ," katanya pada Si-Hwan.

Pemuda itu termangu. Sikap yang biasanya seenaknya, terkadang kocak dan cuek bebek, terkadang acuh, menurut Sun-Hye, berubah seolah merenung, .. memikirkan kembali perkataan Nyonya Goo, .. lalu dia mengangguk. "Agashimida, omma .. "

Nyonya Goo menepuk lengan Si-Hwan. "Omma akan melihat Chan dulu .. "

Si-Hwan mengiyakan, .. selanjutnya wanita itu berlalu meninggalkannya. Si-Hwan menatap punggung Nyonya Goo sampai menghilang dari pandangan, kemudian berbalik pada Sun-Hye.

"Kau juga--" mulainya, "Kenapa takut pada Dorky?"

Sun-Hye tersentak. "A .. aku tidak takut!" bantahnya cepat. "Aku cuma tidak suka saja .. ," jawabnya seraya berbalik ke jalan keluar taman. "Hanya itu .. "

"Hey!!" panggil Si-Hwan. Namun Sun-Hye tidak mengubrisnya, .. gadis itu terus saja melangkah sampai keluar dari jalan setapak.

"Kenapa mereka begitu sama?" Si-Hwan mengangkat Dorky dan menatapnya. "Sama-sama tidak menyukaimu .. ," sambungnya sambil melempar sebutir coklat ke dalam mulutnya.

OOOOOOOO



_________________


♥️ "Everywhere ★ we learn ★ only from ★ those whom ★ we love" ♥️
avatar
DragonFlower

Posts : 94
Join date : 2013-06-17
Location : | Trapped in CNBLUE Dorm |

View user profile

Back to top Go down

Re: The Sounds of Death--by Lovelyn

Post by Sponsored content


Sponsored content


Back to top Go down

Back to top

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum