from Seoul to ... Perth-- by Lovelyn

Go down

from Seoul to ... Perth-- by Lovelyn

Post by DragonFlower on Wed Jun 26, 2013 2:42 pm

from Seoul to ... Perth--
Chapter ~ 1 
By : Lovelyn Ian Wong


"Benar harus pergi?"
 
"Iya!!", sahut dua suara secara bersamaan.
 
"Jadi .. saya tidak punya pilihan lain?"
 
"Miane sayang, tapi ini atas permintaan halmonie .. "
 
"Lalu .. bagaimana dengan Han Da' ZeVe? Keadaannya tidak begitu baik kan?
 
"Kamu jangan terlalu memikirkan keadaan perusahaan, Dazya,,, Appa dan omma mampu menanganinya .. "
 
Mendengar itu, Daze menjatuhkan dirinya ke ranjang. Keputusan sudah diambil dan dia tahu keputusan ini sudah bulat dan tidak bisa dirubah lagi. Sudah lama halmonie menginginkan kehadirannya di Perth. Hampir dua tahun dia tidak bertemu halmonie dan neneknya itu sangat merindukannya. Sejujurnya, Daze juga sangat merindukan halmonie tapi .. walaupun begitu, dia tidak tertarik tinggal di Perth. Sejak dulu tempat yang dicintainya hanya Seoul.
 
Tapi sekarang keadaannya berubah. Halmonie sakit keras dan diperkirakan hidupnya tidak akan lama lagi, hanya tinggal beberapa bulan bahkan ... mungkin .. beberapa minggu.
 
Mengingat ini, Daze mengigit bibirnya. Besok pagi dia harus berangkat ke Perth, seperti permintaan halmonie, sesuatu yang sudah dikhawatirkannya akan terjadi sejak dulu. Dia tidak rela meninggalkan Seoul, tidak rela meninggalkan Han Da' ZeVe -perusahaan keluarga yang dirintis appanya, Mr. Han, duapuluh tahun yang lalu, yang keadaannya tidak stabil akhir-akhir ini, bahkan .. sudah mencapai tahap kebangkrutan, dan yang terutama .. dia tidak rela meninggalkan CARLSON, kekasihnya.
 
"Kamu tahu sendiri bagaimana keadaan halmonie Dazya,, beliau sangat menyayangimu, sejak dari dulu ... ", Mrs. Han ikut duduk di atas ranjang dan membelai lembut rambut putrinya. "Lagipula Dave akan menjagamu setelah tiba di sana, jadi kamu tidak perlu takut .. "
 
"Benar kata omma!", sambung Mr. Han. "Kesehatan halmonie sangat tidak memungkinkan melakukan perjalanan jauh sedangkan beliau sangat ingin bertemu denganmu,, jadi kamu harus menyerah, sayang .. dan kamu juga tidak perlu mengkhawatirkan Han Da' ZeVe, appa dan omma mampu menangani semua masalah yang terjadi di sana .. kami akan menyusulmu setelah urusan di sini beres semua .. "
 
"Lalu .. bagaimana dengan Carlson?", tanya Daze ragu-ragu.
 
"Kamu berilah penjelasan padanya, omma yakin nak Carls akan memahaminya ... "
 
Daze menganggukkan kepala perlahan. Keputusan sudah diambil, jadi dia hanya bisa menjalaninya saja.
 
 
~~~ *** ~~~
 
 
Dua hari kemudian, .. Han's mansion, Perth ...
 
"Bangun sekarang juga pemalas!!!"
 
BUkkk .. sebuah bantal sukses mendarat di wajah Rathyan.
 
"Heiii what's wrong man??!!", tanyanya, megap-megap tak karuan.
 
"Menyingkir sekarang juga dari kamarku! o bukan,,, yang benar, dari rumahku!!", perintah keras itu terdengar lagi.
 
"Whyyy??!!". Rathyan bangun dari pembaringannya. Dia sudah benar-benar sadar dari tidurnya sekarang.
 
"My sister arrive today and i dont want her to see you here, in Han's mansion,, understand?!!", sahut sahabatnya, sekaligus pemilik rumah, Dave Han, bersungguh-sungguh.
 
"Why? Saya tidak pernah terlihat oleh keluargamu kan?", tanya Rathyan lagi.
 
"Ini lain man!! Halmonie bisa kamu kelabui tapi noona tidak ... Noona tidak tuli dan rabun seperti halmonie jadi kamu harus pergi sekarang juga .."
 
"No,, tidak mau!!", sahut Rathyan. Dengan cuek dia menjatuhkan diri ke ranjang lagi dan segera membalikkan tubuh menghadap ke dinding di sebelahnya.
 
"You must Rath!!!". Dave bergerak, menyeret Rathyan bangkit dari posisinya. "Saya tidak mau mendengar pertanyaan-pertanyaan menyebalkan dari noona dan halmonie tentang keberadaanmu di sini ..."
 
"Heiii i paid you!!", teriak Rathyan kesal. Dikibasnya tangan Dave dari pergelangan tangannya keras-keras.
 
Dave mendesah perlahan. "Sebenarnya ... mengapa kamu memilihku dan tempat ini sebagai tempat persingahanmu .. Saya tidak mengerti sejak dulu, dengan uang sewa sebesar itu kamu bisa mendapatkan ruang VIP di hotel berbintang lima sekalipun ... "
 
"Dan jika kamu tidak menginginkan uang sewa itu lagi, saya akan lenyap sekarang juga ... ", balas Rathyan dengan sikap menentang.
 
"Saya jadi ingin tahu darimana kamu mendapatkan uang sebanyak itu .."
 
"Itu bukan urusanmu!!", sahut Rathyan sengit.
 
Dave langsung mengangkat tangannya. "Ok ok,,, saya menyerah. Tapi dengan syarat ... "
 
"Tidak terlihat dan diketahui oleh keluargamu?", potong Rathyan. Dave mengangguk. "Ok deal!!", sambungnya sambil menjatuhkan diri ke ranjang dan mengeluarkan dengkurannya.
 
"Yaa yaa ,,, dasar!!!! Saya akan menjemput noona di bandara hari ini jadi saya harap kamu tidak keluar setapakpun dari kamarku .. "
 
Tangan Rathyan terangkat, jempolnya mengarah keatas.
 
"Sialan kamu Rath!!!"
 
Bakkk .. bantal yang tadi mendarat di wajah Rathyan kembali melayang ke tubuhnya.
 
 
~~~ *** ~~~
 
 
Perth Airport ....
 
"Noona!!!"
 
Dave menghambur ke dalam pelukan Daze.
 
"Ha .. ha .. dongseng-a, bagaimana kabarmu?". Daze tertawa perlahan, diperhatikannya dongsengnya itu dengan seksama. "Sudah dua bulan tidak bertemu dan lihatlah, kamu semakin tinggi saja .. "
 
"He .. he .. kalau noona semakin cantik saja ... ", balas Dave sambil meletakkan sepasang tangannya di pipi Daze. "Saya baik-baik saja, bagaimana dengan noona?"
 
"O noona juga baik-baik saja. Lalu bagaimana keadaan halmonie?"
 
Dave menghembuskan nafasnya sebelum menjawab, "Tidak baik .. seperti kata dokter, kesehatan halmonie sangat buruk, bukan hanya karena usianya yang sudah senja tapi juga berbagai penyakit yang mengerogoti tubuhnya ..."
 
"Ohh ... ". Wajah Daze berubah sendu. "Saya sangat merindukan halmonie .. saya harap beliau segera sembuh, walaupun ... ", Daze menunduk perlahan.
 
"Noona jangan khawatir .. ", Dave tersenyum, kemudian melingkarkan lengannya ke leher Daze, " ... keadaan halmonie pasti lebih baik setelah kedatangan noona ... "
 
Daze ikut tersenyum, "Mudah-mudahan saja ... "
 
"Ayo pergi sekarang .. ". Dave memutuskan kegelisahan Dave dengan meraih koper kecil dari tangannya. "Ini bawaan noona?"
 
"Iya .. ", jawab Dave. Perasaannya agak baikan melihat keceriaan Dave. Sejak dulu dongsengnya ini memang selalu punya cara menghiburnya di kala sendu.
 
"Sedikit sekali .. ", sahut Dave.
 
"Apa?"
 
"Bawaan noona .. "
 
"O .. kalau tidak salah pakaian-pakaianku masih disimpan halmonie di lemari dalam kamar tidur ... ", jawab Daze. "Appa dan omma akan kemari setelah menyelesaikan urusan Han Da' ZeVe ...", jelasnya pada Dave.
 
"O .. ", reaksi Dave, tanpa menaruh perhatian sedikitpun terhadap perkataan
Daze yang terakhir.
 
"Noona sudah makan?", sambungnya.
 
"Ne, saya sudah makan di pesawat tadi .. ", jawab Daze. "Apa kamu membawa mobil? Saya dengar dari halmonie, kamu membeli mobil bulan lalu .. "
 
"Tidak. Kita naik taxi ..", tekan Dave, pandangannya terarah ke depan.
 
"Sebenarnya ... darimana kamu mendapatkan uang membeli mobil itu?", selidik Daze. "Appa dan omma tidak mengirimimu uang jajan akhir-akhir ini kan?"
 
"Dari tabungan saya .. ", jawab Dave pendek.
 
"Jeongmal? .. Kamu baik-baik saja kan dongseng-a? Wajahmu terlihat pucat .. ", tanya Daze khawatir. Segera dia mengangkat tangan dan meletakkannya ke jidat Dave.
 
"Tidak!!", pemuda itu langsung mengibaskan tangannya. "Saya sehat-sehat saja ... Jangan bicara lagi, halmonie sudah menunggu kita di rumah .. "
 
"O ne ... "
 
Daze kemudian mengikuti langkah Dave dengan pandangan bertanya.
 
 
~~~ *** ~~~
 
 
Han's Mansion ...
 
"Halmoniee!!". Daze memeluk wanita renta itu erat-erat. "Bogoshipoyo .. bagaimana keadaan halmonie?"
 
"Halmonie merasa sangat sehat begitu bertemu denganmu sayang .. ". Halmonie tersenyum, melepaskan pelukan Daze kemudian memperhatikan cucu perempuan satu-satunya ini dengan sepasang mata yang kabur. "Coba halmonie lihat kamu baik-baik ... ", perlahan nenek tua itu mengangkat tangannya dan mengelus pipi Daze, "Kamu semakin cantik sayang .. halmonie sangat bangga padamu .. "
 
"He .. he .. mulut halmonie semakin manis .. "
 
"Kamu akan menemani halmonie di sini kan?", tanya halmonie dengan suaranya yang serak dan pelan.
 
"Ne .. ", Daze mengangguk keras-keras, dipeluknya halmonie dengan sepenuh hati. "Saya sangat merindukan halmonie .. "
 
"Bagus .. halmonie bisa pergi dengan tenang setelah ini .. ", sahut halmonie, senyuman hangat tersirat di wajahnya.
 
"HALMONIE!!", teriak Daze, "Halmonie dilarang berkata seperti itu .. ", dua butir air bening mulai mengalir dari sudut matanya, " ...hu .. hu .. halmonie akan baik-baik saja, .. sehat sampai usia keseratus bahkan lebih, araso?!"
 
"Ne .. ne .. ', halmonie membalas pelukan cucunya ini. "Halmonie berjanji akan bertahan, sampai ... sampai halmonie melihatmu menikah, .. melihatmu bahagia dengan pria yang akan menjadi suamimu kelak .. "
 
"Bagus .. itu baru halmonieku yang manis .. ". Daze tersenyum perlahan, dia mempererat pelukan di tubuh halmonie. " .. halmonie harus memegang kata-kata itu .. "
 
Mereka berpelukan selama lima menit, kemudian halmonie melepaskan rangkulan Daze di tubuh keriputnya secara halus.
"Lalu .. bagaimana hubunganmu dengan pacarmu itu?"
 
"Carlson?"
 
"Iya iya, .. halmonie selalu lupa namanya .. "
 
Daze kembali melingkarkan tangannya ke pinggang halmonie.
"Baik. Dia sangat menyayangiku, jadi halmonie jangan khawatir .. "
 
"Dia tidak melarang kedatanganmu ke sini kan?"
 
"Aniyo, ... dia selalu mendukung kegiatanku .. ", sahut Daze, berusaha menenangkan kegelisahan halmonie.
 
"Bagus kalau begitu .. ", angguk halmonie puas. "Apa kamu ingin makan sekarang? .. Atau nanti saja? .. Halmonie bisa menyuruh Ye-Jin menyiapkannya sekarang juga jika kamu lapar ... "
 
"Aniyo halmonie, nanti saja. Saya masih kenyang setelah makan terlalu banyak di pesawat tadi .. Saya hanya merasa lelah setelah perjalanan jauh itu .. ". Daze mengerak-gerakkan pundaknya berkali-kali sebagai isyarat dia benar-benar lelah.
 
"Baiklah kalau begitu .. kamu istirahat saja dulu .. halmonie juga harus istirahat, tubuh tua ini tidak mampu menyangga terlalu lama .. "
 
"Apa perlu saya temani .. ". Daze bergerak dari tempatnya.
 
Tapi halmonie menolak halus dengan segera mengangkat tangannya. "Aniyo .. kamu masuklah ke kamarmu .. ".
 
Daze mengangguk perlahan. Diperhatikannya halmonie yang memutar tubuh lambat-lambat dengan tongkat di tangannya. Halmonie sudah semakin tua. Dua tahun dia tidak bertemu dengannya dan kesan tua serta rapuh itu semakin terasa.
 
Daze menghembuskan nafas perlahan, kemudian dia membalikan badan kearah tangga panjang yang menuju ke lantai atas. Kamarnya memang terletak di lantai atas, bersebelahan dengan kamar Dave. "DAVE", nama itu membuatnya berpaling mendadak kearah halmonie. Punggung nenek tua itu masih terlihat jelas olehnya, jalannya memang lamban sekali.
 
"HALMONIE!!"
 
Halmonie menoleh padanya. "Ada apa sayang?"
 
"Kemana si Dave? .. Tadi katanya membantuku memindahkan koper ke kamar, tapi setelah itu tidak kelihatan orangnya .. "
 
"O anak itu .. ", halmonie menghembuskan nafasnya yang tersendat-sendat. " .. mungkin sudah keluar lagi .. "
 
Alis Daze berkenyit, "Keluar lagi? Apakah dia selalu begitu?"
 
"Terkadang .. ", jawab halmonie cuek. " .. halmonie tidak ingin memusingkan kegiatannya .. "
 
"Apa ada sesuatu yang terjadi padanya?", tanya Daze.
 
"Entahlah! .. Sudah sayang, jangan terlalu memusingkan adikmu itu, .. segera beristirahatlah biar badanmu segar lagi .. "
 
Akhirnya Daze tersenyum mendengar perhatian halmonie padanya. "Ne. Apa halmonie benar-benar tidak perlu ditemani?"
 
"Tidak. Halmonie sangat memahami keadaan sendiri."
 
"Kalau begitu permisi halmonie .. "
 
"Mimpi yang indah sayang .. "
 
"Ne .. ", kembali senyum lebar terkembang di wajah Daze. Dengan melompat-lompat kecil, dia menaiki tangga yang menghubungkan lantai bawah dengan lantai atas itu.
 
 
~~~ *** ~~~
 
 
"Huhhh anak-anak sialan!!! .. Kerjanya hanya ngerokok dan mabuk-mabukan terus!!!", umpat Rathyan kesal.
 
Diendusnya pakaiannya, huekk .. bau asap rokok dan alkohol menempel ketat di seluruh tubuhnya, juga rambutnya yang lebat dan hitam pekat. Rasanya ingin muntah saja.
 
Masih dalam keadaan kesal, dia melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya, waktu menunjukkan pukul 11 lewat 45 malam. "Hmmm cukup malam juga .. ", gumamnya pelan.
 
Rathyan sampai di pintu depan Han's Mansion. Diperhatikannya keadaan sekeliling, -gelap dan suram. Lampu-lampu di sepanjang halaman depan sudah dipadamkan, yang tersisa hanya sebuah lentera kecil di pojok kiri dekat pigura yang berada di tengah taman.
 
Rathyan menengadah ke atas. Lampu-lampu di ruangan atas juga sudah dipadamkan, kecuali .. lampu di kamar yang bersebelahan dengan kamar Dave.
 
"Hmm apa ada yang tidur di situ?", sekali lagi Rathyan bergumam sendiri. Seingatnya kamar di sebelah itu merupakan kamar kosong. Selama tinggal di rumah ini, hampir setahun lamanya, dia tidak melihat seorangpun menempati kamar itu.
 
Pertanyaan-pertanyaan tersebut hanya menghantui pikiran Rathyan selama beberapa menit. Detik berikutnya dia mengangkat bahu, cuek. Kembali diendusnya kemeja yang melekat di tubuhnya. Huekkk ,, bau asap rokok dan alkohol itu tidak hilang-hilang juga.
 
Sesaat kemudian dia mulai mendekati Han's mansion. Bukan membuka pintu depan, dia malah memanjat tanaman rambat yang tumbuh di sekitar situ. Dia melakukannya dengan sangat mahir dan gesit. Setiap duri yang tumbuh di tanaman-tanaman tersebut tidak terlepas dari perhatiannya, dapat dihindari dengan mudah. Semua ini tidak mengherankan, mengingat -memanjat dinding memang sudah pekerjaan Rathyan sehari-hari. Supaya tidak terlihat oleh penghuni rumah, dia harus menghindari masuk ke dalam rumah dengan menyolok.
 
Rathyan hampir mencapai kamar Dave. Dia bergantung erat di tanaman rambat antara kamar Dave dan kamar sebelahnya. Kemudian rasa penasaran tiba-tiba menghinggapinya. Kepalanya terjulur perlahan ke kamar sebelah kiri. Lampu dalam ruangan itu bersinar terang. Kamar tersebut memiliki dekorasi yang lembut, berwarna putih hangat dengan kombinasi warna pink yang cerah, kamar khas cewek.
 
Alis Rathyan berkenyit perlahan. "Benar!! Bukankah Dave bilang kakak perempuannya akan tiba hari ini? .. Ohhh dia pasti belum sadar benar ketika Dave mengatakan itu ... Kamar ini pasti kamar kakaknya .. "
 
klekk ... deritan halus terdengar oleh telinga Rathyan, lewat jendela kaca yang tidak tertutup rapat. Pintu lain yang berada dalam kamar itu terbuka dengan pelan, kemudian .... seorang gadis berkulit putih bersih, sangat mulus dan indah, dengan hanya terbalutkan handuk besar di tubuh mungilnya keluar dari dalam ruangan yang ternyata kamar kecil itu. Rambutnya yang basah dan panjang terjuntai sampai ke pinggang. Gadis itu melangkah ke lemari dalam ruangan itu, mengambil beberapa helai pakaian yang tidak terlihat jelas oleh Rathyan. Dalam hitungan detik, gadis itu melepaskan handuknya sehingga punggung polos yang hanya terlindungi rambut panjang tersebut terlihat jelas oleh pemuda itu.
 
Rathyan menelan ludah perlahan. Dengan cepat dia memalingkan wajahnya. "Ini salah!!", teriaknya dalam hati.
 
Tergesa-gesa dia membuka jendela kamar Dave, kemudian memanjat ke dalam. Nafasnya terengah-engah dan pemandangan tersebut membuatnya tidak dapat memejamkan mata semalaman -hatinya berdetak keras dan memburu,sampai Dave memasuki kamar dengan sempoyongan sekitar pukul 3 dini hari.



______________TBC________________

_________________


♥️ "Everywhere ★ we learn ★ only from ★ those whom ★ we love" ♥️
avatar
DragonFlower

Posts : 94
Join date : 2013-06-17
Location : | Trapped in CNBLUE Dorm |

View user profile

Back to top Go down

Re: from Seoul to ... Perth-- by Lovelyn

Post by DragonFlower on Wed Jun 26, 2013 2:59 pm




from Seoul to ... Perth--
Chapter ~ 2
By : Lovelyn Ian Wong


Sarapan sedang dipersiapkan Ye-Jin ketika Daze memasuki ruang makan. Ada semangkuk bubur ikan dengan sayur-sayuran diletakkan di depan bangku halmonie, kemudian dua piring berisi steak daging sapi dengan saus onion di depan bangku masing-masing, dia dan Dave.
 
"Good morning Ye-Jin, mana yang lain?", sapa Daze sambil menjatuhkan diri di kursinya.
 
Ye-Jin yang tidak menyadari kehadiran Daze di situ kelihatan tersentak, dia langsung mengangkat wajah dari kesibukannya.
"Oh agashi, anyongheseyo .. ,, ", dia membungkuk perlahan, " .. nyonya besar masih berada di kamarnya, agashi ..  sedangkan doronim mungkin .. mungkin masih tidur ,, atau .. mungkin belum kembali .. ", jawabnya terputus-putus.
 
Kening Daze berkenyit, "Belum kembali? Apa maksudmu?"
 
Ye-Jin mengigit bibir bawahnya, dia kelihatan agak gelisah mendengar pertanyaan Daze. Sekuat tenaga dia berusaha mengendalikan diri, tapi percuma saja karena kegugupannya tetap tidak terlepas dari perhatian Daze.
 
"Ada yang kamu sembunyikan?"
 
"Ti .. tidak agashi ... Hanya saja .. doronim .., dia .. ", Ye-Jin semakin serba-salah, dia tidak tahu harus berbuat apa .. mau jujur -takut dilabrak tuan mudanya, tapi mau berkelit juga tidak bisa karena Daze sudah memelototinya.
 
"Son Ye Jin!!"
 
"Ne .. ne, agashi ... "
 
"Apa Dave berbuat yang aneh-aneh?"
 
"A .. apa maksud agashi?"
 
Daze menyipitkan sepasang matanya, "Saya juga tidak tahu, .. Saya ... ", Daze menyentuh dagunya, seperti sedang memikirkan sesuatu, kemudian melanjutkan perkataannya yang tertunda, " .... saya hanya merasa, ada yang disembunyikannya ... ", ditatapnya Ye-Jin lekat-lekat, " .. karena itu jelaskan maksud perkataanmu tadi! .. Mengapa dia belum kembali? Apa dia sering keluar malam?", tanya Daze bertubi-tubi.
 
"Ne ,, ne agashi .. ", jawab Ye-Jin lemas. "Doronim .. doronim sering keluar malam akhir-akhir ini .. dia baru kembali keesokan harinya .. "
 
"Setiap hari?", tanya Daze menyelidik.
 
"Tidak setiap hari tapi .. kebanyakan .. "
 
Daze mengangguk, dia sudah tidak terkejut lagi dengan penjelasan Ye-Jin, Dave memang terlihat aneh. Kemampuannya membeli mobil lebih mengherankan lagi.
"Lalu .. bagaimana kuliahnya?"
 
Ye-Jin mengeleng perlahan, "Tidak tahu, agashi .. "
 
"Bagaimana dengan halmonie, apa dia mengetahuinya?", tanya Daze lagi.
 
"Nyonya besar kelihatan tidak perduli lagi dengan kegiatan doronim sejak pertengkaran kecil di antara mereka sebulan yang lalu .. ", jawab Ye-Jin.
 
"Pertengkaran kecil?", Daze mengulangi kalimat itu, "karena apa?"
 
"Doronim pulang dalam keadaan mabuk berat sekitar pukul 2 dini hari dan kebetulan tertangkap nyonya besar .. "
  
"Begitu? .. ". Daze berpikir sebentar, berniat bertanya lebih lanjut tapi segera diurungkan niat itu. Percuma saja bertanya pada Ye-Jin, pembantu ini pasti tidak mengetahuinya.
 
Daze mengibaskan tangan kearah Ye-Jin, kemudian berdiri dari kursi yang didudukinya.
"Saya akan melihat Dave dulu .. kamu ke kamar halmonie dan lihat apakah beliau sudah siap buat sarapan .. ", perintah Daze.
 
Ye-Jin menganggukan kepalanya, “Ne, agashi .. “
 
Daze berlalu dari ruang makan menuju kamar Dave di lantai atas, yang bersebelahan dengan kamarnya.
 
= = = @@@ = = =
 
Rathyan tersentak bangun dari ranjang. Matanya yang terbelalak lebar terpejam perlahan, dia mengeleng lambat-lambat. Kepalanya agak berat karena hanya tertidur sebentar tadi. Dia melirik jam weker di meja samping, benar,, dia hanya tidur selama tiga jam, dan itupun tidak lelap.
 
Rathyan menoleh ke samping, Dave kelihatan tertidur pulas di sebelahnya. Suara dengkurannya yang keras terdengar berisik di ruangan itu. Sekali lagi Rathyan memejamkan mata, dia menghembuskan nafas kuat-kuat. Tangannya bergerak, menguncang tubuh Dave.
 
“Heyy bangun!!! Sudah pagi,, kamu tidak boleh malas-malasan seperti ini!!”
 
Dave bergerak sedikit, tapi tidak merespon teguran Rathyan.
 
“Bangun!!”, teriak Rathyan lebih keras dari tadi, tapi tidak cukup kuat untuk didengar orang-orang di luar kamar itu. Karena sudah lama tinggal sembunyi-sembunyi di Han’s mansion, Rathyan memang sudah terbiasa mengendalikan suaranya.
 
“Tadi malam kamu minum sangat banyak ya?”. Rathyan membungkuk ke wajah Dave dan mengendus bau nafasnya, “Huekk … “, didorongnya tubuh pemuda yang masih tertidur pulas itu, “ .. sudah saya peringatkan jangan minum terlalu banyak kan? Lihat kamu mabuk begini!! .. bagaimana ujian hari ini? Kamu berniat bolos lagi ya?”
 
Rathyan menatap tajam Dave tapi yang ditanya tidak bereaksi apa-apa.
 
“Bangun!!”, Rathyan kembali menguncang tubuh Dave, kali ini sangat keras dan tangannya terjulur ke telinga pemuda itu kemudian menariknya. “Bangun sekarang juga ,, jika tidak ..  saya akan menyirammu dengan air es!!”, ancam Rathyan.
 
Dave bergerak perlahan, sepasang matanya yang terpejam terbuka pelan-pelan, masih dalam alam bawah sadar dia menjawab, “ .. biarkan saya sendiri, please Rath .. “
 
“No!!”, bantah Rathyan. “Kamu tidak boleh bolos lagi,, ayo bangun!!”. Rathyan menarik tangan Dave, tapi berat badan pemuda itu menahan usahanya yang lebih lanjut.
 
Tok .. tok .. tok .., ketukan halus terdengar dari arah pintu …, Rathyan segera berpaling.
 
“Dave-a, apa kamu berada di dalam?”, suara Daze terdengar dari balik pintu kamar yang tertutup.
 
“Oh …”, mulut Rathyan terbuka. Gugup, dia memukul lengan Dave, “Bagaimana ini,, noonamu berada di luar sekarang!!”, katanya pelan dan cepat. Tapi yang dipukul tetap tidak bergerak sama sekali.
 
“Dave,, jika kamu tidak menjawab, noona akan masuk sekarang!!”, suara Daze terdengar lagi.
 
“Sialan!!”, dengan kesal Rathyan mendorong tubuh Dave. Secepat kilat dia meloncat dari ranjang, berlari kebalik tirai jendela warna gelap yang tertutup setengahnya, kemudian mendekam di sana.
 
Selama beberapa detik dia mendengarkan dengan seksama, tidak terdengar suara sedikitpun, hanya keheningan yang menyelimuti kamar itu. Rathyan bergerak sedikit, dan .. drekkk .. pintu bercat putih itu terbuka perlahan.
 
Daze memasuki kamar dengan kening berkenyit. Sesaat pandangannya menyapu seluruh sudut ruangan, kemudian jatuh ke ranjang, dimana Dave masih tertidur pulas. Daze mendekati pemuda itu.
 
“Apa kamu tidak kuliah hari ini?”, tanya Daze.
 
Pemuda itu tidak bergerak, pertanyaan tadi memang tidak didengarnya.
 
“Dongseng-a .. “
 
Daze menyentuh lengan Dave. “Bangunlah, ayo sarapan bersama,, halmonie sudah menanti di ruang makan ..”
 
Dave memincingkan mata perlahan-lahan. Bayangan Daze terlihat kabur dalam pandangannya, tanpa sadar dia tersenyum dengan linglung, “Siapa? .. Noona?”
 
“Ne,, ayo turun sekarang .. “, ajak Daze sambil mengerakkan tangannya.
 
Daze mulai melangkahkan kakinya ketika tirai jendela yang bergerak halus menarik perhatiannya. Dia menghentikan langkahnya, keningnya kembali berkenyit untuk yang entah keberapa kalinya pagi itu.
 
Dia memutar tubuh kearah jendela, kemudian bergerak ke sana. Rathyan langsung panas dingin di tempat persembunyiannya. Semua gerak-gerik gadis itu tertangkap jelas olehnya, sekarang Daze semakin mendekat, tinggal beberapa langkah lagi.
 
“Noona!!”, teriakan terdengar dari belakang.
 
Daze menghentikan langkahnya, segera dia berpaling kearah ranjang, asal suara itu. Dave terlihat duduk dengan tubuh tegak lurus di atas ranjang.
 
Apa yang dilakukan Daze tadi, membuat Dave bangun mendadak dari tidurnya. Hampir saja wanita itu menangkap basah keberadaan Rathyan. Sekarang dia benar-benar pulih dari ketidaksadarannya. Noonanya tidak boleh mengetahui kehadiran Rathyan.
 
“O kamu sudah bangun ..”. Daze mendekati Dave.
 
“Ne ..”, jawab Dave.
 
“Kalau begitu bersiap-siaplah buat sarapan .. “
 
“Ok .. “
 
“Kamu minum?”, tanya Daze lagi ketika mencium bau alkohol tersembur dari nafas Dave.
 
“Ehh .. ne, sedikit .. “, jawab Dave agak gugup.
 
“Ada yang mengelisahkanmu?”, selidik Daze.
 
“Aniyo!!”, sahut Dave cepat, “.. saya hanya menghadiri pesta ulangtahun seorang teman dan .. agak lepas kendali sehingga minum lebih banyak dari biasanya .. “, jelasnya.
 
“Jeongmal?”
 
“Ne .. tapi he .. he .. “, Dave tertawa perlahan, “ … mengapa pertanyaan noona seperti menyelidikiku?”
 
“Tidak!”, Daze mengibaskan tangannya, “Noona hanya mengkhawatirkanmu .. kamu .. kamu kelihatan lain dari biasanya .. “, dia berhenti sejenak, kemudian melanjutkannya lagi, “ .. ingat, jika ada masalah ceritakan pada noona .. “
 
“Ne .. “, ngerti Dave.
 
“Ok, bersiaplah, cuci mukamu biar lebih segar .. noona dan halmonie akan menunggumu di ruang makan .. “
 
Dave segera mengacungkan tangan ke atas, “Beres .. bos “
 
Daze tersenyum, kemudian mengucek rambut dongsengnya, “Cepatlah .. “. Setelah itu dia keluar dari kamar Dave.
 
Bukk .. pintu ditutup oleh Daze.
 
“Fuhhh .. “, Dave menghembuskan nafas keras-keras.
 
“Sudah pergi?”, kepala Rathyan menyembul dari balik tirai jendela.
 
Dave menganggukan kepalanya, “Ne .. “
 
“Fuhhh .. “, Rathyan ikut menghembuskan nafasnya. “Hampir saja .. “, dia mengelus-ngelus dada, kemudian keluar dari tempat persembunyiannya.
 
Begitu sampai di atas ranjang, dia segera mengambil bantal dan melemparkannya ke wajah Dave.
“Kamu sih pakai mabuk-mabukan segala!! .. hampir saja kecolongan sama noonamu .. “
 
Dave menghindar dengan gesit, tawanya langsung meledak, “Ha …. Ha .. ne, ne,,, miane Rath .. “
 
“Cukup! Bercandanya sampai di sini saja .. ”, Rathyan mengangkat tangan ke atas, “Saya harus membersihkan diri, kemudian mencari makanan di luar .. Pukul sepuluh nanti, saya akan ke kampus buat ujian mata pelajaran bu Yeon, .. apa kamu hadir juga?”
 
“Tidak .. “, jawab Dave malas.
 
“Bolos lagi?”, Rathyan bangkit dari ranjang, “ .. Saya ragu kamu bisa tamat pada waktunya .. “, ejeknya sambil berjalan ke kamar kecil yang berada dalam kamar tidur itu.
 
“Biarin .. “, jawab Dave cuek sambil menghempaskan tubuh kembali ke ranjang.
 
“Kamu masih ingin tidur?”, tanya Rathyan dari ambang pintu kamar mandi.
 
“Ok, ok, ..”, Dave mengerakkan tangan ke atas kemudian bangkit dari ranjang, menyerah “ .. saya akan turun sekarang!!”
 
“Good boy!!”, Rathyan mengacungkan jempolnya. Sedetik kemudian tampangnya sudah menghilang dari pandangan Dave.
 
“Huhhh .. menyebalkan semuanya!!”, dengus Dave. Dilemparnya guling yang dari tadi dipeluknya ke pojok ranjang.
 
Masih dengan perasaan kesal dia berlari keluar dari kamar itu.
 
= = = @@@ = = =
 
Acara sarapan di ruang makan berjalan tenang. Semua tidak mengeluarkan suaranya. Halmonie menyendok bubur dari mangkuk satu-bersatu kemudian memasukannya ke dalam mulut tanpa menoleh sedikitpun pada Dave, dia hanya mengerling sesekali kearah Daze sambil mengulum senyum. Sedangkan Daze dan Dave sibuk melahap makanan dari piring masing-masing.
 
Dua puluh menit kemudian, mereka menjauhkan piring-piring dan mangkuk yang telah kosong ke tengah meja. Daze mengelap bibirnya, lalu mengarahkan pandangan ke Dave.
 
“Bagaimana kuliahmu dongseng-a?”
 
Dave yang baru saja meneguk air dari gelas yang diraih dari atas meja langsung tersedak.
“Ehekk .. hekk .. hekk “, tangannya menutupi mulut dengan ekspresi menderita., “ .. hekk .. hekk … “
 
Daze langsung mengelus-ngelus punggung Dave, “Ya dongseng-a,, gwencana?”, tanyanya khawatir.
 
Dave menekan tangan Daze dari punggungnya, “O gwencana, noona-a … hekk … hekkk .. hanya tersedak biasa .. hekkk .. “
 
Dave terbatuk-batuk keras selama dua menit. Setelah agak baikan, dia meneguk beberapa tegukan air dari gelas yang sama.
 
“Baikan?”
 
“Ne .. “, Dave mengangguk.
 
“Apa kamu tidak masuk kuliah hari ini?”, tanya Daze lagi, pertanyaan berbeda dengan yang tadi tapi mempunyai maksud yang sama.
 
“Aniyo, saya masuk jam 10 nanti .. “, dusta Daze.
 
“O .. “, Daze menganggukkan kepala tanda mengerti, “O ya, saya akan menemani halmonie berjalan-jalan di taman belakang setelah ini, .. apa kamu ikut dengan kami?”, sambung Daze.
 
“Aniyo!!”, Dave langsung bangkit dari kursinya, “Saya harus ke perpustakaan sekarang .. see you noona dan .. halmonie .. “, tergesa-gesa dia berlalu dari situ. Sekejap saja sosoknya sudah menghilang dari ruangan tersebut.
 
“Anak itu … “,, Daze tidak mampu melanjutkan kata-katanya. Dia hanya bisa berdiri termangu dengan Pandangan terarah ke pintu dalam kebisuan.
 
“Sudahlah sayang .. Jangan terlalu dipikirkan sikap dongsengmu itu .. “
 
Daze berpaling pada halmonie, “Tapi … “
 
Bantahannya segera dipotong halmonie, “ .. sekarang tepati janjimu,, .. bawa halmonie ke kebun belakang .. “
 
Daze langsung tersenyum. “Ne!!”, jawabnya keras.
 
Dia berlari ke sebelah halmonie, menopang tubuh yang bergetar itu, kemudian menuntunnya keluar dari ruangan itu.
 
= = = @@@ = = =
 

_________________


♥️ "Everywhere ★ we learn ★ only from ★ those whom ★ we love" ♥️
avatar
DragonFlower

Posts : 94
Join date : 2013-06-17
Location : | Trapped in CNBLUE Dorm |

View user profile

Back to top Go down

Re: from Seoul to ... Perth-- by Lovelyn

Post by DragonFlower on Wed Jun 26, 2013 3:01 pm

~~ continuation of Chapter 2 
from Seoul to ... Perth-- ~~


Rathyan selesai membersihkan diri. Setelah memakai kemeja kotak-kotak dipadu jeans belel biru ketat, dia keluar dari kamar mandi. Rambutnya yang masih basah dan agak gondrong menjuntai lembut menutupi bagian telinga dan matanya. Rathyan mengibas rambut bagian depan itu ke belakang.
 
Kemudian dia berjalan ke meja kecil yang merapat di dinding dekat pintu. Setelah memasukan semua keperluannya ke dalam tas besar yang tergeletak di lantai, dia melongok keluar jendela. Kepalanya langsung ditarik kembali begitu mendapati pelayan rumah itu, si Son Ye Jin, sedang memangkas tanaman-tanaman rambat tepat di bawahnya.
 
“Sialan perempuan itu!!”, gerutu Rathyan. Dia menoleh ke jam weker di atas meja, “Huhh tidak ada waktu lagi .. “
 
Rathyan berjalan ke pintu, dengan hati-hati dibukanya pintu itu kemudian mengintip keluar. Keadaan sepanjang lorong luar sangat sepi dan hening, tidak terlihat tanda-tanda kehidupan.                
 
Rathyan membuka pintu lebih lebar lagi, kemudian menapakkan kakinya keluar. Satu langkah, dua langkah, … sampai langkah ke .. entah berapa, dia selamat,,, dia sudah berada di balkon belakang sekarang.
 
“Halmonie,, lihat mawar-mawar ini! Indah ya?”
 
Teriakan merdu itu membuat Rathyan menundukkan kepalanya. Dan .. dia langsung tertegun, gadis yang telah membuatnya tidak bisa memejamkan mata semalaman dan yang hampir menangkap
basah keberadaannya di Han’s mansion, berdiri beberapa meter di bawah kakinya.
 
= = = @@@ = = =
 
“Kamu boleh memetiknya sayang .. “, kata halmonie pada Daze.
 
Gadis itu tersenyum sambil mengeleng perlahan. “Aniyo,, saya tidak bermaksud memetiknya … Mereka akan lebih berharga tumbuh di lingkungan luar .. “
 
“Kamu mirip abojimu, Dazy-a … Sangat menghargai alam .. “, gumam halmonie pelan. Lalu dia bergerak ke depan, tertatih-tatih dengan tongkat di tangannya.
 
“Halmonie mau kemana?”
 
“Ke sana!”, halmonie menunjuk ke depan dengan tongkatnya, “ … halmonie berniat mandi sinar matahari pagi sebentar di bangku itu …”
 
“Tunggu saya halmonie!”, Daze bergerak dari posisinya. “Saya akan menemanimu .. “
 
Langkah Daze terhenti di belakang halmonie. Keningnya berkenyit perlahan, entah mengapa .. mendadak perasaannya tidak enak, dia merasa ada seseorang sedang mengawasi setiap gerak-geriknya. Daze segera menoleh, dan menengadah ke balkon yang menghadap ke taman belakang ini, .. kosong, tidak ada seorangpun di sana.
 
Kepala Daze agak miring ke samping, ’Apa perasaannya saja kalau ada orang yang sedang memperhatikannya? Tapi mengapa perasaan itu begitu kuat?’
 
“Sayang, ada apa? Ayo cepat kemari!!”
 
Teriakan halmonie menyadarkan Daze dari lamunannya. Dia menoleh ke belakang, halmonie terlihat sudah duduk di bangku yang ditujunya.
 
Daze tersenyum, “Ne!!”, sahutnya keras.
 
Sementara itu … dibalik tembok yang memagari ujung balkon tersebut, Rathyan meringkuk dengan wajah pucat. Untung dia berjongkok dengan cepat, jika tidak ………. Gadis itu sudah melihatnya.
 
= = = @@@ = = =
 
“Yang ini juga bagus Rath! .. Semuanya baru didatangkan dari Italia,  kualitasnya tidak perlu diragukan lagi ,, kamu bisa memeriksa ulang .. “
 
Rathyan mengamati berbagai jenis alat lukis dihadapannya. THE ART, merupakan toko langanannya, dan pria setengah baya yang menyerocos tanpa henti itu adalah pemilik toko ini. Rathyan selalu mengumpulkan barang-barang pembantu dalam mewujudkan impiannya sebagai seorang pelukis di sini, karena semua alat lukis yang dijual di toko ini berkualitas nomor satu dan mahal.
 
Rathyan meraba-raba dagunya sebentar sebelum berpaling pada pria itu. “Saya mau semuanya ajusshi .. termasuk kaki penyangga itu … “, dia menunjuk ke tumpukan tak beraturan di ujung toko, “ .. antar ke tempat biasa .. “, lanjutnya sambil mengeluarkan sebuah kartu kredit dari dompet kemudian menyerahkannya ke pemilik toko.
 
“Ne …”, sahut ajusshi itu bersemangat. Setelah menerima kartu kredit tersebut, dia berlalu ke meja kasir.
 
Rathyan memutar tubuh, kembali menghadapi peralatan-peralatan lukis dihadapannya puas.
“Semua ini akan menghasilkan karya-karya terbaik .. “
 
= = = @@@ = = =
 
Gadis itu mengigit-gigit kukunya berulangkali sebelum akhirnya memutuskan menghampiri Rathyan.
 
“Rath .. “
 
Rathyan mengangkat wajah dari buku gambar dihadapannya.
“What?!”, tanyanya dingin.
 
“Do you know where .. where is … Dave?”, tanya gadis itu gugup.
 
Rathyan mengangkat bahunya. “I don’t know .. “, lalu dia menundukkan wajahnya lagi.
 
“I want to meet him, NOW!! This is important .. “, lanjut gadis itu keras.
 
Rathyan menutup bukunya dengan kesal, bakkk … dia segera berdiri dari kursi dengan tampang sangar, “Dengar miss Natalie Park, saya bukan pembokat Dave jadi saya tidak mungkin mengetahui keberadaannya!! Permisi!!”. Dia mendorong Natalie ke samping kemudian melewatinya.
 
“Rath!!”, Natalie mengejar Rathyan, ditariknya ujung kemeja pemuda itu sehingga langkahnya terhenti, “ … I .. I was pregnant .. “, ungkapnya pelan.
 
“WHAT?!!”, mata Rathyan terbelalak lebar.
 
“What should I do now .. hu .. hu .. ?”, Natalie mulai terisak halus.
 
“Heyyy don’t cry!!”, cegah Rathyan kebingungan. Sikap dinginnya tadi menghilang begitu saja. “Apa .. apa Dave tahu ini?”
 
Natalie mengangguk perlahan. “Ne,, saya memberitahukannya seminggu yang lalu .. dan .. dan sejak saat itu dia selalu menghindariku .. “
 
“Lalu .. apa yang kamu inginkan sekarang?”, tanya Rathyan setelah berhasil mengendalikan dirinya.
 
“I don’t know …”. Natalie mengeleng keras-keras. “Saya hanya ingin bertemu dengannya .. hanya itu .. “
 
“Tapi untuk apa?”
 
“MWO?!”
 
Rathyan melipat sepasang tangan di depan dada, sikapnya tenang kembali. “Kamu tahu sifat Dave kan? Jika dia sudah menghindar, percuma saja kamu memaksanya terus … “
 
“So … “
 
“Apa kamu tidak berpikir mengugurkan kandunganmu?”
 
“MWO?!! RATHYAN JANG!!”, teriak Natalie, dia langsung memelototi Rathyan, membuat beberapa pasang mata mulai menoleh pada mereka.
 
Rathyan mengangkat tangan ke atas. “Saya hanya mengungkapkan cara yang mungkin dianjurkan Dave,, Saya terlalu mengenalnya .. “
 
Mendengar itu, Natalie lemas di tempatnya. “Ottoke?!”
 
= = = @@@ = = =
 
“Kamu menghamili Nat?! Apa kamu sudah gila?!”, Rathyan menekan Dave ke dinding, sementara musik keras yang diputar di bar itu berdentum keras memekakkan telinga.
 
“Ne .. “, Dave menepis tangan Rathyan dari jaket kulitnya, “ .. memangnya kenapa? Kami melakukannya suka sama suka, jadi apa salahnya?”, teriak Dave. Dia tersenyum sinis, agak sempoyongan dia menjatuhkan diri ke sofa.
 
“Kamu mabuk lagi ya?”, selidik Rathyan.
 
“Jangan berlagak alim Rathyan Jang .. “, Dave menunjuk Rathyan dengan sepasang mata dipicingkan. “ .. kamu tidak berbeda jauh dariku .. “
 
Rathyan mengatupkan rahangnya, ‘Susah benar bicara dengan orang mabuk .. ‘. Dia mendekati Dave kemudian menariknya bangun dari sofa, “Ayo pulang sekarang!”
 
“NO!!”, Dave menepis tangan Rathyan, “Leave me alone!!”
 
Rathyan menatapnya dingin, “Are you sure?”
 
“NE!!”. Dave menghempaskan tubuh ke sofa lagi.
 
Rathyan mengangkat bahunya menyerah, “Ok,, up to you!!”
 
Kemudian dia berlalu dari bar itu, meninggalkan Dave yang ketawa-ketawa sendiri di tempatnya.
“Ha .. ha .. you’re a naughty boy, Rath,,, I know you love it too .. ha .. ha .. “
 
= = = @@@ = = =
 
Seminggu berlalu sudah … keadaan halmonie semakin membaik. Tangan dan kakinya dapat digerakkan lebih leluasa sekarang, tidak bergetar lagi seperti semula dilihat Daze. Semua itu mungkin karena Daze begitu rajin membawanya berjalan-jalan setiap hari sehingga syaraf-syarafnya yang tegang bisa berfungsi dengan baik lagi. Dokter yang menanganinya saja agak heran melihat perkembangan kesehatan halmonie yang begitu cepat, katanya,, mungkin halmonie bisa bertahan lebih lama dari yang perhitungannya. Daze sangat bahagia mendengar penjelasan-penjelasan dokter Zeiden.
 
Tapi bersamaan dengan itu, ada juga beberapa hal yang dikhawatirkannya. Carlson tidak menghubunginya setelah keberadaannya di Perth selama seminggu lebih ini. Beberapa kali dia berusaha mengontak kekasihnya itu tapi teleponnya tidak pernah diangkat,, begitu juga message yang dikirimnya, tidak dibalas-balas.
 
Keadaan Han Da’ ZeVe juga tidak baik. Mr dan Mrs Han sudah mengabarinya kalau mereka tidak bisa ke Perth saat-saat terdekat ini, para investor perusahaan sedang ganas-ganasnya menekan Han Da’ ZeVe yang berada dalam keadaan krisis, mereka menuntut laba yang sudah tidak mampu diberikan perusahaan.
 
Keanehan Dave juga memusingkan Daze. Dongsengnya yang satu itu semakin brutal saja, sering tidak kelihatan batang hidungnya, pergi pagi-pagi dan pulang larut malam, bahkan kadang-kadang dalam keadaan mabuk berat. Kalau ditanya, bawaannya menghindar terus. Entah apa yang terjadi dengannya!
 
Hal terakhir yang merisaukannya adalah perasaannya sendiri. Ya, pasti hanya perasaannya sendiri! Dia merasa ada sepasang mata yang selalu mengikutinya, mengawasi setiap gerak-geriknya, dan perasaan itu sangat kuat, terasa sangat nyata, tapi .. setiap kali dia berpaling kearah yang dirasakan, tidak terlihat seorangpun atau apapun di sana.
 
Seperti waktu di taman belakang dulu juga begitu, dia sangat yakin dengan perasaan itu. Juga tiga hari yang lalu, ketika dia baru keluar dari kamar mandi dalam kamar tidurnya pada malam itu, dia merasa ada sepasang mata yang menatapnya lekat-lekat, seakan-akan bermaksud menelannya bulat-bulat, mengerogoti seluruh tubuhnya yang saat itu memang tidak berbusana … perasaan itu berasal dari balik tirai jendela yang kacanya terbuka, tapi begitu dia berpaling ke sana, hanya angin malam yang meniupkan tirai-tirai tersebut sampai bergerak-gerak halus yang didapatkannya. ”Hanya angin,, hanya angin Dazy-a ..”, alasannya waktu itu.
 
Juga kemarin, ketika dia sedang mencari tongkat halmonie. Sudah seisi rumah digeledahnya tapi tidak didapatkan tongkat itu, sampai barang tersebut tiba-tiba muncul dihadapannya, menyandar di anak tangga terbawah tangga memutar yang menuju lantai atas. Jelas-jelas dia sudah melewati tangga itu tadi dan dia merasa yakin tidak melihat tongkat itu menyandar di sana, .. lalu mengapa tongkat itu tiba-tiba bisa berada di sana? Daze agak merinding juga saat itu.
 
Dan masih banyak lagi perasaan-perasaan ganjil lainnya, seperti .. bayangan melintas dari pintu terbuka yang tertangkap sudut matanya, begitu menghambur ke pintu tersebut tidak didapatkan bayangan apapun,, terus, barang-barang yang muncul tidak pada tempatnya di saat dia sedang mencari barang-barang tersebut, seperti ada sebuah tangan yang selalu menopangnya, membantunya di saat susah dan kebingungan, dan .. satu hal lagi yang paling berkesan di hatinya, hari ini dia mendapati sekuntum mawar jenis langka, berwarna putih bersih, tumbuh di taman belakang, disekeliling serumpun mawar yang lain.
 
Daze berjongkok menghadapi rumpun-rumpun mawar tersebut. Diperhatikannya mawar putih yang mekar dengan indah itu. Dia tidak habis pikir mengapa mawar selangka itu bisa tumbuh di sini, tidak mungkin dia tumbuh dengan alami, kemarin dia tidak melihatnya di antara serumpun yang lain.
 
“Pasti ada orang yang menanamnya di sini,, tapi siapa? .. halmonie?”, Daze mengeleng perlahan. Tidak, tidak mungkin halmonie! Halmonie tidak mampu berjongkok lama-lama sedangkan menanam mawar ini dibutuhkan ketelitian dan kekuatan kaki, sepasang kaki halmonie tidak berfungsi sempurna, berjalan saja dia membutuhkan bantuan tongkat.
 
“Apa mungkin Dave?”, sekali lagi Daze mengeleng. ’Anak itu, .. apa yang diketahuinya tentang bercocoktanam mawar? Tidak ada sama sekali! Bahkan dia ragu Dave mengetahui bunga mawar itu bentuknya seperti apa!’ Daze tersenyum kecut.
 
Nama Ye-jin juga tiba-tiba muncul di benaknya, tapi segera ditepisnya bayangan itu mengingat pembantunya itu tidak mungkin selancang itu, dia tidak mungkin berani menyentuh tanaman-tanaman kesayangannya.
 
“Lalu .. siapa?”, tanya Daze pelan sambil menyentuh kuntum mawar tersebut.

      
= = = @@@ = = =

_________________


♥️ "Everywhere ★ we learn ★ only from ★ those whom ★ we love" ♥️
avatar
DragonFlower

Posts : 94
Join date : 2013-06-17
Location : | Trapped in CNBLUE Dorm |

View user profile

Back to top Go down

Re: from Seoul to ... Perth-- by Lovelyn

Post by DragonFlower on Wed Jun 26, 2013 3:09 pm




from Seoul to ... Perth--
Chapter ~ 3


By : Lovelyn Ian Wong


Tiga hari kemudian ...
Daze mengetuk pintu kamar Dave. Tidak ada jawaban. Ia menunggu sebentar sebelum membuka pintu kamar itu. Sunyi di dalam. Tidak terlihat seorangpun. Wajar saja. Karena itu tidak ada yang membukakan pintu buatnya. Daze memasuki kamar itu. Keadaan di dalam agak kacau. Seprai di salah satu sudut kasur terlepas dari selipannya. Sedangkan selimut warna coklat polos mengantung dari tepi ranjang sampai ke lantai kayu gelap.
 
Daze mendesah perlahan. Lambat-lambat ia melangkahkan kakinya ke samping ranjang. Diselipkannya ujung seprai tersebut ke bawah kasur. Dan disapukannya tangannya berulangkali ke atas seprai guna merapikannya dari kekusutan. Kemudian ia melipat selimut yang tergeletak lemah itu, dan meletakkannya secara halus di kepala ranjang.
 
Daze menegakkan badannya. Pandangannya mulai menjelajahi setiap sudut kamar itu. Dave sudah tiga hari tidak pulang ke rumah. Walaupun dicari kemana-mana, ditelepon dan di SMS sampai pecah pulsa tetap tidak ditemukan. Tapi mengapa ia punya perasaan kamar ini tidak pernah ditinggalkan pemiliknya? Samar-samar ia bisa mencium bau rokok dan alkohol dalam kamar ini. Memang tidak tajam tapi cukup terasa. Dan ia yakin dengan indera penciumannya. Daze menarik nafas dalam-dalam. Iya, ini bau asap rokok dan alkohol.  Mungkin sudah lama terkurung di sini mengingat jendela-jendela dalam kamar tertutup rapat. Ataukah Dave pernah pulang secara diam-diam?
 
Sekali lagi Daze mengeledah kamar tersebut dengan pandangannya. Tirai jendela terlihat agak kuning. Mungkin sudah cukup lama tidak diganti. Dahi Daze berkenyit. Tidak biasanya pekerjaan Ye-Jin tidak sebecus ini. Kemudian ia mendekati deretan jendela dihadapannya dan menyentuh tirai-tirai yang menutupinya. Agak lembab. Asap rokok tercium semakin jelas dari posisinya. Daze meniup nafas ke atas lalu berbalik kembali ke dalam ruangan.
 
Perhatiannya jatuh ke meja kecil yang merapat di dinding dekat pintu. Benda-benda yang berserakan di sana menarik perhatiannya. Daze mendekati meja kecil itu. Kertas-kertas putih berukuran beberapa kali lipat kertas HVS memenuhi meja tersebut. Beberapa masih kosong. Sementara beberapa lagi sudah tergores guratan-guratan tebal tipis dari pensil HB. Terlihat indah walaupun ia tidak mampu menangkap apa yang terlukis di sana.
 
Daze meraih salah satu lukisan tersebut dan mendalaminya. Ia mengeleng. Tetap tidak mengerti lukisan apa itu. Kemudian perhatiannya teralih. Lukisan yang tertimpa lukisan dalam tangannya terlihat tidak asing. Lukisan ini nyata. Tidak abstrak seperti lukisan-lukisan yang lain. Lukisan itu memperlihatkan seorang wanita muda berambut panjang. Ekspresi wajah dan senyumnya sangat dikenalnya. Wajah Daze mendongak dan mengarah ke kaca kecil yang menempel di dinding. Ya, wanita muda itu dia sendiri.
 
Daze tersenyum perlahan. Sejak kapan Dave pandai melukis? Dan sejak kapan pula ia menyukai seni? Mungkin terlalu sedikit yang diketahuinya, tentang dongsengnya itu. Kegemarannya dan yang dikuasainya. Adakah yang diketahuinya? Tidak ada. Kebersamaan mereka memang termasuk pendek. Mereka terpisah dua negara setelah Dave mengikuti halmonie tinggal di Perth sejak memasuki sekolah menengah. Daze mengembalikan lukisan-lukisan itu ke posisi semula. Nafasnya terdengar berat ketika dihembuskan. Mungkin sudah saatnya ia meluangkan lebih banyak waktu buat Dave. Tekadnya.
 
Daze kembali melebarkan sayapnya di kamar itu. Hanya sebentar. Tidak ada lagi yang menarik dalam kamar itu. Semua terlihat seperti biasanya. Kamar khas cowok yang pengap dan tidak rapi.
 
Setelah memadamkan lampu yang menyala entah sejak kapan - karena ketika ia memasuki kamar itu, lampu tersebut sudah menyala- Daze keluar dari kamar itu.
 
========== ### ==========
 
Rathyan menyampirkan ransel ke punggungnya dan bermaksud keluar dari laboratorium sekolah itu. Berdesakkan dengan para mahasiswa yang lain. Tapi langkahnya terhenti di ambang pintu begitu melihat Natalie Park. Gadis itu menutup jalannya. Berdiri dengan dua kaki terpentang lebar di depan pintu. Beberapa mahasiswa yang melewatinya mengomel-ngomel karena halangan kecil dari gadis itu.
 
Tampang Rathyan berubah dingin. Natalie terlihat tidak berbeda dari yang dilihatnya, hampir dua minggu yang lalu. Wajahnya pucat dan tidak bercahaya. Bahkan ia terlihat lebih kurus. Gaun pendek yang biasanya menempel ketat di tubuh mungilnya menjadi longgar.
 
"What's up?" tanya Rathyan tanpa basa-basi.
 
Natalie tidak segera menjawab. Ia mengigit bibir bawahnya. Mungkin mengumpulkan kekuatan untuk mengutarakan maksudnya.
 
"Heyy!!!" teriak Rathyan tidak sabar.
 
Natalie tersentak. Terlihat jelas dari kepalanya yang terdorong ke belakang. Dan sepasang matanya yang terbelalak lebar.
 
"Kalau tidak ada yang kamu katakan, saya pergi sekarang!" kata Rathyan lagi.
 
Kakinya sudah terayun ketika suara serak Natalie terdengar.
 
"Dave. Kemana dia?"
 
Mata Rathyan menyipit. Itu lagi yang ingin dibicarakannya?
"Saya tidak tahu." jawabnya datar.
 
"Kamu tidak mungkin tidak tahu! Bukankah kamu sahabat karibnya?" seru Natalie. Terlihat emosinya tidak terbendung lagi.
 
"Hey, nona! Seorang sahabat karib tidak harus mengetahui keberadaan sahabat karibnya. Apa kamu tidak tahu kebenaran ini? Lagipula saya bukan pembantunya. Tanyakan pada yang lain dan jangan ganggu saya lagi!" murka Rathyan.
 
Natalie mundur selangkah. Tampang garang pemuda itu membuatnya gentar. Tiba-tiba sebuah tangan mengesernya pelan ke sisi pintu.
 
"Hey tuan tidak tahu diri!" seru suara si pemilik tangan. Seorang gadis cantik menyisip masuk di antara mereka. Jarak wajahnya dan dagu Rathyan sangat dekat.
 
"HEYY!!" Pemuda itu langsung mundur ke belakang. Matanya melebar tertuju pada gadis tak dikenal itu.
 
"Kamu dengar baik-baik! Sekarang temanmu yang bersalah. Jadi seharusnya kamu menyerahkannya dan bukan menyembunyikannya." sambung si gadis dengan galak.
 
Mulut Rathyan tergangga. "Siapa sembunyikan siapa?" serunya kebingungan setengah mati.
 
"Tentu saja kamu menyembunyikan teman berengsekmu itu BEGO!" sindir gadis tersebut. Bibirnya menyengir. Membuat badan Rathyan bergetar hebat.
 
"Onnie .. "
 
Natalie menarik tangan gadis itu tapi segera dikibaskannya.
"Jangan khawatir. Serahkan semuanya pada onnie. Pemuda tidak tahu diri itu harus diberi pelajaran."
 
Kemudian ia berpaling pada Rathyan. "Jadi kamu bisa memberitahu keberadaan sahabatmu pada kami sekarang?"
 
Rathyan mengatupkan mulut perlahan. Tampang dinginnya kembali mendominasi setelah tadi tidak terkendali akibat sikap gadis asing bengal ini.
 
"Untuk kesekiankalinya jawabanku tetap sama. Saya tidak tahu keberadaan Dave. Saya saja sudah mencarinya kemana-mana sejak beberapa hari yang lalu."
 
Rathyan bergerak dari posisinya. Tapi segera ditarik kembali oleh gadis itu.
"Kamu akan pergi begitu saja?"
 
"Heyy nona! Sudah saya jelaskan sejelas-jelasnya. SAYA TIDAK TAHU DAVE ADA DI MANA." sembur Rathyan sambil menarik kembali lengan kemejanya. Wajahnya berkerut semakin dalam. Kusut seperti baju yang tidak disetrika.
 
Lalu Natalie mulai menanggis tersedu-sedu. "Ottoke? .. What should i do? .. onnie ... ," ia memeluk gadis di sampingnya erat-erat. Membenamkan wajahnya ke pundak gadis itu. Menanggis semakin keras.
 
Gadis itu mengelus lembut punggungnya. "Don't worry, .. everything will be ok, dear .. believe me," ia mengangkat wajah Natalie dengan kedua tangannya, kemudian menghapus airmata yang mengalir deras itu. "Believe onnie."
 
"Ne .. ," jawab Natalie, masih dengan isakan tertahannya.
 
Rathyan memperhatikan adegan itu dalam kebisuan. Hatinya sedikit tersentuh walaupun biasanya adegan seperti itu tidak mampu mempengaruh hati batunya. Ia mendekati mereka. Menjatuhkan pandangannya ke mata Natalie.
"Saya akan berusaha mencari anak itu, dan menyeretnya ke hadapanmu. I promise."
 
Natalie mengalihkan perhatian pada Rathyan. Wajahnya terangkat, dan dengan susah payah mengapai sorot mata pemuda yang menjulang di hadapannya itu.
"Thanks ... " katanya lemah.
 
Rathyan mengangguk. Setelah itu ia keluar dari laboratorium itu. Hal yang sudah ingin dilakukannya sejak beberapa waktu lalu. Yang selalu tertunda karena dua gadis ini. Tapi sampai di lorong luar teriakkan gadis satunya terdengar lagi.
 
"Heyy pemuda angkuh!!"
 
Kening Rathyan berkenyit. Ia menoleh ke belakang.
"Pemuda angkuh?" tanyanya heran.
 
Gadis itu tertawa. "Benar. Kamu!" tangannya menunjuk Rathyan.
 
"Yyaa .. ," dengus Rathyan kesal.
 
Gadis itu kembali tertawa. Ia terlihat geli. Pipi mulusnya bersemu merah akibat aura panas yang perlahan naik ke wajahnya.Tapi kegelian itu hanya berkisar sekitar dua menit. Ia menghentikan tawanya, dan mengulum senyum pada Rathyan setelah itu.
 
"Semula saya merasa kamu sangat menjengkelkan. Sama saja dengan pria yang .. ," ia terdiam sambil melirik Natalie yang segera menundukkan wajahnya. " .. tapi ternyata saya keliru." lanjut gadis itu tanpa menyambung perkataan yang terputus tadi. "Kamu cukup gentleman walaupun dingin. Saya rasa kamu akan menjadi teman yang sempurna ..," kemudian ia mengulurkan tangan pada Rathyan, "Saya Gretchell Park, sepupu Nat. Senang berkenalan denganmu!"
 
Rathyan melirik tangan yang terjulur padanya. Ekspresi wajahnya tidak berubah. Tetap dingin dan datar. Ia tidak kelihatan tertarik membalas uluran tangan itu.
"Rathyan Jang." katanya sambil bergerak dari posisinya.
 
"O ..," mulut Gretchell terbuka. Pemuda itu melewatinya begitu saja begitu memperkenalkan namanya.
 
Gretchell memutar tubuh lambat-lambat, mengikuti punggung pemuda yang semakin jauh dari jangkauan matanya itu. Ia agak terguncang dengan reaksi Rathyan terhadap tawaran perkenalannya tadi. Pertama kali ia bertemu pemuda sedingin ini. Biasanya para pemuda yang dikenalnya akan berlomba-lomba menarik perhatiannya. Tapi pemuda yang satu ini lain daripada yang lain. Ia bukan hanya tidak tertarik padanya. Bahkan melirik wajahnya saja, ia kelihatan enggan.
 
"Onnie, are you ok?" suara Natalie menyadarkannya dari lamunan.
 
Gretchell tersenyum. Tangannya dilingkarkan ke leher Natalie. "Yes, i'm very very ok ..."
 
Kemudian ia melirik ke ujung koridor sekolah yang samar-samar masih terlihat bayangan Rathyan. Rathyan Jang, kamu yang saya cari!. Katanya dalam hati.
 
========== ### ==========
 
Rathyan mendaratkan sepasang kakinya ke lantai kamar Dave. Keringat dingin mengucur dari sekujur tubuhnya. Tadi ia hampir tertangkap basah oleh Ye-Jin ketika memanjat tanaman rambat di luar rumah. Pelayan menyebalkan itu sedang menuang sesuatu ke semak-semak di bawah kamar Dave. Mungkin air kotor atau air seni buat kesuburan semak-semak dan tanaman rambat tersebut?
 
Rathyan menyengir. Apa masih ada orang sekuno itu? Tapi mengingat cara berpakaian Ye-Jin, dan juga rambutnya yang disanggul tinggi-tinggi berbentuk balok besar. Rathyan yakin, ia tipe wanita seperti itu.
 
Rathyan menghentak-hentakkan sepatu botnya ke lantai. Serpihan-serpihan tanah basah dan rerumputan beterbangan ke mana-mana. Ia mendesah. Dilemparkannya ransel di punggungnya ke ranjang. Kemudian ia berjongkok, mengeledah dalam kotak karet di bawah jendela. Dapat! Soraknya dalam hati.
 
Ia menarik selembar kain bekas dalam kotak karet tersebut. Kain itu cukup lebar buat membersihkan kotoran-kotoran yang memenuhi lantai. Rathyan menyapu serpihan-serpihan tanah dan rerumputan dari lantai dengan kain di tangannya. Mengumpulkannya jadi satu. Kemudian memasukkannya ke tong sampah dekat meja. Rathyan membuang kain di tangannya. Lalu ia berdiri.
 
Pandangannya langsung jatuh ke meja. Ke kertas-kertas yang berserakan di atas meja. Dahi Rathyan berkenyit. Ada yang menyentuh hasil-hasil karyanya. Ia yakin posisi kertas-kertas itu berubah. Beberapa kertas paling atas bergerak dari tempat semula.
 
Rathyan membuka kertas-kertas tersebut dengan tangannya. Sketsa gadis berambut panjang terpampang di depan mata. Rathyan menyentuh wajah gadis itu. Ia tersenyum. Sepasang lesung pipi yang sangat dalam menghiasi wajahnya. Sesaat kemudian ia mengulung kertas-kertas yang berserakan tersebut, merapikannya kemudian memasukkan ke dalam ransel yang diambilnya dari atas ranjang.
 
Ia berjalan ke lemari. Mengambil kaos abu-abu berlengan panjang, juga celana panjang longgar warna putih. Kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi yang terdapat di kamar itu. Sebentar saja bunyi air terdengar dari dalam kamar mandi. drrrr ....
 
========== ### ==========
 
pip ... pip ... pip .... ponsel Daze menari-nari di atas rak buku ruang tamu. Tergesa-gesa Daze keluar dari dapur dan berlari ke ruang tamu. Disambarnya ponsel tersebut tanpa melihat dulu siapa peneleponnya.
 
"Hello .. ," serunya terengah-engah.
 
Sunyi di seberang.
 
"Hello ...," ulang Daze.
 
"Dazy ...," suara yang sangat dikenalnya terdengar dari seberang. Terdengar lemah dan agak enggan.
 
Nafas Daze memburu. "Carl? .. Ini Carl kan?"
 
"Ne ..," jawab suara itu.
 
"O my god!" teriak Daze. "Kemana saja kamu? Saya sudah menghubungimu berpuluh-puluh kali tapi tidak kamu balas!"
 
Hening sejenak. Kemudian, "Miane .. " kata Carlson lemah.
 
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Daze khawatir. "Kamu tidak apa-apa kan? Jangan menakutiku!"
 
"Saya baik-baik saja .. " sahut Carlson cepat. Membuat Daze bisa bernafas lega. "Hanya .. saja ... " perkataannya terpotong sampai di sini.
 
Wajah Daze berkenyit. Apa sebenarnya yang ingin dikatakan Carlson?
"Hanya apa? Keluargamu? .. A .. apa terjadi sesuatu dengan keluargamu?" suara Daze bergetar ketika kemungkinan ini berkelebat dalam pikirannya.
 
"Tidak. Bukan. Tidak tepat begitu. Memang ada kaitannya dengan appa, tapi .. tidak seperti yang kamu bayangkan. Beliau dan omma sehat-sehat saja jadi kamu tidak perlu khawatir."
 
"O ... kalau begitu apa itu?" tuntut Daze setelah menghembuskan nafasnya.
 
Tidak terdengar jawaban dari Carlson.
 
"Carl?!" tegur Daze. "Katakan padaku. Apapun itu aku ingin mengetahuinya!"
 
"Dazy .... " suara Carlson hampir tidak terdengar.
 
Daze tidak menyahut. Ia menunggu jawaban dari Carlson. Tapi lima menit berlalu dan pemuda itu masih membisu di seberang sana. Sepertinya ia belum siap menjelaskan masalah tersebut.
 
"Jika memang tidak sanggup mengutarakannya, biarkan saja." kata Daze menghibur. "Saya tidak akan memaksamu. O ya bagaimana dengan pekerjaanmu?"
 
Carlson mengeleng keras-keras, yang tentu saja tidak terlihat oleh Daze.
"TIDAK! Saya harus mengatakannya. SEKARANG JUGA. Saya sudah hampir gila karna didesak terus oleh appa. Dazya .. "
 
Wajah Daze berkerut semakin dalam. "Ya?"
 
"Kita ..." perkataan Carlson terputus. Ia diam selama beberapa detik. Daze menunggu sambungan kata-katanya dengan sabar. Tanpa menyadari sepasang mata gelap dan tajam mengawasinya dari balik pintu yang terbuka.
 
"Sebaiknya kita ... kita menenangkan diri dulu ... " Daze dapat menangkap hembusan nafas Carlson begitu ia berhasil mengeluarkan kalimat itu.
 
"Menenangkan diri? Maksudmu apa?" tanya Daze dengan suara gemetar. Ia menelan dengan susah payah. Samar-samar ia bisa menangkap arti perkataan Carlson. Tapi ia tidak ingin percaya. Carlson tidak mungkin melakukan ini padanya. Carlson tidak mungkin sekejam ini. Kekasihnya ini sangat mencintainya. Ia tahu. Jadi tidak mungkin!! TIDAK MUNGKIN.
 
"Jelaskan padaku! Kamu bercanda kan? Kamu pasti sedang bercanda? Carl ... "
 
"Miane Dazya .. jeongmal miane ... "
 
Tubuh Daze merapat ke dinding. Matanya mulai memanas. Perlahan air bening mengalir sepanjang pipinya. Jatuh dan pecah di lantai dingin.
 
"Dazy ... " suara Carlson terdengar lagi.
 
"Weo? .. Apa alasannya?" tanya Daze bergetar.
 
"Appa! Appa membuatku gila! Beliau mengetahui keadaan Han Da' ZeVe. Mengetahui keadaannya yang hampir bangkrut dan ... "
 
"CUKUP!!" Daze berteriak keras. "Saya .. saya ... mengerti sekarang. Tidak perlu kamu lanjutkan lagi ... "
 
"Dazya... " desah Carlson. "Kamu tahu saya sangat mencintaimu. Saya tidak ingin melepaskanmu, tapi saya tidak punya pilihan lain. Saya ... saya tidak bisa melawan ... saya .... "
 
"Sampai di sini saja Carl .. " kata Daze lemah. Pandangannya mulai berkunang-kunang. "Saya perlu waktu menenangkan diri ... "
 
tut ... prakk ... pengangan Daze pada ponselnya merengang. Ponsel malang itu terhempas ke lantai dengan menyedihkan. Seluruh isinya berhamburan. Daze melorot ke lantai. Ia menanggis tersedu-sedu sambil memeluk erat lututnya.
 
Sepasang mata di balik pintu ikut meredup. Selapis air berkilat-kilat, menari-menari di bola mata yang jernih itu. Tidak sampai menanggis. Tapi ia ikut bersedih. Hatinya terasa teriris-iris melihat Daze menanggis mengharubiru seperti itu. Kakinya bergeser, bermaksud memasuki ruangan itu. Tapi ditahannya. Tidak! Ia tidak boleh melakukannya.
 
Hampir dua puluh menit Daze menanggis seperti itu. Tidak ada yang menghiburnya. Atau menanyakan keadaannya. Halmonie sedang tidur dalam kamarnya. Dave tidak kelihatan batang hidungnya selama beberapa hari. Sedangkan Ye-Jin, sedang sibuk di taman belakang. Hanya pemilik sepasang mata itu yang setia menemaninya. Ikut bersedih melihat kesedihannya. Dan ikut berair merasakan airmatanya.
 
Daze berdiri dari posisinya dengan agak sempoyongan. Ia sangat lelah. Seluruh kekuatannya habis untuk menanggis. Pemilik sepasang mata itu bergerak. Setelah meletakkan sesuatu di rak penyangga guci dekat pintu, ia menaiki tangga dengan langkah lebar. Sekejap saja ia sudah menghilang di balik tikungan di lantai atas.
 
Daze sampai di ambang pintu. Ia menghapus airmata yang masih mengalir keluar dengan punggung tangannya. Kepalanya menunduk perlahan. Dan sesuatu berwarna putih di rak sepinggang dekat pintu tertangkap oleh matanya.
 
Saputangan? Tangan Daze gemetar ketika meraih saputangan itu. Siapa yang meletakkannya di sini? Tidak ada inisial apapun di saputangan ini. Polos berwarna putih bersih. Daze mendekatkan saputangan itu ke wajahnya. Ia menghapus airmata dengan saputangan itu. Wangi cemara yang teramat tajam tercium olehnya.
 
Bibir Daze bergetar. Ia melirik sekeliling lorong luar. Tidak terlihat bayangan siapapun di sekitar situ. Ditariknya nafas dalam-dalam. Wangi itu semakin terasa. Matanya terpejam. Menghirup dalam-dalam wangi alami yang keluar dari saputangan tersebut.
 
Siapa sebenarnya pemilik saputangan ini? Dave? Tidak! Dave tidak mengeluarkan wangi seperti ini. Lalu siapa?
 
========== ### ==========
 
"DAVEEEEE!!!"
 
Dave berpaling. Rathyan berdiri dihadapannya dengan tampang garang. Mata Dave terbelalak lebar. Agak sempoyongan akibat pengaruh alkohol, ia berusaha melarikan diri dari kepungan Rathyan. Tapi tidak berhasil. Sahabatnya yang berpostur tinggi itu sudah menekannya ke dinding.
 
"Pulang denganku SEKARANG JUGA!!"
 
"TIDAK!!" Dave menampar tangan Rathyan dari kerah kemejanya. "Lepaskan saya Rath! Apa-apaan ini?"
 
"Pulang kataku!" tekan Rathyan sekali lagi.
 
"NO!" teriak Dave. "Biarkan saya sendiri!"
 
Rathyan menarik kemeja Dave, kemudian mendorongnya keras-keras ke dinding.
"Kamu tahu banyak yang terjadi seminggu terakhir anak berengsek? Kamu tahu apa yang terjadi dengan noonamu? Apa kamu tahu bagaimana hancur hatinya setelah diputuskan kekasihnya hari ini?" geram Rathyan. Sekali lagi ia menghempaskan badan Dave ke dinding. "SADARLAH! Pulang denganku. Cuma kamu yang bisa membantunya. Aku tidak mungkin muncul di hadapannya. Tidak ada yang bisa kulakukan untuknya."
 
Dave membuka sepasang matanya yang terkatup. Ia menyengir. Antara sadar dan tidak ia menepuk wajah Rathyan.
"Apa pedulimu pada noonaku hah? Jangan katakan kamu tertarik padanya Rath. Noona tidak cocok untukmu!"
 
"Omongan apa ini - pemabuk?!" ujar Rathyan serba salah. Ditariknya kerah kemeja Dave sehingga kepala pemuda tersebut mendarat di pundaknya. "Ikut denganku!"
 
"TIDAK!" Dave mendorong Rathyan dengan kuat. Ia terlihat ketakutan dengan kata-kata Rathyan. "Please, jangan! Saya tidak mau pulang dalam keadaan begini."
 
Rathyan menghembuskan nafas keras-keras. "Kapan kamu berhenti mabuk-mabukan?" sesalnya. "O ya, saya peringatkan kamu menemui Nat. Dia menemuiku kemarin. Dan dia kelihatan serius tentang hubungan kalian. Jika kamu tidak menyelesaikan masalah antara kalian, saya khawatir dia akan mencari halmonie dan noonamu."
 
Dave menutup wajah dengan kedua tangannya. "Iya. Saya tahu. Saya akan mencari waktu membicarakan dengannya" katanya pelan.
 
Rathyan mengamati Dave dengan seksama. Tampang sahabatnya ini terlihat sayu. Tubuhnya juga mengeluarkan bau tidak sedap. Selain bau asap rokok dan alkohol, juga bau jamur yang menyengat. Mungkin sudah beberapa hari dia tidak mandi. "Jadi kamu tidak berniat pulang?"
 
Dave tersenyum hambar. "Tidak sekarang!"
 
Rathyan mengangkat bahunya. "Terserah kamu saja. Tapi ingat temui Nat. Saya tidak ingin diganggu lagi olehnya."
 
Sebelum mendapat jawaban dari Dave, Rathyan sudah keluar dari ruangan bar itu.
 
========== ### ==========
 
Rathyan menaiki tangga dua anak tangga sekaligus. Sesekali ia melirik ke belakang. Langkah kaki di belakangnya terdengar semakin dekat.
 
"DORONIM?!! APA ITU KAMU?" teriakan Ye-Jin terdengar.
 
Rathyan mempercepat langkahnya. Hup,, ia sampai di lantai atas.
 
"DORONIM?!"
 
Ye-Jin muncul dari tikungan lorong bawah, tepat di anak tangga pertama. Rathyan merapatkan tubuhnya ke dinding, dan mendengarkan. Langkah-langkah kaki menaiki tangga mulai terdengar.
 
"DORONIM!" panggil Ye-Jin lagi.
 
Rathyan menghembuskan nafas keras-keras. Wanita ini, seperti hantu gentayangan saja!. Gerutunya. Ia melepaskan diri dari dinding dan bergegas menuju kamarnya. Tapi sebelum ia sampai di depan kamar Dave, Ye-Jin sudah menapakkan kakinya di lantai atas.
 
"Doronim?!" Ye-Jin menyipitkan matanya. Bayangan Rathyan tidak terlihat jelas olehnya. "Doronim, jangan lari lagi! Ada yang ingin saya bicarakan." Wanita itu mulai mendekati Rathyan.
 
Tidak ada jalan lain. Sebentar lagi ia akan tertangkap basah oleh wanita itu. Untuk ke kamarnya, ia tidak punya waktu yang cukup. Lalu pintu kamar di depan yang terbuka sedikit tertangkap olehnya. Tanpa berpikir panjang lagi ia membuka pintu tersebut dan menyelipkan tubuhnya ke dalam. Segera ia menutup pintu itu. Tapi ia tidak punya waktu menguncinya.
 
Rathyan bersandar ke pintu kamar. Warna pink yang mendominasi kamar itu langsung memasuki kornea matanya. Keringat dingin mengucur dari wajah Rathyan. Ia mendengarkan, bunyi langkah kaki itu semakin dekat. Segera ia bergerak dari pintu itu. Berlari ke pintu kamar mandi yang berada di tengah ruangan.
 
tok .. tok .. tok .. , ketukan terdengar dari pintu. Rathyan berpaling ke sana.
 
"Doronim?!" suara Ye-Jin terdengar lagi.
 
drek .. suara halus terdengar di dekatnya. Rathyan segera menoleh. Gadis mungil berkulit mulus, dengan rambut basah sampai ke pinggang yang menempel ketat di wajah dan lengannya, hanya terbalut handuk besar keluar dari kamar mandi. Mata gadis itu langsung terbelalak lebar melihat kehadiran pemuda asing di kamarnya.
 
"KA ... ," teriakkannya segera tenggelam dekapan tangan Rathyan.
 
Klik ... Rathyan menoleh ke arah pintu kamar dengan tangan masih menempel di wajah Daze. Gagang pintu tersebut diputar. Segera saja Rathyan mendorong Daze masuk lagi ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya. Kemudian mendengarkan. Wanita menyebalkan yang mengikutinya itu pasti sudah berada dalam kamar. Ia bisa mendengar detak-detuk hak sepatunya yang mengalaukan hati di luar sana.
 
Tanpa sadar ia menekan tubuh Daze semakin merapat ke dinding. Sampai tidak ada ruang gerak lagi di antara mereka. Langkahnya terhenti. Ia menunduk dan mendapati pandangan murka dari Daze.
 
tok .. tok .. tok ...
 
Rathyan mengangkat wajah dan menoleh ke pintu.
 
"Agashi, apa anda berada di dalam? Sepertinya tadi saya melihat doronim masuk ke sini. Tapi sekarang dia entah pergi ke mana." kata Ye-Jin dari luar kamar mandi.
 
"Emmm ... ," suara Daze tidak keluar karena terbungkam tangan lebar Rathyan.
 
"Agashi!!!" ... tok .. tok ... tok ... ketukan-ketukan tersebut terdengar lagi. "Apa yang agashi lakukan?"
 
"Huhh ... , " dengus Rathyan. Tanpa berpikir panjang tangannya meraih gagang keran air dan membukanya.
 
srrrrr ... air langsung menyembur dari shower di atas kepala mereka. Sekejap saja tubuh mereka sudah basah kuyup.
 
"Apa agashi sedang mandi?" pertanyaan Ye-Jin terdengar lagi.
 
"Emmm ... , " jawaban Daze tidak terdengar Ye-Jin.
 
"Kalau begitu saya tidak menganggu agashi. Mungkin tadi saya salah lihat. Mungkin itu hanya bayangan lentera-lentera dinding. Selamat malam agashi ... "
 
tak .. tuk .. tak .. tuk ... , detak-detuk sepatu Ye-Jin semakin menjauh, dan pap,,, suara pintu ditutup.
 
"Huhh ..," Rathyan menghembuskan nafasnya. Kepalanya langsung terkulai lemas. Tanpa sadar wajah dan bibirnya menyentuh pundak halus yang terpojok di dinding.
 
"Emmmm ... ," protes Daze lewat suaranya yang tidak mampu dikeluarkan.
 
Rathyan tersadar. Ia mengangkat wajah, dan pandangannya bertemu dengan mata Daze. srrrrr ... Air masih menyembur deras dari shower di atas kepala mereka. Rathyan mengejap-ngejapkan matanya. Jarak mereka sangat dekat. Tangannya terulur, mematikan shower tersebut.
 
Hening seketika. Mereka saling menatap. Desahan nafas yang tercium jelas. Tubuh basah kuyup yang saling menempel ketat. Merapat ke dinding kamar mandi yang dingin. Daze melihat bagaimana t-shirt putih yang dikenakan pemuda di hadapannya menempel erat pada otot-ototnya. Juga celana jeans birunya, membungkus kedua kakinya rapat-rapat. Daze menelan perlahan.
 
Rathyan melepaskan dekapan tangannya. Entah mengapa ia tidak takut gadis itu akan berteriak. Dan kekhawatirannya memang tidak beralasan. Daze tidak bersuara. Hanya bisa memandanginya dengan pandangan sayu. Rathyan bergerak. Semakin mendekati wajah Daze. Sepasang mata mereka tidak berkedip. Saling menatap. Meredup perlahan-lahan. Lima senti ... empat, .. tiga, .. dua senti ... dan ... bibir menempel, lambat-lambat, terkunci dalam desahan tertahan.
 
 
========== ### ==========

_________________


♥️ "Everywhere ★ we learn ★ only from ★ those whom ★ we love" ♥️
avatar
DragonFlower

Posts : 94
Join date : 2013-06-17
Location : | Trapped in CNBLUE Dorm |

View user profile

Back to top Go down

Re: from Seoul to ... Perth-- by Lovelyn

Post by DragonFlower on Wed Jun 26, 2013 3:14 pm




from Seoul to ... Perth--
Chapter ~ 2

By : Lovelyn Ian Wong


Rathyan menekan tubuh Daze yang hanya terbalut handuk besar dan basah itu ke arahnya. Menempel ketat di tubuhnya yang juga basah. Otot-otot tubuh dan lengannya terlukis jelas dibalik T-shirt tipis yang dikenakannya. Bergesekan dengan handuk yang dipakai gadis itu. Bibirnya terbuka, melumat bibir mungil tersebut. Daze tidak membalas. Tubuhnya kaku, begitu juga bibirnya. Siapa pemuda ini?. Pertanyaan itu berulangkali melintas dalam pikirannya.

Walaupun begitu, dia tidak mendorong tubuh itu. Tidak menolak ciuman-ciumannya yang mulai menganas. Dia merasakan sepasang tangan itu mulai bergerak liar. Menyentuh pundaknya, menurun ke pinggangnya, dan perlahan sampai di bagian paha dan menyingkap handuk pendek yang membalut tubuhnya. Daze mendesah. Belum pernah dia merasakan ciuman-ciuman sepanas ini. Carl memang sering menciumnya. Tapi tidak seperti ini. Ciuman-ciuman Carl terkesan gentleman. Hanya menempel dan tidak melumat. Juga tangannya tidak bermain seberani ini. Carl sangat menghormatinya, dan dia tahu hubungan seperti itu yang benar. Tapi entah mengapa, dia merasa melayang dengan permaian pemuda asing ini. Menikmatinya dan tidak ingin dia berhenti. Jika tidak, dia akan mati saat ini juga.

Bibir ini begitu lembab, pikir Daze. Begitu sedap. Tubuhnya juga begitu padat dan wangi ini … Daze menghirup dalam-dalam. Tiba-tiba dia tersentak. Matanya terbuka. Wangi Cemara!
Daze dapat melihat dengan jelas wajah asing yang menempel di wajahnya. Sepasang mata dengan garis-garis panjang itu terpejam. Hidungnya yang mancung menekan di pipinya. Dan tangan itu semakin naik ke bagian tubuhnya yang paling sensitif.

“Kamu .. ,” desah Daze di sela-sela nafasnya yang memburu. “Saputangan … “

Rathyan menghentikan aktifitas tangan dan bibirnya. Sepasang mata bening yang bersinar tajam tersebut terbuka. Bertemu dengan sepasang mata redup milik Daze.

“Saputangan?”suaranya terdengar agak kering—karena nafsu yang sudah mengendalikan sekujur tubuhnya.

“Kamu … kamu pemilik saputangan itu?”tanya Daze pelan. Seharusnya dia berteriak—ya, seharusnya dia melakukannya. Tapi tidak tahu mengapa, dia tidak melakukannya. Atau .. hal itu sama sekali tak terpikir olehnya. Pemuda ini kelihatannya tidak akan melakukan sesuatu yang buruk padanya.

“Bagaimana kamu tahu?” tanya Rathyan. Suaranya masih terdengar serak.

“Wangi cemara ini … ,” jawab Daze. Mungkin dia akan menganggapku gila, pikirnya.

“Wangi cemara?”Lalu pemuda itu tertawa renyah. “Benar, .. saputangan itu milik saya .. “ngakunya.

Daze menelan ludah perlahan. “Siapa kamu sebenarnya?” dia memberanikan diri bertanya. “Mengapa bisa berada di sini?”

“Saya?” Rathyan bergerak ke pintu dan mengambil handuk yang tergantung di sana. Disampirkannya handuk itu ke pundak Daze. “Saya tinggal di sini.”sambungnya.

“Di sini?” Daze terheran-heran. “Bagaimana bisa?”

“Saya teman kuliah Dave. Dan sudah setahun saya tinggal di sini.”

Mata Daze langsung terbelalak lebar. “Mwo? Setahun? Ba .. bagaimana .. mungkin? Apa halmonie dan Ye-Jin mengetahuinya?” tanyanya bertubi-tubi.

“Tidak.” Jawab Rathyan. “Mereka tidak mengetahuinya.”

“Tapi .. mengapa bisa begitu?” Daze semakin tidak mengerti.

“Karena Dave tidak menginginkannya. Dia tidak ingin mendapat masalah dengan halmonie, karena itu dia memintaku menyembunyikan keberadaanku di sini.”

“Dan kamu menyetujuinya?”tanya Daze tak percaya. “Ide gila ini?”Suaranya memelan dan kepalanya tertunduk perlahan. Dia terdiam. Berbagai masalah berputar-putar dalam otaknya. Tentang halmonie, Carl, Dave, bahkan Han Da’ ZeVe dan … pemuda ini. Tiba-tiba .. sebuah dugaan melintas di pikirannya. Mungkinkah?

Daze mengangkat wajahnya. Menghadapi pemuda itu. “Orang yang sering mengamatiku, .. apakah .. apakah kamu?” tanyanya terputus-putus.

Rathyan membalas pandangannya. “Kamu tahu?”

“Tidak!” Daze mengeleng keras-keras. “Saya tidak tahu. Saya hanya menduganya. .. Saya selalu merasa .. merasa ada sepasang mata yang selalu mengikuti langkahku dan membantu menyelesaikan masalahku. Jadi benar, .. itu kamu?”

Rathyan tidak menjawab. Sambil lalu, dia mengangkat bahunya. Selama semenit dia tidak bergerak dari posisi semula. Begitu juga Daze. Mereka diam dalam kebisuan. Baru kemudian Rathyan bergerak perlahan, mendekati gadis yang termangu itu. Wajahnya ditundukkan, hampir menyentuh wajah mulus yang kemerah-merahan itu.

“Sebaiknya kamu mengeringkan diri dulu.”dia menyentuh rambut Daze. “Tubuh dan rambutmu basah semua. Nanti kamu sakit.” lanjutnya dengan nada lembut. Lalu dia terdiam lagi. Berpikir. Seperti mempertimbangkan sesuatu untuk dikatakan. Tapi dia tetap membisu selama lima menit ke depan.
   
Daze mencuri pandang lewat sudut matanya. Tubuh itu menjulang di hadapannya. Tubuh yang sangat jangkung dan berisi. Rambut yang sedikit kepanjangan dan kering-kering basah menempel di wajahnya yang keras. Sepasang mata gelap yang sangat jernih itu bersinar tajam seperti elang, tapi sekarang terlihat sangat lembut. Hidung mancung itu perpaduan yang sempurna buat bibirnya yang padat dan menantang. Wajah yang sangat mudah menaklukkan hati para gadis. Pikir Daze.

“Saya pergi dulu … .”

Perkataan tersebut menyadarkan Daze dari lamunannya. Dia mengangkat wajah ke atas. Tiba-tiba pemuda itu mencium pipinya. Daze sangat terkejut. Mulutnya mengangga. Dan sebelum dia sempat bereaksi apa-apa, pemuda itu sudah berjalan ke arah pintu.

“Heyy siapa namamu?” teriak Daze. Matanya langsung terpejam rapat-rapat setelah menanyakan pertanyaan itu. Untuk apa kamu mengetahuinya? Itu bukan urusanmu Dazya! kutuk sebuah suara dalam hatinya.

Pemuda itu berbalik, dan .. dia tersenyum. Daze mengangga untuk kedua kalinya. Ya Tuhan, senyum itu …. Lututnya tiba-tiba menjadi lemah. Dia hampir tersungkur kalau tidak segera bersandar ke dinding.

“Rathyan Jang!”

Nama itu berhasil tertangkap samar-samar olehnya.

Daze melihat Rathyan membuka pintu dan melongok keluar. Setelah menoleh padanya, untuk terakhir kalinya, dia menghilang dari pandangan Daze.

***** ><><>< *****


Rathyan sampai di kamarnya.

Bukkkk … , pintu kamar ditutup keras, ditendang dengan kakinya.

Dia menyandar ke pintu, dan bagian belakang kepalanya terantuk keras ke daun pintu. Dia menarik nafas dalam-dalam, menahannya, kemudian menghembuskannya kuat-kuat, berulangkali. Nafasnya memburu dan tidak teratur. Jantungnya berdegup kencang. Dia menepuk dada berkali-kali. Kemudian beralih ke wajahnya. Matanya terpejam dan menelan dengan susah payah—Berusaha menenangkan perasaannya yang tak terkendali.

Bayangan Daze yang hanya terbalut handuk tidak juga terusir dari pikirannya. Rathyan mengigit bibir keras-keras. Bukan pertamakalinya dia bermesraan dengan seorang wanita. Tapi entah mengapa, ketika menyentuh Daze, dia merasakan sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak pernah dirasakannya. Gelora yang begitu kuat. Tak terkendali oleh pikiran dan tubuhnya.

Rathyan mengeleng keras-keras. Tidak bisa! Saya butuh cool shower,SEKARANG!

Rathyan berlari ke kamar mandi. Membuka selang air dan menyiram badannya dengan air dingin. Begitu air beku tersebut menyentuh tubuhnya, Rathyan langsung mengigil kedinginan. Suhu di luar memang sudah turun secara drastis di pertengahan bulan Juli ini. Hampir mencapai nol derajat celcius. Bahkan, mungkin sebentar lagi salju akan turun.

Rathyan membilas wajah dengan tangannya, kemudian menyapu rambutnya ke belakang. Matanya tertutup rapat. Siraman air dingin cukup membantu menyegarkan pikirannya.

Grrrr … dia mengigil lagi. Dengan tangan gemetar, dia menutup keran air. Keluar dari tempat shower, dia meraih handuk yang tergantung di dinding. Membilas badannya, kemudian melepaskan semua kain yang melekat di badannya. Rathyan melilitkan handuk yang dipakai untuk membilas badannya itu ke pinggangnya, kemudian keluar dari kamar mandi.

***** ><><>< *****


”Doronim!!”

Langkah Rathyan terhenti. Akhirnya datang juga!, desisnya dalam hati. Orang kedua di dunia ini yang tidak ingin dilihat dan ditemuinya.

Rathyan berbalik. “Tuan Park …, “ balasnya dingin.

“Pak presiden meminta doronim pulang sekarang juga .. ,” kata pria berpakaian perlente di hadapannya—Tuan Park.

Rathyan tersenyum mengejek. “Tidak mau!” kemudian dia memutar tubuhnya dan mulai meneruskan langkahnya yang tertunda.

“Doronim!” panggilan itu terdengar lagi.

“Sudah kubilang tidak mau, tuan Park. Biarkan saya sendiri!” seru Rathyan tanpa menghentikan langkahnya.

“Jangan menyudutkanku, doronim.” Tuan Park tidak menyerah. “Aku hanya mengikuti perintah, jadi mohon doronim mengikutinya .. ”

“Kalau begitu makan saja perintah itu!”balas Rathyan—cuek.

“Doronim!”

Tiba-tiba pria itu sudah hadir di hadapan Rathyan—menghadangi jalannya. “Ikut denganku!”ujarnya tegas.

Rathyan menatapnya lekat-lekat. Kesabarannya perlahan-lahan menghilang melihat keteguhan pria di hadapannya ini. “Memangnya apa yang akan kau lakukan jika saya tidak mau?”

Tuan Park membalas pandangannya. “Pak presiden sedang berada di Perth … ,” suaranya memelan. “Kebetulan beliau ada rapat tahunan yang harus dihadiri selama seminggu di sini … Beliau ingin bertemu dengan doronim … “

“Jadi, apa saya berkewajiban menemuinya?”

Tuan Park tidak menjawab. Sesaat mereka tengelam dalam kebisuan. Tidak ada yang bersuara. Hanya para siswa yang melintas di sekeliling mereka yang menimbulkan suara-suara berisik kecil. Beberapa di antara mereka saling berbisik dan sesekali melirik Rathyan. Rupanya mereka heran mendapatkan seorang pria berpakaian bagus sedang berbincang-bincang serius dengan pemuda aneh yang selama ini mereka kenal.

Rathyan tidak terusik dengan keadaan di sekelilingnya. Dia menatap tajam pria kurus di hadapannya. Tuan Park tidak terlihat gentar. Dia tetap bersiteguh dengan pendiriannya. Berdiri tegak di tempatnya—tidak bergeming sedikitpun.

Rathyan jadi sadar tidak ada gunanya membantah. Pria ini tidak akan menyerah. Dan jika perlu, dia akan mengerahkan orang-orangnya untuk membekapnya saat itu juga—seperti yang pernah dilakukannya dua tahun yang lalu. Ketika dia melarikan diri ke Maldives gara-gara tidak puas dengan universitas yang dipersiapkan ayahnya untuknya. Tuan Park hanya mengikuti perintah. Dan dia tidak akan peduli dengan yang lain. Orang yang benar-benar bisa diajak kompromi dan yang mungkin mau mendengarkan keputusannya hanya satu, yaitu orang yang paling berkuasa—abojinya sendiri, Mr. Oliver Jang, presiden direktur Max-Global, perusahaan milik orang Korea yang paling berpengaruh lima besar di New York, USA.

“Beri saya waktu … ,” akhirnya Rathyan berkata, “Dua hari. Dua hari kemudian saya akan menemuinya … “

Sikap kaku tuan Park mengendur. Dia membungkuk perlahan. “Baik. Saya akan memberitahukannya pada pak presiden .. “

“Dia ada di mana?” tanya Rathyan.

“Hotel Perth … ,” jawab tuan Park masih dengan sikap hormat.

Rathyan mengangguk. “Saya akan datang ke sana.”

Keadaan hening kembali. Rathyan menarik tali ransel yang melintang di depan dadanya, dan juga memperbaiki jaket jeans lusuh yang melekat di tubuhnya. Kemudian dia mengibaskan tangannya pada tuan Park.

“Saya pergi.” Dia berlalu dari situ dengan langkah lebar.

Meninggalkan tuan Park yang mengeleng-gelengkan kepalanya. Anak keras kepala. Batin tuan Park.

***** ><><>< *****


”Yooo,,Pemuda angkuh!”

Oh tidak! Jangan lagi! Teriak Ratyan dalam hati. Mengapa orang-orang ini begitu banyak waktu mencampuri urusan orang lain?

Rathyan memejamkan mata sambil mengepalkan sepasang tangannya. Langkahnya tidak berhenti. Siapa yang memanggilnya itu, dia tidak peduli. Dia tidak ingin tahu, dan juga tidak ingin diganggu. Setelah peristiwa menyebalkan di gerbang depan universitas Murdoch tadi, dia tidak ingin bertemu dengan siapapun. Cukup sudah untuk hari ini. Dia perlu waktu untuk menenangkan diri.

“Heyy kamu!!”

Sebuah tangan tiba-tiba menarik ujung jaketnya. Membuat dia hampir terpelanting ke belakang.

“Yaishhh!!” teriak Rathyan. Langkahnya terhenti saat itu juga.

Mendadak, sebuah bayangan menyelip ke hadapannya. Sepasang mata Rathyan menyipit perlahan.

“Ingat saya?” tanya orang itu.

Dia seorang cewek berbadan mungil. Mengenakan gaun tak berlengan yang sangat pendek—memperlihatkan sepasang kakinya yang mulus. Rambutnya hitam lebat dan tergerai panjang, menutupi punggung dan lengannya yang tak bercacat. Jika dalam keadaan biasa, Rathyan mungkin akan menganggapnya menarik. Tapi tidak saat ini! Perasaannya sedang tidak enak dan dia tidak ingin diganggu oleh siapapun. Bahkan oleh gadis tercantik dan terseksi di dunia ini

“Tidak!” jawab Rathyan dingin. Kakinya kembali terjulur ke depan. Tidak mempedulikan tampang mengangga cewek itu.

“Heyy tunggu sebentar!”

Sesuatu kembali menahan langkah Rathyan. Apalagi kalau bukan tarikan cewek bengal itu di jaketnya!

“Hentikan ulahmu!!” Dengan kesal Rathyan mengibas tangan cewek itu dari ujung jaketnya. “Apa maumu?”

“Kamu benar-benar tidak ingat padaku?” cewek itu mengulangi pertanyaannya. Ekspresinya terlihat tidak percaya. “Bagaimana mungkin? Baru tiga hari yang lalu .. “

“Memangnya kamu siapa?” Rathyan balas bertanya.

Tampang cewek itu mengeras. Dia mendekati Rathyan, dan tiba-tiba tangannya menyentuh jidat pemuda itu. “Kamu pikun ya?”

“Yaishh!!” Rathyan langsung mundur beberapa langkah. “Jangan menyentuhku!” omelnya keras.

Tawa cewek itu meledak. “Ha .. ha .. “ Dia terlihat puas telah berhasil mempermainkan Rathyan. Lima menit kemudian dia melanjutkan perkataannya. Tampang Rathyan sudah gelap waktu itu. “Baiklah, saya tidak mengodamu lagi. Dengar baik-baik! Saya Gretchell, kakak sepupu Natalie … “

Mulut Rathyan mengangga perlahan. Peristiwa di laboratorium sekolah tiga hari yang lalu terbayang kembali dalam pikirannya.

“Ingat?” Wajah Gretchell condong ke depan, hampir menyentuh dagu Rathyan.

Pemuda itu tersentak. “Yaishh!!” gerutunya. “Bisakah kamu jangan dekat-dekat begini?!”

Gretchell mengangkat bahunya. “Ingat tidak?” tanyanya lagi.

Rathyan meliriknya dongkol. “Iya.” Jawabnya tidak ikhlas. “Kalau masalah Natalie yang ingin kamu bicarakan, sebaiknya kamu urungkan saja niat itu. Saya sudah memaksa Dave untuk menemuinya. Tentang si pemalas itu mau menemuinya atau tidak, saya tidak jelas ...” sambung Rathyan.

Gretchell tersenyum. Tangannya melayang ke pundak Rathyan, mendorongnya halus. “Tenang saja. Bukan dengan maksud itu saya kemari.” Katanya. “Meskipun begitu, saya harus berterimakasih padamu. Keadaan Nat sudah baikkan. Dave sudah mendatanginya kemarin. Dan mereka sudah mendiskusikan apa yang harus dilakukan dengan bayi dalam kandungan Nat. Ya walaupun masih tidak jelas, paling tidak perasaan Nat sudah terkendali … “

Rathyan mengangguk, “Bagus kalau begitu .. “ katanya. “Berarti tidak ada masalah lain kan?” Dia memutar tubuh dan melanjutkan langkahnya.

“Tunggu sebentar!” cegah gadis itu. “Saya kemari khusus mencarimu .. “

“Mencariku?” Rathyan menoleh padanya.

“Iya.” Jawab Gretchell. “Bisa kita makan siang bersama?”

Kening Rathyan berkenyit. “Untuk apa?”

“Untuk … pertolonganmu pada Natalie.”

Mata Rathyan berkejap. “Lupakan saja!”suaranya terdengar tawar. “Saya lakukan itu karena tidak ingin terganggu lagi oleh kalian. Jadi lupakan saja!”

Gretchell terpaku. Perkataan itu begitu menusuk dan tak tersangka. Wajahnya mengeras perlahan-lahan. Ditolak mentah-mentah dan dianggap angin lalu, ini pengalaman pertamanya seumur hidup. Pemuda tidak tahu diuntung!, teriaknya dalam hati.

Wajahnya tertuju ke depan. Sosok Rathyan sudah semakin jauh dari pandangannya.

***** ><><>< *****


Ayunan kaki Daze sangat pelan di lorong lantai atas. Wajahnya muram dan tidak bersinar. Berlainan dengan gemerlapnya cahaya bintang-bintang yang menerobos masuk lewat jendela-jendela kaca besar di ujung lorong.

Tiga hari setelah pembicaraannya dengan Carlson, Daze sadar hubungan selama empat tahun itu sudah berakhir. Benar-benar berakhir. Bukan sebatas menenangkan diri seperti yang diharapkan Carlson. Dan ini bukan kesalahan kekasihnya itu, Daze tahu.

Carlson sangat mencintai orangtuanya. Dia tidak pernah membantah keinginan mereka. Tidak pernah memberontak terhadap semua perintah-perintah mereka. Dia anak berbakti. Tipe pekerja keras yang selalu ingin menyenangkan dan membahagiakan hati orang-orang yang dicintainya.
Menyuruhnya menjatuhkan pilihan antara dia dan orangtuanya, adalah keputusan yang sangat kejam. Tidak berbeda dengan mengarahkan sebilah pisau, kemudian menancapkannya ke dalam hatinya. Ini sangat tidak adil. Carlson pasti tidak bisa memilih. Dia pasti sudah mengalami guncangan batin yang sangat berat sebelum memutuskan untuk meneleponnya tiga hari yang lalu. Benarkah tiga hari yang lalu? Mengapa dia merasa baru terjadi kemarin? Rasa sakit itu sangat terasa sampai sekarang. Daze tersenyum kecut.  

Saya yang harus mengambil keputusan untuknya. HARUS! Walaupun sakit .. walaupun hati ini sangat sakit … Lebih baik begini daripada perasaannya terombang-ambing tidak jelas. Kekasih bisa dipilih, .. tapi orangtua, untuk selamanya kan?” tanggis Daze dalam hati.

Daze sampai di depan kamarnya. Dia mendengarkan, suasana di situ sangat sunyi. Halmonie memang sudah tertidur di kamarnya sehabis makan malam dua jam yang lalu. Sedangkan Ye-Jin, karna kekasihnya yang kerja di pabrik mobil mengalami kecelakaan mendadak, dia diliburkan hari itu oleh Daze.

Pandangan Daze beralih ke pintu di sebelah kamarnya. Sinar buram dari lentera dinding jatuh mengenai pintu itu. Menciptakan gurat-gurat panjang dari daun pintu sampai ke lantai.

“Anak itu belum kembali jua?”

Daze bergerak perlahan ke pintu itu. Berdiri sejenak di sana, sebelum memutuskan membuka pintu tersebut. Kegelapan langsung menyambutnya. Daze meraba dinding. Mendapatkan saklar lampu dekat ambang pintu, dia menekannya. Kamar tersebut langsung terang-benderang.

Daze melebarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Tidak banyak perubahan dalam kamar Dave sejak kunjungannya beberapa waktu yang lalu. Daze kemudian melangkahkan kakinya ke dalam kamar.

Dia menuju ke meja kecil yang menyampir di dinding. Tidak banyak barang yang terdapat di sana. Lukisan-lukisan yang dilihatnya beberapa waktu lalu tidak terlihat lagi. Tergantikan oleh sebuah buku gambar, sekotak pensil warna dan … sebungkus rokok yang tinggal sebatang.

Daze meraih bungkus rokok tersebut. Dahinya berkenyit. Sejak kapan Dave belajar merokok? Apa dia pernah kembali beberapa hari terakhir ini? Jika tidak, siapa pemilik rokok ini?

Krekkk …. Kresak-kresek halus dari belakang membuat Daze memutar badan—menghadap ke jendela. Hatinya berdegup lebih kencang. Siapa itu?. teriakannya nyangkut di tengorokan. Tanpa sadar tangannya meraih sesuatu dari atas meja. Saat itu dia tidak tahu apa yang diraihnya. Yang jelas naluri melindungi diri yang memaksanya melakukan itu.

Jendela yang tertutup tirai terbuka perlahan. Daze menelan ludahnya. Dia bergerak secara diam-diam. Setengah perjalanan, jendela tersebut sudah terbuka seluruhnya, dan sebuah wajah yang tanpa disadari telah dihapalnya di luar kepala, nongol dari balik jendela.

“Ka .. kamu?” Mata Daze melebar. Barang yang dipegangnya, yang ternyata sebingkai foto, jatuh ke lantai. Brakk ….

Rathyan kelihatan tidak kalah terkejutnya dengan gadis itu. Kakinya yang bermaksud dilangkahkan ke dalam kamar tergantung lemah di kerangka jendela.

“O kamu berada di sini?” tanyanya pelan.

Daze tidak menjawab. Sejenak keheningan menyelimuti mereka. Rathyan membersihkan tengorokannya, sebelum memutuskan meloncat ke dalam kamar. Tubuhnya sudah beku akibat terpaan angin malam yang membawa serpihan-serpihan es di udara luar.

Hup .. dia mendarat ke lantai.

“Begini caramu masuk ke sini?” tanya Daze dengan pandangan tak percaya.

Rathyan mengangkat wajahnya. “O .. ,” hanya itu jawaban yang keluar dari mulutnya.

Berulangkali dia mengosok-gosokkan tangan di lengan dan tubuhnya. Grrrr .. jaket jeans yang dia kenakan dirapatkan semakin dalam di depan dada. Kemudian dia berjalan ke lemari, mengeluarkan sebuah tas besar dan melemparkan pakaian-pakaian yang tergantung di sana ke atas tas tersebut. Dia berjongkok dan mulai memasukkan pakaian-pakaian itu ke dalam tas.

Daze memperhatikan semua yang dilakukan pemuda itu dalam kebisuan, Selesai dengan kesibukkannya, Rathyan bangkit dari lantai. Tidak merasa grogi, dia buka begitu saja jaket yang dikenakannya di hadapan Daze. Kemudian diteruskan ke kaos berlengan panjang yang tersisa di tubuh bagian atasnya. Mata Daze terbelalak lebar. Setelah peristiwa di kamar mandi tiga hari yang lalu, dada padat berisi itu terekpos lagi dihadapannya.

Apa maunya anak ingusan ini? Memamerkan kesempurnaan tubuhnya? Apa itu penting? jerit Daze dalam hati. Dia menelan dengan susah payah.

Rathyan memutar tubuhnya ke lemari. Setelah membilah-bilah di antara pakaian-pakaian yang tersisa, dia mengambil sepotong sweater berwarna biru laut dengan kerah tinggi dan mengenakannya. Dia melakukan semua itu dengan tenang, seakan tidak ada yang salah dengan perbuatannya.

Kemudian dia beralih pada Daze. “Saya akan pergi selama beberapa hari .. ,” ujarnya sambil meraih tas yang tergeletak di lantai.

“Ke mana?” tak tertahankan, pertanyaan tersebut terlontar dari mulut Daze begitu Rathyan melewatinya.

Pemuda itu menghentikan langkahnya di depan jendela, lalu memutar tubuh menghadapi Daze. “Ada urusan penting.” Ujarnya. “Saya harus segera menyelesaikannya. Tidak lama, paling tiga-empat hari…,”dia berhenti sampai di situ. Diamatinya Daze lekat-lekat. Pikirannya sedang berkutat dengan sesuatu saat itu. Sedang mempertimbangkan sesuatu yang ingin dilakukannya. Dan ia kelihatan ragu-ragu.

Setelah mengepalkan tangan dan mengambil tekad bulat, Rathyan melangkah lebar ke tempat Daze berdiri. Diraupnya kepala gadis itu kearahnya dan tanpa dikomando dia mendaratkan ciuman ke jidatnya. “Saya akan segera kembali … ,” bisiknya di telinga gadis itu.

Sebelum Daze hilang dari keterkejutannya, pemuda itu sudah berlalu ke jendela. Dalam sekejap, sosoknya hilang dari pandangan Daze.


***** ><><>< *****

_________________


♥️ "Everywhere ★ we learn ★ only from ★ those whom ★ we love" ♥️
avatar
DragonFlower

Posts : 94
Join date : 2013-06-17
Location : | Trapped in CNBLUE Dorm |

View user profile

Back to top Go down

Re: from Seoul to ... Perth-- by Lovelyn

Post by DragonFlower on Wed Jun 26, 2013 3:20 pm



from Seoul to ... Perth--
Chapter ~ 2

By : Lovelyn Ian Wong


"Pak presiden, doronim sudah berada di sini ... "

Tuan Park membungkukkan badan dalam-dalam pada pria setengah baya berpenampilan konglomerat yang duduk di sofa megah salah satu ruangan VIP hotel Seoul. Tangannya perlahan mengarah ke Rathyan yang berdiri cuek di sebelahnya. Pria yang disapanya tidak bergerak. Terus saja menekuni dokumen-dokumen yang terhampar di atas meja--di hadapannya.

"Hmmm .... ," dia membalik dokumen di tangannya, tanpa melirik sedikitpun pada mereka.

Rathyan mencibir, kemudian menjatuhkan dirinya di sofa pendek--di depan pria yang tidak peduli itu.

"Sudah puas bermainnya?" terdengar pria tadi bertanya. Pandangannya masih tidak terlepas dari dokumen yang sekarang sedang ditanda-tanganinya.

Rathyan menjadi berang. Tubuhnya segera ditegakkan. "Saya tidak main-main!"

Pria itu, yang tidak lain adalah abojinya--Oliver Jang, mengangkat wajahnya. Dokumen tadi dilemparnya ke atas meja. "Tidak main-main?! Melarikan diri dari New York. Melepaskan diri dari universitas paling bergengsi di negara paling berjaya di dunia. Itu yang kamu katakan tidak main-main?!" Mata Oliver bersinar penuh kemarahan.

Rathyan membalas pandangan Oliver. Dia tidak gentar. Sudah sejak dulu hubungannya dengan ayahnya ini memang tidak akur. Dia tidak menyukai perbuatan Oliver yang terlalu mengikatnya. Menekan semua gerak-geriknya. Seharusnya ayahnya ini sadar kalau dia berjiwa pemberontak. Dia paling benci dikuasai. Semakin dipaksa, dia akan semakin menjauh. Bahkan, mungkin menghilang begitu saja.

"Saya senang di sini!" sahut Rathyan keras. "Lagipula saya tidak merasa ada yang salah dengan kehidupanku di sini!"

"Kehidupan bebas maksudmu?" ejek Oliver. "Dengan semua sampah itu?"

Wajah Rathyan memerah. Dia sangat marah. Tangannya terkepal erat. Perkataan ini dianggapnya sudah keterlaluan. Segera Rathyan meloncat dari sofa yang didudukinya.

"Terserah apa yang kau katakan!" katanya keras.

Dia memutar tubuh ke arah pintu dan mulai mengerakkan kakinya. Setelah dua langkah, dia menoleh kembali kepada Oliver. "Kamu selamanya tidak akan menghargai hasil karyaku," katanya pelan. Setelah berpikir sebentar, pemuda itu menyeringai, "Tapi tentu saja. Apa yang kamu ketahui tentang seni? Yang ada di otakmu hanya bisnis, laba dan nama besar. Begitu-kan, Mr. Oliver Jang?".

Rathyan berbalik dan mulai melangkahkan kakinya kembali.

"Berhenti di situ!"

Teriakan keras dari Oliver menahan langkahnya. Rathyan berhenti di tengah ruangan, tapi tidak berbalik ke belakang.

"Kamu tahu appa bisa memotong semua pengeluaranmu?! Kartu-kartu kredit dan semua rekening di bank ," ancam Oliver dingin.

Rathyan tersenyum tipis. "Bukannya kamu pernah melakukannya, tuan Jang?" tanyanya geli. Dia memutar tubuhnya, menghadapi Oliver yang sudah merah padam.

Oliver menahan nafas. Benar-benar anak keras kepala! rutuknya dalam hati.

Dia memang pernah melakukan ancamannya ini. Dulu--dua tahun yang lalu. Ketika anak ini melarikan diri ke Maldives. Dia memotong semua kartu kredit dan rekening-rekeningnya di bank. Dan hasil dari perbuatannya ini tidak terkira. Benar-benar mengejutkan. Rathyan tidak menyerah padanya. Pemuda ini tidak kembali padanya hanya gara-gara tidak punya pemasukan yang biasa difoya-foyakannya. Rathyan rela hidup seperti gelandangan daripada bertekuk-lutut padanya.

"Kamu sangat mencintai seni?" akhirnya Oliver bertanya dengan nada pelan.

Rathyan mengangguk kaku. "Kamu tahu saya mencintainya sejak dulu. Dan saya bersedia mengorbankan apa saja demi sesuatu yang saya cintai."

"Apa kamu tidak pernah berpikir melanjutkan Max-Global?"

Pemuda itu mengeleng. "Saya benci dengan semua yang berhubungan dengan dunia bisnis. Semua terlihat sangat palsu!"

"Kamu hidup dari itu!" seru Oliver keras.

Rathyan mengangkat bahunya cuek. Membuat Oliver segera meredam kemarahannya. Percuma beradu mulut dengan putranya ini. Yang ada urusannya makin ruwet dan berkepanjangan.

"Lalu apa yang bisa membuatmu berubah pikiran?" tanya Oliver kemudian.

Rathyan mengangkat bahunya lagi. "Tidak tahu." jawabnya datar.

Keadaan hening selama beberapa menit ke depan. Sebelum Rathyan mengeluarkan suaranya.

"Mungkin ... ," katanya ragu-ragu. ".. mungkin, .. jika .. jika ada sesuatu yang dapat mengantikan seni .. ," lanjutnya linglung. Seperti tidak mengetahui arti perkataannya sendiri.

"Mengantikan seni?" Oliver mengulangi kata-kata tersebut dengan wajah berkerut. "Maksudmu? Bukankah kamu bilang kamu sangat mencintai seni? Jadi apa yang bisa mengantikannya?"

"Aku tidak tahu." sahut Rathyan kesal. "Makanya aku bilang JIKA. Jika memang ada yang lebih penting, dan bisa melebihi cintaku pada seni yang sekarang sangat kucintai itu. Yang mampu membuatku melepaskan semuanya demi dia. Aku akan melakukannya."

"Termasuk mengambil alih Max-Global sekalipun?" tanya Oliver menyelidik.

Rathyan mengangguk. "Ya. Termasuk mengambil alih Max-Global."

Kemantapan jawabannya hanya sesaat. Rathyan kembali tersenyum mengejek setelah itu. "Tapi kamu jangan terlalu berharap, tuan Jang. Tidak ada yang mampu membuatku jatuh cinta lebih dalam daripada seni!"



***** ><><>< *****


Daze menuntun halmonie duduk di kursi dalam ruang makan. Kemudian dia mengambil tempat di sebelah wanita tua itu. Ye-Jin sibuk menaruh piring-piring berisi makanan ke atas meja--di depan mereka. Dentingan-dentingannya terdengar sangat berisik.

"Masih ada yang lain?" tanya Daze sambil melirik piring-piring di atas meja.

Ye-Jin menaruh piring terakhir dan mengelap tangannya di celemek yang dipakainya. "Sudah semuanya, agashi .. ," jawab pembantu itu.

Daze mengangguk. "Kalau begitu kamu keluarlah. Biar saya saja yang menemani halmonie makan .. "

"Ne." Ye-Jin membungkukkan badannya, kemudian berjalan ke arah pintu.

"Ye-Jin a .. !"

Panggilan Daze menghentikan langkah Ye-Jin. Dia berbalik pada majikan mudanya itu.

"Ne, agashi."

"Apa .. apa ada keanehan-keanehan .. yang terjadi akhir-akhir ini?" tanya Daze terbatah-batah.

"Keanehan? Maksud agashi?" Ye-Jin balas bertanya keheranan.

Daze jadi salah tingkah mendengar pertanyaan Ye-Jin. Dia mengigit bibir bawahnya keras-keras. Matanya melirik ke segala arah dengan. Dia berdeham pelan, berusaha membersihkan tenggorokannya yang seperti tercekik sebelum menjawab pertanyaan itu.

"Maksudku .. Dave ... ," ide itu membuatnya bernafas lega. Ya, Dave. Ye-Jin tentu tidak akan curiga jika aku menanyakan Dave. Lagipula ini bukan kebohongan. Aku juga ingin mengetahui keberadaan Dave. Kata Daze dalam hati.

"Apa ada kabar dari Dave?" Daze melanjutkan perkataannya.

Ye-Jin mengeleng. "Tidak, agashi. Doronim belum kembali."

Daze menghembuskan nafas perlahan. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Dave?

"Apa .. apa tidak sebaiknya kita lapor polisi saja, agashi?" usul Ye-Jin tiba-tiba.

Daze tersentak. Ide itu sebenarnya pernah terpikirkan olehnya. Tapi tidak dilaksanakan mengingat--menurut pemberitahuan Ye-Jin beberapa waktu lalu-- Dave memang sering menghilang dari rumah.

"Tidak. Jangan lakukan itu. Kita tunggu saja beberapa hari lagi."

Ye-Jin mengangguk. Setelah tidak ada perintah lain dari kedua majikannya, dia meninggalkan ruang makan tersebut.

Daze mengalihkan perhatian pada halmonie. Dia tersenyum. Halmonie sedang menyendok makanan dari mangkuk di hadapannya. Sepertinya pembicaraan tadi tak berpengaruh baginya. Ini bisa dimaklumi karena pendengaran halmonie memang tidak begitu baik.

Daze menatap semu piringnya sendiri. Saya tidak perlu melapor polisi. Dia tentu mengetahui keberadaan Dave. Tunggu beberapa hari lagi. Setelah kembali, saya akan menanyakan padanya. Kata Daze dalam hati.


***** ><><>< *****


"Kamu tidak suka makan sama appa?" tanya Oliver begitu melihat makanan dalam piring Rathyan tidak di sentuh sama sekali.

Rathyan mengangkat wajah dari makan siangnya. "Tidak." jawabnya pendek.

Oliver meletakkan pisau dan garpu di tangannya ke atas meja. Kemudian mengamati putranya itu dengan seksama.

"Ayolah Rath. Ini hari terakhir makan siang bersama appa. Bergembiralah!" ujarnya. "Esok appa sudah harus kembali ke New York. Lagipula bukankah appa sudah berjanji tidak akan memaksamu? Apa masalahnya sekarang?"

"Tidak ada!" Rathyan mulai menyentuh makanannya.

"Rathyan Jang .. "

Kegiatannya terhenti oleh teguran Oliver. Rathyan memberi perhatihan kembali pada pria di hadapannya.

"Kamu masih menyalahkan appa?" tanya Oliver pelan.

"Untuk apa?" Pemuda dihadapannya balas bertanya.

"Untuk ... ," Oliver berhenti sejenak, kemudian .. ,".. untuk segala sesuatu yang telah terjadi pada noonamu ... "

prang ....

Garpu di tangan Rathyan terlepas, dan membentur piring di atas meja. Dia kelihatan sangat terkejut mendengar kata 'noonamu' disebut Oliver. Tapi itu hanya sekejap. Segera dia memperbaiki posisi duduknya, seperti tidak terjadi apa-apa. Dia meraih garpu tadi dan meneruskan makannya.

"Rath ... "

"Lupakan itu!" serunya keras.

Oliver tertegun. Peristiwa itu sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu. Tapi sepertinya Rathyan belum melupakannya. Atau .. dia tidak mampu melupakannya. Siapa yang bisa, jika menyaksikan sendiri kematian noonanya--di depan mata dan kepalanya sendiri?

Oliver mendesah. Semua kesalahannya. Dia terlalu sibuk sehingga mengabaikan kasih sayang yang dibutuhkan putra-putrinya yang menginjak usia remaja. Kasih sayang yang seharusnya mereka dapatkan setelah kematian ibunya. Rachel, putrinya yang malang, terjerumus dalam pergaulan bebas dan dunia gelap. Dunia obat-obatan yang telah merenggut nyawanya.

Oleh sebab itu, sekarang dia ingin memperbaiki semuanya dengan menaruh perhatian lebih pada Rathyan. Selalu mencampuri urusannya. Walaupun dia tahu Rathyan tidak menyukai itu. Tapi apa lagi yang bisa dilakukannya selain ini. Dia tidak mau peristiwa yang terjadi pada Rachel terjadi juga pada Rathyan. Cukup Rachel saja yang menjadi korban kebiadaban dunia. Rathyan harus ditolong. Cuma dia satu-satunya penerus keluarga Jang. Yang akan mewarisi semua kekayaan Max-Global begitu dia meninggal nanti.


***** ><><>< *****


Daze termenung di kamarnya. Kegelapan mulai menyelimuti pemandangan di luar jendela yang terbuka, tepat di hadapannya. Lembaran-lembaran salju tipis beterbangan terbawa angin--kelap kelip tertimpa cahaya pelita kuning di atas tiang tinggi yang menerangi taman samping rumah.

Daze mengigil perlahan. Salju mulai turun. Semoga kesehatan halmonie tidak memburuk, desisnya pelan. Daze merapatkan sweater handuk yang membalut tubuhnya, kemudian berdiri--berjalan ke jendela. Ditutupnya jendela tersebut. Pundaknya menyampir ke dinding, dan perhatiannya dilemparkan ke pemandangan di luar sana. Selama beberapa saat dia berada di posisi semula. Tidak bergerak. Diam membisu, memperhatikan keadaan di luar.

Pohon-pohon besar meliyuk-liyuk tertiup angin kencang. Jalan setapak kecil yang terpentang sepanjang taman mulai terlapisi oleh salju. Begitu juga pucuk-pucuk pohon yang tumbuh di sekitar situ. Beberapa binatang kecil--mungkin kelinci atau tupai--berlompatan kembali ke sarangnya.

Daze menghembuskan nafas berat. Bahkan binatang saja tahu kapan saatnya pulang ke rumah. Mengapa Dave tidak mengetahuinya? Desah gadis itu dalam hati.

Kemudian Daze menarik tali gorden jendela yang menjuntai sampai ke lantai. Tirai-tirai dengan bunga-bunga kecil warna terang tersebut perlahan menutupi arah pandang keluar. Daze bergerak dari tempatnya. Berjalan pelan ke pintu kamar. Membuka pintu tersebut dan melangkah keluar.

Dia berhenti di lorong depan. Keadaannya sangat sepi. Halmonie sudah nyenyak di kamarnya. Hujan salju memang membuat pernafasannya tidak begitu baik sehingga dia harus beristirahat lebih banyak. Daze menoleh ke arah tangga yang menurun ke lantai bawah. Samar-samar bisa didengarnya suara-suara berisik dari dapur. Mungkin Ye-Jin sedang bersih-bersih di sana.

Lalu pandangan Daze beralih ke arah sebaliknya. Pintu kamar Dave terlihat kelam. Bayangan-bayangannya yang tertimpa sinar lentera dinding melintang--jatuh ke lantai. Daze mendekati kamar itu dan memutar gagangnya. Seperti perkiraan semula, pintu kamar itu tidak dikunci. Pintu terbuka dengan suara pelan, dan dia masuk ke dalam.

Setelah menekan saklar lampu dan ruangan itu jadi terang benderang, Daze mengamati sekeliling kamar itu. Keadaannya tidak berbeda jauh dari waktu ditinggalkannya beberapa hari yang lalu. Kecuali seprai di atas ranjang dan selimut yang terlipat rapi, semuanya tidak berubah. Bahkan kotak rokok yang dilihatnya waktu itu masih tergeletak di atas meja. Daze mengalihkan perhatian ke ranjang. Ye-Jin pasti sudah membersihkan kamar ini!, pikirnya.

Daze berjalan ke ranjang itu dan menjatuhkan dirinya di sana. Kepalanya tertunduk perlahan. Berada di kota ini membuatnya semakin bosan. Apalagi di cuaca yang cenderung beku seperti ini. Ingin sekali dia kembali ke Seoul. Mencari Carlson dan mendengarkan penjelasannya tentang apa yang terjadi pada hubungan mereka. Walaupun dia sudah tahu penjelasan itu, tapi dia ingin mendengarnya langsung dari pemuda itu. Tidak lewat telepon, seperti yang bermaksud dilakukan kekasihnya itu beberapa waktu lalu.

Mengambil keputusan buat Carlson adalah sesuatu yang sangat berat bagi Daze. Berpisah darinya, mungkin hal terakhir yang pernah dipikirkan olehnya. Tapi apa boleh buat, dia harus melakukannya. Dia tidak ingin Carlson dihimpit terus dengan keputusan yang tidak bisa diambilnya. Carlson tidak ingin berpisah. Kekasihnya itu hanya minta waktu menenangkan diri. Tapi apakah itu bisa, setelah semua desakan dari orangtuanya dan .. keadaan Han Da' ZeVe yang semakin parah? Tidak Mungkin! Ini jawaban yang sangat dipahami Daze.


***** ><><>< *****


krekkk ....

Entah berapa lama Daze berada di posisi itu ketika bunyi pelan tersebut memasuki telinganya. Dia menengadah, dan melihat jendela di depannya terbuka perlahan. Angin deras yang membawa hawa membekukan langsung memasuki ruangan itu. Seraut wajah muncul dan melongok dari luar jendela.

Mata Daze melebar. "Kamu .... ". Entah ada kegembiraan atau tidak yang terkandung dalam panggilan itu. Yang jelas dia sangat terkejut dengan kemunculan Rathyan yang mendadak di situ.

Pemuda itu kelihatan tidak kalah terkejutnya. Mulutnya mengangga lebar. "Kamu berada di sini lagi?" tanyanya, antara tak percaya dan keheranan.

Daze tidak menjawab. Dia melihat Rathyan--setelah berhasil menguasai dirinya--melompat ke dalam kamar. Pemuda itu mengigil kedinginan. Kaos berkerah tinggi dan jaket kulit yang dikenakannya agak basah oleh salju. Begitu juga celana jeans yang membalut kakinya. Rathyan menghentak-hentakkan sepatu bot di kakinya ke lantai selama beberapa detik, kemudian melepaskan dan meletakkannya ke lantai di bawah jendela. Setelah itu dilemparkannya tas yang dipegangnya ke lantai, kemudian berjalan ke arah Daze yang masih duduk di atas ranjang.

Daze tidak bergerak. Pandangannya mengikuti semua gerak gerik pemuda itu. Apa yang akan dia lakukan selanjutnya? Itu yang ingin diketahuinya.

"Sebenarnya kamu dari mana ... ?"

Pertanyaan Daze tersekat. Pemuda itu mendadak menjatuhkan diri ke atas ranjang--tepat di belakangnya. Dia merasakan sebuah tangan yang dingin melingkar ke pundaknya. Kemudian menarik tubuhnya ke belakang, menempel ketat di tubuhnya yang juga dingin. Sepasang mata Daze langsung terbelalak lebar.

"Bogoshipoyo .... "

Dia mendengar suara parau dan dalam itu berkata. Hampir berupa desahan. Lalu tangan itu menekan wajahnya sehingga bergerak perlahan ke belakang. Daze tidak mampu berkata-kata. Mulutnya seperti terkunci. Protes-protes yang ingin dikeluarkannya terpendam begitu saja.

Hembusan nafas yang terasa berat menerpa wajah Daze. Wajah Rathyan semakin dekat dan akhirnya menyentuh wajahnya. Bibir pemuda itu terbuka dan melumat bibirnya dengan posisi tangan menekan lembut bagian pipi sebelah kiri dan rahangnya. Daze mendesah. Bibir itu terasa dingin, tapi tetap lembab dan sedap seperti yang pernah dirasakannya. Tubuhnya menegang. Rathyan melumat bibirnya dengan lembut. Mata Daze terpejam perlahan.

Hanya sepersekian detik, Rathyan melepaskan ciuman dan rangkulannya. Dia mundur ke belakang dan berdiri dari ranjang.

"Ada yang ingin saya berikan padamu!" katanya tenang--seperti tidak pernah terjadi sesuatu antara mereka.

"A .. apa?" tanya Daze gugup--keheranan sendiri dengan sikap anak muda yang satu ini. Tadi dia terlihat sangat panas, bisa dikatakan sangat .. bergairah .. tapi hanya beberapa detik, dia berubah biasa lagi.

Rathyan berjalan ke arah tas besarnya tadi diletakkan. Dia mengeledah sebentar, kemudian berbalik lagi ke Daze. Sesuatu tergenggam erat di tangannya.

"Buka tanganmu ... ," katanya sambil mengulum senyum pada Daze.

Gadis itu terlihat ragu-ragu sebentar, sebelum akhirnya mengulurkan tangannya jua. Rathyan meletakkan sesuatu di telapak tangannya. Butiran-butiran warna hitam yang tidak diketahui Daze apa itu. Seperti biji-bijian tapi lebih kecil dari itu.

"Apa ini?" tanya Daze kebingungan.

"Benih mawar." Jawab Rathyan. Senyumnya semakin lebar. "Mawar jenis langka. Seorang kenalan memberikannya padaku."

Daze mengangkat wajahnya. Termangu.

"Kamu menyukainya kan?" mata Rathyan bersinar terang. "Aku tahu kamu sangat mencintai mawar."

"Bagaimana kamu tahu?" tanya Daze pelan. Mengapa begitu banyak yang diketahuinya tentang aku?, tambahnya dalam hati.

Daze mengamati pemuda yang tersenyum-senyum penuh arti di hadapannya. Mengawasi semua ekspresi wajahnya. Dia terlihat gembira. Dan ... NAKAL. Sepasang mata yang tadi bersinar cerah itu mulai menyelusuri wajah dan tubuhnya. Bermula dari mata, kemudian hidung, bibir, .. turun ke leher, dada dan ... ,

"Ehemmm .... ," Daze terbatuk pelan.

Pemuda itu tersentak. Pandangannya berbalik kembali ke Daze. Pandangan bertanya terisarat dari sepasang mata beningnya.

"Emmmm .... ," Daze jadi salah tingkah. Kemudian, sesuatu yang berhubungan dengan mawar teringat olehnya. "Mawar, ... mawar putih di taman belakang, .. apa kamu yang menanamnya di situ?"

Mulut Rathyan terbuka. "O ... ," jawabnya. "Kamu suka?"

Daze tertegun. Tidak tahu harus berkata apa lagi.

"Dari kenalanku juga. Jadi kamu tidak perlu berterimakasih ... ," sambung Rathyan.

Daze semakin tidak bisa bersuara. Matanya menjadi redup. Mengapa ada pemuda lain yang begitu memperhatikannya di saat hatinya sedang terluka seperti ini? Akibat kekasihnya yang seharusnya melindunginya dan bukan melukainya. Daze ingin menanggis saat itu juga. Tapi ditahannya.

"Kamu, .. apa kamu tahu keberadaan Dave?" tanyanya, berusaha mengalihkan perhatian ke arah lain.

Tampang Rathyan jadi serius. "Tidak." jawabnya. "Saya baru kembali, jadi tidak ada yang saya ketahui tentang keluarga ini." diperhatikannya Daze dengan seksama. "Apa perlu aku menyelidikinya untukmu?"

Mulut Daze mengangga. "Apa kamu bisa?"

Rathyan tersenyum. "Akan kuusahakan."

Daze mengangguk. Untuk kesekiankalinya dia merasa terhibur oleh pemuda ini. Rathyan mengamati Daze lagi. Kali ini tidak disadari gadis itu karena pandangannya terarah ke lantai.

Rathyan kemudian bergerak perlahan dari tempatnya. Menuju ke lemari satu-satunya dalam kamar itu. Dia mengeluarkan sepotong kaos dan celana baggy warna putih, lalu berjalan ke kamar mandi.

"Saya mandi dulu. Apa kamu akan berada di sini?" tanyanya pada Daze dari ambang pintu kamar mandi tersebut.

Mulut Daze terbuka. "Ti .. tidak ... ," jawabnya gugup. "Sa .. saya .. pergi sekarang .. "

Terburu-buru Daze berlari ke pintu. Sampai di sana, dia berhenti. Ragu-ragu sejenak dia berpaling kembali pada Rathyan.

"Gumawo buat semuanya!" kata Daze.

Rathyan tersenyum. "Sama-sama." sambutnya lembut.

Lalu ... mereka tersenyum secara berbarengan. Senyuman yang sangat tulus. Apa awal persahabatan antara mereka? Tidak ada yang tahu. Yang jelas, mereka merasa nyaman satu sama lain.

Mungkin persahabatan lebih berarti dari segala hubungan cinta! desis Daze.



***** ><><>< *****

_________________


♥️ "Everywhere ★ we learn ★ only from ★ those whom ★ we love" ♥️
avatar
DragonFlower

Posts : 94
Join date : 2013-06-17
Location : | Trapped in CNBLUE Dorm |

View user profile

Back to top Go down

Re: from Seoul to ... Perth-- by Lovelyn

Post by DragonFlower on Wed Jun 26, 2013 3:25 pm


Note : miannn, di atas adalah Chapter - 5 ^.*


from Seoul to ... Perth--
Chapter Six


By Lovelyn Ian Wong


Seorang pria berambut ikal pirang yang lembab terlihat menyandar di batang pohon cemara yang tumbuh di antara batang-batang cemara lain di gerbang taman depan universitas Murdoch. Jubahnya yang panjang dan agak kumal menyapu jalan tanah yang ditimbuni lembaran-lembaran daun yang sudah menguning--kebanyakan di antaranya bahkan sudah berwarna coklat kusam.

Pria itu mendongak ketika mendengar langkah kaki mendekatinya. Suara ranting kering yang patah terinjak orang sangat jelas terdengar di pagi yang sunyi itu. Seorang pemuda jangkung berdiri hampir lima meter di depannya dengan posisi tangan terselip di saku celana.

Si pemuda--yang ternyata Rathyan--mengamatinya selama beberapa detik. Angin yang bertiup kencang menyibakkan mantel hujan sepinggul yang dipakainya ke udara. Rathyan menyusut dari posisinya. Dia mengigil sedikit. Setelah merapatkan mantel di depan dada, dan memeluk kedua lengannya erat-erat, dia menghampiri pria lusuh itu.

"So--what did you get?" tanya Rathyan sambil mengosok-gosok lengannya--berusaha menghangatkan badan dari kebekuan musim dingin yang menyebarkan butiran-butiran salju.

Pria berambut ikal pirang tersebut merogoh ke dalam saku jubah panjangnya. Dia mengeluarkan secarik kertas warna kuning yang telah ditulisi beberapa kata--sepertinya sebuah alamat--dan menyerahkannya pada Rathyan.

"He is here?" Rathyan mengamati kata-kata dalam kertas di tangannya.

"Yes." jawab pria itu. "From yesterday, around 9 pm untill now. My men followed him and he was still there one hour ago."

Rathyan mengangguk. Dia mengeser tas selempangnya ke depan. Merogoh ke dalam dan mengeluarkan sebuah buku cek. Dia menuliskan nama dan angka-angka di selembar cek, merobeknya kemudian memberikan pada pria di hadapannya.

"I will call you again if i need some information .. "

Pria itu menerima lembaran cek dari tangan Rathyan dengan senyum puas.

"Sure ," dia mencium cek tersebut dan mengangkatnya ke atas. "Thank you very much, sir ... "

Dua menit saja pria kumal itu sudah berlalu dari hadapan Rathyan.

"Huhh--dasar penjilat!" gerutu Rathyan sambil melangkah dari situ.

Angin bertiup semakin kencang dan daun-daun yang berjatuhan dari pucuk-pucuk cemara semakin banyak. Hari mulai beranjak--matahari naik semakin tinggi. Beberapa rombongan mahasiswa mulai memenuhi taman tersebut. Beberapa sedang bersenda-gurau di jalan tanah. Ada yang sedang bermesraan di bangku taman dan beberapa di antaranya menyandar atau duduk di pagar rendah yang membatasi taman depan dengan lapangan rumput di belakangnya sambil berbincang-bincang dengan seru.


***** >< >< *****

Rathyan berhenti di pintu masuk sebuah bar yang bertuliskan Di Lizio--dari lampu kelap-kelip dalam berbagai warna. Suara musik yang berdentam-dentum keras perlahan memasuki telinganya. Rathyan menyibak pintu tersebut dan masuk ke dalam. Musik remix yang diputar sangat keras semakin terasa di telinganya. Berpuluh-puluh lampu blitz beraneka warna juga langsung menyorot masuk--menyakiti pandangannya.

Rathyan menyipitkan mata perlahan--berusaha mendapatkan orang yang dicarinya. Tidak ada. Yang dilihatnya hanya beberapa pasang muda-mudi yang sedang bercumbu dalam keadaan teler dan yang sedang berdansa dengan liar di tengah lantai dansa. Rathyan mengedarkan pandangannya kembali. Dua orang cewek yang kelihatannya sudah mabuk berat menabraknya.

"Upss--sorry .. ," kata seorang dari mereka. Cewek berbaju ketat dan bergaun sangat pendek itu melebarkan matanya--berusaha melihat apa yang ditabraknya. Sepasang mata yang tidak bercahaya akibat alkohol tersebut terbuka lebih lebar. "Wowww handsome boy ... ," dia tersenyum.

Cewek satunya lagi--yang memakai selembar kain, serupa selendang, yang diikatkan di bagian dada dipadu jaket kulit warna hitam dan celana jeans ketat mengangkat wajahnya. Begitu melihat Rathyan, mulutnya mengangga.

"What's the hell?" dia berteriak. "Look--what do we get tonight, Sandra? Amazing guy!" agak terhuyung dia menempelkan telapak tangannya di pipi Rathyan.

Terkejut, Rathyan mengibaskan tangan cewek itu. "Kamu sudah mabuk nona!" katanya dengan nada tajam. "Atau .. bahkan lebih dari itu?" dia mengenyitkan alisnya. "Kalian memakai obat-obat terlarang?"

"WHAT?" tanya kedua cewek itu bersamaan.

Rathyan kembali mengibaskan tangannya. "Just forget it!" Dengan langkah lebar dia meninggalkan kedua cewek yang berdiri sempoyongan itu. Tidak diperdulikannya teriakan-teriakan mereka. "Dasar cewek-cewek centil!" dengusnya.

Rathyan memasuki lorong dalam di dalam bar tersebut. Dibukanya pintu-pintu ruangan-ruangan khusus yang berada di dalam dengan satu dorongan. Beberapa pasangan--baik cewek dengan cowok, cewek dengan cewek, maupun cowok dengan cowok segera berpaling padanya begitu pintu-pintu tersebut dibuka.

Rathyan menganggukkan kepala berkali-kali. "Sorry .. "

Sampai di depan pintu ruangan terakhir, sebuah tangan tiba-tiba mendarat di pundaknya sebelum dia menyentuh pintu ruangan itu. Rathyan menoleh.

"What are you doing here, sir?" seorang pemuda berambut pirang yang bertampang agak seram sudah berdiri di belakangnya.

"I'm looking for someone .. ," jawab Rathyan tenang.

Pemuda itu tersenyum sinis. "Sorry but this's VIP room. You can't enter."

"O ya?" bibir Rathyan tertarik ke atas, "What about if .. i have this ...?" dia mengeluarkan selembar cek yang sudah dipersiapkan sebelumnya dari dalam tas selempangnya.

Mata pemuda di depannya terlihat berkilat begitu menangkap angka-angka yang tertulis di lembaran cek itu. Dia berusaha meraihnya, tapi dengan sigap Rathyan segera mengacungkannya ke atas. Karena pemuda berambut pirang itu tingginya tidak sebanding dengan Rathyan--walaupun meloncat-loncat, dia tidak mampu meraih cek di tangan Rathyan.

"Tell me!" kata Rathyan.

"What?" pemuda itu masih berusaha meraih cek dalam genggaman Rathyan.

"Who's in this room?"

"This VIP room?"

"That's what i asked you!" kata Rathyan kesal.

"I don't know." pemuda itu mengangkat bahunya. "Not British or American--I'm sure. Maybe Chinese--like you, sir."

Rathyan mengangguk dan menyerahkan cek di tangannya. Dia mendorong pintu di hadapannya sambil berkata dengan nada datar. "I'm Korean, not Chinese!"



***** >< >< *****




Rathyan berdiri di depan sebuah sofa panjang--berhadapan dengan seorang anak muda yang tertepar dengan kepala menengadah ke atas. Beberapa botol bir berserakan di meja, sofa dan lantai. Begitu juga pil-pil aneka warna dan serbuk-serbuk yang entah apa itu. Rathyan menghela nafasnya--berat. Dia berjalan ke arah pemuda itu dan menarik tangannya.

"Bangun Dave! Pulang denganku sekarang!!"

Dave tidak bergerak. Tangannya yang ditarik Rathyan tidak beraksi sedikitpun.

"DAVE!!"

Rathyan menguncang tubuh Dave--berulangkali, tapi tetap saja pemuda itu tidak merespon apa-apa. Kelihatannya dia sudah mabuk berat.

"Do you hear me?! Heyy!!"

Percuma saja usaha Rathyan. Begitu pegangannya di tangan Dave terlepas, tubuh lemas itu kembali terhempas ke sofa. Rathyan menghela nafas sekali lagi. Dia menghentikan usahanya yang entah ke berapa kali itu dan berpaling ke meja di belakangnya. Hampir selusin bir dihabiskannya--bagaimana mungkin tidak semabuk ini? pikir Rathyan.

Tapi begitu pandangannya menyapu pil-pil dan serbuk-serbuk yang tersebar ke mana-mana, alisnya langsung berkerut. Diraihnya pil-pil warna-warni tersebut dan diperhatikannya dengan seksama. Kerutan di wajahnya semakin dalam. Kemudian dia menekan serbuk di atas meja dengan telunjuknya dan menjilatnya perlahan.

"Huekkk!!" Rathyan langsung meludahkannya ke lantai. "Sialan!" teriaknya.

Dia berbalik dan mengangkat tubuh Dave, kemudian mendorongnya hingga menempel erat di sandaran sofa.

"Sudah kuperingatkan berapa kali--kamu boleh mabuk-mabukkan, boleh merokok dan boleh melakukan apa saja, asal jangan kau sentuh benda-benda laknat ini!!"

Dave membuka matanya sedikit, kemudian memejamkannya lagi. Dia tersenyum, seperti orang yang sedang di awang-awang--sama sekali tidak menyadari kehadiran Rathyan di situ.

"Dengar aku?!" tanya Rathyan dengan nafas terengah. "Sadar Dave berengsek! Buka matamu dan sahut aku!" ditepuknya pipi Dave keras-keras--guna menyadarkannya--tapi pemuda yang sudah tidak sadarkan diri itu hanya terkulai tanpa tahu keadaan sekelilingnya.

"DAVE HAN!!" Rathyan berteriak lagi.

Diguncangnya tubuh Dave kuat-kuat tapi tetap tak berguna. Dia tidak merespon sama sekali. Rathyan menghempaskan diri di sebelah Dave setelah usaha yang keduapuluh menit--yang tidak menghasilkan apapun. Dia terengah-engah putus asa.

"Mengapa kamu jadi begini? Mengapa mengikuti jalanku yang dulu? Kamu tahu ini tidak benar? Ini bisa merenggut nyawamu--kapan saja, anak bodoh... ," Rathyan menundukkan kepalanya.

Dia menyesali jalan yang diambil Dave untuk melepaskan diri dari semua masalah yang dihadapinya ini. Jalan yang sangat dikenal olehnya--jalan yang pernah ditempuhnya, yang hampir saja merenggut nyawanya, dan yang sudah merenggut nyawa noonanya.

Perlahan Rathyan bergerak dari tempatnya--berdiri dari sofa. Dia menarik kedua tangan Dave dan melingkarkannya di lehernya sendiri.

"Aku akan mengantarmu pulang. Pergi sekarang juga dari tempat biadab ini!!"

Dia mengangkat tubuh Dave dan mengendongnya di punggungnya--keluar dari bar Di Lizio.

***** >< >< *****

BMW warna biru muda yang sudah agak kusam dan bobrok itu berhenti di pinggir jalan--berjarak sekitar 30 meter dari Han's mansion. Seorang pemuda jangkung keluar dari bangku kemudi jok depan. Dia ragu-ragu sebentar, kemudian berbalik kembali ke dalam mobil. Sampai di dalam, dia mengeledah saku celana dan jas pemuda di sampingnya.

"Dapat!" desisnya tertahan ketika sebuah ponsel berhasil dikeluarkan dari saku jas pemuda yang terkulai lemas itu.

Dia menekan beberapa tombol, menarik panah di layar monitor ke bawah dan akhirnya mendapatkan nomor yang dicarinya. Tanpa berpikir lagi dia menekan nomor yang dimaksud. Tidak sampai semenit, terdengar sahutan dari seberang.

"Dave? Oh my god, ke mana saja kamu? Mengapa baru sekarang menghubungi noona? Malam-malam begini lagi. Kamu ada di mana? Apa sebenarnya yang terjadi padamu?" Pertanyaan-pertanyaan bertubi-tubi yang meluncur bak air ditumpahkan tersebut membuat pemuda itu tercekat.

"Hmm ... ," katanya ragu-ragu. "Bisa kau mendengarkanku dulu?" pintanya.

Hening sesaat. "Kamu bukan Dave! Siapa kamu?" suara itu hampir berteriak dari seberang.

Pemuda itu menarik nafas. "Saya Rath. Saya mendapatkan Dave."

"Rath?" seru Daze. "Mendapatkan Dave? Benarkah? Di mana? Sekarang dia ada di mana?"

"Kamu bisa mendengarkanku dulu tidak?" tanya Rathyan tegas.

"Hmm miane .. "

"Ah sudahlah." sahut Rathyan. "Sekarang dengarkan aku! Dave ada di mobilku. Dia dalam keadaan mabuk berat dan tidak sadarkan diri, jadi dia tidak bisa masuk ke rumah sendiri. Aku harus membopongnya ke dalam. Kamu harus membukakan pintu depan untukku. Araso?"

"Ne .. ," jawab Daze segera.

"Lima menit lagi. Jangan ketahuan halmonie nanti dia syok!"

"Ne .. "



***** >< >< *****




drekkk .. Daze membuka pintu depan. Dia melihat bayangan seseorang dalam kegelapan. Daze menajamkan penglihatannya. Bayangan tersebut makin lama makin jelas. Benar, itu Rathyan yang sedang mengendong seseorang di punggungnya. Daze segera berlari ke arahnya.

"Oh Tuhan, apa yang terjadi padanya?" tanyanya pada Rathyan. Kemudian dia mengoyang-goyangkan lengan Dave. "Dave, kamu dengar noona?"

"Dia tidak sadarkan diri dari tadi. Percuma saja kamu memanggilnya." kata Rathyan. "Sebaiknya kamu berjaga-jaga supaya kepulangan kami tidak diketahui orang-orang rumah."

"Ne .. "

Daze berbalik dan berlari ke dalam rumah. Tapi usahanya untuk mengawasi keadaan rumah terlambat, Ye Jin yang kebetulan keluar dari kamarnya--bermaksud buang air kecil melihat mereka.

"OH AGASHI! Apa yang terjadi dengan doronim?" teriaknya.

Daze meloncat ke arah Ye Jin dan membekap mulutnya. "Sssttt!" dia meletakkan telunjuk ke mulut wanita itu. "Kamu ingin membangunkan halmonie ya?" deliknya.

Ye Jin mengangguk gugup sehingga Daze melepaskan bekapannya perlahan. "Sosongheyo agashi .. "

Daze berdecak. "Sudahlah." katanya. "Apa halmonie sudah nyenyak di kamarnya?"

"Ne .. ," jawab Ye Jin. "Nyonya besar makan terlalu banyak tadi jadi sekarang beliau kelelahan di ranjangnya ... "

Daze mengangguk.

"Hey kalian mau ngomong sampai kapan?" teriakan Rathyan menyadarkan mereka. "Apa tidak sebaiknya dia dipindahkan ke kamar dulu? Kalian bantu aku!"

Kedua wanita itu mengangguk dengan gugup, Kemudian mereka bergotong-royong membawa Dave ke lantai atas. Pintu kamar dibuka dengan terburu-buru oleh Ye Jin. Dave di jatuhkan ke atas ranjang. Rathyan dan Daze kemudian duduk di pembaringan dengan nafas terengah-engah.

"Hey Dave!" Rathyan menepuk pipi Dave--berkali-kali, makin lama makin keras. "Bisa bangun sekarang? Hey!!"

Dave membuka matanya. Mendadak tubuhnya mengejang. Giginya bergemelatuk hebat dan dia berguling-guling seperti cacing kepanasan.

"Oh ... ," Daze menutup mulut dengan tangannya. "A .. apa .. yang terjadi padanya?"

"Agashi. Doronim, dia ... ," Ye Jin memegang tangan Daze. Kedua wanita itu mundur serempak.

"A .. da .. apa?" tanya Daze dengan nada bergetar.

Rathyan tidak menjawab. Dengan dua tangan dia menarik kerah jas Dave hingga bangkit dari ranjang. "Kalian mundur ke belakang!" perintahnya keras pada Daze dan Ye Jin. "Buka pintu kamar mandi untukku!"

Agak oleng Ye Jin berlari ke kamar mandi dan membuka pintunya. Kemudian tergesa-gesa ia mundur ke balik pintu. Rathyan mengambil nafas. Sekali tarik, dia membawa tubuh Dave yang sedang kejang-kejang itu ke punggungnya. Dengan cepat dia menuju kamar mandi. Setelah itu dia menjatuhkan Dave di badtub, menyalakan shower dan menyiram tubuhnya dengan air dingin.

"Akhhhh!" teriak Daze--yang sekarang sudah berada di ambang pintu. "Apa yang kau lakukan?" dengan marahnya dia memelototi Rathyan. "Kamu bisa menyakitinya tahu?!"

Rathyan tidak menghentikan perbuatannya. Air yang membeku itu terus menguyur tubuh Dave--menjadikan pemuda yang tadi kejang-kejang itu, mengigil kedinginan.

Daze berlari ke dalam kamar mandi. "HENTIKAN!" dia menarik tangan Rathyan dan menatapnya dengan garang. "Kamu sudah gila ya? Ingin membunuhnya?"

Rathyan mengibaskan tangan Daze. "Jika dia tidak disadarkan, dia yang akan mati!" teriaknya--membalas tatapan Daze. Kemudian dia menyiram Dave lagi.

"KAMU GILA! KAMU GILA!" kata Daze putus asa.

Ye Jin sampai di belakang gadis itu dan menyentuh lengannya. "Agashi, siapa dia?"

Daze tidak menjawab. Hanya bisa melihat apa yang dilakukan Rathyan tanpa mampu berbuat sesuatupun--hanya bisa pasrah sambil mengigit kuku-kuku jemarinya.

Rathyan menghentikan perbuatannya lima menit kemudian. Dia mengangkat Dave yang mengigil keras dan membawanya keluar dari kamar mandi. Setelah itu dia menjatuhkan tubuh basah kuyup itu ke ranjang.

"Kalian keluarlah! Saya akan menganti pakaiannya." perintahnya tegas--tanpa berpaling pada mereka.

Sambil berpegangan tangan, Daze dan Ye Jin keluar dari kamar Dave dan menunggu di luar pintu yang sudah ditutup oleh mereka. Sepuluh menit kemudian terdengar teriakan dari dalam kamar.

"Masuklah!"

Terburu-buru kedua wanita itu membuka pintu dan masuk ke dalam. Dave sudah berganti dengan pakaian kering sekarang, dan .. sungguh mengejutkan melihat dia terbaring dalam keadaan terlentang dengan sepasang tangan dan kaki terikat tambang yang walaupun tidak begitu besar tapi kelihatan cukup kuat.

"A .. apa yang kamu lakukan?" Daze menatap Rathyan tajam-tajam.

"Saya hanya mengantisipasi peristiwa yang bakal terjadi." jawab Rathyan cuek. Dia meraih sisa-sisa tambang yang digunakannya untuk mengikat Dave dan membuangnya ke pojokan. Kemudian dia mengambil pakaian basah dari lantai dan membawanya ke kamar mandi.

"KAMU BENAR-BENAR GILA!"

Daze menarik Rathyan keluar dari kamar mandi. "Lepaskan dia!"

"TIDAK BISA!" balas pemuda itu keras.

"Wee? Mengapa harus memperlakukannya seperti ini?"

"Karena saya tidak ingin melihatnya mati!" bentak Rathyan.

Mata Daze melebar, " Mati? Apa maksudmu? Dia cuma mabuk-kan?"

Rathyan tidak menjawab. Tampangnya sangat keras sekarang. Daze mundur selangkah dengan perasaan gentar. Rathyan berpaling ke Ye Jin dan memerintah dengan keras. "Jangan sekali-kali melepaskan ikatan tangan dan kakinya. Juga jangan memberinya makanan, cukup beri air putih saja. Selama dua hari ke depan, itu yang harus dilakukan. Apapun permintaannya jangan dituruti. Walaupun dia berteriak-teriak kesakitan, seperti orang gila sekalipun. Kalian mengerti?"

Takut-takut Ye Jin mengangguk. "Ne, tuan .. "

Rathyan menoleh pada Daze. Ekspresi wajahnya tidak berubah dan suaranya masih terdengar sangat keras. "Jika takut ketahuan halmonie, mulutnya disumbat saja."

"Mwoo? Di .. di .. sumbat?" Daze mengangga tak percaya.

"Itu yang kukatakan!"

Rathyan memutar badan ke arah pintu dan berjalan ke luar--menuju balkon belakang. Langkahnya sangat lebar dan cepat--tidak berirama, sedangkan nafasnya memburu dan sedikit tersengal-sengal.



***** >< >< *****




Daze keluar dari kamar Dave dan menyusul Rathyan. Sedangkan Ye Jin sudah turun ke lantai bawah, masuk ke dalam kamarnya. Daze sampai di balkon belakang yang menghadap ke taman dan melihat Rathyan berdiri di sana--membelakanginya, mengarah ke taman kelam yang terselimut dewi malam. Bintang-bintang tampak berkelap-kelip indah di angkasa luar. Cahayanya terasa hangat walaupun suhu udara dingin menusuk tulang.

"Rath ... "

Rathyan menoleh. Mereka saling bertatapan selama beberapa detik.

"Kemarilah ...," kata Rathyan lembut.

Daze melangkahkan kakinya dan berhenti di sebelah pemuda itu. Tak terduga sepasang tangan Rathyan tiba-tiba merangkul pinggangnya, dan menarik tubuhnya ke dalam pelukan. Dagu Rathyan yang tegas menumpu di pundaknya yang terbalut sweater wol warna putih.

"Miane ..," desah Rathyan di telinganya. Nafas pemuda itu membawa asap hangat--menerpa wajahnya yang dingin.

"Hmm ... " Daze jadi salah tingkah. "Kenapa?"

"Karena saya membentakmu tadi. Tidak seharusnya kulakukan itu. Miane .. ," sesal Rathyan. Wajahnya dibenamkan di pundak Daze.

"Bukan itu maksudku ... ," kata Daze sambil menoleh ke arah Rathyan sehingga wajah mereka menempel satu sama lain. "Kenapa kamu semurka tadi? Itu yang ingin kuketahui." tanya Daze. "Tidak pernah aku melihatmu semurka itu. Dan mengapa pula kamu melakukan semua itu terhadap Dave?"

Selama beberapa menit Rathyan tidak bereaksi. Hanya dekapannya di tubuh Daze semakin dipererat.

"Rath ... ?"

"Saya punya seorang noona .. ," kata Rathyan. "Dan saya sangat menyayanginya ... "

"Jeongmal?" Daze memandangnya lekat-lekat. "Apa dia masih kuliah atau sudah bekerja?"

Rathyan mengeleng. Kepalanya terangkat dan dia mendesah. "Dia meninggal empat tahun yang lalu .. "

"MWO?!" mata Daze terbelalak lebar. "Me ... mengapa .. bisa begitu?"

Pandangan Rathyan menerawang. "Karena barang-barang laknak itu ... "

"Maksudmu?" tanya Daze tak mengerti.

Rathyan berpaling padanya. "Seperti Dave, mengkonsumsi obat-obat terlarang--narkoba .. "

"MWO?! MAK .. MAKSUDMU, .. Dave memakai obat-obatan itu? Tapi .. mengapa? Bagaimana mungkin? ... Selama ini dia baik-baik saja .. "

"Miane .. ," Rathyan mencium rambut Daze. "Mungkin karena pergaulannya selama ini, dan .. ini berhubungan denganku juga. Saya tahu teman-temannya itu tidak baik, tapi saya tidak melarangnya. Yang tidak saya sangka, mereka mengajarinya memakai barang-barang begituan."

"Jadi .. kehidupan Dave seperti itu?" Daze mendesah. "Mengapa dia tidak menceritakannya pada kami? Mengapa tidak mendiskusikannya dengan kami?"

"Saya memahaminya." sahut Rathyan. "Seperti juga kehidupanku dulu. Karena kehilangan perhatian orangtua, aku dan noona terjerumus dalam dunia gelap. Dunia gemerlap yang sangat bebas. Penuh tawa dan kebahagiaan, yang sebenarnya hanya bayangan semu saja. Tangan-tangan iblis siap merengut nyawamu setiap saat. Ketika itu aku baru berumur 16 tahun. Dan aku menyaksikan sendiri bagaimana .. bagaimana tubuh noona mengejang, mulutnya mengeluarkan busa, bola matanya berputar dan perlahan-lahan menjadi putih. Bagaimana dia .. dia menghembuskan nafas terakhir dalam pangkuanku. Dalam dekapanku." kepala Rathyan tertunduk dan menyentuh tenguk Daze. "Aku mengunakan waktu hampir setengah tahun untuk melupakan semuanya--untuk melepaskan diri dari benda-benda jahanam itu. Kamu tahu tidak bagaimana perjuanganku menghadapi semuanya? Aku terkurung selama beberapa minggu--tidak, bukan beberapa minggu tapi beberapa bulan--berteriak-teriak seperti orang gila. Aku juga hampir mati. Kalau bukan karna pertahananku yang cukup kuat, aku sudah menyusul noona. Karena itu begitu melihat keadaan Dave, aku jadi kehilangan kendali."

Rathyan mengeleng, "Aku tidak ingin dia mengikuti jejakku." dia terbatuk kecil membersihkan tengorokannya. "Beruntung keadaannya tidak parah-parah amat. Percayalah, dia akan baik-baik saja beberapa hari mendatang .. "

"Chinja?" Daze menatapnya--mengharapkan kepastian.

Rathyan mempererat pelukannya. "Ne. Jangan khawatir."

Daze mengangguk. "Boleh aku menanyakan sebuah pertanyaan padamu?"

"Mwo?"

"Ke mana orangtuamu?"

Rathyan memandang ke depan. Saat itu angin bertiup semakin kencang. Daze mengigil dalam pelukan Rathyan. Pemuda itu menoleh padanya, kemudian mengosok-gosokkan kedua tangannya di lengan gadis itu.

"Angin bertiup semakin kencang." katanya. Dia kembali memandang ke depan. "Kelihatannya akan ada badai salju malam ini. Sebaiknya kita kembali ke kamar. Saya akan menuangkan segelas brandy buatmu untuk menghangatkan diri." Rathyan menepuk lengan Daze. "Ayo, tidak enak berdiri terus-terusan di udara terbuka seperti ini ... "

Daze mengangguk. Kemudian mereka masuk ke dalam rumah--meninggalkan balkon yang makin malam semakin kelam dan gelap karena bintang-bintang di langit yang tadi bersinar terang sudah tertutup awan tebal.



***** >< >< *****




"Agak baikkan?" Rathyan menjatuhkan diri di ranjang Daze--di samping gadis yang sudah menghirup separuh brandy dari gelas di tangannya.

"Ne." jawab Daze. Dia kembali menghirup brandy tersebut sampai tandas.

"Bagus." Rathyan mengulurkan tangannya--mengambil gelas di tangan Daze yang sudah kosong. Kemudian dia memandang ke deretan jendela kaca yang gorden-gordennya tidak ditutup. "Kelihatannya benar-benar akan ada badai salju .. "

Daze mengikuti pandangannya. "Ne. Semoga halmonie tidak menderita karenanya .. "

Rathyan menoleh padanya. Ditepuknya pundak gadis itu. "Tenang saja. Beliau akan sehat-sehat saja. Bukankah keadaannya memang selalu begitu? Pada akhirnya beliau tidak akan apa-apa .., percayalah .. "

Daze mengangguk. "Semoga saja .. "

Kemudian hening seketika. Mereka tidak bersuara. Keadaan mendadak jadi kaku. Rathyan berdeham lalu berdiri dari ranjang. "Kamu harus istirahat sekarang. Aku juga sudah mengantuk .. ," dia menguap--tentu saja kelihatan sangat palsu dan terlalu dipaksakan.

"Memangnya kamu akan tidur di mana?" tanya Daze jengah. "Ranjang Dave sudah dipakai mengikatnya kan? Kamu tidak bisa tidur di situ lagi .. "

Rathyan berjalan ke pintu. "Tidak apa-apa." katanya tanpa berpaling. "Saya dapat tidur di mana saja. Malam ini saya akan tidur di gudang belakang .. "

"Mwo?" Daze tersentak. "Gudang belakang? Kamu serius? Di cuaca seperti ini? Kamu bisa mati membeku nanti .. "

Rathyan tertawa. "Kamu terlalu berlebihan .. "

brukk ... pintu kamar Daze ditutup olehnya, dan keheningan langsung mewarnai kamar bernuansa lembut itu.

***** >< >< *****

Daze gelisah dalam tidurnya. Sudah dua jam dia mencoba memejamkan mata tapi tidak berhasil. Berbagai masalah campuraduk dalam pikirannya. Dan yang paling mengelisahkannya adalah keadaan Rathyan di gudang belakang, lantai bawah.

Daze mengejap-ngejapkan matanya. Dia bangkit, kemudian menyandar ke kepala ranjang. Dinyalakannya lampu meja yang berada di meja kecil yang menempel di sisi ranjangnya--keadaannya jadi terang-benderang. Dia melihat jam weker yang terletak di sana--pukul 1 lewat 20 dini hari.

Daze turun dari ranjang tanpa bersuara. Dia meraih sweater panjang yang tersampir di kursi kemudian memakainya, dan juga sandal yang tersedia dekat ranjang, kemudian keluar dari kamar. Dia melangkah ke kamar Dave, membuka pintunya dan melongok ke dalam. Dave tampak tertidur pulas di ranjangnya. Kaki dan tangannya yang terikat tidak terlihat menganggu kenyamanan tidurnya. Daze tersenyum, kemudian menutup pintu itu dengan pelan-pelan. Setelah itu dia turun ke lantai bawah.

Keadaan dalam rumah itu sangat sunyi. Hanya bunyi-bunyi angin yang meniup pohon-pohon dan sisi-sisi jendela yang terdengar. Sampai di lantai bawah, Daze menuju gudang yang berada di belakang rumah. Lampu dalam gudang itu terlihat masih menyala. Daze menghampiri pintu yang terbuat dari kayu itu dan mengetuknya.

"Rath ... ," panggilnya dengan suara serak. "Apa kamu sudah tidur?"

drekkk ... pintu dibuka dan Rathyan berdiri di hadapannya dengan tubuh mengigil kedinginan.

"A .. ada apa?" tanyanya dengan suara gemetar.

Daze tidak menjawab. Diperhatikannya pemuda itu dengan seksama. Wajah sempurna itu terlihat pucat. Giginya bergemelatuk dan berulangkali dia mengosok-gosok tubuhnya yang terlindungi selimut.

"Ya?" Rathyan mengerak-gerakkan tangannya di depan wajah Daze. "What's going on? Are you ok?"

Daze tersentak. "O!" mulutnya terbuka. "Ne. Gwencanayo." jawabnya cepat.

"O ..," Rathyan mengangguk. "Kalau baik-baik saja, cepat kembali ke kamarmu dan tidurlah!" dia mengerakkan tangan ke depan--bergaya mengusir Daze.

"Hmm--," Daze ragu-ragu. "Apa tidak sebaiknya kamu tidur di dalam?" katanya sambil melirik kesana-kemari.

"Apa?" Rathyan tertawa. "Memangnya saya mau disuruh tidur di mana? Seranjang dengan Dave? Tidak mungkin kan? Dia kan terikat di ranjang itu. Tidak ada tempat bagiku."

Rathyan bermaksud kembali ke dalam gudang ketika Daze berkata mendadak.

"Kamu tidur di kamarku saja."

Rathyan berbalik. Alisnya berkenyit. "Mwo? Tidur di lantai, maksudmu?"

Daze mengeleng. "Anhi. Ti .. dur di ranjangku." katanya dengan gugup.

"Lalu kamu?"

Daze menelan ludahnya. "Maksudku tidur bersama." kemudian dia melanjutkannya dengan cepat. "Saya tidak ingin melihatmu mati kedinginan di sini."

"Tapi ... "

"Tidak ada tapi-tapian." teriak Daze--agak serba-salah. "Masuklah sekarang juga."

Kemudian gadis itu berbalik dan berlari ke dalam rumah. Menaiki tangga--dua tangga sekaligus dan menerjang ke dalam kamarnya. Dia menutup diri rapat-rapat dalam selimut. Menunggu dengan gelisah apakah pemuda itu akan menerima tawarannya atau tidak. Hanya tawaran kemanusiaan. Tidak mungkin terjadi apa-apa.Katanya berkali-kali dalam hati.



***** >< >< *****




Duapuluh menit kemudian sepasang muda-mudi tersebut berbaring di atas ranjang dengan posisi saling membelakangi. Mata mereka terpejam walaupun tidak mampu memasuki alam tidur. Mereka mendesah bersamaan. Daze bergerak, menjauh dari tubuh Rathyan.

Setengah jam berlalu, mereka masih dalam posisi semula. Daze kembali mendesah untuk kesekiankalinya. Tiba-tiba dia merasa selimut yang menyelimutinya tersibak sedikit, menandakan pemuda di sebelahnya bergerak. Daze melirik lewat sudut matanya. Tapi dia tidak berhasil menangkap apapun karena posisinya memang tidak memungkinkan melihat sesuatu di belakangnya.

Mendadak sebuah tangan yang dingin melingkari bagian pinggang dan perutnya.

"Yaa ... ," Daze bermaksud memprotes tapi sebuah suara yang halus menghentikannya.

"Begini lebih hangat .. ," kata suara itu.

Daze termangu.

"Biarkan saya memelukmu. Boleh kan?"

Daze tidak mampu menjawab. Tubuh Rathyan perlahan merapat ke tubuhnya. Tangannya yang satu lagi menyusup masuk di sela-sela lehernya sehingga sekarang posisi kepalanya terletak di lengan Rathyan. Daze dapat merasakan nafas pemuda itu di rambutnya. Dan juga merasakan kehangatan lengannya di kulit lehernya, begitu juga di bagian pinggang dan perutnya--melalui sweaternya yang agak terbuka.

Daze menoleh perlahan. Dia melihat wajah pemuda itu amat dekat dengan wajahnya. Mendadak Rathyan menarik diri ke atas, bertumpu dengan tangannya di atas ranjang sehingga pandangan mereka bertemu.

Mereka berpandangan dalam kebisuan. Sepasang mata saling menatap. Perlahan tangan Rathyan yang tadi melingkari pinggang Daze bergerak ke atas--menyibak rambut yang menutupi wajah gadis itu. Mata Daze terpejam sehubungan dengan gerakan tangan tersebut. Hatinya berdegup kencang. Sekali lagi dia merasakan perasaan aneh ini. Sebenarnya perasaan apa ini? tanyanya untuk kesekiankalinya.

Lalu dia merasakan sentuhan halus jari pemuda itu di bibirnya. Menyapunya perlahan sampai ke ujung bibir, kemudian kembali lagi ke arah sebaliknya. Daze membuka mulutnya dan mendesah.

Rathyan menunduk kemudian melumat bibir Daze. Semula perlahan, lama-kelamaan semakin memanas. Lidahnya masuk ke dalam mulut gadis itu dan bertaut dengan lidahnya yang lembut. Dipelintirnya lidah Daze kemudian digigitnya dengan lembut bibir bawahnya.

"Ahhh ... ," Daze mendesah dan mendekap tubuh Rathyan.

Pemuda itu menurunkan permainannya. Lidahnya menari-nari dari dagu sampai ujung leher Daze, kemudian kembali lagi ke bibir, lalu ke daun telinga. Daze mendesah semakin keras, diikuti rintihan-rintihan kecil.

"Rath .. ," panggilnya di sela-sela nafasnya yang memburu.

Sesaat Rathyan menghentikan cumbuannya. Kepalanya diangkat dan diperhatikannya Daze dengan seksama. Merasa sentuhan-sentuhan Rathyan lepas dari tubuhnya, Daze membuka mata. Mereka saling berpandangan lagi. Rathyan menghela nafas, kemudian mendaratkan ciuman lengket di jidat Daze.

"Tidurlah!" katanya sambil membaringkan badannya kembali ke atas ranjang.

Mulut Daze terbuka. Sekali lagi dia dibuat mengangga oleh perbuatan pemuda ini. Tadi dia sangat bernafsu. Ciuman-ciuman dan cumbuan-cumbuannya sangat hebat. Tapi sekarang dia mengakhirinya begitu saja dengan ciuman di jidat. Daze menatap Rathyan. Sepasang mata pemuda yang mencumbunya tadi, sudah terpejam. Daze tersenyum perlahan. Dia melingkarkan tangannya di dada bidang Rathyan dan meletakkan kepalanya di lengannya yang masih membantali kepala dan lehernya.

Tanpa sadar, beberapa menit saja, mereka sudah tertidur pulas dengan senyum yang terkembang di bibir.



***** >< >< *****




Daze bermimpi. Memimpikan banyak hal. Kesehatan halmonie yang secara ajaib sembuh begitu saja. Terus, Han Da' ZeVe tertolong berkat uluran tangan orang tak dikenal. Omma dan appa mengunjunginya di Perth. Dave yang berubah baik. Carlson yang menghubunginya dengan tiba-tiba dan berkata segala sesuatunya baik dan dia akan kembali padanya. Tapi ada satu yang kurang, apa itu? Daze tersentak bangun dari tidurnya.

Dia berpaling ke kiri dan kanan. Apa yang sebenarnya dicarinya? Dia tidak tahu.

"Kamu sudah bangun?"

Pertanyaan itu membuat Daze mengangkat wajahnya. Rathyan berdiri di sana--di samping ranjangnya--dengan dada polos. Dahinya berkenyit.

"Gwencana?" tanya Rathyan.

Daze mengangguk linglung. Mengapa dia pagi-pagi sekali sudah bertelanjang dada? umpatnya dalam hati.

Seperti menjawab pertanyaan Daze, Rathyan berkata, "Saya menggunakan kamar mandimu tadi. Si Ye Jin-ssi sedang membersihkan kamar Dave."

"O .. ," Daze mengangguk.

Rathyan mengibas-ngibaskan kemeja putih di tangannya kemudian memakainya. "Apa kamu tidak lapar?" tanyanya sambil mengancing butang-butang kemeja tersebut.

"Saya akan sarapan nanti. Bagaimana denganmu?"

Rathyan melengkapi penampilannya dengan vest abu-abu dan mantel panjang warna hitam. Sedangkan jeans ketat warna senada membalut ketat sepasang kakinya yang panjang. "Saya sarapan di luar. Pagi ini ada ujian jadi harus segera ke kampus." dia berhenti sejenak, kemudian melanjutkannya dengan pelan. "Jaga Dave baik-baik. Ikuti perintah-perintah yang telah kuberikan tadi malam."

Daze mengangguk. "Ne .. "

"Kalau begitu saya pergi dulu .. "

Rathyan meraih ransel yang tergeletak di lantai, kemudian menyampirkannya ke pundaknya. Dia sudah sampai di depan pintu ketika dia berbalik lagi ke arah Daze yang baru turun dari ranjang.

"Mwo? Ada yang keting ...?"

Pertanyaan Daze belum habis, bibir Rathyan sudah mendarat di bibirnya.

"Saya akan pulang segera." kata Rathyan di sela-sela nafasnya yang berat. "Saya usahakan secepatnya .. "

Sekali lagi dia mengecup bibir Daze--membuat mulut gadis itu mengangga, setelah itu dia berputar ke pintu--kali ini benar-benar berlalu dari kamar itu.



**************


_________________


♥️ "Everywhere ★ we learn ★ only from ★ those whom ★ we love" ♥️
avatar
DragonFlower

Posts : 94
Join date : 2013-06-17
Location : | Trapped in CNBLUE Dorm |

View user profile

Back to top Go down

Re: from Seoul to ... Perth-- by Lovelyn

Post by DragonFlower on Wed Jun 26, 2013 3:30 pm




from Seoul to ... Perth--
Chapter Seven

By : Lovelyn Ian Wong


Daze mengamati halmonie yang sedang sibuk melahap sarapan dengan nikmat dari seberang meja. Wajah tuanya terlihat segar dan bersemangat pagi ini. Nafsu makannya mengejutkan. Halmonie sudah menghabiskan dua mangkuk bubur yang dimasak Ye Jin. Bahkan sepasang tangan yang biasanya bergetar itu kelihatan sangat luwes. Daze tersenyum perlahan.

"Halmonie tampak baik hari ini .. "

Halmonie mengelap bibir keriputnya dan menyingkirkan mangkuk yang telah kosong ke pinggir meja. Dengan sigap, Ye Jin yang berada di sampingnya segera mengambil mangkuk tersebut dan membawanya ke dapur kemudian mencucinya.

"Kemarin malam halmonie merasa capek--capek sekali ...," kata halmonie dengan suara yang ditahan. "Tapi pagi ini ..., entah mengapa halmonie merasa segar lagi .. " Wajah keriputnya terlihat cerah.

"Mungkin karena istirahat yang cukup tadi malam .. ," ujar Daze sambil tersenyum manis.

Halmonie mengangguk. "Mungkin juga .. ," jawabnya perlahan.

Sekilas Daze menangkap kegelisahan terselip di wajah halmonie. Tapi hanya sesaat dan tidak kentara.

"Ada yang halmonie khawatirkan?" tanya Daze ragu-ragu.

Halmonie bergeser sedikit dari kursinya, kemudian berdiri dengan posisi agak miring.

"Tidak juga .. ," jawab halmonie. "Hanya saja ... ," lanjutnya pelan. Perkataannya berhenti sampai di situ.

"Hanya apa?"

Halmonie menghela nafas--menyemburkan uap-uap tebal ke udara. "Dongsengmu ... ," katanya di sela-sela nafasnya yang agak sesak. " ... entah apa yang dilakukannya selama sebulan ini?"

Daze tertegun. Jadi masalah ini yang mengelisahkan halmonie? Jadi beliau juga mengkhawatirkan Dave walaupun tidak memperlihatkannya selama ini?--sifat cuek dan tidak senang ketika ada orang yang menyinggung nama Dave.

Daze mendekati halmonie dan memeluknya. "Halmonie jangan khawatir. Dave baik-baik saja. Dia sudah menghubungiku kemarin--kalau selama ini dia tinggal di rumah temannya. Konsentrasi belajar buat ujian akhir semester .. " Daze mengigit bibir bawahnya setelah mengutarakan kebohongan-kebohongan ini. Tapi apa lagi yang dapat dilakukannya selain perkataan-perkataan ini?

"Jeongmal?" Halmonie memandaginya penuh harap.

"Ne." sahut Daze.

"Syukurlah .. ," halmonie mengelus dadanya. Kemudian dia mengamati Daze yang sedang tersenyum padanya. "Jujur saja .. ," kata halmonie dengan nada cerah. " .. kamu juga kelihatan lain akhir-akhir ini, Dazya .. "

Pipi Daze perlahan merona merah. "Apa maksud halmonie?" tanyanya risih.

"Entahlah .. Hanya perasaan halmonie saja .. ," jawab halmonie dengan suaranya yang bergetar. "Dan halmonie berharap .. kamu akan selalu begitu. Bahagia selamanya, Dazya .. "

Daze tertawa kikuk, "Memangnya saya pernah kelihatan tidak bahagia?"

"Ada." jawab halmonie sambil menatapnya lekat-lekat. "Beberapa waktu yang lalu. Halmonie tidak ingat lagi kapan itu. Yang jelas kamu terlihat sedih dan tidak berkata apa-apa. Jangan berbohong padaku, sayang. Halmonie tahu segalanya .. "

"Hmm--," Daze terdiam dan tidak sanggup berkata lebih lanjut.

Halmonie mengelus lengannya dengan lembut, kemudian bergerak perlahan-lahan dengan tongkat di tangannya.

"Halmonie mau ke mana?" Daze berbalik menghadapi halmonie.

Wanita tua itu menjawab tanpa menoleh padanya. "Kebun belakang, sayang. Halmonie ingin melihat nasib mawar-mawar kesayanganmu .. "

"Tapi salju belum dibersihkan .. ," seru Daze sambil mengikuti langkahnya.

"Jangan khawatir, halmonie hanya melihatnya dari dalam rumah .. ," jawab halmonie tanpa menghentikan langkahnya.

"Saya ikut!!" teriak Daze.

Tapi langkahnya terhenti ketika Ye Jin tiba-tiba menyelip di hadapannya.

"Agashi!"

"Ada apa?" tanya Daze dengan kening berkenyit. "Bisa dibicarakan nanti saja Ye Jin-a? Saya harus menemani halmonie sekarang. Terlalu berbahaya membiarkannya berkeliaran di luar sana .. "

"Sebentar saja, agashi .. ," pinta Ye Jin. "Ini mengenai pemuda yang kemarin malam .. "

Langkah Daze yang sudah digerakkan terhenti. "Rath?"

"Agashi mengenalnya?" tanya Ye Jin. "Pagi ini--ketika saya membersihkan kamar doronim, dia masuk ke dalam kamar. Saya curiga dia tinggal di kamar itu bersama doronim karena dia mengambil pakaian dari dalam lemari .. "

Daze mengigit bibirnya dan berpikir. Setelah mengambil keputusan dia berkata, "Dia memang tinggal di sini."

"Mwo? Chinja?" mata Ye Jin terbelalak lebar. "Sejak kapan?"

"Beberapa hari yang lalu." sahut Daze asal-asalan. "Dia sahabat Dave dan saya minta bantuannya mencari anak itu. Tapi halmonie tidak tahu. Jadi saya harap kamu tidak menceritakannya .. "

Ye Jin mengangguk. "Jadi begitu ceritanya .. ," gumamnya pelan. "Tapi agashi .. mengapa tidak boleh menceritakannya pada halmonie?" Ye Jin bertanya lagi.

"Itu karena .. ," Daze memutar otak sekeras-kerasnya guna mendapatkan jawaban yang tepat. ".. halmonie .. hmmm--kamu tahu sendiri kan keadaan Dave?" kata Daze dengan mata berbinar. "Bukan keberadaan Rath yang saya khawatirkan melainkan Dave .. "

"O araso .. ," ujar Ye Jin--mengerti. "Saya akan merahasiakan ini, agashi .. "

"Bagus." ditepuknya pundak Ye Jin. "Gumawo, Ye Jin-a. Sekarang saya akan menyusul halmonie. Nanti kamu ke lantai atas--periksa keadaan Dave."

"Ne."

Daze tersenyum pada Ye Jin, kemudian berlari-lari kecil menyusul halmonie yang sudah menghilang beberapa menit yang lalu.



========== ### ==========



Rathyan berhenti di samping taman belakang Han's mansion. Saat itu sudah malam--sekitar pukul 8. Dia mendengus. Sepatu bootnya lengket oleh salju. Dengan kesal disepak-sepakkannya gumpalan-gumpalan salju yang menempel di sepatunya ke dinding. Selang waktu beberapa menit dia berkutat dengan salju-salju menyebalkan itu. Dia menghembuskan nafas setelah sepasang sepatunya agak bersih dari gumpalan-gumpalan lengket tersebut. Kemudian diiperhatikannya keadaan sekelilingnya. Pemandangan di sekitarnya terselimut salju--semuanya. Menghampar luas--Putih dan lembut bak lautan kapas.

Rathyan mengedarkan pandangannya ke halaman depan yang agak tertutup oleh rumpun-rumpun cemara. Keningnya berkerut perlahan. Samar-samar dia melihat dua sosok sedang mondar-mandir di serambi depan. Rathyan menajamkan pandangannya. Matanya menyipit.

"Natalie Park .. ," gumamnya begitu berhasil mengenali salah seorang dari mereka.

Rathyan berbalik dari niat semula, yaitu memanjat tanaman rambat yang tumbuh di situ. Dengan langkah lebar dia mendekati dua sosok yang makin lama makin terlihat jelas olehnya.

"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Rathyan dengan nada dibuat sepelan mungkin. Dia tidak ingin orang-orang rumah mendengar percakapannya.

Kedua orang itu tampak tersentak--kaget. Mereka menoleh bersamaan. "OH,, RATHYAN JANG!!" seru mereka.

Rathyan segera mengerutkan alisnya. "Jangan seribut itu!"

"Miane .. ," kata cewek bergaun lebar--Natalie Park. Sedangkan cewek satunya mencibirkan bibir dengan ekspresi mengejek.

"Mengapa kalian sampai ke sini?" tanya Rathyan tajam. Setelah melirik sekilas cewek yang tidak diingat namanya, dia beralih pada Natalie. "Bukankah sudah kukatakan Dave yang akan mendatangimu?"

Natalie mengangguk dengan segan. "Memang. Dia sudah mendatangiku." suaranya terdengar bergetar. "Dan dia berjanji menemuiku tiga hari yang lalu. Tapi sampai sekarang dia belum muncul. Saya takut sesuatu yang buruk terjadi padanya. Jadi .. saya mendatanginya di sini. Saya terpaksa .. Tidak ada jalan lain .. "

"Nat ... ," cewek di sebelahnya tiba-tiba menepuk pundaknya. "Kamu tidak bersalah jadi kamu tidak perlu takut." dia berpaling pada Rathyan dengan jengkel. "Lihat--dia bilang tidak mengetahui keberadaan kekasihmu, tapi ternyata dia tinggal di sini .. "

Tampang Rathyan berubah keras. "KAMU--," dia menunjuk gadis itu tapi ucapan selanjutnya tidak keluar. "Namamu siapa? Saya lupa .. "

"Mwo?!" teriak gadis itu--tak percaya. "Kamu sungguh memuakkan!" dengusnya marah. "Dengar baik-baik! Namaku Gretchell Park, dan aku tidak akan mengulanginya lagi sekalipun kamu lupa!"

Rathyan mengangkat bahunya. "Terserah!" katanya. "Mengenai keberadaan Dave waktu itu, saya benar-benar tidak tahu .. "

"O ya?" Gretchell mencibir. "Lalu bagaimana sekarang--kamu mengetahuinya?"

"Itu .. "

Ceklikk ... , pintu depan yang dibuka dari dalam menghentikan perkataan Rathyan. Wajah Daze nonggol dari balik pintu.

"Rath? ," panggil gadis itu. Suaranya terdengar lembut dan mengandung ... kerinduan "Kamu sudah pulang, mengapa lama .. ," perkataannya terputus ketika mendapati keberadaan orang lain di sebelah Rathyan.

Diperhatikannya kedua gadis itu satu-persatu, kemudian beralih pada Rathyan. "Dhuga?"

"Ehmm--," pemuda itu berdeham halus membersihkan tenggorokannya. "Ini Natalie Park-- .. kekasih Dave .. ," katanya pelan, kemudian tangannya beralih ke Gretchell. "Sedangkan dia, Gretchell Park--sepupunya .. " kemudian dia beralih pada Gretchell dan Natalie. "Ini noonanya Dave, Daze Han .. ," katanya--mengenalkan Daze pada mereka.

"O .. ," Daze mengangguk. "Jadi kamu kekasih Dave?" dia bertanya pada Natalie Park yang segera menganggukkan kepalanya.

"Anyongheseyo onnie .. "

"Anyong .. ," balas Daze sambil tersenyum lembut. "Senang bertemu denganmu Nat." lalu dia berpaling pada Gretchell, "Anda juga Gretchell. Selamat datang di kediaman kami .. "

Gretchell langsung membuang wajah. "Saya hanya menemani Nat ke sini." katanya ketus. "Anda tidak perlu terlalu santun padaku."

"O .. ," Daze mengangga. Dia tidak mengira akan mendapat perlakuan seketus ini. Matanya terbelalak lebar--kaget. Apa salahku? batinnya--tak mengerti.

Dan dia hampir syok oleh perlakuan Gretchell selanjutnya. Gadis bergaun pendek yang ketat itu mendadak menarik kerah kemeja Rathyan sehingga tubuh jangkungnya oleng ke samping--menyenggol tubuhnya sendiri.

"Jadi benar-kan kamu tinggal di sini, pemuda angkuh?!" tanya Gretchell dengan suara keras.

"Yaa--!!" Rathyan segera menarik diri kembali. Dia menoleh pada Gretchell dengan tampang garang. "Sudah berapa kali saya memperingati kamu! Jangan sekali-kali berulah begini lagi. Saya paling benci kamu mendadak menarik bajuku--ataupun menyentuhku!"

Tanpa disadari, Daze memandangi mereka dengan ekspresi keras. Bibirnya terkatup rapat.

"Cih--," Gretchell langsung mencibir.

"Dan juga ... ," lanjut Rathyan tanpa memperdulikan tampang jutek Gretchell. "Apa mau kalian selain mencari Dave?"

Sebelum menjawab pertanyaan Rathyan, Gretchell menarik gaunnya yang agak miring, kemudian merapatkan jaket kulitnya di depan dada. "Kami ingin mendiskusikan kehamilan Nat dengan keluarga Dave .. ," kata Gretchell dengan nada ringan.

"MWO?!" Daze yang belum hilang dari keterkejutannya akibat interaksi Rathyan dan Gretchell sangat terkejut dengan berita mendadak ini. "Apa katamu? Kehamilan Nat? Maksudnya ... ," dia mengangkat wajah--menatap Gretchell lekat-lekat. Masalah tadi--yang sempat membuatnya marah, terlupakan begitu saja. ".. bayi Dave ...?"

Gretchell mengangguk mantap. Tidak diperdulikannya tarikan tangan Natalie di lengannya. Ataupun pandangan tajam dari Rathyan.

"Mengapa .. bisa begini?" tanya Daze agak bergetar. "Dave ... Dave tidak pernah menceritakannya padaku .. "

"Tentu saja tidak." sela Gretchell ugal-ugalan. "Mana mau dia menceritakan aib yang sudah dibuatnya!"

"SUDAH!!! CUKUP, GRETCHELL PARK!" bentak Rathyan tiba-tiba. Dia menyelip di antara Daze dan Gretchell--menghadapi Gretchell dengan mata yang memancarkan api amarah. "Kamu tidak perlu menyindir seperti ini. Masalah ini bisa dibicarakan baik-baik." Kemudian dia berbalik kepada Daze. Meraih tangan gadis yang sedang tertekan itu, dan menurunkan volume suaranya. "Semua akan beres, Dazya. Kita tanyakan pada Dave apa rencananya selanjutnya .. "

Daze yang sedang menundukkan kepalanya--mengangkat wajah perlahan. Pandangannya kelihatan menerawang. "Tanyakan pada Dave?" tanyanya--linglung.

"Ne." jawab Rathyan. Digoyangnya tangan gadis yang masih dipegangnya itu. "Gwencana?"

"RATHYAN JANG!!" teriakan keras tiba-tiba terdengar.

Rathyan menoleh. Gretchell sudah berdiri di belakangnya. Sangat dekat sehingga dagunya bertabrakan dengan kening cewek itu.

"Yaishh!!" teriak Rathyan. Tangannya memegang dagunya yang terasa perih dan mengelus-ngelusnya. Dagunya memerah--tapi jidat Gretchell tidak kalah parah darinya. "KAMU INI--" seru Rathyan dengan nafas memburu. Sedangkan Gretchell terlihat meringis kesakitan. "Bisa tidak kamu jangan urakan begini?!!"

"APANYA?" balas Gretchell--tidak kalah keras. "Lihat jidatku!! Kalau kamu tidak setinggi ini, jidatku tidak akan bernasib seperti ini!" sambungnya dengan nada menyalahkan.

"MWO?!" mata Rathyan terbelalak lebar. "Kamu--sungguh tak bisa dipercaya!!"

Brakkk!! ... , pintu yang digebrak dengan tiba-tiba mengejutkan mereka--tidak saja Rathyan dan Gretchell yang sedang beradu mulut, tapi juga Natalie yang berdiri di tempat dengan posisi menunduk. Semua langsung menoleh ke arah pintu. Daze berdiri di sana dengan kepalan tangan yang memerah. Bibirnya terkatup rapat. Nafasnya agak memburu sedangkan matanya tak berkejap.

"What's .. what's .. going on?" tanya Natalie gagap.

Daze mengigit bibirnya. Dia mengatur pernafasannya dengan susah payah. Terlihat jelas emosinya tidak terkendali. Sepasang pipinya merona merah--sangat merah.

"Ada apa dengannya?" Gretchell bertanya. Alisnya berkerut dengan perasaan tidak senang. "Salah minum obat ya?"

"TUTUP MULUTMU!!" bentak Rathyan--mengejutkannya. "Apa hakmu berkata begitu?"

"CUKUP!" seru Daze tiba-tiba. Suaranya terdengar lantang sehingga semuanya langsung terdiam--termasuk Rathyan. Daze memutar tubuhnya sedikit dan mendekati Natalie. "Kita bicarakan di dalam saja. Saya yang akan mewakili Dave. Untuk sementara Dave tidak bisa mengambil keputusan buat masalah ini .. ," kata Daze dengan suara dibuat setenang mungkin. "BUKAN! BUKAN KARENA DAVE TIDAK MAU BERTANGGUNG-JAWAB!" sambungnya cepat begitu melihat ekspresi putus asa dari Natalie. "Hanya .. hanya kesehatannya yang tak mengijinkan .. "

"Oh, dia sakit?" seru Natalie khawatir. Tangannya menbekap mulutnya yang terbuka, sedangkan sepasang matanya terbelalak lebar. "Dia .. dia tidak apa-apa, kan?"

"Tidak. Dia .. baik-baik saja .. Hanya flu biasa kok. Tapi walaupun begitu sebaiknya kamu menghindarinya. Tidak baik buat bayi dalam kandunganmu .. ," jawab Daze pelan.

"O syukurlah ... ," Natalie mengelus-ngelus dadanya--lega begitu mendengar penjelasan Daze.

"Sekarang masuklah. Kita bicarakan di dalam."

Daze menuntun Natalie masuk ke dalam rumah. Melewati Rathyan yang menatapnya--tanpa berpaling sekalipun. Sedangkan Gretchell mendengus perlahan begitu Rathyan memutar tubuh dan mendelik padanya dengan tajam.



========== ### ==========



"Agashi ... ," Ye Jin menahan nafas begitu melihat Daze memasuki ruang tengah sambil membimbing seseorang. Pemuda yang dilihatnya kemarin malam karena membawa Dave pulang dan seorang gadis asing lainnya mengikuti dari belakang.

"Sssttt!!" Daze memberi isyarat dengan mulutnya. "Nanti saya jelaskan." sambungnya sambil melirik kesana kemari. "Mana halmonie?"

"Beliau sudah kembali ke kamarnya." sahut Ye Jin--masih dengan pandangan bertanya.

Daze mengangguk. "Bagus." perlahan dia menghembuskan nafas lega. "Lalu bagaimana keadaan Dave?" tanyanya dengan nada pelan.

"Doronim sudah tidur setelah kejang-kejang dan berteriak-teriak tadi. Saya sempat menyumpat mulutnya karena takut ketahuan halmonie .. ," kata Ye Jin dengan nada menyesal.

Daze mengangguk. Dia merasakan kepedihan itu seperti Ye Jin. Tapi dia tidak ingin memperlihatkannya mengingat kondisi Natalie yang sedang mengandung bayi Dave. Daze memegang tangan Ye Jin dan berkata, "Sekarang tolong siapkan beberapa minuman buat kami, Ye Jin-a!" perintahnya. "Hmm--sepoci teh saja, jangan minuman beralkohol .. ," sambung Daze dengan mengangkat tangannya--begitu mengingat kandungan Natalie yang tidak baik mengkonsumsi alkohol.

"Ne, agashi .. ," Ye Jin berlalu dari ruangan itu.

Rathyan, Daze, Natalie dan Gretchell kemudian mengambil posisi masing-masing dalam ruang tamu itu. Rathyan dan Daze duduk saling berhadapan. Sedangkan Gretchell duduk di samping Rathyan dan Natalie di samping Daze. Begitu menjatuhkan diri di sofa, Rathyan terus mengamati Daze. Tapi gadis itu tidak memandangnya sama sekali. Berulangkali dia melempar pandangan di jendela kaca di belakang pemuda itu. Ataupun menatap Natalie dengan senyuman kaku. Ruangan tersebut menjadi sunyi sehabis ditinggal Ye Jin. Tidak ada seorangpun yang membuka suaranya sampai Ye Jin memasuki ruangan dengan sepoci teh dan beberapa cangkir dalam nampan sepuluh menit kemudian.

Ye Jin meletakkan nampan di tangannya di atas meja bundar dari marmer putih yang dikelilingi beberapa sofa pendek yang sedang diduduki majikan beserta tamu-tamunya. Diedarkannya cangkir-cangkir dalam nampan ke hadapan mereka, kemudian menuang teh dalam poci ke dalam cangkir-cangkir kosong tadi. Setelah itu dia membungkukkan badannya dengan hormat lalu keluar dari ruangan tersebut.

"Emm--silahkan di minum tehnya .. ," kata Daze--memecah kebisuan di antara mereka.

Tanpa dikomando, semua orang dalam ruangan itu meraih cangkir masing-masing dan mereguk tehnya. Cangkir-cangkir diletakkan kembali di atas meja dalam waktu bersamaan.

"Apa bisa dimulai pendiskusian penting ini .. ," Gretchell berkata--ia terlihat bosan.

"Tentu!" sahut Daze lantang--mengejutkan orang-orang dalam ruangan itu. Gadis di depannya mengerutkan alisnya. Mata Natalie melebar, sedangkan Rathyan menatapnya lekat-lekat.

"Jadi ... bagaimana?" Natalie mengeluarkan suaranya perlahan-lahan. "Apa .. apa yang harus kami lakukan? .. Saya tidak akan mengugurkannya--TIDAK AKAN!" dia menekan di kata-kata terakhir. Kemudian mengeleng keras-keras. "TIDAK AKAN .. "

"Tenang saja, Nat .. ," Daze menepuk-nepuk punggung tangan Natalie untuk menenangkannya. "Tidak ada yang memaksamu mengugurkannya .. ," dia tersenyum. "Paling tidak, saya orang pertama yang akan melarangnya .. "

"Chinja?"

Daze mengangguk. "Tentu saja .. " kemudian dia mengelus perut Natalie yang terbungkus gaun. "Saya merasa .. sudah mencintainya .. "

"Ho ho .. Lucu sekali .. ," Gretchell tiba-tiba tertawa sumbang. "Memangnya kamu punya hak mengambil keputusan buat dongsengmu?"

Wajah Daze mengeras. Perhatiannya teralih dari perut Natalie ke gadis di hadapannya. Ditatapnya Gretchell dengan pandangan menusuk. "Dengar nona Park! Saya punya hak seutuhnya buat masalah ini. Dave belum cukup umur jadi mau menikah ataupun bertunangan lebih dahulu, saya yang akan mengambil keputusan buatnya."

"O ya?" Gretchell mencibir. "Tapi benar juga .. kamu kan noonanya .. ," lanjutnya dengan senyum mengejek. "Berapa usiamu, onnie?"

"GRETCHELL PARK!!" Rathyan berseru mendadak. "APA MAKSUDMU BERTANYA BEGITU?" pandangannya mengobarkan bara api--seakan mau membakar Gretchell saking marahnya. "KAMU MAKIN KETERLALUAN, TAHU?!"

"Cih!!" Gretchell tak terlihat gentar. Dia membalas pandangan Rathyan, kemudian mencondongkan badannya. "Mengapa kamu selalu membela dia?" tanyanya dengan nada menyelidik.

"Ehmmm---," Daze terbatuk perlahan sehingga semuanya menoleh padanya. "Sebaiknya kita kembali ke pokok persoalan ... ," katanya, berusaha mengalihkan perhatian dari pertanyaan Gretchell yang mendadak membuatnya risih--ENTAH MENGAPA.

"Jadi .. bagaimana, onnie?" tanya Natalie dengan suara bergetar.

Daze berpaling padanya. "Seperti yang onnie katakan tadi." katanya sambil tersenyum. "Onnie akan menjaga kandunganmu. Apapun keputusan Dave, onnie tidak akan membiarkannya mengugurkannya."

"Chinja?"

"Ne."

"Tapi apa kamu yakin bisa mengendalikan dongsengmu?" Gretchell mengajukan pertanyaannya.

Daze menoleh padanya. Dan entah mengapa tampangnya langsung berubah kaku. Berlainan dengan sikapnya pada Natalie, sekarang dia menekan kata-katanya satu-persatu dengan nada dingin. "Dia akan mendengarkanku. PASTI."

Gretchell mengangkat bahunya. "Ok." katanya cuek. "Kita lihat saja apa rencanamu sekarang."

Daze menghela nafas. "Saya akan menemui orangtua Natalie besok dan mendiskusikan masalah ini dengan mereka."

"Tidak perlu!" sela Gretchell.

"Mwo?"

"Saya bilang tidak perlu!"

"Mengapa?" tanya Daze--tak mengerti.

"Karena orangtua Natalie sudah meninggal beberapa tahun yang lalu." jawab Gretchell yang langsung disambut pejaman mata Natalie. Wajah gadis itu jadi sendu.

Daze langsung menoleh padanya. Dia ikut sedih. Tiba-tiba dia teringat pada halmonie. Entah apa jadinya jika halmonie sampai meninggalkannya seperti yang dialami Natalie. Dia mungkin akan terpuruk--lebih dari gadis ini.

"Miane .... ," kata Daze berupa desahan.

Natalie mengangkat wajahnya. Dia berusaha tersenyum kemudian mengeleng perlahan. "Tidak apa-apa, onnie. Saya sudah biasa .. "

Daze mengangguk. Ditepuk-tepuknya lengan gadis itu sebagai penghiburan.

"Sekarang orangtuaku yang bertanggungjawab atas kehidupan Natalie." Gretchell berkata. "Mereka yang akan mengambil keputusan buat masalah ini. Karenanya--kamu, sebagai wakil Dave, perlu mendiskusikannya dengan orangtuaku ..."

Daze menyimak semua perkataan Gretchell. Walaupun hatinya masih kesal padanya--dan untuk kesekiankalinya, dia tidak tahu mengapa--dia memberikan tanggapan juga. "Baik. Itu tidak masalah nona Park. Saya akan mendatangi orangtua anda lusa nanti. BERSAMA DAVE."

"Bagus." Gretchell tersenyum simpul. "Kami menanti kedatangan anda. JANGAN LUPA MEMASTIKAN DONGSENGMU MAU MENGAMBIL TANGGUNGJAWAB INI." kemudian dia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. "Lalu bagaimana dengan orangtua kalian?"

"Mereka tidak bisa hadir dalam diskusi ini." jawab Daze dengan nada menyesal. "Mereka masih di Korea, sedangkan kesehatan halmonie tidak mengijinkan untuk mengetahui masalah ini. Belum saatnya maksudku .. ," dia segera mengoreksi perkataan yang mula-mula keluar dari mulutnya begitu melihat wajah Gretchell berkerut. "Sedangkan tentang Dave, kalian tidak perlu khawatir. Saya akan memastikan dia menerima tanggungjawab ini!"

"Ok." Gretchell menegakkan badannya. Dia tersenyum pada Natalie yang duduk di hadapannya. "Kamu dengar itu, dongseng-a? Keluarga Han akan bertanggungjawab terhadap bayi dalam kandunganmu .. "

"Ne, onnie .. ," jawab Natalie dengan sepasang pipi semburat merah. Dia menunduk perlahan. Kelihatan malu-malu, tapi terlihat jelas dia sangat bahagia.

Gretchell menepuk kedua pahanya kemudian berdiri dari sofa. "Kalau begitu kita pamit sekarang, Nat .. ," katanya pada Natalie. Setelah adik sepupunya itu berdiri, dia menoleh ke arah Rathyan yang masih duduk bersidekap di sofa--di sebelahnya. "Hey pemuda angkuh .. ," panggilnya sambil menyolek dagu pemuda itu.

Rathyan sangat terkejut. Dia berusaha menghindar tapi colekkan selanjutnya kembali mendarat di dagunya sebelah kanan, dekat telinga. "Yaishhh--sudah kubilang .. "

"Jangan menyentuhmu, kan?" sela Gretchell sambil tersenyum mengejek. "Kamu selalu ngomong begitu!!"

"KAMU INI--," wajah Rathyan merah padam. Kata-katanya terpotong dan tak mampu dilanjutkan. Perlahan dia mengalihkan perhatian ke depan. Dan .. betapa terkejutnya dia begitu mendapati pandangan menusuk dari Daze. Untuk pertamakalinya dia melihat ekspresi gadis itu seperti ini.

"KAMU APA?" tanya Gretchell dengan keras. "Tidak bisa dipercaya? Itu lagi yang ingin kau katakan? Cihh--," dia mencibir.

Rathyan menoleh padanya. Gerahamnya mengatup dengan rapat. Dia tidak bersuara dan hanya menatap cewek itu dengan pandangan dingin--emosinya berhasil dikendalikan dalam sekejap.

"Dengar Rathyan Jang!" lanjut Gretchell dengan senyum terkembang di bibirnya. "You're my destination!" tubuhnya condong ke depan. Membuat Rathyan langsung menyusut ke sandaran sofa di belakang. "Arata?"

"Mwo?" tanya Rathyan pelan. Keningnya berkenyit perlahan. "Are you crazy? You think--who are you can make this decision for me?"

"I'm Gretchell Park." Gretchell membusungkan dadanya. "The great Gretchell Park." lanjutnya dengan nada bangga. "Kamu tahu berapa pria berusaha mendapatkan perhatianku dan tidak kuhiraukan?"

Rathyan tertawa hambar. "O ya? Tapi itu tidak ada urusannya denganku!"

"Karna itu saya menyukaimu!" sahut Gretchell. "Kamu lain dari yang lain .. "

"Itu hanya rasa penasaran, nona. Bukan perasaan suka, apalagi cinta .. "

Gretchell mengangkat bahunya. "Terserah. Yang jelas, saya menginginkanmu sebagai pacarku!"

"Onnie .. ," sela Natalie begitu keadaan dirasakan semakin memanas. "Apa tidak sebaiknya kita pulang sekarang?"

Gretchell menoleh padanya. Melihat wajah pucat Natalie, akhirnya dia mengangguk. "Baiklah." Kemudian dia menghadapi Daze yang dari tadi tidak mengeluarkan suaranya. "Onnie, kami pamit. Sampai ketemu lusa nanti .. "

Daze mengangguk dengan tampang dingin. Kemudian dia membuang muka ke arah lain. Sedangkan Gretchell, hanya tersenyum penuh kemenangan melihat keadaan itu. "Apa onnie mengantar kami ke luar?"

Daze menoleh padanya--mengangga. Dia tidak menyangka cewek bengal di hadapannya akan mengeluarkan permintaan seperti ini.

"Bagaimana, onnie?" ulang Gretchell--menantang.

Tangan Daze terkepal, kemudian dia berdiri dari tempatnya. "Tentu saja. Saya yang akan mengantar kalian keluar .. "

"Bagus .. ha .. ha .. ," Gretchell tertawa renyah. "Lalu bagaimana denganmu Rathyan Jang?"

"Apanya?" Rathyan yang sedang menatap nanar meja di depannya mengangkat wajah perlahan.

"Kamu tidak pulang?" selidik Gretchell. "Atau .. memang benar kamu tinggal di sini?"

"Saya rasa tidak ada urusannya denganmu!" ujar Rathyan ketus. Dia berdiri dari sofa, kemudian berlalu dari hadapan mereka. Keluar dari ruangan tersebut, dia naik ke lantai atas--kembali ke kamar Dave.

"Ada apa dengannya?!" Gretchell masih mematung di tempat sambil menghadapi pintu ruang tengah yang terbuka. Sosok Rathyan sudah lenyap dari situ beberapa detik yang lalu.

"Di sini, nona-nona .. ," Daze menyilahkan--menyadarkan Gretchell dari ketermenungannya. Daze mendahului mereka keluar dari ruangan itu--tanpa berpaling lagi. Gretchell menatap Natalie. Mereka mengangkat bahu secara bersamaan, kemudian mengikuti langkah Daze meninggalkan ruang tengah tersebut.



========== ### ==========



Daze menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang dengan ekspresi keras. Dia sangat marah! Benar-benar marah! Rasanya ingin memukul orang. Entah mengapa dia merasa ada sebongkah batu yang sedang menghimpit dadanya sekarang ini. Menyesakkannya sehingga sulit untuk bernafas. Dia meraih bantal yang tergolek di pinggir ranjang, kemudian memukulnya bak kantung pasir. Makin lama makin keras. Bukk .. bukkk .. bukkkk ...

"Yaihssss!!" teriak Daze. Dilemparkannya bantal tersebut ke sudut ruangan. Nafasnya terengah-engah.

Tidak disadarinya kehadiran Rathyan di ambang pintu kamarnya yang tak tertutup.

"Wegude?" tanya pemuda itu--keras.

Begitu mengejutkan sehingga Daze tersentak di ranjangnya. Dia menoleh ke arah Rathyan. Rambutnya yang panjang sampai ke pinggang terlihat berantakan. Sebagian menutupi wajah dan lehernya. Dengan cepat dia mengibaskan rambutnya ke belakang dan memunggungi pemuda itu.

"Tidak apa-apa. Kamu keluarlah!!" kata Daze dengan nafas tertahan.

Rathyan mengejap-ngejapkan matanya--tidak mengerti dengan tingkah gadis ini. Diperhatikannya punggung Daze. Kemudian dia bergerak sedikit--menurunkan kedua tangannya yang bersidekap di depan dada.

"Sikapmu agak aneh hari ini .. "

"Aneh bagaimana?" seru Daze dari posisinya.

"Ya .. aneh .. ," Rathyan memasuki kamar Daze kemudian menjatuhkan diri di pinggir ranjang--di belakang gadis yang masih memunggunginya. "Pertamakalinya saya melihatmu seemosi ini .. ," lanjutnya. "Apa karena masalah Dave?"

Daze tersentak ketika sebuah tangan tiba-tiba melingkari lehernya.

"Bukankah masalah itu sudah terselesaikan?" kata Rathyan di sela-sela daun telinga Daze. "Natalie bersedia menerima usulmu. Sekarang tinggal menemui wakilnya--orangtua Gretchell .. "

"Yaa--," Daze mendorong Rathyan dengan punggungnya sehingga lingkaran tangannya terlepas dari lehernya. Nama Gretchell yang disebutkan begitu dekat di telingannya membuat emosinya meledak seketika. "Jangan sekali-kali menyentuhku lagi!!"

"WEE?! Ada apa denganmu?" alis Rathyan berkerut perlahan.

Daze sekarang sudah berhadapan dengannya. Mata gadis ini memerah dan terlihat dia sangat murka.

"Wegude?"

"Urusan keluargaku tidak ada sangkut-pautnya denganmu, jadi saya minta dengan sangat, kamu jangan mencampuri urusanku, Mr. Jang!!"

"Heyy what's going on?"

"Urus saja masalahmu dengan nona Park!!" lanjut Daze ketus.

"Nona Park? Maksudmu Gretchell Park?"

"Apa kamu ada urusan dengan Natalie Park?" Daze balas bertanya.

"Maksudmu?" tanya Rathyan tak mengerti. Keningnya berkerut semakin dalam. Diperhatikannya Daze. Emosi gadis ini terlihat makin memuncak.

Tiba-tiba Rathyan tertawa ngakak ketika sebuah pikiran melintas di otaknya. "Kamu .. ," disentuhnya wajah Daze yang segera menyusut dari posisinya. "Cemburu pada Gretchell Park?"

"MWO?!!" Daze berteriak keras. "HA .. HA .. HA .. LUCU SEKALI .. ," dia jadi risih. "Mana mungkin saya cemburu padanya! Memangnya kamu siapa bagiku? Kamu hanya teman dongsengku! Saya noonamu tahu? .. ha ... ha .. "

Rathyan langsung meloncat dari ranjang. Mengejutkan Daze yang masih tertawa-tawa palsu di tempatnya. Tampang pemuda itu mengeras dan tangannya terkepal erat. Dia menelan ludah kuat-kuat. Terlihat jelas dia sedang menahan perasaan dengan susah payah. Perlahan dia memutar tubuh sambil berjalan dengan langkah lebar ke arah pintu.

"Hey,, mau ke mana?" seru Daze. Suara ketawanya lenyap saat itu juga.

Rathyan berhenti tepat di ambang pintu. Dia menoleh pada Daze tapi tidak bergerak. "Saya tidak suka kamu berkata seperti itu!" sahutnya dingin. "Walaupun saya seumuran Dave dan kamu .. benar lebih tua dariku karena kamu noona Dave tetap saya tidak mau punya seorang noona sepertimu .. Cukup satu noona seumur hidupku--yaitu noonaku sendiri!" Setelah itu Rathyan keluar dari ruangan tanpa berpaling lagi pada Daze.

Daze mengangga di tempatnya. "Yaa--bukankah seharusnya saya yang marah?! Mengapa terbalik kamu yang menceramahiku?!" teriak Daze setelah tersadar dari lamunannya. Dilemparnya bantal satunya lagi ke arah pintu--tentu saja mengenai angin kosong karena Rathyan sudah menghilang dari ruangan itu.



========== ### ==========



Daze memasuki kamar Dave. Ditariknya tali gorden jendela kemudian membuka kacanya sehingga sinar mentari pagi langsung menerobos masuk ke dalam kamar. Dia memutar tubuh dan berjalan ke arah ranjang. Dave yang masih terikat di atas ranjang mengejap-ngejapkan matanya begitu sinar menyilaukan terasa menusuk-nusuk bola matanya. Dia bergerak ke kiri dan kanan sedangkan tangannya mengesek-ngesek tambang kecil tapi kuat yang mengikatnya.

Daze sampai di sebelah Dave. Diperhatikannya sebentar dongsengnya itu, kemudian pandangannya menyapu seluruh sudut ruangan. Tidak didapatinya keberadaan Rathyan. Dia menghembuskan nafas perlahan--entah lega atau kecewa dengan kenyataan ini.

"Noona .. ," desahan halus itu membuatnya berpaling. Kepalanya tertunduk ke atas ranjang. Dave sedang memandanginya dengan tampang memelas. "Lepaskan ikatan ini, noona ... ," dia memohon dengan lemah. "Tubuhku terasa remuk semua .. "

Mata Daze meredup. Lambat-lambat dia menjatuhkan diri di atas ranjang--di sebelah Dave. Disentuhnya lengan dongsengnya dengan perasaan bersalah. "Miane, Dave-a .. noona tidak bisa melakukannya sebelum pengaruh obat-obatan tersebut hilang. Kamu bertahanlah, sebentar lagi masa-masa sulit ini akan berlalu .. "

"Tapi noona ... ," kata Dave dengan suara yang semakin lemah. Dia menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan perkataannya. " .. noona, saya .. saya sangat menderita .. "

"Noona tahu .. noona tahu .. ," Daze terisak perlahan. "Miane, dongseng-a .. Kehidupanmu seperti ini dan noona tidak bisa menolongmu sama sekali .. "

"Lepaskan ikatanku, noona ... lepaskan .. ," mata Dave meredup.

"Dongseng-a!!" Daze menguncang tubuh Dave. "Gwencana?" tanyanya--cemas.

"Lepaskan ... ," ulang Dave--suaranya semakin pelan.

"Ne.. ne .. noona lepaskan, ya?"

Dengan gugup Daze berusaha melepas ikatan di tangan Dave. Tapi karena ikatan itu terlalu rumit dan kuat, dia tidak berhasil melakukannya. Kemudian dia beralih ke kaki Dave. Juga tidak berhasil. Ketika dia sedang berkonsentrasi penuh terhadap ikatan-ikatan di tangan dan kaki Dave, sebuah suara mengejutkannya.

"APA YANG KAMU LAKUKAN?"

Daze tersentak. Dia segera berpaling ke arah pintu. Suara itu memang berasal dari pintu kamar itu. Rathyan berdiri di sana sambil memandanginya dengan tajam.

"Sa .. saya .. ," Daze mengigit bibirnya. Kata-kata selanjutnya tidak mampu diucapkan.

"Berniat melepas ikatannya?" Rathyan memasuki kamar dan berhenti di dekat Daze. "Kamu tahu perbuatan tersebut bisa membunuhnya? Usaha kita hampir berhasil. Tinggal sejengkal lagi. Apa kamu ingin menghancurkannya?"

"Hmm--miane .. ," kata Daze pelan. "Saya .. saya hanya tidak sanggup melihat penderitaannya .. "

"Lalu apa kamu pikir dengan melepas ikatannya, kamu akan menghilangkan penderitaan itu?" lanjut Rathyan dengan nada dingin. "Lihatlah,, dia hanya mengeluh sebentar. Sekarang sudah tertidur lagi .. tapi jika kamu melepaskan ikatannya .. "

"Ne, ne,, araso .. ," sela Daze. "Dia akan lepas kendali lagi. Saya tahu itu."

"Bagus kalau kamu tahu!" ujar Rathyan.

"Tentu saja saya tahu." suara Daze menjadi keras. Kejadian kemarin malam kembali terbayang-bayang dalam ingatannya. Perasaan kesal, marah dan .. semuanya, campur-aduk jadi satu dalam hatinya. "Saya hanya sedikit terpengaruh tadi. Tapi sekarang tidak lagi!" sahutnya ketus.

"Ada apa lagi?" Rathyan memandanginya dengan kening berkerut. "Mengapa sikapmu kembali lagi seperti kemarin malam?"

"Tidak apa-apa." Daze langsung membuang mukanya.

Rathyan menghela nafas sebelum melanjutkan perkataannya. "O ya, tentang masalah Dave dan Natalie, apa ada yang bisa saya bantu?" tanyanya--berusaha mengatur volume suaranya ke batas wajar. "Kalau cuma uang, mungkin saya bisa membantu .. "

"Uang?!" Daze menoleh padanya. "Memangnya kamu punya uang dari mana?"

"Hmm--kamu tidak perlu tahu itu." jawab Rathyan. "Yang penting, meminjamimu uang tidak akan membuatku bangkrut .. "

Daze membuang wajahnya lagi. "Tidak usah!"

"Hey,, ini buat Dave, bukan buatmu!" sahut Rathyan kesal. "

"SUDAH KUBILANG TIDAK USAH!" balas Daze sekeras-kerasnya.

Mereka saling menatap selama beberapa menit. Tidak ada yang mau mengalah. Ekspresi keduanya sama-sama kerasnya.

"TERSERAH!!" dengus Rathyan akhirnya. Dia berbalik ke arah pintu dan berlalu dari kamar itu. Menutup pintu dengan keras. Meninggalkan Daze yang terduduk lemas dengan nafas mengebu-ngebu di pinggir ranjang. Pemuda di sebelahnya tidak bereaksi dengan pertengkaran sengit barusan. Dave sudah tertidur pulas di ranjangnya.



========== ### ==========



Keluar dari kamar Dave--sekitar duapuluh menit kemudian--Daze mendapati Rathyan sedang berdiri menyandar di dinding samping dekat pintu kamar dengan kepala tertunduk. Kedua tangannya terselip di bagian pinggang sedangkan kakinya yang memakai sepatu kets putih mengais-ngais lantai yang dilapisi karpet abu-abu. Rambutnya yang lumayan panjang dan lebat menutupi hampir seluruh wajahnya, berikut bagian telinganya.

Suara pelan dari pintu yang dibuka Daze membuat Rathyan mengangkat kepala perlahan. Melihat itu, Daze langsung membuang muka. Dilewatinya pemuda itu dengan langkah lebar. Tapi hentakkan mendadak di lengan kirinya membuat tubuhnya tertarik ke belakang.

"Yaa--apa yang kau lakukan?" protes Daze. "Lepaskan saya!!"

"Ada yang ingin kubicarakan!" kata Rathyan tanpa melepaskan tangannya dari lengan Daze.

"Tidak ada yang ingin kubicarakan denganmu!" sahut Daze ketus.

"Tapi saya ada!!" balas Rathyan tegas.

Sekuat tenaga Daze mengibaskan tangannya sehingga terlepas dari cengkraman Rathyan. Posisi mereka saling berhadapan sekarang. Daze mendelik padanya tapi sikap Rathyan terlihat sangat tenang.

"Tahu apa yang saya sukai darimu?"

"MWO?!" mata Daze melebar, kemudian melirik kesana kemari dengan gelisah. "A .. apa maksudmu?" tanyanya risih. Kata 'SUKA' yang dipakai pemuda ini membuat hatinya berdebar-debar. 'SUKA', apa dia bermaksud mengungkapkan ...

Lamunan Daze terputus oleh perkataan Rathyan selanjutnya, "Sikapmu yang lembut dan dewasa .. "

Daze mengangkat wajahnya. Keningnya berkenyit perlahan. Dia tidak begitu menangkap arti perkataan tadi.

Rathyan menghela nafas kemudian melanjutkan perkataannya. "Tapi yang paling saya sukai dari semua itu adalah sifat perhatianmu yang besar .. ," dia berhenti sebentar--sekitar beberapa detik--lalu melanjutkannya lagi. "Kamu berbeda dari yang lain. Baik dari cowok maupun cewek yang saya temui. Karena itu saya berharap kamu tidak berubah--tetap jadi Daze yang kukenal. .. Tidak. Saya tidak membenci tindakanmu ini. Kamu kesal sehingga marah-marah tak karuan--saya memahami perasaanmu. .. Saya hanya agak kecewa. Hanya itu .. "

Daze mendesah dalam hati. Saya hanya manusia biasa. Ada saatnya tidak mampu mengendalikan emosi. Walaupun saya tidak mengerti mengapa bisa marah-marah begini. Tapi tidak-kah kamu merasa keterlaluan berbicara seperti ini padaku?

Beberapa saat keadaan di lorong lantai dua itu jadi sunyi. Rathyan masih menatap Daze lekat-lekat, sedangkan gadis ini tidak berani membalas tatapannya. Pandangan Daze tertuju ke lantai. Lima menit berlalu. Perlahan-lahan Daze menyandar ke dinding di belakangnya.

"Ini yang kamu harapkan dariku?" tanyanya dengan nada lemah.

Rathyan tidak menjawab.

"Tapi mengapa?" lanjut Daze. "Untuk apa?"

Mendadak tangan kiri Rathyan menekan dinding di sebelah Daze. Gadis itu langsung membisu. Jarak mereka sangat dekat sekarang. Rathyan bergeser semakin dekat ke arahnya. Tangannya yang satu menyentuh wajah gadis itu. Perlahan-lahan Daze mengangkat wajah sehingga pandangan mereka bertemu--hanya berjarak beberapa cm saja.

Rathyan mengelus wajah Daze. Wajahnya mendekat lambat-lambat dengan berirama, sampai hidung mancungnya menyentuh pipi Daze. Kemudian tangannya bergerak ke belakang--menarik wajah Daze semakin menempel ke wajahnya sendiri. Kemudian dia membuka mulut dan melumat bibir mungil yang bergetar itu. Melumatnya sangat dalam--seakan tidak ingin dilepas lagi. Tangannya yang menekan bagian kepala semakin keras sehingga bibir gadis itu sepenuhnya berada dalam mulutnya. Lidahnya bermain dengan panas. Dijilatinya rongga mulut Daze. Merasakan lidahnya, lalu mengigit bibirnya. Setelah itu melumat bibirnya lagi. Tangannya yang menumpu dinding tiba-tiba menarik pinggang Daze sehingga menempel ketat di tubuhnya. Keadaan semakin panas dan bergairah. Daze berjinjit sehingga Rathyan bisa melumat, mengulum dan menyedot mulutnya dengan leluasa. Kemudian tangannya bergerak ke atas-mengusap bagian punggung gadis yang sedang terlena itu dari atas ke bawah. Menekannya dengan keras.

Terdengar Daze mendesah. Dia hampir kehilangan nafas akibat permainan agresif dari Rathyan. Tapi jujur, dia menyukainya. Untuk pertamakalinya seumur hidup dia merasakan ciuman bergelora begini. Begitu bernafsu dan panas. Walaupun paru-parunya hampir meledak, dia tidak ingin Rathyan melepaskan ciumannya. Bahkan dia ingin merasakan yang lebih. Dia ingin Rathyan merangkulnya lebih erat agar dia bisa melupakan semua kekesalan yang tak berarti pada seorang gadis yang baru dikenalnya kemarin. Dia ingin melakukan permainan yang belum pernah dirasakannya. Mungkin ... Ya, dia berpikiran melakukannya--melanjutkan permainan ini dengan Rathyan di atas ranjang. Tapi ketika perasaan dan pikirannya sudah di awang-awang, seperti yang sudah-sudah Rathyan menghentikan aksi liarnya dengan tiba-tiba.

Bibir yang saling bertaut terlepas. Mereka saling menatap dengan nafas terengah-engah setelah ciuman yang sangat panjang itu.

"Aku ingin kamu mengingat ini ... ," kata Rathyan di sela-sela nafasnya yang memburu. "Mengingat seumur hidupmu .. ," Tangannya kembali meraba wajah Daze. Kemudian dikecupnya bibir gadis itu lagi. "Jangan lupa, Dazya .. ," perlahan dia melepaskan tangannya dan mundur ke belakang.

Dia sudah berbalik dan bersiap menuruni anak tangga ketika Daze berseru, "KAMU MAU KE MANA?"

Rathyan menoleh. Diam sejenak. Setelah itu membuka mulutnya, "Ada urusan di luar .. "

"Kuliah?"

Rathyan mengeleng. "Tidak. Saya tidak masuk hari ini."

"O .. ," Daze mengangguk. Setelah ragu-ragu sebentar, dia bertanya lagi, "Apa kamu tidak takut ketahuan halmonie keluar lewat jalan utama?"

"Tidak. Ketika saya masuk kemari tadi, saya tidak sengaja bertemu Ye Jin-ssi. Dia berkata halmonie merasa tidak begitu sehat jadi sarapan di kamarnya .. "

Daze kembali mengangguk. Sepi sejenak sebelum dia berkata lagi, "O ya .. kemarin malam, .. kamu .. kamu tidur di mana? Saya .. saya tidak melihatku ketika .. masuk ke kamar Dave .. pukul 3 dini hari .. "

Rathyan mengurungkan niatnya ke lantai bawah. Dia memutar badan dan melangkah ke arah Daze.

"Saya bisa tidur di mana saja." jawabnya dengan nada tenang. "Memangnya kenapa?"

"Hmm--," Daze jadi salah tingkah. Apalagi pemuda ini menatapnya begitu tajam--seakan ingin mengetahui maksud dibalik pertanyaan tadi. "Tidak apa-apa!" akhirnya dia menjawab dengan cepat. "Kemarin malam turun salju lagi. Saya hanya khawatir kamu kedinginan kalau tidur di luar .. "

Kepala Daze tertunduk perlahan sehingga tidak menyadari Rathyan berusaha menahan senyumnya. "Saya tidak akan pulang malam ini .. "

"Mwo?" Daze segera mengangkat wajahnya. "Weo?!"

Rathyan mengangkat bahu--cuek. "Tidak ada tempat bagiku di sini. Ikatan Dave paling tidak besok baru boleh dilepas. Sedangkan kamu ... ," tubuh jangkungnya condong ke depan dengan posisi agak membungkuk sehingga wajahnya hampir menyentuh wajah Daze. "Kamu .. kelihatannya masih marah padaku .. "

Daze tersentak. "Siapa bilang saya marah padamu?" serunya.

"Tidak?!" wajah Rathyan berkerut.

"Tentu saja tidak!" jawab Daze cepat. "Saya .. saya hanya kesal. Itu saja .. ," sauranya melemah.

"Hanya itu?!" tanya Rathyan menyelidik.

"Tentu saja!" sahut Daze.

"O .. ," Rathyan membuka mulut sambil menganggukkan kepalanya. Ekspresinya terlihat baru menangkap penjelasan Daze. "Kalau begitu saya akan pulang hari ini .. " Rathyan memperbaiki mantel ketat yang membalut tubuhnya dengan santai.

"Jeongmal?" mata Daze tiba-tiba berbinar-binar.

"Ne." jawab Rathyan. "Are you happy?"

Daze langsung mengigit bibir bawahnya. Jemarinya saling meremas dengan gelisah. Rathyan meliriknya, tapi dia berlagak tidak melihat perubahan kecil itu. "Tapi saya harus pergi sekarang .. ," dia memberi ciuman halus di kening Daze sebelah kiri--membuat gadis itu memejamkan mata perlahan. "Saya akan kembali nanti sore .. "

Dia mundur ke belakang dengan senyuman lembut tersungging di bibirnya. Dia memutar tubuh, kemudian menuruni anak tangga menuju lantai bawah.

Daze tersenyum-senyum sendiri di tempatnya. Tapi itu hanya sesaat. Wajahnya perlahan-lahan berubah sendu. "Chingu?! .. Benarkah hanya chingu? .. Setelah kejadian kemarin malam, mengapa saya merasa kamu bukan lagi sekedar chingu bagiku?" bisik Daze lirih. "Mengapa saya merasakan perasaan yang lain? Lalu .. bagaimana dengan perasaanmu sendiri, chingu? Apa kamu merasakan hal yang sama? .. Mengapa kamu tidak mengatakan apa-apa?"


****************


_________________


♥️ "Everywhere ★ we learn ★ only from ★ those whom ★ we love" ♥️
avatar
DragonFlower

Posts : 94
Join date : 2013-06-17
Location : | Trapped in CNBLUE Dorm |

View user profile

Back to top Go down

Re: from Seoul to ... Perth-- by Lovelyn

Post by DragonFlower on Wed Jun 26, 2013 3:34 pm


from Seoul to ... Perth--
Chapter Eight

By : Lovelyn Ian Wong


SONG OF THE STORY :
Everytime We Touch--Lyrics

I still hear your voice, when you sleep next to me.
I still feel your touch in my dreams.
Forgive me my weakness, but I don't know why.
Without you it's hard to survive.

Cause everytime we touch, I get this feeling.
And everytime we kiss I swear I could fly.
Can't you feel my heart beat fast, I want this to last.
Need you by my side.
Cause everytime we touch, I feel this static.
And everytime we kiss, I reach for the sky.
Can't you hear my heart beat so.
I can't let you go.
Want you in my life.

Your arms are my castle, your heart is my sky.
They wipe away tears that I cry.
The good and the bad times, we've been through them all.
You make me rise when I fall.

Cause everytime we touch, I get this feeling.
And everytime we kiss I swear I could fly.
Can't you feel my heart beat fast, I want this to last.
Need you by my side.
Cause everytime we touch, I feel this static.
And everytime we kiss, I reach for the sky.
Can't you hear my heart beat so.
I can't let you go.
Want you in my life.

Cause everytime we touch, I get this feeling.
And everytime we kiss I swear I could fly.
Can't you feel my heart beat fast, I want this to last.
Need you by my side.

--------


Daze uring-uringan di tempat tidurnya. Untuk kesekian kali dia meraih jam weker yang ada di meja sebelahnya—sudah hampir pukul sepuluh malam. Dihempaskannya jam weker malang tersebut ke tempat semula sehingga menimbulkan bunyi keras. Kembali dia bolak-balik di pembaringan—seperti ular kepanasan.

“Belum pulang juga?!” dengusnya. “Katanya pulang sore, buktinya … ,” kembali dia marah-marah tak karuan.

Tubuhnya bergerak-gerak dan menendang-nendang selimut sampai meluncur ke lantai. Dia tersentak bangun, sesaat kemudian terhenyak ke ranjang lagi. Dia menarik-narik rambutnya hingga awut-awutan.

“Saya bisa gila kalau terus-terusan begini .. “

Daze menurunkan sepasang kakinya ke lantai. Setelah berpikir sebentar dia menariknya kembali. Tubuhnya dihempaskan lagi ke pembaringan di belakang. Lalu dia mengambil selimut dari lantai dan menariknya sampai menutupi seluruh tubuh—termasuk wajahnya. Dia tidak bergerak. Menahan nafas untuk beberapa saat kemudian menghembuskannya keras-keras. Dia berusaha menenangkan diri, tapi duapuluh menit berlalu dan usahanya sia-sia saja.

Daze menyibak selimut yang menutupi tubuhnya dan … dia langsung tersentak ketika seraut wajah hampir menabrak wajahnya. Rathyan sedang menatapnya dengan kening berkerut--hanya berjarak seinci dari wajahnya.

“Apa yang kau lakukan?”

Daze menyusut ke belakang. “Ti .. tidak ada .. ,” jawabnya terbatah-batah. “Ka .. kamu .. sejak kapan … berada di sini?”

Rathyan tidak segera menjawab. Dia berdiri dan melepas mantel ketat yang dipakainya waktu keluar rumah tadi pagi. Jadi benar dia baru kembali malam-malam begini? Dasar pembohong! batin Daze.

“Saya masuk lima menit yang lalu. Dan tubuhmu tertutup selimut semua.” Setelah menyampirkan mantelnya ke sandaran kursi, Rathyan menjatuhkan diri di sebelah Daze. “Ada apa?”

“Tidak apa-apa!” Daze membuang muka ke arah lain. Pura-pura tidak tahu? Atau .. sama sekali tidak menganggap janji itu? dia benar-benar tidak tahu. Terlalu sulit membaca pikiran anak ingusan di hadapannya ini.

“Heyy … ,” mendadak Rathyan melingkarkan tangan di pundaknya. “Miane saya pulang terlambat. Pameran yang kuhadiri hari ini terlalu menarik dan waktu pulang ada sedikit hambatan. Jalanan terselimut salju sehingga sulit dilalui. Beberapa kendaraan saling bertabrakan .. “

“MWO?!” kata TABRAKAN itu membuat Daze tersentak dan segera berpaling. “Kamu .. gwencana?”

“Ne.” Rathyan merangkulnya. “Saya tidak apa-apa. Bersyukur bisa bertemu kembali denganmu .. “

Sebuah pikiran melintas dalam otak Daze. “Gwenthee … ,” Didorongnya pemuda itu sehingga pelukannya terlepas dari tubuhnya, “Apa kamu tidak bisa mengabariku dulu?”

Alis Rathyan berkerut perlahan. “Weo?” wajahnya sengaja dicondongkan ke depan. “Kamu menungguku?”

“Anhi!” Daze mengeleng cepat. “Saya hanya tidak bisa tidur!” jawabnya mantap. Seakan memaksa Rathyan menerima kenyataan ini—bahwa dia sama sekali tidak menunggunya, tidak mengharapkannya dan … tidak merindukannya.

“Jeongmal?!” tanya Rathyan agak kecewa. “Kalau begitu apa perlu saya tidur di gudang malam ini?” dia bangkit dari tempat tidur.

“Mwo?!” mata Daze terbelalak lebar. “Anhi!! Saya juga tidak bermaksud begitu!”

Rathyan menoleh padanya. “Jadi?”

“Ka .. kamu .. boleh tidur di sini .. ,” kata Daze lemas. Sepasang matanya terpejam. Sejak kapan aku memasuki perang batin ini? Sejak kapan aku menginginkan sesuatu tapi sulit mengutarakannya? Ini tidak seperti diriku. Daze yang dulu sudah kemana? Sejak kemunculan pemuda ini aku sering marah-marah tak karuan. Rasa benci ketika melihatnya bersama wanita lain dan perasaan rindu jika tidak melihatnya sedetik saja. Ataupun tidak merasakan sentuhan-sentuhannya di kulitku. Perasaan ini sungguh menyiksa!

“Are you sure?”

Pertanyaan itu membuat Daze membuka matanya. “Ne .. ,” jawabnya berupa desahan.

Rathyan mengangguk dan menatapnya lekat-lekat.

“Apa kamu akan tidur sekarang?” sambung Daze guna menghilangkan kerisihannya.

Tubuh Rathyan menegak. “Tidak!” sahutnya. “Aku akan mandi dulu .. badanku lengket semua .. ,” dia berbalik ke arah kamar mandi, tapi tak sempat melangkah dia memutar tubuh lagi. “O ya, apa kamu tertarik pada seni?”

Daze mengangguk—sedikit keheranan. “Ne. Aku tidak begitu mengerti tentang seni tapi aku menyukai lukisan-lukisan dan hasil karya yang indah. Memangnya kenapa?”

Rathyan mengangkat bahu acuh. “Lain kali aku akan mengajakmu ke sana. Maksudku pameran-pameran lukisan yang biasa kuhadiri .. “

Daze mengangga. Belum sempat menjawab, Rathyan membuka kaos berkerah tinggi yang membalut tubuhnya. Dada bidangnya langsung terlihat oleh Daze, membuat matanya terbelalak lebar.

“Yaa—kamu … “

Protesnya terputus ketika wajah pemuda itu bergerak ke depan dengan cepat, sehingga hampir menyentuh wajahnya. “Bisa pinjami kaosmu? Saya takut membangunkan Dave jika memasuki kamarnya .. “

Wajah Daze langsung diteguk. Tangannya diangkat pelan-pelan dan menunjuk lemari dekat pintu.

“Gumawo … ,” secara kilat bibir kenyal itu menyapu bibirnya. Daze tersentak, tapi hanya sesaat karena Rathyan sudah sampai di depan lemari dan mengeledah pakaiannya. Suara berisik terdengar di kamar yang sunyi itu.

“Apa ukurannya cocok denganmu?” tanya Daze ragu-ragu.

“Tidak apa .. “

Rathyan menarik sebuah kaos lengan panjang warna abu-abu dan membawanya ke kamar mandi. “Saya akan selesai limabelas menit lagi .. ,” teriaknya dari kamar mandi. Yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Daze.

“DAZE?!”

“Ne.” sahut Daze dengan nada yang dibuat sepelan mungkin. “Aku mendengarmu!”

Syurrrr … bunyi shower dinyalakan beberapa saat kemudian.


~~~~~ ^^^^^^~~~~~


Rathyan dan Daze berbaring dalam kebisuan. Punggung mereka saling menempel dan bergesekan ketika salah seorang dari mereka mengerakkan badannya. Mereka belum terlelap tapi tetap tidak ada yang berinisiatif mengeluarkan suara terlebih dahulu. Sekali lagi kecanggungan tercipta di antara mereka seperti malam sebelumnya—ketika mereka tidur bersama.

“Ehmm--,” Rathyan berbalik sambil berusaha membersihkan tenggorokannya. Dia heran sendiri mengapa bisa sekaku ini. Selama pengalamannya dengan wanita-wanita lain, dia tidak pernah merasakan perasaan ini. Kalau ingin bermesraan ya bermesraan. Kalau tidak mood, dia akan pergi begitu saja.

“Sudah tidur?” tanyanya—memulai pembicaraan di antara mereka.

Daze tidak bereaksi. Matanya masih terpejam rapat. Rathyan menghela nafasnya kemudian memperbaiki selimut yang agak terpisah dari tubuh Daze. Menyelimuti tubuhnya sampai ke bagian leher. Gadis itu bergerak sedikit. Perlahan Rathyan menyisipkan rambut Daze ke telinga sehingga wajah sebelah kanannya terlihat jelas. Rathyan mengecup pipinya. “Mimpi yang indah ya.. ,” ucapnya halus.

Mata Daze terbuka perlahan-lahan. Dia memutar tubuh sampai menghadapi Rathyan.

“Aku membangunkanmu?”

Daze mengeleng lambat-lambat. “Tidak.” Jawabnya dengan suara agak serak. “Saya belum tidur .. “

Mereka saling menatap. Untuk kesekiankalinya Daze merasakan hatinya berdesir setiap ditatap seperti ini. Tatapan Rathyan begitu hangat. Sepasang mata yang biasanya bersinar tajam ini begitu menawan. Tanpa sadar Daze mengangkat tangannya dan mengelus wajah sempurna di atas tubuhnya.

Rathyan menyentuh tangan Daze. Belaiannya terhenti sampai di bagian bibir.

“Kamu …. Jangan marah-marah lagi .. ,” kata Rathyan dengan suara sumbangnya. “Hatiku sakit melihatnya … ,” suaranya memelan dan wajahnya bergerak semakin dekat, “Araso?”

Daze memejamkan mata dan mengangguk. “Ne .. ,” dia mendesah.

Seperti yang diharapkannya, bibir kenyal dan padat itu menyapu bibirnya yang sedikit terbuka. Melumatnya dengan sangat perlahan. Tubuh Daze menegang. Setiap kali disentuh Rathyan, dia merasakan perasaan ini. Keahliannya dalam memainkan bibir dan lidah mampu membawanya ke lapisan langit sembilan. Membuat tubuhnya melayang seringan kapas, berenang di langit biru dan tidak ingin kembali lagi.

Daze mendesah dan melingkarkan lengannya ke leher Rathyan. Ciuman mereka mulai memanas. Rathyan menekan bibirnya lebih dalam ke bibir Daze dan juga mengerak-gerakkan lidahnya yang sudah berada dalam rongga mulut gadis itu. Tangannya juga tidak tinggal diam. Mulai menyusup lewat daster panjang yang dipakai Daze.

Dielusnya paha mulus itu dari atas ke bawah. Desahan dari bibir Daze makin keras. Dia melenguh ketika tangan Rathyan sampai di bagian tubuhnya yang paling sensitive. Dasternya sudah tersibak sekarang. Celana dalam warna putih bersih yang transparan di bagian tengah terpampang di hadapan Rathyan. Daze mengangkat tangannya ketika Rathyan membuka daster tersebut kemudian membuangnya ke lantai. Bra warna senada juga terlihat sekarang.

Rathyan memperdalam ciumannya. Tangannya meremas bukit dada Daze dari balik bra yang dikenakannya. Sehingga menimbulkan lenguhan panjang dari mulut gadis itu. Tangan Daze bergerak menarik kaos yang dipakai Rathyan.

“Lepas … ,” pintanya di sela-sela suaranya yang memburu.

Rathyan membuka kaosnya dan mencampakkannya begitu saja di atas ranjang. Daze menahan nafasnya. Dada bidang itu terlihat sempurna di matanya. Disentuhnya dada berisi itu, kemudian dielusnya dengan berirama.

Rathyan menunduk dan melumat bibirnya lagi. Kali ini lebih bernafsu dari tadi. Tangannya bergerak dari dada bagian kanan ke kiri. Kemudian menurun ke perut Daze yang rata dan sampai di bagian paling sensitive. Ditekannya bagian itu sampai Daze agak tersentak.

“Ohh .. ,” teriaknya tertahan.

Tubuh Daze mulai bergerak liar. Tangannya menarik resleting celana Rathyan. Setelah terbuka dia mencongkel kancing yang masih tersisa. Berhasil dibuka. Dengan nafas terengah-engah ditekannya celana jeans tersebut ke bawah.

Sudah terbuka sebagian ketika Rathyan tiba-tiba menahan pergelangan tangannya.

“Mwo?” Daze menatapnya dengan mata redup.

Rathyan tidak menjawab. Dia menyingkirkan lengan Daze—nafasnya yang memburu diaturnya dengan susah payah—kemudian ditariknya selimut sampai menutupi seluruh tubuh gadis yang hampir polos itu.

“Mwo?!” tanya Daze lagi.

Rathyan mengeleng. “No .. Tidak bisa dan tidak boleh .. “

“Mengapa?” tanya Daze tidak mengerti. “Kamu tidak suka?” nadanya terdengar kecewa.

“Bukan begitu!” jawab Rathyan cepat. “Hanya saja .. ini tidak benar .. “

Daze mengangga. Dia menarik nafas kemudian membuang muka ke arah lain. Rathyan merasa menyesal. Disentuhnya selimut yang membalut tubuh gadis itu.

“Dazya .. “

Daze tidak menjawab. Rathyan menghela nafas perlahan. Seharusnya aku tidak memulainya tadi. sesalnya dalam hati. Tapi apa boleh buat, dia tidak mampu menahan diri setiap berada di dekat gadis ini. Keinginan untuk menyentuh dan menciumnya begitu kuat. Rathyan menghempaskan tubuhnya ke ranjang.

“Boleh saya menanyakan sesuatu?”

Rathyan berpaling. Daze tidak melihat ke arahnya. Gadis itu memandang ke atas dengan ekspresi hampa.

“Ne?!”

Daze beralih padanya lambat-lambat. “Apa kamu pernah melakukannya?”

“Mwo?”

“Tidur dengan seorang wanita?” sambung Daze terus terang.

Rathyan tak mampu mehanan senyum terhadap pertanyaan polos itu. “Menurutmu bagaimana?”

Daze mengeleng keras-keras. “Aku tidak tahu! Dan aku tidak ingin menebak!”

“Kamu tahu kehidupanku dulu?” Rathyan balas bertanya.

Daze mengangguk perlahan.

“Apa kau percaya jika aku bilang tidak pernah melakukannya?”

Mulut Daze terbuka. “Jadi … ?”

Rathyan mengalihkan perhatian ke langit-langit kamar. “Kehidupanku sangat bebas dan gelap waktu dulu. Wanita-wanita berpindah silih berganti dari tanganku.” Dia tersenyum kecut. “Mereka datang jika kuminta. Kutiduri jika kuinginkan.” Dia perpaling pada Daze. “Begitulah .. “

“Lalu tadi .. mengapa kau berhenti?” tanya Daze ragu-ragu. Apakah dia menawarkan diri pada Rathyan? Dia tidak tahu.

“Jangan samakan dirimu dengan mereka!” seru Rathyan tiba-tiba. Matanya memancarkan api amarah.

“Rath … ,” Daze tercekat.

Rathyan menguncang tubuhnya keras-keras. “DENGAR DAZE HAN! Kamu lain dari wanita-wanita itu. Bagiku kamu seperti permata. Permata murni yang belum diasah. Jadi .. jangan samakan dirimu dengan mereka. Jangan rendahkan martabatmu sendiri!!”

“Mi .. miane ..,” kata Daze surprise.

Perkataan Rathyan menyadarkannya dari pikiran-pikiran gila tadi. Pikiran-pikiran ingin disetubuhi anak muda ini dengan resiko apapun berani ditanggung. Ya, dia salah. Benar kata Rathyan. Mahkotanya paling berharga. Sebagaimanapun tertariknya dia pada pemuda ini, dia bukan apa-apanya. Hubungan mereka tidak jelas. Pemuda ini tidak pernah mengatakan apa-apa.

Rathyan kembali menjatuhkan diri di atas ranjang. “Tidurlah .. “ matanya terpejam perlahan.

Daze mengangguk. Matanya juga dipejamkan. Tapi pembicaraan-pembicaraan tadi masih terbayang dalam benaknya. Dia tidak bisa tidur. Tidak dengan pemuda ini di sampingnya. Daze membuka matanya. Dia mendengar nafas halus Rathyan terhembus.

“Rath .. “

Rathyan membuka mata dan menoleh padanya. “Ne?”

“Saya tidak bisa tidur .. ,” kata Daze dengan tampang memelas.

Rathyan menghela nafas. “Ne. Saya juga …”

“Boleh saya memelukmu?” tanya Daze beberapa saat kemudian. “Saya .. saya akan merasa lebih terlindungi .. ,” lanjut Daze pelan. Apa permintaannya keterlaluan? Kayaknya tidak. Iya kan?[/i]

Rathyan tersenyum. Tangannya bergerak menarik Daze ke dalam pelukkannya. Kemudian dikecupnya kening gadis itu.

“Tidurlah .. “

Daze ikut tersenyum. Bahkan sangat lebar. Tangannya melingkar ke leher Rathyan kemudian turun dan diletakkan di dada bidang Rathyan yang polos. “Selamat malam .. ,” katanya sambil memejamkan mata. “Semoga mimpi yang indah .. “

Mendadak dia merasa sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya.

“Selamat tidur, Dazya .. ,” bisik Rathyan di sela-sela telinganya.

Daze tersenyum. Kali ini dia bisa tidur nyenyak—pasti. Tak sampai lima menit dia sudah pulas dalam dekapan hangat Rathyan.


~~~~~ ^^^^^^~~~~~


Sinar matahari pagi menerobos masuk lewat jendela. Daze bergerak perlahan. Matanya dikucek-kucek dalam keadaan setengah sadar. Dia berbalik. Ruang kamarnya kosong.

Daze bangkit dari pembaringan. Sekali lagi disapunya seluruh ruangan dengan matanya yang sembab. Tetap saja tidak didapati keberadaan Rathyan di sana.

“Apa dia sudah keluar?” tangannya mengaruk kepalanya yang tidak gatal. Rambutnya awut-awutan—hampir menutupi seluruh wajahnya. Diliriknya jam weker di atas meja. “Sepagi ini?” gumamnya sekali lagi.

Daze menguap dan merengangkan otot-otot tubuhnya. Walaupun agak lelah, dia merasa puas telah tidur pulas semalaman. Sejak beberapa bulan terakhir, kemarin malam merupakan jam tidur terpanjangnya. Beban beratnya terangkat begitu saja ketika mendengar penjelasan Rathyan. Meskipun hatinya agak pedih dengan keterus-terangan pemuda itu, paling tidak dia merasa aman berada di sisinya. Dekapannya yang lembut dan menenangkan masih terbayang-bayang di pelupuk matanya.

Daze menyibak selimut yang menyelimuti tubuhnya dan turun dari ranjang. Daster panjang yang dipakainya semalam masih tergeletak di lantai. Dan tubuhnya hanya terbalut bra dan celana dalam. Dia menyambar selimut dari atas ranjang dan menutupi tubuh setengah telanjangnya. Bergegas dia berlari ke lemari. Dengan asal-asalan dikeluarkannya sebuah sweater longgar warna putih dan celana jeans biru kemudian berlari ke kamar mandi.

Sepuluh menit kemudian dia keluar lagi dengan tampang segar. Rambut sepinggangnya yang lebat dan hitam pekat dibiarkan tergerai begitu saja—menjuntai indah menaungi parasnya yang ayu. Dan poninya yang dipotong pendek membuat parasnya terlihat lebih muda dari usia sesungguhnya. Kulit wajahnya seperti memancarkan cahaya ketika sinar mentari pagi jatuh tepat ke kulitnya yang putih halus dan agak kemerah-merahan itu.

Daze menyibak rambutnya ke belakang kemudian keluar dari kamar. Dia turun ke lantai bawah dan melongok ke ruang makan. Keningnya berkenyit. Meja makan kosong. “Sarapan belum siap? Kemana Ye Jin?”

Daze tidak jadi memasuki ruangan tersebut. Dia menuju ke dapur. Samar-samar didengarnya suara peralatan masak yang saling beradu dari ruangan di dalam. Dia tersenyum perlahan. “Jadi masih sibuk di dapur?”

Daze sampai di ambang pintu. Langkahnya tercekat seketika itu juga. Sosok jangkung yang memunggunginya di depan membuat mulutnya mengangga. “Rath!!” tak tertahankan seruan itu terlontar dari mulutnya.

Sosok itu berbalik. Benar—dia adalah Rathyan Jang. Penampilannya sangat aneh pagi ini. Terlihat lucu dan mengemaskan. Gaya coolnya hilang berkat celemek kotak-kotak merah yang melingkari tubuhnya. Pemuda itu tersenyum sambil mengangkat tangannya yang memegang sendok besar. “Anyong!”

“Apa yang kau lakukan?” Daze mendekatinya--keheranan.

“Seperti yang kau lihat!” Rathyan melebarkan tangannya. “Membuat sarapan .. “

“Tapi .. kamu tidak perlu melakukannya .. ,” Daze berhenti cukup dekat di depan Rathyan—hanya terpisah sebuah meja panjang. “Ini tugas Ye Jin .. “

Rathyan mengangkat bahunya lalu berbalik menghadapi wajan dadar yang sedang dipanaskan di atas api kecil. Tangannya meraih mangkuk berisi telur yang sudah dikocok kemudian menuangkannya di atas wajan. Suara cisss cisss langsung terdengar.

Daze melirik kesibukan tersebut lewat punggung Rathyan. “O ya, apa kau tak takut ketahuan Ye Jin telah merusak dapurnya?” tanyanya sekedar basa-basi. “Dan dari mana kau dapatkan celemek itu? Kepunyaan Ye Jin?”

“Anhi,, saya membelinya sendiri kemarin pagi. Di toko kecil dekat gedung penyelenggaraan pameran seni itu …,” jawab Rathyan tanpa berbalik. “Saya tidak mau memakai celemeknya.” Lanjutnya sambil mendesah, “Cukup dapur ini saja yang kupinjam dari Ye Jin-ssi.” Rathyan menoleh sedikit, “Saya bertemu dengannya di taman tadi .. Katanya halmonie merasa lelah dan tidak ingin keluar dari kamarnya. Ye Jin-ssi bermaksud membuatkan sarapan buat kalian tapi segera saya cegah. Saya ingin memasak sendiri buatmu pagi ini. Jadi akhirnya dia hanya membuatkan porsi halmonie dan Dave, kemudian membawanya ke kamar mereka .. “ Rathyan mengangkat telur dadar yang sudah matang dari atas wajan ke piring di sebelahnya. “Halmonie sarapan di kamarnya .. ,” lanjutnya sambil menaruh piring yang sudah terisi penuh di hadapan Daze. “Cobalah!” dia tersenyum. “Semula ingin membuat sesuatu yang istimewa tapi ternyata Ye Jin-ssi belum belanja. Stok keperluan rumah tangga sudah habis. Hanya ada telur dan roti .. ,” tangannya menunjuk ke telur dadar dan beberapa iris roti bakar yang ada dalam piring. “Sekedarnya saja .. “

Daze mengambil sendok yang disodorkan Rathyan. Ditatapnya pemuda itu sesaat kemudian menyendok telur dadar tersebut. “Apa yang dilakukan Ye Jin di taman—sepagi ini?”

“Memangkas tanaman rambat.” Jawab Rathyan dengan senyum dikulum. “Mungkin dia ingin memastikan jalan masukku ke rumah ini tertutup untuk selamanya .. “

Daze menghentikan kesibukkannya. Sendok yang dipenuhi telur dadar di tangannya hanya sejengkal mencapai mulutnya. Dipandanginya pemuda itu tak berkedip. “Apa .. ini lelucon?” tanyanya ragu-ragu.

Rathyan termangu. “Tidak lucu?”

Daze mengeleng. “Tidak!”

“Ohh .. ,” mulut Rathyan terbuka. “Mian.” Sesalnya. “Saya tidak biasa bercanda Hmm—lain kali akan kuperhatikan point ini .. “

Daze mengangguk dengan ekspresi dibuat seserius mungkin. Padahal dalam hatinya dia sudah terbahak-bahak melihat tampang memelas dari pemuda ini. Perlahan dimasukkannya telur dadar dalam sendok ke dalam mulutnya. Kemudian dikunyahnya lambat-lambat.

“Bagaimana?” tanya Rathyan dengan mata melebar.

Daze tidak segera menjawab. Ditatapnya Rathyan lekat-lekat. Dia tersenyum perlahan. Kemudian mengangkat jempolnya ke atas.

“O, ha .. ha .. ,” tawa Rathyan meledak saat itu juga. “Kalau begitu makan yang banyak .. “

Daze mengangguk. Kembali dia menyendok telur dadar dari piring. Dimakannya separuh kemudian menyodorkan setengahnya pada Rathyan. “Kamu juga cobalah .. “

Rathyan mencondongkan tubuh ke depan dan memasukkan telur dadar dalam sendok yang dipegang Daze ke dalam mulut.

“Enak?” goda Daze.

Rathyan mencubit pipinya yang mengelembung. “Apa ini lelucon?”

“Anhi .. ,” Daze memanjangkan bibirnya. “Saya tidak biasa berlelucon .. “

Mereka tertawa berbarengan. Jarak mereka sangat dekat saat itu. Daze kembali menyodorkan sendok di tangannya dan Rathyan menyambutnya. Mereka saling menatap. Rathyan mencondongkan tubuh semakin ke depan. Meja yang memisahkan mereka tidak menjadi halangan. Daze memejamkan matanya perlahan-lahan. Seperti biasa, tubuhnya menegang ketika bibir Rathyan sampai ke bibirnya. Perlahan dirasakannya bibir itu terbuka—melumat bibirnya. Daze membalas. Lidah mereka saling bertaut. Lenguhan terdengar dari mulut Daze. Rathyan menekan tenguknya dan ciuman mereka semakin dalam. Sampai deringan nyaring dari ponsel Daze menyadarkan mereka dari kehanyutan yang panjang.

Kringgg … kringgg … kringgg …

Daze merogoh ke dalam saku celana dengan nafas terengah-engah. Rathyan melepaskan ciumannya perlahan, dan ikut melirik ke ponsel Daze. “Dhuga--Siapa?!” Mungkin itu pertanyaan yang terisyarat dari pandangannya.

Daze tak merespon. Dia mundur ke belakang. Setelah tersenyum kecil pada Rathyan, dia mengangkat teleponnya.

“Yeoboseyo omma .. ,” sapanya pada orang di ujung telepon dengan suara dibuat setenang mungkin. Tapi yang keluar malah berupa desahan.

Dia mendengarkan sesaat, kemudian mengeleng keras-keras. “Anhi,, aku baik-baik saja. Suara? Hmm—ya, memang agak parau. Tidak! Tentu saja saya tidak kekurangan suatu apapun. Mungkin tenggorokanku sedikit kering. Iya, araso. Aku akan minum air yang banyak .. ,” katanya sambil mendelik pada Rathyan yang tersenyum simpul di tempatnya.

“Apa?! Iya, pertemuannya hari ini. Omma dan appa tidak usah khawatir. Kami akan membicarakannya baik-baik.” Lanjut Daze setelah orang di seberang selesai berbicara. “Ne, Dave ikut juga. Tidak, tidak,, halmonie tidak ke sana. Kesehatannya tidak begitu baik pagi ini.”

Tiba-tiba dia merasakan seseorang memeluknya dari belakang. Tanpa disadari olehnya, rupanya Rathyan sudah berpindah tempat ke belakangnya. Daze menoleh dan tersenyum pada Rathyan. Dirasakannya wajah yang hangat itu menempel ke wajahnya.

“MWO?! Apa katamu?!” tanya Daze setelah tersadar bahwa dia masih ditelepon. “Ohh, ya araso, omma .. Jadi kalian akan tiba besok? Sekitar pukul 12 siang. Ne, saya dan Dave akan menjemput kalian. Soal perundingan hari ini jangan khawatir. Saya mampu menanganinya. Ne,, … anyong .. “

Daze meletakkan ponselnya, kemudian berbalik ke arah Rathyan. “Kamu mengangguku, tahu?!” katanya dengan nada memprotes. Bibirnya meruncing--hampir seinci ke depan.

Rathyan tertawa. Lesung pipi yang sangat dalam menghiasi kedua belah wajahnya. “Miane .. “ Tangannya bergerak cepat--menepuk halus bibir Daze, membuatnya tersentak.

“Yaaa--,” protesnya lebih keras lagi. “Mengejutkan saja!”

Kembali Rathyan terbahak-bahak. Tak tertahankan, Daze tersenyum perlahan. Pertama kalinya dia melihat tampang serius itu tertawa selebar ini. “Kamu kelihatan lain pagi ini?”

Tawa Rathyan terhenti seketika. “Mwo?” alisnya berkerut.

Daze tidak menjawab. Senyuman masih tersungging di bibirnya. Dia terlihat mengoda sehingga Rathyan hanya bisa mengangkat bahu tanda menyerah. “Ok, never mind.” Katanya, “O ya, saya sudah memeriksa keadaan Dave. Dia sudah sembuh total .. “

“Saya tahu .. ,” jawab Daze. “Dan saya percaya padamu. Kemarin-kemarin kamu bilang dia akan sembuh kan?”

“Ne,” Rathyan membalasnya sambil tersenyum. "Satu hal lagi. Saya sudah menceritakan pada Dave bahwa kamu sudah mengetahui keberadaanku di sini .. "

"Mwo?!" mata Daze terbelalak. "Lalu .. lalu bagaimana reaksinya?"

"Tidak ada!" jawab Rathyan. "Biasa-biasa saja. Sepertinya dia sudah menerima kemungkinan ini ... "

"O .. ," Daze mengangguk. Dia ingin bertanya apakah Dave juga mengetahui tentang hubungan mereka tapi tidak jadi diutarakannya begitu mengingat hubungannya dengan Rathyan belum sampai ke situ.

Rathyan beralih ke makanan di atas piring. “Kalau begitu diteruskan sarapannya! Waktu kita sangat terbatas. Saya akan menemani kalian ke kediaman Park.”

“Kamu?” mata Daze melebar.

“Ne. Kenapa?”

“Tapi .. apa perlu? Maksudku, kamu tidak ada hubungan apa-apa dengan masalah ini.”

“Dave sahabatku.” Jawab Rathyan tenang. “Lagipula .. ,” ditatapnya Daze lekat-lekat. “ .. saya tidak mau kau dipermainkan gadis bengal itu lagi .. “

“O .. ,” Daze menunduk dan mengigit bibirnya. Pandangan tulus itu, gerakan tangan yang sekarang berada di atas telapak tangannya, dan desahan nafas yang terdengar sangat halus tersebut—kembali membuat hatinya berdesir. Berdesir hebat kali ini.


~~~~~ ^^^^^^~~~~~


Daze yang mewakili Dave mendengarkan dengan seksama semua penjelasan Mr. dan Mrs. Park--orangtua Gretchell Park--yang mewakili Natalie mengenai rencana pernikahan Dave dan Natalie. Sudah satu jam Mrs. Park mengajukan persyaratan-persyaratannya yang sesekali ditimpali oleh suaminya. Mulai dari tempat dan waktu penyelenggaraan pernikahan tersebut, berikut biaya-biaya yang diperlukan dan mengingat Dave dan Natalie masih kuliah pembahasan siapa yang akan merawat bayi mereka setelah lahir juga dilakukan.

Natalie menundukkan wajahnya sepanjang pendiskusian tersebut. Sedangkan Dave turut mendengarkan sambil sesekali meliriknya. Rathyan diapit di antara Daze dan Dave, memasang tampang tidak ikut campur dalam urusan ini. Tugasnya hanya menjaga Daze agar tidak disakiti Gretchell lagi. Gadis yang dibahas terakhir duduk berhadapan dengan ketiga tamunya--paling ujung di sebelah Natalie. Perhatiannya hanya tertuju pada satu orang, yaitu Rathyan--yang tidak mempedulikannya sama sekali.

"Hanya itu persyaratan-persyaratan yang kami ajukan, nak Daze .. ," kata Mrs. Park. "Maaf jika menurutmu berlebihan ... ," parasnya yang masih cantik itu tersenyum perlahan. "Natalie adalah keponakanku satu-satunya. Kami sangat menyayangi dan ingin yang terbaik baginya, apalagi ini menyangkut pernikahannya .. ," Mrs. Park berpaling pada Natalie dan menyentuh punggung tangannya dengan lembut. "Kebahagiaannya seumur hidup .. "

"Bibi .. ," desah Natalie terharu.

Tangan Mrs. Park bergerak ke atas menepuk pundaknya. "Kami mengerti sayang .. "

"Nyonya Park .. ," perkataan Daze mengalihkan perhatian mereka. "Saya memahami apa yang nyonya pikirkan. Semua orangtua ingin yang terbaik buat anak-anaknya. Dan permintaan kalian juga tidak keterlaluan. Kami bersedia menerimanya .. ," dia berpaling pada Dave. "Benarkan Dave?"

Dave mengangguk pasrah. "Ne .. "

Mr. Park tersenyum. "Bagus!" ujarnya keras. "Kalau begitu masalahnya beres. Lalu bagaimana dengan orangtua kalian?"

"Omma dan appa akan tiba besok. Mungkin kita bisa merundingkan waktu yang cocok buat makan malam bersama beberapa hari lagi .. ," kata Daze.

"Tentu saja." kata Mrs. Park. "Kami akan sangat menyukainya .. ," kemudian tangannya bergerak ke depan. "Silahkan diminum tehnya nak Daze .. ," dia berpaling pada Dave dan Rathyan. "Nak Dave dan nak Rath juga. Jangan sungkan-sungkan begitu!"

Ketiga tamunya meraih cangkir dari atas meja dan menyeruput teh yang sudah dingin itu. Tiba-tiba Gretchell berdiri dari tempatnya. "Sekarang giliran masalahku kan?"

Semua dalam ruangan itu langsung menoleh padanya. "Apa maksudmu Gret?" tanya Mr. Park keheranan.

"Masalahku!" ulang Gretchell.

"Apa masalahmu?" balas appanya.

"Saya .. ," telunjuk Gretchell mengarah ke depan, bergerak dari Daze kemudian berhenti tepat di wajah Rathyan. "minta ijin appa dan omma untuk berhubungan dengannya!"

"MWO?!!" teriak Mr. dan Mrs. Park secara bersamaan. Begitu juga Rathyan dan Daze. Mata mereka terbelalak lebar saking terkejutnya. Sedangkan Dave dan Natalie saling berpandangan dengan kening berkerut--tidak mengerti dengan kegilaan Gretchell.

"Jangan main-main, Gretchell Park!" teriak Mr. Park marah. "Kamu sadar apa yang kamu katakan barusan?"

"Tentu saja!" sahut Gretchell dengan sikap menantang. "Saya sangat serius."

"OMONG KOSONG!" suara Rathyan terdengar sangat keras di ruangan itu. "Tuan dan Nyonya Park, saya tidak punya hubungan apapun dengan putri anda!"

"Kamu dengar itu?!" ketus Mr. Park pada putrinya. "Dia sudah menolakmu." tangannya menunjuk ke Rathyan tapi pandangannya tetap terarah pada Gretchell. "Jadi jangan kekanak-kanakan lagi. Sunny pria paling cocok buatmu. Dia mencintaimu lebih dari segalanya."

Gretchell mengeleng keras-keras. "TIDAK!! Saya tidak mau menerima Sunny oppa. Tidak mau ditunangkan begitu saja! Nat bisa memilih jalan hidupnya. Mengapa saya tidak?!"

"GRETCHELL PARK!!"

Brakk!! Bunyi cangkir dihempaskan dengan keras ke atas meja. Daze bangkit dari tempat duduknya dengan kaku. Wajahnya merah padam saat itu. "Sosoengheyo tuan dan nyonya Park. Saya ada urusan lain. Permisi .. ," tanpa menunggu reaksi dari tuan rumah dia berbalik ke arah pintu dan berlari dari situ.

Dave dibuatnya terkejut. Terburu-buru dia mengejar Daze sambil menoleh dan membungkuk ke arah orang-orang dalam ruang tamu itu. "Sosoengheyo,, saya juga permisi sekarang .. Heyy noona!! Tunggu saya ... "

Rathyan ikut berbalik tapi segera tertahan oleh tangan Gretchell yang terjulur dari seberang meja. "Kamu tidak boleh pergi dulu!!" teriaknya tegas.

"Mwo?!"

"Masalah kita belum selesai!"

"GRETCHELL PARK!!" seruan Mr. Park kembali terdengar. "Kamu sudah keterlaluan tahu? Apa kekurangannya Sunny?!"

"Tidak ada!" ujar Gretchell. "Dia bahkan terlalu perfect menurutku. Karena itu aku tidak tertarik padanya. Oppa selalu mengikuti keinginanku. Dia terlalu membosankan!"

"Gretchell,, sudah cukup sayang .. ," desah Mrs. Park lemah.

"Alasanmu tidak masuk akal. Appa tidak akan menerimanya!"

"Terserah!" Gretchell menghadapi appanya dengan sikap menantang. "Yang jelas, saya menolak pertunangan ini. Selain Rathyan, saya tidak mau yang lain!"

"Sorry nona. Tapi saya tidak pernah menjanjikan apa-apa padamu!" celetuk Rathyan sinis. Kemudian dia berpaling memandang Mr. dan Mrs. Park. "Permisi tuan dan nyonya Park .."

Rathyan melangkahkan kakinya ke pintu.

"SUDAH KUBILANG KAMU TIDAK BOLEH PERGI!!" seru Gretchell. Rathyan tidak mempedulikannya. Dia sampai di depan pintu yang tidak tertutup ketika teriakan itu terdengar lagi. "RATHYAN JANG!! KAMU TIDAK BOLEH MELAKUKAN INI PADAKU. TIDAK ADA SEORANGPUN YANG ..." PLAKKKK!!! Tamparan keras terdengar jelas begitu dia sampai di ambang pintu. Rathyan menoleh perlahan.

Gretchell berhadapan dengan Mr. Park dengan tangan kanan memegang pipinya. Sikap mereka terlihat tegang. Tidak perlu ditebak Rathyan tahu kalau gadis itu baru ditampar pria di hadapannya.

"Appa!!! Ohh my godddd!!! Kenapa kamu menamparnya?! KENAPA? Belum pernah kamu melakukan ini padanya!!" paras Mrs. Park sangat pucat ketika menyentuh lengan Gretchell. "Sa .. sayang .... bagaimana .. keadaanmu? Sakit?"

"SAYA BENCI APPA!!" Gretchell mendorong Mr. Park. Tanggisnya meledak saat itu juga.

Rathyan tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya karena dia sudah berada di luar ruangan. Mungkin gadis itu kembali ke kamarnya. Atau meneruskan pertengkaran itu. Dia tidak ingin menebak. Yang harus dilakukannya sekarang adalah mengejar Daze. Perasaannya tidak enak. Entah apa yang terjadi pada gadis itu. Dia kelihatan sangat marah tadi. Apakah karena perkataan-perkataan Gretchell tadi? Lagi-lagi masalah itu? Huhhh!!

Rathyan sampai di halaman depan. Dapat dilihatnya dua sosok berdiri tidak jauh dari tempatnya berada. Mereka sedang memunggunginya. Si cewek sedang menanggis tersedu-sedu sedangkan si cowok berusaha menghiburnya. Mereka adalah Daze dan Dave.

"Wegude?" tanya Rathyan begitu sampai di dekat mereka. Ditariknya lengan Daze tapi segera dikibaskan gadis itu. "Heyy,, what's wrong?"

Daze tidak menjawab. Sekali lagi dikibaskannya tangan Rathyan yang kembali menyentuhnya. "Daze Han!!"

Tanggis Daze semakin keras. Kali ini dia tidak menghindar. Tangannya yang dipegang Rathyan memukul membabi-buta kearah dada bidang pemuda itu.

"Hey Hey,, Dazya!!" Rathyan menarik Daze kearahnya. Didekapnya erat-erat. "What's going on?"

"Kami mendapat kabar dari Ye Jin. Halmonie .. halmonie tidak sadarkan diri di tempat tidurnya .. ," Dave menjawab pertanyaan Rathyan dengan sangat lemah.

"Mwo?!" mata Rathyan melebar. Perlahan perhatiannya berbalik lagi ke Daze. Pukulan-pukulan di dadanya terasa semakin keras. Dan tanggisan itu terdengar begitu menyayat hati. "Sssttt ... ," bisik Rathyan di telinga Daze. "Gwencanayo,, Dazya .. tenanglah. Tidak apa-apa. Halmonie akan baik-baik saja .. percayalah ... "

"Hu .. hu .. mengapa .. mengapa peristiwa .. menyedihkan ini .. terjadi .. terjadi berturut-turut? .. Mengapa?" Pukulan-pukulan terhadap Rathyan perlahan-lahan memelan dan akhirnya Daze menyusupkan kepalanya di dada bidang pemuda itu.

Tanpa mereka sadari, Dave menatap peristiwa di hadapannya dengan kening berkerut. Hatinya bertanya-tanya. Dia mengucek matanya berkali-kali. Apakah dia bermimpi? Bukankah noonanya baru mengenal Rathyan? Mengapa mereka terlihat akrab begini? Berpelukan seperti itu--apa tidak melebihi batas seorang noona dan dongseng? Dave mengaruk kepalanya yang tidakk gatal. Tampangnya terlihat bego.



~~~~~ ^^^^^^~~~~~



_________________


♥️ "Everywhere ★ we learn ★ only from ★ those whom ★ we love" ♥️
avatar
DragonFlower

Posts : 94
Join date : 2013-06-17
Location : | Trapped in CNBLUE Dorm |

View user profile

Back to top Go down

Re: from Seoul to ... Perth-- by Lovelyn

Post by DragonFlower on Wed Jun 26, 2013 3:36 pm




from Seoul to ... Perth--
Chapter Nine

By : Lovelyn Ian Wong


Dave menyandar di dinding rumah sakit sambil memperhatikan Daze dan Rathyan. Noonanya itu sedang menanggis keseggukan, dan ini sudah berlangsung dari satu jam yang lalu, sedangkan sahabatnya tidak henti-hentinya menghibur kakak perempuannya itu. Berulangkali ciuman menenangkan di daratkan Rathyan di jidat dan pipi Daze. Sedangkan rangkulannya begitu erat dengan telapak tangan yang senantiasa mengelus-ngelus punggung gadis yang wajahnya disusupkan di dadanya tersebut.

Wajah Dave berkerut semakin dalam. Dia bergerak dari posisinya dan mendekati mereka. Mulutnya terbuka—bersiap mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan yang menganjal sejak beberapa jam yang lalu, tapi langsung terbungkam oleh suara pintu ruang darurat yang dibuka di belakangnya.

Dave berpaling. Begitu juga Rathyan dan Daze—yang masih tersedu-sedu dalam pelukannya.

Dokter Kim, diikuti beberapa suster dan seorang dokter muda keluar dari ruang rawat halmonie. Raut wajah mereka terlihat tidak puas. Dokter Kim mengerakkan tangan perlahan pada para suster dan dokter muda yang mengikutinya. Mereka membungkukkan badan kemudian berlalu dari situ.

Melihat kemunculan dokter Kim, Daze segera melepaskan diri dari rangkulan Rathyan dan bergegas mendekati dokter itu.

“Gimana dok?” tanyanya dengan harap-harap cemas. “Tidak seburuk yang saya bayangkan, kan? Ohh, tidak!” dia segera menutup wajah dengan kedua tangan, dan kembali menanggis tersedu-sedu. Dia mengeleng keras-keras. “Tidak mungkin!! .. halmonie kelihatan .. sangat sehat beberapa hari yang lalu .. “

Dokter Kim menyentuh pundak Daze. “Tenanglah, nona.” Katanya dengan nada sedikit menenangkan. “Yah—walaupun keadaannya memang sangat buruk. Beberapa pembuluh darahnya tersumbat dan dia mengalami stroke berat. Mungkin .. anda perlu mempersiapkan diri. Beritahu anggota keluarga yang lain. Untuk saat ini, yang bisa dilakukan hanya menemaninya sebanyak-banyaknya. Dia bisa pergi kapan saja.”

Dokter Kim berhenti sebentar, dan isak tanggis Daze yang tadi sempat memelan, mengeras lagi.

“Saya tidak bermaksud menakuti. Tapi .. penyakit orang tua, saya yakin anda juga memahaminya .. ,” lanjut dokter Kim dengan nada menyesal.

Tubuh Daze lemas. Lututnya lemah dan ia merasa akan ambruk seketika itu juga. Daze segera bersandar ke tubuh Rathyan, begitu pemuda itu sudah berada di sampingnya.

“Bagaimana ini? Huu .. huhh … Rath, .. halmonie .. halmonie .. tidak akan tertolong .. Apa .. apa yang harus kulakukan? Huuu .. huhhh …”

“Tenanglah.. ,” hibur Rathyan di sela-sela telinga Daze. “Beliau dapat bertahan. Percayalah padaku .. paling tidak, beliau masih punya kesempatan melihatmu lagi.” Dia mengangkat wajah menghadap dokter Kim. “Benar begitu-kan, pak dokter?”

“Hu .. hu … ,” Daze mengeleng keras-keras. Hatinya sangat takut. Dan juga khawatir. Kepalanya terbenam semakin dalam dibalik jaket Rathyan. Jemarinya mencakar-cakar jaket kulit tersebut—menimbulkan suara-suara tajam mendirikan bulu roma.

Dokter Kim mengangguk terhadap pertanyaan Rathyan. “Kalian bisa menemuinya sekarang. Walaupun keadaannya masih lemah, tapi paling tidak dia masih dalam keadaan sadar. Ingat, luangkan waktu yang banyak buatnya. Hanya ini yang dapat kukatakan sekarang.”

Rathyan mengangguk. “Thanks, dok .. “

Dokter Kim menepuk pundak Rathyan kemudian kepada Daze. “Jangan terlalu bersedih. Untuk orang tua seusia dia, mungkin ini jalan terbaik. Melepaskan semua penderitaan selama ini lebih baik daripada terus berjuang di dalamnya sementara dia tahu itu tidak mungkin. Mungkin ada kalanya yang muda juga harus belajar dari peristiwa ini. Relakanlah sesuatu yang mesti dilepaskan. Jangan berpaling lagi ke belakang. Masa depan yang paling penting. Hmm--mungkin perkataanku ini terlalu dini .. ,” dokter Kim tersenyum kecut dengan ekspresi bersalah. “Sosoengeyo, tapi .. yahh, hanya itu yang bisa saya katakan .. ,” kemudian dia berpaling ke arah Dave. “Kamu juga, Dave. Saya mengenalmu sejak kecil. Bagaimanapun nakalnya dirimu, saya tahu, kamu sangat mencintai nenekmu itu.”

Dave tidak menjawab. Wajahnya tertunduk perlahan. Dokter Kim mendekatinya, kemudian menepuk pelan pundaknya. “Jangan terlalu menyalahkan dirimu. Saya yakin nyonya Han tua tidak pernah membencimu. Buanglah sifat pemberontakmu itu. Anggap saja semuanya tidak pernah terjadi. Mulailah dari awal. Saya yakin nyonya Han paling ingin melihat semua anggota keluarganya hidup bahagia—tidak kekurangan suatu apapun .. ,” kepalanya menengadah ketika melanjutkannya, “Kalaupun pergi. Dia bisa pergi dengan senyum tersungging di bibir .. “ Sekali lagi dokter Kim menepuk pundak Dave. Setelah itu dia meninggalkan mereka—dengan helaan nafas panjang. Lagi-lagi dia harus menghadapi satu kenyataan. Pasien yang sudah lama dikenalnya—yang sudah dianggapnya sebagai sahabat sekaligus keluarganya sendiri, akan pergi dari dunia ini, dengan meninggalkan kenangan-kenangan manis dalam hatinya. Sosok dokter Kim menghilang di tikungan lorong rumah sakit.

Rathyan mengelus lengan Daze, lalu membalik tubuhnya menghadap kearahnya. “Sekarang kita masuk ke dalam. Jangan menanggis lagi!” Rathyan menyentuh pipi Daze, kemudian menghapus airmata yang masih mengalir deras dari pelupuk matanya. “Kamu tidak ingin melihat halmonie bersedih begitu melihatmu menanggis, kan?”

Daze mengeleng sambil terisak-isak.

“Dan kamu juga tidak ingin halmonie mengetahui segalanya, kan?”

Sekali lagi, Daze mengeleng.

“Kalau begitu, berhentilah menanggis .. ,” Rathyan menarik Daze ke dalam pelukannya. “Saya akan senantiasa menemanimu, Dazya. Jangan khawatir, dan juga .. jangan takut. Semuanya akan beres. Apapun yang terjadi pada halmonie, aku akan mendampingimu menghadapi semuanya. I promise.” Dia berbisik halus di telinga Daze. “Percayalah padaku .. “

Daze mengangguk perlahan. Lengannya melingkar erat di pinggang Rathyan. Walaupun sesuatu terjadi pada halmonie, aku tidak takut. Aku akan menghadapinya. Karena Rathyan di sampingku. Ya, dia mampu memberikan kekuatan itu. Aku mampu melewati masa-masa sulit ini! Tekad Daze dalam hati. Raut wajahnya berubah keras. Dihapusnya airmata yang masih mengalir turun dengan punggung tangannya kemudian dia melepaskan diri dari dekapan Rathyan.

“Kamu siap?” tanya Rathyan pelan.

Daze mengangguk. “Ne. Aku ingin bertemu halmonie.”

Rathyan mengangguk mengerti. Diperhatikannya gadis di sebelahnya selama beberapa detik kemudian dia beralih pada Dave. “Kamu juga ikut masuk, Dave-a. Mungkin .. mungkin ini amanat terakhir halmonie .. “

Rathyan membuka pintu ruang UGD di depan buat Daze. Dituntunnya gadis yang lemah itu ke dalam. Sedangkan Dave membisu sejenak, sebelum akhirnya ikut masuk ke dalam.


------ ><><>< ------



Langkah Daze tercekat di tengah ruangan. Tekad yang tadi sudah dihimpunnya dengan susah payah musnah begitu saja begitu melihat keadaan halmonie. Tubuh renta itu terbaring tak berdaya di atas ranjang. Posturnya yang kurus terlihat lebih kurus. Kulit yang pucat juga kelihatan lebih pucat. Begitu juga sepasang mata yang cekung itu seperti tak bernyawa.

Daze mengibaskan tangan Rathyan dan langsung melesat kearah halmonie. Kepalanya tengkurap di tepi ranjang. Dan tanggis yang tadi sudah berhenti, meledak kembali. Hanya semalam saja aku tidak bertemu halmonie. Hanya karena tidak sempat melihatnya pagi ini, mengapa .. mengapa keadaannya bisa berubah sedrastis ini? Mengapa? Daze mengutuk dirinya berulangkali.

Rathyan mendesah. Hatinya terasa sakit melihat keadaan Daze. Seperti tersayat-sayat belati yang sangat tajam. Didekatinya gadis itu, kemudian menempelkan tangannya di punggung yang bergerak naik turun karena menahan tanggis itu. Dave juga mendekati ranjang halmonie perlahan-lahan. Airmatanya mulai mengalir turun melihat keadaan halmonie yang menyedihkan.

“Halmonie, hu .. huhh .. ini Daze, .. buka matamu .. saya mohon .. huh .. huuu … ,” Daze menanggis tersedu-sedu. “Jangan tinggalkan saya sendiri … “

Kepala Daze masih tengkurap di atas ranjang sehingga tidak menyadari mata halmonie yang bergerak-gerak pelan. Tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang dingin menyentuh telinganya. Daze mengangkat wajah dan melihat kearah halmonie dengan mulut mengangga.

“Halmonie!!” teriaknya histeris. “Oh, tuhan!! Dokter Kim .. ,” dia bermaksud bangun ketika halmonie menariknya kembali.

“Dazya .. ,” panggil halmonie pelan.

“Ne!” Daze terhenti dan berbalik kembali. “Saya akan memanggilkan dokter Kim untuk memeriksa halmonie .. “

“Tidak perlu, sayang .. ,” kata halmonie lemah.

Alis Daze berkerut. “Mengapa?” dia mulai menanggis lagi. “Halmonie harus diperiksa lebih teliti. Harus .. “

“Kamu tahu apa yang terjadi pada halmonie?” tanya halmonie dengan suara serak.

Daze mengeleng keras-keras. “Tidak!! Saya tidak mau dengar!!”

“Kamu tahu, Dazya .. ,” halmonie tersenyum perlahan. Senyuman yang sangat ikhlas. “Halmonie yakin kau tahu.”

“Tidak!” Daze kembali mengeleng. Sepasang tangannya menekan bagian telinga erat-erat. Dia tidak ingin mendengar perkataan halmonie. Tidak! Dia tidak mampu menerima kenyataan ini.

“Dazya .. ,” tangan yang dingin itu kembali menyentuh lengannya. Kali ini menarik sepasang lengannya sehingga terlepas dari bagian telinga. “Halmonie ingin kamu mendengar ini .. “

Daze mengigit bibirnya, kemudian ia mengeleng lagi. Halmonie mendesah halus, lalu berpaling pada Dave. “Kamu juga, Dave-a. Kemarilah .. ,” tangannya yang keriput melambai ke arah Dave. Dengan kaku, pemuda itu mendekatinya. Sedangkan Rathyan yang merasa tidak berkepentingan dengan masalah keluarga ini merapat ke dinding dekat pintu. Kepalanya agak di tundukkan dan memasang sikap tidak ikut mendengarkan pembicaraan mereka.

“Maafkan halmonie jika selama ini bersikap terlalu keras kepadamu, Dave-a .. ,” kata halmonie dengan suara bergetar. “Halmonie tidak bermaksud begitu. Sungguh, halmonie hanya ingin mengajari yang terbaik bagimu. Tapi ternyata cara-cara yang halmonie pergunakan salah semua. Kamu bukan menjadi makin baik, malah semakin brutal.” Halmonie mendesah dengan pandangan menerawang ke langit-langit kamar. Sementara Daze kesenggukan di sebelahnya. “Semua itu kesalahan halmonie. Orangtuamu mempercayakan hidupmu—seluruhnya, padaku tapi … halmonie mengecewakan mereka .. “ raut tua yang pucat itu berkerut perlahan. Tanpa terasa dua butir air bening mengalir menuruni sudut matanya.
Dan jatuh membasahi seprai putih di sisi ranjang.

“Tidak halmonie .. ,” Dave mengenggam tangan halmonie erat-erat. “Semua kesalahanku. Miane, saya yang lemah .. ,” dia menanggis tertahan. “Saya selalu menentang ajaran halmonie. Selalu memberontak. Tidak mau mendengarkan perkataan halmonie. Saya .. saya cucu kurang ajar!!” dia memukul kepala sendiri yang segera ditahan oleh halmonie. Kepala nenek tua itu mengeleng sambil tersenyum lembut. “Saya menyesal. Sungguh menyesal .. ,” kata Dave. “Jika waktu bisa dibalik, saya ingin memulai semuanya dari awal. Ingin mengikuti ajaran halmonie. Mendengarkan halmonie dan melakukan semua perintah-perintah halmonie. Andai saja .. “

“Halmonie tahu .. ,” kata halmonie menenangkan. “Halmonie tahu, dasarnya kamu anak yang baik. Hanya jalan yang kau ambil saja yang salah … “

“Miane, halmonie .. jeongmal, miane .. ,” Dave menjatuhkan dirinya berlutut di hadapan halmonie.

Tubuh renta itu bergerak. Dengan susah payah dia duduk menyandar di sandaran ranjang. Daze segera membantunya.

“Hati-hati, halmonie .. ,” desah gadis itu di sela-sela tanggisnya. Halmonie menepuk-nepuk halus punggung tangan Daze. Dia tersenyum. Sekali lagi, senyuman yang sangat lembut dan menenangkan. Yang justru membuat hati Daze sesak.

“Apa yang terjadi padamu akhir-akhir ini, Dave? Bisa memberitahu halmonie?”

Dave berdiri, kemudian menjatuhkan dirinya di tepi ranjang. “Saya .. sebentar lagi akan menikah .. ,” kata Dave dengan nada yang sangat pelan. Hampir-hampir tidak terdengar. Tapi ajaibnya, halmonie yang biasanya agak tuli mendengar semua perkataannya.

“Menikah?” wajah keriput itu kelihatan berseri-seri. “Bagus.” Kepalanya mengangguk-angguk puas. “Berarti kamu sudah dewasa, sayang .. “

Dave mengigit bibirnya. “Ada lagi, halmonie.” Dia terdiam beberapa saat. Sementara halmonie menunggunya dengan sabar. “Saya .. saya akan menjadi seorang ayah.” Kemudian dia menunduk dalam-dalam. “Miane. Kelakuan saya di luar batas lagi .. “

Halmonie mengeleng dengan senyuman masih tersungging di bibir. “Aniyo, cucuku. Selama kamu menyadari kesalahanmu dan mau bertanggungjawab terhadap apa yang telah kau lakukan, halmonie tetap bangga padamu .. “

“Halmonie .. ,” tanpa mampu menahan perasaannya lagi, Dave menanggis tersedu-sedu dalam pangkuan halmonie. Wanita renta itu mengelus-ngelus kepalanya.

“Sungguh, halmonie bangga padamu .. “

“Miane .. miane .. ,” kata Dave berulangkali.

Melihat adegan-adegan tersebut, Daze tidak mampu menahan gejolak perasaannya yang terpukul. Dia menanggis tersedu-sedu sambil menutup mulutnya. Tubuhnya menyandar ke dinding—lemas. Rathyan meliriknya lewat sudut mata. Ingin membantu tapi dia memaksa diri tetap bertahan di posisi semula. Tidak bijak rasanya jika dia menganggu dalam suasana seperti ini. Mungkin saja .. ya, hanya kemungkinan … , harap Rathyan, yang segera menghentikan pemikiran tidak membantu ini.

Daze menatap halmonie. Entah mengapa dia merasa halmonie semakin jauh dari jangkauan tangannya. Walaupun sekarang dia bersama mereka, tersenyum dan dapat menyahut perkataan-perkataan mereka, tetap saja perasaan kehilangan ini begitu kuat.

Apakah ini suatu pertanda? Daze mengeleng kuat-kuat. Tidak mungkin! Halmonie berkata-kata dengan baik. Beliau terlihat sangat luwes dan cerdas. Setiap perkataannya begitu mengena di hati. Dan senyumnya juga begitu menyejukkan. Bahkan emosi yang biasanya diperlihatkan pada Dave hilang begitu saja saat ini. Tergantikan oleh sikap memaafkannya yang mengharukan. Pendengarannya juga berfungsi dengan baik. Halmonie tidak mungkin pergi begitu saja. Perasaan ini salah! Salah! Daze menarik-narik dan meremas-remas sweater yang dikenakannya di bagian dada. Kepalanya tertunduk sementara isak tanggisnya masih terdengar jelas.

“Dazya .. “

Daze mengangkat wajahnya. Halmonie tersenyum, lalu beralih perlahan kepada Dave. Ditepuknya kepala pemuda yang masih terbenam dalam pangkuannya. “Dave, kamu keluarlah dulu. Ada yang ingin halmonie bicarakan dengan noonamu .. “

Dave menarik diri kembali ke belakang. Dia mengangguk, lalu berdiri dari tempatnya. Sambil menghapus airmatanya yang belum kering, dia keluar dari ruangan tersebut. Rathyan bergerak dari posisinya. Dia menatap Daze yang saat itu sedang menoleh kearahnya. Dia mengangguk pelan dan memberi isyarat dengan tangan bahwa dia akan menunggu di luar. Daze mengangguk halus.


------ ><><>< ------



”Dazya .. bagaimana keadaanmu?” tanya halmonie begitu ruangan tersebut hanya tinggal dia dan Daze.

“Baik .. ,” Daze menghapus airmatanya, kemudian menjatuhkan diri di sebelah halmonie. Dibantunya halmonie berbaring kembali di atas ranjang. Lalu dia menyelimuti halmonie dengan penuh perhatian. “Saya baik-baik saja selama halmonie berada di sisiku .. “

Halmonie tersenyum. “Anak bodoh .. ,” diketoknya kepala Daze dengan kepalan tangannya. “Kamu tahu sendiri keadaan halmonie .. “

“Tidak!” Daze mengeleng keras-keras. “Saya tidak mau tahu. Halmonie harus sembuh!”

“Iya, … iya .. ,” halmonie menyerah. Diraihnya tangan Daze dan digenggamnya erat-erat. “Lalu .. bagaimana hubunganmu dengan .. “ halmonie berhenti sambil berpikir keras. “ .. siapa namanya? Halmonie lupa … “

“Carlson .. ,” Daze mengigit bibir bawahnya.

“Iya, benar. Carlson. Apakah kau mencintainya?”

Daze tidak menjawab. Kepalanya tertunduk perlahan.

“Tidak, bukan?” halmonie mendesah. “Halmonie dapat melihatnya. Dari semula hubungan kalian salah. Bukankah halmonie sudah memperingatkanmu sejak dulu?”

“Halmonie .. “

“Sikapmu berubah sejak berada di sini .. ,” lanjut halmonie dengan suaranya yang serak dan kering. “Pemuda itu .. ,” halmonie sengaja mengulur pertanyaannya, kemudian “ .. telah merubahmu, kan?”

Mulut Daze mengangga. “Pemuda? Maksud halmonie?” tanyanya terkejut.

Halmonie tersenyum lembut. “Jangan mengira halmonie buta segalanya, Dazya. Halmonie tahu apa yang terjadi di rumah. SEMUANYA.”

Daze termangu. Tidak mampu bereaksi apa-apa. Jadi selama ini halmonie mengetahui keberadaan Rath? Sungguh bodoh jika mereka mengira bisa menyembunyikannya dari halmonie! Daze menatap halmonie dengan pandangan menyelidik. Apa lagi yang diketahui halmonie tentang Rathyan?

“Dia, berarti segalanya bagimu, Dazya?” tanya halmonie lagi.

Daze mengeleng pelan. “Entahlah. Saya tidak tahu.”

“Apa yang kau khawatirkan?”

“Khawatir?” alis Daze berkerut. “Tidak ada. Memangnya apa yang saya khawatirkan?”

“Mungkin status.” Halmonie mendesah. “Halmonie juga tidak tahu. Kekhawatiran itu tersirat jelas di wajahmu begitu bersamanya .. “

Daze menundukkan kepalanya lagi. “Ajari aku, halmonie! Apa yang harus kuperbuat?”

“Kamu sudah dewasa, sayang .. ,” mata halmonie terpejam. “Sudah saatnya kamu mandiri. Percaya dan turuti kata hatimu. Halmonie sangat capek. Keluarlah, .. halmonie ingin istirahat … ohhh .. capek sekali hari ini .. ,” suara halmonie memelan, semakin dan semakin pelan, sampai akhirnya berhenti sama sekali. Suara tuttttttttt panjang dari mesin pendeteksi menghentak Daze.

“HALMONIE!!!!!!!!”

Teriakan histeris—mendirikan bulu roma membuat pintu UGD tersebut dihempaskan dari luar. Rathyan dan Dave menghambur masuk dan mendapatkan Daze menanggis tersedu-sedu—tengkurap di sisi tubuh halmonie yang terbujur kaku. Dave menutup mulut dengan kedua tangan. Dan pada saat itu juga dia tersungkur ke lantai dengan lututnya dan ikut menanggis meraung-raung.

Rathyan yang lebih tenang, melihat alat pendeteksi. “Saya akan memanggil dokter .. ,” katanya sambil berlari dari ruangan itu.

“Halmonie bangunlah!! BANGUNLAH, SAYA MOHON!! Bukankah halmonie pernah bilang ingin melihatku menikah? Melihatku berkeluarga? Sekarang, pacar saja saya tidak punya! Saya sudah putus dari Carls! Halmonie dengar itu?! Saya .. saya tidak mengijinkan halmonie pergi begitu saja .. tanpa melihat kebahagiaanku? TIDAK!! TIDAK BOLEH!!”

Teriakan-teriakan menyayat hati tersebut samar-samar memasuki telinga Rathyan ketika dia keluar dari ruangan dan mulai berlari di lorong panjang rumah sakit menuju kamar praktek dokter Kim. Rathyan menutup mata perlahan dan menahan agar airmatanya tidak menitik keluar.


------ ><><>< ------



Keesokkan harinya, pukul 11 pagi di bandara Perth …

”Omma .. appa … ,” Daze menghambur ke pelukan appa kemudian berpindah ke omma.

Appa mengerutkan alisnya. Begitu juga omma melepaskan diri dari rangkulan erat Daze yang membuatnya hampir tidak bisa bernafas.

“Ada apa?” tanya appa pada Dave yang berdiri agak di belakang. Tampang pemuda itu tidak jauh berbeda dari Daze. Matanya bengkak akibat terlalu banyak menanggis.

“Halmonie … halmonie sudah .. sudah meninggal .. ,” kata Dave dengan airmata yang terurai jatuh tanpa sadar.

“MWO?!” teriak omma dan appa dalam waktu bersamaan.

“Ya, tuhan.” Omma mengelus dadanya—kaget, sekaligus mulai menitikkan airmatanya. “Bagaimana mungkin ini terjadi? .. Kapan? Kapan terjadinya?” lanjut omma terbatah-batah.

“Kemarin .. ,” Daze menjawab. Bibirnya bergetar dan matanya terpejam perlahan-lahan. “Halmonie meng .. menghembuskan nafas terakhirnya .. di .. di hadapanku .. hu .. huhh .. ,” tanggis keras meledak saat itu juga.

“Ya, tuhan.” Omma meraup Daze ke dalam pelukannya. “Sabar sayang .. “

Sedangkan appa tidak mampu berkata-kata. Didekatinya istri dan putrinya, kemudian dipeluknya erat-erat.

“Dave, kemarilah .. ,” katanya pada putranya.

Dave mendekati mereka, lalu berempat—mereka saling berpelukkan dan menanggis terisak-isak. Mereka tidak peduli dengan berpuluh-puluh pasang mata yang memperhatikan dalam bandara itu. Saat ini yang diperlukan nereka adalah Saling menghibur dan memberi kekuatan atas kepergian halmonie yang mendadak.


------ ><><>< ------



Ruang makan yang biasanya sunyi itu menjadi lebih sunyi lagi. Ye Jin meletakkan piring-piring di atas meja tanpa bersuara. Dia ikut merasakan rasa kehilangan yang sekarang dirasakan keluarga Han. Tidak akan ada lagi nenek tua yang senantiasa mondar-mandir dengan tongkat di tangannya dalam rumah itu. Dan juga tidak akan ada lagi teriakan-teriakan halmonie ketika memarahi Dave—yang sering didengarnya manakala dia bekerja di Han’s mansion. Ye Jin menaruh piring terakhir. Setelah membungkuk kecil, dia berlalu dari situ.

Semua orang yang duduk mengelilingi meja makan—termasuk Rathyan yang sudah dikenalkan Dave pada orangtuanya~karena setelah dipikir-pikir tidak ada gunanya lagi menyembunyikan keberadaan sahabatnya ini, sebagai sahabat karib yang sekarang tinggal serumah dengan mereka—tidak bergerak. Mereka menatap nanar hidangan-hidangan di atas meja. Semua terasa hambar tanpa halmonie.

Rathyan sedikit mengedarkan pandangannya. Tidak terlihat kehidupan dalam ruangan itu. Kemudian dia berdeham pelan. Semua tampak tersentak.

“Oh, makanlah .. ,” kata appa memulai acara makan siang hari itu.

Semuanya mulai mengambil peralatan makan dari atas meja, kemudian mengisi piring-piring mereka—kecuali Daze. Gadis itu terlihat masih setia dengan lamunan-lamunannya. Pandangannya kosong tertuju ke depan.

Rathyan mendesah. Piringnya baru terisi setengah ketika dia mengambilkan makanan-makanan buat Daze. Setelah piring tersebut terisi penuh, disenggolnya lengan gadis itu dengan halus.

“Makanlah .. ,” katanya lembut. “Kamu bisa sakit jika tidak makan sedikitpun. Perutmu belum terisi sejak kemarin,kan?”

“Rath .. ,” desah Daze.

“Makanlah .. ,” kata cowok itu lagi.

“Tapi saya tidak berselera .. ,” tolak Daze halus. Disingkirkannya piring tersebut ke pinggir meja.

“Apa perlu kubuatkan susu hangat untukmu?”

“Tidak. Saya .. “

Rathyan menepuk punggung tangannya. “Tunggu sebentar .. “ dia berlalu. Beberapa menit kemudian dia kembali lagi dengan segelas susu hangat di tangannya. Disodorkannya gelas tersebut pada Daze. “Minumlah .. Ini lebih bagus buat diserap tubuhmu .. “

Daze tersenyum hambar. Dia menerima gelas dari tangan Rathyan kemudian menyeruput susu di dalamnya sampai habis.

“Thanks .. ,” dia meletakkan gelas kosong tersebut ke atas meja.

“Nambah?” tanya Rathyan.

Daze mengeleng. “Tidak. Ini sudah cukup.” Dia mengambil sendok dari dalam piring kemudian mulai menyendok makanan yang terdapat di dalamnya. “Saya akan menghabiskan makan siangku sekarang .. ,” dia tersenyum pada Rathyan.

Cowok itu ikut tersenyum, lalu mencubit pipinya dekat dagu. “Bagus. Makanlah yang banyak .. “

“Ne .. “ jawab Daze sambil memulai makan siangnya.

Tanpa disadari oleh mereka berdua, semua gerak-gerik barusan--dari beberapa menit yang lalu, tertangkap jelas oleh appa dan omma. Kedua orangtua itu saling melempar pandang. Kemudian mereka menatap Dave—meminta penjelasan. Anak itu hanya bisa mengangkat bahu dengan tampang memelas. Aku tidak tahu!, mungkin itu yang ingin diisyaratkannya lewat gerakan kecil itu.

Omma dan appa berdeham kecil sambil melanjutkan makannya. Sesekali mereka melirik Rathyan dan Daze yang duduk di ujung meja. Anak muda itu melakukan beberapa hal yang membuat alis mereka berkerut semakin dalam. Rathyan mengambilkan air minum buat Daze yang kehausan. Menambahkan makanan di piringnya ke piring Daze. Bahkan sesekali menyuapinya, yang langsung disambut gadis itu tanpa merasa risih. Dia juga membersihkan mulut Daze dengan serbet di tangannya. Dave yang duduk di sebelah Rathyan menghela nafas perlahan. Ia tidak kalah bingung dengan omma dan appa. Bagaimana sebenarnya hubungan kedua manusia ini? Pertanyaan tersebut berulangkali bermain dalam pikirannya sejak meninggalkan Park’s mansion—begitu dia melihat bagaimana Rathyan memeluk erat noonanya guna menghentikan tanggisnya yang mengebu-gebu akibat mendapat berita mendadak tentang halmonie yang tidak sadarkan diri dari Ye Jin.

Omma dan appa saling berpandangan lagi. Tangan mereka menyenggol antara yang satu dengan yang lain—memberi isyarat agar salah seorang di antara mereka mengajukan pertanyaannya. Kesepakatan tidak tercapai. Akhirnya mereka membungkam dalam posisinya masing-masing.


------ ><><>< ------



Tok … tok .. tok .. pintu kamar Daze yang tidak tertutup diketuk malam itu.

“Boleh omma masuk?!” tanya omma dari lorong luar.

Daze berpaling dari tumpukan pakaian yang sedang dilipatnya. “Masuklah, omma … “

“Gumawo .. ,” omma masuk kemudian menjatuhkan diri di ranjang Daze. “Kamu sudah baikkan, sayang?!”

“Ne … ,” Daze ikut menjatuhkan diri di atas ranjang.

“Hmm—boleh omma menanyakan sesuatu?” tanya omma ragu-ragu.

Daze mengangkat alisnya. “Ne?”

Raut wajah omma berubah serius. “Bagaimana hubunganmu dengan nak Carls?”

“Itu … ,” Daze mengigit bibir bawahnya.

“Omma sudah mendengar desas-desus selama ini .. ,” sela omma.

“Desas-desus?”

“Tentang hubunganmu dengan nak Carls.” Lanjut omma. “Dan omma tidak percaya. Karena itu omma menelepon nak Carls dan dia sudah menjelaskan semuanya.”

“Omma menelepon Carls?” Daze sangat terkejut. “Untuk apa?”

“Tentu saja untuk memastikan kalau hubungan kalian baik-baik saja!” sahut omma keras. “Dan kamu tahu apa kata nak Carls?”

“Apa?” tanya Daze putus asa.

“Dia bilang semua hanya sementara. Dia butuh waktu untuk berpikir. Tapi dia tidak ingin putus. Tidak seperti yang digosipkan media massa .. Semua tidak benar! Nak Carls akan mencarimu setelah appanya berhasil diyakinkan mengenai kedudukanmu di dalam hatinya.“

Daze mendesah.

“Dan kamu harus percaya padanya, Dazya!” sambung omma. “Kamu juga tidak ingin hubungan yang sudah terjalin selama dua tahun itu kandas begitu saja, kan?”

“Omma .. “

“Berilah waktu padanya. Omma yakin nak Carls mampu menangani semua persoalan itu .. “

“Omma .. “

Tiba-tiba omma menguncang tubuh Daze. “Sadar Dazya! Cuma nak Carls yang cocok buatmu .. “

“Omma, sakit!” Daze meringis ketika tekanan omma di lengannya semakin keras.

Kaget, omma melepaskan tekanannya. “Miane .. ,” digosok-gosoknya lengan Daze. Lalu tertangkap oleh pandangannya sepotong kaos berkerah tinggi yang asing teronggok di atas ranjang. Omma segera menyambar kaos tersebut. Daze sangat terkejut tapi tidak bisa berbuat apa-apa terhadap tindakan omma yang kilat itu. Kaos longgar tersebut dikibas-kibaskan omma. Matanya melebar. Ukuran kaos tersebut tidak mungkin buat membungkus tubuh Daze yang mungil.

“Kaos siapa ini?” tanya omma dengan nada dingin.

“Itu … ,” sekali lagi Daze membisu terhadap pertanyaan omma.

“Bukan milikmu?” lanjut omma.

Daze tidak menjawab. Sesungguhnya dia tidak mampu menjawab. Tidak! Yang benar, dia tidak tahu bagaimana caranya menjawab. Pertanyaan itu terlalu menusuk.

“Jangan bilang kaos ini milik Dave, Dazya. Omma hapal betul style si Dave .. ,” kata omma lagi.

Kali ini ditatapnya Daze lekat-lekat. Gadis itu segera membuang muka kearah lain—berusaha menghindari pandangan omma.

“Bukan milik anak muda itu, kan?”

“Omma … ,” lagi-lagi desahan yang mampu dikeluarkan Daze.

“Ya tuhan, Dazya.” Seru omma. “Apa yang ada dalam otakmu?” tanyanya tertahan. “Dia, .. dia seumuran Dave .. ”

“Hubungan kami bukan seperti itu, omma!” sela Daze tiba-tiba.

“Lalu .. ,” tanya omma lebih lanjut. “Seperti apa? Jelaskan pada omma!”

“Saya .. saya … ,” suara Daze tercekat. “ .. entahlah .. ,” katanya putus asa. “Saya tidak tahu …” kepalanya tertunduk ke lantai.

“Daze .. ,” omma memutar tubuh Daze menghadap kearahnya. “Dengarkan omma, sayang! Anak muda itu tidak mungkin memberi kebahagiaan seperti yang kau butuhkan. Tidak seperti nak Carlson. Yang kamu perlukan bukan hanya kebahagiaan sementara, Dazya. Berpikirlah ke depan. Yang kamu perlukan lebih dari itu, karena Han Da’ ZeVe sekarang .. sekarang … ,” perkataan omma terputus sampai di situ.

Mata Daze melebar, “Han Da’ ZeVe kenapa?”

Omma menghembuskan nafas berat. “Tidak apa-apa.” Katanya. “Masalah itu kita bicarakan nanti saja.”

“Omma .. ada apa dengan Han Da’ ZeVe?” desak Daze.

“Sudah omma bilang itu tidak penting.” Sahut omma. “Sekarang masalahmu yang paling mendesak!”

“Omma .. “

“Apa kau mencintai pemuda itu?”

Pertanyaan tersebut bagai petir mengelegar di siang bolong. Begitu mengejutkan sampai-sampai pakaian yang sudah dilipat Daze jatuh berserakan di lantai akibat gerakan tangannya yang tak terkendali.

“Jawab dengan jujur pertanyaan omma!”

“Saya tidak tahu .. ,” Daze mengigit bibirnya.

“Tidak tahu?” wajah omma berkerut. “Kalian .. kalian belum melakukan perbuatan itu, kan? Demi tuhan, jangan sampai peristiwa yang terjadi pada Dave terjadi juga padamu .. “

“Tidak omma!” sahut Daze segera. “Sudah kubilang hubungan kami tidak seperti itu .. “

“Ohh .. ,” omma menghembuskan nafas lega. “Syukurlah kalau begitu.” Kemudian diperhatikannya Daze dengan seksama. “Berarti hubunganmu dengan nak Carlson tertolong?”

“Omma .. ,” desah Daze putus asa. Dia berjongkok, lalu memunggut pakaian-pakaian dari lantai. “Jeobal, saya tidak ingin membicarakan masalah ini sekarang… Mau Carls, ataupun Rath—saya tidak ingin memikirkan mereka ...” Perlahan mata bundar itu berair. “Saya … kehilangan halmonie … saya .. saya sangat sedih .. sungguh .. “

“Dazya .. ,” halmonie menarik Daze ke dalam pelukannya. “Miane .. omma seharusnya tidak memaksamu dalam keadaan begini .. miane .. “

“Omma .. ,” Daze menenggelamkan wajahnya ke pundak omma dan gadis mungil itu mulai menanggis kesenggukan.

Mengingat halmonie membuat perasaannya terluka. Ditambah lagi, persoalannya dengan Rathyan yang tak terpecahkan. Apa yang harus dilakukannya jika pemuda itu tidak memberikan pengakuan yang diharapkannya selama ini, dan yang sangat dibutuhkannya saat ini? Pernyataan langsung Aku mencintaimu atau … paling tidak Aku menyukaimu, yang sangat dibutuhkannya untuk mempertahankan perasaan ini … Mempertahankannya di depan keluarganya .. dan yang pasti, di depan Carlson nanti …


~~~~~ ^^^^^^~~~~~


_________________


♥️ "Everywhere ★ we learn ★ only from ★ those whom ★ we love" ♥️
avatar
DragonFlower

Posts : 94
Join date : 2013-06-17
Location : | Trapped in CNBLUE Dorm |

View user profile

Back to top Go down

Re: from Seoul to ... Perth-- by Lovelyn

Post by DragonFlower on Wed Jun 26, 2013 3:46 pm



from Seoul to ... Perth--
Chapter Ten

By : Lovelyn Ian Wong



Mentari pagi perlahan menampakkan dirinya di atas langit—menyapa bumi dengan sinarnya yang lembut dan berwarna keemasan. Mencairkan sisa-sisa salju yang bergantung di pucuk-pucuk pohon, atap-atap rumah dan jalan-jalan tanah dan beraspal.

Daze mengeliat malas di atas ranjangnya. Matanya berkejap-kejap, berusaha membiasakan diri dengan sinar menyilaukan yang jatuh mengenai retina matanya. Lima menit berlalu, dia menyingkapkan selimut yang membungkus tubuhnya dan turun dari ranjang. Setelah melemaskan badannya yang terasa kaku akibat tidur semalaman, dia membersihkan diri sekadarnya, kemudian beranjak dari kamar.

Daze menuruni tangga menuju lantai bawah. Keadaan rumah sangat sepi saat itu. Dia celingak-celinguk sebentar—seperti mencari sesuatu. Setelah teringat pembicaraan dengan omma kemarin malam, dia berhenti dari kesibukkannya. Benar—omma, appa dan Dave pasti sudah berangkat ke Park’s mansion buat mendiskusikan penundaan pernikahan Dave dan Natalie. Karena kematian halmonie yang mendadak, rencana pernikahan itu harus dibatalkan. Tidak baik jika moment membahagiakan tersebut dibayangi peristiwa menyedihkan yang menimpa halmonie. Wajah Daze berubah sendu. Langkahnya diteruskan sampai di ambang pintu dapur. Sosok jangkung yang berada di dalam menghentikan langkahnya.

“Rath?!” keningnya berkenyit. “Apa yang kau lakukan?” Daze bergerak ke dalam dapur.

Sosok jangkung tersebut berbalik. Sebuah gelas yang sudah terisi susu tergenggam di tangannya.

“Anyong, Dazya .. ,” Rathyan tersenyum.

“A .. apa yang kau lakukan?” tanya Daze lagi. Tubuhnya dijatuhkan di kursi yang berhadapan langsung dengan Rathyan.

Pemuda itu mengerakkan bahu perlahan. “Hanya menyediakan susu buatmu. Kau pasti tidak berselera lagi pagi ini .. “

Daze terdiam. Tangannya bergerak menerima gelas yang disodorkan Rathyan.

“O ya, saya tidak melihat yang lain .. ,” kata Rathyan seperti memberitahu Daze.

Gadis itu mengangguk. “Ne. Omma dan appa menemani Dave ke tempat Natalie. Pernikahan mereka akan ditunda sampai beberapa bulan ke depan. Sedangkan pestanya sendiri mungkin baru bisa dilaksanakan setelah kelahiran bayi mereka .. “

Rathyan mengangguk tanda mengerti sambil mengerakkan tangan Daze yang memegang gelas. “Ayo cepat diminum susunya. Jika tidak cukup, saya akan membuatkan yang lain. Bagaimana dengan bubur atau .. cereal?”

Daze tersenyum sambil mengeleng halus. Susu tersebut mulai diteguknya. Walaupun tidak begitu ingin, dia melakukan juga. Pada saat itu ponsel dalam saku celananya tiba-tiba berbunyi. Daze meletakkan gelas di tangannya ke atas meja kemudian mengeluarkan ponsel tersebut. Ekspresi wajahnya berubah begitu menangkap nama yang tercetak di layar ponsel. Dia segera mengangkat wajah ke arah Rathyan—menatapnya beberapa saat. Pemuda itu membalasnya dengan pandangan bertanya.

Daze mundur ke belakang dan menyapa halus orang yang berada di seberang.

“Carls .. “

Brakk! Daze berpaling ke belakang. Gelas yang tadi diletakkannya di atas meja dihempaskan Rathyan ke wastafel. Gelas tersebut pecah berkeping-keping. Daze langsung menutup ponsel dengan tangannya.

“Ada apa?” tanyanya dengan nada berbisik.

Rathyan tidak menjawab. Celemek yang semula sempat dipakainya, dibuka dan dilemparkan begitu saja ke sudut dapur. Tangannya terkepal, kemudian dihantamkan keras-keras ke atas meja. Dengan tampang dingin dan tanpa berkata apa-apa, dia melewati Daze yang termangu di tempatnya.

“Rath!!” teriak Daze tertahan.

Tapi Rathyan tidak mempedulikannya. Pemuda itu berjalan terus sampai punggungnya menghilang dari pandangan Daze. Gadis itu mengejar keluar, tapi Rathyan sudah benar-benar lenyap dari ruangan itu.

Daze menghela nafasnya. Suara kresak-kresek halus kemudian menyadarkannya. Daze kembali menempelkan ponselnya ke telinga.

“Ne, Carls-a .. “

“Dazya, ada apa? Di sana terdengar ribut!” tanya Carlson khawatir.

Daze tersenyum kecut. “Tidak ada apa-apa. Kenapa kau menelepon sepagi ini?”

“O .. ,” Carlson terdiam. “Begini .. ,” lanjutnya ragu-ragu. “Saya mendengar peristiwa yang terjadi pada halmonie dari tante Han, .. Saya .. ikut berduka-cita Dazya .. “

Untuk beberapa saat Daze tidak merespon.

“Daze!” panggil Carlson.

“Ne, saya masih di sini.” Sahut Daze. “Gumawo .. ,” sambungnya pelan.

“Mian .. “

Daze tersentak. “Untuk apa?” tanyanya heran.

“Karena .. saya tidak menghubungimu selama ini .. ,” jawab Carlson dengan perasaan menyesal. “Beri saya waktu, Dazya. Saya sedang menyakinkan appa mengenai hubungan kita dan sebentar lagi berhasil. Percayalah padaku .. “

Daze tidak mendengarkan. Pikirannya saat itu melayang pada Rathyan. Apa yang menjadikannya semurka itu tadi? Apa ada peristiwa mendadak yang tidak menyenangkan hatinya? Berhubungan dengan telepon dari Carls ini-kah?

“Aku tidak akan membiarkan kebangkrutan Han Da’ ZeVe menghancurkan hubungan kita .. TIDAK AKAN!” Carlson terus berceloteh di seberang.

Kata-kata yang berhasil ditangkap Daze hanya ’ kebangkrutan Han Da’ ZeVe’. Dia tersentak.

“MWO?!!” teriaknya. “Kebangkrutan Han Da’ ZeVe? Apa maksudmu?”

Carlson tercekat. “Ka—kamu tidak mengetahuinya?”

“Mengetahui apa?” desak Daze. “Kebangkrutan Han Da’ ZeVe? Ini lelucon, kan?”

“A .. apa tante Han tidak mengatakannya kepadamu?” tanya Carlson terbatah-batah.

“Mengatakan apa?!” teriak Daze semakin keras. “Jangan bicara sembarangan!”

“Saya berkata sesungguhnya, Dazya .. ,” balas Carlson. “Han Da’ ZeVe bangkrut setengah bulan yang lalu .. “

Daze lemas ke lantai. “Han Da’ ZeVe bangkrut? Tidak mungkin .. ,” dia mengeleng perlahan.

“Miane, tidak seharusnya saya … “

“Saya tidak ingin membicarakan apapun sekarang ini .. “

“Daze .. “

“Carls, please. Saya ingin istirahat .. “

“Tapi .. “

“Kumohon .. ,” Daze tidak menunggu protes Carlson lebih lanjut. Ditekannya tombol off kemudian tangannya yang memegang ponsel terkulai ke lantai.

Daze menanggis tersedu-sedu sambil merangkul kedua lututnya. Selain peristiwa yang menimpa halmonie, ternyata dia harus menerima kenyataan pahitnya kebangkrutan Han Da’ ZeVe yang selama ini diusahakan kebangkitannya dengan susah payah.


------ ><><>< ------



Daze memasuki kamar Dave sekitar pukul 10 malam. Dave sudah memejamkan mata di atas ranjang saat itu. Daze mendekatinya dengan ragu-ragu. Langkahnya agak tersendat sampai berhenti ketika lututnya membentur pinggir ranjang.

“Hmm--,” sapa Daze perlahan.

Dave membuka matanya. “Noona?” serunya kaget. Dave segera bangun dengan posisi duduk di atas ranjangnya. “Ada apa?” tanyanya keheranan.

“Hmm—begini .. ,” Daze berhenti.

“ya?” Dave mengerutkan alisnya. “Noona?” tegurnya ketika Daze tetap berdiam diri.

Daze tersentak. “Oh!”

“Ada apa?” tanya Dave lagi.

Daze berusaha tersenyum. “Bagaimana pembicaraan hari ini? Sukses?”

“Apa omma belum menceritakannya?” tanya Dave tak percaya. “Bukan itu yang ingin noona tanyakan, kan?”

“Saya .. ,” Daze menundukkan kepala perlahan.

“Mengenai Rath?” Dave berusaha membantunya.

Daze mengangkat wajah. Matanya melebar perlahan-lahan. “Ba .. bagaimana kau .. mengetahuinya?”

“Apa noona serius?”

“Apa?” tanya Daze seakan tak mengerti.

“Dengan Rath. “ Dave mendesah. “Sungguh noona, dia tidak cocok buat noona. Rath—terlalu misterius dan … tak tertangkap .. ,” dia menghela nafas perlahan. “Walaupun dia sahabatku, aku tetap tidak mengenalnya .. Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya dan juga tidak tahu orangnya seperti apa .. Apa yang ada di balik kehidupannya … semuanya sangat semu … “ Dave menatap Daze lekat-lekat. “Aku tidak setuju dia bersama noona. TIDAK BOLEH. Noona pasti akan kecewa. Percayalah! .. Carls hyung lebih cocok buat noona. Lagipula hubungan noona dengannya sudah berlangsung beberapa tahun, bukan? Tidak mungkin semudah itu putus?”

Mata Daze meredup. “Entahlah .. “

“Noona .. “

Daze merasakan tangan Dave menempel di punggung tangannya.

“Percayalah padaku, noona … Jauhi Rath. Dia .. dia terlalu berbahaya .. “

“Berbahaya?” mata Daze melebar.

Dave tertawa. “Kalau ini hanya perasaanku saja .. “

“O .. ,” Daze mengangguk dan ikut tertawa. Sudah lama rasanya dia tidak berbincang seakrab ini dengan Dave. “Gumawo .. ,” dia balas menepuk tangan Dave dengan tangan satunya. “Noona akan mempertimbangkan pendapatmu .. ,” pandangan Daze beralih ke depan. “Rath, … saya juga tidak memahami perasaannya .. “

------ ><><>< ------


Rathyan mengesek-gesekkan tanah kental yang melekat di sepatu bootsnya. Berkali-kali dia mengumpat. Tinggal di hotel kumuh ini membuat badannya gatal-gatal. Rathyan sampai di depan pintu kamarnya. Dia masuk ke dalam dan mengeluarkan ransel berisi beberapa helai pakaian yang sempat dibawanya dua hari yang lalu. Kemudian dia berjalan ke resepsion hotel dan check-out. Agak terburu-buru dia menuju ke BMW bututnya yang terparkir di serambi depan hotel.

Saat itu seseorang memanggil namanya.

“Rathyan Jang!!”

Rathyan menoleh kearah suara itu. Tampangnya berubah kaku.

“Apa yang kau inginkan?” tanyanya dingin.

Cewek di hadapannya tersenyum samar. Kemudian didekatinya Rathyan dengan seorang pria berperawakan sedang dan berpenampilan rapi menjejari langkahnya dari samping.

“Masalah kita belum selesai!” sahut cewek itu.

Rathyan mendengus. “Jangan mengusikku lagi, nona Park. Saya tidak ingin berurusan denganmu!” dibukanya pintu mobilnya, tapi segera ditahan oleh pria di samping Gretchell.

“Please, dengarkan dulu penjelasan Gret .. “

Kening Rathyan berkerut. “Apa hak anda mengaturku?” kemudian dia berpaling pada Gretchell, selanjutnya berbalik lagi pada pria tadi. “Kalian,, jangan mengangguku!” didorongnya pria itu ke samping.

“Tuan!”

Pria itu menyentuh pundaknya dan menariknya ke belakang. Rathyan segera mengibaskannya.

“Sudah kubilang jangan mengangguku! Urus saja cewekmu itu!” dia menunjuk ke arah Gretchell—membuat mata gadis itu terbelalak lebar.

“Apa kau bilang?! Aku, cewek .. “

“THAT GUY, BOSS!!”

Teriakan keras itu memotong perkataan Gretchell. Dia, beserta pria di sebelah menoleh ke belakang. Begitu juga Rathyan, mempertajam pandangannya ke depan. Beberapa orang dengan senjata di tangan berlari ke arah mereka. Tampang mereka sangat sangar. Dengan rambut gondrong dan dandanan kucel, yang kalau dilihat langsung dapat diperkirakan kalau mereka bukan orang sembarangan. Dua di antara mereka bule sedangkan yang lain sepertinya orang Cina atau Korea.

“Apa benar dia?” tanya pria berpostur tinggi dalam bahasa Korea. Di tangannya tergenggam sebatang tongkat dari besi yang cukup besar. Dilihat dari gayanya, dia pasti pemimpin dari gang yang terdiri dari tujuh orang itu.

Pria di sebelahnya, yang agak pendek, mengangguk. “Benar! Dia yang membuat Jess menghindari boss!”

Tampang sangar pria yang dipanggil boss menjadi semakin sangar. “Berengsek!!!” Ditatapnya Rathyan dengan mata mendelik lebar. “Berani sekali kau!!”

Rathyan yang tidak mengerti dengan pembicaraan mereka mengerutkan alisnya. “Siapa kalian?” tanyanya tenang.

Walaupun sekarang sudah terkurung oleh orang-orang ini, dia tidak gentar sedikitpun. Ditatapnya tajam-tajam kelompok berandalan yang terdiri dari pemuda-pemuda yang kelihatan sedikit mabuk ini. Tiba-tiba dirasakannya ada yang menarik tangannya. Rathyan menoleh. Gretchell sudah mundur ke belakang dengan wajah pucat. Tangannya menarik dan mengoyang-goyangkan tangan Rathyan dengan gugup. Sedangkan pria yang tadi berdiri di sebelahnya sudah berganti posisi ke depan—seakan berusaha melindungi gadis itu dari keadaan yang tidak diinginkan. Rathyan tersenyum samar. Dengan halus dilepaskannya genggaman Gretchell di tangannya, kemudian dia mengibaskan tangan keras-keras sebagai isyarat pada mereka untuk berlalu dari situ.

“Kalian pergilah! Ini tidak ada sangkut-pautnya dengan kalian!”

“Tidak!” sahut Gretchell tegas.

“Kami tidak mungkin meninggalkanmu seorang diri di sini!” lanjut pria di sebelahnya.

Rathyan menghembuskan nafasnya. “Gumawo, tapi tidak perlu!” katanya tajam. “Jangan berlagak pahlawan karna saya paling benci sikap ini! Sekarang lenyaplah!” kemudian dia memutar tubuh menghadapi gerombolan tadi. “Apa mau kalian?!”

“Kau masih berani bertanya?” gertak si boss.

“Ya, saya bisa menebak.” Ejek Rathyan. “Jess, kan? Tapi jujur, saya tidak mengenalnya!”

“O ya?” si boss tertawa sengau. “Maksudmu cuma si Jess yang diam-diam tertarik padamu sedangkan kau sendiri tidak tahu?! Begitu?”

“Ne!” sahut Rathyan dengan pandangan tak berkedip.

“Besar mulut sekali!!” dengus si boss keras-keras. “Mati kau!” tongkat di tangannya diayunkan dengan mendadak. Rathyan menghindar ke samping. Tongkat tersebut hanya mencium angin, membuat tampang pria jangkung di depannya menjadi berang.

“HAJAR DIA!!!” teriaknya pada anak buahnya.

Tanpa menunggu perintah untuk kedua kalinya, para berandalan muda tersebut mengeroyok Rathyan. Pemuda itu menyudut ke belakang, berusaha menghindari beberapa tongkat yang diayunkan secara beruntun kearahnya. Gretchell berteriak histeris ketika sebuah tongkat mengenai wajah Rathyan. Tangannya menutup mulut dengan mata terbelalak lebar. Pria di depannya segera mendorongnya ke belakang dengan tangan terkembang—membentengi dirinya dan Gretchell dari serbuan yang tidak dilancarkan pada mereka.

Rathyan meringis. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya. Goresan panjang yang baru tercetak di pipi kirinya terasa nyeri. Rathyan mengatupkan gerahamnya keras-keras dan .. Puhhhh!!, disemburkannya darah yang memenuhi mulutnya ke tanah kemudian dihapusnya sisa-sisa darah yang menempel dengan jempol kanan.

“Kalian!!” tangannya menunjuk orang-orang tersebut dengan nafas memburu. “Apa tidak perlu mencari kebenaran dari masalah ini dulu?!”

“Untuk apa?” seru si boss. “Semua sudah sangat jelas!”

Rathyan mengeleng. “Sudah kubilang .. aku tidak mengenal Jess!”

“SETAN KECIL!!” murka pria itu. Perkataan ‘tidak mengenal’ dari Rathyan membuatnya semakin berang. Tongkat di tangannya bekerja lagi, begitu juga para anak buahnya.

Rathyan mendengus dan segera menghindar ke belakang. Dentingan-dentingan tajam dari tongkat-tongkat besi yang saling beradu dan teriakan-teriakan keras dari Gretchell mewarnai tempat itu. Orang-orang yang berada di sekitar situ mulai tertarik pada pertikaian tersebut. Mereka mengerumi dengan pandangan bertanya-tanya. Begitu menyadari apa yang terjadi, beberapa di antara mereka langsung menghubungi nomor polisi.

Rathyan berteriak keras ketika salah sebuah senjata kembali mencium bagian tubuhnya. Kali ini darah mengalir deras dari lengannya yang tergores silet yang dikeluarkan dengan tiba-tiba oleh salah seorang penyerangnya. Tubuhnya sudah memar-memar saat itu. Rathyan menghembuskan nafas sambil memejamkan matanya. Dia menghindar lagi ketika tongkat si boss kembali terayun kepadanya.

Teriakan-teriakan Gretchell semakin keras. Dia tidak mampu bergerak dari posisinya. Gadis itu berteriak-teriak tak karuan sambil mengibas-ngibaskan tangannya berulang-kali—dilakukannya terus-menerus seolah tidak sadar. Kejadian itu membuatnya shock berat. Pria yang bersamanya melihat itu dan menyadari keadaannya yang tidak stabil. Segera ditariknya Gretchell dan dibawanya menjauh dari pertikaian sengit yang sedang terjadi.

Keadaan semakin heboh ketika Rathyan tiba-tiba mengeluarkan sesuatu dari balik jas kulitnya. Barang itu berkilat-kilat tertimpa lampu redup di jalan. Sebilah pisau lipat yang cukup panjang. Dan salah seorang penyerangnya berteriak keras ketika pisau lipat di tangan Rathyan mengenai kulitnya.

Gretchell berteriak lagi. Tangannya menutup mulut semakin erat. Dipandanginya Rathyan dengan ekspresi tak percaya. Pemuda ini berkeliaran dengan pisau lipat setajam itu di tubuhnya? Tidak mungkin! Mengerikan sekali! Mengapa dia harus melakukannya? Apakah .. apakah dia sudah biasa dengan keadaan seperti ini? Ditatapnya Rathyan lekat-lekat. Raut wajah pemuda itu sangat datar. Darah yang mengalir deras dari tubuh korban tidak membuatnya bergeming. Beginikah watak pemuda ini yang sesungguhnya? Jenis pria bertangan dingin? Gretchell bergidik ngeri.

Sirene polisi terdengar dari kejauhan. Orang-orang yang masih gencar melancarkan serangannya ke arah Rathyan berhenti mendadak. Teriakan-teriakan ramai terdengar. Para penonton segera memberi jalan kepada para polisi yang keluar dari mobil dinas dengan terburu-buru. Gerombolan kecil tersebut segera menatap boss mereka.

Pria jangkung tersebut mendengus. “GO!!!” tangannya digerakkan ke atas. Sekejap saja para berandalan itu melarikan diri dari tempat itu.

Rathyan melebarkan pandangan berkeliling. Para polisi sudah hampir mencapai tempatnya berdiri. Rathyan berlari ke mobilnya. Ketika melewati Gretchell, ditariknya tangan gadis itu.

“Ikut aku pergi dari sini! Keadaan akan repot jika para polisi itu berhasil menangkap kita!” dia melirik pria di sebelahnya. “Kau juga. Masuk ke dalam mobil!”

Pria itu mengangguk. Dia kelihatan sudah agak tenang sekarang. Berlainan dengan Gretchell yang berusaha berontak dari Rathyan. Pria tersebut segera menepuk pundaknya.

“Tidak ada waktu lagi, Gret-a. Ayo masuk ke dalam mobil!”

“Oppa .. ,” desis Gretchell lirih.

“Oppa akan melindungimu. Jangan takut!” pria itu menghiburnya.

Gretchell mengangguk. Dia mengibaskan tangan Rathyan kemudian mengikuti pria yang dipanggil oppa tersebut masuk ke jok belakang. Rathyan menutup pintu mobil dengan keras kemudian menstarter mesin dengan kunci yang dimasukkannya secara terburu-buru. BMW biru muda itu meluncur ke depan dengan suara meraung-raung keras. Orang-orang yang mengelilingi tempat itu langsung menghindar dengan sempoyongan. Mereka mengerutu dan mengutuk karena mobil butut tadi hampir menyerempet tubuh mereka.

------ ><><>< ------

Rathyan menghentikan BMW bobroknya di pinggir jalan yang agak sunyi. Dia membuka pintu mobil dan mengamati keadaan sekeliling. Hanya beberapa mobil yang melintas sekali-kali. Tempat itu terlihat cukup aman. Rathyan bernafas lega. Kepalanya ditarik kembali, lalu dia berpaling ke belakang.

“Di sini cukup aman. Kalian keluarlah dan cari tumpangan sendiri. Masalah tadi tidak ada sangkut-pautnya dengan kalian jadi jangan khawatir para berandalan sialan itu akan mencari kalian. Sekarang pergilah!”

Pria di sebelah Gretchell membuka pintu di sebelahnya. “Gumawo. Saya tidak tahu apa perkataan ini tepat .. ,” dia tersenyum kecut. “Tapi karena kau, nyawa kami hampir melayang .. ,” Setelah memberi tatapan menyalahkan, dia keluar dari mobil.

“KAU .. ,” Gretchell tiba-tiba mengeluarkan suaranya. Rathyan yang sudah berpaling ke depan, kembali menoleh. “Ini kau yang sesungguhnya?”

“Mwo?” tanya Rathyan tak mengerti.

Sebelum Gretchell menjawab, terdengar pintu dibuka di sebelahnya. Kepala pria yang datang bersamanya nonggol dari luar.

“Kita pulang sekarang, Gret-a .. “

Gretchell memberi senyuman pada pria itu, kemudian menerima uluran tangannya. Dengan halus pria tersebut membantunya keluar dari mobil.

“Dia pria terbaik buatmu .. “

Gretchell menoleh. Saat itu Rathyan melirik pria di sebelahnya.

“Dia berani mempertaruhkan nyawanya buatmu.” Lanjut Rathyan sambil beralih padanya. “Saya yakin kau tahu maksudku .. “

Gretchell mengangguk perlahan. “Ne. Setelah kejadian tadi, saya tahu siapa yang paling cocok buatku .. ,” dihempaskannya pintu mobil sehingga menimbulkan suara keras.

Rathyan melirik mereka lewat jendela kaca mobilnya. Gretchell tampak menyandarkan kepalanya di dada pemuda yang menuntunnya ke seberang jalan. Dua menit kemudian sebuah taxi mendekati mereka. Rathyan mengalihkan perhatian ke depan. Diinjaknya pedal gas. Mobilnya meraung-raung, lalu melesat ke depan dengan kecepatan tinggi.


------ ><><>< ------



Daze terkejut mendapati Rathyan yang babak belur di ambang pintu depan. Tangannya yang masih memegang gerendel pintu mengenggam erat.

“A .. apa yang terjadi?” tanyanya gugup.

Daze segera menyentuh wajah Rathyan, membuatnya mendesis halus.

“Sakit?” tanyanya cemas.

“Tidak!” Rathyan menangkap pergelangan tangan Daze. Menariknya ke arahnya. “Saya tidak apa-apa.”

“Tapi .. ,” Daze melirik dengan gelisah. Jas kulit yang sobek di bagian lengan dan darah yang sudah mengering juga tertangkap olehnya sekarang. “Da .. darah .. Kau .. berkelahi, ya?”

“Tidak. Saya tidak .. ,” Rathyan mengangkat tangannya. “Ah—sudahlah.” Katanya akhirnya. “Ini tidak penting.” Kemudian dia menatap Daze lekat-lekat. “Bagaimana keadaanmu dua hari terakhir?”

Daze mengigit bibir perlahan. “Baik.” Dia berdusta.

“Baik?” bibir Rathyan tertarik ke atas. “Ya, tentu saja baik-ya?”

“Maksudmu?” balas Daze tak mengerti.

“Tidak ada!” Rathyan mengalihkan pandangan ke arah lain. “Saya ingin istirahat. Kita bicara lagi nanti .. “

Didorongnya Daze ke samping, lalu dia berjalan dengan tenang ke dalam rumah. Daze terperangah. Untuk pertama kalinya dia mendapat sikap sedingin ini dari Rathyan. Kemana ciuman hangat yang sering dilancarkannya apabila mereka sudah lama tidak ketemu?—ya, paling tidak beberapa hari. Itu sudah termasuk lama, kan? Kemana jua pandangan lembut dan sinar mata yang memantulkan kerinduan dari sepasang mata elang itu? Kemana perginya semua itu? Daze menutup pintu depan dengan lesu.


------ ><><>< ------



”Apa yang terjadi denganmu?”

Pertanyaan keras dari omma menyadarkan Daze. Gawat!! serunya sambil melesat ke dalam.

Rathyan tampak berhadapan dengan omma di ruang tengah. Sikap mereka terlihat tegang.

“Omma!” sapa Daze. Dia berusaha tersenyum, tapi itu tidak membantu suasana yang sudah tercipta di antara mereka.

“Kau habis berkelahi?” tanya omma dengan pandangan menyelidik.

Rathyan tidak menjawab. Tapi pandangannya juga tidak terlepas dari tatapan omma.

Mengapa dia masih bersikap menantang dalam keadaan begini? rutuk Daze dalam hati.

Segera ditariknya lengan Rathyan. “Rath harus beristirahat, omma. Dia .. dia terjatuh dari tangga tadi … “

“Tangga mana, Dazya?” tanya omma tajam. “Jangan belajar membohongi omma!”

Daze menunduk perlahan. Ya, alasannya memang terlalu memaksa. “Miane .. ,” ujarnya halus.

Omma beralih kembali pada Rathyan. “Dari semula saya sudah tidak menyetujui pergaulanmu dengan Dave .. Dan lihat, saya tidak salah! Kau membawa dampak buruk buat Dave .. “

“Omma!” seru Daze.

“Omma belum selesai, Dazya!” bentak omma. Membuat Daze langsung membungkam di tempatnya.

“Buat Dave, saya tidak akan setegas itu. Bagaimanapun dia seorang pria. Tindakan apapun tidak akan seburuk yang mungkin terjadi pada Daze .. ,” omma berpaling lagi pada Daze. Gadis itu segera menundukkan wajahnya. “Daze adalah anak gadis kami satu-satunya. Kami rela melakukan apapun buat kebahagiaannya. Mau itu karir ataupun masa depannya, kami ingin yang terbaik.” Omma berdeham pendek, kemudian melanjutkan perkataanya yang tertunda, “Saya tahu nak Rathyan mengerti maksud tante .. Pria yang pantas mendampingi hidup Daze adalah pria yang sudah mandiri dan penyayang, bukan pria muda sepertimu ..”.

“Omma!” Daze mengangkat wajahnya, terkejut. Dia tidak menyangka omma akan seterus-terang ini. Dia berpaling pada Rathyan. Ekspresi pemuda itu tetap datar. Tak mampu dibaca apa yang sekarang berada dalam otaknya.

“Nak Rathyan masih muda.” Sambung omma. “Tante yakin cewek yang bersedia menjadi pacar nak mengantri dari Perth sampai ke .. Seoul—mungkin, karena itu .. tante mohon, lepaskan Daze .. Dia tidak cocok buatmu .. “

“Omma!” Daze tidak bisa menahan lagi. Lututnya lemas. Dengan memelas dia menatap omma. “Berhentilah .. sudah cukup .. “

Samar-samar Daze menangkap sosok Rathyan bergerak lewat ekor matanya. Dia menoleh kearah pemuda itu. “Rath .. ,” panggilnya lirih.

Tampang Rathyan sangat keras saat itu. Gerahamnya terkatup rapat sehingga bentuk wajahnya berubah persegi. Mata elangnya menatap tajam ke depan—tak berkedip. Lapisan tipis yang transparan melapisi bola matanya—membuatnya terlihat sangar sekaligus .. –bagi Daze, terlihat menyedihkan. Rathyan melirik Daze. Tangannya mengepal perlahan-lahan. Pandangannya kembali tertuju ke depan. Dia memutar tubuh kearah pintu, lalu bergerak dari situ.

“RATH!!” teriak Daze. Dia bermaksud mengejar Rathyan tapi segera dihentikan omma.

“Biarkan dia pergi, Dazya!” omma menariknya ke belakang.

“Omma .. ,” desah Daze putus asa.

“Dia tidak cocok buatmu. Dan tidak berarti jika dibandingkan nak Carl .. “

“Saya mohon, omma .. ,” Daze terisak halus. “Jangan mengungkit Carls lagi. Kami sudah putus. Hubungan kami habis, .. dan ini tidak ada kaitannya dengan Rath. Dia bukan orang ketiga di antara kami, jadi saya mohon .. ,” Daze menatap omma, “ .. biarkan saya memilih .. “

“Dazya .. ,” seru omma kaget.

“Please .. ,” tambah Daze.

Dia mundur ke belakang secara perlahan-lahan. Ekspresinya sangat memelas. Seakan mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin terwujud. Kemudian dia berbalik kearah pintu dan menghambur keluar.

“DAZE HAN!!!”

Teriakan omma tidak dipedulikannya. Daze berlari ke pintu depan. Didobraknya pintu itu sampai terhempas keras ke dinding, kemudian dia menerjang keluar. Tapi tidak didapatinya bayangan Rathyan di sana. Daze berbalik ke belakang. Dia berlari di sepanjang lorong menuju pintu belakang. Omma yang baru keluar dari ruang tengah tidak digubrisnya.

“Daze Han, dengarkan perkataan omma .. “

Daze melewati omma begitu saja. Dia keluar dari pintu belakang dan berlari sepanjang taman. Tetap tidak didapati sosok Rathyan. Suara air melalui selang yang melintang sepanjang taman menghentikan langkahnya. Daze berpaling ke sebelah kanan. Di sana—di bawah balkon yang agak merapat ke dinding, Ye Jin tampak sedang membersihkan pot-pot bunga. Daze berlari kearahnya.

“Ye Jin-a!”

Ye Jin menghentikan kesibukannya dan berpaling kearah Daze. “Agashi … ,” jawabnya dengan hormat.

“Rath .. ,” Daze terengah-engah. “A … apa kau melihat Rath?”

“Tuan Jang?” Ye Jin memastikan.

Daze mengangguk.

Ye Jin menunjuk ke jalan kecil yang menuju ke hutan. “Tadi dia menuju ke sana. Kelihatannya terburu-buru. Memangnya ada .. “

“Thanks, Ye Jin-a .. ,” Daze menghentikan perkataan Ye Jin sebelum selesai.

Dengan cepat dia berlari ke sana. Tidak dipedulikannya teriakan-teriakan Ye Jin yang bertubi-tubi.

“AGASHI!! JANGAN KE SANA … TERLALU BERBAHAYA!! SALJU TEBAL AKAN MENYESATKAN JALAN KELUAR, .. AGASHI!! … “

Teriakan-teriakan selanjutnya semakin samar. Daze masuk semakin dalam. Jalanan yang tertutup salju tebal terhampar di hadapannya sekarang. Pohon-pohon kering yang sudah gugur berdiri tegak mengelilinginya seakan siap mencakar dengan ranting-rantingnya yang panjang dan tajam. Daze menghentikan langkahnya secara mendadak. Hanya hamparan putih yang tertangkap oleh pandangannya di mana-mana. Daze berpaling ke belakang. Sama saja. Pemandangan di seputarnya sama semua. Dia tidak bisa membedakan lagi mana jalan keluar—tempatnya masuk tadi. DEGG!! Hati Daze berdetak. DIA TERPERANGKAP SEKARANG—TERDAMPAR DI SINI SEORANG DIRI.



~~~~~ ^^^^^^~~~~~


_________________


♥️ "Everywhere ★ we learn ★ only from ★ those whom ★ we love" ♥️
avatar
DragonFlower

Posts : 94
Join date : 2013-06-17
Location : | Trapped in CNBLUE Dorm |

View user profile

Back to top Go down

Re: from Seoul to ... Perth-- by Lovelyn

Post by DragonFlower on Wed Jun 26, 2013 3:54 pm





from Seoul to ... Perth--
Chapter Eleven

By : Lovelyn Ian Wong



Daze berlari menerobos pepohonan dan hamparan salju di depan, sampai tiba di sebuah titik yang berhasil ditembus sinar mentari pagi. Dia berputar-putar di tempat sambil menengadah ke atas--berusaha mencari arah keluar yang tepat. Bagaimanakah letak mata angin? Beberapa menit berlalu dan tetap tidak diperolehnya jalan itu. Dia sungguh tidak tahu bagaimana harus bergerak. Perlahan dia menoleh ke belakang. Apakah itu jalan yang tadi di laluinya? Kemudian dia berpaling ke samping. Atau .. jalan yang itu? Daze mengeleng sambil memejamkan matanya. Dia benar-benar tidak tahu.

Daze merosot dari posisinya. Bagian belakang tubuhnya terasa dingin begitu menyentuh salju. Selama beberapa menit dia terduduk seperti itu. Pandangannya tidak berhenti, bergerak liar menjelajahi setiap sudut hutan.Uap tebal tersembur dari mulut dan hidung Daze. Gadis malang itu mengigil kedinginan. Sekujur tubuhnya terasa beku dan kaku--tak bisa merasakan apa-apa lagi. Berulangkali dia mengosok-gosokkan telapak tangannya, namun tetap saja kebekuan itu tak terusir pergi. Dengan susah payah dia beranjak bangun dari salju, lalu mulai bergerak kembali. Jalan yang diputuskan diambilnya adalah jalan di sebelah kiri, yang agak berliku tapi tidak terlalu banyak ditutupi pepohonan.

Hampir lima menit Daze berjalan. Pemandangan di sekelilingnya sama saja—pohon-pohon besar dan hamparan salju yang dilihatnya sejak tadi. Langkah Daze semakin tak teratur dan sempoyongan, bergoyang ke kiri dan kanan seperti orang mabuk. Pandangannya perlahan mengabur. Daze sadar sebentar lagi dia bakal pingsan, namun dengan sekuat tenaga dipaksakannya tetap bertahan. Dia berusaha membuka mata lebar-lebar. Tiba-tiba sebuah akar besar yang menyembul dari tanah, yang tidak dilihatnya, membuatnya terjerembab.

“Akhh .. ,” Daze berteriak lirih.

Celananya koyak di bagian lutut. Darah segar perlahan merembes keluar dari luka di lututnya. Daze mengigit bibir keras-keras. Dipeluknya sepasang lututnya erat-erat. Ketakutan-ketakutan mulai menghinggapi hati, dan menguasai perasaannya. Bagaimana jika jalan keluar dari hutan ini tidak ditemukan? Gimana jika tidak seorangpun menyadari kepergiannya? Ye Jin memang mengetahui kenekatannya masuk ke dalam hutan ini, tapi itu tidak menjamin dia atau orang-orang yang dimintai pertolongannya akan berhasil menemukan keberadaannya? Bagaimana ini? Daze terisak halus. Aku tidak ingin mati di sini!! Tidak!! Seseorang .. siapapun dia, .. tolonglah aku …

Kepala Daze tertunduk ke jalan bersalju. Tubuhnya tak bergerak, kaku di tempat. Dia sudah tak bertenaga lagi. Capek dan sangat kedinginan.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

Suara itu terdengar sangat jauh. Aku pasti sedang bermimpi! Daze tersenyum pedih.

“Hey—Dazya!!”

Sampai sebuah tangan hangat menarik lengannya, barulah Daze benar-benar sadar. Dia tersentak. Tidak! Ini bukan mimpi! Sentuhan ini sangat nyata!

Daze menoleh lambat-lambat.

“Rath .. ,” ujarnya lirih tak percaya.

“Ayo bangun!”

Kembali Rathyan menarik lengannya. Daze bangkit dengan sisa-sisa tenaganya. Namun setelah berdiri tegak, dia ambruk dalam pelukan Rathyan.

“Yaa—Dazya,, buka matamu! Apa kau masih sadar?”

Daze membuka mata perlahan. “Ne .. ,” jawabnya dengan suara serak dan kering.

“Kenapa sampai berada di sini?”

“Aku mengejarmu .. “

“Paboyo?” Rathyan berdecak keras. “Apa kau tak tahu sangat berbahaya berkeliaran dalam hutan bersalju? Dikemanakan otakmu?”

Daze tersenyum lemah. “Gwencanayo .. Aku .. aku mengkhawatirkanmu .. Soal omma, .. mianeyo .. “

“Pabo!” murka Rathyan. “Kau bisa mati dengan kecerobohan ini! Lain kali jangan lakukan lagi! Araso?”

Daze mengangguk. “Ne .. “

“Apa kau bisa berjalan?”

“Hmm--,” Daze mengigil kedinginan.

“Gwencana? Apa yang kau rasakan?”

“Dingin .. ,” jawab Daze dengan bibir bergetar keras.

Rathyan menghembuskan nafasnya. “Chakaman .. ,” katanya dengan suara melembut. Dia melepas mantelnya kemudian menyampirkannya ke pundak Daze.

“Gwencanayo .. ,” tolak Daze halus.

“Jaga kestabilan suhu badanmu! Berhentilah bersuara!”

“Tapi kau …. “

Perkataan Daze segera diputus oleh Rathyan. “Saya tidak apa-apa .. “

Rathyan menuntun Daze berjalan perlahan. Pandangan pemuda itu tajam tertuju ke depan sambil sesekali ditolehkan seperti mencari-cari sesuatu di pohon-pohon atau tanah yang mereka lewati. Daze menyampirkan kepalanya ke dada bidang Rathyan. Diliriknya pemuda itu dengan sepasang matanya yang sekarang berangsur jernih melalui sela-sela lekukan wajahnya yang keras. Alis Daze berkerut perlahan. Apa yang kau pikirkan sekarang? Kau terlihat murka sekali tadi. Ya, aku tahu .. memang banyak hal yang terjadi. Omongan omma keterlaluan jadi tak heran kau marah seperti itu. Tapi apa perkataan omma salah semuanya? Tidak. Aku yakin kau tahu omma tidak salah seluruhnya, makanya kau sangat marah. Hubungan kita yang tidak jelas. Ini inti permasalahan yang tak dapat diselesaikan sampai sekarang. Mengapa kau tidak mengatakan apa-apa .. atau jujur saja ..? Mengapa ..

“Lain kali jika masuk ke dalam hutan, apalagi yang tertutup salju seperti ini, kau harus memberi tanda biar nggak tersesat .. ,” Rathyan menoleh pada Daze. “ … Araso?”

“Ne .. ,” jawab Daze.

“Aku akan mengantarmu sampai ke jalan keluar .. setelah itu, kau pulang sendiri .. “

Daze segera meremas lengan Rathyan. “Kau mau kemana? Please, ikutlah denganku .. “

“Aku …”

“DAZYA!!”

Omongan Rathyan terpotong oleh teriakan-teriakan yang saling bersahutan di depan mereka. Semula samar, lama-kelamaan semakin jelas dan keras.

“KAU DENGAR APPA, DAZYA??!!!”

“NOONA!! NOONA!!”

“AGASHI!!”

“KELUARLAH NAK!! INI OMMA. MAAFKAN PERKATAAN OMMA TADI!!”

Rathyan dan Daze saling berpandangan. Suara-suara itu semakin mendekati mereka. Perlahan Rathyan melepaskan tangannya.

“Pulanglah .. ,” katanya dengan sinar mata meredup.

“Rath .. ,” Daze membalas pandangan Rathyan penuh harap.

“Aku tidak bisa pulang .. ,” pemuda itu mengeleng perlahan. “Tidak sekarang .. “

“Tapi .. “

Perkataannya tidak berlanjut karna Rathyan sudah memutar badannya ke arah hutan.

“Rath .. “

Rathyan tak berhenti sampai dia tiba di garis hutan yang tadi dilaluinya bersama Daze. Sedangkan teriakan-teriakan nyaring dari belakang masih terdengar bergaung di hutan itu. Rathyan berdiri tegak di tempatnya selama beberapa saat. Dia terlihat sedang berpikir. Mendadak dia berbalik dan berjalan lebar, kembali ke tempat Daze. Diraupnya dengan cepat kepala gadis itu kearahnya, kemudian dilumatnya bibir mungil yang terbuka itu. Daze mendesah. Hanya sesaat, Rathyan melepaskan lumatannya. Ditatapnya mata Daze lekat-lekat.

“Dengar kata-kataku!” katanya dengan suara ditekan. “JANGAN KEMANA-MAKA, AKU AKAN KEMBALI. Araso?”

Daze mengangguk. “Ne .. “

Kembali, Rathyan mendaratkan ciumannya. Kali ini di jidat. Ciuman yang sangat lengket. Lalu dia mundur perlahan ke belakang.

“See you, Dazya .. “

Dia memutar tubuh dan dengan cepat melesat ke dalam hutan.

“Daze .. ,” bersamaan dengan itu, rombongan yang terdiri dari appa, omma, Dave dan Ye Jin sampai di situ.

Daze berpaling.

“Omma .. appa .. ,” sahutnya lirih.

Omma menghambur ke arahnya dan memeluknya erat-erat.

“Gwencana?” tanya omma khawatir.

“Ne .. ,” jawab Daze sambil menghapus airmatanya. Lega rasanya melihat kehadiran keluarganya di situ. Mereka sangat mengkhawatirkannya. Itu terlihat jelas dari ekspresi wajah mereka.

“Kalau begitu ayo pulang ..,” kata appa sambil merangkul putri dan istrinya.

Dave terlihat melirik mantel yang tersampir di pundak Daze. Keningnya berkerut perlahan. Dia mengenali mantel Rathyan. Jadi tadi sahabatnya itu berada di sini? Bersama noonanya? Dave menghela nafasnya berat. Dia tidak mengatakan apa-apa mengenai mantel itu. Yang paling penting noona selamat sekarang!, katanya dalam hati. Perlahan dia memutar tubuh mengikuti langkah yang lain, yang sudah mendahuluinya berlalu dari situ.


------ ><><>< ------



Pemakaman halmonie dilakukan dua hari kemudian. Cuaca terus-terusan mendung sejak tadi pagi, seakan ikut bersedih atas kehilangan keluarga Han. Tidak banyak orang yang menghadiri pemakaman itu. Selain anggota keluarga Han dan Park, ada beberapa tetangga yang ikut berbelasungkawa atas kepergian halmonie.

Daze terisak keras. Airmata tidak berhenti menetes dari pelupuk matanya. Pundaknya naik turun tanpa dapat ditahan. Suaranya sudah sangat serak ketika acara pemakaman hampir mencapai puncak. Pandangannya semu tertuju ke arah peti mati yang diturunkan ke dalam lubang kubur yang sudah dipersiapkan sebelumnya oleh para tukang gali kubur.

Anggota keluarga lain juga terlihat sedih, begitu juga para pelayat, namun kalau dibandingkan dengan Daze, mereka tidak ada apa-apanya. Daze memang sangat dekat dengan halmonie sejak masih kecil. Dia sangat menyayangi halmonie, begitu juga sebaliknya. Memori kebersamaan mereka tak akan terhapus dengan terkuburnya tubuh tua itu dalam tanah.

Angin bertiup semilir mengerak-gerakkan rambut panjang Daze. Perlahan gadis itu menghapus airmata yang masih mengalir deras dengan saputangan dalam tangannya. Tangkai-tangkai mawar di tangan para pelayat mulai dilemparkan ke dalam lubang kubur. Daze menanggis semakin keras.

“Halmonie .. ,” serunya menyayat dan berulang-ulang.

Tiba-tiba sebuah lengan melingkar di pundaknya. Menghentikan teriakan Daze. Dia berpaling dengan cepat.

“Rath .. “ Mulutnya mengangga tak percaya dengan apa yang dilihat di sebelahnya.

Sosok jangkung Rathyan sudah berdiri di sampingnya. Pemuda itu mengangguk, kemudian merangkulnya erat-erat.

“Gwencana .. “

Daze langsung menyandarkan kepalanya di dada Rathyan. Jemarinya tak berhenti meremas-remas kemeja yang dikenakan pemuda itu. “Saya sedih .. sangat sedih .. ,” katanya terisak-isak.

“I know .. ,” sahut Rathyan dengan nada menghibur. “Karna itu menanggislah .. Keluarkan semuanya … Setelah hari ini, semuanya akan berlalu .. “

“Hu .. hu .. hu … “ Daze menanggis sejadi-jadinya dalam dekapan Rathyan.

Omma yang berdiri tidak jauh dari situ, berpaling ke arah Daze ketika tanggisan anak gadisnya itu semakin mengharu-biru. Dia sangat terkejut ketika mendapatkan kehadiran Rathyan di situ. Apalagi pemuda itu sedang memeluk Daze erat-erat. Pandangannya bertemu dengan tatapan Rathyan. Raut wajah omma berubah keras. Alisnya berkerut sangat dalam. Namun, Rathyan terlihat tidak peduli dengan perubahan sikapnya. Dibalasnya tatapan omma tak berkedip.

Omma bergerak sedikit dari tempatnya dan bermaksud berjalan ke arah mereka. Tapi segera ditahan oleh seseorang di sebelahnya.

“Jangan omma!” kata Dave. “Untuk hari ini saja, biarkan mereka.” Dia memandang ke arah Daze dan Rathyan. “Noona agak terhibur dengan kehadirannya di sini .. Paling tidak, itu yang kita inginkan .. benar, kan?“

Appa ikut menyentuh lengan omma. “Dengarkan Dave, omma. Biarkan Daze tenang dulu. Sepertinya pemuda itu mampu mengendalikan emosinya .. Tanggisnya juga sudah agak mereda sekarang .. “

Omma mengalihkan perhatian pada sepasang muda-mudi di depannya. Perhatian Rathyan sudah sepenuhnya ditujukan pada Daze. Berulangkali tangannya mengelus wajah gadis itu. Dan mulutnya komat-kamit membisikkan kata-kata halus yang memenangkan di telinganya. Daze mengangguk berkali-kali tanda mengerti dan menerima perkataan pemuda itu. Benar kata appa dan Dave, tanggisan Daze sudah memelan sekarang dan hanya tinggal isakan pelannya saja. Sepertinya pemuda itu memang punya kekuatan yang besar dalam mengendalikan emosi Daze.

Omma berpaling kembali kearah appa dan Dave. Dia mengangguk perlahan.

“Yaa—Cuma untuk hari ini saja .. ,” desah wanita itu pelan.


------ ><><>< ------



Daze duduk di ruang tengah dengan ditemani omma. Sepuluh menit berlalu, mereka duduk dalam posisi semula tanpa bersuara. Pandangannya tertuju ke monitor tv yang menampilkan acara dokumenter. Pikiran mereka melayang. Acara tersebut sama sekali bukan focus utama perhatian mereka.

“Dazya .. ,” omma memulai pembicaraan itu.

Daze menoleh lambat-lambat. “Dhe?”

“Kami akan kembali ke Seoul besok .. “

Daze memandangi omma dengan pandangan bertanya.

“Omma dan appa .. ,” omma menjelaskan. “Sedangkan Dave sendiri, akan tetap tinggal di sini. Selain melanjutkan kuliahnya yang belum selesai, juga untuk menjaga Nat. Katanya dia tidak terbiasa dengan kehidupan di Korea .. “

Daze mengangguk.

Omma berhenti sejenak. “Apa kau ikut dengan kami?” tanyanya mendadak.

“MWO?” mata Daze terbelalak kaget.

“Ikut dengan kami pulang ke Seoul?”

Daze tidak menjawab. Kepalanya tertunduk perlahan.

“Tugasmu di sini sudah selesai, Dazya. Halmonie sudah pergi dengan tenang. Sudah saatnya kau kembali ….”

“Tapi .. ,” Daze mengantung kata-katanya.

“Masih tidak merelakannya?” tanya omma tajam.

“What?” gadis itu segera mengangkat wajahnya.

“Pemuda itu!” tekan omma. “Apa yang kau harapkan darinya? Empat hari sudah sejak pemakaman halmonie, dan dia belum menampakkan dirinya di sini .. “

“Saya .. ,” Daze berusaha mengelak. “Bukan begitu!” sahutnya sambil membuang muka kearah lain. “Hanya .. untuk apa saya kembali? Apa yang bisa kulakukan di sana setelah apa yang terjadi pada .. Han Da’ ZeVe?”

Omma sangat terkejut. “Han Da’ ZeVe?” matanya terbelalak lebar. “Kau telah mengetahui kebangkrutan perusahaan kita?”

Daze mengangguk sambil mengigit bibirnya. “Ne .. “

“Dari mana? .. Dari mana kau mengetahuinya?”

“Carls yang memberitahuku .. ,” jawab Daze. “Beberapa waktu yang lalu, .. ketika dia meneleponku .. “

Omma mendesah. Tubuhnya jadi lemas. “Miane, Dazya .. “

“Tidak!” seru Daze cepat. “Seharusnya aku yang minta maaf! .. Aku tidak berada di samping kalian ketika keadaan sedang krisis .. Aku .. aku tak berguna .. “ Daze memukul kepala saking stressnya.

Omma segera menarik tangannya kembali. “Omma tidak mengijinkanmu berkata seperti itu!” kata omma tegas. “Han Da’ ZeVe memang sudah di ujung tanduk sebelum kepergianmu ke sini .. Kau tak perlu terlalu menyalahkan dirimu sendiri, Dazya .. “

Daze menghembuskan nafas keras-keras. Tubuhnya dihempaskan ke sandaran sofa di belakang.

“Apapun .. tidak ada yang lancar .. ,” desahnya lirih.

“Karna itu ikut omma dan appa pulang ke Seoul .. ,” lanjut omma. “Sudah tidak ada lagi yang bisa kau lakukan di sini .. Bantulah appa mengurus perhitungan ganti rugi yang harus dibayarkan Han Da’ ZeVe buat para karyawan dan semua rekan kerja .. Soal Dave, kau tidak perlu khawatir. Dia bisa menjaga diri sendiri .. “

Daze menatap omma tanpa mampu menjawab. Perlahan dia mengigit bibir lagi.

“Benar-kan, tidak merelakannya?” tanya omma sedikit menyelidik.

Daze menghela nafas panjang-panjang sambil menundukkan wajahnya.

“Baiklah .. ,” omma ikut menghela nafasnya. Terdengar sangat berat. “Omma tidak akan memaksamu lagi. Terserah keputusan apa yang akan kau ambil .. “

Daze mengangkat wajah tak percaya.

“Omma akan mendukungmu .. ,” lanjut omma sambil menyentuh lengan Daze. “Walaupun omma tetap tidak setuju dengan pemuda itu, tapi .. ,” suaranya memelan dan berubah lembut. “Kau sudah dewasa, Dazya. Omma yakin apapun keputusanmu sudah dipikirkan dengan masak-masak … Omma hanya berharap .. ,” raut wanita itu menjadi sendu, “ .. kau tidak menyesal buat apa yang kau ambil .. “

Daze melingkarkan tangannya—memeluk omma. “Gumawo, omma .. “ dia tersenyum. “Apapun keputusanku, aku berjanji, tidak akan mengecewakan omma. Dan juga tidak akan mempermalukan nama keluarga besar Han .. “

Omma balas memeluk Daze erat-erat. “Anak bodoh .. ,” dia mencelos dengan suara serak.

Beliau berusaha tersenyum walaupun dengan hati yang sedikit teriris. Membiarkan Daze terjerumus dalam hubungan dengan pemuda itu, sama saja dengan mendorongnya ke lubang derita. Apa yang bisa dijamin dari pemuda itu? Harta tidak ada! Kasih sayang? Juga tidak ada. Daze merana selama beberapa hari terakhir, dan apa yang dilakukannya? Menghilang begitu saja! Kuliah? Sama saja tidak benar! Apa yang dia bisa?!!

Omma ingin teriak, tapi apa yang dicintai Daze benar-benar membuatnya tak berkutik. Dia tidak ingin mengalami kejadian seperti seminggu yang lalu. Daze hampir celaka dalam hutan salju gara-gara tindakannya yang terlalu keras. Dia tidak ingin peristiwa itu terulang lagi, sungguh. Biarlah putrinya sendiri yang menentukan jalan hidupnya. Biar dia yang menemukan kekurangan-kekurangan pemuda itu. Biar dia menyadari bahwa pemuda itu tidak pantas baginya!


------ ><><>< ------



Keesokkan harinya, omma dan appa meninggalkan Perth dengan diantar Daze dan Dave. Cuaca hari itu cukup cerah, sangat berlainan dengan hari-hari sebelumnya yang kebanyakkan mendung. Dan hati Daze juga mulai ceria lagi, seperti keadaan cuaca hari itu. Dia berjanji dalam hati, mulai hari ini, yang akan diingatnya dari halmonie hanya kenangan-kenangan manisnya yang menyenangkan dan membahagiakan. Untuk kenangan-kenangan menyedihkan lainnya akan dihapusnya sesegera mungkin.

Daze merangkul pundak Dave ketika keluar dari bandara Perth.

“Gimana, dongseng-a?”

“Mwo?” tanya si dongseng tak mengerti.

“Bagaimana perasaanmu hari ini?” tanya Daze sambil tersenyum.

Dave menatap noonanya. “Noona kelihatan bahagia hari ini?” dia balas bertanya.

Daze menekuk wajah perlahan. “Bukan bahagia .. ,” dia mengeleng sebagai bantahan dari pertanyaan Dave. “Hanya mencoba bahagia kembali!” lanjutnya pelan. “ … dan ini sangat lain dengan kata ‘bahagia’ seperti yang kau maksudkan .. ,” pandangannya kemudian dilayangkan ke langit biru. “Saya yakin halmonie juga mengharapkan itu .. Beliau akan selalu memberkati kita dari atas sana .. “

Dave ikut menengadah ke atas, perlahan ditepuknya pundak Daze. “Tentu saja. Yang paling diinginkan halmonie adalah kebahagiaan kita .. ,” ujar pemuda itu penuh keyakinan.


------ ><><>< ------



Rathyan meloncat melewati pagar rendah yang mengelilingi balkon belakang Han’s mansion. Pukk, kakinya mendarat di lantai dari bata itu dengan bunyi keras, bertepatan dengan kemunculan Daze dari dalam rumah. Mata gadis itu membelalak tak percaya. Tangannya yang memegang pot bunga kecil bergetar hebat hampir menjatuhkannya ke lantai. Dua minggu sudah dia tidak bertemu Rathyan sejak kepergiannya di kala berakhirnya acara pemakaman halmonie.

“Kau .. “

Daze tak mampu melanjutkan kata-katanya. Entah perasaan apa yang berkecamuk dalam hatinya sekarang! Antara rindu dan murka? Ya, dia sangat murka saat ini. Mengapa pemuda ini selalu seenaknya saja?

“O anyong, Dazya .. ,” sapa Rathyan seperti biasa. Seakan tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka.

Tampang Daze mengeras. Tangannya yang memegang pot mencengkram erat. Mendadak dia berlari kearah Rathyan dan mendorongnya keras-keras.

“BUAT APA KAU KEMBALI KE SINI?!”

“Dazya .. ,” mulut Rathyan mengangga. Tak menyangka sambutan ini yang akan diperolehnya.

“SAYA TIDAK MEMBUTUHKANMU, PEMUDA LAKNAT! LENYAPLAH DARI HADAPANKU!” teriak Daze histeris. “SAYA BENCI KAMU!! .. SANGAT BENCI .. ,” dia menanggis tersedu-sedu.

Sesaat Daze menyesal dan mulai mengutuk dirinya sendiri. Mengapa dia menanggis? Jika benar tidak mengharapkannya, mengapa harus menanggis? Mengapa menunjukkan padanya kalau dia peduli? Jika memang membencinya, kenapa menjadi lemah di hadapannya?

“Miane .. “

Daze merasakan sepasang tangan kekar itu menariknya ke dalam pelukan. Lutut Daze jadi lemah. Seluruh tubuhnya lemas seketika. Pot bunga di tangannya jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping. Biji mawar yang sudah mulai tumbuh beberapa cm tergeletak menyedihkan di antara gumpalan-gumpalan tanah yang berserakan ke mana-mana. Daze memejamkan matanya. Sumpah, hal ini sudah sering terjadi pada dirinya. Setiap berhadapan dengan Rathyan, dia tak berkutik. Tak mampu marah terlalu lama. Dan ini pertama kalinya dirasakannya dari seorang pria. Jangan bertanya mengapa, karna dia juga tidak tahu alasannya. Mungkin titik lemahnya memang pemuda ini. Perlahan Daze mengerakkan tangannya, meremas lengan Rathyan.

“Miane .. ,” Rathyan menenggelamkan wajahnya di leher Daze. “Saya tidak bermaksud menyakitimu .. tapi .. saya tidak bisa berbuat apa-apa, kau tahu itu .. ,” dia melepaskan pelukannya perlahan dan menatap Daze. “ …. Saya tidak ingin terjadi pertengkaran-pertengkaran tidak perlu lagi .. so .. “

“Jadi kau meninggalkanku begitu saja? Tanpa pesan?” sela Daze.

“Miane .. ,” ucap Rathyan. “Saya tidak bisa berbuat lain. Saya yakin kau juga tidak ingin melihat perselisihan yang berlarut-larut dengan keluargamu .. “

Daze mendesah. Ya, dia tidak ingin melihat pertengkaran-pertengkaran yang dimaksud Rathyan. Tapi, walaupun begitu pemecahannya tidak perlu dengan cara itu, kan? Pergi tanpa kabar? Apa sebenarnya yang ada di otak anak ini?

Tiba-tiba Rathyan merangkulnya lagi. “Bogoshipoyo .. ,” katanya lembut—menerbangkan Daze ke awang-awang.

“Ne .. saya juga .. “ Daze tak percaya dia bakal menyahut seperti itu. Sedikit gugup diliriknya pemuda itu lewat sudut matanya. Dia melihat Rathyan tersenyum.

“A .. apa yang kau lakukan selama ini?” sambung Daze, berusaha mengalihkan perhatian kearah lain.

“Mengamatimu .. ,” tanpa berpikir, Rathyan menjawab.

“Mengamatiku?” mata Daze melebar. “Maksudmu?”

“Aku berada tidak jauh-jauh dari sini .. ,” Rathyan kembali melepaskan pelukannya dari tubuh Daze. “Apa yang kau lakukan selama dua minggu ini, kuketahui semua .. ,” dengan lembut dicoleknya dagu Daze.

“Jinja?” tanya Daze tak percaya. “Bagaimana bisa?”

Telunjuk Rathyan menunjuk kearah hutan di belakang Han’s mansion. “Di sana terdapat sebuah gubuk kecil. Aku tinggal di situ selama dua minggu terakhir .. “

“Mwo?” Daze sangat terkejut. “Apa tidak dingin?”

“Sudah membeku .. ,” Rathyan tertawa.

Daze menatapnya tersentuh. Perlahan-lahan airmatanya menitik turun. “Mengapa mesti begitu?”

“Sudah kubilang untuk menungguku, kan?” suara Rathyan melembut. “Aku sudah kembali, Dazya .. “

Rathyan merapatkan tubuhnya ke tubuh Daze. Gadis itu mendesah. Tubuhnya terasa hangat begitu tangan itu menyentuh sepasang pipinya. Jarak mereka lambat-lambat semakin dekat. Daze merasakan uap halus yang tersembur dari hidung Rathyan. Dia juga bisa mencium bau cemara menyengat yang sangat dirindukannya. Tanpa disuruh, matanya terpejam. Nafas hangat itu semakin mendekatinya. Dan akhirnya bisa dirasakannya bibir padat dan sedikit dingin itu menyesap bibirnya.

Tubuh Daze menegang. Lagi-lagi perasaan melayang begitu disentuh pemuda ini dirasakannya. Mulutnya terbuka dan mulai membalas lumatan-lumatan maut dari Rathyan. Berulangkali dia mendesah dan mengerang ketika lidah hangat dan kasar itu bermain liar dalam rongga mulutnya.

“Rath .. “

“Hmm--,” sahut pemuda itu sambil terus melumat, menghisap dan menyesap bibirnya.

Daze membalas dengan tidak kalah dasyatnya. Tangannya meremas lengan kokoh pemuda itu, kemudian berpindah ke bagian dada, bergerak naik turun menekan dan menyapu berulangkali. Sampai di bagian kepala. Ditariknya dengan gemas rambut lebat Rathyan. Pemuda itu memekik tertahan. Dia berhenti dan kepalanya agak didorong ke belakang. Ditatapnya Daze tajam-tajam. Kulit wajah yang putih dan mulus itu langsung bersemu merah akibat menahan malu buat keagresifannya.

“Miane .. ,” kata Daze gugup sambil mengigit bibirnya keras-keras.

Pemuda itu tak bergeming. Tampangnya terlihat menakutkan dan sangar.

“Miane .. ,” ucap Daze lagi.

Tapi tampang seram itu tetap tak berubah.

“A .. apa yang harus kulakukan .. buat .. buat menebus kesalahanku tadi?” lanjut gadis itu memelas.

Rathyan masih menatapnya tak berkedip.

“Rath-a .. ,” Daze menjadi putus-asa. Disentuhnya lengan pemuda itu. “Jangan marah, .. kumohon .. “

Pipi Rathyan mengembung perlahan-lahan, dan tiba-tiba suara ketawanya meledak dengan keras.

“Yaa—kenapa?” Daze mengerakkan tangannya. “Apa yang lucu?” tanyanya kebingungan.

“Tampangmu .. ,” sahut Rathyan sambil menghapus airmata yang keluar saking gelinya. Tiba-tiba ditariknya tubuh Daze kearahnya. “Apa kau tahu?” tanyanya dengan mata berbinar-binar. “Kau selalu membuatku gemas .. “

Sekali gerak, dilahapnya bibir mungil yang mengangga lebar itu. Daze tersentak. Tidak menyangka Rathyan tiba-tiba akan melumat bibirnya lagi. Kali ini lebih parah. Bibirnya terasa perih ketika pemuda itu mengigit dan menyedotnya keras-keras, meninggalkan bekas-bekas membiru di bibirnya yang berwarna merah muda.

“Rath, yaa—hentikan! Sakit!!”

Protes-protesnya percuma saja. Rathyan bergerak semakin liar. Tidak hanya bibirnya yang menjadi sasaran sekarang, tapi juga leher, dan menurun ke dadanya. Beruntung baju yang dikenakannya cukup tebal dan tertutup sehingga Rathyan tidak bisa bergerak lebih jauh lagi.

Sepuluh menit berlalu, Rathyan menghentikan kegilaannya dengan nafas terengah-engah. Daze berdiri bengong dengan nafas memburu. Kedua manusia yang sedang dimabuk kasmaran itu saling menatap dengan bibir dan tubuh penuh bercak-bercak biru dan merah. Rathyan tertawa, kemudian meraup Daze ke dalam dekapannya.

“Saya senang bisa kembali .. ,” bisiknya halus. “Terutama bertemu kembali denganmu .. “

Daze mengangguk pelan. “Jangan pergi lagi. Jeobal .. “

“Tidak akan .. ,” sahut Rathyan.

Perlahan dilepaskannya pelukannya. Sesaat ditatapnya gadis itu dan dicubitnya pelan bagian dagunya. Lalu pandangannya terarah ke lantai yang kotor oleh gumpalan-gumpalan tanah dari pot bunga yang tadi dijatuhkan Daze. Dia berjongkok, lalu mengambil tanaman pendek yang masih menempel dalam salah satu gumpalan tanah.

“Apa ini?”

“Mawar jenis langka yang kau berikan dulu .. ,” jawab Daze sambil ikut berjongkok di sebelah Rathyan. “Udara terlalu dingin sehingga pertumbuhannya agak terhambat .. “

Rathyan menoleh kearahnya. “Kau benar-benar menanamnya?” tanyanya tak percaya.

“Tentu saja .. ,” sahut Daze sambil mengambil-alih tanaman mawar yang baru tumbuh itu. “Bukankah itu yang kau inginkan ketika memberikannya padaku?”

“Tidak!” jawab Rathyan jujur.

“Mwo?”

“Aku memberikannya hanya untuk menghiburmu .. ,” lanjut Rathyan. “Tak pernah terpikirkan olehku, kau benar-benar melakukannya .. “

“Mwo?” sekarang gantian Daze yang tak percaya. Mana perkataan pemuda ini yang dapat dipercaya? Dia semakin ragu sekarang.

Rathyan tersenyum. “Paling tidak kau melakukannya .. ,” lanjutnya pelan, tanpa dapat dimengerti oleh Daze. Kemudian dia berdiri dari lantai. “Sebaiknya kita cari rumah yang tepat buatnya sebelum mati .. “

Dengan tenang dia berjalan ke dalam rumah, meninggalkan Daze yang hanya bisa kebingungan di tempatnya.



~~~~~ ^^^^^^~~~~~

_________________


♥️ "Everywhere ★ we learn ★ only from ★ those whom ★ we love" ♥️
avatar
DragonFlower

Posts : 94
Join date : 2013-06-17
Location : | Trapped in CNBLUE Dorm |

View user profile

Back to top Go down

Re: from Seoul to ... Perth-- by Lovelyn

Post by DragonFlower on Wed Jun 26, 2013 3:56 pm




from Seoul to ... Perth--
Chapter Twelve

By : Lovelyn Ian Wong



Boleh bicara sebentar?”

Dave menghentikan langkah Rathyan ketika berpapasan dengannya di depan pintu kamarnya.

Alis Rathyan berkenyit. “Ada apa?” tanyanya sambil menoleh kearah sahabatnya itu. “Ada yang penting? Saya harus ke seminar sebentar lagi?” lanjutnya sambil melirik jam tangannya.

“Sebentar saja .. ,” jawab Dave pelan.

Rathyan berpikir sebentar. “Ok .. ,” akhirnya dia mengangguk. “but, just fifteen minutes!”

“It’s enough .. “

“Ok,” Rathyan mengangguk lagi. “Apa, .. di sini?” lanjutnya ragu-ragu.

“No .. “ Dave sedikit merapat ke daun pintu sambil mengerakkan tangannya—memberi isyarat pada Rathyan untuk masuk ke dalam kamarnya. “Di kamarku saja .. “

Rathyan menatap Dave sebentar, kemudian—perlahan-lahan dia memutar tubuh memasuki kamar itu. Dave mundur beberapa langkah ke belakang sambil menutup pintu kamar tersebut. Dia tidak ingin pembicaraan mereka terdengar siapapun—terutama oleh noonanya.



***** o@o *****



Daze bangun agak terlambat pagi itu. Begitu dia membuka matanya, sudah pukul sepuluh lewat dua puluh lima menit. Daze tersenyum sambil mengelinjang-gelinjang dalam selimut yang membalut tubuhnya. Sudah lama rasanya dia tidak tidur sepulas tadi malam. Setelah kematian halmonie, hari-harinya memang terasa hambar dan mati. Ditambah semua beban yang diberikan omma dan appa berkaitan dengan hubungannya dengan Rathyan membuatnya tak bisa bernafas. Tapi setelah kemunculan Rathyan kemarin—disertai janjinya (tak akan meninggalkannya lagi)—dia bisa tidur dengan lelap.

Janji itu membawa keteduhan dan ketenangan bagi Daze. Dia merasa aman—seperti semua kepedihan dan bencana yang dialaminya selama ini tidak pernah terjadi.

Daze berbalik dengan posisi melintang. Dia menguap perlahan. Entah mengapa dia malas turun ranjang pagi ini. Biar Ye Jin yang membangunkanku nanti! Berpikir demikian, Daze memejamkan mata kembali.



***** o@o *****



”Apa yang ingin kau bicarakan?” Rathyan menghempaskan diri di kursi yang menyandar di meja belajar.

“Apa kau yakin dengan perasaanmu?” Dave ikut menjatuhkan diri—tidak di kursi, namun di atas ranjang.

“Mwo?” tanya Rathyan tak mengerti.

“Hubunganmu dengan noona .. ,” sahut Dave, langsung ke pokok masalah. “Apa kau mencintainya?”

Rathyan tidak menjawab. Lima menit ke depan ruangan itu menjadi sunyi dan mati.

“Apa kau mencintainya, Rathyan Jang?” Dave mengulang pertanyaannya.

Rathyan membuka mulut, “Saya serius dengannya .. ,” akhirnya dia bersuara—menjawab dengan nada datar dan terkendali.

“Saya bertanya padamu, apa kau mencintainya?” seperti tak menerima jawaban Rathyan, Dave menekankan pertanyaannya lagi.

Rathyan menghela nafasnya. “Jangan memaksaku, Dave .. “

“Mengapa? Apa pertanyaan itu sulit dijawab?” Dave memandang Rathyan tajam-tajam.

“Kau memahamiku, Dave Han .. ,” desah Rathyan.

Dave mengeleng tegas. “No, I don’t understand you, Rath. You like a wind—too mysterious and can’t catched. You go and come as you wanted. Who are you, I don’t know. I really don’t know! And I’m sure, also my sister .. ”

Rathyan berdiri dari kursinya. “Aku tak bisa mengungkapkan kata-kata itu, kau tahu itu .. ,” suaranya berubah keras. “Sudah kubilang, jangan memaksaku.”

Dia bermaksud keluar dari kamar tapi segera ditahan oleh Dave.

“Saya belum selesai!”

Rathyan mengibaskan tangan Dave yang menempel di dadanya dengan berang.

“Menyingkir dari hadapanku sebelum kuremukkan pergelangan tanganmu!” ancamnya dengan mengebu-gebu.

Dave ragu-ragu sebentar sebelum akhirnya menyingkir perlahan.

“Kau tak boleh mempermainkan noona, Rath! Hatinya tak akan sanggup menerima patah hati untuk yang kedua kalinya!!” serunya pada Rathyan yang sudah berada di luar kamar.

“Sudah kubilang, aku serius!” Rathyan menoleh padanya. “Sangat serius!” tekannya bersungguh-sungguh. “Dan kuperingatkan, jangan melakukan sesuatu untuk memisahkan kami! Aku tidak akan memaafkanmu untuk itu!”

Dave mengangkat dagunya. “Bagus jika kau menyadari perasaan sendiri .. ,” katanya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.



***** o@o *****



Tok .. tok .. tok .. , Daze mendengar suara pintu diketuk.

“Masuk!” perintahnya dengan malas. Perlahan dia menyibakkan selimut dari tubuhnya.

Pintu kamar terbuka dan Ye Jin masuk ke dalam dengan sebuah nampan berisi sarapan di tangannya.

“Saatnya bangun, agashi …”

Dia meletakkan nampan tersebut di meja kecil dekat ranjang.

“Agashi sangat terlambat pagi ini .. ,” lanjutnya dengan nada sopan.

Daze tersenyum. “Jam berapa sekarang, Ye Jin-a?” tanyanya sambil menguap kecil.

“Hampir jam setengah dua belas, agashi .. “

“Hmm--,” Daze kembali memeluk gulingnya. “Tidur saya nyenyak sekali, Ye Jin-a … ,” ujarnya sambil tersenyum lembut. Matanya kembali terpejam. “Bahkan saya tidak bermimpi—tentang halmonie sekalipun … “

Ye Jin ikut tersenyum. “Bagus kalau begitu … ,” kemudian dia berjalan ke jendela dan membuka gordennya. “Itu berarti agashi sudah bisa melupakan semuanya .. “

Daze mengangguk. “Ne. Perasaanku jauh lebih baik sekarang.” Dia mengambil garpu, lalu mulai menusuk sosis yang tersedia dalam piring. Begitu memulai gigitan pertama, sesuatu teringat olehnya. “O ya—Ye Jin-a, apa kau melihat Rath?” tanyanya sambil mengunyah sosis.

Ye Jin menoleh, “Saya melihatnya tadi—ketika menaiki tangga. Dia keluar dari kamar doronim. Kelihatannya lagi marah. Saya mendengarnya berteriak-teriak pada doronim tapi tidak begitu menangkap pembicaraan mereka. Apa agashi mencarinya buat keperluan penting?”

“O tidak!” Daze segera mengelengkan kepalanya.

Percuma dia menjelaskan apa yang diinginkan dan dirasakannya pada Ye Jin. Wanita itu tidak akan mengerti. Mungkin tak seorangpun di dunia ini yang akan mengerti hubungannya dengan Rathyan! Termasuk dirinya sendiri!



***** o@o *****



Daze sedang menikmati siaran televisi yang menampilkan acara fashion di ruang tengah ketika sebuah tangan tiba-tiba melingkar di lehernya. Terkejut, Daze langsung berpaling ke belakang.

“Rath!!” serunya antara kaget bercampur riang.

“Bagaimana kabarmu?” Rathyan menempelkan telunjuknya di cuping hidung Daze.

“Baik … ,” gadis itu tersenyum malu-malu. “Dan bagaimana denganmu? Kenapa menghilang begitu saja?”

“Hmm--,” Rathyan berpikir sebentar. “Saya ada seminar penting kemarin …. “

“Sepenting itu sampai tidak pulang ke rumah?” tanya Daze menyelidik.

“Weeyo?” Rathyan tersenyum tipis. “Merindukanku?”

“Yaa—“

Daze memukulkan tangannya yang terkepal ke dada Rathyan—posisinya agak menyamping ke belakang. Pemuda itu segera menangkap kemudian menarik tangannya kearahnya. Wajah mereka hampir bersentuhan sekarang. Mulut Daze terbuka dan pandangannya meredup terpusat ke bibir Rathyan. Desah nafasnya terdengar begitu jelas. Pemuda itu bergerak perlahan. Tangan kanannya yang masih memegang tangan Daze ditempelkan ke dadanya sendiri sedangkan tangan kirinya yang melingkari leher gadis itu naik ke atas dagu dan menahannya dengan posisi menghadap kearahnya.

Bunyi tarikan nafas berat semakin terdengar. Rathyan membuka mulutnya, kemudian perlahan-lahan dikulumnya bibir merah menantang di hadapannya. Daze tersentak sedikit—tubuhnya menegang, kemudian dia mendesah. Rathyan mulai melumat bibirnya. Semula pelan, lama-kelamaan bergerak semakin liar—melumatnya sampai habis. Bibirnya secara keseluruhan tenggelam dalam bibir penuh Rathyan.

Daze membalas ciuman-ciuman bernafsu dari pemuda di depannya. Sekuat tenaga dia berusaha mengimbangi permainan tersebut. Nafasnya tersengal-sengal di antara ciuman-ciuman dasyat yang dilancarkan Rathyan.

“Rath .. Rath .. ,” panggil Daze di sela-sela nafasnya yang memburu.

“Hmm—“

Rathyan tidak melepaskan ciumannya. Perlahan-lahan jilatannya beralih ke bagian leher. Tanpa sadar Daze mengangkat kepalanya—memberi keleluasaan pada Rathyan untuk bermain di lehernya.

“Rath … sudah .. cukup .. ,” Daze memohon-mohon di antara pernafasannya yang tak teratur.

Rathyan menarik kepalanya. “Weeyo?” tanyanya dengan pandangan sayu.

“Tidak nahan .. ,” jawab Daze berupa desahan.

Bibir Rathyan tertarik ke atas—membentuk senyum yang dikulum. Dielusnya dengan lembut wajah Daze, kemudian sekali loncat dia sudah melewati sofa yang menghalangi posisinya dengan Daze. Dia duduk tepat di sebelah gadis itu.

“Apa yang kau lihat?” tanya Rathyan sambil mengamati layar televisi.

“Acara fashion—catwalk … ,” jawab Daze. “Apa kau suka?”

Rathyan mengangkat bahunya. “Mungkin kelak aku akan terlibat di dalamnya, tapi .. I don’t like it .. “

“Terlibat di dalamnya?” Daze mengulangi kata-kata itu keheranan. “Maksudmu, kau mengambil jurusan itu? Bukannya kau sama dengan Dave—sama-sama mengambil jurusan ekonomi?”

Rathyan mengerakkan tangan ke depan. “Maksudku .. art, .. ,” dia tersenyum kaku. “Aku suka art, kau lupa?”

Daze menatapnya beberapa saat—berusaha menyelidiki atau menyelami apa yang sebenarnya dipikirkan pemuda itu. Tapi yang didapatnya malah kecupan hangat dari Rathyan.

“Lupakan semuanya … ,” kata pemuda itu di dekat telinganya. “Untuk saat ini, mari kita nikmati kebersamaan ini. Tanpa memikirkan masalah lain, ok?” kembali kecupan lembut mendarat di bibirnya.

Daze mendesah kemudian mengangguk perlahan. “Ne .. “

Lalu mereka berciuman lagi. Kali ini lebih dasyat dari tadi. Bibir mereka saling melumat—bertaut keras dalam kehausan, seakan besok mendekati kiamat dan tidak ada kesempatan lagi buat mereka untuk bermesraan. Musik yang sedikit berdentam-dentam dari monitor televisi mengiringi tingkah-laku sepasang muda-mudi yang sedang kasmaran itu. Sepasang kupu-kupu yang melintas di dekat jendela segera menyembunyikan dirinya di balik tirai—takut ketahuan atau mungkin malu melihat pemandangan di hadapan mereka.



***** o@o *****



Daze sedang melintasi ruang tengah ketika acara siaran berita dari televisi yang menyala menyita perhatiannya. Perlahan-lahan dia memasuki ruangan itu. Si penyiar berita sedang melaporkan berita besar yang baru diterimanya.

”Salah satu pesawat milik Korean Airlines—penerbangan dari Seoul ke Las Vegas—mengalami guncangan di udara dan berakhir dengan menancap ke laut kuning, dua puluh menit setelah lepas landas dari bandara Incheon. Setengah dari penumpangnya berhasil diselamatkan. Tapi sebagian lagi, beserta pilot-pilot dan pramugari/pramugara yang bertugas saat itu tewas seketika dalam kecelakaan tragis itu.
Para penumpang dari pesawat naas tersebut kebanyakan berasal dari kalangan bisnis terkemuka yang mempunyai jaringan kerjasama yang sangat kuat dan besar di Las Vegas. Identitas beberapa penumpang yang tewas dalam kecelakaan tersebut sudah diketahui. Dua di antaranya adalah pemimpin sekaligus pemilik perusahaan tersebar di Seoul ‘Korean Capital’, Mr. and Mrs. Kim, kemudian … “

Daze menutup mulutnya. “Oh .. tidak … “ Kepalanya bergeleng-geleng tak mampu mempercayai apa yang didengarnya barusan. Tanpa terasa, airmata menetes dari pelupuknya dan jatuh ke lantai. Dia terisak perlahan.

Daze memutar tubuh, sambil menghambur keluar dari ruangan itu. Isakan halusnya berangsur-angsur mengeras. Dia menanggis terisak-isak sekarang. Bayangan Carlson yang sedih dan terpuruk—seorang diri di dunia ini karena kehilangan orangtua yang sangat disayangi dan dihormatinya secara mendadak untuk selama-lamanya terbayang di matanya. Hati Daze tersayat. Perasaan itu seperti waktu dia kehilangan halmonienya. Dia mampu merasakan apa yang akan dirasakan Carlson begitu mendengar berita itu. ”Aku harus menemaninya. Harus!” Daze menghapus airmatanya. Tapi tetesan yang lain mengalir keluar lagi.

Daze naik ke lantai atas dengan meloncati beberapa anak tangga sekaligus. Dia melewati Rathyan yang berpapasan dengannya begitu saja.

“Hey--”

Rathyan mengangkat tangan dan menyapanya tapi Daze sudah masuk ke dalam kamar. Pemuda itu berkenyit. Perlahan dia memutar tubuh dan mengintip ke dalam. Dilihatnya Daze menghempaskan koper ke atas ranjang kemudian melemparkan pakaian-pakaiannya ke dalam koper tersebut. Wajahnya memerah dan tanggisan yang samar-samar berhasil ditangkapnya tadi terdengar jelas sekarang.

Jadi dia tidak salah lihat kalau Daze memang sedang menanggis? Apa yang membuatnya sedih?

Seingat Rathyan, selama dua hari terakhir mereka habiskan dengan sangat menyenangkan. Selain bersenda-gurau dan bermesraan, tidak ada lagi yang mereka kerjakan. Bahkan bertengkarpun, mereka tidak! Dia tidak pergi tanpa kabar dan juga tidak kuliah. Dia memilih menemani Daze guna memperdalam hubungan mereka. Jadi .. apa lagi masalahnya sekarang?

“What’s going on?”

“Sa .. saya harus pergi .. ,” jawab Daze di sela-sela tanggisnya.

“What?” Rathyan melangkah lebar-lebar ke dalam kamar. “What are you talking about?” tanyanya tajam.

Daze berbalik menghadapinya. “I must go .. ,” katanya sambil menghapus airmatanya. “.. back to Seoul .. ,” setelah itu dia beralih kembali ke kesibukannya mengepak barang-barang.

“Seoul?!” Rathyan langsung menyambar tangan Daze dan menariknya keras-keras. “Are you crazy? Why should you do this?” teriaknya dengan sepasang mata terbelalak lebar. Dia sangat marah. Tampangnya terlihat sangar dan menyeramkan saat itu.

Daze mundur ke belakang. “Lepaskan saya .. “ dia mengerak-gerakkan tangannya yang digenggam Rathyan—berusaha melepaskan diri dari pemuda yang sedang murka besar itu. Namun tidak berhasil karena tekanan Rathyan begitu kuat. “Kau .. kau menyakitiku, Rath .. ,” desisnya memelas sambil meringgis kesakitan.

“Katakan apa yang terjadi?” Rathyan merenggangkan pegangannya tapi tidak melepaskannya.

“Orangtua Carlson mengalami kecelakaan .. ,” Daze mengigit bibir perlahan. Bayangan Carlson kembali bermain dalam pikirannya. Bayangan pemuda malang yang duduk menyendiri di sudut ruangan kosong dengan posisi tertunduk. Hanya airmata dan kepedihan yang menemaninya. Tidak ada yang lain. “Mereka tewas dalam kecelakaan itu. Paman dan bibi Kim .. ,” lanjutnya terputus-putus. Dia terisak lagi.

“Lalu?” tanya Rathyan dingin. Dia sama sekali tidak terpengaruh oleh cerita Daze.

Daze terperangah. Tidak mengira reaksi ini yang akan diterimanya dari pemuda yang begitu dipujanya ini. “Aku .. aku harus menemaninya .. ,” sekali hentak, Daze menarik tangannya kembali.

“Mengapa?” Rathyan bergerak sedikit dari posisinya.

“Mengapa?” ulang Daze dengan terkejut. “Tentu saja untuk menghiburnya!” ekspresinya berubah keras.

“Menghiburnya?” Rathyan tersenyum kecut. “Apa yang bisa kau lakukan?”

“Apapun!” seru Daze. “Apapun, .. daripada duduk-duduk saja di sini .. Dia membutuhkanku … “

Rathyan tertawa. Suaranya bergetar dan menyayat. “Membutuhkanmu .. “

Brakkk!!! Kepalan tangannya mendarat ke pintu lemari pakaian yang terbuka.

Daze terlonjak kaget. Ditatapnya sejenak wajah Rathyan yang datar dan tidak memperlihatkan reaksi apa-apa, kemudian beralih ke punggung tangannya yang memerah.

“Aku .. aku harus berkemas. Kau .. kau keluarlah .. ,” walaupun hatinya sakit melihat tangan yang memar itu tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa selain mengatakan ini. Dia harus tegas. Rathyan tidak akan apa-apa. Dia sudah terbiasa marah-marah tak karuan seperti ini. Yang lebih membutuhkannya adalah Carlson. Ya, Carlson yang sudah dikenalnya selama bertahun-tahun.

“Aku bertanya padamu, apa benar kau akan pergi?”

Rathyan berdiri di sebelahnya sekarang. Tangan pemuda itu menyambar pakaian yang dipegangnya kemudian melemparnya ke dalam koper. Selanjutnya dia membalik tubuhnya kearahnya.

“Jawab pertanyaanku!”

Daze menyingkirkan tangan Rathyan dari pundaknya dengan kasar. “YA!! YA!! Apa kau puas?!” teriaknya dengan mengebu-gebu.

Brakkk!!! Rathyan menendang ujung ranjang.

“Apa dia sepenting itu?!”

Tidak! Kau yang paling penting buatku!, Daze ingin berteriak namun dia tidak melakukannya. Perlahan dia memutar tubuh menghadapi pakaian-pakaiannya yang masih berantakan.

“Dia memerlukanku saat ini .. ,” Daze menghapus sisa-sisa airmatanya, kemudian melanjutkan kesibukkannya berkemas.

“Lalu bagaimana denganku?” tanya Rathyan pelan.

“Kau akan baik-baik saja tanpaku . .,” jawab Daze sambil memejamkan matanya.

“Kau yakin?” Rathyan menoleh dengan posisi membelakanginya.

“Ne .. ,” desah Daze. “Saya bisa merasakan perasaannya saat ini … seperti waktu halmonie meninggalkanku .. perasaan itu sangat menakutkan .. dingin dan mati … Kau tidak akan mengerti, Rath .. “

“Saya tidak mengerti?” Rathyan memutar badan dengan cepat. Suaranya mengeras. “Lalu, apa kau mengerti bagaimana perasaanku sekarang?”

“Kalau begitu .. ,” Daze menghentikan kesibukannya. Kaos yang sedang dipegangnya dilemparkan ke atas koper kemudian dia memutar tubuh dengan ekspresi tegas. Mereka saling berhadapan sekarang. Raut keduanya sama-sama keras. Tidak ada yang bermaksud menyerah. “Katakan padaku, bagaimana hubungan kita selama ini? Jelaskan padaku!”

Rathyan tidak menjawab. Matanya tak berkedip membalas pandangan Daze.

“Tidak bisa menjawabnya?” suara Daze bergetar. “Apa kau hanya menganggapku sebuah mainan, yang bila suka—kau sentuh dan cium, tapi bila tidak, kau tinggalkan begitu saja tanpa kabar?”

“Bukan begitu!” sela Rathyan.

“Jadi apa?” mata Daze menyala mengawasi gerak Rathyan.

“Kau mengenalku?”

“Mwo?” Daze tertawa hambar. “Tak ada yang kuketahui tentangmu, Mr. Jang!”

“Kau tahu aku tidak bisa mengatakan kata-kata itu?” ulang Rathyan tenang.

“Tidak! Aku tidak tahu!” Daze mengeleng keras-keras.

“Apa kata-kata itu penting untuk diucapkan? Kenapa tidak disimpan dalam hati saja?” lanjut Rathyan dengan mata bersinar redup.

“Karna aku seorang wanita .. ,” sahut Daze. Ditatapnya Rathyan dengan memelas. “Aku membutuhkan sebuah pengakuan .. sebuah kepastian … ,” wajahnya berubah sendu. “ .. tapi sepertinya, .. kau tidak bisa memberikannya padaku .. “

Dia mundur sambil berputar ke samping. Sisa-sisa baju di atas ranjang dimasukkannya secara sembarangan ke dalam koper—tanpa melipatnya lagi.

“Mengapa memaksaku terus?” Rathyan memejamkan matanya. “Mengapa tidak memberiku kesempatan—mengapa?”

Daze tidak mendengarkannya. Dihempaskannya penutup koper tersebut dengan keras. Setelah itu meletakkannya ke lantai, lalu menyeretnya ke pintu.

“Apa harta memang segala-galanya bagimu?!!!” teriak Rathyan dari tempatnya.

“MWO?” Daze menoleh. “Apa maksudmu?”

“Karna dia lebih kaya dariku?!” Rathyan tersenyum dingin dan .. kecut. “Dia memiliki semua yang kau inginkan—seperti yang dikatakan orangtuamu, begitu-kan, Daze Han?”

Daze mengatupkan gerahamnya—keras. Langkahnya terhenti di ambang pintu. Entah mengapa, untuk pertamakalinya dia merasakan perasaan benci terhadap pemuda ini. Pemuda yang semula begitu dipuja dan diharapkan bisa menjadi pegangan dan pendamping hidupnya—yang sangat memahami dan selalu berada di sampingnya baik suka maupun duka. Bahkan dia pernah berpikir akan berbahagianya jika hubungan ini sampai berakhir ke jenjang pernikahan.

“Terserah apa pikirmu!” balas Daze tak kalah dinginnya. “Yang jelas, aku harus pergi sekarang. Apapun masalah kita, bicarakan lagi lain kali .. “

“Jangan menyesal, Daze Han!!”

Rathyan melewati Daze. Brakk!! Sepatu bootsnya kembali mencium daun pintu dengan keras—membuat Daze tersentak kaget.

“Kau mau kemana?” tanpa sadar, Daze bertanya.

Rathyan tak menjawab. Juga tak menoleh ataupun berhenti sejengkalpun. Dia berjalan cepat menuruni anak tangga sampai menghilang dari pandangan Daze.

“YA, PERGI SANA! KAU PALING PINTAR MELARIKAN DIRI DARI MASALAH!! DASAR PABO!!”

Suara Daze perlahan-lahan melemah. “Paboya, apa susahnya mengatakan aku cinta padamu? Paling tidak, … aku suka padamu? Sumpah, jika kau mengatakan itu, walaupun aku tidak mungkin membatalkan penerbanganku kali ini, … tapi aku .. aku berjanji padamu .. aku sungguh-sungguh, aku akan .. akan menemanimu untuk selamanya. Sampai .. sampai usia kita senja … “

Daze menyandar ke dinding dan merosot ke lantai. Dia menanggis tersedu-sedu dengan sepasang tangan menutupi wajahnya dalam kamar yang sepi dan dingin itu.



***** o@o *****



”RATH, APA KAU TAHU NOONA SUDAH PULANG KE SEOUL KEMARIN?!”

Dave mengejar Rathyan yang melangkah lebar kearah pintu depan dengan ransel mengelembung tersampir di punggungnya.

“RATHYAN JANG!!”

Dave berhasil menyambar lengan Rathyan dan menghentikan langkahnya.

Rathyan segera mengibaskan tangan Dave. “Aku akan pergi dari sini!” katanya tegas.

“MWO?” Dave sangat terkejut. “Lalu .. bagaimana dengan noona? Apa yang terjadi dengan kalian?”

“Saya tidak tahu!” Rathyan meneruskan langkahnya. “Saya tidak mau tahu lagi!” Tidak terlihat oleh Dave, dua butir air bening menetes keluar dari pelupuk mata Rathyan.

“MWO?!” Dave berteriak. “Bukankah kemarin-kemarin kau mengatakan serius dengan hubungan kalian?”

“Tanya sendiri pada noonamu!!” sahut Rathyan tanpa menoleh.

“MWO—YAA, RATHYAN JANG!”

Tapi Rathyan tetap tidak berbalik. Dia berjalan cepat sampai sosoknya menghilang di antara barisan pohon-pohon cemara yang terselimut serpihan-serpihan salju.



***** o@o *****



Musik keras berdentam-dentum dalam bar yang gelap dan agak pengap itu. Bau rokok dan alkohol mendominasi ruangan, beterbangan kemana-mana. Rathyan menjatuhkan tubuh jangkungnya ke sebuah kursi di depan meja bar. Seorang bartender wanita yang berpakaian seksi segera mendekatinya.

“Hy—handsome, what do you want?” si bartender bule itu tersenyum manis.

Rathyan meliriknya sekilas. Agak malas dia menghempaskan ranselnya ke meja. “Beer, please .. “

“Ok, coming soon .. “

Wanita itu menyentuh tangan Rathyan. Dia tersenyum mengoda sebelum berlalu buat membikinkan pesanan pemuda bertampang dingin itu.

Rathyan tersenyum hambar sambil mengeluarkan ponselnya. Dia menekan beberapa angka sampai tersambung. Wajah tuan Park muncul di layar ponsel.

“Beer, dear .. “ Bartender tadi menyodorkan gelas sebesar tong ke hadapan Rathyan. “Need me to stay here?” tanyanya dengan nada bergairah. Sepasang tangannya bertumpu di atas meja sehingga leher bajunya yang berpotongan rendah turun semakin ke bawah—memperlihatkan sepasang buah dadanya yang montok dan mulus.

“NO!!” sahut Rathyan tajam. “Get away! Leave me alone!”

Tampang si bartender berubah masam. Untuk pertamakalinya dia ditolak mentah-mentah oleh seorang pelangan. Apalagi pelangan semuda dan semenarik pemuda di hadapannya.

“Doronim .. “

Panggilan dari ponsel mengalihkan perhatian Rathyan.

“Yes, tuan Park .. “ jawab Rathyan tanpa mengubris bartender berpostur tinggi dan seksi itu lagi.

Si wanita mencibir sambil mengangkat bahunya. Perlahan dia berlalu dari situ dan mengincar mangsa lain.

”Ada masalah penting, doronim?” tanya tuan Park. Asisten pribadi yang cara kerjanya sangat sempurna itu tak mampu menyembunyikan kepenasarannya. Tidak pernah tuan mudanya ini berinisiatif menghubunginya terlebih dahulu. Apa telah terjadi sesuatu?, hati tuan Park berdebar keras.

“Aku ada penawaran buat tuan Jang … ,” kata Rathyan setelah terdiam beberapa detik.

”O .. ,” tuan Park terlihat membuka mulutnya. ”Aku akan menyambungkannya ke pak presiden, doronim .. ,” kata tuan Park sambil bermaksud mengalihkan pembicaraan mereka kepada Oliver Jang—ayah Rathyan.

Tapi tuan mudanya itu segera menyela, “Tidak perlu! Cukup denganmu saja, tuan Park .. “

”Mwo? Tapi aku tidak punya kuasa untuk mengambil keputusan buat pak presiden, doromin .. “

“Tenang saja .. ,” Rathyan tersenyum pahit. “Aku yakin penawaran ini akan diterimanya dengan senang hati …. “

Tuan Park menganggukkan kepala perlahan. ”Baiklah, kalau begitu katakanlah, doronim .. “

“Kau tahu apa yang terjadi dengan ‘Korean Capital’?” Rathyan memulai diskusi itu. “Kau tahu perusahaan itu, kan?”

Tuan Park mengangguk. ”Ne. Perusahaan terbesar di Korea yang saat ini sedang mengalami krisis karna kematian pemimpinnyaya yang mendadak dalam kecelakaan pesawat beberapa hari yang lalu .. “

“Bagus jika kau sudah mengetahuinya .. “

”Namun, apa hubungannya dengan penawaran ini, doronim?” tanya tuan Park tak mengerti.

“Aku ingin Max-Global mengambil-alih semua saham yang dilepas oleh para investor Korean Capital .. ,” jawab Rathyan tegas.

”MWO?!” tuan Park berseru kaget. ”Tapi itu mustahil! Selama ini Max-Global jarang terlibat dalam perbisnisan Asia, apalagi Korea .. “

“Karna itu aku bilang, ini penawaran .. ,” sela Rathyan kesal. “Apapun caranya, mau itu dengan mendirikan anak perusahaan di Seoul atau melakukan pembaharuan besar-besaran, Aku tak peduli—yang penting, Korean Capital selamat dari kebangkrutan .. , araso?”

”Masalah ini sangat sulit, doronim .. ,” tuan Park mendesah. ”Aku tidak bisa mengambil keputusan sendiri. Masalah ini harus didiskusikan dahulu dengan pak presiden … Hanya beliau yang berhak mengambil keputusan sebesar itu .. dan tentu saja juga dengan persetujuan dari para pemilik saham lainnya .. “

Rathyan mengangguk. “Baik. Aku menunggu kabar darimu, tuan Park. Tapi jangan lama-lama. Korean Capital tidak bisa menunggu lebih lama lagi .. “

”Ne .. ,” jawab tuan Park. ”Jika saya boleh tahu, doronim .. mengapa anda begitu antusias menolong Korean Capital? Apa doronim mengenal penerusnya?” lanjut pria itu ragu-ragu. Dia sadar pertanyaannya sudah keluar batas. Sebagai seorang asisten teladan, tidak seharusnya dia menanyakan pertanyaan di luar kuasanya. Apa haknya mengetahui masalah pribadi majikan-majikannya?

“Itu tidak ada urusannya denganmu!” sahut Rathyan ketus.

Tuan Park segera membungkukkan badannya. ”Ne, agashimida doronim .. Sosoengheyo buat kelancanganku … “

“Hmm—sudahlah!” Rathyan mengibaskan tangannya sambil menghirup bir dari gelas besar yang diambilnya dari atas meja.

”Lalu … imbalannya, doromin?” tuan Park kembali ke pokok pembicaraan mereka.

“Seperti keinginannya dulu-dulu. Aku akan kembali ke New York hari ini juga. Melanjutkan dan menyelesaikan kuliahku di sana. Dan .. belajar menangani Max-Global .. “

”Jeongmal?!” mata tuan Park terbelalak lebar.

“Ne!” sahut Rathyan tegas.

”Pak presiden pasti sangat bahagia mendengarnya, doronim .. “ Pria itu tersenyum lebar. ”Aku akan menghubungi beliau secepat mungkin dan mengabari berita baik ini … Anda tunggu saja, aku akan segera menghubungi doronim lagi .. “

“Khamsamida, tuan Park .. “[/b]

Kemudian pembicaraan jarak jauh itu diputus. Rathyan kembali meneguk birnya—sampai habis.

“Hey—lady!!”

Dia mengangkat gelas yang sudah kosong itu ke atas. Si bartender menoleh dengan malas.

“Yes, I’m coming .. “

Dia menyambar gelas dari tangan Rathyan, mengisinya dengan bir sampai penuh kemudian memberikannya kembali pada pemuda itu.

“Thanks .. ,” ucap Rathyan datar.

Diteguknya bir tersebut tanpa berhenti, sampai tegukan terakhir. Perutnya terasa penuh begitu dia menghabiskan bir tersebut. Kembali dia mengangkat tangannya.

“Again!!”

Bartender itu mendengus kesal. Mengapa secepat itu si sok cakep ini menghabiskan bir sebanyak itu?

Wanita itu mengisi gelas itu lagi kemudian menyorongkannya pada Rathyan.

“Be careful you get drunk, kiddie!”

“Kiddie?” Rathyan tertawa.

Mengelikan rasanya panggilan ‘handsome’ dan ‘dear’ dari bartender ini berubah jadi ‘kiddie’. Bagitu mudah wanita ini merubah panggilannya begitu dicuekkan dan ditolak olehnya.

“I’m not kiddie!!”

“Ho ho, you’re, kid!” ejek bartender itu.

Rathyan menyambar gelas birnya kemudian meneguknya sampai habis.

“You wanna try it?” dia mendengus sambil meletakkan gelas yang sudah kosong itu ke atas meja.

Bartender menarik itu terdiam. Rathyan berdiri dari kursinya. Posturnya yang tinggi menjulang hampir menutupi tubuh bartender yang sudah termasuk tinggi itu—mungkin hampir 175 cm. Rathyan tersenyum mengejek dengan mata bersinar redup. Kelopak matanya hampir setengah jatuh menutupi bola matanya—yang justru membuat auranya semakin menyengat. Seperti menyemburkan gairah panas yang sulit dihindari oleh para kaum hawa.

“Are you sure?” tanya si bartender sambil mengigit sudut bibirnya. Ekspresinya begitu mengelora saat dia menelan ludah dengan cepat.

Rathyan mencodongkan badan ke depan. Wajahnya tinggal beberapa senti lagi menyentuh wajah bartender itu.

“You .. serious? You believe me?” bibir padatnya tertarik ke atas. “But what a pity is .. I’m not interested to you .. “

Perlahan Rathyan menarik diri ke belakang. Bartender tersebut langsung memukul meja.

“You’re loser!!” teriaknya keras.

Rathyan tertawa. “Yes! I’m .. ,” dia tertawa semakin keras. “I’m loser for everything .. “

Dia merogoh ke dalam kantong celana dan mengeluarkan dompetnya. Setelah membayar untuk birnya, dia berjalan agak sempoyongan menuju pintu keluar. Tapi hanya sebentar dia kembali lagi.

“I forgot my bag .. “

Si bartender mencibir sambil mendelik kearahnya.

“Bye .. “

Rathyan tertawa renyah sampai bartender wanita itu melotot padanya.

“See you .. No, I think I wont back to here—Perth. It’s really hurt. I don’t like this place .. “

Dia melambai sambil tersenyum kecut. Ransel di atas meja disampirkan ke pundaknya kemudian dia keluar dari bar kumuh itu.



***** o@o *****



Rathyan menghentikan sebuah taxi yang melintas di jalan raya. Setelah berada di dalam, dia menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi di belakang.

“Perth airport .. ,” katanya sambil memejamkan mata.

“Yes, sir .. “

Si pengemudi taxi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang di jalan raya.

Rathyan menghembuskan nafas panjang-panjang. Perlahan dia membuka mata kemudian melemparkan pandangan keluar jendela.

Kau lihat apa yang kulakukan? Setelah kau menyakitiku begitu dalam, aku masih menolongmu. Membantu perusahaan kekasihmu. Mengapa? Rathyan tersenyum kecut. Sepasang matanya mulai memerah.

Aku pernah berkata pada appa bahwa jika ada yang mengantikan kecintaanku pada seni, aku akan kembali padanya—melanjutkan perusahaan yang sudah dirintis haraboji. Sesuatu yang paling aku benci dan hindari sejak dulu! Apa masih kurang kecintaanku padamu? Mengapa kau masih mengharapkan kata-kata yang tak mampu kukeluarkan? Mengapa kau tidak melihat dan berusaha memahami kekurangan-kekuranganku? Apa kekayaan memang sangat penting bagimu? Pemuda itu lebih dari segala-galanya dariku? Tapi, aku ingin berteriak padamu, Dazy-a, kalau soal kekayaan aku melebihinya!! Aku ingin berteriak padamu, sungguh! Tapi tidak, aku tidak boleh melakukannya. Aku tidak mau kau mencintaiku hanya karena kekayaan itu. Semua materi yang sangat kubenci itu. Mengapa kau tidak memahamiku? Memberiku kesempatan untuk berubah? Mengapa?

Rathyan menundukkan wajahnya. Telapak tangannya terasa basah ketika untuk kedua kalinya dia menitikkan airmata buat Daze—buat seorang wanita. Bahkan waktu kematian noona dan ommanya, dia tidak meneteskan airmata setitikpun. Walaupun hatinya sangat sakit dan merana, tetap saja dia tidak mengeluarkan airmata itu. Tapi mengapa, hanya buat seorang Daze Han, dia berubah seperti ini? Kemana sifat tak pedulinya? Kemana hilangnya Rathyan yang dingin dan cinta kebebasan? Mengapa dia mesti terkurung dalam derita ini? Sekali lagi dia bertanya, mengapa?

“We arrive at Perth airport, sir .. “

Suara supir taxi menyadarkan Rathyan. Dia tersentak dan segera menghapus airmatanya. Dia mengeluarkan beberapa lembar dollar dan menyerahkannya pada supir itu.

“Thanks .. ,” agak terseret dia keluar dari taxi.

“Heyy—sir, your change!!” teriak si supir sambil menjulurkan leher lewat jendela mobil yang sudah dibukanya.

Rathyan tersenyum. “Just kept it!” balasnya berteriak. “I don’t need the money .. I hate it—I hate everything in the world!! It’s bullshit, lie and hard to understand!!!!”



*****THE END*****Chapter Twelve


_________________


♥️ "Everywhere ★ we learn ★ only from ★ those whom ★ we love" ♥️
avatar
DragonFlower

Posts : 94
Join date : 2013-06-17
Location : | Trapped in CNBLUE Dorm |

View user profile

Back to top Go down

Re: from Seoul to ... Perth-- by Lovelyn

Post by DragonFlower on Wed Jun 26, 2013 4:07 pm




from Seoul to ... Perth II--
Chapter Thirteen

By : Lovelyn Ian Wong



Song of the day :
"A.I.N.Y. 愛你 LOVE YOU" by G.E.M.

Lyrics :
words : I have been dreaming—dreaming about a woman's heart, has been stolen …

every night after we break up, it's extraordinarily silent
tic-tac tic-tac, only the clock accompanying my memory
there was the most tender voice in the phone
now only air is reponding coldly

Oh, I give you all my heart, can you please not abandon it?
saying love you, love you, love you, love you, can we never apart again?
OH I give you all my heart, why you give me loneliness?
Even love you love, you love, you love you, .. maybe you don't want to hear

Even love you love you love you love you, maybe you don't want to hear
Now it was replaced by someone who sleep in your chest
your promise is an unintentional sweetness
now becomes the thron in my heart

Oh, I give you all my heart, can you please not abandon it
(I gave you everything, Never Asked for anything)
saying love you love you love you love you, can we never apart again
(I wish that you could stay, Ha! It's just my wishful thinking)
OH I give you all my heart, why you give me loneliness
(I gave you everything, But all I got is pain)
Even love you love you love you love you, maybe you don't even want to hear, you don't want to hear
(Although my heart is bleeding, You still don't feel a thing)

memory, your last memory with me
was your shadow leaving me gradually
then you left without leaving a trace
then I collaspe and cried my heart out
hate you hate you, whenever I think about the past
ever ever evr ever...

still love you love you love you love you
It's possible that I am still not conscious

OH I give you all my heart, why you give me loneliness
(I gave you everything, Never Asked for anything)
Saying love you love you love you love you, is that you don't even want to hear
(I wish that you could stay, Ha! It's just my wishful thinking)
OH I give you all my heart, why you give me loneliness
(I gave you everything, But all I got is pain)
Even love you love you love you love you, it's not worth to be sad for you
(Although my heart is bleeding, You still don't feel a thing)

Your confession remains to be my final pleading,
but the only thing that's here with me is tic tac tic tac tic tac tic tac......

Words : I have been dreaming—a scary, yet a sweetest dream
Dreaming that my heart—has been stolen …




ADDITIONAL CAST:
Kim So Eun as Nika Yong

Rathyan menatap Daze dalam kebisuan. Sepasang matanya bersinar tajam—dalam dan menyayat. Daze menjulurkan tangan, berusaha mengapainya, tapi tangannya menyentuh angin kosong.


“Rath … “

Pemuda itu mundur perlahan.

“Kau mau ke mana?”

Dia tak menjawab. Perlahan-lahan dia memutar tubuh—membelakangi Daze.

“Rath, jangan pergi!!! Jangan tinggalkan aku!!”

Tapi dia tak menyahut, tak juga bereaksi—seakan tak mendengar teriakan-teriakan Daze.

“Rath!!! Aku mencintaimu!! Kau dengar? AKU MENCINTAIMU!!!”

Percuma saja, secara pelan tapi pasti, Rathyan semakin menjauh darinya. Bayangannya mengabur—tertelan kegelapan di kejauhan sana.

“RATHHHHHHHH!!!”

Daze tersentak bangun dari tidurnya. Wajahnya bersimbah keringat dan nafasnya tersengal-sengal. Perlahan dia mengedarkan pandangan berkeliling—Ini kamarnya di Seoul! Ya, dia sudah pulang dan tinggal setahun di sini, tapi mimpi-mimpi buruk tentang Rathyan tetap menghantuinya—setiap waktu, dan setiap saat.

Daze menghapus keringat dengan punggung tangannya. Dia menghembuskan nafas keras-keras. Kamarnya terasa pengap dan hening. Tak ada suara sedikitpun yang terdengar—kecuali .. detak-detik jam dinding tua di sudut ruangan. Tic .. tac .. tic .. tac … , suara-suara itu membuat hatinya semakin galau.

Daze menyibakan selimut dari tubuhnya. Dia turun dari ranjang. Berjongkok di depan lemari pendek dekat tempat tidur kemudian membuka laci paling atas. Setelah mengeluarkan tabung kecil berisi butiran-butiran pil, dia bangkit dan berjalan ke meja kecil yang menyandar di dinding. Dia menuang segelas air ke dalam gelas kemudian mengambil dan meminum beberapa butir pil tersebut.

Daze mengambil nafas dalam-dalam.

Akhir-akhir ini dia mengkonsumsi obat penenang semakin banyak. Mimpi-mimpi buruk itu datang silih berganti dalam tidurnya. Semua tentang Rath.

Daze kembali ke ranjang, membaringkan tubuhnya dengan pikiran yang masih menerawang selama beberapa saat.

Perth—, betapa dia merindukan kota itu!


***** @@@ *****


”DAZYAAAA!!!”

Teriakan terdengar dari lantai bawah. Tergesa-gesa Daze meraih tasnya kemudian berlari keluar kamar.

“NE!!!” balasnya dari ujung tangga atas.

“Cepatlah!! Kau bisa terlambat kalau tak bergegas. Nak Carls sudah menunggumu di ruang makan nih!!!”

“Ne, omma—segera!!!”

Daze berlari menuruni anak tangga. Omma segera menyambutnya dengan pelukan hangat.

“Gwencana?”

“Ne.” sahut Daze sambil tersenyum manis. “Aku hanya terlambat tidur tadi malam .. “

“Insomnia lagi?” tanya omma khawatir.

“Aniyo!!” Daze segera mengelengkan kepalanya. Ditepuknya lengan omma buat menenangkannya. “Aku hanya nonton drama sampai larut malam .. ,” dusta-nya.

“Jeongmal?” selidik omma.

“Ne, tentu saja. Buat apa aku membohongi omma?” Daze merangkul lengan omma kemudian menuntunnya ke ruang makan. “Sudahlah, sekarang kita sarapan dulu. O ya, kemana appa?”

“Appa mu ada acara di luar. Katanya sarapan bareng parner kerjanya dulu. Omma heran, setelah pensiun, kegiatannya malah semakin banyak .. ,” omma mengomel pelan.

Daze tertawa. “Bukankah itu bagus?”

“Ya, benar juga sih.” Omma mengangguk. “Lalu bagaimana dengan cuti mu? Apa sudah diluluskan?”

“Belum .. “

“Jangan berlama-lama, Dazya. Pernikahan Dave tak bisa ditunda lagi .. si Cherryl keburu gede. Lagian, tak enak sama keluarga Nat …“

“Aku tahu omma. Seharusnya sih nggak masalah .. “

“Anyong, Dazya .. “

Seorang pria muda berpenampilan rapi segera menyambut kedatangan mereka begitu memasuki ruang makan.

“Anyong, Carls .. ,” Daze menganggukan kepala perlahan. “Bagaimana keadaanmu hari ini? Kudengar Korean Capital akan melakukan perbauran dengan Max Global ya?”

“Bukan berbaur .. ,” Carlson menarik sebuah kursi buat Daze. “Tapi hanya kerjasama ringan. Kau tahu sendiri kan Max Global merupakan pemegang saham terbesar Korean Capital sekarang ini?”

Daze mengangguk. “Ya, memang. Aku heran, kenapa perusahaan sekuat Max Global rela membeli saham-saham Korean Capital yang bermasalah waktu itu .. ,” dia mengangkat bahu, “Tapi ya, mungkin mereka punya rencana sendiri. Orang-orang bisnis, siapa yang tahu .. ,” Daze mengambil sepotong roti lalu mengigitnya. “Buktinya saham Korean Capital langsung melambung setelah peralihan kepemilikan itu .. “

“Nak Carls sudah sarapan .. ,” omma mengabungkan diri dalam pembicaraan Daze dan Carlson.

“Sudah tante, gumawo .. “

Omma tersenyum lembut. “Kalau tak cukup, boleh ditambah loh .. “

“Oh—sudah cukup tante .. terimakasih banyak … ,” Carlson membungkukan badannya. Kemudian dia beralih pada Daze. “Aku juga sering bingung. Sebenarnya, keuntungan yang dicapai Korean Capital tak ada apa-apanya jika dibandingkan Max Global .. “

Daze mengangkat tangannya yang memegang gelas. “Sudahlah—tak usah dibicarakan lagi. Aku tak pernah mengerti masalah-masalah bisnis. Memusingkan saja. O ya, bagaimana dengan seminarmu di Tokyo?”

“Lancar .. ,” Carlson menempelkan telunjuk dan jempolnya dengan senyum puas. “Walaupun agak mendesak, namun cukup sukses .. “

“Congratulation .. “ Daze meneguk susu dari gelas di tangannya. “Semoga pekerjaan lainnya berjalan lancar juga … “

Tongggg!!!

Bunyi nyaring dari jam besar di dinding menyentak mereka.

“Ohh—“ dengan gugup Daze melirik jam tangannya. “Sudah sangat terlambat!” dia segera bangkit dari kursi. “Aku berangkat sekarang omma … anyong .. Carls cepatlah!!“ Daze menyambar tas dari kursi di sebelahnya kemudian menghambur keluar, tanpa menunggu Carlson.

“Yaa—Dazya, tunggu sebentar!!”

Carlson berdiri dari tempat duduknya. “Bye tante. Thanks buat sarapannya .. “

“Hati-hati di jalan nak Carls. Tolong jaga Daze. Dia agak-agak nggak stabil akhir-akhir ini .. “

“Ne. Aku mengerti .. “

Carlson membungkukan badan pada omma, kemudian menyusul Daze yang sudah keluar dari rumah.


***** @@@ *****


”Bagaimana pekerjaanmu?” tanya Carlson, tanpa mengalihkan perhatian dari mobil yang dikemudikannya. “Sudah bisa menyesuaikan diri?”

“Ne . .,” Daze menyisir rambutnya yang terpotong pendek dan sedikit acak-acakan dengan jari tangan ke belakang. “Rekan-rekan kerjaku baik-baik semua. Mereka mengajariku banyak hal. Aku sangat betah di sana .. “

“Tak pernah berpikir untuk membantuku?”

Daze berpaling padanya. “Miane. Tapi kau tahu sendiri, aku paling tak suka bekerja dengan mengandalkan hubungan khusus?”

“Ne .. ,” Carlson mendesah. “Sekedar ide, jadi lupakan saja .. “

“Miane, Carls .. aku … “

“Sudah .. ,” Carlson mengibaskan tangannya. Dia tersenyum lembut. “Aku mengerti kok … “

“Gumawo … “

“Seharusnya aku yang mengatakan itu … ,” ujar Carlson pelan.

“Dhe?”

“Kau membantuku berdiri kembali setahun yang lalu. Jadi seharusnya aku yang berterimakasih padamu dan bukan sebaliknya .. “

Daze tersenyum. “Sama-sama .. “

“Aku akan menjemputmu buat makan siang bersama nanti … “

“Tak perlu, Carls .. ,” cegah Daze. “Aku bakal sibuk hari ini. Lain kali saja .. “

“Chinja? Memangnya apa yang kau kerjakan? Bukannya sebentar lagi kau libur?”

“Hmm—ada sedikit masalah .. ,” jawab Daze.

“Merepotkan?”

“Tidak juga .. ,” gadis itu tersenyum. “Aku rasa akan terselesaikan dengan segera .. Semoga saja .. ,” lanjutnya pelan—yang tak terdengar oleh Carlson.


***** @@@ *****


”Dazyaaa!!! Ayo kemari!!”

Nika—salah seorang rekan kerja Daze, menarik tangan Daze dan membawanya ke papan pengumuman yang tergantung di dinding.

“Lihat ini!!” kata Nika sambil mengetuk-ngetuk secarik kertas yang tertempel di papan pengumuman.

Daze mencondongkan badan ke depan dan membaca kertas berukuran A4 itu. Matanya melebar perlahan.

“Mwo?! Kenapa begini? Aku sudah minta cuti saat itu, kenapa namaku masih masuk di daftar?”

“Itu kerjaan pak Yoon! Mungkin dia lupa ama pengajuan cutimu … “

“Tak bisa begini!!” Tampang Daze mengeras. Tangannya terkepal, dengan cepat dia berbalik dan melangkah lebar kearah ruang kantor kepala bagian pembukuan itu.

“Yaa—Dazya, mau ke mana?” teriak Nika.

“Minta penjelasan ke pak Yoon!!” balas Daze tanpa berbalik.

“Tunggu sebentar!!”

Nika mengejar dan menariknya kembali.

“Kenapa menghalangiku?!” hentak Daze kesal. “Aku tak bisa mengikuti penyeleksian sekretaris pribadi itu. Tidak bisa!! Selain karna bukan keahlianku, aku harus menghadiri pernikahan dongsengku pada saat itu .. “

“Bukan begitu .. ,” sela Nika cepat. “Aku bukannya menghalangimu, tapi .. pak Yoon sedang dalam rapat direksi sekarang. Dia tak ada di kantor .. “

“Huh—“ Daze menjatuhkan dirinya di kursi. “Kenapa kau tak bilang sejak tadi?”

“Apa kau memberi kesempatan padaku untuk menjelaskannya?” balas Nika.

Daze menekuk. Setelah itu tubuhnya terhempas ke sandaran kursi—lemas.


***** @@@ *****


”Hey—apa kalian tahu tentang majikan muda kita?” bisik salah seorang karyawan Max-Global dari departemen pemasaran saat makan siang.

“Siapa?!! Siapa?” desak yang lainnya pingin tahu.

“Majikan baru kita!” sahut wanita muda itu penuh rahasia. “Aku dengar, dia tamatan Harvard University. Muda, ganteng dan pintar. Selain itu, sifatnya rada aneh. Pendiam dan agak tertutup … Dia mulai bekerja hari ini … “

“Kau tahu dari mana?” Nika menjulurkan lehernya.

“Tentu saja dari gosip-gosip yang beredar ..,”sahut wanita itu bangga.

“Memangnya udah banyak gosip yang beredar tentang boss baru kita?”

“Tidak juga sih!!” wanita itu menyandar ke sandaran kursi. “Hanya sisi-sisi luarnya saja. Status dan pendidikannya. Yang lain—Nol besar!!” Dia membentuk lingkaran dengan jarinya.

“Yee—sama aja bohong!” Nika membuka mulutnya lebar-lebar.

Yang lain langsung menanggapi dengan tertawa terbahak-bahak.

“Siapa bilang?” wanita tadi menegakan badannya kembali. “Aku tahu kalau kalian tak ada peluang sama sekali .. “

“Bagaimana kau tahu?” Nika kembali terlihat tertarik.

Daze bergerak sedikit dari posisinya. Pembicaraan-pembicaraan para karyawan wanita yang setiap hari hanya ngegosip membuatnya tak nyaman.

“Kau ingin tahu?” wanita di depan mereka tersenyum mengejek.

“Tentu saja!” seru Nika cepat. “Benar kan, Dazya?” dia menyengol lengan Daze.

“Hahh?!” Daze tersentak.

“Temanmu kayaknya nggak tertarik … ,” si wanita mencibir.

“Tentu saja bukan .. ,” Nika mengaet lengan Daze. “Dia hanya banyak masalah akhir-akhir ini. Ayo ceritakan padaku sekarang! Aku tahu onnie paling memahami seluk beluk perusahaan ini—termasuk majikan-majikan kita .. ,” puji Nika dengan gaya berlebihan.

Wanita itu membusungkan badannya. “Itu jelas saja.”

“Makanya ceritakan padaku .. ,” mata Nika melebar.

“Tapi apa imbalannya?” kepala wanita itu condong kearah Nika.

“Mwo? Yaa—onnie … “

“Sudahlah, Nika-a!” Daze berdiri dari tempatnya. “Jangan dibahas lagi masalah ini. Capek .. “

“Dazeee!!!” teriak Nika, begitu Daze sudah berlalu dari hadapannya.

“Onnie .. ,” dia berbalik kearah wanita yang dipanggil onnie dengan nada merengek.

“Kau sungguh ingin tahu?”

“Ne … “

“Baiklah .. ,” wanita itu akhirnya menyerah. “ .. karna … “

“Dhe?”

“Umurnya … lebih muda dari kalian semua …. “

“Yeee---“

Semua langsung mengibaskan tangannya.

“Emangnya usianya berapa?” tanya wanita gugup berkacamata.

“Duapuluh satu tahun … ,” jawab wanita pengosip tadi.

“Cih—nggak berbeda jauh dariku kok!” cibir Nika. “Beda dua tahun dong. Bisa ditolerir … ,” lanjutnya bijak.

“Jangan lupa statusnya!” sahut wanita yang dipanggil onnie. “Tuan besar tak akan mengijinkan putra tunggalnya berhubungan dengan seorang bawahan. Jadi lupakan impianmu itu!”

“Yeee—“

Nika menarik bibir ke bawah. Kenyataan pahit yang dilontarkan wanita itu membuatnya tak berkutik. Impiannya hancur seiring kata-kata yang terucap tadi. Sungguh pahit!


***** @@@ *****


”Duduklah Dazya .. ,” kata tuan Yoon—mempersilahkan Daze duduk di kursi tamu. “Aku dengar kau mencariku. Ada apa?”

“Aku tak mau ikut dalam seleksi sekretaris itu, pak Yoon.. ,” sahut Daze—to the point. “Aku tak ingin pindah departemen. Bagian ini sudah cocok untuk ku .. “

Tuan Yoon mengelengkan kepalanya. “Tidak bisa .. “

“Mwo? Kenapa?”

“Setiap departemen harus mengajukan dua calonnya, dan dari departemen kita hanya kau dan Nika yang cocok. Jadi tak ada pilihan lain .. “

“Tapi aku sudah mengajukan cuti buat waktu itu .. ,” ujar Daze berkeras.

“Dibatalkan saja!”

“Tidak bisa!!” Daze tersentak bangun dari posisinya. “Aku harus menghadiri pernikahan dongsengku dua minggu mendatang. Aku tak bisa ambil tugas ini, miane .. “

Tuan Yoon kembali mengelengkan kepalanya. “Aku juga minta maaf. Boss muda sudah menurunkan perintahnya, setiap departemen harus memberikan calonnya, tanpa terkecuali. Jika tidak, departemen yang bersangkutan akan mendapat masalah. Siapa yang tak mendengar perintah, akan dipecat .. “

“Mwo?!”

“Aku sudah mendengar banyak tentang boss baru ini. Cara kerjanya sangat tegas. Sekali dia mengeluarkan perintah, tak ada yang boleh membantahnya. Jadi .. terimalah keputusan ini, Dazya .. “

“Tapi …. “

“Aku sungguh-sungguh menyesal … “

“Mengapa dia mengeluarkan perintah semendesak itu?” tanya Daze—masih tak terima.

“Karena dia juga tak punya pilihan lain .. ,” sahut tuan Yoon. Tangannya menekan tumpukan file di atas meja. “Sekretaris yang biasa dipakai tuan besar cuti hamil. Sedangkan boss muda harus berangkat ke Perth buat meeting penting seminggu nanti.”

“Perth … ,” desis Daze. Kata itu kembali membangkitkan kenangan lama.

“Ne. Ada masalah?”

Daze mengeleng perlahan. “Tidak, lanjutkan saja .. “

“Boss muda memerlukan seseorang buat membantu menyelesaikan keperluan-keperluan ringan. Tugas itu bisa diberikan pada tuan Park sih, tapi sayang tuan besar memerlukannya sekarang .. “

“Tuan Park?”

“Tuan Park asisten pribadi tuan besar .. “

“O—“ Daze mengangguk mengerti.

“Karna itu kau harus ikut penyeleksian ini, Dazya .. Tak perlu takut, belum tentu terseleksi kok. Aku dengar kriteria-kriteria yang ditentukan boss muda sangat ketat. Dari berpuluh-puluh karyawan wanita yang diseleksinya belum ada satupun yang mendekati kriteria-kriteria yang dinginkannya.”

“Tak ada cara lain?”

“Miane .. “

Daze mengangguk lemah. “Aku mengerti, pak .. “

“Bersiap-siaplah, Dazya … Giliranmu satu jam lagi .. “

“Ne, agashimida .. “


***** @@@ *****


”Daze Han!!”

Wanita berpostur sedang, dengan telinga tergantung beberapa pasang anting-anting yang duduk di depan pintu ruang kantor majikan tertinggi itu membacakan nama Daze.

“Hwaiting!” Nika, yang duduk di samping Daze, memberi semangat dengan mengepalkan tinju dan mengayunkannya ke belakan.

Daze tersenyum kecut. Mengapa dia seperti berjuang buat sesuatu yang sama sekali tak ingin diperjuangkannya?

Daze bangkit dari kursi dan mengikuti langkah wanita beranting-anting banyak tadi sampai di depan pintu. Wanita itu mengulurkan tangan dan mengetuk daun pintu tersebut.

Tok .. tok .. tok …

“Ya?!!” terdengar suara dari dalam kamar.

“Nona Han, pak!!” sahut si wanita dengan penuh hormat.

“Masuk!!” perintah dari dalam.

Wanita itu membuka pintu dari kayu itu perlahan-lahan. “Silahkan, noona Han .. ,” katanya halus.

Daze mengangguk. “Ghamsamida .. “

Wanita itu mengundurkan diri dengan sikap hormat. Daze mengamatinya selama beberapa saat, kemudian memutar diri kearah pintu. Dia mengedarkan pandangan ke dalam ruangan lewat celah pintu. Keadaan di dalam sangat tenang.

“Dazya .. “

Daze menoleh ke belakang. Nika tampak mengerak-gerakan tangan dan bibir kearahnya. Ada apa? Kira-kira itu yang terisarat dari gerak-gerik temannya itu.

Daze mengeleng pelan. Tak apa-apa! Dia membalas isyarat tersebut dengan tangan dan bibirnya. Nika terlihat mengangguk lega. Daze kembali berbalik kearah pintu, perlahan dia memasuki ruangan itu. Kepalanya tertunduk, tak berani diangkat.

“Tutup pintunya!”

Terdengar perintah dari orang dalam ruangan.

Daze membungkuk dalam-dalam. “Ne .. “ Dia bergerak, menutup pintu di belakangnya.

“Apa keahlianmu?”

“Pembukuan .. ,” jawab Daze tanpa mengangkat wajahnya.

“Pembukuan?”

Suara yang terdengar tak asing di telinganya itu agak tersendat. Tanpa disadari Daze, pria di depan melempar pen di tangannya dan mendorong kursi ke belakang.

“Apa tak salah?”

“Aniyo .. ,” Daze mengigit bibrnya. Mengapa keadaan di sini terasa begitu mencekam? Dia mengigil perlahan.

“Siapa majikanmu?”

“Tuan .. Yoon Hye Bin … ,” sahut Daze gentar.

“Suruh dia kemari!!” bentak orang itu. “Aku butuh seorang sekretaris, bukan seorang akuntan!!”

“Dhe?!” tak sadar Daze mengangkat kepalanya.

Pria yang berbicara dengannya itu sedang menunduk dan terlihat sibuk dengan lembaran-lembaran kertas di atas meja. Rambutnya yang agak panjang dan hitam lebat menutupi hampir seluruh wajahnya.

“Sudah jelas kan? Pekerjaan mereka tak ada yang becus. Yang ditawarkan sampah semua!!!” bentak pria tersebut.

“Dhe?” Alis Daze berkerut. “Bukannya tuan yang memerintahkan begitu?” tanyanya ragu-ragu. Entah mengapa, terbersit keberanian untuk menyindir pria ini.

Kesibukan si pria terhenti. Kertas-kertas yang sudah ditumpuk jadi satu dilemparkannya kembali ke atas meja. Tangannya saling mengepal dengan erat. Walaupun jarak mereka cukup jauh, Daze dapat melihat boss mudanya sedang menahan gejolak kemarahannya.

“Mwo?! Aku tak pernah memerintahkan begitu! Orang-orang bodoh itu aja yang salah tanggap!” Suara serak-serak basah si pria muda mengeras dan terdengar sedikit bergetar. “Lagipula … ,” kepalanya terangkat perlahan dan … mulut yang terbuka itu terhenti, mengangga sebentar dan perlahan-lahan mengatup dalam diam.

“Ra .. rath …. ,” mata Daze terbelalak. Suaranya sangat pelan dan menyayat. Dia mundur selangkah sehingga menyenggol kaki sofa. Terdengar bunyi ‘drek’ halus. Pangkal kakinya terasa ngilu, namun dia tak perduli lagi. Pemandangan di depan lebih menyita perhatiannya. Syok akut—itu yang dirasakannya sekarang. “Ke … napa .. bi … bisa? .. kau .. kau … dan Max-Global? Tidak … mungkin … ti … tidak mungkin … “

Rathyan Jang—si pria, tak bersuara. Rahangnya terkatup rapat sehingga membentuk persegi. Sinar matanya sangat tajam—menusuk sampai ke kalbu Daze.

“Kenapa …. ?” desah Daze panjang. “Kau … kau tak .. per .. pernah .. menjelaskan … apapun padaku. Kenapa?”

Rathyan tak bergeming.

“A .. apakah aku .. begitu … begitu tak bisa dipercaya?”

Rathyan bergerak sedikit. Kursinya diputar dengan posisi menyampingi Daze. Dia berdiri, memutari meja panjang itu kemudian menyampir di sisinya. Sepasang tangannya terlipat di depan dada dan pandangannya masih menusuk ketika tertuju pada gadis di depannya.

“Ke .. napa tak bersuara?”

“Memangnya apa yang kau harapkan jika kuceritakan semua sejak semula? Apa yang akan kau lakukan?” suara Rathyan terdengar sangat dingin. “Meninggalkan kekasihmu, si Carlson, dan setia di sisiku?” sudut bibirnya terangkat ke atas. “Kau masih Dazy yang sama ya?”

“Mw … mwo?” Daze terhenyak. Alisnya berkenyit seiring api kemarahan yang mulai menyulut emosinya. “Kau masih menganggapku begitu? Seorang wanita yang memandang seorang pria, hanya dari kekayaan dan hartanya?”

Rathyan mengangkat pundak—tak acuh. “Bukannya begitu?”

“Rathyan Jang!!!”

Rathyan memutar tubuh membelakangi Daze.

“Rathyan Jang—sebenarnya, apa yang ada dalam otakmu? Kau sendiri yang meninggalkan Perth tanpa kabar, bukan aku!!”

“Kau menyalahkanku?” Rathyan berbalik.

“Bukan menyalahkanmu, tapi ini kenyataan!!!” teriak Daze.

“Siapa yang meninggalkan Perth duluan? Siapa yang tak memberiku kesempatan? Itu kau—Daze Han!!”

“Sudah kubilang waktu itu, aku harus pergi karna Carls membutuhkanku. Tapi kau, kau tak mau mendengar alasanku—Pergi begitu saja!!” Daze menunjuk Rathyan dengan nafas tersengal-sengal. “Kau yang egois, Rath. Not me!!”

“Ok,” Rathyan mengangkat tangannya. “That’s fine. Lalu sekarang apa mau-mu?”

Sunyi. Daze tak tahu harus menjawab apa.

“Bagaimana?”

Daze mengigit bibirnya. “A .. aku .. tak mau berurusan lagi denganmu. Walaupun kita kerja di .. tempat yang sama, aku harap kau .. kau menganggapku tak pernah ada. Untuk jabatan yang sekarang ini sedang diinterview—juga, lupakan saja … “

“Kau tak ingin bertemu lagi denganku?”

“Ne .. ,” mata Daze terpejam. Terasa sakit ketika kita berbohong buat sesuatu yang tak kita inginkan.

“Are you sure?”

Daze mengangguk lambat-lambat. Benarkah? Sejujurnya dia tahu, tak begitu!

Keheningan menyelimuti ruang kantor yang sangat luas dan megah itu. Daze tak tahu apa yang terjadi karna matanya tertutup rapat. Samar-samar dia mendengar langkah kaki. Apakah Rath sangat marah sehingga meninggalkannya sendirian dalam kamar ini? Perlahan-lahan, Daze membuka matanya. Tapi betapa terkejutnya dia begitu mendapatkan Rathyan sudah berdiri sangat dekat di depannya.

Pria itu meraih wajahnya. Dan tanpa memberi kesempatan padanya untuk menyadari apa yang terjadi, Rathyan mendaratkan bibirnya ke bibir Daze. Melumatnya dengan bergairah dan panas. Daze terkesiap—dia langsung gelagapan. Apa yang dilakukan Rathyan menguncang hatinya. Dia berusaha mendorong tubuh jangkung itu ke belakang, namun tak berhasil. Rathyan terus melumat bibirnya, bahkan lidahnya yang kasar dan hangat terasa memasuki rongga mulutnya.

Daze mendesah. Bibir itu terasa lembab seperti dulu—begitu lembut dan sedap. Dia juga mencium aroma cemara yang begitu menyengat dan khas terhembus dari tubuh Rathyan. Tak sadar, Daze memejamkan matanya. Secara lambat tapi pasti, dia membalas ciuman-ciuman Rathyan. Lengannya bergaut ke leher pria itu, meremas dan menekan kepalanya semakin menempel kearahnya. Kakinya yang berhak tinggi berjinjit sehingga lumatan-lumatan mereka semakin panas dan membara. Nafas Daze terengah-engah, begitu juga Rathyan.

Tiba-tiba Rathyan melakukan sesuatu di luar dugaan. Dia mendorong Daze sehingga ciuman-ciuman mereka terlepas begitu saja. Mata Daze terbuka. Dia terbelalak memandangi Rathyan dengan ekspresi tak mengerti. Pemuda itu tersenyum mengejek.

“Lihat?! Tak ingin berurusan lagi denganku?! Ini maksud dari perkataanmu tadi, Daze Han?!” dia mencondongkan tubuh ke depan. “Lalu kenapa membalas ciuman-ciumanku?”

“Rathyan Jangggg!!” Wajah Daze bersemu merah. Riak-riak air bermain-main dalam kelopak matanya. “Kenapa mempermainkanku?”

Rathyan mengangkat bahu cuek. Dia mundur beberapa langkah. Masih dengan senyum ejekan terkembang di bibir, dia berjalan kearah pintu. Dibukanya pintu itu dan melongok keluar.

“Interviewnya sampai di sini, nona Kim. Aku sudah mendapatkan sekretaris pribadiku. Mulai sekarang nona Han akan mengurus semua keperluan-keperluanku. Siapkan meja kerjanya dalam ruang kantorku. SEKARANG JUGA!!”

Wanita beranting-anting banyak yang dipanggil nona Kim berdiri dari kursinya. Dia membungkuk dengan hormat. “Ne, pak direktur. Aku akan segera memerintahkan pihak gudang menyiapkannya .. “

“Bagus .. “ Rathyan tersenyum puas.

Nona Kim mengangga di tempatnya. Benarkah ini majikan yang dikenalnya? Selama bekerja di Max-Global, sudah beberapa kali dia bertemu Rathyan, tapi baru kali ini dia melihatnya tersenyum. Apalagi senyuman selebar tadi. Ternyata pak direktur manis benar kalau sudah tersenyum, nona Kim menyengir dalam hati. Ditambah lesung pipinya, begitu memikat .. , ujarnya halus.


***** @@@ *****


”Mulai sekarang kau bekerja padaku!” kata Rathyan, begitu kembali ke kursinya. “Sebagai sekretaris pribadiku … ,” lanjutnya dengan senyum cengiran.

“MWO?” mata Daze membelalak.

“Sudah jelas kan?”

“Kau .. apa maumu? Balas dendam?”

“Terserah apa pendapatmu!” Rathyan melempar sebuah file tebal ke atas meja. “Ambil dan hayati semua yang tertulis di dalam. Selesaikan jadwal-jadwal yang masih berantakan ini buatku. Sesegera mungkin! Waktu penyetorannya sampai besok siang—pukul dua. Ingat, jangan terlambat! Aku paling benci cara kerja tak becus dari bawahanku .. ”

Kalau tak becus, apa akan dipecat? Daze ingin meneriakan perkataan ini, jika saja pandangannya tak segera bertemu dengan tatapan tajam dari Rathyan. Dengan tak bersemangat dia meraih file tebal tersebut dan membungkukan badannya.

“Agashimida. Ada perintah lain, tuan Jang?”

“None!” sahut Rathyan. Tubuhnya dihempaskan ke belakang sambil menyilangkan tangan di depan dada. “Kau bekerjanya di sofa dulu. Meja kerjamu sedang dipindahkan ke sini .. “

“Mwo? Apa harus di sini?”

“Ne. Ada masalah?” tanya Rathyan tajam.

“Tidak. Hanya saja … “

“Hanya saja?”

“Kayaknya tak baik jika … jika kita berada dalam satu ruangan …. ,” ujar Daze gentar.

“Memangnya kenapa?” seru Rathyan. Brakk! Kepalan tangannya menghantam daun meja. “Akan kuhancurkan mulut orang-orang yang berani bicara macam-macam .. “

“Ohh—“ Daze mundur sambil memegang dadanya. Jantungnya berdegup kencang.

Sekarang dia sadar, ada sesuatu yang berubah dari pria yang sangat dirindukannya ini. Rathyan terlihat lebih sangar, kejam .. dan mengerikan dari Rathyan yang dikenalnya.


***** @@@ *****


_________________


♥️ "Everywhere ★ we learn ★ only from ★ those whom ★ we love" ♥️
avatar
DragonFlower

Posts : 94
Join date : 2013-06-17
Location : | Trapped in CNBLUE Dorm |

View user profile

Back to top Go down

Re: from Seoul to ... Perth-- by Lovelyn

Post by DragonFlower on Wed Jun 26, 2013 4:11 pm




from Seoul to ... Perth II--
Chapter Fourteen

By : Lovelyn Ian Wong

[/center]


"8 am--morning meeting dengan para direksi, 9:30--call with James Whitecross from ML, 10:15--meeting dengan para analyst Stanberg, rekomendasi Aussie Bank, 12 pm ... lunch with .. Carlson Kim from Korean Capital, 1:30 ... "

"Tunggu sebentar!!" Rathyan mengangkat tangannya yang sedari tadi sibuk menanda-tangani setumpuk dokumen di atas meja. Alisnya berkerut. "Lunch dengan siapa, katamu?"

"Carlson Kim .. dari Korean Capital .. ," jawab Daze lambat-lambat.

"Mwo?!!" Mata Rathyan terbelalak lebar. Pulpen di tangannya langsung melayang ke sudut meja, brakkk!! "Siapa yang membuat janji itu?!!!"

"A .. aku ... " Daze kembali menjawab dengan segan. "Carlson membicarakannya pagi ini denganku .. dan .. kurasa tak ada salahnya jika membuat janji itu ... kau, maksudku--tuan, tak punya jadwal jam segitu ... "

Rathyan menatap Daze dengan pandangan menusuk. "Batalkan janji itu!!" perintahnya dengan nada ketus.

"Ta .. tapi .. saya ... saya sudah meluruskannya .. ," ujar Daze takut-takut.

"Apa hakmu membuat janji untuk ku?" Rathyan mendengus. "Kau hanya sekretarisku, Daze Han!! Kau tak berhak melakukan itu!!Semua janji harus disetujui dulu olehku baru boleh kau buat. Araso?!!"

Daze menunduk perlahan.

"Ku bilang batal, ya batal!!" lanjut Rathyan dengan nada hampir berteriak. "Aku tak ingin ketemu orang itu!!!"

"Ta .. tapi ... "

"DAZE HAN!!! Apa kau tuli?!!!"

Teriakan Rathyan menghentak Daze. Gadis itu terperanjat kaget dan menyusut perlahan-lahan. Kedua pundaknya terangkat dan dia menatap Rathyan yang sedang mendelik kearahnya dengan ekspresi ngeri. Samar-samar pembicaraannya dengan Carlson dalam perjalanan ke kantor pagi ini kembali terbayang dalam pikirannya.

Flash back ...

Wajah Carlson tampak berseri-seri. Sepanjang perjalanan dari Han's mansion mulutnya tak henti bersenandung kecil. Jari-jemarinya mengetuk-ngetuk gagang kemudi dengan berirama.

Daze tertawa. "Sepertinya ada hal yang mengembirakan?"

Carlson berpaling padanya. "Dhe?"

"Ada sesuatu kan?" Daze memperlebar senyumnya.

Carlson membalas sambil mengangguk kecil. "Ne. Tapi bagaimana kau tahu?"

"Aku hanya menebak. Tapi kelihatannya tak salah, wajahmu mengambarkan semua itu ... " Daze mengedipkan matanya. "Boleh ku tahu apa itu?"

"Tentu saja!" sahut Carlson semangat. "Kau sudah tahu tentang perubahan struktur kepemimpinan Max Global Korea kan?"

"Ne .. ," sahut Daze halus. Nada suaranya terdengar sangat rendah. Entah mengapa kata 'Max Global' membuat lututnya lemah. Begitu menyadari Carlson tak tahu apa-apa mengenai hubungannya dengan sang pemimpin Max Global Korea baru itu membuat hatinya sesak. Apa perlu dia menjelaskan semuanya pada Carlson? Tapi, hubungannya dengan Carlson kan sudah bukan seperti yang dulu lagi .., apa masih perlu? "Lalu apa kaitannya semua itu dengan kegembiraanmu?" lanjut Daze.

"Kudengar pemimpin barunya--putra dari Mr. Oliver Jang itu sendiri--orangnya sangat menghargai karya bermutu dari para partner usahanya. Aku sudah menyelesaikan sebuah proposal penawaran kerjasama mengenai pendirian sebuah mall pada Max Global. Proposal ini kubuat dengan sepenuh hati. Menghabiskan waktu hampir setahun dan aku yakin proyek ini akan mendatangkan keuntungan besar. Beberapa bank juga sudah kuhubungi guna mendapatkan dana yang dibutuhkan. Jika Max Global menganggukan kepala, semua akan terselesaikan dengan mudah ... aku tak perlu bersusah payah menunggu persetujuan dan pencairan dana dari bank .. "

"Apa .. tak ada cara lain?" tanya Daze sambil menundukan kepalanya. "Mengapa harus Max Global?"

"Kenapa?" Carlson balas bertanya begitu mendapati kesenduan terkandung dalam nada suara Daze. "Kau sakit?"

Daze mengeleng perlahan. "Anhi ... Aku hanya tak mengerti, mengapa harus Max Global?"

"Karna perusahaan itu penyalur dana utama buat Korean Capital selama setahun ini ... ," jawab Carlson. "Bekerjasama dengan perusahaan itu lebih menjanjikan daripada badan lain .. "

"O--" Daze mengangguk pelan.

"Apa masalah ini menganggu pikiranmu?"

"Mwo?" Daze mengangkat kepalanya. "Anhi, kenapa berkata begitu?"

"Mengingat kau merupakan bagian dari Max Global. Miane--tak seharusnya aku membicarakan rencana ini denganmu?" Carlson tersenyum penuh penyesalan.

"Tak apa." Daze balas tersenyum walaupun terlihat agak terpaksa. "Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"

"Aku akan membuat janji bertemu dengan direktur Jang hari ini, dan jika ada kesempatan, segera mengajukan proposal tersebut padanya. Mudah-mudahan beliau menerimanya ... "

Beliau? Daze tersenyum kecut. "Ya--semoga usaha kerasmu dihargai, Carls-a ... ," ujarnya. Dalam hati, Daze merasa tak yakin.

End of flash back ...

Dan perkiraan Daze menjadi kenyataan. Rathyan menolak keras janji makan siang yang diajukan Carlson. Jangankan untuk menyampaikan proposal tersebut, kesempatan untuk bertemu dengannya saja rasanya sangat sulit. Kayaknya Rathyan bersungguh-sungguh dengan perkataannya. Dia ingin menjaga jarak dengan Carlson. Perkataan 'Aku tak ingin ketemu orang itu!!!' membuat Daze menyesal. Karna hubungannya dengan Rathyan, Carlson harus menanggung semua akibatnya. Akibat dari perbuatan yang sama sekali tak diketahuinya.

"Kenapa? Kau sakit hati?"

Suara Rathyan menyadarkan Daze dari ketermenungan berkepanjangan. Perlahan dia mengalihkan perhatian pada Rathyan. Tapi gadis itu tetap tak mengeluarkan suara.

"Kau berusaha menolongnya dengan membuat janji makan siang itu. Jangan menganggapku bodoh, Daze Han! Aku tahu apa yang akan dikatakannya dalam acara makan siang konyol itu!"

"Mwo?!" Daze mengerutkan alisnya. "Apa maksud tuan?"

"Masih berpura-pura jua?!" Rathyan mendengus. Dia bangkit dari kursi kerjanya yang tinggi kemudian berjalan kearah Daze dan berhenti tepat di hadapannya. "Jangan katakan padaku kau tak mengatakan padanya kalau kau sekarang sudah menjadi sekretaris pribadiku?! Dia memanfaatkan kesempatan ini dengan menyuruhmu membuat janji makan siang denganku, begitu kan?" Rathyan menyengir sinis.

"Tidak!!" seru Daze. "Dia tak tahu apa-apa!! Jangan sangkut-pautkan masalah kita dengannya!!"

"O ya?!! Apa kau kira aku percaya? Mengingat hubungan kalian ... "

"Hubungan apa?!! Hubungan apa?!!" Mata Daze terbelalak lebar. Nafasnya memburu dan dia agak kaget ketika tangannya tiba-tiba terangkat dan menekan dada Rathyan keras-keras sampai terdorong beberapa langkah. Dia sama sekali tak menyangka dirinya bisa sehisteris ini. "Katakan padaku, hubungan seperti apa maksudmu?!!"

"Aku tak ingin membicarakannya sekarang!!" Rathyan menepis tangan Daze dengan kasar. Kemudian dia berbalik kembali ke meja kerjanya. Menjatuhkan dirinya di kursi lalu berkutat kembali dengan dokumen-dokumen di atas meja. "Siapkan segala keperluan buat morning meeting hari ini, dan katakan pada para direksi aku akan siap sepuluh menit lagi. Secepatnya!! Pergi!!"

Daze menghela nafasnya. Selalu begini ... Yang bisa dilakukan anak ini selalu menghindar! SELALU--dari setahun yang lalu sampai sekarang sifatnya yang satu ini tak berubah ...

Daze mundur sambil membungkukan badannya. "Ne, tuan Jang ... "

Rathyan mengangkat kepala dari tumpukan file di hadapannya. "Satu hal lagi!"

Daze menoleh. "Dhe?!"

"Jangan memanggilku tuan, pak, atau apa itu!! Panggil saja namaku, atau cukup margaku, terserah kau!"

"Ta .. tapi .. ," Daze bermaksud memprotes tapi Rathyan segera mengangkat tangannya.

"Cukup! Keluarlah!"

Daze menutup mata kemudian menghembuskan nafasnya, berat. "NE!!" jawabnya dengan nada keras.

Setelah itu dia berjalan ke pintu. Terakhir kali dia berbalik dan mengamati Rathyan lewat celah dibalik pintu. Pemuda itu tampak berkutat kembali dalam kesibukannya. Rambutnya yang panjang dan agak acak-acakan hampir seluruhnya menutupi wajahnya. Wajah yang senantiasa membuat hati Daze berdesir keras. Aku akan segera melupakanmu! Aku yakin itu! tekad Daze dalam hati.



***** ><><>< *****



"Kita makan di luar!!"

Brakk, Rathyan menjatuhkan sumpit di tangannya ke atas meja. Sushi dan sashimi dalam kotak di hadapannya belum disentuhnya sama sekali. Dia bangkit dari duduknya. Setelah menyambar jas yang tersampir di sandaran kursi, dia berjalan ke arah pintu.

"Mwo?!" Daze mengangkat wajah dari kotak lunch yang sedang dihadapinya. Kebingungan, dia melirik kotak lunch di atas meja Rathyan. Tak kurang lima belas menit yang lalu majikannya ini memerintahnya untuk membelikan sushi dan sashimi buat makan siang dengan alasan dia tak punya waktu lunch di luar. Tapi sekarang lihat, apa yang dilakukan anak muda ini? Dia ingin yang lain?

Daze menoleh kearah pintu dan mendapatkan Rathyan berdiri di sana dengan ekspresi tak sabar.

"Masih melongo di situ?"

"Eh--maksudnya, aku pergi denganmu?" tanya Daze sambil berdiri dengan ragu-ragu.

"Tentu saja!" sahut Rathyan kesal. "Apa kau tak dengar kata 'KITA'?"

"Oh--" Daze membuka mulut lebar-lebar. "Ta .. tapi .. bagaimana dengan makanan-makanan ini?" tanyanya sambil mengaruk-garuk kepala kebingungan. Seluruh perhatiannya terpusat pada makanan di atas meja dengan raut prihatin.

Berapa banyak manusia di dunia ini yang masih berjuang buat kelangsungan hidup hanya untuk sesuap nasi? Bahkan mungkin banyak di antaranya yang mati kelaparan, sedangkan orang-orang kaya tak tahu diuntung ini membuangnya dengan percuma, sama sekali tak menghargainya. Sungguh menyedihkan.

"Buang saja!!"

Perkataan keras itu menyentak Daze. Seketika dia berpaling kearah Rathyan.

"Maksudmu ... buang ke tong sampah?"

"Ne!! Ada masalah?!!"

"Ta .. tapi .. makanan-makanan ini belum disentuh sama sekali ... "

"Persetan!!" Rathyan mengibaskan tangannya. "Saat ini saya menginginkan sesuatu yang hangat." Dia berbalik membelakangi Daze. "Jika kau tak bergerak jua, jangan salahkan aku melakukan sesuatu yang tak terbayangkan!!"

"Mwo?" tanya Daze kaget. "A .. apa maksudmu?!"

"Kau akan mengetahuinya jika tak mengikuti perintahku!!" Rathyan mulai melangkahkan kakinya menjauh dari ruang kantor tersebut.

"Yaa--Rathyan Jang!! Jangan lakukan itu?!!" Tergesa-gesa Daze menyambar tas genggamnya lalu berlari cepat mengejar Rathyan yang sudah berada jauh di depannya. "Dia tak bersalah! Saya mohon, jangan menganggunya!"

Bibir Rathyan tertarik ke atas. Dalam hati, dia merutuki pria yang telah merubah seluruh kehidupannya itu. Hubungannya dengan Daze, juga hubungannya dengan Oliver--ayahnya. Sifatnya dari seorang Rathyan dulu menjadi Rathyan sekarang--yang jujur saja, tak disukainya.

I'm no longer the man that i was. Jika saja kau memberiku kesempatan waktu itu, aku tak akan begini! Aku membencimu, Daze Han. Kau menjadikanku seorang pria yang tak tahu arah hidupnya sendiri. Semua yang kulakukan tak berguna. Max Global--bagiku hanya benda mati. Kau--tak teraih. Yang sulit dipercaya, aku malah menolong seseorang yang menyebabkan semuanya, dia--Carlson Kim!!!

Rathyan menghentikan langkahnya dan berbalik menghadapi Daze. "Sudah kukira ... ," katanya dengan nada mendesis.

"Mwo?" Daze sampai di hadapan Rathyan dengan nafas tersengal-sengal. Matanya melebar menatap pemuda itu, tak mengerti.

"Kau akan membelanya!" sahut Rathyan ketus.

"Mwo? Aku tidak ... "

"Sudah! Aku tak perduli pada perjalanan hubungan kalian!"

Dengan tegap Rathyan berbalik dan meneruskan langkahnya.

"Yaa--bukan begitu!!"

Teriakan Daze tak dihiraukan Rathyan. Pemuda itu merogoh ke dalam saku celana dengan kecepatan luar biasa dan mengeluarkan earphone set yang segera disumbatkan ke telinganya. Dalam hitungan detik volume MP3 di tangannya diputar ke volume tertinggi sehingga suara-suara di sekitarnya tak terdengar.

Dia menoleh begitu Daze sampai di sebelahnya dengan nafas terengah. Gadis itu mengerak-gerakan tangannya berulangkali, berusaha mengutarakan maksudnya. Tapi dengan tampang dingin dan datar Rathyan mengalihkan perhatian ke depan. Tak dihiraukannya Daze yang masih berkoak-koak sendiri.

Daze mendengus. "Anak ini--huhhh--"



***** ><><>< *****



Waktu hampir memasuki jam makan malam. Daze melirik jam tangannya, sudah pukul 7 malam. Perlahan dia mendorong kursinya ke belakang dan mengangkat wajah, mengarahkan pandangan ke depan. Matanya agak disipitkan guna mempertajam penglihatan yang rada kabur akibat terlalu lama menghadapi layar komputer.

Sesaat Daze tertegun. Desiran itu terulang lagi begitu paras di depan terlihat jelas olehnya. Tampang yang sangat serius waktu mengeluti dokumen-dokumen yang berserakan di hadapannya. Sebagian rambutnya menutupi wajah, tapi justru itu menambah daya tariknya yang sempurna.

Daze mendesah. Tekadnya semula terlupakan. Laki-laki tipe pekerja keras memang terlihat jauh lebih menarik. Dan ini baru disadari Daze dari seorang Rathyan. Lima menit lamanya Daze tak bergerak dari posisinya. Matanya terarah lurus mengamati kesibukan Rathyan.

Pukul setengah delapan Rathyan menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Sejenak dia mengangkat tangan untuk merengangkan otot-otot badannya yang terasa kaku sambil mengerak-gerakan kepalanya ke kanan dan kiri. Perhatiannya teralih begitu mendapati Daze yang terpaku di tempatnya.

Alis Rathyan berkenyit perlahan. "Kau belum pulang juga?"

Mata Daze melebar. "Bukannya kau sendiri yang tak mengijinkanku pulang sebelum ada perintah darimu?!"

"Oh--" Rathyan menepuk jidatnya. Matanya terpejam sambil digelengkan perlahan. "Aku lupa ... "

Daze memberenggut tapi tak mengucapkan apa-apa.

Rathyan membuka mata kemudian berdiri dari kursinya. "Kita pergi sekarang?"

"Pu .. pulang?" Terburu-buru Daze bangkit dari kursinya.

"Tidak. Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Kita dinner di luar. Kau belum makan kan?"

Daze mengeleng sambil mendesah pendek.

"Selesai makan, kita balik lagi .. "

Rathyan mendahului Daze menuju pintu. Yang ditinggal mengerutu sendiri di posisinya. "Huh--sudah malam begini masih bekerja. Sejak kapan anak bebal itu serajin ini?"

"Hey--tunggu!!!!"

Daze menghambur keluar begitu bayangan Rathyan sudah tak kelihatan lagi.



***** ><><>< *****



Rathyan meminggirkan mobilnya di pinggir jalan. Setelah mematikan mesin, dia keluar dari mobil.

“Mau kemana?”

Teriakan Daze tak dihiraukannya. Dia menutup pintu dengan satu hentakan keras, kemudian dia menyandar ke badan mobil sambil mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Ternyata itu sekotak rokok dengan geretannya. Dia menghidupkan sebatang rokok kemudian menghisapnya.

Daze memperhatikan lewat kaca spion dengan kening berkerut. Sejak kapan anak ini merokok? Seingatnya, dia tak pernah melihatnya merokok waktu di Perth dulu.

Daze menurunkan kaca jendela kemudian menjulurkan kepalanya keluar.

“Kau merokok?”

Rathyan meliriknya sekilas. Dia tak menjawab. Ekspresinya tetap datar. Dengan santai dia menghabiskan rokok tersebut kemudian membuang sisa-sisa puntungnya ke tong sampah dekat situ. Sesaat kemudian dia masuk kembali ke mobil. Menghidupkan mesin dan menjalankannya dengan kecepatan di atas rata-rata. Daze tak bertanya lebih lanjut, percuma—Dia tahu Rathyan tak akan menjawabnya.



***** ><><>< *****



"Makan apa?" tanya Rathyan sambil menyelusuri deretan menu dalam daftar menu di tangannya.

"Hmm--" Daze tak menjawab. Pandangannya masih sibuk berseliweran di antara berpuluh-puluh menu yang menarik perhatiannya.

"Cepatlah!" desak Rathyan. Dia melempar daftar menu ke atas meja dan kemudian mengangkat tangan memanggil pelayan yang melayani mereka. "Dinner set .. ," dia berpaling pada Daze, "Kau juga?"

"Sa .. saya ... "

Daze belum sempat menjawab Rathyan sudah beralih kembali ke pelayan muda di sampingnya. "Dinner set for two .. "

"Yes, Mr. Jang ... " Si pelayan membungkuk kemudian berlalu dari hadapan mereka.

"Hey--saya belum memutuskan mau makan apa?" protes Daze tak senang karna Rathyan mengambil keputusan seenak perut buatnya.

"Kita tak punya waktu berlama-lama di sini. Jika kau mau kerja sampai dini hari, aku tak keberatan kau melakukannya?!" jawab Rathyan ketus.

Daze langsung membungkam dalam kebisuan. Terus terang saja dia tak mau hal yang dikatakan Rathyan sampai terjadi. Lebih baik dia makan sekedarnya daripada harus berduaan dengan pemuda ini dalam satu ruangan.

Lima belas menit kemudian makanan tersaji di atas meja. Mereka menghabiskan hidangan tersebut dalam waktu setengah jam, lalu keluar dari restoran Perancis itu dengan jarak yang agak jauh. Rathyan berada di depan, sekitar lima meter dari Daze.



***** ><><>< *****



Daze menghentikan langkahnya ketika hampir menabrak punggung Rathyan. Pemuda jangkung di depannya berdiri mematung di pintu masuk restoran dengan posisi menengadah ke atas. Tubuhnya agak tertutupi oleh daun pintu sehingga tak terlihat oleh Daze. Gadis itu memutarinya dan ikut menengadah.

"Omo--hujan?" mulut Daze mengangga. "Bagaimana mungkin? Waktu datang tadi cuacanya sangat cerah .. "

Rathyan tak menjawab. Dia mencondongkan badan ke depan, mencoba mengukur jaraknya dengan tempat parkir di lapangan depan.

"Bagaimana ini?" tanya Daze cemas. Tangannya saling meremas dan melirik dengan gelisah. "Jangan sampai tak pulang ke rumah. Omma akan mengkhawatirkanku ... "

"Diamlah!" bentak Rathyan. Dengan tenang dia membuka jas yang dikenakannya kemudian secara mendadak dia meraih tangan Daze. "Ayo ke sana!!"

"Mwo?!!"

Daze tersentak. Sebelum keterkejutannya hilang, Rathyan sudah menariknya membelah hujan deras. Jas yang tadi dilepas pemuda ini diangkat melindungi kepala mereka berdua dari siraman air hujan.

Daze yang belum bisa menguasai perasaannya, mengangkat wajah perlahan, menatap Rathyan dengan pandangan nanar. Pemuda yang berlari di sampingnya tak bergeming, pandangannya tajam tertuju ke depan tapi entah mengapa daya tarik yang sering ditimbulkannya kembali menghentak hati Daze yang terdalam. Daze memejamkan mata perlahan. Untuk melupakan Rathyan, ternyata bukan hal mudah.

Mereka sampai di samping mobil Rathyan yang terparkir di barisan paling depan. Rathyan membuka pintu di bangku yang bersebelahan dengan bangku kemudi.

"Masuklah .. ," katanya dengan sedikit mendorong Daze agar segera masuk ke dalam.

Daze menjatuhkan tubuhnya di bangku. Pakaiannya basah kuyup. Dia sibuk mengibas-ngibaskan jaket kulit yang membalut tubuhnya ketika Rathyan menjatuhkan diri di sebelahnya.

"Siap?" tanya pemuda itu.

Daze mengangguk dengan tubuh mengigil pelan. "Ne .. "

Rathyan menatapnya sesaat, kemudian dia berbalik dengan bertumpu di atas bangku yang didudukinya. Tangannya terjulur meraih sesuatu di jok belakang. Sebentar kemudian dia menarik kembali tangannya.

"Keringkan badanmu ... ," katanya sambil menyodorkan sebuah handuk besar pada Daze.

"O--gumawo .. ," Daze menerima handuk tersebut dengan tubuh agak menyusut. Perhatian mendadak dari Rathyan agak mengejutkannya.

Rathyan hanya mengangguk halus. Dia kembali ke posisi semula, memakai sabuk pengaman kemudian menghidupkan mesin mobil. Tak berapa lama Lotus merah tersebut meraung-raung meninggalkan tempat parkir.



***** ><><>< *****



Sampai di kantor Max Global, Rathyan menenggelamkan diri kembali dalam pekerjaannya. Tak diperdulikannya Daze yang memojok di meja kerjanya. Gadis itu mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Pakaian basah ditambah ruangan ber-AC yang cukup rendah membuatnya mengigil kedinginan.

Perlahan Daze mengarahkan pandangannya pada Rathyan. Digigitnya bibir keras-keras. Seluruh tubuhnya bergetar hebat. Tubuhnya terasa panas dingin. Setengah jam berlalu sudah, dan keheningan dalam ruangan tersebut tiba-tiba dileburkan oleh deringan telepon dari meja Rathyan.

Kring ... kring .. kring ...

Daze melirik Rathyan. Pemuda di hadapannya tak berpaling sedikitpun dari pekerjaannya. Daze menarik nafas perlahan. Dengan tangan gemetar dia menekan tombol masuk yang terhubung langsung dari nomor Rathyan.

"Hallo, this is Max Global. What can i do for you?"

"Hy--" terdengar sahutan serak dari seberang. "Saya Oliver Jang--tolong sambungkan ke majikanmu!"

"Pak .. pak direktur ... ?" seru Daze kaget. Dia sama sekali tak menyangka orang yang menelepon semalam ini adalah majikan tertingginya. Dengan gugup dia berpaling pada Rathyan yang sekarang sudah menatap kearahnya.

"Ne! Jika dia tak mau dengar, katakan padanya--aku akan terbang sekarang juga ke Korea!!! kata Oliver tegas.

"Ne ... " sambil membalas pandangan Rathyan, Daze menunjuk telepon di tangannya. "Pak direktur ... ," katanya dengan nada pelan.

Rathyan menghembuskan nafas sambil memberi tanda dengan tangannya. "Sambungkan padaku!!"

"Ne .. " Daze menunduk kemudian menekan tombol merah di teleponnya.

Tak berapa lama, hubungan tersambung ke nomor Rathyan. Pemuda itu segera mengangkat gagang telepon kemudian merapatkan ke telinganya.

"Ya?"

"Appa bisa menghadiri 1st annivesary nya Max Global cabang Korea ... ," kata Oliver tanpa tedeng aling-aling. " .. dan Jennifer juga ikut dengan appa ... "

"What?!" Rathyan tersentak dari tempatnya. "Untuk apa dia kemari?"

"Dia tunanganmu, Rath. Sudah seharusnya kita mengumumkan statusnya di depan umum ... "

"Aku tak pernah menyetujui keinginanmu itu!!" dengus Rathyan.

"Kalian bersahabat sejak kecil dan keluarganya juga sepadan dengan kita. Suka atau tidak, kau harus menerimanya!"

"Persetan dengan keputusanmu!!!!"

Brakkk!!! Rathyan menghempas gagang telepon di tangannya ke atas meja. Suara benturan keras menghentak Daze. Bibirnya yang gemetaran langsung terbuka lebar.

"Ke .. kenapa?"

Rathyan tak menjawab. Tubuhnya diayunkan keras-keras ke belakang sehingga menimbulkan bunyi berderek dari kursi yang didudukinya. Wajahnya menengadah ke atas dengan sepasang mata terpejam rapat.

"Kau .. tak apa kan?"

Perlahan Daze berdiri dari tempatnya. Kepalanya terasa pening. Dia mengangkat tangan dan menekan jidatnya. Agak sempoyongan dia mendekati meja kerja Rathyan.

"Rath ... "

Rathyan membuka mata. Sesaat dia memandang nanar langit-langit ruangan bercat putih, kemudian dia menegakan tubuh dan dengan cepat bangkit dari kursinya.

"Kita pulang sekarang!!!" katanya tegas sambil memutari meja kerja dan menarik tangan Daze. Tapi alangkah terkejutnya dia, ketika Daze langsung ambruk kearahnya. "Hey---Dazya!!"

Daze membuka mata perlahan. "Di .. dingin .. dan panas ... saya rasa ... saya demam ... "

Rathyan tersentak. Gelabakan, dia menepuk pipi Daze berulangkali buat menyadarkannya begitu dilihatnya sepasang mata gadis dalam pelukannya terpejam kembali.

“Daze Han!!! Jangan menakutiku, buka matamu!! Gwencana??!!” Dia menguncang tubuh Daze. Sikapnya dinginnya tadi musnah seketika. Hatinya terguncang hebat, apalagi wajah Daze terlihat sangat pucat. “Daze Han!!! Bangun!!”

“Grrrr!!” Daze mengigil kedinginan. Tubuhnya bergetar seperti orang kejang-kejang. “Dingin …. Dingin .. “

“Dingin? Tunggu sebentar!!” Tergesa-gesa Rathyan membuka kancing kemeja dengan sebelah tangan. Setelah terbuka seluruhnya, dia melepaskan kemeja tersebut dari tubuhnya kemudian memakaikannya ke tubuh Daze. “Apa agak baikan?” Berulangkali tangannya mengosok-gosok lengan Daze. “Gimana? Gwencana?”

Daze membuka mata kemudian tersenyum perlahan, sangat samar dan rada susah. “Gumawo.. “

Dipandang seperti itu oleh Daze, Rathyan tersadar akan perbuatannya yang rada tak wajar. Bukankah dia sangat membenci gadis ini? Dia sudah merubah segala kehidupannya, jadi mengapa dia masih begitu perhatian terhadapnya?

Rathyan segera membuang muka kearah lain. “Bagus kalau tak apa-apa. Jika kau bisa jalan, aku akan mengantarkanmu pulang sekarang.. “

“Hmm—tapi .. pekerjaanmu …. ,” kata Daze lemah.

“Tak perlu khawatir. Aku bisa menyelesaikannya di rumah.,” sahut Rathyan tanpa menatap Daze.

“Miane … ,” ucap Daze penuh penyesalan. “Karna saya … “

“Jangan kegeeran, Daze Han!!” sela Rathyan. “Saya memutuskan pulang bukan karena kau, tapi lebih karna masalahku dengan orang tadi .. ,” dia menunjuk telepon yang masih tergeletak menyedihkan di atas meja dengan tampang garang.

“Abojimu .. ?” tanya Daze ragu-ragu. Ekspresi Rathyan membuatnya ngeri. Sepertinya pemuda ini tak begitu akur, atau, bahkan boleh dikatakan, sangat membenci pria di telepon tadi.

“Jangan mengungkitnya lagi!!!” teriak Rathyan. “Kuperingatkan, Daze Han!! Jangan sampai berurusan dengan orang itu!! Kau dengar?!”

“Ne … ,” Daze menyusut sedikit dari posisinya sehingga tubuhnya jadi agak limbung ke samping. Bisa dimaklumi, keadaannya memang belum sadar benar.

Rathyan langsung meraih badannya. “Sebaiknya kau minum obat dulu. Aku akan mengambilkan obat buatmu. Tunggu di sini .. “ Sebelum Daze membantah, Rathyan sudah berlalu ke seberang ruangan.

“Aku tak ingin kau berurusan dengannya. Sungguh aku tak ingin kau berurusan dengannya .. ,” Rathyan mengulangi perkataan tadi beberapa kali sewaktu mengeledah obat yang cocok buat dikonsumsi Daze. Nadanya lebih seperti desahan dan pengharapan yang menyayat.

Beberapa saat kemudian dia kembali lagi dengan dua butir obat dan segelas air tergenggam di tangan. Dia membantu Daze meminum obat tersebut kemudian membantunya berdiri dari lantai.

“Are you sure you can do it?”

“Yes .. ,” jawab Daze yakin. “I feel better now .. “

Rathyan masih terlihat ragu-ragu untuk beberapa saat. Tapi setelah Daze mendesak dengan memastikan bahwa dia benar-benar sudah baik barulah dia menuntunnya keluar dari ruangan tersebut.



***** ><><>< *****



Daze memasuki Han’s mansion dengan pikiran menerawang. Pengaruh obat yang diberikan Rathyan mulai bekerja. Dia merasa ngantuk dan tubuhnya seperti melayang-layang di atas awan, seringan kapas.

“Dazya … “

Panggilan tersebut samar-samar memasuki telinga Daze. Dia memutar tubuh perlahan. Ternyata yang memanggilnya adalah omma.

“Omma … “

“Kenapa pulang selarut ini?”

“Oh—“ Daze menyentuh bagian belakang tenguknya. “Pekerjaanku terlalu banyak, omma .. “

“Gwencana?” Omma mendekati Daze dengan ekspresi khawatir.

“O—gwencana .. ,” Daze tertawa lebar.

“Syukurlah.” Omma mengangguk lega. Lalu sesuatu teringat olehnya. “O ya—obatmu sudah diantar suster Park kemari … “

“Obat?” Alis Daze berkerut. “Obat apa?” ulangnya tak mengerti.

“Tentu saja obat tidurmu—“ sahut omma keheranan. “Apa kau benar, tak apa-apa, Dazya?” tanyanya ragu-ragu.

“Oh—itu .. “ Daze membuka mulut lebar-lebar. “Gumawo omma … ,” lanjutnya dengan nada pelan yang hampir tak terdengar.

Dia terpana. Ya, obat tidurnya. Sudah berapa lama dia tak menyentuh pil-pil tersebut? Dia tak ingat lagi. Mungkin dua atau tiga hari. Pekerjaan-pekerjaan berjubun yang dilimpahkan Rathyan padanya membuatnya lupa segalanya, termasuk insomnia yang diidapnya selama setahun terakhir.

Apakah benar pekerjaan-pekerjaan menumpuk itu yang menjadi penyebabnya, ataukah orang yang sering hadir dalam mimpinya itu sendiri yang sudah kembali dalam kehidupannya? Daze tak tahu sebenarnya aspek mana obat paling manjur bagi penyakit insomnianya selama ini. Dia mendesah kemudian mengangguk kearah omma.

“Good night, omma … “


=========


_________________


♥️ "Everywhere ★ we learn ★ only from ★ those whom ★ we love" ♥️
avatar
DragonFlower

Posts : 94
Join date : 2013-06-17
Location : | Trapped in CNBLUE Dorm |

View user profile

Back to top Go down

Re: from Seoul to ... Perth-- by Lovelyn

Post by DragonFlower on Wed Jun 26, 2013 4:20 pm





from Seoul to ... Perth--
Chapter Fifteen

By : Lovelyn Ian Wong



Additional Casts :

Chow Yun Fat as Oliver Jang

Janice Man as Jennifer White

Park Bom 2EN1 as Isabelle Ting

Sandara Park 2EN1 as Nona Kim



Daze membuka mata perlahan, tapi segera ditutupnya kembali. Kepalanya terasa berat dan pandangannya berkunang-kunang. Dia memijat-mijat jidatnya guna menghilangkan rasa pening yang tiba-tiba dirasakannya. Namun, usaha tersebut sia-sia saja.

Beberapa menit berlalu, Daze membuka mata dan berusaha bangkit dari ranjang. Tapi, sepasang tangan tiba-tiba terjulur dan menekannya berbaring kembali di atas kasur.

"Kau tak boleh bangun, Dazya!! Tahu nggak, kau lagi demam??! Demam tinggi!!" seru pemilik sepasang tangan tadi.

Daze memicingkan matanya, berusaha melihat siapa orang itu. "Omma ... ," panggilnya lirih. Suaranya terdengar sangat lemah dan hanya berupa desahan pelan. Sekuat tenaga dia menyangga tubuh dan bangkit dengan posisi duduk.

"Berbaringlah kembali!!" sahut omma tegas. Namun dengan nada lembut.

"Tapi .. ," bantahan Daze terhenti. Dengan susah payah dia menelan ludah buat membasahi tenggorokannya yang terasa kering dan gatal. Dia terbatuk-batuk keras kemudian menjatuhkan tubuhnya kembali di atas ranjang, baru kemudian melanjutkan perkataannya yang tertunda tadi. "Sa .. saya harus ke .. kantor, omma ... Banyak pekerjaan ... yang menantiku ... "

"Omong kosong!!" dengus omma. Dia memberi isyarat kepada Daze untuk tak bergerak. Segera ditariknya selimut, menyelimuti tubuh yang terbaring lemah itu. "Bos apa yang memaksa karyawannya bekerja dalam keadaan begini?!!"

"Di .. dia tak memaksaku ... Hanya .. aku ... "

"Cukup! Kau harus istirahat dan tak boleh turun dari ranjang .. ," omma mengerak-gerakan telunjuknya dengan raut serius. "Omma sudah mengambilkan cuti buatmu jadi kau tak perlu khawatir. Tuan Yoon berjanji akan menyampaikannya ke bosmu yang sekarang. O ya--kau pindah departemen, kenapa tak beritahu omma?"

Daze tersentak. Matanya yang sempat terpejam, terbuka lagi. "I .. itu ... " Dia mengigit bibir. Bagaimana caranya menjelaskan ini kepada omma?

"Ah--sudahlah, kita bicarakannya nanti saja!!"

Daze langsung bernafas lega begitu omma membatalkan pertanyaan yang jawabannya tak mampu diberikannya.

"Yang penting sekarang adalah istirahat .. ," lanjut omma sambil menyelipkan selimut yang sedikit tersibak dari tubuh Daze.

"Omma ... ," desah Daze. Suaranya terdengar serak dan putus asa. Dia tahu, kali ini omma tak bisa dibantah. DIA HARUS ISTIRAHAT!

"Apa perlu omma panggilkan dokter Kim?" tanya omma beberapa saat kemudian.

"Tidak usah .. ," ujar Daze sambil memejamkan matanya. "Cukup minum obat kemudian tidur. Saya akan segera sembuh .. "

"Kau yakin?" tanya omma tak percaya.

"Ne ... " Daze berusaha tersenyum. "Saya hanya demam biasa. Kedinginan karna tersiram hujan kemarin. Nggak apa-apa ... "

"Tapi ... "

"Sungguh omma .. ," sela Daze cepat.

Omma mendesah kemudian mengelus kepalanya. "Baiklah kalau begitu. Omma akan mengambilkan obat untukmu. Setelah minum, beristirahatlah!"

"Gumawo .. ," suara Daze memelan. Sebentar saja dia sudah tertidur pulas, sampai omma kembali lagi dengan membawakan obat dan segelas air buatnya.


***** oOo *****


Tok .. tok .. tok ...

"Masuk!"

Agak ragu, wanita bertubuh semampai dengan anting-anting bergelantungan di telinga itu memasuki ruang kantor Rathyan.

"Jadwal buat hari ini, pak ... ," katanya pelan, sambil meletakan secarik kertas yang terjepit dalam map file ke atas meja.

Perhatian Rathyan teralih dari monitor komputer. Alisnya berkenyit. Suara ini bukan suara yang ingin didengarnya! Dia mengangkat wajah dan memandang ke wanita di hadapannya.

"Kau?!!"

"A .. apa perlu kubacakan jadwalnya, pak?" tanya si wanita, nona Kim, ketakutan. Ditatap sedemikian rupa oleh Rathyan, membuatnya gentar. Dia mundur perlahan.

Rathyan melebarkan matanya. "MANA SEKRETARISKU??!!!"

"Sosoengheyo, pak direktur ... ," Nona Kim membungkukan badannya. "Dapat kabar dari tuan Yoon Hye Bin, kepala departemen keuangan, tadi, bahwa Nyonya Han menelepon pagi-pagi sekali, ngambil cuti sehari buat nona Daze ... "

"Cuti?" Rathyan berdiri dari kursinya. "Cuti apa?"

"Katanya nona Daze sakit demam sehingga tidak bisa masuk hari ini ... "

"Mwo?!!" Mata Rathyan terbelalak lebar.

"Itu yang dikatakan tuan Yoon, pak ... " Nona Kim semakin menyusut dari posisinya.

Hening beberapa saat. Rathyan berjalan kembali ke kursinya. "Araso. Kau keluarlah!"

"Ne!" Wanita itu membungkuk hormat, untuk kemudian, terburu-buru berjalan kearah pintu.

"Tunggu sebentar!"

"Ne?!" Nona Kim memutar badannya dan menghadapi Rathyan. "Apa ada masalah lain, pak?"

"Tuan Park sudah sampai?"

"Belum, pak .. Kalau tak salah tuan Park akan tiba bersama pak presiden besok pagi .. "

Rathyan mengangguk. "Nona Kim, ... " perkataannya terhenti. Dia terlihat ragu-ragu.

"Ya, pak?"

"A .. apakah kau tahu .. dokter keluarga kami di Seoul ini?"

"Ne .. ," jawab nona Kim cepat. "Saya pernah memanggilkannya buat pak presiden beberapa bulan yang lalu. Dia dokter Jung Jae Joon dari rumah sakit Seoul ... "

"Bagus!" Rathyan mengatupkan sepasang tangannya. "Panggilkan dia buatku. Suruh dia ke alamat ini ... "

Dia mengeledah sesuatu di atas meja, setelah dapat dilemparkannya pada nona Kim.

"Alamat paling akhir. Secepatnya!" lanjutnya tegas.

"Ne ... " Nona Kim mengambil buku yang mencatat identitas para wartawan itu kemudian membungkukan badannya.

"Satu hal lagi, Nona Kim?"

"Ya, pak?"

"Setelah morning meeting, aku akan keluar sebentar. Jadi jadwal sebelum lunch batalkan semuanya. Terus, untuk jadwal selanjutnya biar kulakukan sendiri, tak perlu kau temani. Morning meeting juga, kau bantulah direktur yang lain ..."

"Ne. Masih ada perintah lain, pak?"

"Tidak. Keluarlah!!"

"Ne .. " Sekali lagi Nona Kim membungkukan badannya kemudian keluar dari ruangan tersebut.

Rathyan menghempaskan tubuh ke sandaran kursi. Dia menghela nafas sambil menerawangkan pandangan ke langit-langit ruangan. Perlahan matanya terpejam.


***** oOo *****


Omma membuka pintu depan dan mendapati seorang pria paruh baya berkacamata tebal berdiri di depan sambil tersenyum padanya.

"Anyongheseyo, Nyonya Han ... ," sapa pria tersebut sambil mengangguk kecil.

"Anyongheseyo .. ," balas omma dengan alis berkenyit. "Sosoengheyo, anda ini siapa?"

Pria itu melebarkan senyumnya. "Saya dokter Jung Jae Joon. Seseorang mengutusku ke sini buat memeriksa keadaan nona Han ... "

"Daze?" tanya omma. Alisnya berkenyit semakin dalam.

"Ne. Nona Daze Han."

"Tapi .. siapa yang mengutus anda? Aneh sekali ... " Omma bergumam sendiri.

"Orang itu majikan nona Han. Dia menyuruhku memastikan kesehatan nona Han baik-baik saja baru boleh pergi. Jadi sekarang Nyonya, dapatkah saya masuk dan memeriksanya?"

"Oh--" Omma membuka mulut dan memandangi pria itu dengan penuh selidik.

"Nyonya tak mempercayaiku?" tanya si pria sambil tersenyum. "Itu wajar ... " Kemudian dia mengeledah tas besar yang dibawanya dan mengeluarkan sebuah kartu nama. "Ini, nyonya ... " Dia menyodorkan kartu nama tersebut pada omma.

Ragu-ragu, omma menerimanya.

"Dokter Jung Jae Joon dari Seoul Hospital?"

"Ne .. ," pria itu mengangguk.

"Jadi benar anda seorang dokter?"

"Tentu saja .. ," jawab dokter Jung menyakinkan.

Omma mengangguk. "Baiklah, kalau begitu masuklah dokter Jung .... "

Omma memberi jalan dan menyilahkan dokter Jung masuk ke dalam rumah.

"Ghamsamida .. "

Dokter itu membungkukan badannya kemudian masuk ke dalam. Dengan diantar omma, dia dibawa ke lantai atas, ke kamar Daze berada.


***** oOo *****


"Gimana, dok?" tanya omma cemas setelah dokter Jung selesai melakukan tugasnya memeriksa Daze.

Dokter Jung memasukan alat-alat kedokterannya ke dalam tas, setelah itu dia tersenyum pada omma.

"Tak apa-apa. Dia cuma demam biasa ... "

"Sudah kubilang kan?" sela Daze. Matanya terpejam perlahan. "Sudah kubilang tak perlu cemas. Aku hanya demam ringan .. "

"Tapi panasmu sangat tinggi tadi pagi!!" bantah omma. "Tolong diperiksa dengan seksama, dok!"

"Sudah kuperiksa seteliti-telitinya, Nyonya. Tak perlu khawatir, seperti yang dikatakan nona Han, dia hanya sakit ringan. Lagipula demamnya sudah turun dan mencapai titik normal .. "

"Jeongmal?" tanya omma sambil menyentuh kepala Daze. "Oh--benar .. "

"Yang saya butuhkan sekarang hanya istirahat yang cukup, omma ... ," kata Daze pada omma. Kemudian dia membuka matanya dan beralih pada dokter Jung. "Thanks, dok ... "

"Sama-sama, agashi." Dokter Jung mengangguk halus. "Kalau mau berterimakasih, berterimakasihlah pada tuan Jang!" dokter setengah baya itu mengedipkan matanya.

"O--" Daze mendesah. "Arasoyo. Ghamsamida, dok .. "

Dokter Jung mengangguk. Dia menepuk lengan Daze. "Beristirahatlah, anda sudah baikan dan saya akan melaporkannya pada tuan Jang .. ," kemudian dia berpaling pada omma. "Saya pamit, Nyonya. Resep yang saya kasih itu jangan lupa ditebus. Tapi saya rasa tak berguna lagi, agashi kelihatannya sudah benar-benar sembuh. Namun, ya .. tak apa-apa la untuk berjaga-jaga. Jangan-jangan demamnya kambuh lagi."

"Saya antar anda keluar, dok .. ," kata omma sambil bangkit dari ranjang Daze yang sedari tadi didudukinya. "Sekali lagi ghamsamida ... "

"Sama-sama, Nyonya .. "

"Silahkan .. " Omma mengerakan tangannya, mempersilahkan dokter Jung keluar duluan. Baru tiga langkah, mendadak dia menoleh pada Daze. "O ya--Dazya, siapa sebenarnya majikanmu barumu itu? Kok dia baik banget?"

"Oh--" Daze tersentak. Matanya yang sudah terpejam, terbuka kembali. "Dia .... "

"Nyonya jadi mengantarku?"

Pertanyaan dokter Jung memutus jawaban tersendat-sendat dari Daze. Omma menoleh kearah dokter Jung, dengan kikuk dia berseru.

"Oh--tentu! Tentu saja, dokter Jung. Mari ... sebelah sini .."

Daze bernafas lega setelah bayangan omma disertai bayangan dokter Jung menghilang dari pelupuk matanya. Perlahan dia menarik selimut, memejamkan mata dan membalut tubuhnya rapat-rapat.


***** oOo *****


Rathyan menghentikan porche hitamnya di alamat yang dituju. Rumah itu tak begitu besar. Halaman depannya ditanami beberapa jenis mawar yang mulai mekar.

"Tak berubah ... , masih menyukai mawar seperti dulu …. ," desisnya pelan.

Selama beberapa saat pandangannya tak berkedip tertuju ke rumah itu. Setengah jam berlalu dan dia belum bergerak dari posisinya. Mentari siang makin tinggi tergantung di langit dan sinarnya terik membakar kulit. Rathyan melirik jam tangan--pukul 12:30 siang. Dia menghela nafas kemudian membuka pintu dan keluar dari mobil. Sudah saatnya dia melakukannya!

Rathyan berjalan dengan langkah tegap menuju rumah itu. Tangannya terkepal. Setelah sampai, entah mengapa dia menjadi ragu sejenak. Tekad bulat yang sudah diambilnya agak goyah.

Dengan gerakan lamban, tangan Rathyan terulur kearah pintu. Dia mengetok pintu tersebut pelan-pelan. Tak ada yang menyahut ataupun membukakan pintu buatnya. Setelah menunggu sebentar, dia menekan bel yang terdapat di dinding sebelah pintu.

Drekk, pintu tersebut akhirnya dibuka. Rathyan mengangkat wajah perlahan. Raut yang sudah dihapalnya di luar kepala terlihat terbeliak lebar, mempelototinya dengan ekspresi tak percaya. Telunjuk wanita itu tertuju padanya dengan mulut terbuka lebar.

"KAU?!!" jeritnya histeris. "Bagaimana mungkin?!!"

Rathyan mengangguk pelan. "Anyongheseyo, Nyonya Han ... "

"UNTUK APA KAU KEMARI?!!" Omma mendorong tubuh Rathyan. "Kenapa sampai muncul mendadak di sini? Apa yang kau inginkan?!! Menyakiti Daze lagi?!!! Belum cukup penderitaan yang kau berikan padanya, pemuda berengsek?!!!!"

Rathyan tak menjawab. Dia berdiri tak bergeming. Sepasang matanya tak berkedip, kosong tertuju ke depan.

"KENAPA TAK MENJAWAB?!! Kenapa membisu saja?!! Begini yang bisa kau lakukan?!!"

Rathyan tetap membisu di tempatnya.

"JAWAB AKU, ANAK MUDA, apa yang kau inginkan?!!" Omma menguncang tubuh Rathyan. Handuk kecil yang dipegangnya--yang tadi digunakan untuk membasuh wajah Daze, dilemparkan ke wajah pemuda itu. "Bisakah kau melepasnya?! Bisakah kau melepaskan Daze?! Biarkan dia sendiri. Anggap aku memohon padamu," omma menekan-nekan dadanya. "anggap orang tua ini memohon padamu, jangan ganggu putriku lagi. Dia bukan mainanmu. Dia tak kan sanggup menahan penderitaan kembali jika kau sampai menyakitinya. Tahukah kau kalau dia mengidap insomnia setelah perpisahan kalian? Jadi kumohon, pergilah, .. pergi dari hidupnya ... "

Rathyan mengepalkan tangannya. Perlahan dia mundur ke belakang.

"Kau dengar perkataanku?!!!! Kau mengerti kan?!!!" teriak omma.

Rathyan tak menyahut. Pandangannya hampa dan datar, sementara kakinya terus bergerak ke belakang.

"RATHYAN JANG?!! APA KAU DENGAR PERKATAANKU?!! APA KAU MEMAHAMINYA?!!" jerit omma.

Rathyan berbalik. Dengan sepenuh tenaga, luapan perasaannya dilampiaskan ke pot bunga besar di serambi depan. Ditendangnya pot bunga tersebut sehingga menimbulkan bunyi keras.

Brakkk!!! Pot malang itu oleng jatuh ke lantai, berguling-guling kemudian membentur pot bunga yang lain.

Omma terperanjat. Kebingungan, dia menatap punggung pemuda itu sampai menghilang ke dalam Porche hitam yang terparkir beberapa meter dari situ.

Apa yang terjadi dengan anak gila itu? Mata omma menyipit. Kakinya—Apa yang dirasakannya setelah menendang begitu keras pot bunga dari keramik tebal itu? Apa tidak sakit? Omma bertanya-tanya sambil mengeleng-gelengkan kepalanya. Beliau masih mengikuti Porche yang meraung-raung di depan sampai lenyap dari pandangan dalam sekejap.


***** oOo *****


Pintu lift terbuka setelah sampai di tingkat paling atas gedung Max-Global. Rathyan keluar dengan tampang kusut. Perutnya keroncongan, dan dia belum sempat mengisinya setelah pergi dari Han’s mansion. Mendapat sambutan tak enak dari omma membuat selera makan siangnya lenyap seketika.

Waktu sudah menunjukan pukul dua siang kala itu dan meeting dengan Lighter Z akan segera dimulai. Dia lebih tak punya waktu lagi sekarang. Rathyan berjalan dengan langkah tegap menuju ruang kantornya yang terletak paling ujung. Beberapa karyawan di tingkat itu segera membungkuk hormat begitu berpapasan dengannya.

Langkah Rathyan tiba-tiba terhenti ketika mendapati keberadaan Nona Kim di depan pintu ruang kantornya. Wanita itu memeluk setumpuk dokumen di tangannya. Hanya sesaat, Rathyan meneruskan lagkahnya lagi, melewati Nona Kim dengan acuh.

“Ngapain kau masih di sini?” tanyanya sambil lalu—tanpa berpaling. Dia membuka pintu dan masuk ke dalam.

Nona Kim kelihatan tersentak kaget karena tak menyadari kehadiran majikan yang ditunggunya di situ.

“Pak .. pak direktur … “ Terburu-buru Nona Kim mengejar Rathyan. “Saya .. saya membawakan materi-materi buat meeting nanti .. dan .. tamu dari Lighter Z sudah sampai di Board room .. “

“Letakan di atas meja!!”

Rathyan melepas jasnya kemudian menyampirkan ke sandaran kursi. “Kau boleh keluar sekarang. Aku tak membutuhkanmu dalam rapat nanti!” katanya sambil menjatuhkan diri di kursi.

Rathyan menarik beberapa dokumen dari atas meja dan mulai mengamatinya.

“Tapi pak … “

Perkataan Nona Kim segera terputus begitu Rathyan mengangkat wajah dan memandangnya dengan tatapan dingin yang teramat menusuk.

“Apa kau tuli?!! Aku bilang—TAK MEMBUTUHKANMU LAGI!! Apa tak jelas??!!! Keluar dan jangan mengusik-ku!!! Tentang materi-materi buat meeting, taruh saja di atas meja. Aku akan menyortirnya sendiri.”

“Tapi pak, ada beberapa .. “

Nona Kim masih berusaha membantah tapi segera dibungkam oleh teriakan kesal Rathyan.

“Jika kau tak memastikan telingamu masih berfungsi dengan baik, sebaiknya kau mengundurkan diri dari Max-Global. Aku tak membutuhkan karyawan sepertimu!!”

“Mwo?” Nona Kim membelalakan matanya, kaget.

“Apa kau menganggapku terlalu bodoh untuk membedakan meeting-meeting mana saja yang harus kuhadiri?!!” hardik Rathyan tak sabar.

“A .. ahniyo .. “ Nona Kim menyusut ketakutan. “Sosoengheyo .. “

“Kalau begitu keluarlah!!” Rathyan mengibaskan tangannya.

“N … e …. “ Terburu-buru Nona Kim melesat keluar dari kantor Rathyan.

Pemuda itu mendengus, lalu menghempaskan dokumen di tangannya ke lantai. Setelah itu dia berdiri, membilah-bilah sebentar dokumen-dokumen yang tadi dibawakan Nona Kim kemudian menarik salah satunya. Dia mengambil jas dan memakainya. Setelah itu keluar dari ruangan, menuju ruang rapat di mana kolega-kolega bisnis dari Lighter Z sudah menunggunya.


***** oOo *****


”Thanks buat kerjasamanya, tuan Jang .. “

Tuan Moon, direktur utama dari Lighter Z, menyalami Rathyan dengan raut berseri-seri.

“Ide anda sangat hebat. Dan saya yakin ayah anda sangat bangga terhadap prestasi-prestasi yang sudah anda raih. Saya dengar sudah banyak yang anda lakukan dalam waktu beberapa bulan ini, termasuk di Amerika .. “

“Anda terlalu memuji-ku, tuan Moon .. ,” Rathyan tersenyum risih. “Yang kulakukan bukan apa-apa .. “

“Ah—anda terlalu merendah .. “ Tuan Moon tertawa kemudian menepuk lengan Rathyan.

“Tidak. Tidak. Anda yang terlalu berlebihan .. “ bantah Rathyan. Dia segera membungkuk pendek ketika melihat Tuan Moon bermaksud membuka suara lagi. “Terimakasih buat semuanya. Semoga kerjasama kita berjalan lancar .. “ Rathyan kembali menerima uluran tangan Tuan Moon, menyalaminya dengan ekspresi dibuat seramah mungkin. “Aku akan mengantar anda keluar .. “

“No, tidak perlu .. “ Tuan Moon menolak dengan halus. “Anda tak perlu mengantarku. Kami .. “ dia melirik rekan di sebelahnya. “ .. masih ada keperluan di gedung sebelah .. “

“Baiklah ..” Rathyan membungkuk perlahan. “Sampai ketemu lagi, Tuan Moon .. “

Tuan Moon membalas dengan anggukan pendek. Begitu juga dua rekan yang mengikutinya. Mereka keluar dari ruang rapat, dan diikuti Rathyan beberapa menit kemudian.

Tapi langkahnya terhenti di luar pintu. Rathyan tercengang. Sekitar dua meter di depannya sudah berdiri seseorang yang tak mampu dipercayai. Bagaimana mungkin?

Rathyan bergerak pelan, semakin mendekat kearah orang itu.

“Kenapa berada di sini?”

Daze tersenyum. “Aku harus menyelesaikan pekerjaanku!”

“Siapa yang menyuruhmu?!” dengus Rathyan. Kemudian dia mulai melangkah, sementara Daze mengimbanginya langkahnya. “Aku tak membutuhkan sekretaris berpenyakitan … “

“Saya sudah sembuh!” ujar Daze cepat. “O ya, terimakasih buat dokter yang kau panggilkan .. “

“Aku hanya tak ingin penyakitmu mempengaruhi pekerjaanku ..,” sahut Rathyan cuek.

Daze menghela nafasnya. “Ya—araseyo .. bagaimanapun aku harus berterimakasih padamu. Apapun alasanmu itu .. “

Rathyan mengangkat pundaknya. “Terserah!!”

“Biar kubawakan dokumen-dokumennya .. “

Tanpa menunggu persetujuan Rathyan, Daze langsung menyambar dokumen-dokumen dari tangannya. Rathyan menoleh, kaget. Tapi sebentar kemudian dia beralih kembali ke depan. Melangkah tanpa berpaling lagi kepada gadis yang berjalan agak di belakangnya.

“Selanjutnya meeting di luar. Tapi sebelum itu kita makan dulu. Saya sangat lapar karna belum makan siang .. “

Daze yang agak kesusahan mengimbangi langkah Rathyan mengangguk dengan nafas terengah. “Ne .. “

“Satu lagi—besok 1st anniversarynya Max-Global cabang Korea. Semua karyawan diharapkan hadir, tanpa kecuali. Jadi besok, kau juga harus hadir, ikut denganku!! Aku akan menjemputmu .. “

“Mwo?!!” langkah Daze terhenti. “Tapi …. “

“Sudah kubilang tanpa terkecuali!!” Rathyan berpaling dengan mimik kesal. “Araso?”

Daze mendesah, “Ne .. “


***** oOo *****


Sekitar pukul 7:30 malam ponsel di atas meja makan berbunyi. Daze mengulurkan tangan dan mengambil ponsel tersebut. Diperhatikannya sebentar, kemudian mengucapkan kata ‘Carlson’ begitu melihat omma memandanginya dengan raut menyelidik. Omma mengangguk dan Daze lalu menekan tombol accept kemudian mendekatkan ponsel tersebut ke telinga.

“Yeboseyo .. “

”Daze .. “. Terdengar suara Carlson dari seberang. ”Saya dengar dari tante, kau sakit. Bagaimana keadaanmu?”

“Baik .. ,” jawab Daze agak lemas. Dia berpaling pada omma yang sedang menikmati makan malamnya. Setelah menghela nafas dia berkata lagi, “Saya sudah baikan. Lalu bagaimana denganmu? Mian akhir-akhir ini saya tak ikut dengan mobilmu … “

”Tak apa .. ,” sahut Carlson. ”Saya tahu kau pindah ke departemen lain.”

Daze melirik omma. Huh—mengapa omma menceritakan segala-galanya pada Carlson?

“Pasti sangat sibuk ya?”

“Tidak juga .. “ Daze tersenyum pahit.

Carlson tertawa. ”Bagaimana suasananya? Apa lebih sulit dari departemen lama? Aku khawatir kau tak mampu menyesuaikan diri mengingat kau masih baru dalam perusahaan itu?”

“Lumayan .. ,” sahut Daze hambar. Ingin sekali dia memutus sambungan telepon ini, tapi lirikan-lirikan omma yang sesekali diarahkan padanya mengurungkan niat tersebut.

”O ya—besok 1 tahun anniversary-nya Max-Global, kau hadir?”

“Ne … “ Daze mengambil sendok dan mulai meminum supnya.

”Saya juga datang!!”

“Huekk—“ Perkataan Carlson membuat Daze tersedak. Dia terbatuk-batuk keras. Omma segera menyodorkan segelas air dan membantu Daze meminumnya.

“Gwencana?” tanya omma khawatir.

Daze mengangguk sambil terbatuk pelan. “Ne .. “ kemudian dia beralih pada Carlson. “Kau ke sana? mengapa?”

”Kami—gabungan dari beberapa perusahaan yang telah didonori Max-Global selama ini, bermaksud memberi ucapan selamat buat setahun berjayanya. Rangkaian-rangkaian bunga sudah kami persiapkan dan akan dikirim besok pagi.

“O—“ Daze membuka mulutnya. Terdengar sangat lemah.

”Bagaimana kalau kita berangkat bersama-sama besok, Dazya? Aku akan menjemputmu .. “

“Mwo?!!” teriak Daze. “Oh—aniyo!!” Dia mengeleng keras-keras. Mengapa dalam waktu beberapa jam dalam sehari, harus ada dua pria yang mengajaknya ke pesta yang sama?

”Kenapa?” tanya Carlson bingung.

“Pokoknya ANIYO!!” sahut Daze tegas. “Sudah Carls, saya lagi makan! Anyong!” dengan cepat diputusnya hubungan tersebut.

Tak memperdulikan pandangan bertanya dari omma, Daze kembali menyendok supnya kemudian memasukannya ke dalam mulut.


***** oOo *****


”Kenapa kaku begitu?” Alis Rathyan berkenyit.

Daze melebarkan matanya. Dengan gugup dia menarik tali gaunnya yang merosot ke bawah. “Aniyo .. “

“Tidak kaku?”

“Ne!!” sahut Daze.

“Lalu kenapa wajahmu sepucat itu?” sindir Rathyan. Daze tak menjawab. Perhatian Rathyan kemudian beralih pada gaun panjang yang dikenakan Daze, perlahan naik ke atas, kemudian berhenti di rambutnya yang terpangkas pendek. Selama beberapa detik dia tak bersuara. Setelah itu dia melangkah kembali, menuju mobilnya yang terparkir agak jauh dari Han’s mansion. “Aku tak suka model rambutmu yang sekarang .. ,” katanya sambil lalu.

Mata Daze terbelalak. “Mwo?!” Sejak kapan anak ini mampu mengajukan protes terhadapnya? Terutama pada penampilannya? Biasanya dia kan kayak orang buta—buta segala-galanya. Nggak perduli dan bisanya cuma ngeloyor pergi aja. Seingat Daze, hanya sekali Rathyan memprotes tegas sikapnya, yaitu ketika dia marah-marah tak karuan begitu bertemu dan melihat sikap Gretchell pada pemuda ini. Dan itu waktu di Perth, sudah setahun yang lalu. “Apa urusannya denganmu?” gerutu Daze pelan. Sangat pelan sehingga tak kedengaran oleh Rathyan.

Kau tak tahu bahwa … bagaimana aku menjadi malas memelihara rambut ini setelah perpisahan denganmu … Daze memperhatikan punggung Rathyan dengan pandangan nanar.

Mereka sampai di mobil Rathyan—sebuah Ferrari hitam yang berkilat-kilat dan kelihatan masih sangat baru. Daze kembali mengerutu dalam hatinya. Anak ini—kenapa gonta-ganti mobil melulu huhh—

“Apapun yang terjadi nanti—kau jangan bersuara! Cukup ikut saja denganku!” kata Rathyan sambil membuka pintu di sebelah pintu kemudi.

“Mwo?” Daze tertegun. “Waeyoo?”

“Masuk!” Rathyan mendorong pelan pundak Daze sehingga gadis itu masuk ke mobil, tanpa bermaksud menjawab pertanyaannya tadi. Daze memasang tampang kesal tapi Rathyan tak memperdulikannya.

Pemuda itu berputar ke arah pintu di sebelah bangku kemudi, membukanya kemudian masuk ke dalam. Sekejap saja mobil itu sudah meraung-meraung meninggalkan tempatnya.


***** oOo *****


Ruangan tempat perayaan 1 tahun anniversarynya Max-Global cabang Korea sudah dipadati orang. Kebanyakan dari mereka merupakan para karyawan Max-Global sendiri, sedangkan ada beberapa lagi partner kerja yang sudah melakukan kerjasama yang cukup erat dengan Max-Global selama setahun ini dan wartawan-wartawan dari berbagai media massa.

Para tamu masih terus berdatangan ketika Rathyan dan Daze memasuki ruangan. Daze mengekor Rathyan dengan susah payah. Gaunnya tersangkut beberapa kali. Sesekali Rathyan meliriknya dan memberi isyarat supaya Dia berjalan di sebelahnya tapi segera ditolak gadis itu dengan gelengan kepala. Daze tidak ingin kelihatan menyolok dengan berjalan berdampingan dengan orang besar ini apalagi di hadapan begitu banyak orang, terutama pers.

Seseorang menghampiri Rathyan dan Daze. Dia seorang pria bertampang kaku dan berpostur kurus. Sikapnya sangat hormat dan bisa dikatakan hampir sempurna.

“Doronim …. “ Dia membungkukan badan, 90 derajat di depan Rathyan.

Rathyan memandanginya malas dan berkesan datar. “Kau sudah berada di sini, berarti orang itu … “

“Ne, doronim … ,” sahut si pria perlente. “Pak presiden juga sudah berada di sini. Kami tiba dengan pesawat pribadi sekitar sejam yang lalu. Sekarang beliau sedang berbincang-bincang dengan beberapa partner bisnis di ruangan sebelah. Miss White juga datang bersama kami .. “

“Huh—“ Rathyan mendengus. “Buat apa dia .. “

“OPPA!!!”

Teriakan keras terdengar, memutus perkataan Rathyan. Bersamaan, dia dan Daze berpaling kearah suara itu. Alisnya langsung berkerut begitu mendapatkan seorang gadis berkulit putih dan berparas manis berlari kearahnya. Sepasang tangan gadis itu dikembangkan. Ekspresi Daze berubah. Tanpa perlu ditebak, dia mengerti maksud gadis itu—Dia pasti ingin memeluk Rathyan.

Gadis itu mengenakan gaun silver dari sutra lembut. Kulitnya yang putih terlihat semakin bersinar akibat pantulan dari gaun yang dikenakannya. Bagian dada di gaun tersebut terbuka sampai ke bagian perut, sementara rambutnya yang panjang dibiarkan terurai sampai ke pinggang.

Daze memandanginya dengan iri. Dulu, rambutku lebih panjang darinya. Bahkan lebih hitam dan lebat—namun, .. itu sudah lama sekali. Apakah baru setahun? Kenapa aku merasa sudah lama sekali …. , sudah bertahub-tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun …

“OPPA!!!”

Gadis itu sampai di depan mereka. Tangannya sudah hampir menjangkau leher Rathyan kalau tak segera ditepis pemuda itu.

“Apa maumu ikut ke sini? Tak punya kerjaan lain? Bagaimana dengan kuliahmu?”

“Oppa … ,” gadis itu memanjangkan bibirnya. “Uncle Oli yang memintaku ke sini. Lagian aku lagi libur. Apa oppa tak merindukanku?” tiba-tiba tangannya melingkar ke lengan Rathyan.

“Lepas!!” Rathyan mengibaskan tangannya dengan sedikit kasar. “Jaga sikapmu!!”

“Kenapa?” goda si gadis.

“Dengar Jennifer White, apapun yang dikatakan tua Bangka itu, aku tak akan pernah … “

“Rath—kau sudah datang??!!”

Seruan datar tersebut membuat mereka berpaling. Seorang pria setengah baya berpenampilan anggun dan berwibawa mendekati mereka.

“Tuan Park, siapkan semuanya!” kata pria tersebut pada tuan Park.

Yang diperintah segera membungkuk dengan hormat. “Agashimida, pak presiden .. “

“Tunggu sebentar!!” bentak Rathyan. “Mempersiapkan apa?” tanyanya dengan pandangan menyelidik.

“Seperti yang appa katakan padamu beberapa hari lalu .. ,” jawab Oliver kaku.

“Mwo?”

“Sudah jelas kan?” sahut Oliver tegas.

“Jangan lakukan itu!!” Rathyan membalas pandangan ayahnya tanpa berkedip.

“Appa sudah mempersiapkan segala sesuatunya dan hal ini sudah tak dapat ditunda lagi. Jennifer lulus tahun ini dan proyek ZigZag antara Max-Global dengan White Group akan segera dimulai. Pertunangan kalian diumumkan lebih cepat akan lebih baik … “

Rathyan tersentak—tak mengira kata pertunangan tersebut dikeluarkan juga oleh Oliver. Dengan cepat dia berpaling kearah Daze. Mulutnya terbuka perlahan. Wajah gadis itu terlihat pucat. Dia menatap Rathyan, namun hanya sesaat kemudian dia membuang muka kearah lain.

“Jadi bersiaplah! Tuan Park akan mengumumkan ini di depan massa setelah ucapan penyambutan dariku .. “

“Sudah kubilang jangan lakukan itu!!” bentak Rathyan. Suaranya mengelegar sehingga perhatian para tamu langsung tertuju padanya.

“Ada apa?” tanya suara-suara berisik dari para tamu.

“Tidak tahu!” sahut yang lainnya.

“Kelihatannya terjadi pertengkaran antara ayah dan anak itu!”

Orang-orang mulai mengerumuni mereka. Daze menyusut ke belakang, agak menjauh dari Rathyan dan berdesakan dengan yang lainnya. Dia tidak pergi karna memang belum ada perintah dari majikannya, Rathyan Jang. Namun sesungguhnya, hatinya sudah melayang ke tempat lain. Bertunagan? Benarkah? Nafasnya tertahan dengan berat.

“Kenapa?” tanya Oliver dingin. “Kau tak ingin proyek yang sudah kita susun berantakan gara-gara sepak terjangmu yang tak terkendali itu kan? Lagipula, apa kekurangan Jenny? Seharusnya kau bersyukur mendapatkannya!”

“Batalkan rencana itu!” sahut Rathyan tanpa memperdulikan perkataan-perkataan ayahnya.

“Kalau appa berkeras?!” tantang Oliver.

Rathyan mengatupkan gerahamnya. “Kurasa kau mengerti aku, Oliver Jang. Aku mampu melakukan sesuatu di luar perhitunganmu!”

“Seperti apa itu?!” tanya Oliver tak gentar.

Rathyan melirik Jennifer, kemudian beralih pada Oliver. “Coba saja kau mengumumkan rencana itu, maka kau benar-benar akan mengetahuinya. Lihat saja!”

Rathyan memutar tubuh membelakangi OIiver, kemudian dia melangkah cepat kearah Daze yang masih termangu di tempatnya. Disambarnya tangan gadis itu dan menariknya untuk mengikuti langkahnya.

“Pergi dari sini!” kemudian dia mempelototi orang-orang yang menghalagi jalannya. “MINGGIR!!” teriaknya dengan nada membunuh. Orang-orang itu langsung menyusut ketakutan.

“Dazya … “

Daze menoleh ke belakang. Ternyata seseorang yang dikenalnya berada dalam kerumunan para tamu.

“Carls .. ,” desah Daze putus asa.

“Mau ke mana?” tanya Carlson sambil menyeruak keluar dari kerumunan tersebut.

“Saya … akh … “

Rathyan berhenti sehingga Daze menabrak punggungnya. Agak tersenggal gadis itu meraba jidat dengan tangannya yang bebas, tak digenggam Rathyan. Kemudian diperhatikannya pemuda di depannya dan ternyata Rathyan sekarang sedang mengikuti arah pandangnya. Alis pemuda itu berkerut. Dia mengenal orang itu. Walaupun hanya lewat media massa dan foto di setiap proposal yang diajukan Korean Capital padanya. Ya, pria itu--orang yang dibencinya selama ini. Orang yang membuat hidupnya terantuk-antuk dalam kepahitan selama setahun terakhir. Pria yang untuk pertama kali menimbulkan perasaan iri di hatinya karna Daze lebih memperhatikan dan memilihnya daripada dia sendiri, Rathyan Jang—orang yang sudah mengorbankan segala-galanya. Dia—pria yang pernah mengisi hidup Daze, dan akan selalu mengisi hati gadis yang dicintainya. Dia—kekasih Daze, Carlson Kim, pemilik Korean Capital.

Tampang Rathyan mengeras. Genggamannya di tangan Daze dipererat. Sekali hentak, dia menarik Daze pergi dari situ. “PERGI!!”

“Dazya!!” Carlson berhasil keluar dari kerumunan para tamu yang saling berdesakan. Dia mengejar Daze namun segera terhalangi oleh benteng lain, benteng para pers yang mulai mengarahkan kamera-kameranya kearah Oliver Jang.

“Miane, Carls-a!!” Daze mengangkat dan melambaikan tangannya. Agak terhalangi oleh kerumunan-kerumunan di belakang. “Saya harus pergi sekarang. Akan kujelaskan semuanya nanti, .. bye … “

“Tapi …. “

Suara Carlson tenggelam dalam keberisikan di ruangan itu. Dia memiringkan kepala ke kanan dan kiri, tapi bayangan Daze dan pemuda yang menariknya sudah menghilang dari antara kerumunan para tamu.


***** oOo *****


Sementara itu, beberapa meter di belakang …

Oliver kelihatan sangat murka. Tampang mengeras. Saputangan yang digenggamnya kusut tak berbentuk lagi.

“Pak … ,” ujar tuan Park ragu-ragu. “Apakah …. “

“Batalkan semuanya!!” bentak Oliver garang.

“But uncle Jang .. “ Jennifer merengek di sebelahnya. Gadis itu meraih tangan Oliver dan melingkarkan tangan di lengan pria setengah baya itu. Mengerak-gerakan lengan tersebut dengan manja. “Dad minta diumumkan hari ini juga. Uncle Jang juga tahu kan kalau ini sangat diperlukan untuk memperkuat proyek ZigZag di mata masyarakat? Sahamnya akan segera beredar dan daddy ingin harganya terdongkrak drastis .. Dad bilang pertunangan ini akan segera diresmikan begitu kita kembali ke New York. Acaranya akan dilakukan besar-besaran dan aku sudah tak sabar lagi menanti hari itu … “

“Uncle tahu … ,” sahut Oliver dengan nada ditahan supaya terdengar lebih tenang. “Tapi kita tak bisa mengumumkannya tanpa kehadiran orang bersangkutan .. ,” kemudian dia berpaling pada tuan Park. “Acara dimulai tuan Park. Aku akan memberikan kata sambutan lima menit lagi .. “

“Tapi uncle Jang .. ,” suara Jennifer mendahului jawaban tuan Park.

Oliver mengangkat tangan memberi isyarat supaya gadis itu diam dulu. “Satu hal lagi, tuan Park .. “

“Ne, pak presiden?”

“Apa kau tahu siapa wanita itu?”

“Yang bersama doronim?” tuan Park balas bertanya.

Oliver mengangguk.

Tuan Park mengeleng perlahan. “Tidak … “

“Kalau begitu selidiki dia! Aku ingin tahu siapa dia! Rath kelihatan perhatian sekali padanya .. “

“Ne .. “ Tuan Park membungkuk hormat. Setelah itu si asisten pribadi melangkah dari tempat itu.

“Sebelah sini tuan-tuan dari pers .. “ Tuan Park menyilahkan orang-orang dari media massa yang mengelilingi Oliver Jang buat mendapatkan berita untuk mengikutinya. “Kami sudah mempersiapkan ruangan khusus buat kalian. Untuk pertanyaan-pertanyaan yang kalian ajukan, akan dijawab semua oleh pak presiden setelah kata sambutan selesai diucapkan .. “

Para wartawan yang haus berita itu melirik Oliver dan kemudian dengan terpaksa mengikuti tuan Park karna kelihatannya pemilik Max-Global itu tak akan mengatakan apa-apa saat ini.

“Uncle Jang … ,” Jennifer terdengar merengek kembali.

“Sorry dear, itu yang bisa uncle lakukan saat ini .. “ Oliver tersenyum pada gadis manja di sebelahnya. “Tapi uncle berjanji padamu. Rathyan milikmu, dan tak seorangpun dapat merebutnya dari tanganmu.”

“Jeongmal?”

“Ne .. “ Oliver kemudian mengelus kepala Jennifer. “Apa kau puas sekarang?”

“Ne .. “ Jennifer bergayut manja di tangan Oliver. “Saya bahagia dengan janji paman.” Katanya dengan nada tinggi, nada khasnya yang agak menganggu. “Saya yakin uncle dapat memegangnya? Benar kan?” tekannya menyakinkan.

“Tentu .. “

Oliver tertawa diikuti tawa puas dari Jennifer.


***** oOo *****


Rathyan dan Daze sudah berada di luar gedung Max-Global. Segelintir orang yang berlalu-lalang di situ tampak melirik kearah mereka, tapi hanya sebentar orang-orang tersebut segera kabur begitu mendapat pandangan menusuk dari Rathyan.

“Lepaskan aku!!” Daze mengibaskan tangan Rathyan.

“Hey—“ protes Rathyan.

“Apa maumu?!” teriak Daze.

“Bukankah seharusnya aku yang menanyakan ini?” balas Rathyan menusuk.

“MWO?!”

“Carlson Kim—aku akan menjelaskan semuanya padamu nanti?” mata Rathyan melebar.

“Mwo?!!” jerit Daze.

“Mesra sekali hubungan kalian!”

“MWO?!!” Untuk ketiga kalinya Daze meneriakan kata itu. Matanya membelalak seakan bola mata tersebut sudah bersiap meloncat keluar dari rongganya. “Apa maksudmu?!”

“Sudah jelaskan?!” dengus Rathyan.

“Lalu bagaimana denganmu?!” jerit Daze. “Pertunangan—apa itu lebih baik dari kata-kataku tadi?!!”

Rathyan terdiam, tak membalas. Rautnya berubah, dingin dan sangar. Dia memutar tubuh, dan … Plang!!! tanpa disangka kakinya diayunkan ke tiang besar penyangga gedung.

“Shittttt!!!!” teriaknya. “TAK ADA YANG BERES!!!”

Tangannya dikepalkan erat-erat. Sambil mengatupkan geraham rapat-rapat, dia berlalu dari hadapan Daze.

“YAA—MAU KEMANA?!” teriak Daze. “SAYA BELUM SELESAI DENGANMU!!”

Tapi teriakan-teriakannya tak dihiraukan pemuda itu. Rathyan membuka pintu mobilnya dan menghidupkan mesin. Pandangannya terpusat ke depan. Dalam hitungan detik Ferrari hitamnya sudah melesat pergi meninggalkan abu tipis di belakangnya.

“Anak sialan!!” gerutu Daze. “Emangnya cuma kau yang berhak marah?!” perlahan dia menghapus dua lapis air tipis dari pelupuk matanya. “Kau tahu apa yang kurasakan? Bimbang. Terkadang aku merasa kau masih mencintaiku, tapi di saat lain … kenapa kau seberengsek ini?!”


***** oOo *****


Hari minggu yang cerah, sehari setelah acara pembukaan Max-Global. Daze memejamkan mata—menghayati setiap dentingan nada yang begitu dicintainya. Hampir tiga bulan lamanya dia tak menginjakan kakinya di sini, sanggar balet ‘Thinker Belle’ yang dibuka sahabatnya sejak sekolah menengah, Isabelle Ting.

Musik yang terputar dari disk player di seberang ruangan itu menyentuh hati Daze. Berdenting-denting nyaring, mengingatkannya pada halmonie. Daze menyangga dagu dengan kedua tangan. Pikirannya menerawang, jatuh ke kotak musik pemberian halmonie saat dia berusia lima tahun, dimana di atas kotak tersebut terdapat seorang ballerina kecil yang sedang melakukan pirouette. Hadiah yang didapatnya setelah dia mengutarakan cita-citanya pada halmonie. Hadiah yang sangat dicintai dan dihargainya sampai sekarang. Hadiah yang sukses membuatnya menangis semalam suntuk karna rusak oleh kenakalan Dave. Dongsengnya itu menjatuhkannya dari lemari hias sehingga tak berbunyi lagi. Mau diperbaiki tapi tak pernah berhasil. Kata tukang-tukang yang pernah dimintai bantuannya, kotak musik itu sudah rusak berat, tak bisa diperbaiki lagi. Bagian dalamnya hancur lebur.

Daze membuka mata perlahan. Segerombolan anak kecil terlihat sedang bergerak luwes mengikuti irama musik di tengah ruangan. Beberapa anak mulai saling mendorong ketika salah seorang di antara mereka tak sengaja menginjak kaki partner di sebelahnya. Teriakan-teriakan nyaring saling menyalahkan diikuti isak tangis terdengar dari anak-anak yang rata-rata berusia tiga sampai lima tahun itu. Para orangtua mulai menghambur kearah mereka. Isabelle Ting berusaha merelai tapi percuma saja. Anak-anak tersebut mengila dan tak mau mengalah. Mereka saling menunjuk dan mengerak-gerakan tangannya sekalipun orangtua mereka sudah menarik tangan masing-masing. Isabelle menghapus keringatnya, tampak kewalahan. Teriakan-teriakan masih terus terdengar, membahana dalam ruang dansa tersebut.

Daze tertawa. Dia begitu mencintai suasana ini. Sekalipun anak-anak terkadang susah diatur, tapi mereka manis-manis semua. Dan jangan menanyakan mengapa dia sangat tenang melihat keadaan ini karna dia selalu mempunyai cara jitu dalam menangani kerusuhan anak-anak.

“Anak-anak!!” Daze menepuk tangannya. Dia berdiri dari lantai dan berjalan kearah tasnya. “Sonsaengnim punya permen, mau?”

Anak-anak langsung berpaling padanya. “MAU!!!” teriak mereka sambil menghambur kearah Daze.

Isabelle dan para orangtua tak diperdulikan lagi. Para wanita dan guru muda itu saling berpandangan. Sesaat kemudian mereka langsung tertawa lebar. Memang cuma Daze yang bisa diandalkan dalam menghadapi kericuhan dari bocah-bocah yang sulit ditangani ini. Entah mengapa anak-anak begitu dekat dengan Daze. Sekalipun Isabelle yang menawarkan permen-permen tersebut, belum tentu para bawel ini mau menerimanya, lain halnya dengan Daze. Senyumnya selalu membuahkan hasil. Para anak langsung runtuh dalam kelembutan-kelembutannya.

“Sonsaengnim, Lyan lupa ama gerakan tadi .. ,” ucap seorang gadis kecil berambut ikal dengan mulut mengelembung oleh permen. Dia menarik tangan Daze dan membawanya ke tengah lantai dansa dengan diikuti oleh anak-anak lain.

“Emang gerakan mana yang Lyan nggak bisa?” tanya Daze sambil tersenyum manis.

“Itu—yang berputar-putar .. ,” sahut Lyan dengan mulut diruncingkan dan telunjuk diputar-putar. Ekspresinya sangat mengemaskan sehingga membuat Daze tak tahan untuk tak mencubit pipinya.

“Yang itu—hmm, begini … “

Daze melebarkan tangannya. Di seberang ruangan, Isabelle kembali menghidupkan disk player, musik berdenting-denting kembali terdengar, sementara para orangtua balik lagi ke bangku masing-masing. Daze memejamkan mata dan mulai bergerak pelan. Semula perlahan, sampai ke gerakan berputar, tubuhnya meliyuk-liyuk dengan indah, bergerak dengan sangat luwes dan ahli. Walaupun sudah berbulan-bulan tak menyentuh balet, dia tak terlihat ragu sama sekali. Semua yang berada dalam ruangan itu, termasuk ahjuma yang sedang mengelap kaca, langsung bertepuk tangan riuh.

Isabelle menjatuhkan diri di bangku, bersebelahan dengan seorang ahjuma, ibu dari salah satu muridnya. Si ahjuma tiba-tiba mencolek lengannya.

“Han sonsaengnim sangat hebat .. ,” kata si ahjuma.

Isabelle memandang kearah Daze. Dia mengangguk. Sinar matanya berubah lembut seiring perhatiannya pada temannya itu, kemudian dia tersenyum. “Ya, dia sangat berbakat. Waktu di sekolah dulu, dia merupakan pemain utama di grup balet kami. Tapi sayang, setelah lulus dia terpaksa melepaskan segalanya .. “

“Kenapa?” tanya ahjuma keheranan. “Apa karna dia tak menyukai balet lagi?”

“Aniyo!” jawab Isabelle. “Dia sangat menyukai balet. Dari dulu sampai sekarang, Daze tetap mencintai balet. Karna cuma balet, peninggalan paling berharga yang selalu mengingatkannya pada halmonienya yang sudah meninggal … “

“O ya? Jadi kenapa dia meninggalkan hobinya ini?”

“Semula karna perusahaan orangtuanya .. ,” kata Isabelle dengan pikiran menerawang. “Keluarga Han tak punya penerus yang dapat diandalkan selain Daze. Tapi setelah perusahaan tersebut bangkrut, semua karna perjuangan hidup. Balet hanya bisa memberikan kepuasan batin padanya, tapi tidak dengan uang. Dia membutuhkan uang untuk kebutuhan-kebutuhan orangtua dan menyekolahkan adiknya yang baru tamat tahun ini … “

“Oh—ternyata perjuangan Han sonsaengnim sangat berat .. “ Si ahjuma mengangguk-angguk prihatin.

“Ya—“ Isabelle bangkit dari duduknya. “Semoga semua cepat berlalu. Saya harus melanjutkan pelajaran, Yoon ahjuma, permisi sebentar .. “

Si ahjuma mengangguk. “Ne .. “


***** oOo *****


”Thanks buat bantuannya, Dazya .. “ Isabelle menepuk pundak Daze.

Gadis yang sedang membereskan barang-barangnya itu berpaling. “Sama-sama .. Saya juga berterimakasih buat kesediaanmu menampungku menyalurkan hobi di sini .. ” katanya sambil tersenyum. Lalu dia berbalik dan dengan tergesa-gesa menyesakan semua barang ke dalam tas. “Aku terburu-buru, Belle-a. Kita bicara lagi nanti .. “

“Emangnya kau mau ke mana? Ini kan hari minggu, atau .. jangan-jangan .. ,” Isabelle tersenyum mengoda. “.. kencan ya?” tanyanya sambil menyenggol lengan Daze.

Daze tertawa. “Kencan? Ha .. ha ..”

“Iya, kencan. Dengan pria ganteng yang sering mengantarmu itu?”

“Carls?”

Isabelle mengangguk. “Dia direktur utama Korean Capital kan? Hebat kau, Dazya!”

Daze tertawa semakin keras. “Ha .. ha .. aku tak kencan dengan Carls kok .. “

“Chinja?” Isabelle terbelalak. “Tapi, waeyo?”

“Aku harus pergi sekarang!” Daze tersenyum tanpa menjawab pertanyaan-pertanyaan Isabelle. Dia menepuk lengan wanita yang sedang memandanginya dengan berjuta pertanyaan itu sambil menyampirkan tasnya ke punggung. “See you … “

“Hey—kau belum jawab pertanyaan-pertanyaanku!!”

Daze tak berbalik. Tangannya diangkat tinggi-tinggi dan melambai kearah Isabelle.

“Bye—“


***** oOo *****


”Ada apa?” tanya Daze begitu mendapati beberapa security sedang berbisik-bisik ramai di meja jaga gedung di mana ‘Thinker Belle’ terletak.

“Oh—agashi .. “ Para security itu segera membungkuk dengan hormat.

“Ada apa?” tanya Daze lagi sambil melirik keluar gedung.

“Ada seseorang yang mencurigakan, agashi .. ,” sahut salah satu security tersebut.

“Mencurigakan?”

“Iya,--“ sambung security lain sambil menunjuk keluar gedung. “Pria itu sudah berdiri lama sekali. Sekitar satu jam. Dia tak bergerak, menyandar terus di motorossnya.”

“O—“ Daze ikut memandang keluar, setelah itu dia tersenyum, mengangguk kecil dan melambaikan tangan kepada para security tersebut. “Sampai ketemu ajussi .. “

“Hati-hati, agashi!!”

Daze mengangguk. “Ne. Ghamsamida .. “ Lalu Daze melangkah keluar, lewat pintu yang sudah dibukakan oleh security termuda. “Ghamsamida .. “


***** oOo *****


Langkah Daze agak tersendat di depan pintu. Perkataan para security tadi menganggu pikirannya juga. Dia menengok kesana kemari dan akhirnya didapatinya orang yang dimaksud. Tubuh jangkung itu menyandar di sebuah motocross besar. Dia tak bergerak, hanya kaki kirinya yang memakai boots kulit mengais-ngais lantai dari semen. Rambutnya panjang dan awut-awutan, menutupi hampir seluruh wajahnya. Sedangkan jaket kulit dan celana jeans hitam membungkus ketat tubuhnya.

Wajah Daze berkerut. Dia sedang berpikir keras. Kenapa sosok itu terlihat tak asing baginya? Setiap gerak-gerik itu, terutama kakinya yang mengais-ngais lantai, kelihatan sangat familiar. Di mana dia pernah melihatnya?

Merasa diamati, sosok itu bergerak. Kepalanya berputar perlahan, kearah Daze. Mata Daze langsung terbelalak lebar.

“Rath??!!” serunya, hampir berteriak.

Rathyan menegakan badannya dan menghadap kearah Daze. Dia tak bersuara. Ekspresinya terlihat hampa, menatap Daze dalam kebisuan.

“Untuk apa kau kemari?” hardik Daze. Dia masih kesal pada pemuda ini. Kesal karna dia meninggalkannya begitu saja kemarin. Kesal karna dia selalu bersikap begitu. Kesal karna dia mendatangkan terlalu banyak pertanyaan dan kebimbangan dalam hatinya. Kesal karna … ya, karna segala-galanya. Kekesalan yang membuatnya ingin berteriak, memarahinya habis-habisan saat ini. “Bukankah kau paling pintar melarikan diri? Buat apa mencariku lagi?! Pergi! Aku tak ingin melihatmu!!! Kau, pemuda berengsek!!”

Rathyan tak bereaksi. Dia tetap berdiri kaku dengan pandangan tak berkedip tertuju pada Daze.

“Kenapa?” seru Daze ragu-ragu. “Kenapa tak menjawabku?”

Rathyan tetap berdiri di tempatnya.

“Ada apa?” Daze dibuatnya semakin kebingungan. Apalagi melihat raut pemuda itu semakin hampa, seakan menanggung beban yang sangat berat.

“Rath?”

Rathyan bergerak sedikit, kemudian dia mengambil salah satu helm yang terletak di motornya dan menyodorkannya kepada Daze. “Naiklah .. “

“Mwo?”

“Temani aku ke suatu tempat .. ,” kata Rathyan pelan.

“ke .. ke mana?” tanya Daze gugup. Kekesalannya tadi sirna begitu saja tanpa disadarinya sama sekali.

“Ikut saja .. “ Rathyan meletakan helm di tangannya di badan motor kemudian memakai helmnya sendiri, lalu dia naik ke motocrossnya. Selanjutnya dia menyodorkan helm satunya kearah Daze dan mengerak-gerakannya. “Ayolah … “

Daze mendekati pemuda itu seperti terhipnotis. Dia tak bisa menolak, tak juga mampu membantah. Entah mengapa, raut sendu dari Rathyan membuatnya ingin mengikuti segala keinginannya. Ingin membantunya menyelesaikan semua masalah yang sedang berkecamuk dalam pikirannya. Dia tahu ini bodoh. Apalah arti seorang Rathyan baginya? Hanya orang asing tanpa status yang jelas. Dia ragu, mungkin seorang sahabat saja bukan. Dia hanya majikannya. Ya, majikan yang diikutinya sejak seminggu yang lalu. Tak lebih dari itu.

Daze menerima helm dari tangan Rathyan dan memakainya kemudian naik dan duduk di belakang motor.

“Rangkul yang erat .. “

Daze mengangguk dan melingkarkan tangannya di pinggang Rathyan. Badannya terasa hangat. Dia memejamkan mata perlahan. Hatinya berdebar keras. Perasaan ini selalu dirasakannya begitu berada begitu dekat dengan Rathyan. Daze mengutuk dirinya. Mengapa hatinya begitu lemah?


***** oOo *****


Musik dentam-dentum, langsung menyambut kehadiran Rathyan dan Daze di bar ‘Leo’. Mata Daze melebar. Seumur-umur baru pertama kali ini dia menginjakan kakinya di sebuah bar.

“Ke .. kenapa ke sini?” tanyanya gugup.

Rathyan tak menjawab. Dia menyibak kerumunan muda-mudi yang sedang menari di depan dan masuk makin ke dalam. Bar ini termasuk kecil dan agak sesak sehingga mereka terpaksa berdesak-desakan dengan yang lain. Daze mengedarkan pandangannya. Beberapa pelangan pria di situ meliriknya dengan pandangan-pandangan nakal. Mata mereka menyusuri tubuhnya dengan liar, seakan-akan ingin menelannya bulat-bulat.

Tanpa sadar Daze menyusut dan berusaha menyembunyikan diri di belakang Rathyan. Tangannya yang sedari tadi saling meremas, menyambar tangan pemuda itu dan mengenggamnya erat-erat. Matanya terpejam. Rathyan meliriknya sekilas, lalu membiarkannya. Dia mengiring Daze menuju meja bar, tapi terhenti di tengah orang-orang yang sedang berdansa gila-gilaan begitu beberapa pemuda menghalangi langkah mereka. Alis Rathyan berkerut. Dari tampang dan sikap berdiri yang sempoyongan, dapat dipastikan kalau pemuda-pemuda ini sudah mabuk berat.

“Hey—cantik!!” Tiba-tiba salah seorang dari mereka menyambar lengan Daze.

“Akh—“ Daze tersentak kaget. Matanya yang terpejam, terbuka lebar. Membelalak ketakutan.

“Bagaimana kalau menemamiku malam ini?” Pemuda itu menyeringai. Wajahnya mendekat kearah Daze dengan sepasang mata redup. Terlihat jelas dia benar-benar mabuk. Langkahnya sudah tak terkontrol dan hampir menubruk Daze.

“AKH—“

Daze memejamkan matanya. Dia heran, teriakan tadi bukan saja berasal darinya. Dan tubuh yang tadi hampir menubruknya, juga tak terasa di badannya. Daze membuka mata perlahan. Betapa terkejutnya dia ketika mendapatkan lengan pemuda itu sudah dipelintir Rathyan ke belakang.

“Jika kau berani menyentuhnya lagi—sehelai rambut-pun, akau kupatahkan tulang rusukmu!!! Araso?!!”

“Ne! Ne!! Akh—“ teriak pemuda itu kesakitan.

Rathyan kemudian mendorongnya keras-keras sehingga tersungkur ke lantai. Telunjuknya lalu menunjuk ke pemuda-pemuda lain yang bersama pemuda tadi dengan pandangan mengancam.

“KALIAN JUGA!! BERANI MENYENTUH SEDIKIT SAJA, AKAN KUBUNUH!!!”

“Ayo pergi … “ Sempoyongan, pemuda-pemuda tersebut membantu pemuda yang tersungkur itu bangun dan keluar dari bar dengan terbiri-birit.

“Ayo!” Rathyan meraih tangan Daze yang sedang bengong di tempat dan menariknya ke tujuan semula, meja bar di sudut sebelah kanan bar tersebut.


***** oOo *****
”Segelas whisky .. “ Rathyan mengangkat tangannya begitu menjatuhkan diri di kursi.

Seorang bartender pria mendekati mereka. “Ne .. ,” jawab si bartender sambil menoleh pada Daze. “Bagaimana dengan agashi? Whisky juga?”

“Ti .. tidak .. ,” ujar Daze gugup.

“Dia tidak minum alkohol!” sela Rathyan. Membuat Daze langsung menundukan kepalanya. “Ada juice?”

“Yup—“ sahut si bartender keheranan. Sangat jarang—atau hampir tak ada pelangan yang memesan juice di barnya. “Kami memiliki fruit punch. Yang beralkohol dan tak beralkohol. Apakah agashi minum itu?”

“Ya. Yang tak beralkohol saja .. ,” sahut Rathyan.

“Ok .. “ si bartender meninggalkan mereka. Lima menit kemudian dia kembali lagi dengan pesanan mereka. “Whisky and fruit punch .. “

Rathyan mengangguk kaku sedangkan Daze menerima sambil terseyum kecil. “Ghamsamida .. “

Rathyan langsung menyambar whiskynya dan menghabiskannya dalam satu tegukan. Gelas di tangannya dijatuhkan dengan keras.

“One more!!”

Bartender tadi mendekat dan menuang gelas Rathyan dengan whisky kemudian menyorongkannya pada pemuda itu. “Silahkan tuan .. “

Rathyan meneguknya kembali. Kali ini juga habis dalam satu tegukan. Daze memperhatikan semua itu dari tempatnya. Perlahan dihirupnya fruit punch di tangannya dengan pandangan bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya terjadi pada anak ini?

Rathyan kembali meluncurkan gelasnya kepada si bartender.

“Hey—“ Dia mengangkat tangan. Si bartender yang sudah sigap dengan sikap-sikap dari para pelangannya segera berlari kearah Rathyan.

“Ne, sir .. “ Dia kembali menuang gelas Rathyan dengan whisky.

“Apa yang sebenarnya terjadi?” Daze memberanikan dirinya bertanya.

Rathyan menoleh padanya. Tanpa beralih, dia meraih gelas dan kembali meneguk whiskynya. Ketika tangannya terangkat kembali, Daze segera menekannya ke atas meja.

“Cukup, Rath!! Sudah cukup!! Terlalu banyak alkohol tak baik buat kesehatan!!”

Rathyan mendengus. Tubuhnya dihempaskan ke belakang.

“Ada apa?”

Rathyan tak menjawab. Kepalanya menunduk dan menatap semu ke kuku-kuku tangannya yang terpotong pendek.

“Ada masalah?” Daze menyentuh lengan Rathyan. “Kau bisa menceritakannya padaku .. “

Pemuda itu tetap membisu.

“Tak mempercayaiku?” desah Daze. “Kau tak pernah mau menceritakan apapun padaku … ,” lanjutnya pelan. “Tak pernah … “ Daze menunduk, merasa menyesal.

Rathyan bergerak. Mengangkat wajahnya dan perlahan menoleh kearah Daze. “Kau percaya padaku?” tanyanya dengan nada pelan. “Apa kau mempercayaiku?”

“Aku .. ,” Daze mengangkat wajah, tapi perkataannya tak berlanjut. Apa yang harus dijawabnya sementara dia masih meragukan perasaan pemuda ini terhadapnya? Dia tak tahu.

“Tak bisa?!” Rathyan tersenyum kecut. “Karna aku memang sulit dipahami, I ya kan?”

Daze tak menjawab.

“Tapi kau mau mencoba memahamiku kan?” lanjut Rathyan dengan nada berharap. “Aku sangat menderita .. “ Dia mendesah halus. “Sakit, itu yang kurasakan selama ini .. “ Pandangan Rathyan meredup.

Daze membalas tatapannya. Dia tak mampu berpaling. Sinar mata yang mengambarkan sejuta derita itu mengoyak kalbunya. Dia juga tak mampu menepis ketika tangan itu mulai menyentuh wajahnya, mengelus pipinya dengan lembut.

“Kau tahu perasaanku?” tanya Rathyan serak. Kemudian kebisuan menyelimuti mereka. Musik yang masih bermain-main dengan keras sama sekali tak berpengaruh pada diri mereka. Saling menatap dan menuangkan perasaan membuat pendengaran mereka seakan sudah tak berfungsi dengan baik. Hanya ada Rathyan dan Daze di bar ini, bahkan di dunia ini.

Rathyan mendekati Daze secara perlahan-lahan. Sinar matanya sayu, hanya tertuju pada gadis di depannya. Sementara tangannya yang mengelus pipi turun ke leher dan menyusup ke belakang. Pelan-pelan ditariknya Daze kearahnya. Semakin mendekat dan mendekat, sampai hidunya menyentuh pipi Daze.

Daze memejamkan matanya. Hembusan halus terasa di wajahnya. Aroma whisky yang sangat kental. Dia menghirup perlahan. Samar-samar, aroma lain juga memasuki hidungnya. Aroma khas yang sangat dirindukannya. Wangi cemara yang senantiasa melekat di tubuh Rathyan. Daze menarik nafas dalam-dalam.

Lalu bibir lembab dan kenyal itu terasa menyapu bibirnya. Tubuh Daze menegang. Tekanan di tenguknya semakin keras sehingga wajahnya semakin dekat, menempel ketat di wajah Rathyan. Dia membuka mulut dan sesuatu mulai melumat bibirnya. Lidah yang kasar menjulur masuk ke dalam mulutnya.

Daze mendesah. Sesaat kemudian dia mulai membalas lumatan-lumatan Rathyan. Dia berdiri dan berjalan kearah pemuda itu, kemudian merangkulkan tangan ke pinggangnya. Erangan-erangan kecil mulai terdengar, walaupun tenggelam dalam musik keras yang terus diputar dalam bar itu.

“Rath .. ,” panggil Daze dengan suara kering.

“Hmm—“ Rathyan memperdalam ciuman, sampai Daze gelagapan karna kehilangan nafas. Mereka menarik nafas secara bersamaan, setelah itu ciuman panas tadi berlanjut lagi.

Daze tiba-tiba merasakan sesuatu menyusup ke dalam kaosnya dan meremas dadanya. Dia tahu itu tangan Rathyan. Dan dia juga sadar di mana dia berada. Tapi dia sudah tak perduli lagi. Permainan-permainan Rathyan begitu dasyat untuk ditolak. Daze ikut menyusupkan tangannya ke balik pakaian pemuda yang sedang dipeluknya. Tapi bukan di bagian dada, melainkan di bagian belakang celana. Bottom Rathyan yang padat dan menjulang terasa enak dan kenyal buat disentuh. Daze mengerakan tangannya naik turun, menyapu bagian itu. Terdengar Rathyan mendesah kemudian mengigit bibirnya.

“Hey—“

Keasyikan itu tiba-tiba dibuyarkan oleh kepala si bartender yang condong ke depan.

“Kenapa kalian tak melanjutkannya di kamar hotel aja?” lanjut si bartender dengan tampang polos.

Rathyan dan Daze tersentak. Ciuman mereka terlepas. Dengan cepat mereka berpaling kearah si penganggu.

“Apa urusannya denganmu?!!” ujar Rathyan dongkol. Dia merogoh saku celana, mengeluarkan dompet dan melempar beberapa lembar won kepada bartender itu. “Tak usah kembali!!” dengusnya. Kemudian dia menyambar tangan Daze dan menariknya keluar dari situ. “Kita ke tempat lain!!”

“Ke .. kemana?” tanya Daze ngeri.

Bukan ke kamar hotel seperti saran bartender tadi kan?


***** oOo *****


Angin malam bertiup membawa hawa dingin yang cukup mengigit tulang. Air laut yang kelam terlihat tenang, menjanjikan sejuta misteri, namun sesekali ombak tipis menampar tiang-tiang penyangga dermaga menimbulkan suara keras yang sedikit berisik.

Rathyan diam seribu bahasa. Sementara Daze meliriknya lewat ekor mata. Pemuda ini tak mengeluarkan suara sejak keluar dari bar’Leo’. Dua gelas kopi berlabel starbucks tergenggam di tangan mereka. Daze mengerak-gerakan tangan di gelas tersebut guna menghangatkan tangannya. Kemudian dia mengigit bibir menahan rasa dingin yang semakin mengigit. Kenapa anak ini ke dermaga malam-malam begini? Daze menghembuskan nafas keras-keras.

Rathyan tiba-tiba bergerak dari posisinya. Dia membuka jaket kemudian menyampirkannya ke pundak Daze. Mata gadis itu terbelalak lebar. Apa dia bisa membaca pikiranku?

“Dingin .. “ Rathyan mengosok-gosok tangannya.

“Kau … kau tak ingin pulang .. “

Rathyan menoleh padanya. “Aku masih ingin berada di sini. Apa kau ingin pulang?”

“Hmm—“ Daze menghirup kopinya.

“Kalau begitu kau pulanglah. Omma-mu pasti sudah menunggumu .. “

Daze tak menyahut.

“Dan persiapkan dirimu. Dua hari lagi kita berangkat ke Perth .. Ada meeting dan seminar yang harus kuhadiri di sana .. ”

“Mwo?!!!” Daze terperanjat. “Ke Perth? Aku dan kau?”

“Ne .. ,” jawab Rathyan. “Kau sekretaris pribadiku, tentu saja harus ikut. Ada masalah?”

Daze mengeleng keras. “Kenapa semendadak ini?” serunya, “Aku sama sekali belum mempersiapkan tiket pesawat dan hotel tempatmu menginap .. “

“Tak perlu. Nona Kim sudah kuperintahkan mempersiapkan segala sesuatu buat keberangkatan kita. Jadi, kau tinggal mempersiapkan dirimu kemudian berangkat bersamaku. Beres!”

“Tapi .. “

“Sudah! Jangan membantah lagi!!”

Daze mendesah. Padahal yang ingin dibicarakannya adalah penolakannya terhadap keputusan tadi. Dia tak bisa menemani Rathyan menghadiri meeting dan seminarnya di sana. Beberapa hari lagi pernikahan Dave, dan dia harus menghadiri acara itu. Lagipula dia sudah rindu sama keponakan kecilnya. Bukankah dia sudah mengajukan cuti untuk itu? Apa anak ini sudah lupa?

Daze menoleh pada Rathyan, kemudian menekuk bibirnya kesal.



***** oOo *****


_________________


♥️ "Everywhere ★ we learn ★ only from ★ those whom ★ we love" ♥️
avatar
DragonFlower

Posts : 94
Join date : 2013-06-17
Location : | Trapped in CNBLUE Dorm |

View user profile

Back to top Go down

Re: from Seoul to ... Perth-- by Lovelyn

Post by DragonFlower on Wed Jun 26, 2013 4:24 pm



[/img]

from Seoul to ... Perth--
Chapter Sixteen

By : Lovelyn Ian Wong
[/center]



Daze menghentikan langkahnya beberapa lama di depan pintu utama. Dia sedang mempertimbangkan sesuatu. Agak lama juga dia berdiri di situ dengan tangan memegang anak kunci yang siap diputar pada lubang pintu. Dia terlihat bimbang dan ragu-ragu .... sebelum akhirnya, dia memutuskan memutar kunci itu.



***** oOo *****


"Dazya--kenapa malam banget?!! Kemana aja kau?"

Langkah Daze terhenti oleh seruan yang menyapanya. Dia mengangkat wajah dengan cepat. Omma tampak berdiri di anak tangga teratas sambil menatapnya lekat-lekat.

"Tahu tidak nak Carls sudah menunggumu sejak beberapa jam yang lalu?"

Daze terperanjat. "Carls?"

"Ne. Katanya ada sesuatu yang ... kau bilang akan menjelaskan padanya tapi belum kau lakukan?"

"Oh--" Daze menepuk jidatnya. "Itu ... aku lupa ... " dia mendesah. Setelah menghela nafas, dia kembali menghadapi omma. "Di mana dia sekarang, omma?"

"Ada di ruang keluarga. Memangnya ada masalah apa?"

Daze tersenyum. "Aku harus segera menyelesaikannya setelah itu istirahat, .... Selamat malam, dan omma juga .. jangan tidur terlalu malam .. "

Daze berbalik dan bermaksud berlalu dari situ. Tapi baru dua langkah, dia berhenti dan menoleh kembali pada omma. "O ya, omma ... Emm--saya tidak bisa berangkat bersama kalian ke Perth. Saya ... akan berangkat duluan, dua hari lagi ... namun dalam rangka pekerjaan, bukan ... bukan menghadiri pernikahannya Dave ... "

"Mwo?" Omma membelalakan matanya sambil berlari kecil menuruni tangga. "Kenapa bisa begitu? Apa kau tak mendapat ijin dari majikanmu?"

"Mianeyo .. ," ujar Daze.

"Tapi kenapa? Bukankah kau sudah mengajukannya sejak sebulan yang lalu?"

"Ne, memang .. namun, .. omma juga tahu kan kalau saya sudah pindah departemen? .. Majikanku yang sekarang berbeda dengan majikanku yang dulu. Tuan Yoon memang sudah meluluskan permintaan cutiku tapi majikan baruku ... hmm--saya belum mengatakan apa-apa padanya ... "

Omma sekarang sudah berada di depan Daze. Alisnya berkenyit ketika mengamati anak gadisnya ini. "Weeyo? .. Apa orangnya terlalu sulit untuk diajak kompromi?"

"Aniyo!!" sela Daze cepat. "Dia .. dia ... " Kemudian dia berubah gagap. Namun hanya sebentar .. sesaat kemudian dia langsung mengibaskan tangannya risih, "Ah--sudahlah omma!! Saya akan berusaha menyisihkan waktu buat Dave di Perth nanti ... jadi .. jangan menanyakan ini lagi ... "

Tanpa mengindahkan seruan-seruan omma selanjutnya, Daze berlari cepat menuju ruang keluarga yang berada di sudut lain ruangan itu.



***** oOo *****


"Carls?" sapa Daze begitu pintu dibuka.

Seseorang yang berada di dalam, bergerak dari posisinya yang menghadap jendela.

"Dazya ... "

"Miane, ... sudah lama menunggu?" tanya Daze sambil menutup pintu.

"Beberapa jam .. ," sahut Carlson enteng. "Kelihatannya kau sangat sibuk akhir-akhir ini … ,” kata pemuda itu sambil beranjak dari jendela.

“Iya, memang .. ,” jawab Daze sambil menjatuhkan dirinya di sofa. “Kau duduklah … ," ajaknya pada Carlson, sambil menunjuk tempat di sebelahnya.

Carlson sampai di dekat Daze dan ikut menjatuhkan dirinya di sofa, di sebelah gadis itu kemudian menatapnya. "Saya akan ikut ke Perth minggu depan .. " ujarnya tiba-tiba.

"Mwo?!!!" Daze terlonjak dari duduknya. Segera saja ditatapnya pemuda itu terkaget-kaget. "Kau .. ikut ke Perth? Per .. pernikahan Dave?"

"Ne .. ," Carlson mengangguk. "Tante yang mengundangku ke sana. Katanya,keluarga kalian dan calon istri Dave tidak banyak, makanya saya diminta ikut meramaikan pesta itu .. " Kemudian dia tertawa pelan. "Weeyo? Kau kelihatannya terkejut sekali ... "

"Mwo?!" Sekarang gantian Daze yang tertegun. "Aniyo!!" Sekuat tenaga dia berusaha menghilangkan kekagetan tersebut. "Hanya saja .... kau ... Maksudku--apa kau tinggal di Han's mansion juga?"

"Ne. Kata tante masih ada kamar untuk ku jadi tidak perlu susah payah menyewa kamar hotel ... Kamar yang dulu ditempati pelayanmu, kosong kan?"

"O--kamar Ye Jin .. " Daze mengangguk. "Memang. Tapi ... kamar itu teramat kecil ... "

"Tidak apa .." Carlson tersenyum. "Kita kan tidak lama di situ .. "

"Kita?"

"Iya ... ," ujar Carlson. "Weeyo? Kau terlihat heran.” Lanjut pemuda itu sambil tersenyum simpul. “Bukankah kau hadir juga di pernikahan itu?"

Daze menghela nafasnya. "Entahlah ..."

"Mwo?"

"Maksudku, .. aku harus berangkat ke Perth dua hari lagi--acara dinas ... Majikanku mempunyai jadwal meeting yang cukup padat di sana ... Mungkin .. aku bisa meluangkan sedikit waktu, tapi ya .. entahlah ... "

"O--" Carlson mengangguk. "Majikan barumu itu?"

"Ne ... ," jawab Daze.

Sesaat keadaan menjadi sunyi ... sampai Carlson memberanikan diri mengeluarkan pertanyaan yang sejak kemarin menghantui pikirannya. "Bisa .. menceritakannya padaku sekarang?"

“Ehmm—“ Daze mengigit bibir perlahan--tahu kearah mana pertanyaan Carlson.

“Saya tahu orang itu .. ,” ujar Carlson tiba-tiba.

“Mwo?” Daze membulatkan matanya. “Maksudmu?”

“Pria itu .. ,” jawab Carlson sambil menatap Daze lekat-lekat.

“O—“ Daze menghela nafas untuk kesekian kalinya. Sepertinya .. semua ini tak bisa dihindari lagi. Dia mesti menceritakan semuanya pada Carlson. Karena semua ini sudah menyangkut kelangsungan hidup perusahaan. Jika masalah ini biarkan berlarut-larut … entah apa yang akan terjadi pada Korean Capital dan Carlson … Entah apa yang bakal dilakukan Rath padanya … Daze mengeleng perlahan. Apakah dia masih tak mampu mempercayai Rath? … Ya, perasaannya masih bimbang … Tak menentu …

“Dia Rathyan Jang—direktur utama Max-Global Korea!”

Perkataan Carlson menyadarkan Daze.

“Dhe?” Gadis itu tersentak dengan mata terbelalak menghadapi Carlson.

“Pria yang bersamamu kemarin … ,” sahut Carlson. “ … dalam acara perayaan satu tahun anniversary-nya Max-Global Korea .. Dia adalah direktur utama perusahaan tersebut … Saya mengenalinya walaupun belum pernah bertemu .. Jadi, jelaskan padaku kenapa kau sampai bersamanya? Apa sebenarnya kerjamu di perusahaan itu?“

“Ehmm—itu … “

“Kenapa?” Carlson tiba-tiba mendaratkan tangannya di pundak Daze. “Ada yang kau sembunyikan?”

“Well—“ Daze masih terlihat ragu-ragu. Sejenak kepalanya ditundukan. Beberapa saat kemudian, ruangan itu menjadi sunyi dan sepi.

“Daze … “

“Dia .. dia majikanku … ,” akhirnya Daze berujar pelan.

“Majikanmu?” Carlson mengulangi kata itu. “ .. Ya, tentu saja dia majikanmu … Kau kan bekerja di Max-Global .. Maksudku, kenapa kau sampai terlihat dekat dengannya?”

“Karna saya bekerja sebagai sekretaris pribadinya!!” sahut Daze keras. Setelah berkata begitu, dia memejamkan matanya. Apakah terbersit penyesalan setelah keterus-terangan ini? Ya, memang ada sedikit ..

“Mwo? Sekretaris pribadinya?” Carlson terperanjat kaget. “Maksudmu … kau, .. Dazya?”

“Ne .. ,” Daze mengangguk pelan sambil menghela nafas.

“Tapi .. ke .. kenapa bisa … ?” tanya Carlson gagap. “Kenapa?”

“Aku juga tak tahu .. “ Daze membuka mata, dan membalas tatapan Carlson. “Sejujurnya, aku juga tidak tahu apa yang dipikirkannya … “ Sekali lagi, Daze menghela nafasnya. Terdengar sangat berat. “Dari dulu aku tak pernah bisa menerka apa yang ada dalam pikirannya .. “

“Dari dulu .. “ Carlson menegakan badannya. “Kau mengenalnya dari dulu?”

“Ne … “ Daze mendesah. “Miane karna selama ini tak menceritakannya padamu .. “

“Sejak kapan?” tuntut Carlson.

Sesaat, Daze tak bersuara. Sedangkan Carlson--tak memaksanya. Dengan sabar, pemuda itu menunggu sampai Daze membuka mulutnya.

“Setahun yang lalu di Perth .. “

“Perth?”

Jawaban Daze ternyata menimbulkan dampak lebih besar dari yang diperkirakannya terhadap Carlson. Pemuda itu terperanjat sampai berdiri dari duduknya.

“Kau mengenalnya sejak setahun yang lalu?!!! .. Jadi .. “

“Tunggu sebentar!!” Daze tiba-tiba mengangkat tangannya. Kepalanya agak dimiringkan. Sebuah kemungkinan .. ya, sebuah kemungkinan—mendadak melintas dalam pikirannya .. Mungkinkah ….

“Weeyo?” tanya Carlson sambil mengerutkan alisnya—memandangi Daze dengan penuh tanda tanya.

“Mianeyo .. “ Daze tiba-tiba saja bangkit dari sofa. “Ada yang mesti saya selesaikan .. ,” katanya sambil mengerakan tangan ke depan. “Kalau kau tak keberatan, Carls .. lagipula sekarang sudah malam … saya harap kamu .. “

“Kau mengusirku?” sela Carlson.

Daze menghembuskan nafas dengan raut menyesal. “Sekali lagi, mianeyo .. Saya sangat capek … “

Carlson menatapnya sesaat, kemudian .. menganggukan kepalanya perlahan.“Baiklah .. “ Pemuda itu mengangkat kedua tangannya. “Saya tidak akan memaksamu jika memang kamu tak berniat menjelaskannya .. “

“Mian, Carls .. “

“O—gwencanayo .. “ Pria itu berusaha tersenyum walaupun kelihatan sekali sangat terpaksa. “Yang penting kau tahu apa yang kau perbuat, Dazya .. “

“Ne … “ Daze mengangguk. “Aku akan berusaha memahami posisiku .. “

Carlson menatap Daze sejenak, lalu menepuk pelan pundaknya. Setelah itu ,dia berbalik kearah pintu. Tapi sampai di tengah ruangan, langkahnya terhenti. Dia menoleh dengan posisi—masih membelakangi Daze.

“Boleh aku menanyakan sesuatu?”

“Dhe?” Daze yang sudah menundukan kepalanya dan berpikir, langsung mendongak.

“Apa kau .. mempunyai .. hubungan khusus dengannya?” tanya Carlson perlahan-lahan.

Daze tertegun. Dia tidak menyangka Carlson akan menanyakan pertanyaan ini. Selama beberapa saat mereka saling berpandangan. Sedangkan Daze tetap membisu.

“Daze .. “

“Entahlah .. “ Daze mendesah. Dia tidak berbohong. Memangnya seperti apa hubungannya dengan Rath? TIDAK ADA YANG TAHU ..

“Begitu?” Carlson memutar tubuhnya sampai berhadapan dengan Daze. Walaupun dalam jarak yang cukup jauh. “Jadi … saya masih punya kesempatan itu … ?” lanjutnya sangat pelan sehingga Daze tak mendengarnya.

“Dhe?” tanya gadis itu.

Carlson tersentak kaget. “Hah?” … “Oh—“ Sesaat kemudian dia membuka mulut, namun kemudian dia tertawa risih. Apa yang kau lakukan Carlson Kim? Meminta sesuatu yang telah kau lepas terlebih dahulu?! .. Bukankah kau yang telah memutuskan Daze? .. Ya, walaupun tidak semuanya benar—Dia Cuma minta waktu menenangkan diri sebentar .. Tapi, bukankah itu tidak ada bedanya?.. Lalu bagaimana mungkin sekarang …. Apa haknya meminta kembali ke sisi Daze? APA?!!

“Ya?” Daze mengulangi pertanyaannya.

Carlson kembali tertawa seraya mengibaskan tangannya. “Aniyo!! Saya hanya bicara sendiri .. Jangan dipikirkan!“ Kemudian dia memutar tubuh kearah pintu. “Anyongheseyo, Dazya .. “

“O—“ Daze mengikuti kepergian Carlson dengan alis terangkat. Sikap aneh pria itu menimbulkan seribu tanda tanya dalam hatinya. Tapi itu hanya sebentar. Setelah pintu ditutup, dia segera menyambar sesuatu dari atas meja. Mengeledah dalam tasnya dan mengeluarkan sebuah ponsel mungil. Sesaat kemudian dia sudah sibuk mendengarkan nomor yang tersambung dari seberang.



***** oOo *****


Kring .. kring .. kring …

Rathyan tersentak dari posisinya yang sejak tadi menyandar di badan motor. Perhatiannya agak teralih sekarang. Sedikit malas dia merogoh ke dalam saku celana dan mengeluarkan sebuah ponsel. Sementara angin malam yang bertiup dari ujung dermaga menghembuskan rambutnya ke belakang—menjadikannya lebih acak-acakan.

“Ya?” sapanya tanpa melihat terlebih dahulu siapa si penelepon.

“Rath … ,” balas Daze dari seberang. Sangat pelan dan terdengar ragu-ragu.

“Hmm—“ Rathyan segera menegakan badannya. Dia tak mengira Daze akan meneleponnya, apalagi setelah perpisahan mereka yang tidak begitu lama.

“Kau … masih di dermaga?” tanya Daze.

“Ya .. ,” jawab Rathyan datar. “Ada apa?”

“ … “ Hening di seberang.

“Daze Han?!” tegur Rathyan.

“Ne … Saya di sini .. .,” sahut Daze gugup.

“Jadi?” Rathyan mengenyitkan alis perlahan.

“Ada yang ingin kutanyakan?” seru Daze setelah mengambil keputusan bulat.

“Apa itu?” tanya Rathyan—masih dengan raut ketidak-tertarikannya.

“Setahun yang lalu .. .,” mulai Daze beberapa saat kemudian. “Max-Global Korea didirikan setahun yang lalu .. “ Setelah itu Daze tak mampu melanjutkan perkataan-perkataannya lagi.

“Ya. Lalu .. ?” tanya Rathyan—mulai kehilangan kesabarannya.

“Apakah .. apakah … Maksudku—Korean Capital bermasalah waktu itu dan … membutuhkan uluran tangan dari perusahaan lain .. dan .. dan Max-Global didirikan dalam waktu hampir bersamaan … Apakah .. apakah .. “ Kembali perkataan-perkataan Daze terputus begitu saja.

“Ya?” Lagi-lagi Rathyan bertanya dengan nada datar. Seakan dia sama sekali tak terpengaruh dengan pertanyaan-pertanyaan Daze, … ataupun tidak menganggap penting dan tidak tertarik terhadap masalah yang menghantui Daze.

“Itu … saya rasa kau mengerti .. ,” ucap Daze serba salah. Apa perlu diterangkan lebih jelas lagi? Rasanya tidak perlu kan? .. Bahkan orang tolol sekalipun, pasti mengerti! desis Daze dalam hati. “Apa kau yang .. yang menolong … “ Sumpah!! kenapa pertanyaan ini sulit sekali untuk dikeluarkan?!!

“Ya?”

Bagus. Cuma itu yang bisa kau tanyakan? Bilanglah kalau kau mengerti … dan berikan jawabannya sekarang juga! Daze semakin gelisah di seberang.

“Itu … itu … “ Tanpa dapat meneruskannya, Daze menutup mata rapat-rapat. “Forget it!!!” Akhirnya dia berseru keras.

“Mwo?!!”

“Lupakan saja … Anggap saya .. tak pernah menanyakannya … Anyong!!!”

Daze menutup ponsel dan menghempaskannya ke sofa di sebelahnya. Tak mungkin anak itu yang melakukannya!! TIDAK MUNGKIN!! Dia begitu membenci Carlson, jadi bagaimana mungkin dia bersedia menolong Korean Capital? Hanya kebetulan saja .. Ya—hanya kebetulan saja Max-Global Korea didirikan pada saat itu, pada saat bersamaan hampir kebangkrutan Korean Capital .. PASTI BEGITU KENYATAANNYA!

Sementara itu ... Rathyan menurunkan tangannya yang memegang ponsel secara perlahan-lahan. Pandangannya pekat tertuju ke depan. Mengapai kosong ke kekelaman laut yang dingin dan ganas. Ombak besar dihempaskan berkali-kali ke dermaga--menciptakan suara-suara berisik yang cukup menganggu. Namun, …. semua itu tak berpengaruh terhadap Rathyan. Pandangannya tetap nanar dan datar, membelah keganasan samudera di luar sana.

Kau kira aku tak tahu kearah mana pertanyaanmu? Sesungguhnya, ... Aku tahu--Dazya!! AKU SANGAT MENGERTI!... Namun, ... seandainya kau mampu menerkanya--sekalipun .. apa yang kau harapkan sebagai jawaban dariku? ... Kau tahu--aku paling membenci situasi ini?!!! Menjelaskan sesuatu yang telah kulakukan? .. yang tak ingin dan tak seharusnya kulakukan?AKU PASTI SUDAH GILA WAKTU ITU!!



***** oOo *****


"Agashi ... "

Seorang pria berpenampilan rapi membungkukan badannya di depan Jennifer White.

"Emm--" Gadis yang sedang menekuni majalah fashion di tangannya menengadah. Setelah melihat pria itu, dilemparnya majalah tersebut ke sofa di sebelahnya. "Bagaimana?" tanyanya dengan suara datar yang agak melengking tajam.

"Wanita itu bernama Daze Han .. Putri dari mantan direktur Han Da' ZeVe, perusahaan kecil yang bergerak di bidang fashion, .. yang telah bangkrut setahun yang lalu .. ," lapor si pria.

"Han Da' ZeVe?" Jennifer mengulang nama perusahaan itu. Alisnya berkerut. "Daze Han?" Namun, sebentar kemudian .. dia mengibaskan tangannya dengan raut tak perduli. "Ah--persetan dengan segala perusahaan itu!! TAK ADA HUBUNGANNYA DENGANKU!! Lagipula--aku paling benci berurusan dengan bisnis-bisnis perusahaan! Beruntung dad tidak pernah memaksaku melakukannya ... Aku tak mau dipusingkan dengan masalah-masalah seperti itu!!" Lalu dia kembali menghadapi pria di depannya. "Lalu .. apa yang kau dapat? Apa hubungan oppa dengan wanita itu?"

"Nona Daze Han sekarang bekerja di Max-Global Korea ... sebagai sekretaris pribadi Rathyan doronim .. "

"MWO?!!" Jennifer terperanjat dari duduknya. Sepasang mata indahnya terbelalak lebar. "Karena itu ... karena itu, mereka ... terlihat akrab .. " lanjutnya terbatah-batah. Bibirnya agak bergetar begitu mengucapkan kata-kata ini. Dipahaminya sekarang .... Rathyan Jang dan Daze Han, wanita itu .., pasti mempunyai hubungan special ... Tidak ada penjelasan lain buat keakraban mereka ...

"A .. apa ada perintah lain, agashi ... ?"

Pertanyaan pelan dari pria di depan membuyarkan lamunan Jennifer. Gadis bertampang jutek dan manja itu mendongak dengan bibir mengeras. "Ne!" sahutnya begitu mengambil keputusan bulat. "Lakukan apa yang sudah direncanakan semula, tuan Song!! Masalah ini tak bisa dibiarkan lebih berlarut-larut lagi ... Saya harus mengambil keputusan .. Jika menunggu uncle Oli, akan terlambat .. "

Mr. Song membungkukan badannya. "Ne, agashi ... Hotel Seoul, kamar 1203 ... sudah dipersiapkan kemarin ketika agashi memintanya ... "

Jennifer tersenyum puas. "Secepat itu? .. Bagus, tuan Song. Anda tak pernah mengecewakanku. Pekerjaanmu selalu sempurna!!"

"Ghamsamida, agashi .. " respon Mr. Song dengan bangga.

Jennifer tertawa lepas. Sebentar lagi keinginannya akan tercapai ...

"Kalau begitu .. saya permisi, agashi ... " Ujar Mr. Song.

"Ya, ya .. kau boleh pergi tuan Song ... "

Jennifer mengangguk berkali-kali. Dia kembali meraih majalah yang tadi dilemparnya sembarangan di sofa kemudian membolak-baliknya dengan asal-asalan. Cengiran puas dan licik masih tersembul di bibirnya yang kemerah-merahan.

"Jangan lupa pesan buat wanita itu, tuan Song!" lanjutnya mengingatkan Mr. Song yang sudah sampai di depan pintu.

Pria itu berbalik dengan hormat. "Ne, agashi .. Agashimida .. "




***** oOo *****



Sementara itu, ... selang waktu yang tak begitu lama di Jang's mansion, ruang kerja Oliver Jang ... Tuan Park menyerahkan data-data yang didapat melalui penyelidikan-penyelidikan ketat yang dilakukan para bawahan kepada majikannya.

Oliver Jang menerima lembaran-lembaran kertas ukuran A4 yang terselip rapi dalam sebuah map file warna coklat itu, lalu menyimaknya dengan seksama. Beberapa menit ke depan terasa sunyi. Tuan Park menanti dengan sabar di tempatnya.

Sesaat kemudian .. Oliver mengangkat wajah dari lembaran-lembaran kertas tangannya.

"Daze Han--putri tunggal dari perusahaan Han Da' ZeVe yang telah bangkrut?"

"Ne, pak presiden .. " tuan Park mengangguk pelan.

"Tapi .. mengapa saya tak pernah mendengar keberadaan perusahaan itu? Apa beroperasi di Seoul ini?"

"Hanya perusahaan kecil, pak ... ," ungkap tuan Park penuh hormat. "Memang tak begitu terkenal .. Bahkan di Seoul sekalipun ... Perusahaan itu sudah mengalami masalah sejak beberapa tahun lalu ... Kata beberapa kolega bisnis yang kumintai keterangan, Han Da' ZeVe mengalami kesulitan karna kekurangan dana. Tidak ada pihak yang mau membiayai ataupun bekerjasama dengan mereka .. Unsur utamanya--Desain-desain mereka kadaluarsa dan tidak mengikuti jaman ... "

Oliver mengangguk tanda mengerti. "Menurut keterangan yang kau berikan, .. mereka bertemu sewaktu di Perth .. berarti, .. sudah setahun yang lalu?"

"Ne .. ," sahut tuan Park. Lalu, dia terdiam. Keraguan tersirat jelas dari wajahnya.

"Ya?" Oliver menatapnya lekat. "Ada yang kau sembunyikan, tuan Park?" tegur pria berwibawa itu.

"Oh--tidak, pak!!" sahut tuan Park cepat. "Saya hanya merasa ... Tidak tahu apa ini penting atau tidak .. " sambungnya serba salah.

"Katakan padaku sekarang juga!" hardik Oliver dengan nada menuntut. "Kau tahu aku paling tidak suka penjelasan berbelit-belit, tuan Park?!!"

"Eh--Ne ... " Tuan Park membungkuk dengan perasaan bersalah. "Sebenarnya, bukan masalah besar .. hanya saja ... doronim dulunya tinggal di rumah nona Daze Han .. "

"Mwo?!" Tangan Oliver yang sudah bersiap mengapai dokumen di atas meja kerjanya, terhenti .. "Mworagu? Bagaimana bisa ... "

"Nona Daze Han merupakan kakak kandung dari tuan Dave Han, sahabat satu-satunya dari doronim sewaktu kuliah di Perth ... ," jawab tuan Park.

"Apa?!" Oliver menarik kembali tangannya. "Maksudmu .. mereka sedekat itu? .. Berarti ... " Pria itu mengelus dagunya. Dia berpikir keras .. menyibak kembali apa yang selama ini diketahuinya tentang Rathyan, putra bungsunya ... berusaha menerka-nerka .. tapi akhirnya, dia mengeleng. Ternyata .. tak ada yang diketahuinya tentang putranya itu ... "Bagaimana hubungan mereka?" Setelah merasa tidak ada gunanya menerka-nerka buat sesuatu yang tak diketahuinya, apalagi tindakan ini memang sangat dibencinya, Oliver Jang mengeluarkan pertanyaan ini.

Tuan Park mendongak, memandang majikannya. Untuk kedua kalinya dia terlihat ragu-ragu dan juga enggan menjawab.

"Sosoengheyo, pak presiden, tapi .. tidak ada yang tahu ... "

"Tidak ada yang tahu?!" Oliver melebarkan matanya. "Apa maksudmu?!"

"Doronim ... ," tuan Park mendesah. Sangat halus dan .. beruntung tak tertangkap oleh majikannya. " .. maksudku, .. doronim memang terlihat akrab dengan Han agashi .. Semua bisa melihatnya di pesta beberapa hari yang lalu .. Namun tentang hubungan mereka .. tidak ada yang tahu ... bahkan teman-teman kuliahnya juga tidak ... "

"Begitu?!" Oliver beranjak bangun dari kursinya yang tinggi dan empuk bak singasana, kemudian melempar pandangan ke luar jendela. "Apa ada hubungannya dengan kembalinya Rathyan dan pendirian Max-Global Korea setahun lalu?" tanyanya tiba-tiba.

"Dhe?!" tuan Park terlihat tersentak. Bayangan-bayangan masa lalu yang telah terjadi mulai menari-nari dalam pikirannya. Setahun yang lalu ... permintaan tuan mudanya yang mendadak dan sangat mendesak ... Kepulangannya ke Amerika ... Keputusan yang dia kira tidak bakal dirubah Rathyan, yaitu meneruskan Max-Global dengan menyampingkan kecintaannya pada seni .. Lalu mengapa? Apa benar ada hubungannya dengan wanita itu? Seperti baru disadarkan akan kemungkinan ini, tuan Park mengangguk perlahan.

“Bagaimana menurutmu, tuan Park?” tegur Oliver Jang.

“Mung .. mungkin, pak presiden … ,” sahut tuan Park ragu-ragu. Walaupun dalam hati, dia sedikit membenarkan keterkaitan antara dua hal ini, dia tidak ingin mengiyakannya begitu saja. Menyediakan kesempatan buat melepaskan diri dari kesalahan yang mungkin dilimpahkan majikan kepadanya karna memberikan informasi yang tidak pasti, merupakan salah satu kunci keberhasilan tuan Park.

“Mungkin?” Oliver Jang memutar tubuh kearah tuan Park. “Hanya itu yang bisa kau katakan?”

“Sosoengheyo .. “ Tuan Park membungkukan badannya dalam-dalam.

Oliver Jang terlihat menahan nafas selama beberapa saat, kemudian meneruskan perkataannya. Kali ini suaranya tak sekencang tadi. “Tawaran Rath waktu itu .. pasti ada hubungannya dengan wanita ini! Bagaimana menurutmu, tuan Park?”

“Ne, pak presiden .. “ sahut tuan Park pelan.

“Berarti … karna wanita ini, Rath bersedia melakukan apapun. Termasuk .. mengelola Max-Global yang sangat dibencinya sejak dulu .. “

“Ne .. “

“Huhhh—“ Oliver Jang menghembuskan nafas keras-keras, kemudian menghempaskan tubuhnya ke kursi. Tampangnya terlihat sangat kusut.

“Ini hanya perkiraan kita, pak .. ,” ujar tuan Park, berusaha menenangkan majikannya. “Mungkin saja bukan begitu kenyataannya .. “

“Mungkin?!” Oliver Jang menatap tuan Park lekat-lekat. “Kalau begitu, berikan kemungkinan lain itu, tuan Park!!”

Tuan Park terdiam. Untuk kali ini, dia benar-benar mati kutu. Kemungkinan apalagi yang mampu menjadikan Rathyan merubah pendiriannya, selain kemungkinan ini?

Rathyan yang begitu mencintai seni .. Rathyan yang rela menentang mati-matian pemimpin tertinggi Max-Global, ayahnya, hanya demi seni .. Rathyan yang bersedia kehilangan apapun hanya karena seni .. Rathyan yang tidak akan merubah cintanya terhadap seni, kecuali .. kecuali sudah mendapatkan sesuatu yang lebih berharga dari seni itu sendiri .. dan .. bukankah sangat masuk akal kalau orang itu seorang gadis? Gadis yang mendapat perhatian penuh darinya, .. yang selama ini tidak pernah diperlihatkannya?

“Tidak ada kan?”

Pertanyaan berupa desahan dari Oliver Jang menyadarkan tuan Park dari lamunannya.

“Sosoengheyo .. . ,” ujar si asisten pribadi itu.

Oliver Jang menghela nafasnya. Kemudian menekankan sepasang tangannya ke jidat sambil memejamkan matanya. “Sudahlah … Percuma kita mengira-ngira di sini .. “

“Ne .. “ Tuan Park membungkuk dengan hormat. “Lalu .. apa yang akan pak presiden lakukan sekarang? Apakah perlu dibuat pertemuan dengan nona Han?”

“Tidak!” Oliver Jang membuka matanya, kemudian bangkit dari kursi. “Saya tidak punya waktu, tuan Park. Apa kau lupa saya harus berangkat ke London dua jam kemudian?”

“O benar! Sosoengheyo saya melupakannya, pak presiden .. ,” kata tuan Park dengan nada menyesal.

“Tidak apa! Kau pasti terlalu sibuk akhir-akhir ini, tuan Park .. ,” ujar Oliver Jang sambil beranjak dari mejanya. “Saya akan berada di sana selama dua minggu. Setelah kembali, baru kita diskusikan lagi masalah ini .. “ Oliver Jang menyambar jasnya dan berjalan kearah pintu. “Pastikan segala sesuatu beres di sini, tuan Park .. “

“Ne, pak Presiden .. “ Tuan Park membungkukan badannya. “Sungguh tak perlu kutemani, pak?” sambungnya menawarkan diri.

Oliver Jang yang sudah sampai di depan pintu, menoleh. “Tidak! Kali ini tidak perlu! Saya membutuhkanmu di sini! … Jaga Rathyan baik-baik. Amati setiap gerak-geriknya dan laporkan padaku … Pastikan mereka tidak terlalu dekat .. “

“Tidak bisa, pak!” sela tuan Park tiba-tiba.

“Mwo? Kenapa?”

“Doronim akan berangkat ke Perth bersama nona Han besok pagi .. ,” jawab tuan Park.

“Mwo?! Bersama?”

“Ne. Urusan bisnis. Ada beberapa meeting dan seminar penting yang harus dihadiri. Dan nona Han ikut bersamanya untuk mengatur jadwal dan membantunya di sana .. “

“O—“ Oliver Jang mengangguk. “Ya—kalau begitu biarkan saja! Kita tak bisa berbuat apa-apa mengenai ini .. Dalam rangka bisnis—saya rasa, tidak ada yang bakal terjadi .. “

Tuan Park membungkuk. “Ne . .”

“Satu hal lagi, tuan Park!”

“Ne, pak presiden?“

“Awasi Jenny! Jangan sampai dia melakukan sesuatu yang bakal memporak-porandakan rencanaku! .. Aku sangat mengenal watak anak itu. Jika dia mengetahui hubungan Rath dan wanita itu, dia pasti akan berbuat sesuatu yang berlebihan .. “

“Ne .. “

Setelah itu, Oliver Jang keluar dari ruang kerjanya. Tuan Park masih berada di dalam selama beberapa menit … membereskan dokumen-dokumen di atas meja yang sudah ditanda-tangani Oliver Jang buat meeting yang akan dihadirinya di London.



***** oOo *****



Jam hampir menunjukan pukul 12 siang ketika pintu ruang kantor Rathyan diketuk dari luar.

"Masuk!!" perintah Rathyan tanpa berpaling dari kesibukannya.

Drekk, .. pintu ruang kantornya dibuka dengan pelan, dan nona Kim masuk dengan ragu-ragu. Dia menghampiri Rathyan dengan sebuah map file terangkul di tangan. Kelinglungan tersirat jelas dari wajahnya begitu sampai di depan pemuda itu.

"Ya?" Rathyan mendongak dengan alis berkerut.

"Ti .. tiket pesawat .. buat penerbangan besok .. dan juga .. jadwal di Perth yang .. bapak minta ... " Tergagap-gagap nona Kim menyerahkan file di tangannya.

"Hmm--" Rathyan meliriknya sekilas, kemudian, "Letakan di atas meja .. " perintahnya sambil lalu. “Kau kelihatannya sangat takut padaku, nona Kim .. “ sambung Rathyan tanpa melihat kearah wanita itu.

“Dhe?” Nona Kim membelalakan matanya. “A .. aniyo .. pak .. “

“Tidak ada urusannya denganku!!”

“Dhe?”

Rathyan mengangkat wajahnya. “Ketakutanmu itu tidak ada urusannya denganku!!” ujarnya lantang.

“Oh—“ Nona Kim menutup mulut dengan tangan kanannya, sambil beringsut ke belakang. “Sosoengheyo, pak direktur .. “

“Sudah! Tak ada lagi urusanmu di sini! Kau bisa mengundurkan diri sekarang, nona Kim!!”

“Ne .. “ Dengan takut-takut, nona Kim beranjak ke pintu.

“O ya, noona Kim?!!”

Panggilan itu segera menghentikan langkahnya. Nona Kim berbalik dengan tampang menyedihkan. “Ne, pak direktur?”

“Mana sekretarisku?!” tanya Rathyan dengan kening dikerutkan.

“Nona Han .. tadi pamitan sebentar .. katanya, beli makan siang buat bapak .. “

“Makan siang?” Rathyan melirik jam tangannya. “Benar .. makan siang .. ,” desisnya lirih. “Ya sudah. Kau pergilah .. “

“Ne .. “

Nona Kim kembali melangkahkan kakinya. Dalam hati dia berdoa semoga majikannya ini tidak menghentikan langkahnya lagi. Dan doanya terkabul. Dia sampai dengan selamat di luar pintu. Dengan sangat pelan, ditutupnya pintu itu.

Rathyan mendorong kumpulan file di depannya ke samping, dan mengambil ponsel model terbaru yang terletak di atas meja dekat telepon. Baru saja dia bermaksud menghubungi seseorang lewat ponsel itu, alat penghubung mungil tersebut berteriak keras minta diangkat, mengagetkannya. Rathyan melihat ke layar monitor. Alisnya berkenyit. Segera saja dia menekan tombol reject dan membuang ponsel tersebut ke sudut meja. Namun tidak lama kemudian, sekitar tiga menit, ponsel tersebut berbunyi lagi.

“Huh!!!”

Rathyan mendengus. Tombol reject kembali jadi sasarannya. Tapi, seperti tidak mau menyerah begitu saja, si penelepon kembali melancarkan serangannya.

Kring ….. Kring .. Kring ….

“Sialan!!!”

Rathyan menyambar ponsel dari atas meja. Setelah menekan tombol terima, dia menekan ponsel tersebut ke telinga.

“Jika kau mengangguku terus, kau akan merasakan akibatnya, Jennifer White!!”

“Oppa!!” suara cempreng Jennifer terdengar dari seberang. “Oppa selalu sedingin ini?!!”

“Cukup bermainnya!” bentak Rathyan. “Katakan sekarang, apa mau mu?!!”

“Temui aku di hotel Seoul!!” sahut Jennifer tanpa tedeng aling.

“Mwo?!!” Mata Rathyan terbelalak lebar. “Yaa—kau sudah gila?! Shido! Jangan mengusik ku atau kesabaranku akan habis!!”

Rathyan bermaksud memutuskan pembicaraan mereka, tapi terhenti oleh teriakan Jennifer yang tak terduga ..

“Aku sudah mengundang nona Han kemari!! “

“MWO?!” Rathyan membatalkan niatnya semula. Mendadak tangannya bergetar hebat, saking kuatnya menahan gejolak emosi yang berkecamuk di dada. “Apa mau mu?”

“Oppa akan tahu sendiri setelah kemari!” sahut Jennifer sambil tersenyum nyengir di seberang. “Kamar 1203, oppa … Jangan lupa, saya nantikan kedatangannya … “

“Jangan berbuat macam-macam!!” tekan Rathyan dengan rahang dirapatkan. “Aku tidak akan memaafkanmu jika sampai terjadi apa-apa padanya!”

“Weeyo?!! Oppa mengkhawatirkannya?!!” suara Jennifer menyaring dari ujung telepon.

“Yang jelas—jangan menyentuhnya sedikitpun!!” teriak Rathyan—sangat keras, sampai-sampai si Jennifer segera menjauhkan ponsel di tangannya. “Aku akan datang sesegera mungkin!!” lanjut Rathyan. “Jadi jangan lakukan apapun!!”

Sebelum Jennifer berucap lagi, Rathyan memutuskan hubungan mereka. Dia menyambar jas yang tersampir di sandaran kursi dan berlari keluar dari ruang kantornya. Sampai di depan nona Kim yang duduk di bangku dekat pintu, dia berhenti. Dengan nafas agak tersengal, dia menghampiri wanita itu.

“Nona Kim!!”

Nona Kim terperanjat kaget. Kutex yang sedang dioleskan ke kukunya terdorong jatuh dan mengotori meja kerjanya.

“So .. sosoengheyo .. pak direktur .. “

Rathyan meliriknya sekilas, kemudian mengindahkannya. Membuat nona Kim mengangga lebar. Ini wajar saja mengingat dalam keadaan biasa, kesalahan ini tidak mungkin berlaku buat Rathyan. Dia pasti akan memecat bawahan yang melakukan kesalahan seperti ini.

“Aku harus keluar sekarang, nona Kim! Meeting dengan Mr. Zlot dari Zlot Company satu jam nanti, tetap akan kuhadiri .. sedangkan untuk jadwal-jadwal selanjutnya dibatalkan saja … Saya tidak punya cukup waktu mengurusnya .. besok pagi saya harus berangkat ke Perth .. Biar setelah kepulanganku dari sana, hubungan kerjasama itu didiskusikan lagi .. “

“Ne .. “

Jawaban nona Kim hanya samar-samar tertangkap oleh Rathyan karena dia sudah menghambur ke dalam lift yang pintunya terbuka sedari tadi.



***** oOo *****



Sementara itu di restoran Cina 'Jade's Palace' ...

"Agashi, ini pesanannya ... " Seorang pelayan menyodorkan dua kantong ukuran sedang pada Daze. "Sudah lengkap. Aneka ragam Dim Sum dan minumannya .. silahkan diperiksa .. "

"Ne. Ghamsamida .. " Daze menerima pesanannya dan menyerahkan beberapa lembar won sebagai bayaran sesuai harga yang tertera di bon. Kemudian dia membuka kantong-kantong tersebut dan memeriksa makanan di dalamnya. "Mudah-mudahan dia tidak protes lagi ... ," gumam Daze pada diri sendiri.

"Dhe?" si pelayan melebarkan sepasang mata sipitnya. "Apa ada yang kurang?" tanyanya agak gugup.

"O--" Daze menengadah. Segera saja dia tersenyum dan mengelengkan kepala—guna menenangkan pelayan itu. "Aniyo! Ghamsamida .. " Dia membungkuk seraya melambaikan tangannya. "Anyongheseyo .. "

"Anyongheseyo agashi ... ," balas si pelayan. "Terimakasih atas kunjungannya ... "

Daze sampai di lapangan luar restoran tersebut. Sekali lagi dia mengamati dua kantong dalam genggamannya, kemudian mendesah perlahan. Dia tidak yakin Rathyan bakal menyukai makan siang yang dibelikannya. Anak yang satu itu, selalu berkelakuan aneh akhir-akhir ini. Dalam beberapa menit dia dapat merubah selera makannya terhadap makanan tertentu.

Daze menghembuskan nafas dan mulai melangkahkan kakinya. Namun baru beberapa langkah, sesuatu dalam saku kemejanya bergetar-getar minta diangkat. Daze menghentikan langkahnya dan memindahkan salah satu kantung di tangan kanan ke tangan kiri kemudian mengeluarkan ponsel tersebut. Ada pesan masuk. Daze mengenyitkan alisnya. Nomor yang terpapar di layar sangat asing. Siapa pemilik nomor ini? Ragu-ragu, antara menerima atau mengabaikan pesan dari nomor tersebut, Daze memencet kotak 'view' dalam layar.


Aku berada di hotel Seoul.
Datang sekarang juga!
--Rathyan Jang--

Mata Daze terbelalak lebar. "MWO?!!"

Yaishh--anak ini, benar-benar!!! Daze melayangkan tangannya yang masih memegang ponsel ke udara. Ckk--Sudah kukira seleranya aneh akhir-akhir ini!! Jika memang kepingin lunch di cafe high class kayak cafe Seoul, kenapa tak memberitahuku lebih dulu? Jadinya kan aku nggak perlu memesan makanan dengan sia-sia?!!! Daze memandang prihatin dua kantong dalam genggamannya. Haruskah aku membuang makanan-makanan ini?—LAGI?

Daze menghentak-hentakan kakinya. Wajahnya berkerut seiring kekesalan yang menghingapi hatinya. Sesaat, dia tak beranjak dari tempatnya. Namun, begitu mengingat pesan tadi--sikapnya berubah. Dia segera mengangkat tangan dan menghambur ke jalan raya begitu sebuah taxi melintas di depannya.

"TAXI!!!"



***** oOo *****


Rathyan menghentikan Porche hitamnya di lapangan parkir hotel Seoul. Segera saja dia keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam gedung hotel yang terlihat megah tersebut.



***** oOo *****


Tut .. tut …

Daze mengeluarkan ponselnya. Dua kantung yang agak menganggu digesernya ke bangku sebelah, lalu perhatiannya dialihkan ke layar ponsel. Pesan masuk dari nomor yang diterimanya tadi.


Lupa memberitahumu—kamar no. 1203.
—Rathyan Jang—

“Iya, iya … Saya sudah tahu kau Rathyan Jang!!” dengus Daze. Tapi .. tunggu!! Apa isi pesan itu tadi?! Daze kembali menatap layar ponselnya. Deg … Tidak salah lihat! Kamar no. 1203? .. Kamar? Daze memegang dadanya. Kenapa anak itu check-in kamar hotel? Apa maunya? Bukankah niat semula lunch di café Seoul? .. A .. apa-apaan ini?!

Daze jadi kebingungan sendiri. Dan juga .. gelisah. Dia tidak mengerti jika hanya buat lunch, kenapa Rathyan sampai check-in kamar hotel? Apakah … Daze segera mengeleng keras-keras. Antwee!! Singkirkan pemikiran-pemikiran kotor itu!! Daze mengigit bibir keras-keras sambil memandang lurus ke depan. Sebentar lagi taxi yang ditumpanginya akan memasuki area hotel Seoul.



***** oOo *****


Tok .. tok .. tok …

Pintu kamar hotel 1203 dibuka. Jennifer White tampil manis dengan gaun pendek yang dikenakannya. Dia tersenyum terhadap pria di depannya. Tapi sayang, pesonanya tidak mempan. Rathyan menatapnya dengan pandangan dingin.

“Mana Daze?”

“Oppa!” Jennifer merengut. “Saya kan cuma bilang sudah mengundangnya ke sini .. dia datang atau tidak ya tak bisa saya ramalkan .. “

“Jenny—cukup bermainnya!!” bentak Rathyan.

“Saya tidak bermain!” balas Jennifer tak kalah kerasnya. “Saya berkata sejujurnya .. “

Sesaat keduanya saling berpandangan. Rathyan berdiri tegar tak tergoyahkan. Sinar matanya datar dan tak mampu diselami. Sedangkan pandangan Jennifer perlahan melunak. Reaksi manjanya mulai keluar.

“Oppa .. ,” rengeknya sambil mengayutkan tangannya ke lengan Rathyan. “Kenapa oppa tidak duduk sebentar di dalam? Minum sedikit—bagaimana?”

Rathyan segera mengibaskan tangannya. “Saya tidak punya waktu melayanimu!” Dia memutar tubuh, untuk kemudian melangkahkan kakinya.

“OPPA TIDAK MENYESAL?!!” teriak Jennifer.

Langkah Rathyan terhenti .. tapi dia tidak berbalik. “Apa maksudmu?”

“Saya sungguh-sungguh mengundangnya kemari!” sahut Jennifer.

Rathyan segera memutar badannya. “Mwo?!!”

“Jika oppa ingin tahu .. masuklah ke dalam … “ Jennifer menyungingkan senyum kemenangan. Dia memutar tubuh dan kembali ke dalam kamar. Pintu kamar tersebut dibiarkan dalam keadaan terbuka.

Rathyan mengatupkan bibirnya. Dia berdiri dalam posisi serupa, dengan sepasang tangan tertancap ke dalam saku jasnya. Lima menit berlalu .. dan akhirnya dia melangkahkan kaki ke dalam kamar itu. Pintu ditutup dengan sangat pelan.



***** oOo *****


Daze keluar dari taxi setelah membayar ongkos yang diperlukan. Dia berjalan lebar menuju lobi hotel Seoul. Setelah ragu-ragu sejenak sewaktu dalam taxi akan niat dan maksud Rathyan mengundangnya ke hotel ini, dia sudah mempersiapkan semuanya—hati maupun ketabahannya. Apapun keinginan Rathyan, dia harus mampu menghadapinya. Bukankah ini sudah merupakan tugas dari seorang sekretaris pribadi? Awas kalau dia berani macam-macam?! umpat Daze dalam hati.

Dia sampai di depan deretan lift hotel itu. Setelah menunggu sebentar, salah satu lift kosong pintunya terbuka dan siap membawanya ke lantai 12.



***** oOo *****


”Oppa mau minum apa?” tanya Jennifer dengan gaya semanis mungkin.

“Tidak usah!” jawab Rathyan dingin.

Jennifer tersenyum. “Bagaimana kalau air mineral aja?” tawarnya memaksa.

Rathyan tidak mengubrisnya. Tidak menjawab dan tidak memberikan respon. Kepalanya dihempaskan ke sandaran sofa dan sepasang kaki panjangnya dijulurkan ke depan—usaha menghilangkan penat yang dirasakannya sejak tadi pagi.

“Kalau begitu .. tunggu saya, oppa .. “

Jennifer menghilang ke dapur yang berada dalam kamar itu. Setelah memastikan Rathyan tidak beranjak dari tempatnya, dia membuka kulkas dan menuang segelas air mineral. Dia tersenyum licik. Perlahan dikeluarkannya ponsel dari saku gaun pendeknya kemudian menekan beberapa nomor.

“Bagaimana, tuan Song?” bisiknya halus setelah nomor itu tersambung.

“Beres, agashi. Nona Han sudah tiba di lantai ini … Aku baru saja melihatnya keluar dari lift .. “

“Bagus!” Jennifer tersenyum puas. “Kirimkan pesan terakhir, tuan Song!”

“Agashimida, agashi .. “

Hubungan kemudian diputuskan. Masih dengan senyuman yang tersungging di wajah ayunya, Jennifer membawa nampan berisi dua gelas air mineral ke luar dari dapur.

“Minumannya sudah sampai, oppa!!”



***** oOo *****


Tutt … tutt … tutt …

Lagi? Wajah Daze berkerut. Agak kesal, dikeluarkannya ponsel dari saku kemejanya.


Pintunya tidak dikunci. Buka saja!
—Rathyan Jang—

”Huh—“

Daze melongok ke kanan dan kiri. No. 1203, ada di mana? Sesaat kemudian … Itu dia!! Sorak Daze.

No. 1203—ternyata berada di paling ujung …



***** oOo *****


”Akhh—apa yang kau lakukan??!!” Teriak Rathyan. Jas dan kemejanya basah oleh gelas dalam nampan yang tidak sengaja ditumpahkan Jennifer kearahnya.

“Mi .. miane .. oppa .. ,” sahut Jennifer gagap. “Saya .. saya tidak sengaja .. “

Rathyan segera membuka jasnya. Dan mengibas-ngibaskan kemeja yang menempel ketat di tubuhnya. Tapi, tidak ada gunanya. Kemeja itu sudah benar-benar basah. Begitu juga dengan celana skinny yang dikenakannya.

“Tahu tidak saya punya meeting beberapa menit lagi?!!” dengus Rathyan. “Kau menjadikanku basah kuyup begini! Mana saya tak punya waktu untuk berganti pakaian lagi!!!”

“O—“ Jennifer membuka mulutnya. Dia berlagak berpikir, lalu tiba-tiba dia menjentikan jemarinya. “Oppa tidak perlu khawatir. Di dalam ada setrika uap. Sebaiknya oppa membuka kemeja basah itu dan biar saya yang mengeringkannya .. Sebentar saja beres kok .. “

“Ya—“ Rathyan mengangkat pundaknya. “Tidak ada cara lain! Saya tak mungkin rapat dengan keadaan basah kuyup .. Lagipula, saya sudah terlambat … “

Rathyan membuka kancing-kancing kemejanya kemudian melepaskan kemeja basah itu dari tubuhnya dan memberikannya pada Jennifer. Gadis itu menyengir. Rathyan berhasil menangkap ekspresinya itu dan .. merasa sedikit heran. Namun kemudian, tidak diperdulikannya lagi. Tubuh jangkungnya yang bertelanjang dada dihempaskan kembali ke sandaran sofa dengan kepala menengadah ke atas.

Pada saat itu pula, pintu kamar dibuka dari luar. Rathyan menoleh … pandangannya langsung bertemu dengan tamu tak diundang itu. Mata Rathyan melebar secara perlahan-lahan … begitu juga si tamu tak diundang.

Bukkk .. Dua kantung dalam genggaman Daze terjatuh ke lantai. Matanya terbelalak lebar. “Kau … kau .. apa .. apa yang kau lakukan?”

“Siapa kamu?!” Suara Jennifer melengking dari arah ranjang.

Rathyan segera menegakan badannya. Baru disadarinya sekarang bahwa dia sedang bertelanjang dada dan Jennifer sekamar dengannya. Dan .. yang paling parah … Daze mendapati ketidakbenaran ini …. Dia percaya?

“Apa yang kalian lakukan?!!!” jerit Daze.

“Apa?!” Jennifer melangkah ke depan dengan sikap menantang. “Siapa kau berani-beraninya berteriak-teriak padaku?!!”

“RATHYAN JANG!!!” Daze mengalihkan perhatian pada Rathyan. “Ini pembalasan yang kau maksudkan?”

Rathyan tidak menjawab. Dia memejamkan mata rapat-rapat. Setelah itu dibukanya kembali. Dia bangkit dari sofa. Menyambar kemeja dari tangan Jennifer, begitu juga jas yang tergeletak di atas ranjang dan berjalan keluar dari kamar itu dengan bibir terkatup rapat.

“RATHYAN JANG!!” Daze mengejar keluar. Ditariknya lengan pemuda itu. “Katakan sesuatu?!!”

Rathyan menoleh padanya, tapi tidak bersuara. Rahangnya masih terkatup rapat. Sementara pandangannnya terlihat hampa.

“Jelaskan padaku apa yang telah terjadi?” jerit Daze dengan mata berair.

“Apa?” Rathyan balas bertanya. “Apa kau mempercayaiku? Apa kau akan mempercayai perkataanku, lebih dari penglihatanmu sendiri?!!!”

Daze tertegun. Dia tak mampu menjawab. Rathyan menatapnya dengan senyum hambar. Sesaat kemudian, wajahnya kembali berubah datar. Dia memutar badan perlahan, kemudian … secara mendadak--menghentakan alas sepatu kulitnya ke dinding. “BERENGSEK!!!”

Daze tersentak. Lamunannya buyar seketika. Dia mendongak tapi Rathyan sudah berada jauh di depannya.

“RATHYAN JANG!! KAU PERGI BEGITU SAJA??!!”

“Kau lihat kan?”

Pertanyaan itu membuat Daze menoleh. Jennifer White sudah berdiri di sebelahnya. Gadis muda itu tersenyum lebar.

“Oppa bersamaku!” ujar Jennifer sambil mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, terlihat sangat angkuh dan bangga. “Kukira sehebat apa hubungan kalian? .. ternyata .. hanya segitu? … Jika memang tidak ada kepercayaan di antara kalian, sebaiknya … lepaskan oppa!!”

Raut Daze mengeras. Perlahan, dihapusnya airmata terakhir yang membekas di pipinya. Dia memutar tubuh menghadapi Jennifer .. Lalu, dia tersenyum.

“Kau salah, agashi. Hubungan kami dari dulu memang seperti ini .. Pertengkaran-pertengkaran itu hanya bumbu penyedap saja .. “ Daze memajukan wajahnya sampai hampir menyentuh wajah Jennifer. “Kau bertanya—apa ada kepercayaan di antara kami … Maka dengan senang hati aku menjawabmu—Aku percaya padanya! Tanpa disadari atau tidak, aku tahu—Aku mempercayainya!”

Jawaban Daze menimbulkan dampak hebat bagi Jennifer. Wajah gadis muda itu berubah pucat. Daze kembali menyunggingkan senyumnya. “Terimakasih karna menyadarkanku, agashi .. Kepercayaan memang sangat penting artinya .. “

Daze mundur beberapa langkah, kemudian membalikan badannya. Setelah itu dia berjalan dengan langkah ringan, berlalu dari situ .. meninggalkan Jennifer yang mengigit bibir di tempatnya.

“TUANG SONGGGGGGGG!!!”



***** oOo *****


Keesokan harinya ….
Pesawat dari Seoul menuju Perth lepas landas dari bandara Internasional Incheon.

Di kabin kelas pertama, Rathyan tampak membolak-balik dokumen-dokumen dalam pangkuannya—tanpa menaruh perhatian sedikitpun terhadap keadaan di sekelilingnya. Sudah hampir setengah jam dia melakukan kesibukan itu. Sementara Daze yang duduk di sebelahnya, sejak setengah jam yang lalu pula, mengamati setiap gerak-gerik pemuda itu.

“Ehemm—“ Daze berdeham pelan, berusaha menarik perhatian pemuda itu. Berhasil! Rathyan menoleh. Daze menatapnya. Begitu juga Rathyan .. tapi pemuda bertampang datar itu tidak mengeluarkan suaranya. Sesaat kemudian dia menunduk dan berkutat kembali dengan dokumen-dokumen di tangannya.

“Rath .. ,” panggil Daze lirih.

“Hmm—“ Rathyan bergumam halus.

“Katakan sesuatu … ,” ujar Daze.

Rathyan menghentikan kesibukannya, dan sekali lagi menoleh pada Daze.

“Mwo?!”

“Katakan bahwa semua itu tidak benar .. ,” desis Daze.

“Mwo?”

“Asal kau katakan—semua itu tidak benar .. maka—maka saya akan mempercayaimu … “

Pandangan mereka bertemu kembali. Tatapan yang sangat dalam dan lekat. Sepasang mata yang tak berkedip dan berusaha saling memberi. Memberi apa? Tentu saja memberi kepercayaan yang selama setahun ini sudah menghilang entah ke mana.

Rathyan membuka mulutnya, kemudian berkata perlahan, “Semua tidak benar .. “

Daze mengulum senyum. Kepalanya menunduk, dan dianggukan berkali-kali. Sementara itu si Rathyan sudah tenggelam kembali dalam pekerjaannya setelah mengucapkan kata-kata itu.

Daze mengangkat wajah dan menatap Rathyan.

Lumayanlah … Kau sudah mau terbuka walaupun .. karna permintaan dariku … Ke depannya—pasti akan lebih baik .. Aku akan berusaha memahami dan mempercayaimu .. Untuk sementara—ini sudah lebih dari cukup …


***** oOo *****


_________________


♥️ "Everywhere ★ we learn ★ only from ★ those whom ★ we love" ♥️
avatar
DragonFlower

Posts : 94
Join date : 2013-06-17
Location : | Trapped in CNBLUE Dorm |

View user profile

Back to top Go down

Re: from Seoul to ... Perth-- by Lovelyn

Post by DragonFlower on Wed Jun 26, 2013 4:45 pm





from Seoul to ... Perth II--
Chapter Seventeen

By : Lovelyn Ian Wong



Song of the day :
Shape of My Heart by BSB

Lyrics :


Hmm, yeah, yeah
Baby, please try to forgive me
Stay here don't put out the glow
Hold me now don't bother if every minute it makes me weaker
You can save me from the man that I've become, oh yeah

Lookin' back on the things I've done
I was tryin' to be someone
I played my part, kept you in the dark
Now let me show you the shape of my heart

Sadness is beautiful loneliness that's tragical
So help me I can't win this war, oh no
Touch me now don't bother if every second it makes me weaker
You can save me from the man I've become

Lookin' back on the things I've done
I was tryin' to be someone
I played my part, kept you in the dark
Now let me show you the shape of my heart

I'm here with my confession
Got nothing to hide no more
I don't know where to start
But to show you the shape of my heart

I'm lookin' back on things I've done
I never wanna play the same old part
I'll keep you in the dark
Now let me show you the shape of my heart

Lookin' back on the things I've done
I was tryin' to be someone
I played my part, kept you in the dark
Now let me show you the shape of my heart

Lookin' back on the things I've done
I was tryin' to be someone
I played my part, kept you in the dark
Now let me show you the shape of my heart

Show you the shape of my heart



Pesawat yang membawa penumpang dari Seoul ke Perth mendarat di bandara sekitar pukul 9 malam. Beberapa puluh menit kemudian, Daze tampak bersusah payah menyejajari langkah Rathyan keluar dari bandara. Tapi percuma saja. Pemuda berkaki panjang itu melangkah lebar-lebar seakan tidak menyadari sekretaris pribadinya terkatung-katung di belakang. Sekitar tiga meter, tertinggal darinya.

Daze manggut-manggut sambil menekuk bibirnya. Tapi dia terus melangkah, mengikuti Rathyan tanpa berani protes. Mereka menyusuri halaman depan sampai menyeberangi jalan kecil hingga tiba di tempat parkir angkutan-angkutan umum kota, termasuk barisan taxi yang cukup panjang.

Tiba-tiba sebuah sapaan terdengar dari barisan paling ujung, tempat parkir khusus buat kendaraan-kendaraan pribadi.

"Doronim!!"

Rath mendongak dan menatap kearah suara itu. "Tuan Park .. ," desisnya pelan. Perlahan dia berpaling pada Daze yang pada saat itu langsung menghentikan langkahnya.

"Tuan Park?" Daze mengulang perkataan Rathyan. Ditatapnya pemuda itu dengan pandangan bertanya. Tapi Rathyan mengeleng perlahan. Sebagai jawaban bahwa dia tidak tahu apa-apa. Kemudian--agak segan, dia berjalan kearah asisten pribadi ayahnya itu.

"Ada masalah, tuan Park?"

Tuan Park tersenyum, .. untuk kemudian mengelengkan kepalanya, pelan.

"Kenapa berada di sini? Bukankah seharusnya kau menemani orang itu ke London?" tanya Rathyan sinis.

Tuan Park membungkuk. "Pak presiden tidak perlu ditemani. Beliau meminta ku membantu doronim .. ," jawabnya sabar dan hormat.

"Aku tidak perlu bantuanmu!" tukas Rathyan ketus. Setelah itu dia berbalik, dan mendadak .. menarik tangan Daze sampai gadis itu terperanjat kaget. "Apa kau bawa mobil?!" tanyanya tanpa menatap tuan Park, seakan dia sedang berbicara pada angin dan bukan pada asisten pribadi itu.

Tuan Park tersenyum lalu mengangguk. "Ne .. Yang berwarna perak paling depan .. ," sahutnya sambil menyilahkan dengan tangannya.

Tanpa perlu menunggu lebih lama lagi, Rathyan melewati tuan Park dan 'agak menyeret' membawa Daze ke mobil yang sudah dibuka sopir.

"Yaa--yaa---!!" protes Daze.

Dia berusaha melepaskan diri tapi Rathyan segera 'mendorongnya' masuk ke dalam mobil.

"Masuk!" perintah pemuda itu tegas.

"Yaa--kau!!" Daze mendelik, tapi tidak bisa menolak. Pasrah saja diperlakukan begitu. Dia menghempaskan diri di bangku paling ujung dan langsung melempar pandangan ke luar jendela, kesal.

Rathyan tidak menghiraukannya. Badannya ditegakan dan berbalik menghadapi pak sopir yang sudah berdiri di belakangnya dengan sikap hormat. Rathyan menyerahkan koper di tangannya, beserta milik Daze yang masih tergeletak di lantai semen untuk ditaruh dalam bagasi. Setelah itu dia masuk ke mobil, duduk di sebelah Daze bersamaan dengan Tuan Park yang menjatuhkan dirinya di bangku depan, sebelah kursi kemudi.

"Apa langsung ke hotel, doronim?" tanya Tuan Park sambil menoleh ke belakang.

"Menurutmu?" Rathyan balas bertanya. "Bukankah kau sudah mengecek semuanya, tuan Park?" lanjutnya sinis.

Tuan Park tersenyum lalu menganggukan kepalanya. "Ne, agashimida doronim .. " Kemudian dia beralih ke sopirnya yang baru memasuki mobil. "Kita ke Perth Hotel, pak ... "

Pak sopir mengangguk. "Ne, tuan .. "

Sebentar kemudian mobil perak itu meluncur keluar dari area bandara, memasuki jalan raya yang tidak begitu ramai dan bergabung dengan kendaraan-kendaraan lainnya yang melintas sesekali. Suasana sunyi di dalam mobil. Daze masih saja betah dengan pemandangan di luar, mengamati segala sesuatu yang tidak asing baginya dengan pikiran menerawang ... tidak ada yang berubah di sini ..

Saat itu bulan Juli, ... tidak berbeda dengan tahun lalu, salju turun lagi, 'dengan sangat lebat', ... melapisi rumah-rumah, jalan-jalan dan pohon-pohon dengan serpihan-serpihan kertasnya yang putih dan dingin, ... membawa kembali kenangan-kenangan yang berusaha dilupakannya. Tapi yang dia yakini, seumur hidup tidak mungkin dilupakannya.

Daze mengigit bibir kemudian mendesah. Matanya mulai meredup, perlahan-lahan. Diangkatnya tangannya, menekan bagian dada dengan sangat pelan. Kesedihan itu menyayat kembali. Kematian halmonie, pengalaman pertama diputus seorang pria yang pertama kali dikencaninya, .. dan yang paling penting dari semua itu, ... pertemuannya dengan seorang pemuda yang telah merubah hidupnya. Pertemuan yang tidak bisa dikatakan manis tapi berkesan ... sentuhan pertama yang mengetarkan .. ciuman yang lembut, bibir yang lembab, dan perhatian yang diberikan walaupun tidak diungkapkan, .. semua begitu ... begitu terasa ... Apakah sudah setahun peristiwa itu terjadi? Tapi mengapa .. mengapa dia merasa baru kemarin? .... Rasa sakit itu .. masih sangat terasa ...

"Dazya ... "

Daze menghela nafas, menahannya sebentar kemudian berpaling perlahan. Tatapannya segera bertemu dengan pandangan Rathyan yang agak gelap. Mereka tidak bersuara. Saling menatap dengan pandangan lekat. Sesaat kemudian Rathyan mengalihkan pandangannya ke depan.

"Apa yang kau pikirkan?" tanyanya dengan nada datar.

"Kau ingin tahu?" Daze balas bertanya.

Rathyan mengangkat bahu, kemudian mengeledah tas kerjanya, mengeluarkan sebuah dokumen yang terjepit rapi. "Tidak!" jawabnya datar.

Daze menghela nafas lagi. Selalu begitu! Jika memang ingin tahu, kenapa dia tidak menanyakannya saja? Apa susahnya membuka mulut dan bilang 'IYA', .. Aku pasti akan menjawabnya ...

Rathyan menyibak lembaran-lembaran dokumen di tangannya. Berlagak mempelajari padahal pandangannya nanar tertuju pada huruf-huruf kecil yang terketik rapi di situ. Tidak konsentrasi.


Rathyan Pov ...
PERTH--kembali ke sini, ... ada sesuatu--sesuatu yang membuatku rindu. Aku ingin tahu, apa kau juga merasakannya? Jawaban ini yang ingin kuketahui, Dazya. Kenangan-kenangan setahun yang lalu ... Andai saja aku diberi kesempatan memilih waktu itu, aku ingin mengatakannya padamu--'Jangan pergi, bahwa kau segalanya bagiku! Tanpamu, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Hidup bagaikan mayat. Bergerak di bawah sadar--tidak tahu apa yang dilakukan. Bekerja hanya karena sebuah janji 'atas kebahagiaanmu'. Aku ragu, mungkinkah itu salah?', tapi seperti biasanya--mulutku terkunci saat itu, tidak bisa dibuka. Kata-kata yang sudah tersusun rapi di pikiranku tidak mampu dikeluarkan .. Aku berharap kau mengerti 'AKU', memahamiku apa adanya, .. tapi mungkinkah bisa, sementara aku sendiri meragukan harapan itu?
Kadang-kadang, aku berharap bisa membalikan waktu meskipun kedengarannya mustahil. Tapi sungguh, ... aku berharap mempunyai kemampuan itu. Aku ingin balik ke moment itu. Mencegahmu pergi dariku, memintamu tinggal walaupun dengan resiko ditolak olehmu ... Maukah kau memberikan kesempatan itu, ... Dazya?



Sedangkan Daze, .. terus menatap Rathyan. Menelusuri setiap inci lekuk wajahnya yang sempurna. Menghayatinya, walaupun agak tertutupi oleh rambutnya yang panjang dan agak awut-awutan. Mata itu .. menempel ke dokumen di pangkuannya, tidak bergerak. Daze menghela nafas. Dia jadi bertanya, ... Apa yang dipikirkan Rathyan saat ini? Kenapa dia ... selalu membuat perasaannya tak karuan begini?

Rath--tahukah kau, .. bagaimana pengaruhnya dirimu terhadapku? Aku sudah berusaha .. berusaha mempercayaimu .. Hanya satu ucapan, satu ucapan saja darimu, aku akan percaya. Apapun yang kulihat itu, apapun yang kudengar itu, aku tidak ingin tahu. Aku hanya ingin mempercayaimu. Ingin memegang teguh perasaan ini. Aku berharap kau menyadarinya ...

Daze mengambil nafas dalam-dalam kemudian mengalihkan perhatiannya ke luar jendela. Menempelkan wajahnya di kaca yang agak berembun oleh udara dingin. Serpihan-serpihan salju masih diterbangkan angin kearah mobil mereka. Menghempas kaca jendela dan jatuh ke jalanan aspal yang sudah terselimut salju tebal. Dia merasa kedinginan. Perlahan dia merapatkan mantelnya dan menghembuskan nafasnya yang beruap. Mobil itu terus melaju, walaupun agak tersendat-sendat oleh timbunan salju, perlahan mencapai hotel Perth yang saat itu sudah buram-buram terselimut dewi malam.


ooooOoooo


Daze keluar dari mobil dengan dibukakan pintunya oleh sopir. Sedangkan Rathyan sudah keluar duluan dan melangkahkan kakinya mendahului mereka menuju lobi hotel Perth. Daze memandangi tuan Park yang hanya bisa tersenyum pasrah. Setelah itu mereka sama-sama memasuki hotel, mengikut di belakang Rathyan.

"Urus semuanya tuan Park!" Rathyan berbalik dan berhenti dengan sepasang tangan bersidekap di depan dada.

Langkah tuan Park tercekat. Dia terhenti dan menengadah kearah Rathyan. Sesaat kemudian dia tersenyum dan membungkukan badannya. "Ne, doronim .. " Kemudian pria kurus itu berjalan ke bagian concierge.

Sesaat tercipta kekakuan antara Daze dan Rathyan. Mereka tidak saling menatap. Daze meletakan ranselnya di atas koper, untuk kemudian menjatuhkan pandangannya ke lantai. Berlainan dengan Rathyan yang mendongakan kepalanya, menatap semu langit-langit hotel yang teramat tinggi.

Sekitar tujuh menit kemudian tuan Park kembali lagi. Dia mengulurkan sebuah kartu yang merupakan kunci hotel kepada Rathyan.

Rathyan menerimanya tanpa mengucapkan apa-apa, kemudian mulai melangkahkan kakinya.

"Doronim ... "

Tapi panggilan tuan Park menghentikan langkahnya. Rathyan menoleh dengan kaku. "What's up?"

"Satu kamar?" tanya tuan Park lambat-lambat.

Rathyan menghentakan kopernya ke lantai lalu berbalik menghadapi tuan Park. "Ne! Ada masalah?!!" tanyanya dingin.

Daze yang melihat itu, menatap kaku dari tempatnya. Kakinya yang tadi bermaksud dilangkahkan, tertunda. Sepertinya akan terjadi perang dunia ketiga .. , desisnya khawatir.

Tapi terlihat tuan Park melayani sikap liar Rathyan dengan tenang. Perlahan pria itu menundukan kepalanya, hormat. "Tidak, doronim .. hanya saja ... "

"Hanya apa?!!" bentak Rathyan.

"Pria dan wanita sekamar .. kayaknya .. tidak begitu baik ... ," ujar tuan Park pelan.

"Apanya yang kurang baik?!!" Rathyan menyeret kopernya sampai di depan tuan Park. "Dia sekretaris pribadiku. Dan ada yang ingin kudiskusikan dengannya berhubungan dengan rapat besok pagi, .. Apa itu bermasalah bagimu?!!!"

Tuan Park membuka mulut, lalu menghembuskan nafasnya. Dia tersenyum, akhirnya membungkuk sedalam-dalamnya, tanda menyerah. "Aniyo, doronim ... "

"Tunggu sebentar!" Daze yang sedari tadi diam saja, menyela. "Siapa yang sekamar?" tanyanya linglung. "Wanita? Bu .. bukan aku kan yang kalian bicarakan?"

"Apa masih ada wanita lain di sini?" celetuk Rathyan.

"Tapi .. " Daze membelalakan matanya. ".. kenapa begitu? .. Kenapa harus sekamar?"

"Apa kau tidak dengar jawabanku tadi?!" Rathyan balas bertanya. "Pakai baik-baik telingamu, Daze Han--Karena sebagai sekretarisku, kau harus punya kemampuan itu." Lalu dia mulai menyeret kopernya dari situ. "Dan satu hal lagi, .. " tiba-tiba dia berpaling, membuat Daze langsung melebarkan matanya bulat-bulat. "Aku paling tidak suka mengulangi apa yang telah kukatakan, cam-kan itu!"

"Ta .. tapi .. " Setelah keterkejutannya, Daze segera mengejar Rathyan. "Aku tidak ingin sekamar denganmu!"

Seruan itu sukses membuat Rathyan berpaling dengan kaku. "Kalau begitu, cari tempat sendiri! Tapi ingat, dalam waktu lima menit kau harus bergabung denganku di dalam kamar. Ada yang mesti kita diskusikan!"

"MWO?!!" Daze melonggo di tempatnya. Berniat membuka mulut buat protes , tapi segera terbungkam oleh jarak Rathyan yang semakin jauh darinya. "YAA!!" teriak Daze. Segera dia menyambar kopernya dan berlari mengejar Rathyan. Untuk terakhir kali dia menoleh dan mengangguk kecil pada tuan Park yang membalasnya dengan membungkukan badannya.

"YAA--berhenti!!!" seru Daze. "Tunggu saya!!" Sebentar kemudian sosok mereka menghilang dibalik lorong hotel.


ooooOoooo


Rathyan membuka pintu kamar 1503 dengan kartu di tangannya, kemudian melangkah masuk. Daze memberengut, agak ragu juga ketika melangkahkan kakinya ke dalam kamar.

"Benar-benar harus se-kamar?" tanya gadis itu kembali.

"Apa hal ini perlu dibahas lagi, Daze Han?" balas Rathyan dingin. Dia mendorong kopernya sampai menempel ke dinding, kemudian melangkah ke kamar mandi yang ada di situ. "Aku tidak masalah jika kau tinggal di hotel lain!!" serunya dari kamar mandi.

"Tapi harus siap dalam waktu lima menit, iya kan?!!" Daze balas berseru, dongkol. Sama saja bohong!!, dengusnya dalam hati. Bagaimana mungkin mengunakan waktu lima menit ke kamar ini? Sekalipun sehotel atau selantai sekalipun, tidak mungkin mencapai kamar ini dalam waktu sesingkat itu! Anak ini menyusahkan saja!!

"Itu konsekuensinya!!"

Rathyan keluar dari kamar mandi dengan wajah dan rambut basah. Di lehernya tergantung sehelai handuk kecil, dan kemeja di bagian dadanya agak terbuka sampai setengahnya. Melihat itu, Daze segera membuang muka.

Seperti tak terjadi apa-apa Rathyan meneruskan langkahnya. "Kau mandi dulu, ... diskusinya kita lakukan nanti!" sambungnya datar. Dia melewati Daze, kembali ke kopernya. Mengeledah sebentar, lalu mengeluarkan beberapa helai baju yang kemudian digantinya begitu saja di depan Daze.

Sekali lagi Daze segera membuang wajahnya. Tindakan pemuda ini membuatnya kikuk setengah mati. Ketika melewatinya saja, Rathyan sudah membuatnya grogi. Aroma cemara yang begitu kental itu menyebar sampai mengelitik hidungnya. Membuatnya berfantasi. Andai saja dia dapat merasakan aroma memabukan itu di tubuhnya, tapi ... oh tuhan, buang jauh-jauh pikiran itu!! Daze melebarkan matanya. Apalagi saat ini, pemuda sableng ini seenak perutnya membuka baju di depan matanya. Seolah memamerkan dadanya yang bidang berlapis enam, sampai perutnya yang rata tak berlemak. Daze segera memejamkan mata rapat-rapat dan mengeleng keras-keras. Tidak!!! Singkirkan bayangannya dari mataku!!

"Masih berdiri di situ?!"

Teguran Rathyan menyentak Daze. Segera saja dia membuka mata linglung. "Dhe?"

"Kau tak perlu membersihkan diri?" Rathyan mengerutkan alisnya. "Sudah jam berapa ini?"

"Sa .. saya .. ," ucap Daze bingung.

"Bergegaslah!" Rathyan mengibaskan tangannya, mengusir Daze buat bersih-bersih. "Aku akan mempersiapkan data-datanya dulu .. " Kemudian postur jangkung itu bergerak ke arah ranjang di mana tas kerjanya tadi dihempaskan.

Daze menghela nafas perlahan. Sepertinya pemuda ini memang tidak pernah tahu apa yang dipikirkannya ... Sesuai namanya--Rath si dingin? Mungkin ..., Daze tersenyum kecut. Dengan agak sempoyongan dia berjalan ke kopernya, mengambil beberapa helai pakaian kemudian beranjak ke kamar mandi. Bum!! Pintu kamar mandi itu dihempaskan olehnya.

Tanpa disadari Daze, Rathyan menoleh perlahan. Menatap nanar pintu yang terbuat dari kayu licin itu.


ooooOoooo


Drek,,

Rathyan mengangkat wajah dari dokumen yang sedang ditekuninya ketika mendengar bunyi pintu dibuka perlahan. Daze keluar dari kamar mandi dengan tampang segar. Terbalut sweater tebal warna merah yang panjangnya di atas lutut. Rambutnya yang terpotong pendek masih meneteskan bintik-bintik air sedangkan sebuah syal panjang melilit lehernya. Langkah gadis itu agak tercekat begitu mendapati pandangan Rathyan terpusat padanya. Mereka terdiam dan saling menatap untuk beberapa lama. Tapi sesaat kemudian Rathyan segera menoleh ke arah lain dan menyambar secarik kertas yang segera disodorkannya pada Daze.

"Mwo?" tanya Daze linglung. Tapi walaupun begitu tangannya bergerak juga menerima kertas tersebut.

"Jadwal kita selama di Australia .. ," sahut Rathyan datar seraya mengalihkan perhatian kembali ke dokumen di atas pangkuannya.

"O--" Daze membuka mulut lambat-lambat untuk kemudian mulai menjelajahi daftar di tangannya. Ditelusurinya satu persatu list meeting yang sudah tersusun rapi, berikut tanggal dan waktu penyelenggaraannya. Perlahan tapi pasti alisnya berkerut dalam dan semakin dalam. "Besok malam terbang ke Sydney, ... dan empat hari kemudian .. dari situ langsung ke Aussie .. ?" Daze mengangkat wajahnya.

Rathyan menoleh, dan pandangan mereka segera bertemu.

Daze kembali menundukan kepalanya, dan menatap kaku daftar tersebut. "Begitu padat?" lanjutnya lirih.

Rathyan menutup dokumen dalam tangannya kemudian menaruhnya di atas meja yang berdempetan dengan ranjang. "Ne, .. ada masalah?" tanyanya sambil menarik dokumen yang lain.

Daze mengangkat kepala, menatap Rathyan. Dia berpikir .. Apa sebaiknya diceritakan saja rencana pernikahan Dave pada Rathyan? Meminta padanya supaya memberinya cuti sehari buat menghadiri pernikahan Dave? ... Mungkinkah anak ini tidak tahu apa-apa tentang kehidupan sahabat satu-satunya di Perth ini selama setahun terakhir ... apa dia melupakan pernikahan yang sudah dirundingkan dulu? Tapi ... apa jadinya jika dia sampai bertemu Carlson? Berpikir sampai di sini, Daze bergidik ngeri. Ada kemungkinan itu kan? .. Bukankah Carlson pernah bilang kalau dia sudah diundang dan akan berangkat ke sini bersama omma tiga hari kemudian? Daze segera mengelengkan kepalanya--semakin ngeri memikirkan kemungkinan-kemungkinan ini. Tidak! Jangan sampai mereka bertemu! Lebih baik Rathyan tidak tahu segalanya! Biar saja dia yang tidak hadir dalam acara pernikahan dongsengnya itu daripada kedua pria itu harus berbentrokan. Entah apa jadinya jika sampai kedua pria itu bertemu. Apa yang mungkin akan mereka lakukan, terutama Rathyan?

"Ti .. tidak .. ," Daze menyahut lambat-lambat. Percuma mengutarakan maksud ini. Sedapat mungkin perang tidak perlu itu mesti dihindari! Rathyan dan Carlson tidak boleh bertemu! titik. Daze menghela nafas dan kembali mempelajari daftar di tangannya. Hatinya mencelos. Walaupun begitu ... dia begitu merindukan Dave. Ingin sekali bertemu dan memeluk dongsengnya itu, .. terutama si kecil Cherryl ... Sudah beberapa bulan, terasa lama sekali ... Mungkinkah dia mempunyai kesempatan itu? Meluangkan sedikit saja waktu di antara padatnya jadwal kerja di Australia ini? Dan ... matanya melebar ketika menemukan sedikit celah di antara jadwal yang sangat padat dalam daftar. "Setelah rapat besok siang, .. ada waktu beberapa jam yang tersisa sebelum keberangkatan ke Sydney .. ?" ujarnya pelan.

Rathyan kembali menoleh padanya. "Ne. Memangnya kenapa?"

"Eh--eeeh .. " Daze langsung bungkam. Mungkinkah ... mungkinkah dia bakal diijinkan jika ...

"Waktu beberapa jam itu sengaja disisihkan untuk ku pribadi!" celetuk Rathyan.

"Dhe?" Daze mengangkat dagunya.

"My private time!" tekan Rathyan. "Aku sengaja menyisihkan waktu itu buat melakukan sesuatu yang kusukai .. "

"Oh--" Daze membuka mulut lebar-lebar. Pupus sudah harapannya untuk minta ijin kembali ke rumah selama beberapa jam.

"Weeyo?" tanya Rathyan tajam.

Daze segera mengelengkan kepalanya, sambil mengigit bibir keras-keras. "Aniyo .. "

"Jika tidak ada, kau tidurlah!" tukas Rathyan dengan gaya mengusir.

"Mwo? Ta .. tapi .. ," Daze melirik dokumen-dokumen yang menumpuk di atas meja, kemudian ke beberapa lagi yang tergolek di atas kasur. "Persiapan buat meeting besok ... "

Rathyan meletakan dokumen di tangannya, lalu menyambar dokumen-dokumen dari atas ranjang, .. merapikannya untuk kemudian menaruhnya di meja. "Tinggal sedikit lagi ... "

"Dhe?"

"Persiapan untuk meeting besok!" jawab Rathyan tidak sabar. "Saya hampir menyelesaikannya! Jadi kau tidak usah repot. Tidurlah!"

"Kau sendiri gimana?" tanya Daze pelan. "Kapan tidur?"

Rathyan dan Daze saling berpandangan. "Limabelas menit lagi .. ," jawab Rathyan akhirnya.

"Jinja?"

"Ne!" sahut Rathyan. "Jadi tidurlah!" katanya sambil mengibaskan tangannya.

Daze mengangguk. Perlahan dia menjatuhkan diri di atas ranjang. Menyelimuti badannya kemudian mulai memejamkan mata sambil membuang jauh-jauh apa yang berkelayut dalam pikirannya. Dia merasa capek .. sangat capek ...


ooooOoooo


Daze membuka mata perlahan. Dan hal pertama yang tertangkap oleh pandangannya adalah punggung Rathyan yang masih duduk dalam posisi membelakanginya. Alis Daze berkerut, kemudian dia melirik jam kecil yang terletak di atas meja dekat ranjang. Sudah pukul 1 lewat 25 dini hari. Dia belum tidur juga? Tadi katanya tinggal sedikit lagi, tapi ini .. sudah lewat dua jam … Daze segera memejamkan mata begitu menangkap gerakan halus dari Rathyan. Dia mendengarkan dengan seksama, … suara dokumen yang diletakan di atas meja, setelah itu sunyi.

Rathyan merentangkan tangannya kemudian mengerak-gerakan kepalanya dalam upaya melemaskan otot-ototnya yang terasa tegang dan penat. Setelah itu, dilepasnya kacamatanya lalu ditaruh di dalam kotak kecil yang diambil dari tas yang menyampir di kepala ranjang. Dia menghembuskan nafas perlahan lalu bangkit dari posisi duduknya. Untuk sesaat dia mengamati sosok yang terbaring di atas ranjang, agak merapat di dinding. Sekali lagi dia menghembuskan nafasnya lalu beranjak ke meja teh yang berada di ujung kamar itu. Jendela-jendela dari kaca besar memperlihatkan pemandangan kota Perth yang lagi tidur lewat situ. Lampu-lampu kecil berkerlap-kerlip tinggi di antara tiang-tiang jalan, begitu juga pagar-pagar rumah. Rathyan mengambil teko kecil dari nampan yang tersedia di atas meja lalu menuang secangkir teh. Diseruputnya teh tersebut sampai habis. Dia meleletkan lidah, .. huekk—teh itu sudah sangat dingin, … decaknya jijik.

Kemudian dia menghempaskan tubuh di sofa pendek dan melemparkan pandangan ke luar jendela. Salju masih turun walaupun tidak selebat beberapa jam yang lalu. Hanya lima menit Rathyan duduk dalam posisi itu, lalu dia bangkit dan beranjak kembali ke ranjang. Lagi-lagi diamatinya paras ayu yang 'dikiranya' tertidur lelap di atas ranjang. Dia bergerak pelan dan memperbaiki selimut yang agak tersingkap dari tubuh gadis itu, menyelimutiya.

Rathyan menghela nafas untuk kesekiankalinya. Apa yang diinginkannya saat ini, .. sungguh dia tidak tahu ... semua terasa tidak nyata, .. sangat samar ... Tangannya ingin mengapai, tapi … Gadis ini berada di hadapannya, .. bersamanya--'karena keterpaksaan’ .. Secara langsung atau tidak langsung, dia yang memasang 'perangkap' ini … Dia yang memberi perintah pada Nona Kim untuk memesan 'satu kamar VIP' buatnya dan--Daze .. Agak memaksa? Ya, dia tahu. ... jadi, apakah yang diinginkannya dengan rencana ini? Membuat Daze tinggal di sisinya??--selalu--???? Rathyan mengeleng dengan mata terpejam. Sekali lagi, DIA TIDAK TAHU.

Rathyan menghembuskan nafasnya yang beruap. Menengadah ke langit-langit kamar sambil membaringkan tubuhnya di sisi ranjang. Suasana terasa sunyi dan mati. Dingin, .. itu yang sangat terasa saat ini. Perlahan dia menarik selimut di sampingnya dan menyelimuti tubuhnya dengan berhati-hati agar tidak membangunkan Daze dari tidurnya. Tapi ketika dia menoleh, disadarinya gadis itu sudah menatapnya dengan pandangan redup. Rathyan melebarkan mata perlahan-lahan.

“Kau ….. “

“Kenapa membohongiku?” Daze menyela.

“Mwo?”

“Kau bilang tinggal sedikit lagi, .. tapi lihat, sudah jam berapa sekarang?”

Rathyan segera membuang muka kearah lain. "Saya tidak bohong! .. Hanya tidak tahu .. bakal selarut ini!"

"O ya?" selidik Daze. Dia tidak percaya. Pemuda ini pasti berbohong .. jika tidak, dia tidak perlu membuang muka seperti itu.

"Kau juga!" Rathyan menolehkan kepalanya kembali. "Kenapa tidak tidur?!" tegurnya tajam.

"Saya sudah tidur .. ," sahut Daze. "Tapi terbangun kembali dan mendapatkanmu masih sibuk dengan 'pekerjaan' yang katamu 'tinggal sedikit' itu .. "

"Huhh--" Rathyan mendengus. "Itu bukan urusanmu!" sahutnya ketus. "Lagipula, ... sekalipun kuminta kau temani, apa yang bisa kau perbuat untuk ku??!! Apa kau bisa mengurus dan memberi masukan buat rapat-rapat nanti?!!"

Daze mendesah, "Tidak .. ," jawabnya pelan dengan raut menyesal. "Mianata .. "

Rathyan segera menjauhkan pandangannya. "Sudahlah. Kau--tidurlah kembali!" Setelah itu dia memejamkan matanya, mencoba untuk tidur. Walaupun dia yakin malam ini tidak bakal tidur nyenyak tapi dia berusaha mengosongkan pikirannya, .. melupakan gadis yang tidur begitu dekat di sisinya. Tidak boleh! Dia tidak boleh memikirkan apapun tentang Daze, .. kalau tidak--dia pasti akan melakukan kesalahan! Kesalahan fatal yang setahun yang lalu begitu dijaganya.

"Rath ... ," terdengar Daze memanggilnya, .. sangat lirih. Pandangan gadis itu menerawang ke langit-langit kamar.

"Hmm--" Rathyan membuka matanya kemudian menoleh perlahan-lahan. Namun dia tidak mengucapkan apa-apa.

"Kejadian di hotel Seoul waktu itu ... ," mulai Daze sambil menoleh dan bertemu dengan pandangan Rathyan.

"Aku tidak ingin membahasnya!!" tandas pemuda itu tiba-tiba.

"Aku memilih percaya padamu!!" sela Daze, memutus pernyataan keras Rathyan.

Sesaat keheningan menyelimuti mereka. Sepasang mata saling menatap dalam diam, ... berusaha menguras apa yang berkecamuk dalam perasaan masing-masing. Rathyan mengatupkan mulutnya yang tadi sempat dibuka untuk protes. Perkataan yang bermaksud dikeluarkannya terkunci rapat-rapat bersama terbungkamnya mulutnya itu. Sedangkan Daze--meremas kepala selimut yang membalut tubuhnya untuk kemudian memutuskan untuk meneruskan perkataannya yang tertunda.

"Walaupun apa yang kulihat dan kudengar kedengarannya sangat mustahil, .. tapi ... aku percaya ... "

"Kau .. percaya padaku?" tanya Rathyan lambat-lambat.

"Ne!" tukas Daze yakin.

Lalu .. raut Rathyan yang ragu-ragu tiba-tiba mengeras. "Gentwee, wee?" tanyanya tajam. "Apa yang menyebabkanmu berubah? .. Apa kau takut aku akan mempersulitmu?" Dia tersenyum sinis. "Kau tak perlu melakukan itu, Daze Han!--karena aku tidak semunafik itu!!"

"Anhi!" Daze mengeleng seraya mengigit bibirnya. Dia jadi bertanya-tanya, bagaimana caranya membuat pemuda ini percaya? Sulit sekali rasanya kalau harus berkomunikasi dengannya. "Karena aku ingin percaya!" tandas Daze keras dan tegas. "Karena aku sadar .. ," suaranya perlahan memelan. " .. kepercayaan itu sudah ada sejak dulu, .. Hanya saja .. tidak kusadari .. "

Rathyan menatap Daze dengan sorot mata meredup. Perang batinnya berkata, Seharusnya dia memberi kesempatan pada hubungan mereka. Seharusnya dia tidak sekeras ini terhadap Daze. Lagipula, bukankah dia juga mengharapkan perubahan ini? Tapi, di saat yang lain sebuah suara yang sangat angkuh menyeletuk, Apa yang diberikan gadis ini padanya selama setahun ini selain kepedihan dan penderitaan? Sementara dirinya sudah berkorban begitu banyak, .. melakukan banyak hal hanya untuk melihatnya bahagia ...

"Rath .. ," panggilan Daze terdengar menyayat.

Rathyan membuka mulut dan menghembuskan nafasnya ke udara. Uap-uap tipis yang terbentuk langsung membeku saking dinginnya suhu di kamar itu. Harga diri--apakah itu begitu penting? Segitu pentingnya sehingga harus dipertahankan? Sementara dia tahu dan sadar keangkuhan itu sendiri hanya mendatangkan petaka? [/b]Apa susahnya mengucapkan satu kata, Rathyan Jang!![/b] rutuknya dalam hati. Lalu dia menoleh pada Daze. Sanggupkah dia melihat tatapan sendu ini--sekali lagi?

Rathyan mengangkat tangan perlahan, menyentuh wajah Daze yang agak pucat, lalu mengelusnya pelan. "Aku ingin menekankan padamu--aku tidak melakukannya. Jenny--tidak berarti bagiku. Dia hanya orang asing!"

Daze mengangguk. "Aku percaya .. ," desahnya pelan.

Lalu ... semua terjadi begitu saja. Rathyan merapatkan badannya pada Daze, agak sedikit mengangkat kepala dia mendaratkan bibirnya ke bibir gadis itu ... melumatnya dengan pelan. Tangan kanannya melingkar ke balik leher jenjang dan mulus itu, menariknya kearah dirinya sehingga dada mereka saling menempel dengan ketat. Degup jantung terasa jelas, berdebar sangat keras.

Daze mendesah. Dia membuka bibir kemudian membalas lumatan-lumatan Rathyan. Tubuhnya menegang, .. dia begitu mengharapkan ciuman dari pria ini, setiap jengkal sentuhannya mampu membuat pikirannya melayang .. menginginkannya sampai mati. Daze mengayutkan lengannya ke leher Rathyan dan menekannya sampai bibir mereka tenggelam satu sama lain. Tubuh mereka saling bergesekan sehingga menimbulkan suara-suara berisik dari pakaian dan sweater yang mereka kenakan. Lambat laun ciuman mereka menjadi makin panas, saling melumat dan memberi dalam gairah. Desahan dan rintihanpun terdengar, apalagi ketika Rathyan mulai menurunkan tangannya dan menyisipkan ke balik sweater yang dikenakan Daze. Diremasnya bukit dada gadis itu yang masih terbalut bra. Daze agak tersentak.

"Ah--Rath ... ," desisnya lirih.

"Emm--," balas Rathyan.

Bibir mereka terus bertaut, begitu bergelora dengan sesekali diiringi gerakan memelintir dari lidah dalam mulut masing-masing.

Tangan Rathyan menurun semakin ke bawah. Dari dada Daze, beralih ke perut dan .. makin ke bawah, ... sampai dia menyentuh sesuatu yang membuat Daze terlonjak kaget. Diremas dan ditekannya bagian tersensitif itu.

"Rath!! Oh--"

"Hmm--" Rathyan menurunkan ciumannya ke leher, mencetak bercak-bercak merah di sana, kemudian kembali lagi ke bibir, .. disesap dan disedotnya bibir gadis itu. Kemudian, perlahan tapi pasti, disingkapnya sweater yang dikenakan Daze, membuka kemudian mencampakannya ke lantai. Sekarang Daze hanya terbalut bra dan celana panjang yang masih melekat di tubuhnya. Kemudian tangannya bergerak untuk melepas celana gadis itu.

"Kamu yakin?" tanya Daze lirih dibalik nafasnya yang memburu. Matanya redup menatap penuh hasrat.

Pertanyaan ini membuat Rathyan menghentikan gerakan tangannya. Sesaat tubuhnya membeku. Ditatapnya Daze dalam-dalam. Seperti disadarkan akan sesuatu, tiba-tiba dia menarik selimut dari ujung ranjang sampai menutupi seluruh tubuh Daze yang sudah setengah polos.

"Tidurlah!" kata Rathyan dengan nada serak.

"Wee .... ?" tanya Daze, suaranya terdengar bergetar. Dia mengangkat tangan dan menyentuh wajah Rathyan, namun segera ditebis oleh pemuda itu.

"Jangan banyak tanya! Tidurlah!!"

Lalu Rathyan segera memutar tubuh ke samping dan memejamkan matanya. Membiarkan Daze yang masih memandanginya dengan sorot mata bingung, ada apa lagi dengannya?, tanya gadis itu dalam hati. Daze menghela nafas. Sepertinya percuma bertanya lebih lanjut. Pemuda ini pasti tidak akan menjawabnya. Daze lalu memejamkan matanya, berusaha untuk melupakan apa yang terjadi barusan.

"Aku ... juga .. ingin mempercayaimu ... " Rathyan mendesis pelan.

Daze kembali membuka matanya, menoleh pada Rathyan. "Dhe?"

"Aku .. juga berusaha .. untuk percaya .. ," jawab Rathyan tanpa membuka matanya. Masih dengan nada pelan dia melanjutkan. "Masih terasa sulit .. tapi .. aku akan berusaha .. Kau--mau menungguku, kan?" Perlahan dia membuka mata dan menoleh pada Daze. Matanya bersinar redup.

Daze tersenyum. "Ne ... ," ujarnya halus.

Rathyan menatapnya kemudian mengangguk. Sesaat kemudian seulas senyum tipis tersirat di wajahnya. Dia bergeser ke arah Daze. Sedikit mengangkat kepala, dia mendaratkan bibirnya di jidat gadis itu, mengecupnya dalam-dalam.

"Tidurlah!" ujarnya setelah itu.

Daze tersenyum, .. sambil melingkarkan tangannya ke tubuh Rathyan, dia menyandarkan kepalanya di dada bidang itu, memejamkan mata dan mendengarkan dengan seksama setiap degup jantungnya yang terasa berirama di telinganya, seperti nyanyian dari surga ... begitu menenangkan dan dalam sekejap sudah membawanya ke alam tidur. Bermimpi yang sangat indah.


ooooOoooo


Rapat yang dilakukan pihak Max-Global mengenai rencana kerjasama pengeluaran ponsel terbaru MaxSun dengan LiveSun Electric dilakukan esok harinya, dan berlangsung sekitar dua jam. Garis besar yang telah disusun dalam proposal yang dibuat dalam representasi yang dilakukan, seperti masalah pendesainan, bahan-bahan yang akan digunakan, biaya dan waktu pengeluaran beserta hal-hal terkecil disepakati dengan baik. Tidak banyak pertentangan yang dilakukan oleh kedua belah pihak. Penandatanganan dilakukan dalam waktu singkat dan hasilnya cukup memuaskan.

Pukul 10—Rathyan, Daze dan tuan Park keluar dari gedung LiveSun. Tujuan mereka selanjutnya adalah gedung fashion Perth. Di sana akan dilangsungkan fashion show yang mau tidak mau harus dihadiri Rathyan. Pemegang trademark terbesar ‘Channel’ mengundang Max-Global sebagai tamu VIP-nya.

Selama acara fashion show berlangsung, Rathyan menolehkan kepalanya berulangkali, terlihat malas dan bosan. Namun sekuat tenaga ditahannya. Dia tidak boleh terlihat tidak hormat pada tuan rumah yang telah begitu baik hati mengundang mereka. Apalagi sampai tertidur ...

Dalam acara tersebut hanya satu hal yang menarik perhatian Rathyan, .. yaitu ketika dia menolehkan kepalanya melihat Daze begitu menikmati acara ini. Ekspresi gadis itu membuatnya betah. Waktu beberapa jam berlalu tanpa terasa.


ooooOoooo


"Kita lunch dulu, tuan Park!" perintah Rathyan pada tuan Park begitu keluar dari gedung fashion Perth.

"Ne .. ," sahut tuan Park. Lalu dia memberi perintah kepada pak sopir untuk membawa mereka ke restoran terdekat.

Mereka menghabiskan lunch di sana selama satu jam. Waktu sudah menunjukan pukul 2 siang ketika keluar dari restoran.


ooooOoooo


"Selanjutnya kemana, doronim?" tanya tuan Park sambil menoleh ke jok belakang.

Saat itu mobil yang mereka tumpangi sedang melaju di jalan raya, membelah dan mengikis lapisan-lapisan salju yang menutup sepanjang jalan.

"Kembali ke hotel. Saya ingin ganti baju dulu!" sahut Rathyan.

"Ne .. "

Begitu ada perintah dari Rathyan, mobil memutar haluan, kembali ke hotel Perth.


ooooOoooo


Daze melihat jam tangan kulitnya. Setengah jam berlalu sudah sejak perintah dari Rathyan buat menunggunya di halaman parkir hotel bersama tuan Park. Kemana perginya anak itu? Katanya cuma ganti baju, .. kenapa selama ini? Daze mengerutu. Dia berpaling pada tuan Park dan mengangkat alisnya. Tapi asisten pribadi itu hanya memberi reaksi dengan mengangkat sepasang tangannya, tidak tahu.

"Huh--" Daze menghembuskan uap ke udara. Suhu di sekitar situ semakin dingin. Agak mengigil dia merapatkan mantel panjangnya, beserta menaikan kerah sweaternya ke atas, menutupi lehernya yang sedikit terbuka.

"Daze-ssi ... , doronim .. "

Perkataan tuan park membuat Daze mengalihkan perhatiannya. Dia melihat kearah yang ditunjuk pria itu. Sebuah sosok jangkung terlihat melangkah keluar dari pintu utama lobi hotel. Kepala orang itu tertunduk ke lantai. Tubuh panjangnya terbalut kemeja kotak-kotak merah yang tertutupi oleh mantel panjang warna hitam. Celana belel ketat berwarna coklat gelap membalut ketat sepasang kakinya yang jenjang, sedangkan sepasang tangannya terselip ke dalam saku mantel yang dikenakannya.

"Doronim .. " Tuan Park membungkuk hormat pada Rathyan.

"Hmm--" Rathyan membalasnya dengan dingin.

Dia berpaling pada Daze yang segera membuang muka ke arah lain. Sungguh, penampilan Rathyan membuatnya kikuk. Pemuda ini terlihat begitu mempesona dengan dandanan casualnya.

"Kita pergi ke suatu tempat .. ," kata Rathyan pada Daze.

"Dhe?" Gadis itu berpaling padanya.

Namun Rathyan tidak berkata lebih lanjut. Dia merogoh ke dalam saku celana dan menyodorkan secarik kertas kecil pada tuan Park.

"Tiga jam kemudian jemput aku di alamat ini .. "

"Dhe, doronim?" tanya pria itu tidak mengerti.

"Kau tak perlu ikut dengan kami!" sahut Rathyan sambil menyambar tangan Daze agar mengikutinya. "Kacha!" katanya pada Daze, lalu berbalik lagi pada tuan Park. "Tunggu aku di sini sampai tiga jam kemudian .. ," lanjutnya, tanpa berpaling pada lawan bicaranya itu. "Sekitar jam enam, jemput aku di alamat yang kuberikan padamu ... "

"Tapi doronim .. "

"This is an order, mr. Park!!"

Terakhir, tuan Park hanya bisa mengangkat tangannya menyerah. "Ne .. "

"Ki .. kita mau kemana?" tanya Daze gugup, sambil bersusah payah mengimbangi langkah Rathyan yang terlalu lebar.

"Ke suatu tempat!" sahut Rathyan tegas.

"Iya, .. jadi kemana?"

"Kau berisik sekali!" dengus Rathyan. Tidak memberi kesempatan Daze untuk berkata lebih lanjut, dia menghentikan sebuah taxi yang melintas di depan mereka. "Nanti kau juga tahu sendiri!"


ooooOoooo


Taxi memasuki halaman sebuah bangunan yang cukup luas sekitar duapuluh menit kemudian.

"Di sini?" tanya Daze sambil melayangkan pandangannya ke arah bangunan itu, .. sebuah bangunan bercat putih yang hambar, tidak ada yang menarik dilihat dari luar. Sebuah papan nama besar dengan huruf bercorak aneh bertengger di atas pintu otomatis dari kaca yang lebarnya mencapai beberapa kali ukuran pintu yang sebenarnya.

"R&G Studio?" Daze kembali menyuarakan keheranannya.

Rathyan tidak menyahut. Setelah membayar ongkos taxi, dia keluar dari mobil. Kemudian agak membungkuk dia memutar badan ke arah Daze, .. mengerakan tangannya mengajak keluar. "Kacha!"

"Dhe?" Mata gadis itu membulat, tanpa memberi tanda akan keluar dari mobil.

"Turun!" perintah Rathyan tidak sabar. Dia berdecak dan menarik tangan Daze. "Ada yang ingin kutunjukan padamu!"

"A .. apa?" tanya Daze, mulai mengerakan kakinya.

"Nanti juga tahu sendiri!" ucap Rathyan.

Setelah mengoyang-goyangkan kepalanya, Daze hanya bisa pasrah mengikuti Rathyan masuk ke dalam bangunan di depan.


ooooOoooo


Daze tertegun .. apa yang dilihatnya dari bangunan ini sungguh berbeda jauh dari apa yang dibayangkannya. Begitu pintu terbuka, hawa hangat dari perapian kuno di ujung ruangan langsung menyambutnya, menimbulkan perasaan yang--sungguh aneh, perasaan nyaman yang teramat betah. Daze juga tidak mengerti mengapa dia memiliki perasaan ini.

Sesaat dia mengelilingi seisi ruangan dengan pandangannya, .. lukisan-lukisan beraneka ragam, dari yang abstrak, minimalis, modern, sampai lukisan pemandangan tergantung di dinding bercat putih. Beberapa di antaranya terdapat lukisan kuno, sementara sebagian lagi kelihatannya bikinan sendiri. Begitu juga beberapa corak pajangan antik yang terlihat unik tertata rapi di atas meja-meja yang dilapisi kaca. Ada sekitar lima buah sofa lengan berbentuk bundar telur dengan warna merah menyala terletak di beberapa sudut ruangan. Alis Daze berkerut. Perlahan pandangannya dialihkan pada Rathyan.

"Tempat apa ini?" tanyanya ingin tahu.

Pemuda itu tidak menjawab, menolehpun tidak. Perhatiannya seutuhnya tertuju ke depan.

"Hoy--" Daze menyenggol lengan Rathyan.

Namun pemuda itu tetap tidak menunjukan reaksinya, apalagi mengubris teguran-teguran Daze. Alis gadis itu bertaut semakin dalam, .. lalu dia menoleh--mengikuti pandangan Rathyan. Seorang pria berpostur sedang dengan rambut keriting pirang yang sangat lebat tampak berjongkok di depan perapian. Rupanya sosok ini yang sudah menyita perhatian Rathyan sejak tadi.

"Rath .. ," tegur Daze.

Rathyan segera mengangkat tangan memberi isyarat supaya Daze diam. "Tunggu sebentar!" Lalu dia bergerak ke arah orang itu. Daze memberengut dan terpaksa mengikuti langkahnya.

"Gracielo!!" Rathyan menepuk pundak pria itu.

Brakk, kayu bakar yang sedang dipegang orang itu terjatuh ke dalam perapian. Dia berpaling dengan cepat. "Rathyan Jang!!!" serunya kaget. Sepasang mata abu-abu itu terbelalak lebar. "Oh my god,, How? .. How .. can .. you ... " ujarnya tergagap-gagap.

Sebelum perkataannya habis, Rathyan memutusnya. "I'm back for awhile .. "

"Yea?"

Rathyan menganggukan kepalanya. "Sorry for leaving without words .. but, I got a little business outside .. "

"A little business?" Gracielo bangkit dari posisinya dan menatap Rathyan dengan pandangan menyelidik. "What's that? I was really worried about you, man. Did you forget your babe already?"

"No ..," Rathyan menyengir. "I knew you will keep them very well .. "

"Would you take them back?" tanya Gracielo.

Rathyan mengangkat bahunya. "I'm not sure. Maybe .. but, i'm so busy now .. "

"Back to your world, man?" Gracielo tertawa ngakak. "I thought the art is everything for you .. " Kemudian pria itu melirik Daze yang agak tersembunyi di belakang Rathyan, .. mengamatinya dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu berbalik lagi sampai berhenti di wajah Daze. "Look! Who is this?" dia berpaling pada Rathyan. "Your girlfriend?"

Rathyan tersenyum lebar. Tanpa memberi kepastian pada pertanyaan Gracielo, dia menjawab, "This is Daze .. "

Gracielo mengangkat tangannya. "Hy dear,--" ucapnya sambil mengulurkan tangan pada Daze. "Gracielo Gonzales ... "

Daze menyambutnya sambil tersipu malu-malu. "Daze Han ... "

"I don't know you like this style ... ," celetuk Gracielo tiba-tiba.

Rathyan tertawa lebar, sampai-sampai Daze mengangga melihatnya.

"You don't know a lot of thing of me .. "

"O--yea?" ledek Gracielo. Ditepuknya lengan Rathyan keras-keras. Perhatiannya baru teralih setelah seseorang memasuki ruangan. "Ups, sorry guys. We have a customer ... "

Rathyan mengangkat tangannya. "That's okay .. We will be around by ourself .."

"I will see you later, Rath. All of your babe were in another room at second floor .. "

"Okay, thank you .. "

Rathyan lalu meraih tangan Daze. "Ayo ke atas .. "

"Ada apa?"

"Nanti saja kutunjukan .. "

Daze mengangkat bahunya kemudian mengikuti Rathyan menaiki anak tangga di bagian paling ujung ruangan itu menuju lantai atas.


ooooOoooo
"Di sini juga banyak lukisan?!!" seru Daze takjub.

Rathyan berdeham pelan, terus menatapnya tanpa berkedip. Senyuman tersungging di bibirnya yang lembab.

"Tapi .. ," Daze berbalik padanya. "Tempat apa ini? Milik si Gracielo itu?"

"Ini duniaku!"sahut Rathyan sambil mengalihkan pandangan ke salah satu lukisan yang tergantung di depan.

"Ne?"

"Aku mengenal Gracielo sekitar dua bulan setelah kedatanganku ke sini, satu setengah tahun yang lalu .. ," Rathyan kemudian berbalik kembali pada Daze. "Dia pelukis jalanan.... "

"Dhe?" Daze melebarkan matanya.

Rathyan mengangguk. "Aku melihat bakat alam darinya .. Lukisan-lukisannya menceritakan kehidupan, mempunyai ciri khas tersendiri. Aku merasa sangat disayangkan kalau disia-siakan begitu saja makanya aku memutuskan menyalurkannya lewat galeri ini. Selain itu, tentu saja juga karena kecintaanku pada seni ... " lalu dia mengalihkan pandangan ke depan. "Gracielo keturunan Spanyol-Amerika. Orangtuanya meninggal ketika dia masih kecil. Setelah itu dia berjuang sendiri. Dia sangat menyukai seni lukis sehingga memutuskan menjadi pelukis jalanan setelah tamat sekolah dasar. Semua itu karena dia tidak punya uang. ... Aku berkenalan dengannya hmm--Aku masih ingat waktu itu, hujan yang sangat lebat mempertemukan kami. Semua lukisannya rusak berat dan dia mengumpat-ngumpat. Aku mendapati kalau lukisan-lukisan itu sangat istimewa, lalu kami berkenalan dan menjadi akrab. Sebulan kemudian kuputuskan membuka sebuah galeri, tapi aku tidak mempunyai waktu mengurusnya, makanya kuminta Gracielo untuk mewakiliku ...." Rathyan mengedarkan pandangannya berkeliling. "Dia mengurus galeri ini dengan sangat baik .. ," katanya mengangguk-angguk puas.

"R&G--Rathyan and Gracielo .. ," ucap Daze lirih.

Rathyan menoleh padanya. "Tahu apa maksud dari semua ini?"

Daze mengeleng perlahan. "Aniyo .. "

"Karena setiap seniman harus punya dunia sendiri .. ," jawab Rathyan. "Tidak terkecuali aku. Aku berharap suatu saat dapat menjalankannya dengan tanganku, .. hidup dan berjuang buat duniaku .. "

"O--" Daze mengangguk-anggukan kepalanya lalu tersenyum. Selanjutnya dia berpaling ke depan, mulai mengamat-amati lukisan-lukisan yang tergantung di dinding.

"Semua lukisan di lantai ini hasil tanganku ... ," ujar Rathyan pelan setelah diam beberapa saat.

"Jeongmal?" Daze berpaling sambil membulatkan matanya.

"Ne. Kau tidak percaya?" tanya Rathyan tanpa menoleh padanya.

Daze tersenyum. "Anhi. Bukan begitu maksudku .. ," kemudian dia berbalik kembali ke depan. Ini dunia Rathyan, ujarnya dalam hati. Lalu dia tersenyum puas. Ya, setelah sekian lama akhirnya ada juga yang diketahuinya tentang pemuda ini. Setelah sekian lama akhirnya Rathyan mau juga berterung-terang padanya. Walaupun cuma sedikit tapi Daze berjanji akan berusaha memahaminya. Aku ingin masuk ke dalam duniamu ..

"Aku pernah menjanjikan padamu .. ," ujar Rathyan tiba-tiba.

"Dhe?"

Rathyan menoleh padanya. "Membawamu ke pameran-pameran yang sering kuhadiri." Dia beralih ke depan. "Dan .. ini salah satunya .. "

"O--" Daze membuka mulut dan menyunggingkan senyumnya. Lalu dia mulai melangkahkan kaki ke sisi lain ruangan itu. Dia berhenti begitu sesuatu menarik perhatiannya. Sekilas 'sesuatu' itu terasa tidak asing. Daze menoleh dan mendapatkan bahwa benda itu sungguh-sungguh pernah dilihatnya. "I .. ini .. ," katanya terbatah-batah sambil menunjuk lukisan di sebelahnya.

"Ne?" tanya Rathyan datar. Langkahnya dihentikan di belakang gadis itu.

"Lukisan ini ... lukisan yang waktu itu .. berada di kamar Dave ... "

"Eh--?" Rathyan menengok ke arahnya.

"Wanita itu .. aku kan?" tanya Daze sambil berpaling lambat-lambat.

"Jadi kau yang mengeledahnya?"

"Eh--?" Sekarang gantian Daze yang memandangi Rathyan dengan penuh tanda tanya. "Maksudmu?"

"Orang yang mengeledah lukisan-lukisan dalam kamar Dave!" ucap Rathyan. "Aku sudah merasa kalau lukisan-lukisan itu pernah diusik orang .. Bukan Dave karena dia tidak pernah melakukannya. Dia tahu bagaimana berartinya lukisan-lukisan itu bagiku dan aku akan murka kalau ada orang yang berani menyentuhnya. Dan ternyata perasaanku benar .. "

Daze membuka mulut. Namun sesaat kemudian dia menunduk. "Mian ... " Hanya berjarak beberapa detik dia mengangkat kepala kembali. "Gentwee, .. wanita dalam lukisan itu benar aku kan?" tanyanya keras kepala.

Beberapa saat kemudian mereka saling berpandangan. Dave menatap dengan raut menuntut. Sedangkan Rathyan merapatkan gerahamnya lalu berdeham pelan. Pandangannya dialihkan dengan kaku.

"Ayo ke sana!" kata pemuda itu tiba-tiba. Tangannya menyambar pergelangan tangan Daze dan menariknya. "Ada yang ingin kutunjukan!"

"Yaa--kau belum menjawab!" protes Daze. Tapi percuma saja karena Rathyan sudah 'agak menyeretnya' ke tempat yang dia maksud.

Mereka berjalan sampai di sebuah lukisan dekat jendela.

"Lihat ini!" kata Rathyan sambil menunjuk ke depan. "Menurutmu bagaimana? Apa artinya?"

Daze memajukan bibir ke depan. Dengan malas dia berpaling ke depan. Sebuah lukisan abstrak terhampar di depan matanya sekarang. Lukisan yang hanya berupa gumpalan-gumpalan cat putih dengan coretan gambar hati di ujung paling atas. Gambar hati itu berwarna merah darah, sedangkan bagian paling bawah ada gumpalan-gumpalan cat kuning oranye yang mirip kobaran api.

"Hanya sebuah lukisan .. ," jawab Daze datar.

"Hanya sebuah lukisan?" Rathyan mengenyitkan alisnya. Hanya sepersekian detik kemudian dia tersenyum. "Ne, hanya sebuah lukisan." dia mengangguk pendek. "Tapi .. tahukah kau, ada makna penting dibaliknya?"

"O ya? Apa itu?" tanya Daze, kelihatan mulai tertarik.

"Hati perlambang hati, tentu saja. Perasaan yang tidak gampang diraih. .. Akan sulit menebak perasaan orang ... " Lalu Rathyan menunjuk gumpalan-gumpalan cat putih yang diapit antara gambar hati dan gumpalan cat kuning oranye yang mirip kobaran api. "Putih artinya polos, tidak ternoda oleh apapun .. sedangkan cat oranye di bawahnya perlambang kemurkaan ... " Dia berpaling pada Daze. "Saya ingin menekankan di sini, bahwa batas antara hati dan amarah adalah suci ... Apapun kemurkaan itu, semuanya berawal dari kepolosan dan hati yang sulit diselami .. "

"Kau ... , ingin mengambarkan tentang hubungan kita?" tanya Daze lambat-lambat.

Rathyan mengangkat bahunya. "Aku tidak tahu apa yang ingin kugambarkan lewat lukisan ini, tapi--yang jelas .. lukisan ini kubuat waktu pertentangan perasaanku tentang hubungan kita di depan orangtua-mu .. "

"Rath .. ," desah Daze lirih. Begitu perihnya kah perasaanmu saat mendapat umpatan-umpatan dari omma?

Rathyan memutar badannya. "Apapun itu .. semua sudah berlalu . . ," katanya sambil melangkah dari situ.

"Tapi aku ingin tahu lebih banyak tentangmu .. ," desak Daze sambil berlari-lari kecil di belakangnya. "Rath .. cerita lagi ya?"

"Masih ada waktu untuk itu . . ," ujar pemuda itu.

"Rath!!"

Rathyan tidak memperdulikannya. Pemuda itu terus melangkah menuruni anak tangga dengan sepasang tangan terselip di saku mantelnya. Tenang dan tidak terpengaruh. Tapi tanpa sepengetahuan Daze, senyum tipis tersungging di bibirnya.


ooooOoooo


Rathyan dan Daze keluar dari studio R&G sekitar dua setengah jam kemudian. Tuan Park sudah menunggu mereka di samping sebuah mobil perak yang terparkir di depan galeri itu. Rathyan berjalan kearah pria itu dan melempar sebuah gumpalan kertas kecil di tangannya.

"Ke alamat itu!!" serunya sambil membuka pintu dan memberi jalan buat Daze masuk ke dalam, setelah itu dia sendiri menghempaskan tubuhnya di sebelah gadis itu.

Tuan Park membuka gumpalan kertas tersebut, lalu mengangguk pendek. Diberikannya kertas tersebut pada pak sopir dan sebentar kemudian mobil itu meluncur keluar dari area galeri.


ooooOoooo


Mobil yang membawa Rathyan, Daze, beserta tuan Park melaju di jalan raya. Melewati beberapa jalan kecil yang diapit pohon-pohon cemara di kedua sisinya, lalu mulai memasuki area-area yang tidak begitu asing bagi Daze.

"Bukankah kita akan ke bandara?" tanya Daze pada Rathyan. "Kenapa ambil jalan ini? Lagipula ... " Perkataannya memelan ketika pemandangan luar yang tertangkap olehnya semakin akrab. Sepertinya dia sudah sangat mengenal tempat-tempat ini. "Ki .. kita akan kemana?"

Rathyan tidak menjawab dan mobil juga terus berjalan. Sampai Daze menyadari tujuan mana yang akan mereka tuju.

"I .. ini .... "

Mobil perak itu berhenti tidak begitu jauh dari sebuah rumah bertingkat dua. Rathyan membuka pintu di sampingnya kemudian melangkah keluar. Dia mengitari badan mobil sampai di sebelah Daze lalu membuka pintu buat gadis itu. Namun Daze tidak bergerak. Kenyataan ini sangat menguncangnya. Bagaimana mungkin pemuda ini membawanya ke Han's mansion?

"Turunlah .. ," perintah Rathyan.

Daze menengadah padanya. "Ke ... kenapa? Bukankah kita mesti ke Sydney?"

"Kau tidak perlu ikut denganku .. ," sahut Rathyan, berlagak tidak perduli.

"Tapi .. "

"Sudah ada tuan Park yang menemaniku. Jadi kau tinggal-lah di sini. Lagipula tidak ada yang bisa kau lakukan buatku. Membawamu sama saja menambah bebanku .. "

"Mwo?"

"Keluarlah!"

Sedikit memaksa Rathyan 'membantu' Daze keluar dari mobil. Pak sopir mendekati mereka dengan menjinjing koper Daze.

"Apa diletakan di sini saja, doronim?"

Rathyan mengangguk tanpa memberi jawaban. Lalu dia mencondongkan tubuh ke arah Daze. "Anyong Daze Han .. " Dikecupnya jidat gadis itu sekilas kemudian berjalan kembali ke mobilnya. Tidak dihiraukannya pandangan mengangga dari Daze. Matanya langsung bersinar tajam begitu mendapati tuan Park sedang berbicara di telepon.

"Ne, agashimida pak presiden .. ," kata asisten pribadi itu sambil melirik tuan mudanya.

"Bisa berangkat sekarang?" tanya Rathyan dingin.

Tuan Park membungkukan badan dengan raut menyesal. "Ne, doronim .. "

Rathyan masuk ke dalam mobil dan menghempaskan pintunya dengan kesal. "Dan katakan pada-'NYA', aku akan melakukan apa yang telah kujanjikan padanya ... jadi jangan membuatku muak!!"

Tuan Park menghela nafas seraya mengangguk pelan. "Ne, doronim .. "

Sebentar kemudian mobil itu sudah melaju meninggalkan tempat itu. Daze mengikuti kepergian Rathyan dengan pandangan nanar.

tettt ,, tettt,,

Dia tersentak ketika merasa sesuatu bergetar dari dalam tasnya. Segera saja digeledahnya tas genggamnya itu dan terburu-buru mengeluarkan ponsel dari dalamnya. Ada pesan masuk.

Sampaikan salam ku pada Dave. Aku berharap dapat meluangkan sedikit waktu buat pernikahannya namun seperti yang kau ketahui jadwalku terlalu padat .... Hadiah akan kukirimkan besok. Dan kau juga--take care. Enjoy your time. Aku berharap kita segera bertemu kembali~~~

Rathyan Jang-

Daze mengusap monitor ponselnya .. dan dia tersenyum. Senyuman yang sangat lebar. Ternyata Rathyan tidak melupakan pernikahan Dave. Ternyata selama ini dia perduli. Dia hanya berlagak tidak tahu.


ooooOoooo


Tok .. tok ... tok ...

Seraut wajah muncul dari balik pintu, dan sepasang mata itu terbelalak lebar begitu mendapati Daze berdiri di situ.

"Noona!!!"

Daze menyunggingkan senyumnya. "Anyong dongseng-a .. "

"Ba .. bagaimana ... mungkin noona berada di sini? Omma bilang .. noona tidak bisa menghadiri pernikahanku .. "

"Memang .. ," jawab Daze ringan. "Namun majikanku tiba-tiba membebaskanku ... "

"Majikan baru noona?"

Daze mengangguk. "Ne ... ," lalu dia berpikir apakah sebaiknya menceritakan tentang Rathyan pada Dave. Tapi setelah menimbang-nimbang sebentar dia mengambil keputusan untuk tidak menceritakannya. Lebih baik tidak membahas Rathyan daripada semuanya jadi kacau. Apalagi mengingat Carlson juga akan hadir dalam acara pernikahan itu.

"Apa noona tahu omma dan appa beserta Carls hyung tiba besok sore?" tanya Dave sambil meminggir sedikit untuk memberi celah Daze masuk ke dalam rumah.

"Ne .. "

"Noona ikut menjemput mereka?" tanya Dave sambil menutup pintu.

"Tentu saja . .," jawab Daze. Diletakannya kopernya ke lantai dan menyapu seisi ruangan. "O ya, kemana keponakan kecilku?"

"Dia .. ," Dave tertawa. "Nat sedang menyusuinya di kamar. Apa noona ingin segera bertemu dengannya? Tidak perlu istirahat dulu?"

Daze mengeleng keras-keras. "Anhi! Saya tidak capek .. "

"Okay. Kalau begitu noona ke kamar saja. Biar aku yang membawa koper ini ke kamar noona .. "

"Okay. Thanks, dongseng-a .. "

Lalu mereka bersama-sama naik ke lantai atas. Daze menuju ke kamar Dave buat melihat keponakan kecilnya, Cherryl. Sedangkan Dave menaruh koper Daze ke kamarnya.


ooooOoooo


"Sungguh harus melakukan ini, doronim?" tanya tuan Park serius.

Rathyan mengibaskan tangan sambil melangkah ke dalam bandara Sydney. "Lakukan sesuai perintahku!!"

"Ta .. tapi .. "

Rathyan segera berbalik dengan sepasang tangan terlipat di depan dada. "I SAID BACK TO PERTH NOW, MR. PARK!!!"

"Namun meeting besok sangat penting, doronim .. " Tuan Park berusaha memberi pengertian walaupun tahu itu percuma. Sekali Rathyan sudah mengambil keputusan maka sulit untuk membatalkannya.

"Undur sampai minggu depan .. " Rathyan memutar badan dan meneruskan langkahnya. "Jika pihak mereka tidak bisa menunggu, lempar ke firm lain. Kita tidak membutuhkan mereka!"

"Doronim .. "

"This is an order, mr. Park!!"

Tuan Park memejamkan matanya. Rathyan mulai lagi dengan kuasanya. Sekali dia bilang 'This is an order!', maka tidak ada seorangpun yang boleh membantahnya.

"Dan kuperingatkan, jangan melaporkan masalah ini pada orang itu!" ucap Rathyan dingin. "Karena apapun perkataannya, aku yang paling berkuasa dalam proyek ini!!"

Tuan Park akhirnya hanya bisa mengangguk pasrah. "Ne, doronim .. "

Lalu mendadak Rathyan memutar badan dan tersenyum mengejek. "Namun, aku tidak keberatan jika kau yang mewakiliki ku dalam meeting kali ini .. "

"Mereka hanya ingin berdiskusi dengan 'pemimpin' tertinggi Max-Global .. doronim .. ," jawab tuan Park tenang.

Rathyan mengangkat bahunya cuek. "Ya sudah. Kalau begitu batalkan saja!"

Setelah itu dia kembali melangkahkan kakinya. Tuan Park memandangi punggung pemuda itu sambil sekali-kali mengelengkan kepalanya. Susah benar mengatur tuan mudanya yang satu ini.


ooooOoooo


Ting tong .. ting tong ...

"Sebentar!!!"

Daze berlari ke pintu depan begitu bell rumah dibunyikan berulangkali. Dia membuka pintu itu dan .... tampangnya langsung berubah horror, .. mulutnya mengangga sampai-sampai dagunya hampir melorot mengenai leher saking kagetnya.

"Ra .. rath ... ," panggilnya gugup.

"Wee?" Rathyan tertawa kecil. "Kau terlihat kaget sekali. Surprise, Daze Han!" Dia mencondongkan tubuh ke depan sampai mengenai wajah Daze. Lalu dikecupnya bibir yang bergetar hebat itu.

"Ke .. kenapa bisa berada di sini?" tanya Daze terbatah-batah.

"Sudah kubilang, surprise!" sahut Rathyan dengan nada bariton yang sangat khas. "Apa aku tidak diperkenankan masuk?" tanyanya sambil melayangkan pandangan ke dalam.

"Itu ... ," tanpa sadar, Daze merentangkan kedua tangannya di depan pintu. "Kau .. bukankah seharusnya berada di Aussie hari ini?"

Rathyan mengangkat bahunya. "Memang. Tapi aku memilih kembali ke sini .. "

"Wee?!!" tanya Daze keras.

Rathyan membuka mulut buat menjawab, namun panggilan dari dalam rumah menghentikan maksudnya.

"Siapa itu, Dazya?"

Daze terperanjat. Dengan gerak lambat, dia berpaling. "Ehh--"

Sedangkan Rathyan memicingkan matanya buat menajamkan pandangan ke depan, .. dan .. rautnya langsung berubah kaku.

"Tuan Jang?!" seru Carlson dari ambang pintu, di belakang Daze.

"Kenapa dia berada di sini?" tanya Rathyan dingin. Pandangannya tidak berkedip tertuju pada Carlson.

"I .. itu .. ," Daze mendesah namun tidak mampu memberikan jawabannya. Rathyan sangat murka, dan dia menyadari itu. Raut pemuda yang tadinya berseri-seri ini jadi kelam. Mata elangnya memancarkan aura membunuh dan pada saat ini Daze sangat takut dia bakal melakukan sesuatu di luar jangkauannya. Terutama pada Carlson.

"Jelaskan padaku!!" bentak Rathyan keras.

Daze terlonjak dari tempatnya. "Rath .. ," desahnya lirih. Tapi kembali mulutnya seperti terkunci. Selain desahan tadi, tidak ada lagi yang mampu dikeluarkannya.

"Tidak ada yang ingin kau jelaskan padaku?!" Rathyan mendesis. "Ini inti dari kepercayaan yang kau maksudkan itu? Kau tahu aku tidak suka, kenapa melakukannya?!!"

"Aku ... " Daze menunduk lemas. Apa yang bisa dikatakannya sekarang? Jujur pada Carlson? Tapi dia tidak ingin menyakiti pemuda itu. Carlson sudah terlalu baik padanya. Namun untuk menyakiti Rathyan, dia lebih tidak tega lagi. Hatinya sangat sakit, seperti tertimpa palu berat ..

"Ada apa, Dazya?"

Daze merasakan sentuhan di lengannya. Dia mengangkat kepala dan mendapati pandangan Carlson.

"Gwencana?" tanya pemuda itu khawatir. Dia menyadari telah terjadi sesuatu dari wajah pucat Daze. "Katamu, tuan Jang meluluskan cutimu. Lalu kenapa dia bisa muncul di .. "

"Minggir!!" Tiba-tiba Rathyan berteriak keras.

Perkataan Carlson terpotong oleh kelakuan Rathyan yang mendorongnya sampai terhempas mengenai pintu. Carlson meringis, namun sosok jangkung tersebut melewatinya begitu saja, dengan langkah tegap dan dingin. Rathyan masuk ke dalam rumah, berbalik dan menghempaskan tubuhnya ke sofa. Tampangnya sangat mengerikan saat itu, ... dengan pandangan menusuk yang tertuju ke depan, tidak berkedip, dan ekspresi datar yang sulit ditebak, justru membuatnya terlihat menyeramkan, laksana seorang pembunuh berdarah dingin. Bahkan, segumpal awan hitam seolah-olah tergantung di atas kepalanya yang terlindungi rambut hitam panjang acak-acakan.

"Daze .. ?" Carlson menaikan alisnya. Namun Daze mengeleng pelan.

Lalu dia memejamkan mata dan menghembuskan nafas lemah. "Kenapa jadi begini?"


***** oOo *****


_________________


♥️ "Everywhere ★ we learn ★ only from ★ those whom ★ we love" ♥️
avatar
DragonFlower

Posts : 94
Join date : 2013-06-17
Location : | Trapped in CNBLUE Dorm |

View user profile

Back to top Go down

Re: from Seoul to ... Perth-- by Lovelyn

Post by DragonFlower on Wed Jun 26, 2013 4:57 pm





from Seoul to ... Perth II--
Chapter Eighteen

By : Lovelyn Ian Wong



Song of the day :
Weslife--If I Let You Go by WestLife

Lyrics :

Day after day

Time pass away
And I just can´t get you off my mind
Nobody knows ... I hide it inside
I keep on searching but I can´t find
The courage to show ...
To letting you know ...
I´ve never felt so much love before
And once again I´m thinking about
Taking the easy way out ...

CHORUS:
But if I let you go
I will never know
What my life would be
Holding you close to me
Will I ever see
You smiling back at me
How will I know?
If I let you go ...


Night after night
I hear myself sayin´
Why can´t this feeling just fade away?
There´s no one like you ...
You speak to my heart...
It´s such a shame we´re worlds apart ...
I´m too shuy to ask ...
I´m too proud to lose
But sooner or later I gotta choose
And once again I´m thinking aboutTaking the easy way out ...

CHORUS
Once again I´m thinking about ....
Taking the easy way out ....

*CHORUS




Tiga postur duduk mengelilingi meja teh ruang depan dengan posisi saling berhadapan dalam diam. Si gadis berjarak agak jauh, terpisah oleh meja. Sepasang tangannya saling meremas dan sesekali melirik gelisah dua pria yang duduk di depannya. Sedangkan dua pria tersebut menempati sofa yang sama, sofa panjang warna coklat kusam, dengan posisi yang berjauhan, menempel di kedua sisi sofa.

Carlson menatap Daze dengan pandangan bertanya, seperti pertanyaan yang diajukannya beberapa menit yang lalu, setelah mendapati keberadaan Rathyan di situ dan sebelum memasuki rumah.

Sementara Rathyan menatap gadis itu dengan pandangan menuntut dan tajam, seolah sebuah janji telah dikhianati. Kepercayaan yang berangsur-angsur sudah dihimpunnya, ternyata tidak dianggap oleh gadis itu, .. yang dengan sendirinya mengoyahkan keyakinan terhadap janji tersebut.

Daze memejamkan mata perlahan-lahan. Dia tidak tahu harus menjawab pandangan yang mana dulu. Sampai detak detuk bunyi langkah kaki menuruni anak tangga yang mendekati ruangan mereka berada, menyadarkannya. Drekk, suara pintu dibuka.

"Nak Carls, kamarnya sudah siap ... " Perkataan omma memelan dan berhenti sama sekali ketika bertatapan langsung dengan Rathyan.

Daze tidak mampu bereaksi lagi. Tubuhnya kaku dan lemas seketika. Habis sudah ... Tidak hanya Carlson dan Rathyan yang harus dihadapinya sekarang, .. tapi juga omma ...

"Kenapa?" Mata omma melebar dan menunjuk Rathyan. "Kenapa dia bisa berada di sini?" tanyanya sambil berpaling pada Daze.

Daze mendesah. "I .. itu ... "

Sebelum perkataannya berlanjut, omma sudah beralih kembali pada Rathyan dan melanjutkan perkataannya. "Sudah kuperingati waktu itu kan? Agar kau tidak mengusik Daze lagi! Dan kau juga sudah menjanjikan itu!"

"Kapan?" Untuk pertama kalinya sejak memasuki Han's mansion, Rathyan mengeluarkan suara. Nadanya dingin dan datar.

"Waktu itu!" Omma berkeras.

"Saya tidak pernah menjanjikan apa-apa!!" tukas Rathyan tegas.

Omma mengepal tangannya, lalu menghembuskan nafasnya kuat-kuat. Daya tampung paru-parunya terasa hampir meledak menghadapi sikap pemuda ini. Dengan tampang capek, dia beralih kembali pada Daze. Menatap gadis itu dengan pandangan 'menuntut jawaban'.

"Daze!"

"Omma .... ," desah Daze lirih. Tubuhnya lemas saat ini. Bagaimana cara memulai penjelasan ini? Harus mulai dari mana?

"Daze Han!!" Tegur omma begitu dilihatnya Daze masih membeku di tempatnya.

"Saya .. saya ... "

"Kenapa dia bisa berada di sini?!" ulang omma terhadap pertanyaannya semula. "Jawab pertanyaan omma, Daze! Dia mengikutimu? Apa dia membuntutimu sampai di sini?" buru omma dengan serentetan pertanyaan-pertanyaannya.

"Bukan!!" seru Daze mendadak, .. seraya meloncat dari sofa, sampai mengejutkan orang-orang yang berada di sekitarnya. Selain Rathyan, yang tetap tidak bereaksi dan menatap kaku ke arah mereka.

"Aku yang ikut dengannya! Bukan dia yang mengikutiku!" lanjut Daze sambil mengigit bibirnya.

"Mwo?" balas omma. "Apa maksudmu?"

"Maksudku--Dia majikanku!! Majikan baruku!" Kelegaan yang dirasakan Daze setelah mengeluarkan perkataan ini. Lenyap sudah batu yang selama ini menghimpit dadanya. Apa yang akan dilakukan omma selanjutnya, terserah .. dia sudah tidak perduli lagi. Yang jelas, dia tidak ingin menyembunyikan kenyataan ini dari omma. Sudah saatnya beliau mengetahui masalah yang sebenarnya, .. bahwa majikan baru yang sering dibicarakannya adalah Rathyan Jang.

"Majikanmu ... ," ujar omma tak percaya. Bagaimana bisa? Dan bagaimana mungkin sementara pemuda yang dikenalnya setahun yang lalu di Perth ini sama sekali tidak memperlihatkan statusnya itu? Pewaris dari Max-Global--? Omma mengeleng pelan.

"Benar ... Miane omma karna sudah merahasiakannya selama ini .. "

"Kau berkeras kembali padanya?" tanya omma datar. Dia masih belum mampu menerima kenyataan ini. Masalah yang dirasanya sudah rumit jadi semakin rumit. Rathyan Jang--pemuda yang pernah dicap tidak becus dan tidak punya masa depan, ternyata calon waris tunggal dari Max-Global, perusahaan paling berpengaruh di Korea saat ini.

Daze menghela nafas, namun tidak mampu menjawab. Begitu beradu pandang dengan omma, dia segera menunduk dalam-dalam. "Miane .. "

"Sudah!--cukup!" Omma mengangkat tangan dengan cepat. "Hubungan kalian terlalu ribet, bercabang-cabang dan membingungkan! Omma tidak mau lagi mencampuri urusan kalian ..," lanjut wanita paruh baya itu dengan nada putus asa. "Terserah apa yang kau inginkan, Daze Han! Asal kau tidak menyesal saja!!" tukas omma keras, seraya beranjak lebar-lebar dari situ. Dia sangat marah, ya--benar-benar marah .. namun dia tidak mampu berbuat apa-apa. Melarang terus hubungan mereka kayaknya tidak akan membuahkan hasil. Anak-anak muda itu terlalu susah diatur.

Sepeninggal omma. "Ehmm--!!" Deheman Rathyan mencairkan kekakuan yang sempat tercipta di antara mereka. "Beberapa hari ini, saya tinggal di sini!" ujar Rathyan dengan nada 'tidak bisa dibantah--dan sudah keputusan mutlak' seraya bangkit dari duduknya. "Di mana saya bisa tidur?"

"Mwo? Kau tinggal di sini?" Daze kelihatan serba salah. Bagaimana tidak? Semua kamar di rumah ini sudah terisi penuh. Kamar satu-satunya yang seharusnya masih kosong, yaitu bekas kamar Ye Jin, sudah diberikan pada Carlson.

"Ne. Ada masalah?" tanya Rathyan dingin.

"Kenapa tidak tinggal di hotel saja?" Bukannya menjawab pertanyaan Rathyan, Daze malah mengajukan pertanyaan lain.

Rathyan hanya mengangkat bahu cuek, melewati Carlson yang masih duduk di posisinya, .. seakan menganggap pemuda itu angin lalu yang kasat mata, dia beranjak ke pintu.

"Yaa--" Daze segera mengejar Rathyan, tanpa menyadari pandangan Carlson yang sedari tadi tertuju padanya .. , mengharapkan sebuah jawaban yang belum diberikan Daze padanya. "Mau ke mana?! Sudah kubilang tidak ada kamar untukmu?!" Suara Daze memelan seiring menghilangnya dua sosok itu dari pandangan Carlson.


ooooOoooo


"Untuk sementara kau tidur di sini .. ," kata Daze sambil meletakan bantal dan selimut ke atas ranjang.

Rathyan mengerutkan alis tidak senang. Lalu pandangannya beralih pada Carlson yang duduk di sudut ranjang.

"Kenapa harus sekamar dengannya?" tanyanya dingin.

"Kau boleh tidak sekamar dengannya!" sahut Daze malas. Sudah sejak tadi masalah ini diperdebatkan dengan Rathyan, .. bahwa di rumah ini tidak ada kamar baginya, dan lebih baik dia tinggal di hotel saja, .. tapi pemuda ini tetap keras kepala dengan keinginannya. "Itu berarti--kau harus tinggal di hotel!" lanjut Daze tegas.

"Benar!" sambar Dave yang sudah berada di ambang pintu. Senyum tipis tersungging di bibir pemuda itu. "Kau tidak mungkin sekamar denganku karna .. sudah ada anak dan istriku di situ .... "

Tampang Rathyan yang sudah bete menjadi makin suram mendengar penjelasan Dave.

Lalu Daze melanjutkan perkataan dongsengnya. "Kamar halmonie sudah ditempati omma dan appa. Gudang belakang juga tidak mungkin, karena sudah tidak ada lagi, .. sudah dibongkar dan dijadikan garasi .. Jadi, terimalah apa adanya!"

"Kau juga sih--datang tidak bilang-bilang!" sela Dave dengan nada menegur.

"Saya bisa sekamar denganmu!" tukas Rathyan mendadak--pada Daze, tanpa memperdulikan teguran Dave.

Yang dituju terperanjat kaget dan segera melirik Carlson, begitu juga Dave. Dilihatnya Carlson agak bergerak dari posisinya membaca buku. Perhatiannya yang mula-mula diusahakannya menghayati buku, sirna sudah.

"Kau gila ya?! Siapa yang mau sekamar denganmu?!" Daze melempar bantal yang disambarnya dari ranjang ke arah Rathyan, yang segera ditangkis pemuda itu, .. seraya bergegas keluar dari kamar.

"Kau--ckckck .. " Dave mengerak-gerakan telunjuknya di depan Rathyan. "Menyinggung perasaan noona lagi. Selalu begitu .. " Dia mengeleng-gelengkan kepala seraya memutar badan berlalu dari kamar itu, .. meninggalkan Rathyan sendirian dengan Carlson.


ooooOoooo


Rathyan menoleh dan menatap Carlson sekilas, .. kemudian menyambar bantal dan selimut dari ranjang, untuk kemudian menghempaskannya ke lantai. Lalu tubuh jangkungnya dijatuhkan begitu saja di atas selimut, sambil menerawangkan pandangannya ke langit-langit kamar.

Setelah keheningan yang cukup lama ...
"Tuan Jang, .. tidur di ranjang saja. Biar saya yang tidur di lantai .. ," tawar Carlson sembari bergegas bangun dari ranjang.

"Tidak perlu!" sahut Rathyan ketus.

"Tapi .. " Carlson berusaha membantah, tapi segera diputus Rathyan.

"Sudah kubilang tidak perlu!!" tukasnya sembari memutar tubuh membelakangi Carlson. Matanya ditutup rapat-rapat, berusaha mengatur pernafasannya yang memburu, .. berharap dengan tindakan ini emosinya dapat diredakan. Namun dia percaya, dan bahkan sangat yakin--kemarahannya tidak mungkin sirna sebelum Daze menjelaskan semua masalah di antara mereka.

Carlson terlihat menghela nafas, ... Melihat punggung tegap yang sedang membelakanginya di atas lantai, akhirnya dia mengangkat pundak menyerah. Carlson naik kembali ke atas ranjang, untuk kemudian menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. Pikirannya masih bertaut dengan masalah yang terjadi beberapa jam yang lalu, sampai alam mimpi perlahan merayap masuk ke pikiran bawah sadarnya.


ooooOoooo


Sekitar jam setengah duabelas malam, ponsel di atas meja membangunkan Tuan Park dari tidurnya. Masih dengan pikiran menerawang, asisten pribadi itu meraih ponsel tersebut dan meliriknya dengan mata dipicingkan. Tubuhnya langsung menegak begitu melihat nama yang terpampang di layar ponsel.

"Anyongheseyo, pak presiden!" Kesadarannya pulih sudah.

"Tuan Park, bagaimana?" tanya suara di seberang, tanpa basa basi lagi.

"Beres ... ," jawab Tuan Park ragu-ragu.

"Beres?" Oliver Jang terdengar tertawa sengau. "Rencana kerjasama dengan Aussie Land sampai saat ini belum dimulai dan kau bilang beres?"

Tuan Park tercekat. "Eh--sosoengmida, pak presiden .. ," ujarnya gentar.

"Kau tahu apa yang paling tak kusukai, Tuan Park?" Oliver kembali melancarkan pertanyaannya dengan nada dingin.

"Maafkan saya, pak .. ," kata Tuan Park penuh penyesalan.

"Saya paling tidak suka dibohongi!!"

"Ya, saya mengerti pak presiden ... "

"Rath yang membatalkan meeting itu, iya kan? Ada apa sebenarnya?" tanya Oliver datar.

"Doronim ada urusan penting .. ," jawab Tuan Park setelah terdiam beberapa menit.

"Urusan penting? Apa itu?"

"Ada sahabatnya yang menikah .. Dan doronim sudah berjanji untuk menghadirinya ... "

"Dan itu semua lebih penting dari masalah pekerjaan?!!" tukas Oliver berang.

"Sosoengmida. Ini salahku .. ," sahut Tuan Park pelan.

Beberapa menit keheningan menyelimuti mereka. Tuan Park menunggu dengan sabar perintah selanjutnya dari seberang.

"Ah--sudahlah!" Akhirnya Oliver berkata. "Semua sudah terjadi. Pastikan Rathyan tidak keluar batas, Tuan Park. Setelah acara pernikahan itu, desak dia ke Aussie dan teruskan perundingan yang tertunda!"

"Ne .. ," jawab Tuan Park nurut.

"Satu hal lagi, Tuan Park!" lanjut Oliver setelah sempat terdiam beberapa detik.

"Ne?"

"Saya akan terbang ke Perth setelah semua urusan di sini beres. Jenny sudah merengek-rengek pada ayahnya supaya diijinkan menyusul Rath. Dan saya tidak ingin rencana semula berantakan gara-gara tingkah lakunya yang sembarangan itu, araso?"

"Ne, .. " Tuan Park menganggukan kepalanya walaupun sadar Oliver tidak mungkin melihat tindakannya itu. "Ada perintah lain, pak presiden?"

"Aniyo!" sahut Oliver. "Segitu aja! Dan ingat, jangan lengah! Rath biasanya susah diatur kalau sudah dipaksa .. "

"Agashimida .. "

Tuan Park meletakan ponselnya setelah terdengar suara 'tuttt' panjang dari seberang. Dia menghela nafas, .. sepertinya, perseteruan ayah dan anak ini akan semakin panas saja.


ooooOoooo


Pesta pernikahan Dave dan Natalie diselenggarakan secara sederhana di ballroom sebuah hotel kecil yang terletak di sudut kota Perth keesokan harinya. Para tamu yang diundang tidak banyak, dan sebagian dari mereka berasal dari rekan kerja dan sahabat-sahabat dekat kedua mempelai. Sedangkan sebagian lagi berasal dari keluarga masing-masing.

Dave dan Natalie terlihat menawan dalam balutan pakaian pengantin warna putih. Wajah mereka berseri-seri mendapat restu dan doa dari para undangan. Apalagi ditambah kehadiran buah hati mereka. Daze mengendong Cherryl dan membawanya berkeliling sambil mengenalkannya kepada orang-orang dalam ruangan. Dan ajaibnya, si kecil yang biasanya rewel itu seperti mengerti bahwa hari itu hari yang sangat bermakna bagi kedua orangtuanya. Sepanjang acara tersebut, dia tidak merengek sedikitpun, bahkan setiap dipanggil, si mungil itu tersenyum manis sambil memperdengarkan suara malaikatnya yang membuat orang-orang cekikikan.

Acara sudah mendekati pertengahan, dan para undangan mulai menikmati hidangannya ketika Dave mendekati Rathyan yang sedari permulaan acara menyandar di dinding dekat pintu.

"Hey--bro!" sapa Dave seraya melayangkan tangannya--meninju pelan dada Rathyan.

Rathyan tersenyum hambar. "Hy--," balasnya. "Congratulation for you wedding .. "

"Thanks .. ," sambut Dave hormat, selanjutnya dia tertawa lebar. "Terimakasih karna sudah menyisihkan waktu menghadiri pernikahanku. Saya benar-benar menghargainya. Dan satu hal lagi--thanks for your present. I'm really like it ... "

"Bagus jika kau menyukainya .. ," ujar Rathyan lirih. Lalu dia meneguk wine di tangannya, sampai habis setengahnya.

"Come on! Ferrari terbaru, Man--siapa yang tidak menyukainya?!" tukas Dave.

Kembali Rathyan menyunggingkan senyum datarnya.

"Kenapa?" Dave bersuara lagi begitu melihat paras Rathyan. "Kau kelihatannya mengkhawatirkan sesuatu?"

Rathyan mengangkat lalu menghabiskan winenya dengan sekali teguk, .. diletakannya gelas di tangannya ke atas meja, setelah itu perhatiannya beralih ke tengah ruangan. Dave melihat itu, sehingga ikut mengalihkan perhatiannya--mengikuti arah pandang Rathyan. Dia menghela nafas begitu melihat Daze, noonanya, sedang mengendong putrinya bersenda-gurau dengan seorang undangan.

"Ada masalah dengan noona?" tanya Dave.

Rathyan berpaling padanya, tapi tidak bersuara.

"Benar kan dugaanku?" tanya Dave kembali, seraya berusaha mengendalikan keadaan dengan menyunggingkan senyumannya. Dia takut membangkitkan emosi Rathyan. "Terjadi sesuatu antara kalian?"

Rathyan mengerutkan alis perlahan, lalu .. lambat-lambat membalikan pandangan ke tengah ruangan. Dia tidak menjawab.

"Aku tahu kau tidak akan menjawabnya .. ," kata Dave lebih lanjut. "Aku menanyakan ini, juga tidak mengharapkan jawaban darimu .. " Lalu pengantin pria itu mengelus dagunya, seolah berpikir bagaimana caranya melanjutkan pembicaraan ini. Dari dulu, teramat susah memang--berbicara hati ke hati dengan Rathyan. Dibutuhkan kesabaran yang teramat sangat buat menghadapi sahabatnya yang satu ini. Sikapnya lebih susah dihadapi daripada dirinya sendiri, yang dirasanya sudah lebih sukar dari orang lain.

"Hmm--sudah berapa lama kita saling mengenal?" ujar Dave kemudian. "Hampir dua tahun ya?"

Rathyan meliriknya, lalu berpaling kembali ke depan.

"Tapi aku tetap tidak memahamimu sama sekali ... ," sesal Dave sambil mengelengkan kepalanya. "Sejak kepergianmu setahun yang lalu, aku berpikir .. Apa yang kuketahui tentangmu? Keluargamu, asal-usulmu, apa yang kau pikirkan--TIDAK ADA! Selain kecintaanmu pada seni, tidak ada lagi yang kuketahui tentang dirimu .. "

Terdengar Rathyan menghela nafas, tapi pemuda itu tetap tidak mengeluarkan suaranya.

"Karena itu, aku berusaha mengulang kembali apa yang sudah kita jalani selama setahun itu .. ," lanjut Dave. "Dan kau tahu tidak apa yang kudapat? Aku menyadari satu hal, .. ternyata kau sudah melakukan banyak sekali buat kami. ... Di mulai dari putusnya hubungan noona dan Carls hyung--kau selalu menemaninya walaupun secara diam-diam, karena kau belum dikenalnya waktu itu dan kau tidak ingin mengejutkannya, .. juga kematian halmonie yang mendadak--kau senantiasa menghibur dan menjaganya dengan penuh perhatian walaupun tidak berucap apa-apa, .. lalu apa yang terjadi padaku--kau juga yang membantuku keluar dari barang-barang laknat itu, .. dan segalanya dan segalanya--itu membuktikan satu hal, bahwa kau perduli. Kau bukan pria berdarah dingin seperti anggapan kami semula ... Kau--seorang penyayang, Rath-ssi .. "

"Penyayang?" Akhirnya Rathyan bersuara. Dia tersenyum kecut. "Apa gunanya penyayang jika dikhianati?"

"Maksudmu--noona?" tanya Dave heran.

Rathyan kembali memperlihatkan senyum pahitnya. Namun dia tidak menyahut. Cukup sudah rasanya dia berkata-kata untuk hari ini, sekalipun pada Dave--sahabat karib satu-satunya ini.

"Kau salah, Rath-a!" tukas Dave cepat. "Kau telah salah memahami noona. Dia tidak pernah mengkhianatimu!"

"Kutahu kau akan membelanya!" ucap Rathyan malas. Tangannya bergerak dan menyambar gelas yang berada pada tumpukan teratas, kemudian meneguk anggur di dalamnya sampai habis. Setelah itu dihentakannya ke atas meja. "Saya tidak ingin membicarakan apapun yang berhubungan dengan Daze, untuk hari ini!" sambungnya ketus, seraya bergerak ke dalam ruangan.

Meninggalkan Dave yang hanya mampu mengangga di tempatnya. Seperti dugaannya semula, Rathyan sungguh-sungguh susah dihadapi.


ooooOoooo


Daze keluar dari kamarnya, .. udara terasa menusuk kala itu, perlahan dirapatkannya sweater wol pembalut tubuhnya. Dengan langkah yang agak-agak berat, Daze mengerakan kaki ke balkon belakang. Namun langkahnya terhenti seketika begitu mendapati sesosok postur jangkung sedang berdiri memunggunginya di balkon itu. Perlahan-lahan Daze menyusut sampai menempel ke pintu, lalu dia memutar tubuh dan berganti haluan, menjauh dari tempat itu.

"Daze!!"

Panggilan dari belakang menghentikan langkahnya. Daze memejamkan matanya lambat-lambat. Seakan mempunyai kekuatan yang tidak mungkin dibantah dari panggilan itu, Daze berbalik perlahan.

"Rath ... "

"Bisa kita bicara?" ujar Rathyan dengan pandangan tak berkedip.

"Yah--" Daze mengerakan pundaknya. Lalu--mau tidak mau, dia bergerak ke balkon.

Kebisuan menyelimuti mereka setelah itu. Dua postur berdiri sejajar, dengan tatapan nanar tertuju ke serpihan-serpihan salju yang diterbangkan angin. Daze merasakan udara semakin dingin. Dan tamparan-tamparan halus yang diberikan di wajahnya terasa perih. Dia melipat tangan di depan dada dan menoleh pada pemuda di sebelahnya.

"Jika tidak ada yang ingin kau bicarakan, saya masuk sekarang .... " Daze bergerak, dengan maksud masuk ke dalam rumah. Tapi sebuah tarikan keras menghentikan langkahnya. Rathyan mengenggam sangat erat pergelangan tangannya, dengan posisi masih tertuju ke arah taman.

"Aku ingin mendengar penjelasanmu?"

Mata Daze melebar. "Mwo?"

"Pemuda itu?!!" sela Rathyan tajam, sambil menoleh padanya. "Jangan berpura-pura bodoh, Daze Han!! Kenapa pemuda itu bisa berada di sini? Kau yang mengundangnya?!"

Daze membalas tatapan Rathyan. Sesaat kemudian dia mengibaskan tangannya. "Bukan urusanmu!!"

"Bukan urusanku?!" seru Rathyan. Kesabarannya sudah habis sekarang. Itu terlihat dari wajahnya yang berubah garang. "Ini bagian dari kepercayaan yang kau janjikan? Bagaimana mungkin kau mengharapkan kepercayaan dariku setelah kau sendiri merenggut kepercayaan itu?!!"

"Merenggut?" Daze menjadi berang. Sungguh, sangat capek rasanya kalau setiap hari harus beradu mulut dengan pemuda ini. "Apa kau juga mempercayaiku? Belum apa-apa, kau sudah marah-marah tak karuan, .. lalu apakah ini yang kau namakan kepercayaan? Kau terlalu egois, Rathyan Jang!!"

"Siapa yang egois?" Rathyan membelalakan matanya. "Demi pemuda itu--kau bertengkar denganku?!" lanjutnya emosi. "Kau tidak berubah, Daze Han! Dan kau tidak mungkin 'pernah' akan berubah!"

"So do you, Mr. Jang!!" teriak Daze.

"Okay!!" balas Rathyan keras. "Up to you!!"

Mereka saling bertatapan dengan emosi meluap-luap. Wajah Rathyan menjadi merah padam. Begitu juga Daze, .. kulitnya yang putih semakin merah akibat darah yang sudah naik sampai ke ubun-ubun. Selama hampir lima menit mereka tidak bergerak, .. ataupun bereaksi--sedikitpun.

Sampai ... Mendadak Rathyan meraih pinggang Daze, dan menarik tubuh mungilnya kearahnya. Daze terperanjat, dan berupaya memberontak .. tapi percuma karena rangkulan Rathyan teramat erat. Tangan kekar itu tidak bergeming walaupun kepalan tangan Daze sudah berkali-kali dihantamkan ke dadanya.

"Kau mau apa?!!" teriak Daze. "Lepaskan aku!!"

Buk, buk, buk, ... Daze yakin dada bidang itu sudah memerah. Walaupun pakaian yang dikenakan Rathyan cukup tebal buat mengusir aura dingin di musim yang membeku itu, namun pukulannya tidak bisa dianggap enteng. Dia sudah mengerahkan segenap kekuatannya, karna cuma satu yang dipikirkannya saat ini--Dia ingin melepaskan diri, .. muak rasanya mendapat perlakuan kasar seperti ini.

Namun lingkaran tangan Rathyan menahannya. Pemuda itu tidak bergeming sedikitpun. Matanya juga tidak berkedip ketika pukulan-pukulan Daze mendarat di dadanya, .. seolah urat rasanya sudah mati. Dia tidak merasakan apa-apa, .. jangankan sakit, ngilu saja tidak!

"Lepaskan aku!!!" Daze masih terus meronta.

Dan yang terakhir, telapak tangannya mendarat dengan keras di pipi Rathyan. Plakkk!!

Daze mengangga--tidak menyangka tamparannya meleset sejauh itu. Pipi Rathyan memerah sudah.

"Oh--" Daze menutup mulutnya.

"Kau muak padaku?!" Seolah tidak terjadi apa-apa padanya, Rathyan bertanya dengan mata berkilat-kilat. Dia sangat marah. Ya, dia sangat murka saat ini. Bukan akibat tamparan Daze--tapi karna dia merasa dipermainkan. Semua pemberontakan gadis ini seakan menunjukan padanya bahwa dia tidak lebih penting dari pemuda itu, Carlson Kim. "Apa sebenarnya yang kau pikirkan, Daze Han?!!"

Rathyan mendorong Daze sampai menempel ke dinding. Menekannya sampai tidak bisa bergerak, untuk kemudian menguncinya dengan sepasang tangan. Ditariknya wajah gadis itu ke arahnya, kemudian .. tanpa memberi kesempatan pada Daze untuk menolak, dilumatnya bibir gadis itu dengan kasar.

Daze berusaha meronta dan mendorong tubuh jangkung itu ke belakang. Namun, tentu saja tidak berhasil. Seperti kesetanan, Rathyan terus melahap bibirnya--sampai terasa perih. Dirasakannya gigi-gigi pemuda itu mengiris bibirnya, dan bagian dalam mulutnya. Kemudian cumbuan laknat itu menurun ke lehernya. Lidah kasar itu menjilatinya sampai basah, bermain dari atas ke bawah. Daze terisak perlahan. Namun Rathyan tidak menghentikan kelakuannya. Desahan nafasnya yang memburu terdengar jelas oleh Daze.

"Segitu muaknya kah?" tanya Rathyan di sela-sela telinga Daze.

Daze mengerakan kepala perlahan-lahan sampai bertemu langsung dengan tatapan redup Rathyan. Dia membuka mulut bermaksud menyahut pedas, tapi tidak ada suara yang keluar. Seolah ada kekuatan yang menahannya untuk tutup mulut. Hatinya teriris kini. Penolakannya ternyata meninggalkan dampak mengejutkan terhadap Rathyan. Pemuda itu terlihat terguncang, .. pandangan itu--begitu ... begitu rapuh dan pedih.

"Pemuda itu lebih pen ... "

Pertanyaan Rathyan tidak berlanjut karena Daze sudah meraih bibirnya. Mata pemuda itu melebar, .. tidak menyangka mendapat balasan mendadak dari Daze. Apalagi gadis itu sudah mulai melumat bibirnya, bermain dengan ahli dan bergelora. Bibirnya disesap dengan begitu erat. Rathyan melihat mata Daze terpejam, .. desahan-desahan halus keluar dari bibir mungilnya. Rathyan ikut memejamkan mata, ... Ciuman itu pun berlanjut kembali, .. namun bukan dari sebelah pihak kali ini. Keduanya kelihatan begitu menikmati, ... tanpa menyadari sepasang mata tengah memperhatikan mereka.

Daze melingkarkan tangannya ke leher Rathyan. Kakinya berjinjit sehingga lumatan-lumatan mereka lebih leluasa. Rathyan memindahkan ciuman-ciumannya ke segala area--baik itu bibir, hidung, jidat, dagu, maupun leher, tidak luput dari permainannya. Erangan-erangan kecil pun terus-menerus terdengar dan membanjir dari balkon kecil itu.

Rathyan menyusupkan tangannya ke balik sweater Daze, mengelus halus punggungnya, lalu berpindah ke depan dan meraba perutnya, terus naik ke atas sampai menyentuh bagian dada yang membusung. Tanpa melepas cumbuan-cumbuannya pada bibir Daze, disentuh dan agak ditekannya bukit dada itu. Daze menjerit tertahan.

"Ahh--"

Tangan Rathyan bergerak lebih nakal lagi, menyisip masuk ke balik bra yang dikenakan Daze, lalu meremas dada yang menonjol itu--memberi sentuhan dan sensasi yang luar biasa bagi gadis itu. Sampai Daze tidak tahan dan segera memeluk dan merangkul erat-erat tubuh jangkung Rathyan sampai terasa susah bernafas.

Di tengah-tengah permainan yang panas itu, tiba-tiba Rathyan melonggarkan pelukannya dan menekan tangan Daze hingga terlepas dari tubuhnya. Si pengutit yang sejak tadi berdiri kaku di balik pintu juga bergerak sedikit dari posisinya. Mungkin takut ketahuan, perlahan dia mundur dan berlalu dari situ.

Rathyan mengangkat tangan dan menyentuh wajah Daze dengan tatapan redup yang jatuh tepat ke matanya.

"Haruskah aku melepasmu?" tanya Rathyan halus. Suaranya berupa desahan dan sangat pelan. " .. tapi, jika kubiarkan kau pergi--aku tidak akan pernah tahu sampai di mana hubungan ini .. ," lanjutnya sambil mengeleng perlahan. "... dan sungguh--aku tak menginginkan itu ... ," Lalu diangkatnya wajah Daze dan ditatapnya dalam-dalam, seolah meminta keyakinan dari gadis itu. "Dapatkah kau menunjukan jalan keluarnya padaku, Dazya?"

Daze tertegun--sungguh, dia tidak pernah menyangka akan mendapat pertanyaan seperti ini dari mulut seorang Rathyan. Sejujurnya, pertanyaan ini juga termasuk dalam rentetan pertanyaan yang ingin ditanyakannya sejak dulu--apa jadinya jika dia membiarkan dan merelakan Rathyan pergi? Apa yang akan terjadi pada mereka selanjutnya? Akankah kehidupan mereka lebih baik dari sekarang atau sebaliknya? Mungkinkah dia dapat melihat Rathyan tersenyum kembali? DIA TIDAK TAHU, jadi .. bagaimana dia bisa menjawab pertanyaan itu?

"A .. aku tidak tahu ... ," jawab Daze sambil menghela nafasnya. "Aku sungguh-sungguh tidak tahu ... " kemudian dia mundur perlahan. " ... jangan mendesak ku .. "

Daze memutar tubuhnya, .. dengan agak sempoyongan dia berlalu dari hadapan Rathyan, .. meninggalkan pemuda itu terhempas memprihatinkan di dinding kelam yang dingin nan beku. Rathyan memejamkan matanya. Ketika dibuka kembali, sepasang mata itu sudah berkabut, beriak-riak yang akhirnya membentuk dua titik air yang menuruni sepanjang pipinya ... hatinya terasa perih dan menyayat. Dia tidak habis pikir ... kenapa bisa begitu.


ooooOoooo


Daze sedang menuruni anak tangga dengan pikiran melayang ketika panggilan halus terdengar dari belakangnya.

"Dazya ... "

Layaknya orang linglung, Daze menoleh. "Carls ... ?" balasnya lirih.

"Mau ke mana?" Carlson menghampirinya sampai mereka berdiri sejajar.

"A .. aku .. " Daze melirik ke segala arah, namun tidak tahu bagaimana untuk melanjutkannya.

"Jangan menghindar lagi!" tukas Carlson cepat.

Daze mengangkat kepalanya. "Dhe?"

"Kataku--jangan menghindar lagi? Sebenarnya, apa yang kau takutkan?"

"Hah--?" Daze melebarkan matanya, makin tidak mengerti arah pertanyaan Carlson.

"Aku melihat segalanya .. " Carlson terlihat menghela nafas.

"Mwo?" Alis Daze berkenyit. Sungguh, perkataan-perkataan Carlson makin membingungkan.

"Ciuman kalian .. tadi ... ," ujar Carlson kemudian.

"Oh!" Daze mengambil nafas dalam-dalam seraya menghembuskannya. Semburat merah mulai mewarnai sepasang pipinya, sampai menyentuh ke cuping hidungnya yang bangir. Adegan tadi terlihat Carlson? Memalukan sekali ..., begitu--pikirnya.

"Mian, .. aku tidak bermaksud menguntit. Tadi hanya berniat mencari udara segar di balkon belakang, dan tidak sengaja melihat perdebatan kalian, dan ... "

"Ne .. " Daze segera memutus perkataan Carlson. Wajahnya makin memerah saja.

"Jadi--bisa jawab pertanyaanku, Dazya?" tanya Carlson kemudian, sembari menatap Daze lekat-lekat.

"Mwo?"

"Apa yang kau takutkan?"

"Aku?"

"Ya .... "

Daze terlihat menghela nafas, beberapa saat kemudian dia mengelengkan kepalanya. "Entahlah ... Mungkin status seperti yang pernah dikatakan halmonie .. " Kepalanya menunduk perlahan.

"Status?" Carlson mengenyitkan alisnya. "Maksudmu?" tanyanya tak mengerti.

"Aku tidak tahu!" tukas Daze dengan nada dikeraskan. "Jangan tanya lagi. Aku sungguh tidak tahu!" Sambil merentangkan tangannya, dia berbalik dan melangkah ke bawah.

"Dazya!!" seruan Carlson terdengar kembali. "Apa kau mencintainya?!"

Langkah Daze terhenti seketika itu juga.

"Aku tidak pernah melihatmu bercumbu seperti itu. Selama hubungan kita, kau tidak pernah seagresif dan seliar itu .. " Carlson menghampiri sampai berhadapan dengan Daze. "Jadi katakan padaku sejauh mana perasaanmu padanya!"

"A .. aku ... "

"Apa kau mencintainya?"

Daze tidak bersuara.

"Tidak?"

Sekali lagi, kebisuan yang didapat Carlson.

"Atau hanya nafsu yang berbicara? Karna kau belum pernah mendapat perlakuan seperti itu jadi kau terbuai dan menikmatinya?!"

"Bukan begitu!!" jerit Daze tiba-tiba. "Kau tidak mengerti apa-apa!!!"

"Jadi?" Carlson menatapnya tak berkedip. "Bagaimana perasaanmu?" tanyanya paksa.

"Aku mencintainya!!" Setelah sekian lama, akhirnya kata-kata itu melesat dari mulut Daze. Ya--Dia mencintai Rathyan, dan ini kenyataan. Mengapa harus sengan mengakuinya?

Tanpa Daze sadari, Carlson mengulum senyum tipis. Walaupun hatinya terasa perih, namun dia bahagia mendengar pengakuan gadis itu. "Lalu kenapa tidak kau ungkapkan?"

"Aku?" Daze terbelalak.

"Ne .. ," jawab Carlson.

"Tapi kenapa harus aku?" ujar Daze gusar.

"Kenapa tidak?" kini balik Carlson yang bertanya.

"Aku seorang wanita, Carls-a!"

"Lalu apa masalahnya?" lanjut Carlson enteng.

"Mwo?"

"Apa cinta memandang hal itu?" tukas Carlson. "Kenapa harus mempermasalahkan siapa yang memulainya lebih dulu?"

"Karna aku seorang wanita!" sahut Daze tegas. "Aku memerlukan pengakuan dan keyakinan--hanya itu!!" katanya sambil memalingkan wajah ke arah lain.

"Bagaimana jika selamanya dia tidak mampu memberi pengakuan dan keyakinan itu? Apakah kau akan menunggunya seumur hidup?" tanya Carlson kembali.

Daze tercekat. Pertanyaan Carlson mengetarkan hatinya. Benar--bagaimana jika Rathyan tidak mampu memberikan pengakuan yang diinginkannya selama ini? Apakah hubungan mereka akan begini terus, seumur hidup? Terombang-ambing tanpa menemukan titik terang?--Menuju happy ending yang diimpikannya? Berpikir sampai di sini, Daze jadi merinding. Ending ini akan lebih mengerikan daripada ditolak langsung oleh Rathyan!, pikirnya sambil mengambil tekad.

"Aku tidak punya kesempatan itu karna aku yang telah melepasmu terlebih dulu .. ," terdengar Carlson melanjutkan perkataannya dengan nada pelan. "Sudah terlambat bagiku, maka aku tidak berani mengharapkannya lagi .. "

"Carls ... " Mata Daze meredup. "Miane .. "

"Aku tidak apa!" Carlson mengangkat pundaknya. Lalu dia melanjutkan, "Karna itu, jangan melepas kesempatanmu, Dazya ... " Pemuda itu tersenyum lembut. "Berjuanglah sebelum kau menyesal! .. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Tuan Jang, tapi--dari pengamatanku selama dua hari sekamar dengannya, ditambah sikapnya terhadapmu, kurasa--dia juga menyimpan perasaan terhadapmu. Jadi, jangan menyerah, Dazya .. percayalah, .. Usaha keras pasti akan membuahkan hasil. Dan kejujuran merupakan inti dari semua itu .. " Carlson mengangkat tangan dan menepuk pundak Daze. "Araso, Daze-ssi?"

Daze manggut-manggut. "Kurasa, aku mengerti arah perkataanmu .. ," katanya sambil tersenyum. "Kejujuran--Akan kuusahakan ... "

"Bagus!" Carlson mengangkat jempolnya.

Daze tertawa. "Gumawo, Carls-a .. "

"You're welcome ... " Carlson lalu membungkukan badannya dengan gaya hormat.

"Ha ... ha .. , tapi aku harus pergi sekarang. Ngobrolnya kita lanjutkan nanti saja. Sampai bertemu kembali nanti malam .. " Daze memutar badannya.

"Mau kemana?" tanya Carlson.

"Ada yang mesti kuurus!" ujar Daze tanpa berbalik.

"Ok. Kalau begitu, hati-hati .. "

Daze mengangkat jari ke atas. "Beres ... "

Carlson memperhatikan punggung Daze sampai menghilang di balik lorong ruang depan.

Kelihatannya--mulai hari ini aku harus melepasmu, Dazya! Selamat tinggal, dan semoga bahagia ... Tuan Jang pasti juga mencintaimu, percayalah--Semua terlihat jelas dari sikapnya selama beberapa hari ini. Dan entah mengapa aku punya perasaan-- Carlson mengerutkan alis perlahan. Dia berpikir, dan memantapkan perasaan bahwa yang dipikirkan selanjutnya benar adanya. setelah mengetahui bahwa kau telah mengenalnya jauh hari sebelum peristiwa genting yang dialami Korean Capital terjadi, aku punya perasaan bahwa dialah yang berada dibalik penyelamatan perusahaan kami ....


***** oOo *****



_________________


♥️ "Everywhere ★ we learn ★ only from ★ those whom ★ we love" ♥️
avatar
DragonFlower

Posts : 94
Join date : 2013-06-17
Location : | Trapped in CNBLUE Dorm |

View user profile

Back to top Go down

Re: from Seoul to ... Perth-- by Lovelyn

Post by DragonFlower on Wed Jun 26, 2013 5:16 pm





from Seoul to ... Perth II--
Chapter Nineteen

By : Lovelyn Ian Wong



Song of the day :
Lyrics :


I've been living with a shadow overhead
I've been sleeping with a cloud above my bed
I've been lonely for so long
Trapped in the past, I just can't seem to move on

I've been hiding all my hopes and dreams away
Just in case I ever need em again someday
I've been setting aside time
To clear a little space in the corners of my mind

All I want to do is find a way back into love
I can't make it through without a way back into love
Oh oh oh

I've been watching but the stars refuse to shine
I've been searching but I just don't see the signs
I know that it's out there
There's got to be something for my soul somewhere

I've been looking for someone to shed some light
Not somebody just to get me through the night

I could use some direction
And I'm open to your suggestions

All I want to do is find a way back into love
I can't make it through without a way back into love
And if I open my heart again
I guess I'm hoping you'll be there for me in the end
oh, oh, oh, oh, oh

There are moments when I don't know if it's real
Or if anybody feels the way I feel
I need inspiration
Not just another negotiation

All I want to do is find a way back into love
I can't make it through without a way back into love
And if I open my heart to you
I'm hoping you'll show me what to do
And if you help me to start again
You know that I'll be there for you in the end
oh, oh, oh, oh, oh




Angin bertiup semilir, .. lembut dan membelai wajah Daze. Juga menerbangkan sisa-sisa salju yang sudah berhenti. Tatapan teduh Daze terpaut pada gundukan di bawah kakinya. Pandangannya perlahan-lahan berubah redup. Udara dingin tidak dirasakannya lagi. Hanya kehangatan yang melandanya sekarang, .. menyusup sampai ke kalbu, seolah menyentuh sampai ke hatinya yang terdalam.

"Halmonie .. ," panggil Daze halus, .. dengan uap-uap yang tersembul dari mulut dan hidungnya. Perlahan-lahan dia menjatuhkan diri, duduk di hamparan rumput yang sudah mati akibat kebekuan salju. Tangannya membelai dan menyibak lapisan putih yang menyelimuti nisan halmonie.

"Dikau pernah bertanya, .. apa yang kukhawatirkan .. ," lanjut Daze sambil tersenyum lembut. " .. dan waktu itu, aku menjawab--mungkin karna status .. ," lalu tangannya menyapu lebih cepat, .. hingga gundukan nisan tersebut terlihat lebih jelas. Lapisan atasnya yang terbuat dari pualam abu-abu terlihat berkilat tertimpa mentari sore.

"Tidak, halmonie!" Daze mengeleng. "Baru kusadari, bukan status yang kukhawatirkan. Persetan dengan segala status itu--"

Tiba-tiba, angin bertiup makin kencang, dan segumpal awan gelap menutupi matahari, sehingga sinar yang dijatuhkannya menjadi sedikit dan keadaan sekitar segera saja menjadi remang-remang. Daze merapatkan sweaternya perlahan. Udara di sekitar situ makin dingin saja.

"Yang kutakutkan--Sesungguhnya, .. tak terpikirkan sedikitpun sejak dulu-dulu .. " Daze mendesah. Kemudian, senyum kecut tersungging di bibirnya. "Keangkuhan, halmonie!" sahutnya kemudian . "Aku terlalu angkuh untuk menyadari dan mengakui bahwa, aku benar-benar membutuhkannya. Aku tidak boleh kehilangan dia. Aku tidak bisa hidup tanpa dia. .. Ini yang kutakutkan selama ini, halmonie ... "

Daze memejamkan mata, dan merasakan bagaimana kelegaan perlahan-lahan mengayut hatinya. Ya, dia sudah punya keberanian itu. Setelah pengakuannya pada halmonie, dan juga ditambah dukungan jarak jauh dari beliau, yang dapat dirasakannya dengan jelas, Daze yakin--dia mampu melakukannya.

"Carls mengatakan sesuatu padaku mengenai hubungan kami hari ini, halmonie .. " Daze membuka matanya dan menatap nisan di hadapannya. Seakan roh nenek tua itu sedang duduk di sana dan mendengarkan dengan seksama apa yang diadukannya.

"Dan aku tahu apa yang dikatakannya itu benar adanya .. ," lanjut Daze sambil tersenyum. "Tapi bukan itu penyebabnya kenapa aku mengambil keputusan ini, halmonie. Tidak!" Dia mengeleng dengan cepat. "Jika begitu, aku yakin Rath akan marah besar padaku." Sampai pada nama Rathyan, Daze tersenyum lebar. "Baru kusadari, dia sangat posesif .. ," kata gadis itu dengan raut berubah lembut. "Mungkin aku harus belajar menerima kekurangan-kekurangannya. Jika aku benar-benar mencintainya, aku rasa--aku harus menerimanya. Dan, aku juga yang harus memulainya--benar kan, halmonie? .. Cinta tidak mengenal harga diri. Cinta tidak mengenal martabat. Jadi, buat apa mempermasalahkan siapa yang memulainya terlebih dahulu. Bagiku--kehilangannya-lah, hal yang paling menakutkan di dunia ini .. "

Daze menengadah ke langit. Dilihatnya, awan gelap yang menutupi matahari berarak secara perlahan-lahan, menyebar hingga sinar sang surya kembali merembes ke bumi. Mendung yang sejenak itu, tergantikan oleh kuasa sang dewa siang yang mulai berwarna jingga.

"Pada akhirnya, mendung juga akan tergantikan oleh kecerahan. Jadi, kenapa hatiku tidak?" tanya Daze sambil memantapkan hatinya. Matanya kembali terpejam seiring kehangatan sinar mentari yang jatuh tepat di wajahnya.

Daze tersenyum. Untuk beberapa lama, dia membiarkan keadaan seperti itu. Dia tidak bergerak sedikitpun. Dapat dirasakannya, tatapan lembut dari halmonie yang setia menemaninya sampai saat itu.


oooooOOOooooo


Daze kembali ke rumah sekitar pukul 5 sore. Dan, dia berpapasan dengan Rathyan di halaman depan. Langkah pemuda itu kelihatan tercekat begitu melihat Daze. Namun, hanya sebentar. Dan dia tidak mengeluarkan suaranya. Daze tersenyum begitu mendekati Rathyan.

"Bisa bicara sebentar?" tanya Daze.

Rathyan tidak menyahut. Sepasang tangannya yang terselip dibalik saku mantel terlihat bergetar pelan.

"Saya harus keluar sekarang .. ," katanya kemudian, dengan nada datar yang sangat khas. Dia bergerak melewati Daze.

Daze berbalik. "Saya akan menunggumu!"

Langkah Rathyan terhenti.

"Selarut apapun .. ," sambung Daze, yang terdengar ringan dan ceria. Dan semua itu tidak dibuat-buat. "Bersenang-senanglah ... ," ujar gadis itu, dengan senyum lebar tersungging di bibirnya.

Rathyan menoleh. Tapi, gadis itu sudah beranjak dari tempatnya. Rathyan melihat bagaimana Daze membuka pintu depan lalu masuk ke dalam rumah. Perlahan-lahan, alis tebal nan indah milik si pemuda berkerut. Dia tidak mengerti apa sebenarnya yang terjadi pada gadis itu. Sikapnya berubah hanya dalam beberapa jam?


oooooOOOooooo


"Doronim .. "

Tuan Park membungkuk hormat begitu melihat kedatangan Rathyan.

"Hm--"

Rathyan membalasnya pendek, seraya menghempaskan diri di kursi cafe' kecil yang ditunjuk Tuan Park sebagai pertemuan mereka.

"Pak presiden menyuruhku menyampaikan ini pada doronim .. ," mulai si asisten pribadi itu seraya ikut menjatuhkan diri di kursi, tepat di depan Rathyan.

Rathyan mengangkat alisnya. Tapi pemuda bermata elang itu tetap tidak mengeluarkan suara.

"Beliau akan datang seminggu kemudian .. "

Rathyan melebarkan matanya. "Datang ke sini?" tanyanya buat menyakinkan.

"Ne ..," sahut Tuan Park.

"Why?" balas Rathyan tajam.

"Berhubungan dengan proyek kerjasama dengan Aussie Land, doronim .. "

"Kenapa?!!" bentak Rathyan. "Bukankah proyek itu sudah diserahkan padaku? Kenapa dia campur tangan?" lanjutnya sambil mengebrak meja.

Suara berdebam yang dihasilkannya, sukses membuat beberapa pasang mata langsung melirik mereka. Tatapan dari orang-orang itu mengandung sejuta tanda tanya. Mungkin diakibatkan, tidak ada seorangpun selama ini, yang pernah melakukan tindakan brutal seperti yang dilakukan Rathyan dalam cafe' itu.

"Jelaskan padaku, Tuan Park!!"

"Sosoenghamida, doronim .. " Tuan Park menunjukan penyesalannya. "Pak presiden sudah mengetahui apa yang terjadi. Pihak Aussie Land mendesak terus, sehingga berita tersebut sampai ke telinga Pak presiden. Beliau sangat marah, karena itu memutuskan untuk menyelesaikannya sendiri .."

"Tua bangka itu!!!" Brakk! Kepalan tangan Rathyan kembali menghantam meja. Kali lebih keras, sehingga punggung tangannya menjadi sangat merah.

"Do .. doronim .. ," desah Tuan Park khawatir. Sontak diraihnya tangan Rathyan dan memperhatikannya dengan seksama.

Namun Rathyan menepis dengan sengit. "Katakan padanya--Jika dia tidak percaya padaku, jangan berlagak dia percaya. Buat apa menyerahkan hal yang pada akhirnya akan diambil-alih olehnya. Aku muak diperlakukan begini terus!" Rathyan berdiri dari kursinya, kemudian menendang kaki meja sampai Tuan Park terperanjat kaget. Sejenak asisten pribadi itu memperhatikan majikannya. Kemudian menghela nafas.

"Aku bukan anak kecil lagi!!!" teriak Rathyan dengan nada tercekik.

"Doronim!!" seru Tuan Park begitu Rathyan mulai mengerakan kakinya. "Ada lagi!"

Rathyan menghentikan langkahnya, namun tidak berbalik. "Apa?" tanyanya dingin.

"Selain alasan tadi, .. Pak presiden mengkhawatirkan kelakuan Miss White .. "

Alis Rathyan berkerut. "Memangnya apa yang akan dilakukannya?"

"Miss White bermaksud menyusul doronim kemari .. "

Mendengar itu, sikap Rathyan berubah serius. Dengan cepat dia menoleh. "Menyusul kemari?" Matanya melebar tajam. "Apa dia sudah gila? Dikiranya aku datang ke sini hanya untuk bersenang-senang?"

"Sosoengheyo, doronim .. " Tuan Park menunduk hormat. "Pak presiden sudah berusaha menjelaskannya, namun nona White kelihatannya tidak perduli. Dia berkeras kemari. Karena itu, doronim ... " Pria itu menghela nafas sebelum melanjutkan perkataan-perkataannya. "Pak Presiden tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Makanya beliau memutuskan datang kemari .."

Rathyan dengan tangkas mengibaskan tangannya. Kemudian dia terdiam kaku untuk beberapa lama. Mata elangnya perlahan-lahan melemah walaupun hanya sedikit. Setelah itu, dia memasukan sepasang tangannya ke dalam mantel. "Terserah saja ... ," katanya kemudian, seraya melanjutkan langkahnya, .. meninggalkan Tuan Park yang menatapnya sambil menghela nafas untuk kesekian kalinya.


oooooOOOooooo


Keluar dari cafe' kecil di pinggir kota tersebut, Rathyan memutuskan berkeliling sebentar guna menyegarkan pikirannya yang sumpek. Mobil sport biru terang yang disewanya meluncur cepat di jalan raya yang basah dan di beberapa bagian terselimut salju. Nyaris saja mobilnya tergelincir ketika membelok di tanjakan tajam. Dengan cepat Rathyan menginjak pedal dan mengumpat keras. Dashboard di depan menjadi sasaran kekesalannya.

"Sial!! Tidak ada yang beres!!"

Setelah melempar pandangan ke belakang lewat kaca spion depan, dan memastikan tidak ada kendaraan yang memotong lewat jalan itu, Rathyan kembali menginjak pedal gas. Dalam sekejap mobil mewah tersebut kembali membelah jalan yang tidak begitu ramai.

Pukul setengah delapan malam, Rathyan menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah makan kecil. Dia memutuskan menyantap makan malamnya di situ. Satu jam kemudian dia keluar dari rumah makan tersebut. Selanjutnya, mobil sportnya kembali melaju di jalan raya.

Pikiran Rathyan melayang. Kejadian-kejadian sejak beberapa hari terakhir memenuhi pikirannya. Dan yang paling melekat adalah pertanyaannya pada Daze, yang tidak mendapat respon memuaskan dari gadis itu.

"Apa yang kau harapkan, Rathyan Jang?" desahnya pelan.

Pedal gas diinjak semakin dalam, dan mobil yang dibawanya melesat semakin cepat, melampaui kecepatan rata-rata.

Mengharapkan sebuah kepastian dari gadis yang dicintainya buat masa depan yang dia sendiri tidak tahu, .. dan sama sekali tidak terbayangkan? Rathyan menyengir muak.

Kau sungguh-sungguh menyedihkan, Rathyan Jang!! rutuknya sengit, seraya menampar gagang kemudi. Tangannya terasa nyeri dan ngilu, tapi itu tidak dihiraukannya lagi.

Perkataan-perkataan Daze sibuk bergulir silih berganti dalam pikirannya ...


"A .. aku tidak tahu ... "
"Aku sungguh-sungguh tidak tahu ... "
" ... jangan mendesak ku .. "


Kau sendiri tidak tahu bagaimana menangani masalah ini. Kau tidak tahu haruskah melepasnya, ataukah mengenggamnya erat tidak dilepas. Lalu bagaimana kau berharap dia bisa menjawabnya? Apa hakmu meminta kepastian itu? Apa?!!

Rathyan memejamkan matanya. Dan untuk kedua kali dalam waktu kurang dari duapuluh menit, mobilnya hampir lepas kendali. Kali ini, endapan salju penyebabnya. Rathyan membanting stir dengan cepat, dan menghentikan mobilnya dengan suara mendecit keras. Nafasnya tersengal dan matanya terbelalak.

Apa yang kau lakukan, Rathyan Jang?!! Kau hampir celaka buat emosi tidak perlu ini!!

Rathyan menghela nafas berat. Perlahan-lahan kepalanya disandarkan ke belakang. Matanya terpejam. Untuk sesaat, dia berusaha menenangkan diri, .. meredakan semua emosi yang ada.

Setelah berhasil, selama setengah jam lamanya, Rathyan kembali menghidupkan mesin mobilnya. Dikemudikannya mobil tersebut secara pelan-pelan kini, .. berbeda jauh dari beberapa saat lalu.

Sekitar sepuluh menit kemudian, Rathyan memutuskan tujuan selanjutnya. Mobilnya dihentikan tepat di depan R&G Studio. Gracielo membukakan pintu baginya, dan terlihat agak terkejut dengan kunjungan mendadak itu.

Namun ekspresi Rathyan menjelaskan padanya kalau dia tidak ingin diganggu. Gracielo yang sudah terbiasa dengan reaksi Rathyan, mengerti. Setelah menepuk lengan Rathyan, dia bergerak ke dapur dan menyediakan sepoci teh lengkap dengan cangkir kecil dan sepiring biscuit di atas nampan.

Sehabis beres-beres sebentar, Gracielo memutuskan kembali ke kamarnya yang sempit di ujung lantai atas buat tidur. Rathyan ditinggal sendiri, menyandar di sofa lengan sambil menyeruput tehnya, .. hanya ditemani redupnya sinar lampu meja yang memantulkan bayangannya ke belakang, dan kelamnya semburat rembulan yang hanya sedikit menerobos masuk lewat jendela kaca di atas atap studio. Dan juga, jeritan-jeritan samar dari binatang-binatang malam yang mulai keluar mencari mangsa.

Pandangan Rathyan nanar tertuju ke depan, .. menatap semu lukisan di depannya. Lukisan abstrak yang hanya ditempeli gumpalan-gumpalan cat warna putih, merah dan kuning kejingga-jinggaan.

Aku benar-benar berharap kau mampu memasuki duniaku .. , desah bibir penuh yang agak bergetar itu lirih. Apapun akan kupertaruhkan jika .. kita berhasil melaluinya ..

Lalu pandangannya meredup, .. perlahan-lahan matanya terpejam ....


oooooOOOooooo


Daze bermain-main dengan Cherryl kecil sudah hampir dua jam lamanya. Sedangkan Dave beserta istrinya, Natalie Park, duduk bersandaran di sofa dengan kesibukan masing-masing. Dave dengan materi pelajaran yang mesti disiapkannya buat mata pelajaran besok di sekolah yang diajarnya, sementara Natalie disibukan oleh bahan-bahan rajutan di tangannya. Jam dinding sudah menunjukan pukul 10 malam ketika Carlson masuk ke ruang tengah itu. Dan dia menghampiri mereka yang segera tersenyum melihat kedatangannya.

"Dazya, apa kau tahu Tuan Jang pulang atau tidak?"

Daze yang sedang mengangkat Cherryl ke pangkuannya, tertegun. "Maksudmu?"

"Ini sudah malam .. ," tunjuk Carlson ke jam kulit yang melingkar di pergelangan tangannya. "Aku ingin tahu, apa perlu menunggunya atau .. "

"Tidak usah .. ," sela Daze seraya bangun dari posisinya.

Saat itu, Cherryl yang berada dalam pelukan Daze mulai merengek halus dan mengucek-ngucek mata bundarnya. Daze kemudian memberikan bayi montok itu pada ommanya, .. yang segera mengambil-alih dan menepuk-nepuk tubuh mungil tersebut buat menghiburnya.

"Sebaiknya kita masuk ke kamar, Nat .. " Dave menyentuh lengan istrinya. "Cherr kelihatannya sudah ngantuk .. "

Natalie mengangguk. "Benar .. " Lalu dia beralih ke Daze. "Kami masuk dulu, onnie. Dan juga, .. " Dia berpaling pada Carlson. "Carls hyung. Anyong .. "

Dave ikut mengangguk. "Selamat malam, noona and Carls hyung .."

Carlson membalas salam mereka dengan menganggukan kepalanya. "Selamat malam ... "

Habis itu, Dave dan Natalie masuk ke kamar mereka di lantai atas dengan membawa serta Cherryl. Sekarang, tinggalah Daze dan Carlson berduaan dalam ruang tamu itu. Keheningan sejenak melimuti mereka, sampai Daze membersihkan tenggorokannya dengan deheman pelan.

"Hmm--Rath mungkin pulang agak larut malam ini, .. jadi, kau tidak perlu menunggunya, Carls. Kau tidurlah dulu .. "

Carlson menatap Daze, .. Setelah mendapat kepastian lewat pandangan gadis itu, akhirnya dia menyerah.

"Baiklah." kata Carlson sambil menghela nafas. "Pintunya tidak kukunci jika dia kembali." Sejenak dia kelihatan ragu-ragu sebelum melanjutkan perkataannya. "Dan ... apakah kau akan menunggunya?"

Daze membalas pandangan Carlson. Dia mengangguk tanpa keraguan. "Ne. Jika kau mengantuk, tidurlah dulu. Aku akan menunggunya sampai dia kembali .. "

"Ta ... pi, .. itu mungkin akan sangat larut .. ," ujar Carlson menasehati. "Apa tidak sebaiknya kau tidur dulu?"

"Aku ada urusannya dengannya .. ," jawab Daze sambil memantapkan hati.

"Apa tidak bisa dibicarakan besok saja?" tanya Carlson lebih lanjut. "Tidak baik tidur terlalu malam. Kau membutuhkan istirahat yang cukup, Dazya. Lihatlah, wajahmu kelihatan pucat begitu .. "

"Saya tidak apa-apa .. ," bantah Daze cepat. "Mungkin agak dingin. Tapi sungguh, saya baik-baik saja .. ," kemudian dia berusaha memberikan senyuman termanis buat Carlson, .. supaya pemuda ini tidak memaksa lagi. "Kau tidurlah dulu, Carls .. "

Carlson menghela nafas. Setelah menyadari bahwa keputusan Daze tidak mungkin dibantah, mau tidak mau--akhirnya dia menyerah.

"Baiklah." Ditepuknya lengan Daze pelan. "Kau berhati-hatilah. Jangan sampai sakit. Jika memang tidak kuat, segera tidurlah ... ," nasehat pemuda bijak.

"Ne .. ," sahut Daze dengan nada yang seperti helaan pelan. "Arassoyo ... "

Untuk terakhir kalinya Carlson menatap Daze. Pandangan mereka bertemu dalam kebisuan yang mencekam, sampai Daze tersenyum memastikan.

"I will be ok. I promise ... "

Carlson mengangguk, ... memberi balasan buat menguatkan keputusan gadis itu, .. walaupun dalam hatinya, dia tidak begitu rela. Benar dia telah mengambil keputusan untuk memberi kesempatan Daze buat memilih, .. namun—begitu melihat keadaan gadis itu seperti ini, hatinya sungguh sakit. Bagaikan teriris-iris dan tersayat-sayat pisau tajam.

Carlson bergerak dengan pelan kearah pintu. Dibukanya pintu tersebut dengan halus, kemudian berjalan keluar. Sebelum menutupnya kembali, untuk terakhir kalinya dia berpaling menatap Daze. Gadis itu terlihat meringkuk di sofa sambil memeluk lututnya. Carlson menghela nafas berat. Perlahan-lahan ditutupnya pintu di depannya sampai bayangan Daze menghilang dari hadapannya.


oooooOOOooooo


Daze memutuskan kembali ke kamarnya setelah waktu hampir menunjukan pukul satu dini hari. Dia bergerak dengan lamban menaiki anak tangga. Bayangannya yang memanjang ke belakang, dengan senantiasa menemaninya malam itu. Sinar redup dari lampu dinding samar-samar mengerak-gerakan bayangan-bayangan dari benda-benda yang ada di sekitarnya. Daze merapatkan mantelnya di depan dada. Udara dirasanya semakin mengigit tulang. Setelah sampai di depan kamarnya, tergesa-gesa dia membuka pintu kemudian segera beranjak ke dalam.

Daze sudah menghempaskan tubuhnya di atas ranjang ketika suara-suara halus memasuki pendengarannya. Mula-mula, tidak dihiraukannya suara-suara tersebut. Dia hanya menganggap sudah terlalu banyak berhalusinasi. Pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan dan kekhawatiran yang memungkinkannya mendengar suara-suara yang sebenarnya tidak ada.

Tapi, .. setelah suara berisik itu menjadi lebih jelas, dan .. sepertinya, alas kaki yang cukup keras barusan didaratkan di balkon belakang, Daze yakin itu bukan khayalannya semata. Segera saja dia bangun dari ranjang.

Ada seseorang memasuki rumah? Pikirnya.

Daze menurunkan kakinya ke lantai, .. setelah membungkus tubuhnya dengan sweater handuk yang teronggok di kursi, dia melangkah keluar kamar. Entah mengapa saat itu dia tidak merasa takut, sedikitpun. Dia merasa yakin, .. ya, yakin seyakin-yakinnya bahwa orang yang masuk lewat balkon belakang itu adalah Rathyan.

Bayangan-bayangan masa lalu—ketika mereka belum terpisah setahun yang lalu, bagaimana Rathyan senantiasa masuk ke rumah melalui tanaman rambat yang memenuhi dinding-dinding Han’s Mansion, termasuk lewat balkon belakang, dikarenakan keberadaan pemuda itu tidak diketahui pemilik rumah kecuali dongsengnya, .. kembali bermain-main dalam pikiran Daze.

Daze sampai di ujung lorong yang terhalangi pintu ketika bayangan seseorang terlihat berkelebat lewat jendela-jendela kaca yang berada di sampingnya. Tangan Daze sudah bermaksud meraih gerendel, tapi kalah cepat oleh orang yang berada di luar. Pintu tersebut terbuka dan sosok jangkung seseorang menatapnya termangu dengan tangan kanan yang masih memegang gerendel pintu.

“Kau … “ Suara bariton yang agak-agak serak itu berkata.

Daze mengatupkan mulutnya yang terbuka. Dengan tampang dibuat seceria mungkin, dia tersenyum. “Hi, Rath ..”

“Kenapa belum tidur?” tegur Rathyan.

Pemuda jangkung itu menutup pintu, untuk kemudian mengibaskan butiran-butiran salju dari rambutnya yang awut-awutan dan mantel hujannya yang terlihat sedikit basah.

“Saya menunggumu .. ,” jawab Daze sambil mengamati gerak-gerik Rathyan, .. seolah sehalus apapun gerakan pemuda itu, akan menimbulkan daya tarik dan hisap yang sukar untuk diungkapkan. Rathyan sungguh menguncang batinnya saat ini.

“Untuk apa menungguku?” tanya Rathyan lebih lanjut. Suaranya terdengar kering dan dingin. Perlahan dilepasnya mantelnya, kemudian dijatuhkannya begitu saja di lantai. Kemeja tebal warna putih berpola garis-garis navy melekat ketat membungkus tubuhnya, terlihat jelas kini. Dua kancing paling atas tidak dikaitkan sehingga menampilkan dada bidangnya yang padat dan berisi. Sedangkan bagian bawahnya, .. sepasang kaki yang teramat panjang dan jenjang berotot itu terbungkus dengan sempurna oleh celana jeans ketat warna hitam pekat.

“Su .. sudah saya bilang .. ,” balas Daze gugup. Melihat penampilan Rathyan, hatinya berdegup lebih kencang. Dengan kikuk, sehingga sesekali membentur dinding di sampingnya, dia mengejar Rathyan yang sudah melangkah lebar-lebar mendahuluinya. “ .. sa .. saya .., ada .. yang ingin saya bicarakan .. ,” ucap Daze tersengal-sengal.

“Apa?” tanya Rathyan tanpa berpaling. Tangannya berulangkali mengibas-ngibaskan rambutnya yang bergelombang dan sudah sangat berantakan.

“Bisa memandangku sebentar?” pinta Daze.

Rathyan menghentikan langkahnya. Saat itu, dia berada tepat di samping kamar Daze.

Rathyan menoleh menghadap gadis yang tertinggal agak jauh di belakangnya itu. “What?”

Daze sampai di hadapan Rathyan dengan nafas terengah-engah. Setelah mengatur nafas selama beberapa detik dengan cara mengelus-ngelus dadanya, akhirnya Daze menegakan badannya. Sekarang, kedua orang itu sudah berdiri saling berhadapan. Daze tidak langsung menjawab pertanyaan tadi. Ditatapnya Rathyan lekat-lekat. Kesenyapan serasa menyelimuti mereka. Sampai .. Rathyan membuyarkan kebisuan tersebut dengan deheman pelan.

“Ehmm—“

“Eh—“ Daze tersentak. Seakan disadarkan dari mimpi yang sangat panjang, matanya melebar ketika menatap Rathyan.

“Ada masalah apa?” tanya pemuda itu datar.

Daze melirik pintu kamarnya. “Bagaimana kalau bicaranya di dalam saja?”

Rathyan ikut melirik pintu di sebelahnya. “Kenapa?” tanyanya dengan nada tak tertarik.

“Karna masalah ini sangat penting!” sahut Daze tanpa ingin dibantah kembali. Sebelum Rathyan mengungkapkan keberatannya, dia sudah meraih gagang pintu dan membukanya. “Saya tidak ingin pembicaraan kita nanti terdengar orang .. ,” sambung Daze sambil melangkah ke dalam.

Rathyan menatap punggung Daze yang semakin mengecil. Pandangannya tidak berkedip ketika menjelajahi ruangan di dalamnya. Tidak ada yang berubah .., ujarnya dalam hati. Kemudian, perlahan dan agak ragu .. Rathyan menyusul Daze masuk ke dalam kamar.


oooooOOOooooo


Dua sosok itu terdiam dalam kebisuan yang berkepanjangan. Duapuluh menit berlalu sudah, dan tampaknya tidak seorangpun di antara mereka yang berinisiatif mengeluarkan suara lebih dahulu, .. sekalipun bagi Daze yang memintanya untuk pertama kali.

Rathyan berdiri menghadap jendela. Serpihan-serpihan salju tampak masih dijatuhkan ke bumi. Bahkan lebih lebat dari dia pulang tadi. Angin mendesir, .. berdengung-dengung menerbangkan serpihan-serpihan putih tersebut kearah utara. Gurat-gurat kuning dari lampu-lampu jalanan dan taman menyebar lembut dan remang, seolah berusaha memberi penerangan yang cukup walaupun tidak memadai ke daerah di sekitarnya. Sinar dari lampu-lampu tersebut terlalu redup untuk mencapai area seluas itu. Atap-atap rumah, begitu juga pohon-pohon berdahan lebar, terlihat terselimut salju semua. Putih, dan putih .. di mana-mana.

Daze menghela nafasnya. Diperhatikannya dengan seksama punggung lebar di hadapannya. Kebisuan yang mencekam dari tadi sudah seperti mencekik lehernya saja. Karna tidak tahan, akhirnya dia berujar pelan.

“Rath … “

Punggung pemuda itu bergerak, .. namun tidak berbalik. “Hmm—“ sahutnya pendek.

Kemudian sunyi kembali. Entah kenapa, .. keberanian yang sudah dimantapkan Daze sejak sore itu seakan hilang seketika. Ternyata, untuk menghadapi Rathyan memang tidak semudah membalik telapak tangan.

“Ada apa?” Rathyan berbalik sehingga tatapannya bertemu langsung dengan pandangan Daze. “Katakan sekarang!”

“Kau .. kau masih marah?” tanya Daze akhirnya, dengan sangat ragu-ragu.

Rathyan meringgis. “Apa kau perduli?”

Daze memejamkan mata. Hatinya miris seketika. Pertanyaan itu begitu menyayat. Apa kau perduli? Daze tertawa darah dalam hati. Tentu saja aku perduli!

“Ya. Aku sangat perduli!” jawab Daze ketika membuka mata.

Rathyan membuka mulut. Namun tidak ada kata yang terucap. Perlahan-lahan dikatupkannya kembali mulutnya, sampai rahang itu terlihat keras dan persegi.

“Aku ingin katakan padamu, bahwa aku sangat perduli!” ulang Daze sengit. “Melihatmu sakit, hatiku lebih sakit lagi. Mengira kau tidak perduli, hatiku bagai teriris-iris. Dan jika mengetahui kalau hubungan ini hanya kebohongan semata dan akan berakhir, mungkin .. mungkin aku .. aku akan mati sekarang juga … “ Sampai sudah, Dazya .. Kau berhasil mengungkapkannya … Daze mengangkat tangan, kemudian menghapus bulir-bulir air yang mulai menuruni pipinya. “Aku .. ingin kau tahu .. bahwa … ini benar … Aku .. aku tidak mungkin hidup tanpamu …”

“Daze Han … “ Rathyan mengangga. Tubuhnya jadi kaku seketika. Mungkin .. ya, mungkin … ini merupakan hal paling menguncang yang pernah didengarnya. Daze perduli? Daze benar-benar perduli .. ? Benarkah?

“A .. aku tidak sanggup kehilangan .. “ Daze terisak halus. “Aku sungguh-sungguh tidak sanggup. Waktu setahun itu, cukup sudah … Aku tidak ingin mengulanginya lagi … “ Kemudian dia menutup mata dengan sepasang tangannya, dan mengeleng pelan. “A .. aku tahu … aku terlalu egois, .. terlalu banyak menuntut dan tidak pernah mau perduli … , seharusnya aku tahu kalau itu bagian dari kekuranganmu. Dan .. mungkin aku akan kehilanganmu jika begini terus … karna itu aku tidak mau, ‘Aku tidak mau begini!’ … “

“Daze .. “ Tanpa sadar Rathyan beranjak dari jendela. Dia sampai di hadapan Daze hanya dalam beberapa detik, .. dan dengan kesadaran yang minimal, dia meraih tubuh mungil yang sedang menangis itu ke dalam pelukannya.

“Aku ingin menunjukan jalan keluar yang kau minta itu, Rath-a .. “ Daze menyusupkan kepalanya di dada bidang Rathyan. Isak tangisnya semakin menjadi-jadi ketika dirasa tangan lebar dan kokoh milik pemuda itu mengelus-ngelus rambutnya. “Aku ingin mengetahui kelanjutan dari hubungan ini .. Bukan hanya dari kebersamaan sehari-hari, tapi lebih ke depannya lagi .. Aku ingin senantiasa menemanimu baik senang maupun duka .. Aku ingin melihatmu tersenyum setiap hari .. Aku ingin … ingin segalanya yang ada di kamu .. “

Daze merasakan pelukan di tubuhnya mengendur. Rathyan menekannya dengan pelan sampai posisi mereka agak renggang. Kemudian tatapan mereka bertemu, sangat lekat. Rathyan mengangkat tangannya, lalu dengan halus disentuhnya wajah Daze.

Sepasang mata bundar milik gadis itu terpejam perlahan. “Aku ingin kau percaya, Rath-a .. ,” desahnya pelan. “Bahwa aku .. “ Namun perkataan itu segera tertahan di tenggorokan ketika sesuatu yang kenyal dan lembab menempel di bibirnya.

Daze mendesah. Dia tahu apa maksud ini. Rathyan sedang menciumnya. Dan seperti biasa, .. bibir pemuda itu mulai melumat bibirnya dengan bergairah. Lidah yang kasar dan basah itu memasuki rongga mulutnya. Memelintir dengan gerakan seperti ular. Daze mendesah semakin keras. Apalagi ketika rangkulan Rathyan yang tadi sempat mengendur, menguat kembali. Lengan yang kekar itu melingkari pinggangnya. Sedangkan lengan yang satunya lagi menekan bagian belakang lehernya, .. menjaga posisi mereka semakin intim.

Daze ikut mengalungkan lengannya di leher Rathyan. Lumatan-lumatan bergelora juga mulai dilancarkannya. Dia membalas gerakan-gerakan memelintir dari Rathyan. Dia agak berjinjit sehingga posisi mereka lebih memungkinkan buat melakukan gerakan-gerakan liar yang lebih berani.

Daze mengerang kecil ketika Rathyan menyedot bibirnya, .. juga ketika tangan yang melingkari pinggang itu naik ke atas dan mengapai punggung sampai di depan dadanya. Remasan pelan yang semakin cepat membuat tubuhnya menegang hebat. Gigitan-gigitan di telinga dan leher juga dirasakannya.

“Akh … Rath .. “

“Hmm—“

Daze tahu mereka akan keluar batas ketika Rathyan menjatuhkan tubuh mereka di atas ranjang. Rathyan menimpanya dengan gerakan-gerakan yang makin liar bermain di sekujur tubuhnya. Pakaian-pakaian sudah berserakan di mana-mana. Rathyan menghempaskan penutup tubuh terakhir mereka ke lantai, kemudian menjelajahi tubuh Daze dengan lidah, bibir dan tangannya.

“Rath … ah .. “ Daze ingin tanya apakah Rathyan sudah siap melakukan semua pada dirinya, .. namun sepertinya tidak perlu ditanyakan lagi, Rathyan sudah positif.

Dirasakannya lidah kasar itu bergerak ke bawah, menyelusuri leher jenjangnya, .. bermain-bermain sebentar dengan bukit dadanya, … kemudian mencium gemas perutnya yang rata, dan …. Dan sampai di bagian paling sensitif.

“Ahh … “ Daze tersentak bangun. Sensasi luar biasa dirasakannya. Dia merasa ada sesuatu yang akan keluar, .. ditahannya sesaat …, namun tidak bisa lagi ketika Rathyan dengan ahli memutar-mutar lidahnya di bagian itu.

“Rath!!” Tanpa sadar Daze menjambak rambut Rathyan yang bergerak liar di selangkangannya.

Rathyan membiarkan itu. Dirasakannya sesuatu yang berdenyut-denyut di mulutnya, dan cairan yang agak lengket dan kental mengalir keluar dari situ. Rathyan menarik diri, lalu menghapus wajahnya yang basah dengan selimut yang ditimpa tubuh mereka. Setelah itu dia bergerak ke atas sehingga tatapannya bertemu pandangan redup Daze.

Daze tersenyum. “Thanks … “

Rathyan tidak menyahut. Wajahnya menunduk, dan sebentar saja ciuman-ciuman dasyat kembali terjadi di antara mereka. Rathyan mengesek-gesekan tubuhnya di tubuh Daze. Desahan-desahan dan erangan-erangan mewarnai kamar itu. Tubuh Daze menegang ketika merasakan sesuatu yang keras dan panjang mengesek-gesek bagian kewanitaannya. Dia menatap Rathyan dengan penuh hasrat.

“Kau .. ,” ucapnya terengah-engah. “ … ti … tidak akan .. kabur .. lagi, kan?”

Rathyan tak menjawab. Sebagai balasan, serangan-serangan ganas kembali dilancarkannya. Buah dada Daze habis oleh jilatan-jilatan dan gigitan-gigitannya. Bagian yang panjang dan keras miliknya juga bergerak semakin jauh di selangkangan gadis itu. Terasa menusuk dengan tajam dan menimbulkan rasa nyeri dan ngilu yang teramat sangat.

Daze mengigit bibirnya. “Rath .. “

“Sakit?” tanya Rathyan dengan sinar mata redup.

Daze mengeleng pelan. “Tidak. Selama denganmu—tidak apa-apa .. “

Rathyan menghembuskan nafasnya, .. kemudian gerakan-gerakannya semakin cepat. Benda tajam itu menusuk-nusuk kewanitaan Daze. Terasa sesak begitu bagian itu sudah masuk setengahnya.

Daze menjerit. “Akh!!” Tangannya merangkul tubuh Rathyan erat-erat.

Dia tahu, kegadisannya sudah di ujung tanduk begitu ‘barang milik Rathyan’ menyentuh selaput tipis itu. .. Dan hal tidak terkira tiba-tiba terjadi, .. Rathyan menghentikan gerakannya dan menatap Daze tidak percaya.

“Kau .. “

“Ne?” tanya Daze dengan mata setengah terpejam.

“Kau dan Carlson .. tidak pernah .. “ Pertanyaan Rathyan terpengal di tengah jalan.

“Maksudmu .. ?” tanya Daze dengan suara bergetar. Dia sama sekali tidak menangkap arah pertanyaan Rathyan. Perlahan diraihnya tangan pemuda itu dan menempelkan di dadanya. Namun tidak disangka, segera ditarik Rathyan kembali.

“Kau .. masih perawan .. ?”

Sampai di sini, Daze sadar sudah. Dia sudah menangkap seutuhnya maksud dari pertanyaan Rathyan. Wajah Daze berubah merah padam. Bibir bawahnya digigit keras-keras. Tangannya terkepal perlahan. Sekali dorong tubuhnya sudah turun dari ranjang. Daze meraih sweater handuknya, kemudian membungkus tubuh ala kadarnya. Tidak diperdulikannya lagi bra dan celana dalam yang tidak membalut tubuhnya. Juga tidak digubrisnya panggilan Rathyan.

“Daze … “

Daze bergegas-gegas lari ke pintu dengan wajah bersimbah airmata. Hatinya hancur, .. sungguh hancur, .. bagaimana mungkin pria yang akan diserahkan keperawanannya, menyangka dia sudah pernah tidur dengan pria lain? Daze membuka pintu kemudian menghambur keluar. Setipis itukah kepercayaanmu? Ingin sekali, dia meneriakan pertanyaan ini.

“Daze Han!! Tunggu!!”

Rathyan menarik celana jeansnya sampai ke pinggang. Dengan hanya menarik resleting tanpa mengancingnya, dia menyambar kemeja dari ranjang dan memakai seperlunya saja kemudian mengejar keluar.

“Daze!!”

Rathyan melihat Daze sedang menuruni anak tangga. Dengan tergesa-gesa dia mengejarnya.

“Tunggu sebentar!!!” Rathyan sampai di ujung anak tangga teratas. “Daze Han!!” Langkahnya tercekat begitu melihat Daze berhenti di anak tangga paling tengah. Dave tampak berdiri di depannya.

“Noona?”

Rathyan mendengar Dave memanggil dengan nada heran. Kemudian pandangan dari sahabatnya itu tertuju padanya.

“Rath?” tanya Dave lebih heran lagi. “A .. ada apa .. ?” sambungnya sambil melirik Rathyan dan Daze silih berganti. “Apa yang terjadi dengan kalian?” Pandangannya beralih pada penampilan Rathyan dan Daze yang berantakan. Alisnya berkerut perlahan.

“Saya tidak ingin bertemu dengannya lagi .. ,” sahut Daze dengan isak tertahan.

“Daze .. “ Terburu-buru Rathyan menuruni anak tangga sampai tiba di samping Daze. “Dengarkan saya!” katanya seraya meraih tangan Daze.

“Lepaskan saya!” Daze mengibaskannya begitu saja. Pandangannya tajam ketika membalas tatapan Rathyan. “Tidak ada yang perlu kau jelaskan. Saya tidak mau dengar!!!”

“Daze .. “ Rathyan kembali meraih tangannya.

Namun, .. “Lepas!!” jerit Daze sengit.

“Bisakah kau mendengarku sebentar .. ,” ucap Rathyan lemah.

“Tidak!!” sahut Daze keras.

“Tadi itu .. bukan maksudku begitu .. ,” sesal Rathyan. “Aku hanya .. sangat terkejut dan .. tidak tahu harus bereaksi apa … “

“Iya loh .. “ Tiba-tiba Dave menimpali perdebatan tersebut. “Sebaiknya noona dengarkan dulu penjelasan Rath .. “

“Kau tidak tahu apa-apa!!” umpat Daze seraya berbalik menghadap dongsengnya.

Dave mengangkat tangan menyerah. “Right. Benar saya tidak tahu apa-apa. Dan saya tidak akan memberikan komentar .. ,” lalu dia melewati Daze. Tangannya yang memegang botol susu mengocok-ngocok berulangkali. “Hanya saja .. ,” lanjutnya sambil lalu. “Jika kalian bertengkar sengit begitu, seisi rumah pasti bangun oleh suara kalian. .. Jika tidak ingin hal itu terjadi, sebaiknya masuk ke kamar saja .. “

Daze mendelik. Tapi sergapan pelan di lengan membuatnya menoleh.

“Benar kata Dave ..,” Rathyan sudah berdiri begitu dekat darinya. “Sebaiknya kita bicarakan di dalam kamar saja .. ,” bujuknya sambil menyentuh lengan Daze.

“Tidak mau!” tolak Daze ketus.

“Daze .. “ Rathyan menatapnya lelah. Mata elang itu berubah seakan tidak bernyawa. Helaan pelan terhembus dari bibirnya. “Miane .. ,” ujarnya lemah, seraya menurunkan pandangannya ke anak tangga.

Daze membalas tatapan itu. Agak terkejut mendengar permintaan maaf terlontar dari mulut Rathyan. Dan entah mengapa, kemurkaannya berangsur-angsur reda melihat sorot mata itu.

“Kita kembali ke kamar ya .. ?” Rathyan mengangkat wajah, dan berkata dengan penuh harap. “Bicarakan baik-baik .. ?”

Daze tidak merespon. Dia tidak mampu mengatakan apa-apa. Begitu juga ketika Rathyan meraih tangannya dan mengajaknya ke kamar, .. dia tidak mampu menolak. Perlahan kakinya mulai digerakan, .. mengikuti langkah pemuda itu menaiki tangga.


oooooOOOooooo


Rathyan mendudukan Daze di bibir ranjang, sedangkan dia sendiri--berjongkok di depan gadis itu, sambil meletakan dan menekan kedua tangannya di atas pangkuan Daze. Pandangan mereka saling beradu dalam diam.

“Dazya .. ,” mulai Rathyan pelan. “Miane … “ Untuk kedua kalinya dia menyatakan permintaan maaf itu.

“Kau .. tidak percaya padaku?” tuduh Daze dengan penyesalan sedalam-dalamnya. Sedetik kemudian, bulir-bulir air mulai menuruni pipinya.

“Miane … ,” sesal Rathyan untuk yang kesekian kalinya. “Aku tahu tidak cukup kata maaf itu, tapi .. bukan maksudku …. Percayalah. Walaupun .. Yah—“ Dia mendesah. “Tidak seharusnya aku membela diri—miane … Aku khilaf .. “

“Kau mengira aku wanita murahan?” Isak Daze tertahan.

“Anhiyo!!” Rathyan segera mengelengkan kepalanya. “Aku tidak pernah menganggapmu begitu!”

“Jadi?” Daze menghapus airmatanya.

“Aku hanya .. “ Rathyan menekan-nekan jidatnya. Terlihat jelas dia sangat tertekan. “Aku tidak ingin berharap lebih .. ,” akhirnya dia mengaku. “Sungguh—aku tidak pernah mengira .. Anhi! Yang benar, aku tidak pernah sanggup memikirkan bagaimana hubungan kalian .. Aku tidak sanggup .. “

“Lalu .. ?” tuntut Daze. Ditatapnya Rathyan tajam-tajam. Sebenarnya, dia tidak tega memburu pemuda ini dengan pertanyaan tersebut tapi, dia ingin mengetahui jawabannya. Jika tidak, dia yakin akan kepikiran terus.

“Karna itu saya .. saya menganggap hubungan kalian selama ini, lebih dari itu .. ,” Rathyan menunduk menatap jemari Daze. Kemudian dielus-elus dan diremas-remasnya kesepuluh jari itu. “Namun, saya tidak perduli.” Kemudian wajahnya diangkat kembali. “Sungguh—saya tidak pernah perduli karena menganggap hubungan kalian sudah berlalu. Sampai … sampai orang itu muncul kembali dalam kehidupan kita setahun yang lalu .. “ Rathyan tiba-tiba memutuskan perkataannya. Terlihat jelas rahangnya mengeras menahan gejolak perasaannya saat itu. “Saya sangat marah .. ,” geramnya dengan rahang terkatup rapat. “Dan .. saya mengira kau .. tahu perasaanku tapi, … ternyata tidak. Kau .. kau malah memilih .. ,” kata-katanya digantung begitu saja. Rathyan mengigit bibirnya.

“Ya?” tanya Daze lebih lanjut.

Rathyan mendesah. “Saya tidak pernah berkata sebanyak ini ya?” Dia menyengir kecut.

“Saya ingin dengar!” sela Daze cepat. “Jangan dihentikan. Kau sendiri yang bilang, kita harus membicarakannya baik-baik .. “

Rathyan mengangguk. “Ne.”

“Jadi—Apa yang kupilih?” tanya Daze selanjutnya.

“Saya SANGAT SANGAT membutuhkanmu saat itu .. ,” ujar Rathyan, dengan lebih menekankan pada kedua kata ‘sangat’ itu. “Dan saya SANGAT SANGAT berharap kau mau tinggal, menemaniku, .. tapi tidak—kau memilih kembali padanya setelah mendengar berita menghebohkan itu. Kau memilih bertengkar denganku sehingga kutahu—dia sangat berarti bagimu … “

Daze tertegun. Jadi kejadian itu masih menghantui pikiran Rathyan sampai sekarang? Dengan cepat dia mengeleng. “Bukan begitu!” tukasnya sengit. “Kau yang paling berarti bagiku .. “

Rathyan tersenyum pahit. “Benar?”

“Iya!” Daze membalas genggamannya. “Saya ingin meneriakannya padamu saat itu. Tapi tidak jadi. Emosi dan keegoisan sudah menguasai pikiranku. Aku sakit hati karena tuduhanmu. Aku marah karna menganggap kau tidak pernah mau mencoba memikirkan posisiku .. “

“Saya tidak!” sela Rathyan cepat. “Saya sudah mencobanya, tapi .. “

“Saya tahu .. “ Daze tersenyum menenangkan. “Karna begitulah dirimu.”

Rathyan mengangguk penuh sesal. “Saya tidak pandai dalam berkata-kata, Dazya .. “ Ditatapnya Daze lekat-lekat. “Terkadang, .. saya bahkan menganggap diri ini memuakan ..,” ucapnya dengan tampang jijik. “Saya terlalu sulit dipahami, bahkan oleh diriku sendiri .. “ Rathyan mengangkat tangannya, kemudian menutupi wajah sambil menghela nafas berat.

“Rath .. “ Daze menyentuh tangan Rathyan.

“Tapi .. “ Rathyan menurunkan tangannya dengan cepat. “Saya ingin kau memberikan kesempatan itu .. ,” ujarnya sambil menatap Daze. “Saya akan berusaha berubah .. Walaupun sekarang, saya tidak bisa menjanjikan apa-apa, tapi … saya berharap kau mau percaya dan menungguku .. Will you, Dazya?”

Daze membalas tatapan redup itu. Lalu perlahan-lahan kepalanya mengangguk. “Yes, I will. Sampai kapanpun .. “

Rathyan tersenyum. “Thank you .. ,” ucapnya tulus. Kemudian tubuhnya ditegakan. Dipeluknya Daze erat-erat. “Gumawo .. “

Daze membalas pelukan itu. Saya tidak akan melepaskanmu lagi .. Tidak akan .. , janjinya dalam hati.

“Dan apa kau tahu .. ,” ujar Daze halus. “Saya menyusulmu kemari dua bulan kemudian. Tapi ternyata, kau sudah pergi, entah kemana … “

Rathyan melonggarkan pelukannya. “Jinja?” tanyanya tak percaya.

Daze mengangguk. “Ne … “ Dia tersenyum kecut. “Seharusnya saya katakan waktu itu, sebelum meninggalkanmu, bahwa saya pergi hanya sementara dan akan segera kembali … Tapi saya terlalu marah, .. dan semuanya jadi salah karna luapan emosi sesaat itu .. “

“Dave tidak memberitahumu kalau saya sudah pergi?” tanya Rathyan sambil mengerutkan alisnya.

Daze mengeleng. “Tidak. Saya tidak menghubungi siapapun ketika berada di Seoul, termasuk Dave. Saya bermaksud konsentrasi penuh buat menguatkan Carls saat itu, .. dan itu semua kesalahanku .. “

Rathyan menghembuskan nafasnya ke udara. “Kita sama-sama bodoh, .. sama-sama keras kepala. Coba jika semuanya dibicarakan secara baik-baik, pasti semua tidak bakal terjadi … “ Kemudian dia bangkit dan duduk di sebelah Daze. “Hubungan kita terlalu dangkal, .. tidak terpondasi dengan baik. Tidak ada kematangan, .. yang ada hanya kecemburuan-kecemburuan dan kecurigaan-kecurigaan yang membuta .. “

“Tapi semua sudah berlalu .. “ Daze menatap Rathyan penuh harap. “Benar kan? Mulai saat ini, kita akan lebih memahami? Semua akan kita bicarakan baik-baik sebelum kesalahpahaman muncul?”

Rathyan tersenyum, .. kemudian dia mengangguk menyakinkan. “Sure. I promise .. “

“Rath .. “ Daze menghambur ke dalam pelukan Rathyan. Dipeluknya tubuh jangkung yang terbalut kemeja tak berkancing itu erat-erat, .. sehingga dirasa jelas degup jantung menenangkan dari pemuda itu. Mata Daze terpejam. Dia merasa aman, .. sangat tentram sekarang. Jika Tuhan bermaksud merenggut nyawanya sekalipun saat ini, .. mungkin juga dia tidak akan membantah. “Tidak apa kau tidak mampu mengucapkan kata ‘suka dan cinta’ itu .. Tidak apa-apa .. ,” ujarnya lirih. “Saya tidak memerlukannya lagi. Karna saya tahu, .. kau mencintaiku lebih dari kata-kata .. “

Rathyan mengangkat wajah Daze dengan tangannya. Tatapan mereka saling beradu, .. kemudian, secara perlahan-lahan kepala Rathyan menunduk, .. sampai bibirnya menempel ketat di bibir Daze. Daze memejamkan matanya lambat-lambat. Perasaannya mulai melayang saat itu.

Kecupan-kecupan berubah jadi lumatan-lumatan panas. Rathyan menjulurkan lidahnya sampai bertemu dengan lidah Daze, .. saling bertaut dalam decakan-decakan yang mendirikan bulu roma. Tangan kekar pemuda itu pun mulai bergerak. Dilepasnya mantel pembungkus tubuh Daze sampai melorot ke lantai. Tubuh mungil nan halus tanpa cacat itu langsung terpampang di depan matanya. Daze polos karna memang belum sempat memakai pakaian dalamnya.

Dengan pelan-pelan Rathyan membaringkan tubuh mengiurkan itu di atas ranjang. Kemudian dia bangun dan membuka pembungkus tubuhnya. Daze memperhatikan itu dengan mata setengah terpejam. Apakah dia siap sekarang? Tidak bakal ada penyesalankah? Tanpa sadar dia tersenyum. Tidak akan! Dia sudah yakin akan menyerahkan diri seutuhnya pada pemuda ini. Dan dia tidak akan menyesal, .. apapun yang terjadi kelak.

Rathyan menjatuhkan celananya di lantai, sehingga terlihat jelas ‘barang miliknya’ yang sudah mengacung tegak dan keras, .. begitu juga kemeja yang tersisa, dicampakannya begitu saja di lantai. Kemudian dia merangkak ke atas ranjang, sampai berada tepat di atas Daze.

“Kau yakin?” tanya gadis itu serak.

“Kenapa?” Rathyan balas bertanya. “Kau tidak yakin?”

Daze mengeleng. “Tidak.” Kemudian dia mengigit bibirnya. Semburat merah menghiasi wajahnya yang memang sudah berwarna kemerah-merahan. Membuatnya semakin menarik dan mengemaskan. “Hanya saja, .. waktu itu kau yang bilang. Kau tidak ingin menyamakanku dengan .. wanita-wanita yang pernah bersetubuh denganmu .. “

“Kau lain!” tukas Rathyan cepat. “Kau tetap lain dengan wanita-wanita itu. Jangan menyamakan dirimu dengan mereka .. “

“Jadi?”

Rathyan menurunkan wajahnya sampai bibirnya menyentuh leher Daze. Dijilatinya leher jenjang itu sampai Daze mengerang-ngerang geli.

“Aku yakin karna .. keyakinanku sudah mantap .. “ Hanya itu yang dikeluarkan Rathyan. Selanjutnya, serangan-serangan bertubi-tubi dilancarkannya.

Bibirnya menyentuh dengan meninggalkan bercak-bercak merah di sekujur tubuh Daze. Gadis itu terpekik ketika Rathyan melancarkan gencarannya di area tersensitifnya. Pahanya mengatup dan menjepit kepala Rathyan ketika kepuasan tidak terhingga tidak mampu ditahannya lagi. Dia orgasme dengan tubuh terlentang kelelahan di atas ranjang.

Rathyan mengapai kepalanya, kemudian menatapnya dalam-dalam. “Puas?”

Daze mengangguk. Dia tersenyum, kemudian tangannya meraih tenguk Rathyan. “Tapi saya ingin yang lebih puas lagi .. ,” ujarnya dengan tampang mengoda. Tanpa sadar, dia mengigit bibir bawahnya, menantang ..

Bukan pria sejati namanya, jika Rathyan tidak mampu menangkap maksudnya. Dengan gemas pemuda itu melumat bibir Daze sampai habis. Bibir mungil tersebut seutuhnya tenggelam dalam bibir Rathyan. Daze meremas rambut Rathyan, kemudian memberikan sensasi lebih padanya dengan menurunkan sebelah tangannya ke paha pemuda itu. Secara cepat diraihnya ‘senjata pamungkas itu’ dan mengocok-ngocoknya dari atas ke bawah. Rathyan mengerang. Matanya merem melek keenakan.

“Begini?” tanya Daze ragu-ragu. “Kau suka kah?”

Rathyan mengangguk. “Kau sudah pandai .. ,” pujinya dengan nada sumbang yang mengiurkan.

Daze tersenyum dengan pipi merona merah. Perlahan tangannya yang meremas rambut Rathyan diturunkannya ke bawah sampai di punggung Rathyan. Dielus-elusnya punggung panjang nan kokoh itu. “Aku ingin lebih .. ,” desisnya di sela-sela telinga Rathyan.

Pemuda itu mengangguk. Setelah melakukan pemanasan-pemanasan sekedarnya, .. pusaka pamungkas itu siap dihujamkan ke tubuh Daze.

….

….

….. (edit, capek ah .. )

Dua tubuh tergeletak kelelahan di atas ranjang. Bulir-bulir keringat sebesar jagung mengalir deras dari tubuh mereka. Desah nafas yang memburu, tersengal-sengal membuat ruangan yang dingin itu menjadi panas. Mereka sangat capek, .. namun semua tidak membuat senyum sumringah terlepas dari bibir mereka. Daze memeluk Rathyan erat-erat. Kepalanya menyandar di dada bidang tersebut dengan mata terpejam.

Rathyan mengecup puncak kepala Daze. Kemudian diliriknya seprai yang sudah sangat berantakan dan bercak-bercak darah yang tertinggal di atasnya. Dia menghela nafas. Jika ditanya adakah penyesalan dalam hatinya? Dia akan menjawab, ada—sedikit .. Walaupun dia akan bertanggung-jawab, bahkan sampai mati sekalipun .. dia tetap merasa menyesal telah merenggut kegadisan wanita yang sangat dicintainya ini.

Kembali dikecupnya puncak kepala Daze. “Tidurlah yang nyenyak .. Semua akan berlalu esok harinya … “

Daze mempererat rangkulannya. Dengan sepasang mata masih terpejam rapat, dia membuka suara sedikit ragu-ragu.

"Rath ... "

"Hmm?"

"Boleh kutanyakan sesuatu?"

Rathyan mengendus kepalanya. "Tentu saja .. "

"Tentang ... " Daze menelan ludah perlahan. "Korean Capital ... "

Rathyan melebarkan matanya, kemudian menundukan pandangan kearah Daze. Dia tidak mengeluarkan suara. Dengan sekuat tenaga, ditahannya emosinya yang mengobar begitu mendengar kata Korean Capital.

"Kau yang melakukannya kan?" tanya Daze akhirnya. "Kau menolong Korean Capital sehingga terhindar dari kebangkrutan?"

Rathyan mengalihkan pandangan kearah lain. "Apa penting untuk kau ketahui?" tanyanya dingin.

Daze menatapnya, .. kemudian dia tersenyum. Perlahan gadis itu mengelengkan kepalanya. "Tidak. Lupakan saja .. " Kemudian kepalanya kembali disandarkan di dada bidang Rathyan yang tak tertutup selembar kainpun. "Karna saya sudah mengetahui jawabannya ... ," ujarnya lirih, .. dan hampir, hampir, tidak terdengar Rathyan.

Rathyan menjatuhkan pandangannya pada Daze. Sebentar kemudian, tatapannya diangkat .. menerawang ke langit-langit kamar yang kelam dan dingin.


***** oOo *****


_________________


♥️ "Everywhere ★ we learn ★ only from ★ those whom ★ we love" ♥️
avatar
DragonFlower

Posts : 94
Join date : 2013-06-17
Location : | Trapped in CNBLUE Dorm |

View user profile

Back to top Go down

Re: from Seoul to ... Perth-- by Lovelyn

Post by mrs.cho on Tue Jul 09, 2013 8:18 pm

sweeeeeet kakaaaaa... lanjutin pleaseeeee.. oiaaa maaph lahir batin kakaaaaaaa (;

mrs.cho

Posts : 9
Join date : 2013-06-18

View user profile

Back to top Go down

Re: from Seoul to ... Perth-- by Lovelyn

Post by Sponsored content


Sponsored content


Back to top Go down

Back to top


 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum