My Everything Season 1 by Lovelyn

Go down

My Everything Season 1 by Lovelyn

Post by Vayza on Mon Jun 24, 2013 12:13 pm

My Everything Season 1


by Lovelyn




CHAPTER 1

Hampir semua masyarakat Korea mengenal nama itu. Goo Jun pyo, CEO muda dari Shin Hwa Group, perusahaan terbesar Korea yang bergerak di bidang perbankan (Bank Of Shin Hwa), penerbangan (Shin Hwa Airlines), perhotelan (Shin Hwa Hotel) dan mendominasi beberapa bidang penting lainnya. Muda, kaya dan pintar dalam menangani segala sesuatu dari Shin Hwa Group. Sangat menarik dan selalu dielu-elukan hampir semua wanita Korea, bahkan di luar Korea sekalipun.

Tapi semua itu tidak menarik bagi Geum Jan Di, yang menghabiskan hampir seumur hidupnya di Roma, Italia. Dia hanya pernah mendengar nama itu dan mengetahui kebesaran namanya ketika pulang liburan sekolah setahun sekali di rumah kakeknya yang ada di Korea. Dan dia juga tidak pernah peduli dengan semua itu, karena hidupnya tidak akan pernah dikaitkan dengan orang itu.

Kemudian peristiwa itu terjadi pada saat kepulangan terakhirnya ke Korea. Jandi tidak sengaja mendengar pembicaraan antara kakeknya, tuan Geum tua, dengan sekretaris pribadinya, Mr. Jung. 'Geum's Group' mengalami masalah dan perusahaan itu akan diambilalih kepemilikannya oleh Shin Hwa Group dengan perwakilan Bank of Shin Hwa.

Tuan Geum tua sangat sedih. Geum's adalah hasil kerja keras seumur hidupnya. Dan juga merupakan perusahaan tua peninggalan ayahnya. Beliau tidak rela melepaskannya begitu saja. Tapi walaupun semua usaha sudah dilakukan untuk menyelamatkan Geum's Group tetap saja tidak berguna. Nasib Geum's sudah di ujung tanduk.

Satu-satunya cara untuk menolong Geum's adalah lewat uluran tangan Shin Hwa Group. Kalau Bank Of Shin Hwa bersedia mengalirkan dana ke Geum's, semuanya akan beres. Tapi tentu saja jika hal itu dilakukan tanpa syarat. Dan kakeknya itu sadar kalau hal itu tidak mungkin. Dunia bisnis tetap dunia bisnis. Tidak ada yang gratis di dunia ini. Semuanya perlu hubungan timbal balik. Jika kamu mengharapkan pemberian dari seseorang maka kamu juga harus mengorbankan sesuatu untuk itu.











Mendengar ini, Jandi yang sudah mendaftarkan diri buat pemberangkatan besok ke Roma, membatalkan rencana itu. Dengan bantuan Mr. Jung, dia membuat perjanjian tersembunyi dengan Mr. Goo Jun Hyun, pemilik Shin Hwa Group, ayah dari Goo Jun Pyo.

Perjanjian itu dibuat dengan susah payah dan memakan waktu cukup lama. Mr. Jung harus pontang panting kesana kemari dan menelepon berulangkali, barulah Mr. Goo Jun Hyun bersedia bertemu dengan Jandi. Pertemuan mereka berlangsung pada siang hari di cafe' Deffa yang terletak di lantai dasar gedung Shin Hwa.

Jandi yang mempunyai bakat alam dalam menilai watak seseorang tidak segera mengutarakan maksudnya. Acara makan siang mereka berjalan dengan tenang. Setelah menghabiskan hidangan di atas meja, dan Goo Jun Hyun menyeruput kopi hitam pekat dihadapannya dengan tampang puas, Jandi baru mengutarakan maksudnya.

Jandi meminta Mr. Goo Jun Hyun menolong Geum's Group. Mengulurkan dana ke Geum's, tanpa merubah nama tua perusahaan itu, dengan syarat apapun akan dilaksanakan olehnya. Geum's adalah semangat hidup kakeknya, jadi Jandi ingin sekali melihat haraboji tetap melihat Geum's tetap berdiri sampai akhir hayatnya.

Goo Jun Hyun berpikir untuk waktu yang cukup lama sebelum mengajukan sebuah tawaran yang sangat mengejutkan Jandi.



*************





"Apaaaaa ...... ??"

"Pikirkan itu, Jandi-shi!!! ... saya yakin nona Geum adalah gadis yang cerdas .. tidak ada yang gratis di dunia ini ... lagipula tawaran ini tidak akan merugikan agashi .... "

"Tapi ... mengapa saya? ... maksudku ... mengapa memilih saya? ... Banyak putri konglomerat yang mempunyai wajah, nama dan kedudukan melebihi yang saya miliki ....  Saya hanyalah cucu dari orang yang sudah dikalahkan oleh tuan, jadi .. mengapa harus saya?", tanya Jandi keheranan.

Dia sangat terguncang dengan tawaran yang diajukan pria setengah baya dihadapannya. Bagaimana mungkin pemilik utama dari Shin Hwa Group sendiri memintanya untuk dijadikan menantu? Jandi mencubit keras lengan kirinya. Dia langsung meringis. Tidak!! Dia tidak bermimpi. Lengannya terasa sakit dan bekas cubitan itu memerah di sana.

"Jangan mencubit lenganmu lagi!! Kamu tidak bermimpi, ini kenyataan ... ", Goo Jun Hyun menjatuhkan perhatian ke lengan Jandi. Gadis itu langsung tersipu malu begitu kelakuannya tadi tertangkap basah oleh pria di depannya.

"Mungkin benar apa yang kamu katakan ... Banyak gadis yang melebihimu ... Tapi saya cukup menyukaimu karena ada sesuatu di kamu yang tidak dimiliki oleh gadis-gadis itu ... Mereka hanya bisa memanfaatkan kekayaan keluarganya, bersenang-senang dan menghamburkan waktu dan uang dengan percuma ..... dan jika semuanya sudah habis, mereka tinggal menelepon keluarganya dan meminta uang lagi, .... saya tidak memerlukan menantu seperti itu, .. dan saya juga yakin Junpyo tidak akan menyukai wanita begituan .... Mungkin dia akan menolak keras rencana pernikahan ini, tapi saya berani menjamin dia tidak mampu melakukannya ... saya mempunyai cara untuk menaklukkannya .... sudah cukup waktu yang kuberikan untuknya buat mencari gadis impiannya, jadi sudah waktunya dia menyerah dan mendengarkan perkataanku .... ", lanjut Jun Hyun.

Jandi menunduk perlahan ...
"Bagaimana ... bagaimana .. jika saya yang menolak?"






Jun Hyun memperhatikan gadis dihadapannya dengan seksama ...
"Saya yakin agashi tidak akan menolaknya .... ", katanya sambil tersenyum licik.



***************





"APAAAAAAAAAAA?? .........Kamu sudah gila ya .... jaman apa sekarang, sampai masih ada perjodohan seperti ini!!!!!", teriakan Junpyo mengetarkan seisi ruangan. Dia langsung berdiri tegak dari kursi yang tadi didudukinya.

Semua pelayan di ruangan itu langsung mundur ke belakang. Mereka sangat takut dengan majikan mudanya ini. Jika sudah marah Junpyo memang terlihat mengerikan. Sepasang matanya yang tajam terbelalak lebar dengan alis yang mengarah ke atas, giginya bergemelatuk hebat, hidung mancungnya kembang kempis sehingga hembusan nafasnya terdengar jelas. Bahkan rambut keritingnya terlihat berdiri semua.






Tapi Jun Hyun tidak terlihat gentar dengan kemarahan putranya ini. Moon Yong Hee, ommanya Junpyo, mengerutkan dahinya.
"Junpyo!! kendalikan emosimu!!! ... biarkan appa berkata lebih lanjut .... "

Junpyo masih tetap berdiri di tempatnya. Dia tidak bermaksud mendengar perkataan appanya itu. Perlahan dia bergerak, bermaksud meninggalkan ruang makan itu tanpa menyentuh sedikitpun hidangan yang tersaji di atas meja.

"JUNPYO!!!! .... senang atau tidak senang, mau atau tidak mau, kamu harus menikah dengan cucu dari tuan Geum!!!! ", teriakan Jun Hyun membuat Junpyo berbalik cepat kearahnya.

"Bagaimana jika saya menolak?", tanya Junpyo dingin. Emosinya sudah tidak dapat dikendalikan dengan baik.

"Saya senang mendengar persamaan dari pertanyaan kalian!! ...... dan saya beritahukan kepadamu Junpyo-ya, .. kamu tidak bisa menolaknya, .. karena kamu sudah berjanji kepada appa bahwa setelah waktu lima tahun kamu belum juga menemukan wanita yang ingin kamu nikahi maka appa dan omma yang akan memilihkannya untukmu, .... Kamu tidak bermaksud ingkar janji kan Junpyo-ya?"

Junpyo mendesis perlahan. Dia ingat sekarang! Janji berengsek yang dibuatnya lima tahun yang lalu. Dan dia sadar appanya pandai membaca pikirannya. Dia paling benci kalau sudah ditantang seperti ini. Ingkar janji tidak pernah ada dalam kamusnya. Selama hidup, apa yang sudah keluar dari mulutnya tidak pernah gagal dilakukannya. Jika saat ini dia melanggar janji itu, maka ini akan merupakan tinta hitam yang bakal menodai semboyan hidup yang sudah dipengangnya sejak kecil.

Jun Hyun tersenyum kecil ke putra tunggalnya itu. Junpyo tidak berusaha menjawab pertanyaan Jun Hyun. Dia tidak mengiyakan juga tidak bisa menolak. Akhinya dia menjalankan niatnya semula, yaitu berlalu dari ruangan itu.



*************





Bar itu masih sepi. Beberapa wanita berpakaian minim memusatkan perhatian ke sudut ruangan. Empat pemuda berpostur tinggi dan tampan dengan penampilan menarik sedang berbincang di situ. Junpyo melempar gelas kosong di tangannya ke atas meja. Terdengar suara 'BRAKKKKK' keras ketika gelas itu mendarat di pinggir meja dari kaca itu.






Song Woo Bin, anggota tertua dari kelompok mereka (F4), menoleh kearahnya. Dahinya berkenyit begitu melihat tampang kesal Junpyo.
"Heiii mannn!! What's wrong with you?"

"JANGAN BERBICARA BAHASA INGGRIS DENGANKU ...!!!!!!", Junpyo langsung menepis tangan Woobin yang mendarat di bahunya.

"Heii .. heiii .. ada apa denganmu?", Woobin semakin mengerutkan wajahnya. Begitu juga dengan Yoon Ji Hoo dan So Yi Jeong, yang duduk di sebelah mereka.

"Ada apa?", tanya Jihoo dengan suaranya yang khas. Lembut dan menenangkan.

Junpyo berpaling kearahnya. Matanya terpejam perlahan. Dia berusaha menahan gejolak perasaannya yang sudah hampir meledak.
"Ada apa lagi selain ide gila dari si tua bangka itu?", jawabnya dingin.

"Appamu? .. hmmm ada ide apa lagi kali ini?", Yijeong mengeluarkan suaranya.

"Dia menyuruhku menikahi cucu dari si tua Geum ... bisa dibayangkan tidak?? cucu dari orang yang kukalahkan .... COBA!!! .. Apa maksudnya ini??", kata Junpyo dengan tampang jijik.

F3 langsung membelalakan matanya begitu mendengar jawaban Junpyo.

"APAAAA???  .... mana mungkin??", tanya Yijeong.

"Dan .. apakah kamu mengabulkannya Junpyo-ya?", Jihoo juga mengutarakan pertanyaannya.

"Apa yang bisa saya lakukan? .. si tua bangka itu mengungkit lagi janji yang pernah saya ucapkan lima tahun yang lalu ... ", jawab Junpyo putusasa. Dihempaskannya tubuh jangkungnya ke sofa di belakang.

"Heii .. tunggu sebentar!!!! .. maksudmu cucu dari Geum Jae Hon, pemilik Geum's Group?", Woobin tiba-tiba mengeluarkan sebuah pertanyaan yang membuat semua berpaling kearahnya.

"Kamu mengenalnya?", tanya Junpyo penuh tanda tanya.

"Tidakk!!", jawab Woobin cepat, "Kalian masih ingat kan dengan sepupu blasteranku si Pierre yang tinggal di Italia?", tanya Woobin.

Ketiga temannya itu menganggukan kepala dalam waktu bersamaan.

"Dia pernah bercerita padaku tentang cewek itu ... katanya dia sangat pandai dan menarik .. tapi Junpyo-ya, tahukah kamu kalau gadis itu baru 18 tahun?", lanjut Woobin lagi.

Ketiga pemuda itu langsung tersentak di tempat. Bagaimana tidak? Umur mereka berempat rata-rata sudah diatas 25 tahun.
"Delapan belas?? ... berarti dia masih sekolah?", tanya Junpyo perlahan.

"Iya, ... kalau tidak salah semester dua jurusan akutansi ...", jawab Woobin. Diamatinya Junpyo dengan pandangan menyelidik. Apa yang akan dilakukan sahabatnya ini sekarang?

"Ohhhh .. TUA BANGKA ITU!!! .... apakah dia sadar apa yang akan terjadi dengan pernikahan di bawah umur??", gigi Junpyo bergemelatuk hebat ketika mengucapkan perkataan ini.

"Junpyo-ya ... dia sudah 18 tahun, jadi bukan di bawah umur .... ", Yijeong membenarkan perkataan Junpyo dengan tersenyum kecil di wajah, "Lagi pula apa salahnya dengan rencana pernikahan yang dibuat oleh keluarga kita ... sejujurnya dua bulan lagi saya juga akan menikah dengan gadis pilihan dari keluargaku .. saya tidak mengenalnya dan saya juga tidak perduli dengan itu ...", lanjut Yijeong tanpa memperlihatkan perasaannya.

Dan berita mendadak ini kembali mengemparkan mereka. Junpyo mengepalkan tinjunya. Wajahnya mengeras.
"Apa sebenarnya yang ada di pikiran orang tua kita? ... menikah tanpa saling mengenal? ... saya tidak bisa membayangkan semua itu .... "

Woobin dan Jihoo menatap kedua sahabatnya dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan. Hal ini sudah terjadi pada Junpyo dan Yijeong. Dan mereka yakin tidak lama lagi mereka juga akan mengikuti jejak teman mereka itu. Beginilah nasibnya jadi penerus dari keluarga tua ternama di Korea, bahkan di seluruh dunia.

Pernikahan adalah milik keluarga, bukan milik mereka sendiri. Mereka tidak punya hak untuk memilih. Junpyo menjatuhkan pandangan ke gelas yang membisu di depannya. Sebenarnya dia mempunyai kesempatan untuk memilih. Lima tahun! Ya, dia punya waktu lima tahun. Tapi sayang selama lima tahun itu dia tidak berhasil mendapatkan seorang wanita yang mampu membuatnya bertekuklutut.



***********


Geum Jae Hon, si Geum tua, kakek Jandi, tidak kalah terkejutnya mendengar rencana pernikahan cucu satu-satunya itu. Jandi dengan bantuan Mr. Jung berhasil menjelaskan semua rencana itu ke tuan Geum tua. Dan kakek itu menolak keras.

"Tidak bisa Jandi-ya .. kamu tidak perlu melakukan itu ... Walaupun Geum's sangat berarti bagi haraboji, kamu melebihi segalanya ... mungkin selama ini haraboji tidak terlalu perhatian terhadapmu, tapi sesungguhnya haraboji sangat mencintaimu ... ", air bening mulai menetes dari mata tuan Geum tua.

Jandi mendekati kakeknya, kemudian berjongkok dihadapannya. Sepasang tangannya ditaruh diatas tangan haraboji yang sudah keriput.
"Haraboji .. saya tahu kalau haraboji mencintai saya .... Jandi dapat melihatnya ...", Jandi mulai menghapus air mata yang menetes keluar dari sudut matanya. Dia sudah berusaha sekuat tenaga menahan gejolak perasaan yang dialaminya saat ini, tapi tetap saja tidak berhasil.

"Saya sudah menyetujui pernikahan ini haraboji .. jadi saya tidak bisa mengingkarinya ... Bukankah haraboji yang mengajariku sejak kecil untuk selalu menepati semua yang telah dikeluarkan dari mulutku?", Jandi semakin tertekan ketika melihat tuan Geum tua terisak tertahan, "Haraboji jangan menanggis, Jandi janji akan selalu bahagia .... tapi haraboji juga harus berjanji padaku untuk selalu bahagia, dengan begitu pengorbananku tidak akan sia-sia ...", Jandi memanjangkan bibirnya.

Haraboji tertawa tertahan melihat tampang lucu cucu kesayangannya itu. Jandi juga tersenyum kecil. Dihapusnya airmata yang tersisa di pipi keriput tuan Geum tua. 'Mungkin hari esok tidak akan seburuk perkiraannya', Jandi berdoa dalam hati.



************





Pernikahan antara Junpyo dan Jandi akhirnya diselenggarakan sebulan kemudian. Tidak banyak yang diundang dalam acara itu. Hanya beberapa keluarga dekat dan sebagian kecil rekan bisnis Shin Hwa Group yang hadir di gereja, tempat diselenggarakannya acara suci itu.

Selain Goo Jun Hyun dan Moon Yong Hee juga para undangan, semua yang berada dalam gereja berwajah mendung. Apalagi Junpyo dan Jandi. Mereka berjalan dengan langkah lamban ke altar gereja. Tidak ada senyuman sedikitpun di wajah mereka. Kalau mau mengibaratkan tampang mereka, dunia seakan mendekati kiamat.

Kata-kata dari bapak pendeta mengambang di udara. Tidak jelas dan seperti mengiang di telinga Junpyo dan Jandi.

"Goo Jun Pyo-shi .. apakah anda bersedia menerima Geum Jan Di-shi sebagai istri anda, mencintai dan menjaganya sampai akhir hayat dalam suka maupun duka, walaupun ada penyakit yang dideritanya, anda tidak akan meninggalkannya sedetikpun ...."

Junpyo tidak menjawab karena pikirannya masih menerawang. Semua yang berada di geraja itu mulai mengeluarkan suara. Jun Hyun dan Yong Hee saling melempar pandangan dengan gelisah. Tuan Geum tua memejamkan matanya.

"Goo Jun Pyo-shiii .... ??", suara pak pendeta terdengar lagi. Kali ini terdengar lebih keras.

Junpyo terhentak di tempatnya. Sepasang matanya yang bening berkedip-kedip gelisah. Dia memandang pak pendeta tanpa tahu harus berkata apa.

"Goo Jun Pyo-shi ...?? ", tegur pak pendeta sekali lagi.

Junpyo membuka mulutnya, bermaksud menjawab pertanyaan tadi. Tapi kemudian dia menutupnya kembali rapat-rapat. Dia mengarahkan pandangan ke sekeliling ruangan. Semua mata mengarah padanya. Kedua orangtuanya juga melebarkan mata kearahnya. Junpyo menghembuskan nafas perlahan. Dia tahu tidak bisa melarikan diri lagi. Diliriknya sekilas gadis mungil bergaun putih panjang lengkap dengan kerudung di sampingnya.

"Saya bersedia .... ", jawabnya. Kedengaran sangat terpaksa. Mendengar jawaban itu Jandi segera mengangkat wajahnya ke Junpyo. Matanya menyipit di balik kerudung yang menutupi wajahnya.

"Geum Jan Di-shi .... apakah anda bersedia menerima Goo Jun Pyo-shi sebagai suami anda, mencintai dan menjaganya sampai akhir hayat dalam suka maupun duka, walaupun ada penyakit yang dideritanya, anda tidak akan meninggalkannya sedetikpun ....", pak pendeta mengulang pertanyaan yang sama ke Jandi.

Dan tanpa membuang waktu Jandi menjawab pertanyaan itu ...
"Saya bersedia .."

Junpyo sangat terkejut dengan jawaban Jandi. Suara itu terdengar sangat mantap dan tanpa keraguan. Semua orang langsung bertepuktangan meriah.

"Sekarang anda bisa membuka kerudung istri anda, Goo Jun Pyo-shii ... dan kalian juga bisa menukar cincin dan memberi kecupan ke pasangan anda ... ", lanjut pak pendeta.

Jandi memutar badan kearah Junpyo. Dia merasa tidak ada gunanya berbasa basi. Lebih cepat acara ini diselesaikan itu lebih baik. Tapi Junpyo tidak memikirkan hal ini. Dia merasa sangat terganggu dengan keagresifan Jandi.

"Kata-kataku bisa dilakukan sekarang juga Goo Jun Pyo-shi !!", tegur pak pendeta.

Sekali lagi Junpyo dibuat tersentak. Dengan agak ragu dia berbalik menghadapi Jandi. Perlahan tangannya terulur, membuka kerudung yang menutupi wajah Jandi. Gadis itu menunduk dalam-dalam sehingga wajahnya tidak terlihat jelas oleh Junpyo. Hanya kulit putih mulus agak kemerah-merahan itu yang tertangkap pandangannya.

Junpyo kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku dibalik jas putih panjang yang dikenakannya. Dia membuka kotak itu. Meraih sebuah cincin bertahtah berlian yang lebih kecil dan memakaikannya ke jari manis di tangan kiri Jandi. Dan tindakan itu diikuti oleh Jandi.

Sebentar kemudian teriakan mulai terdengar dari para undangan ....
"CIUM DIAAA!!!! ..... CIUM DIAAAA!!!!! ...... CIUM DIAAAA!!!!"

Junpyo menjadi sangat gugup. Terus terang .. dia bukannya tidak pernah mencium seorang wanita. Tapi dalam keadaan seperti ini, ditambah dengan pasangan yang tidak dikenalnya, dia tidak bisa melakukannya. Apalagi gadis dihadapannya ini masih menundukkan wajahnya dalam-dalam.

Teriakan masih terus terdengar. Junpyo menghembuskan nafas perlahan. Dia tahu tidak ada jalan lain  untuk menghentikan teriakan mereka selain melakukan permintaan mereka itu. Perlahan Junpyo mendekat kearah Jandi. Wajahnya menunduk dan mengarah ke wajah Jandi. Semakin mendekat dan mendekat, sehingga Jandi bisa mendengar dengan jelas desahan nafasnya.

Jandi langsung mengangkat wajahnya ke Junpyo. Pipi yang memerah dan mata bulat hitam kecoklatan yang terbelalak lebar itu mengangetkan Junpyo. Dia tidak menyangka gadis ini akan mengangkat wajahnya semendadak itu. Mata Junpyo langsung berkedip berulangkali di tempatnya. Dia sangat terguncang dengan tindakan Jandi tadi.







*************





Malam harinya .......

Jandi sudah membersihkan diri sejak sepuluh menit yang lalu. Sekarang dia duduk termenung di sofa empuk yang terletak di sudut kanan kamar tidur Junpyo yang besar dan nyaman. Hampir seisi ruangan ini  terbuat dari kayu berkilat. Ranjang, lemari pakaian, meja teh, kursi yang mengelilinginya dan juga dinding ruangan juga terbuat dari kayu. Hanya sofa yang terlapis kulit lembut, lemari hias dari kaca yang  walaupun begitu pinggirannya juga terbuat dari kayu, lantai yang terpasang karpet berbulu tebal, yang terlepas dari bahan baku kayu.

Jandi menghembuskan nafas perlahan. Dia cukup menyukai dekorasi dari kamar ini. Lembut dan alami. Memberikan kesan alam yang menyejukkan. Samar-samar dia bisa mencium harum mawar yang merembet masuk dari celah jendela tinggi yang menghadap kebun bunga.

Bunyi air disiramkan yang terdengar sejak tadi dari kamar mandi sudah berhenti. Jandi langsung tersentak. Lima menit kemudian pintu kamar mandi terbuka. Junpyo keluar dari sana dengan terbalut piyama berwarna putih. Rambutnya yang basah melekat di wajahnya. Dia berpaling kearah Jandi.
"Kamu belum tidur juga?", tanyanya tajam.








Jandi tersentak. Dengan agak tergesa dia berlari ke ranjang. Meraih bantal dan selimut kemudian berbalik ke sofa. Kembali terbayang di kepalanya peristiwa di gereja. Bibirnya bergetar ketika mengingat bagaimana dia terpaksa harus merelakan pipinya dicium oleh pria ini. Sesuatu yang belum pernah diterimanya dari pria manapun.

"Kamu mau tidur di situ?", tanya Junpyo dengan kening berkerut.

"Saya ... saya tidur di sini saja ... ", jawab Jandi gugup. Sepasang pipinya sudah mulai memerah.

Dia segera berbaring di sofa, menyelimutkan selimut itu ke tubuhnya, kemudian menutup matanya rapat-rapat. Junpyo memperhatikan semua perbuatan Jandi dengan wajah semakin berkerut.
"Terserah kamu saja .... ", katanya kemudian.




~~~~~ to be continued ~~~~~


Note : Pict edit later Razz

Vayza

Posts : 10
Join date : 2013-06-15

View user profile

Back to top Go down

Re: My Everything Season 1 by Lovelyn

Post by Toptian on Tue Jun 25, 2013 9:32 pm

meskipun lama tapi seneng ada update'n hihihi
belum baca juga sih ini ff sepertinya haha
avatar
Toptian

Posts : 2
Join date : 2013-06-16

View user profile

Back to top Go down

Re: My Everything Season 1 by Lovelyn

Post by LJH's_wife on Wed Jun 26, 2013 9:47 am

hollaaaaaaaa!!! sepoiiiii ihhhhhh Twisted Evil
avatar
LJH's_wife

Posts : 6
Join date : 2013-06-23

View user profile

Back to top Go down

Re: My Everything Season 1 by Lovelyn

Post by GempetMinsun on Wed Jun 26, 2013 9:07 pm

Meskipun pernah baca, tapi ttp gak bosen..
Next ff barunya ditunggu..
avatar
GempetMinsun

Posts : 4
Join date : 2013-06-16
Age : 29

View user profile

Back to top Go down

My Everything Season 1 Chapter 2

Post by Vayza on Thu Jun 27, 2013 11:56 am


My Everything Season 1


by Lovelyn


Seberkas cahaya dari jendela luar yang gordennya terbuka, jatuh mengenai wajah Jandi. "Uhhhhh ..... ", Jandi mengeliat perlahan dan berbalik menghadapi jendela. Matahari sudah terbit dari ufuk timur. Tangannya mengucek matanya yang masih setengah terpejam dan mulutnya menguap lebar.


Jandi meringis perlahan. Tidur di sofa bukanlah tindakan bijaksana yang dilakukannya. Sekarang sekujur tubuhnya terasa ngilu. Sekali lagi Jandi berbalik dalam pembaringannya di sofa. Pandangannya sekarang tepat jatuh ke ranjang, dimana Junpyo tampak masih tertidur pulas dalam balutan selimut tebal.

Jandi menghembuskan nafas perlahan. Dia berdiri dari sofa dan berjalan ke kamar mandi yang ada dalam kamar tidur itu. Dalam waktu lima menit dia menyelesaikan kegiatannya mengosok gigi dan membasuh wajah sampai terasa segar.

Jandi keluar dari kamar. Melewati lorong yang hanya diterangi sebuah lentera dinding kuno, menuruni tangga berputar yang terbuat dari pualam berwarna krem lembut dengan bercak abu-abu muda yang menghubungkannya dengan ruang tengah, dan melewati ruangan itu menuju ruang makan.

Beberapa pelayan tampak sibuk mempersiapkan sarapan di bawah arahan seorang kepala pelayan yang luwes dan tegas. Jandi mendekati mereka dan menawarkan bantuannya. Para pelayan itu sangat terkejut dan langsung menolak tawaran Jandi. Setelah percobaan kesekian kali akhirnya Jandi menyerah dan membiarkan mereka kembali ke kesibukannya masing-masing.

Jandi berjalan ke meja makan dan duduk di kursi yang terletak paling ujung sebelah kanan di antara jejeran kursi lain di samping meja makan yang panjang dan berkilat. Setelah menunggu selama sepuluh menit, Goo Jun Hyun dan Moon Yong Hee memasuki ruang makan sambil tersenyum lebar.

Jandi segera berdiri dari tempatnya dan membungkuk dengan hormat ke kedua mertuanya itu ..
"Anyongheoseyo .. appa dan omma ... "

Goo Jun Hyun dan Moon Yong Hee membalas sapaan Jandi dengan mengangguk kecil. Junpyo menyusul tiga menit kemudian.

"Anyongheoseyo .. Junpyo-ya ... ", sapa Jandi halus.

Junpyo melirik sekilas ke Jandi. Tanpa memperlihatkan emosi sedikitpun, dia membalas sapaan Jandi ..
"Hmm anyong ... ", lalu Junpyo duduk di depan Jandi.


Para pelayan mulai mengedarkan piring-piring berisi sarapan yang terdiri atas sepasang telur mata sapi dan steak daging sapi dengan kacang-kacangan pelengkap ke hadapan para majikan yang duduk menghadapi meja. Mereka makan tanpa bersuara. Hanya terdengar bunyi garpu dan pisau yang beradu dengan piring dan bunyi kunyahan dari mulut mereka. Lima belas menit kemudian mereka menyelesaikan semua makanan yang tersedia. Para pelayan mulai menyingkirkan semua peralatan sarapan dari atas meja.

Hening sejenak sebelum jandi memulai pembicaraan di antara mereka. Dia berdeham perlahan dan menghadap ke Goo Jun Hyun dan Moon Yong Hee ..
"Ehemmm ... saya ... saya ingin bertemu dengan haraboji hari ini ... "

Mendengar itu Junpyo langsung memandang kearahnya. Senyum mengejek terbayang di wajahnya yang dingin  ..
"Baru semalam kamu sudah ingin melanggar aturan di sini ... "

Dahi Jandi berkerut. Perhatiannya dialihkan ke Junpyo ..
"Saya sangat menyadari posisiku di rumah ini .. dan kamu jangan khawatir Goo Jun Pyo-ssi, saya tidak akan melakukan sesuatu yang dapat merusak nama besarmu ... saya tidak akan keluar setapakpun dari rumah ini .. haraboji yang akan mengunjungiku di sini ... "

Junpyo mengangkat bahunya. Dia tidak terpengaruh dengan perkataan Jandi ..
"Bagus kalau begitu ... saya berharap kamu bisa memegang kata-kata yang telah kamu ucapkan .. "
Kemudian dia berdiri dari kursinya, bermaksud berlalu dari situ.

"Mau kemana Junpyo-ya? .. Hari ini adalah hari pertama bulan madu kalian, apakah kamu tidak perlu mengajak Jandi berjalan-jalan di luar ... ", perkataan Hyun Jun menghentikan langkah Junpyo.

Pemuda dengan rambut keriting lebat itu langsung berbalik ke appanya.
"Saya sudah menuruti keinginanmu, masih belum puas? ... kamu menyuruhku menikahinya dan sekarang telah kulakukan .. kamu tidak berharap saya akan memperlakuannya sebagai istri beneran, kan? ... ohhh .. kembalilah ke kenyataan .. semua ini cukup sampai di sini, jangan berharap yang lebih dariku!!!!"

Junpyo berlalu dari ruangan itu, tanpa memperdulikan teriakan dari belakang ..

"JUNPYO-YAAAAAAA ...............!!!!!!"

"Anak ini ... ", Yong Hee mengeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian dia berpaling ke Jandi, "Mianhe Jandi-ya ... "

"Ohh ... gwencana ..", kata Jandi, lalu lanjutnya lagi, " Saya akan menelepon haraboji dan memintanya datang sekarang juga, jika appa dan omma mengijinkannya ... "

Hyun Jun dan Yong Hee langsung menganggukan kepalanya, "Tentu saja Jandi-ya, .. kamu bisa melakukan itu .. ", kata mereka bersamaan.

Jandi tersenyum lebar. Sangat manis dan enerjik.
"Gomawo appa dan omma .. ", Jandi membungkuk dalam-dalam kearah kedua orang setengah baya itu. Lalu dia berlalu dari situ, berlari ke ruang kamarnya yang terletak di lantai atas.


************


Haraboji tiba di kediaman Goo sekitar setengah jam kemudian. Dia diantar masuk ke dalam rumah dan dibawa ke ruang tamu di lantai bawah. Ruangan itu sangat sepi. Hanya ada Jandi yang duduk di sofa panjang beralas kain beludru tebal.

"HARABOJI ... !!!!", Jandi berlari ke haraboji. Tangannya terbuka dan memeluk haraboji erat-erat.

"Yaaaa .. Jandi-ya!! .. ada apa denganmu? ... gwencana?", haraboji membalas pelukan Jandi. Dielusnya rambut cucu semata wayangnya dengan lembut.

"O gwencana .. ", jawab Jandi.

Haraboji mengangkat wajah jandi dengan telunjuknya. Ditatapnya cucu tersayangnya itu dengan seksama, "Benarkah? .. kamu tidak berbohong pada haraboji?"

"Tidak! ... paling tidak sekarang saya masih bisa bertemu dengan haraboji .., Ini adalah sesuatu yang paling membahagiakanku .. "

Haraboji mengelus rambut Jandi. Wajahnya yang keriput memperlihatkan kekhawatiran yang membuat Jandi tidak bisa mengeluarkan kata-kata lebih lanjut. Dituntunnya haraboji ke sofa. Lalu mereka duduk saling berhadapan di situ.

"Seharusnya haraboji tidak membiarkanmu mandiri sejak kecil, Jandi-ya ... haraboji sangat menyesal. Mungkin jika kamu dimanja sejak kecil, kamu tidak akan menerima perjodohan ini .. haraboji lebih berharap kejadiannya akan seperti itu ... ", airmata bening mulai mengalir dari sudut mata haraboji yang sudah mengeriput.

Jandi masih terdiam seribu bahasa.


"Jika benar begitu kejadiannya ... huhhh ... kamu tidak akan menderita Jandi-ya .. ", lanjut haraboji lagi.

Jandi menaruh sepasang tangannya di bahu haraboji. Matanya menatap lekat ke mata haraboji, seakan ingin menyakinkan sesuatu yang akan dikatakannya kemudian ..
"Haraboji .... saya tidak pernah menyesal melakukan semua ini .. Jika diberi kesempatan untuk memilih lagi saya akan tetap memilih jalan ini .... walaupun waktu yang kita habiskan bersama tidak banyak, tapi saya tahu kalau sebenarnya haraboji sangat mencintai saya ...."

Airmata haraboji mengalir lagi dengan deras. Jandi melanjutkan perkataannya .. "Haraboji tidak perlu terlalu mengkhawatirkan saya ... orang itu, hmmm .. maksudku Goo Jun Pyo, .. dia tidak tertarik padaku .. lebih tepatnya lagi, dia tidak akan pernah tertarik padaku, dia tidak akan menyentuhku ... jika .. jika .. dia berani berbuat macam-macam .. saya tidak akan membiarkannya, .. Haraboji percayakan pada kemampuan saya dalam menjaga diri?"

Jandi mengangkat tinjunya di hadapan haraboji. Tampangnya sangat serius sehingga membuat haraboji tidak mampu menahan ketawanya yang langsung meledak saat itu juga.

"Ha .. ha.. tentu saja haraboji percaya pada kemampuanmu, .. nanny sering menceritakannya ke haraboji ..."

Perkataan haraboji membuat Jandi menurunkan tinjunya perlahan. 'Nanny ... ' panggilan itu menimbulkan kerinduan dan rasa bersalah  dalam hatinya. Haraboji yang melihat perubahan Jandi mendesah pelan.
"Nanny tidak mengetahui pernikahanmu?"

Jandi mengeleng perlahan. Dia tidak mampu menceritakannya. Tanggapan nanny dari pernikahan ini diketahui pasti oleh Jandi. Nanny akan menolak mati-matian.


**************


Junpyo menghabiskan sehari penuh dengan F3. Setelah memaksa F3 menemaninya bermain golf dan judo, akhirnya mereka berhenti di landasan terakhir, bar yang sudah merupakan markas yang biasa mereka kunjungi. Waktu sudah malam saat itu.


"Yaa Junpyo-ya, ada apa denganmu haaa? .. hari ini permulaan bulan madumu kan? Mengapa memaksa kami menemanimu? .. Kemana istrimu?", goda Woobin.

Junpyo mendelik kearah Woobin. Sedangkan yang lain, Yi Jeong dan Ji Hoo saling berpandangan dengan bibir tergigit rapat, berusaha menahan ketawanya yang hampir meledak.

"SONG WOO BIN!! Kuperingatkan kamu untuk pertama dan terakhir kalinya, jangan mengungkit nama itu dihadapanku !!!!!!", bentak Junpyo keras dan mengelegar.

"Yaaaaaa .. memangnya kenapa Junpyo-ya? .... Saya lihat Jandi gadis yang sangat manis .. ", celetuk Ji Hoo.

Woobin mengangkat tangannya ke Ji Hoo dan suara 'plakkkk ... ' terdengar ketika kedua tangan mereka bertemu.

"MANISSS??? ... kalian tidak mengenalnya, tapi dengan mudah kalian berkata kalau dia gadis yang manis? ... HUHHH SUNGGUH TIDAK BISA DIPERCAYA ...!!!", Junpyo mengomeli F3 yang tertawa lebar di tempatnya.

"Mungkin kami tidak mengenalnya, Junpyo-ya  .. tapi kami melihatnya dengan jelas pada saat pernikahan kalian di gereja ...", jawab Yijeong sambil tertawa ngakak.

Mata Junpyo terbelalak lebar. Kemarahannya mulai meledak dengan godaan yang didengarnya terus-menerus.
"Hentikan itu!!!!! .... Jika tidak, kalian akan merasakan akibatnya!!!! .... Jangan mengungkit nama itu lagi dan ... saya peringatkan pada kalian ... jangan melakukan sesuatu yang tidak saya ijinkan ... "

F3 mengangkat bahu. Tanpa pengetahuan Junpyo, mereka saling melempar pandangan dengan penuh arti.


***************


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Junpyo sudah meninggalkan rumah. Menurut yang didengar Jandi dari Yong Hee, Junpyo ada janji makan siang tidak resmi dengan seorang partner kerja dari Austaralia yang sekarang lagi liburan di Korea. Jandi jadi berpikir kalau Junpyo sengaja ingin menghindarinya. Janji itu dilakukannya di siang hari mengapa dia menghilang sepagi ini?

Setelah sarapan bersama dengan Jandi, Hyun Jun dan Yong Hee keluar rumah. Mereka akan menghadiri acara minum teh yang diadakan salah seorang sahabat dekat Hyun Jun. Mereka mengajak Jandi ikut serta, tapi Jandi menolaknya dengan halus. Selain alergi dengan acara seperti itu, alasan paling utama adalah tanpa seijin Junpyo, dia tidak akan keluar dari rumah. Itu sudah merupakan janjinya. Dan dia tidak ingin mengambil kesempatan selama Junpyo tidak di rumah. Dia tidak boleh dipandang rendah lagi oleh pria sombong itu.

Sekarang tinggal Jandi sendirian di dalam rumah itu, ditemani para pelayan yang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Jandi sedang membaca sebuah majalah ketika seorang pelayan dengan tergesa berlari kearahnya. Nafas pelayan muda itu terengah-engah ketika sampai dihadapannya.
"A .. gashi ... "

Jandi mengalihkan perhatiannya dari majalah ke pelayan itu.
"Ada apa?", tanyanya. Si pelayan masih terlihat mengendalikan pernafasannya yang memburu. "Apa yang terjadi?", tanya Jandi lebih lanjut.

Pelayan itu menunjuk ke ruang tamu di depan dan berusaha mengeluarkan jawaban dengan susah payah. Tapi Jandi segera menghentikan usahanya itu, "Biar saya yang melihatnya sendiri?"

Jandi meletakkan majalah yang dipegangnya ke meja kecil di samping kursi yang didudukinya, kemudian berjalan ke ruang tamu. Dia sangat terkejut ketika melihat tiga orang pemuda berpakaian resmi yang sangat rapi sudah berada di sana.

"Anyongheoseyo ... Geum Jan Di .. ", sapa salah seorang tamu itu, yang tidak lain adalah YiJeong.

Jandi mengangguk perlahan, "Anyongheoseyo .... ", balasnya.

Tindakan ini diikuti oleh Woobin dan Jihoo. Senyum lebar tersungging di wajah mereka. Jandi yang kebingungan tidak tahu harus berbuat apa. Dipersilahkannya ketiga tamunya itu duduk kembali ke sofa. Jandi mengambil tempat di depan mereka. Dahi Jandi berkerut dalam usaha mengingat ketiga pemuda itu. Wajah mereka tidak asing dalam ingatannya. Kalau tidak salah dia pernah bertemu dengan mereka.

"Masih ingat pada kami, Jandi-ya?", Jihoo memulai pertanyaan itu dengan suaranya yang tenang dan lembut. Dia berusaha mengurangi kegugupan Jandi yang terlihat jelas.

Jandi mengeleng perlahan, "Wajah kalian tidak asing .. tapi cheoseongheyo .. saya tidak bisa mengingatnya .."

Woobin tertawa perlahan diikuti yang lain. Dia mengangkat tangannya ke Jandi, "Ohh itu tidak menjadi masalah, Jandi-ya .. kami memakluminya .. pertemuan kita terlalu singkat .., Kenalkan namaku Song Woo Bin,.. yang itu So Yi Jeong dan Yoon Ji Ho ..", Woobin menunjuk kearah Yijeong dan Jihoo, " kami adalah sahabat Junpyo sejak kecil, .. kita sudah bertemu di acara pernikahan kalian dua hari yang lalu ... "

Mulut Jandi terbuka perlahan. Dia ingat sekarang!! Ketiga pemuda yang menjadi pusat perhatian waktu di gereja. Wajahnya lalu menjadi serius. Walaupun ketiganya kelihatan sangat manis, Jandi tidak yakin mereka akan menjadi teman yang cocok untuknya.
"Terimakasih!! .. saya ingat sekarang, ... lalu .. apa maksud kalian kemari?"

"Ohh come on, Jandi-ya .. jangan dingin begitu .., kami sudah capek menghadapi Junpyo ... Kami tidak ingin melihat Junpyo versi cewek lagi ... ", Woobin memanjangkan bibirnya, berpura-pura terganggu dengan sikap Jandi. Yang lain tertawa geli melihat tampang lucu Woobin.

Jandi yang semula sudah mengambil keputusan untuk tidak begitu memperdulikan F3 jadi tidak bisa menahan perasaannya begitu melihat tampang Woobin. Dia tersenyum lebar. Ketiga tamunya ini memberikan perasaan nyaman dan santai yang sangat diperlukannya sekarang.
"Baiklah, saya akan merubah sikapku ... Saya tidak mau disamakan dengan manusia dingin itu .. "

F3 tertawa keras mendengar perkataan Jandi.

"Coolllllllll Jandi-ya!!!", Woobin mengangkat jempol ke Jandi.

"Kalau saya boleh tahu, apa maksud kedatangan kalian?", Jandi bertanya sambil tersenyum lebar.

"Kami hanya penasaran dengan istrinya Junpyo ha..ha .... , saya cuma bercanda, jangan cemberut begitu!! .. , sebenarnya .. semula kami bermaksud melihat bagaimana dirimu yang sesungguhnya dan sekarang kami mengambil keputusan bulat kalau kami sangat menyukaimu ... kami tahu kamu sendirian dalam peperangan dengan Junpyo ... kami akan selalu mendukungmu .. "

Mendengar perkataan Yijeong, pandangan Jandi tertunduk perlahan. Dia merasa terharu dengan perhatian mereka. Karena hampir sepanjang hidupnya dihabiskan di Italia, Jandi tidak punya sahabat di Korea, dan dia merasa sangat terhibur dengan inisiatif mereka untuk menjadikannya sebagai sahabat. Ini tidak gampang, mengingat F3 merupakan sahabat karib dari Junpyo, orang yang tidak menyukainya.

"Ghamshamida .... ", kata Jandi perlahan, lalu dilanjutkannya lagi setelah perasaannya sudah terkendali, "Bagaimana kalau kalian ikut makan siang di sini?"

"Ohhh .. tentu saja kami akan menerimanya dengan senang hati .. ", jawab Jihoo sambil tersenyum yang langsung diiyakan oleh yang lain.


***************


Makan siang mereka habiskan sambil berbincang-bincang dan tertawa-tawa gembira. Dalam waktu yang relatif singkat, mereka sudah sangat akrab layaknya sahabat yang sudah saling mengenal sejak kecil.


Setelah menyelesaikan makan siang dalam waktu setengah jam,  mereka memindahkan pembicaraan ke ruang tamu depan. Perbincangan berjalan dengan ramai sampai kemunculan Junpyo di ambang pintu ruang tamu.

"YAAAA .. APA YANG KALIAN LAKUKAN DISINI??", teriak Junpyo dari tempatnya. Wajahnya berkerut tanda tidak senang. Dia berjalan cepat kearah Jandi dan F3, lalu berhenti di depan mereka dengan tangan disilangkan di depan dada.

"GOO JUN PYO .... ??", mata F3 terbelalak lebar melihat kemunculan Junpyo.

"Mengapa kamu bisa ada di sini? ..... Bukankah kita sudah berjanji akan berkumpul di arena skating setelah jam makan siang?", Yijeong melanjutkan pertanyaannya setelah tadi meneriakkan nama Junpyo.

"Saya bermaksud ganti baju dulu sebelum ke sana dan ... HEIIIII!!! JANGAN MENGALIHKAN PERHATIAN KE MASALAH LAIN, .. SEKARANG JAWAB PERTANYAANKU, APA YANG KALIAN LAKUKAN DISINI ?", wajah Junpyo memerah karena menahan gejolak emosi dalam hatinya.

"Kenapa kamu semarah itu Junpyo-ya? .. kami cuma bermaksud berteman dengan istrimu .., dia gadis yang manis ... ", jawab Jihoo, berusaha menenangkan Junpyo.

Tapi maksudnya salah alamat. Mendengar jawaban itu, kemarahan Junpyo semakin menjadi-jadi ...
"DIA TIDAK PERLU BERTEMAN DENGAN KALIAN, .. JADI SAYA INGATKAN!!, JANGAN KEMARI LAGI JIKA SAYA TIDAK ADA DI RUMAH, ARASO? .. saya tidak ingin mendengar pemberitaan yang akan merusak nama keluarga Goo, jadi jaga sikap kalian ...", lalu beralih ke Jandi, "KAMU JUGA, JAGA PERKATAANMU ... JANGAN BERSIKAP SOK AKRAB DENGAN PRIA LAIN, INGAT JANJI YANG TELAH KAMU BUAT BEGITU MEMASUKI KELUARGA BESAR GOO ... "

Perlahan Jandi memejamkan matanya. Dengan sekuat tenaga dia menahan kemarahan yang sudah hampir berada di ujung kepalanya.

"SEKARANG JUGA KALIAN KELUAR DARI RUMAHKU ...  CEPAT!!!!", Junpyo mengarahkan telunjuknya ke pintu depan.

F3 saling melempar pandangan satu sama lain. Yijeong bermaksud mengeluarkan protes tapi langsung ditahan Woobin. Melihat sinar mata Woobin dan Jihoo, Yijeong langsung menyadari kalau tindakannya itu akan percuma saja. Kemarahan Junpyo tidak bisa diredam pada saat ini. Mungkin mereka harus memberi waktu kepada Junpyo untuk menenangkan diri dulu.

F3 berdiri dari sofa kemudian berjalan keluar dari rungan itu.

"ACARA HARI INI BATALLL!!!", teriak Junpyo, mengetarkan seisi ruangan.

Para pelayan sudah menjauh dari ruang tamu ketika melihat mendung yang menutupi wajah Junpyo sejak kepulangannya ketika mendapati F3 ada di rumah bersama istrinya.

"Mengapa sikapmu seperti itu? ... Beginikah caramu bersikap pada teman baikmu?", dahi Jandi berkerut melihat tindakan Junpyo.

"Kenapa? .. sakit hati? .. mana janjimu, yang katanya akan selalu menjaga nama baik Goo, Geum Jan Di-ya? ..... Dengan tertawa selebar itu ke pria lain, apakah juga termasuk dalam janji itu???", Junpyo melotot ke Jandi. Kemurkaannya sudah tidak bisa dibendung lagi.

"Ka .. ka ... mu .. ", suara Jandi tertahan di kerongkongan. Dia ingin membantah, tapi tidak bisa. Walaupun kemarahan Junpyo tidak pada tempatnya, tapi Jandi menyadari ada kebenaran dalam perkataan yang pedas itu. Dengan pertimbangan matang, akhirnya Jandi memutuskan untuk berlalu dari ruangan itu.

"HEIIII .. GEUM JAN DI!!!! MAU KEMANA, SAYA BELUM SELESAI DENGANMU!!!


Teriakan Junpyo tidak diperdulikan Jandi. Dia menuju ke kamar tidur di lantai atas dan mengunci pintunya. "Malam ini kamu tidur di kamar tamu ... ", Jandi mencibirkan mulutnya ke pintu kamar.


*************


Selama dua hari ke depan Jandi bisa menghabiskan waktunya dengan tenang. Junpyo akan menghadiri pameran lukisan yang diselenggarakan salah seorang partner Shin Hwa di luar kota sehingga akan berada di  sana selama dua hari.

F3 mengunjunginya di hari pertama. Mereka menghabiskan waktu dengan bermain dan berbincang gembira. Hari kedua Jandi habiskan di kebun bunga, sesuatu yang sangat disukainya dan sudah tidak dilakukannya lagi begitu menginjakkan kaki  di Korea.

Tapi malam harinya keresahan kembali membayangi Jandi. Begitu mengingat akan kepulangan Junpyo keesokan harinya, hati Jandi langsung menjadi asam.


************


Junpyo tiba di rumah sehabis jam makan siang. Dia kelihatan sangat lelah. Tidak ada kata-kata yang terucap dari bibirnya. Hampir setengah hari dihabiskannya dengan tidur dan malas-malasan di dalam kamar.

Malam harinya, Jandi mendapati Junpyo sedang mengemas pakaian ke koper besar. Semua pakaian yang terhampar di ranjang dipaksa masuk ke koper dengan asal-asalan.

"Kamu mau kemana?", tanya Jandi, sekedar basa basi.

Junpyo melirik Jandi melalui pundaknya. Dia terus melakukan kesibukkannya ketika menjawab pertanyaan Jandi ...
"Tidak ada urusannya denganmu ...!! ", yang sebenarnya tidak kelihatan layaknya sebuah jawaban.

Jandi mendengus perlahan. Diperhatikannya kesibukkan Junpyo tanpa mengeluarkan suara. Dua menit kemudian dia tidak bisa menahan diri lagi, didorongnya Junpyo ke samping dan mengeluarkan seluruh pakaian yang telah dimasukan Junpyo secara sembarangan ke dalam koper.

"Yaaa .. a .. apa yang kamu lakukan ... ?", protes Junpyo.

"Jika kamu memaksa memasukan semuanya seperti ini, saya berani jamin kopermu tidak akan bisa ditutup!!", balas Jandi keras, Junpyo terdiam, lalu Jandi melanjutkan perkataannya lagi, "Biar saya yang melakukannya untukmu ... "

Junpyo berjalan ke ranjang sambil meraba kepalanya yang tidak gatal. Dia menjatuhkan diri di situ. Perhatiannya terarah lurus ke kegiatan yang dilakukan Jandi. Semua pakaian dilipat dengan sangat rapi oleh Jandi dan dimasukan satu persatu ke dalam koper. Lalu dia berjalan ke lemari besar yang bersandar di dinding tengah ruangan. Membuka laci dan mengeluarkan sesuatu dari sana, kemudian memasukannya ke koper.

"Yaaa .. a .. apa  .. itu?", protes Junpyo lagi.

"Kamu akan lama berada di luar, kan? .. kamu akan memerlukan ini, percayalah padaku .. ini adalah obat-obatan untuk persiapan dalam keadaan mendesak, jadi kamu harus membawanya ... ", Jandi meneruskan kesibukannya lagi.

"Saya harus ke Amerika selama dua minggu ... ada konferensi dan beberapa meeting yang harus kuhadiri di sana .. ", kata Junpyo perlahan. Jandi tidak memberi tanggapan, dia masih sibuk dengan kegiatannya. Junpyo kemudian meneruskan perkataannya, "Setelah pulang dari sana .. kita akan menghadiri pesta pernikahan Yijeong .. jadi siapkan dirimu .. "

Jandi menghentikan kegiatannya ..
"Pernikahan Yijeong? .... Yijeong akan menikah? .. tapi .. mengapa dia tidak memberitahukannya padaku?"

"Mengapa Yijeong harus memberitahukannya padamu? .. apa hubungannya dia denganmu? .. heii Geum Jan Di-ya, jangan katakan padaku kalau kamu masih berhubungan dengan mereka di belakangku?", tampang Junpyo mulai kelihatan terganggu dengan pertanyaannya sendiri.

Jandi tidak menjawab pertanyaan Junpyo. Setelah semua pakaian dimasukan dengan rapi ke dalam koper, Jandi berjalan ke sofa dan membaringkan badannya di sana.

"Heii Geum Jan Di-ya, kamu tidak bermaksud menjawab pertanyaanku HAAA??", suara Junpyo terdengar mengeras.


"TIDAKKKK!!! Apapun jawabanku, kamu tidak akan mempercayainya, kan?", sepasang mata Jandi berkilat kearah Junpyo. Lalu perlahan dia memejamkan mata dan merapatkan selimut ke tubuhnya.

Tampang Junpyo melunak ketika melihat Jandi meringkuk di sofa. Dan sekali lagi dia dikejutkan oleh perkataannya kemudian ..
"Malam ini gantian kamu tidur di sini .. biar saya yang tidur di sofa ..". Setelah mengeluarkan keinginan supaya Jandi ikut dengannya ke pesta pernikahan Yijeong, sekarang dia mengajukan permintaan yang lebih mustahil lagi. Junpyo mengeleng dalam hati setelah menyadari perubahannya sendiri.

"Kamu? .. tidur di sofa? .... kamu salah minum obat ya Goo Jun Pyo-ssi?", Jandi membelalakan matanya ke Junpyo, seakan melihat sesuatu yang paling mustahil di dunia ini.

Junpyo mendecak keras. Dia segera berdiri dari ranjang dan berjalan ke sofa. Dipindahkannya semua perlengkapan tidur Jandi, bantal dan selimut ke ranjang.
"Tidur di sini kataku!! ... ini perintah!! , arasoo?"

Junpyo membawa selimut dan bantalnya ke sofa. Kemudian dia berbaring di sana dengan kaki yang agak ditekuk karena ukuran sofa yang tidak sebanding dengan tinggi badannya. Jandi memperhatikan Junpyo dari pembaringan. Ada sesuatu mendesir dalam hatinya. Terus terang dia merasa tersanjung dengan perhatian yang mendadak diberikan Junpyo.

Dia juga merasa kasihan melihat keadaan Junpyo yang terlihat tidak nyaman di sofa. Jandi mengeleng perlahan. " Untuk apa saya merasa kasihan padanya .., waktu saya tidur di sofa, apakah dia juga kasihan padaku? Tidak!! ... Dia sedang memakai topeng, Jandi-ya, jangan percaya padanya!!.

Lalu Jandi menutup matanya rapat-rapat. Berusaha tidur dengan pikiran penuh tentang keanehan sikap Junpyo.


*************


Dua minggu kemudian ...
Junpyo pulang dari Amerika dengan tampang kusut. Selain karena capek dengan perjalanan puluhan jam itu, juga karena kesibukan yang hampir membunuhnya selama dua minggu terakhir. Selama itu Junpyo hanya menelepon sebanyak 2 kali ke Korea dan itupun hanya berupa pertanyaan pendek 'apakah semuanya baik-baik saja'. Jandi yang menerima kedua telepon itu, karena cuma dia yang berada di rumah pada saat itu. Hyun Jun dan Yong Hee selalu sibuk dengan kegiatannya yang bejubun di luar sana.

Kepulangan Junpyo tidak merubah apapun yang terjadi pada saat pertemuan terakhir mereka. Junpyo berkeras tetap tidur di sofa dan membiarkan Jandi tidur di ranjangnya. Dan walaupun Jandi memprotes dengan beribu alasan, Junpyo tetap keukeh dengan perkataannya. Ini tidak mengherankan, karena Junpyo memang selalu dikenal dengan keras kepala dan ketegasannya dalam memegang semua ucapan yang keluar dari mulutnya.


************


Pernikahan Yijeong diselenggarakan di pulau Jeju esok harinya. Pagi-pagi sekali, sekitar pukul 6:30, Junpyo dan Jandi naik pesawat pribadi ke pulau Jeju. Acara dimulai dengan pengucapan sumpah di gereja kecil dekat laut. Pemandangan di sana sangat indah dan acara tersebut berjalan dengan lancar. Istri Yijeong masih sangat muda. Dia seorang gadis manis yang pemalu. Ketika Yijeong mencium bibirnya, wajah mungilnya langsung memerah. Jandi tersenyum perlahan, sedangkan Junpyo yang duduk di sampingnya bertepuk tangan meriah.

Jandi melirik sekilas ke Junpyo. Terbayang kembali pernikahannya dengan Junpyo sebulan yang lalu. Acara itu tidak seromantis seperti yang dilihatnya sekarang. Yijeong benar-benar pria yang mampu membuat hubungan antara pria dan wanita menjadi lebih baik , tidak seperti Junpyo.

Acara selanjutnya dilanjutkan dengan pesta meriah di kediaman Yijeong. Taman yang digunakan untuk menjamu para undangan sangat luas dan dihias sedemikian rupa. Berbagai makanan terhampar di sepanjang meja panjang yang dijajarkan di sudut taman. Lampu-lampu hias beranekawarna tergantung di sepanjang taman dan orkestra lembut mengiringi semua kegiatan di sana. Beberapa tamu meluncur di tengah taman yang dijadikan sebagai tempat dansa. Para pelayan dengan sikap resmi berjalan kesana kemari sambil menawarkan minuman di tangan mereka.

Yijeong dan istrinya, Chu Ga Eul, melayani para undangan dengan sangat baik. Senyuman tidak pernah terlepas dari wajah mereka. Keluarga mereka juga kelihatan sangat tersanjung dengan pujian dari para undangan. Mereka memang kelihatan sangat cocok satu sama lain. Dan ini sangat diakui Jandi. Walaupun pernikahan mereka hasil perjodohan dari orang tua masing-masing, tapi tidak kelihatan ada masalah sedikitpun dari perjodohan ini. Tidak seperti dia dan Junpyo. Jandi mengigit bibirnya. Lagi-lagi dia membandingkan pasangan Yijeong dengan dirinya sendiri.

"Jandi-ya, apakah kamu bisa menikmati pesta ini? ... maaf jika membosankanmu ... ", Yijeong dan Gaeul sekarang sudah berada di samping Jandi.

"Ohh ini pesta yang luar biasa, Yijeong-aa ... and chukae buat pernikahan kalian .. ", Jandi melirik Gaeul, "istrimu sangat cantik ..."


Wajah Gaeul memerah. Kepalanya tertunduk perlahan. Dia sungguh sangat pemalu. Yijeong langsung mengenggam tangan Gaeul, berusaha membuatnya lebih nyaman.
"Kamu juga berpendapat begitu ya Jandi-ya?"

Jandi mengangguk, lalu mengacungkan jempolnya. Kepala Gaeul tertunduk lebih dalam lagi.

"Ternyata kalian berada di sini!!", seruan itu membuat Jandi, Yijeong dan Gaeul menoleh ke belakang dalam waktu bersamaan. Junpyo, diikuti Jihoo dan Woobin dari belakang, berjalan kearah mereka.

"Heii .. So Yi Jeong, selamat buat pernikahanmu ... ", Junpyo menepuk lengan Yijeong. Jihoo dan Woobin melakukan hal yang sama.

Junpyo lalu berpaling ke Jandi, "Apakah kamu sudah makan?"

Jandi mengangguk, kemudian menjawab pelan, "Sudah ... "

F3 cengar cengir sendiri melihat interaksi antara keduanya. Sedangkan Gaeul yang tidak tahu apa-apa hanya memperhatikan Junpyo dan Jandi dengan pandangan bertanya, 'Mereka sama sekali tidak mirip suami istri .. '

Perbincangan santai terjadi antara mereka selama lima belas menit sebelum panggilan untuk acara selanjutnya buat sepasang pengantin diumumkan oleh pembawa acara. Jandi, Woobin dan Jihoo berlalu dari situ untuk membantu mempersiapkan keperluan acara. Junpyo juga bermaksud mengikuti langkah ketiganya ketika sebuah tangan menepuk lengannya.

"Junpyo-a .. bagaimana hubunganmu dengan Jandi?", Yijeong bertanya kepadanya dengan serius.

Dahi Junpyo berkerut, "Apa yang bisa terjadi antara kami bisa kamu lihat sendiri .. "

"Dengarkan kata-kataku, Junpyo-ya!! ..... Pernikahan dari perjodohan keluarga mungkin bukan ide yang bisa kita terima .. tapi pikirkanlah baik-baik, bagaimana perasaanmu ketika bersamanya, apakah perasaan itu masih sama atau tidak? ... saya percaya kamu mengerti dan bisa mencerna kata-kataku Junpyo-aa ... , Saya juga sepertimu, semula tidak menaruh harapan sedikitpun terhadap perjodohan ini .. tapi .. sekarang saya merasa dia atau .. yang sesungguhnya perjodohan ini tidak seburuk anggapanku semula ... ", Yijeong menepuk lengan Junpyo berulangkali sambil tersenyum lembut sebelum meninggalkan Junpyo yang termangu di tempat.


*************


Keesokan harinya, Junpyo memulai pekerjaannya di Shin Hwa Group. Setelah ditinggalkan selama sebulan, banyak hal yang harus diselesaikannya dalam perusahaan itu. Junpyo pulang agak larut malam itu. Sekitar jam 9 malam dia baru menginjakkan kakinya di pintu depan.

Seorang pelayan membukakan pintu dengan tampang cemas. Dia lebih gugup lagi ketika melihat Junpyo berdiri di depannya dengan alis berkerut ..
"Ada apa?"

"Tuan muda .. agashi ... agashi ... sakit ... ", jawab si pelayan dengan khawatir.

"SAKIT??? .... Sakit apa? .. ", Junpyo melangkah cepat ke dalam rumah, "Dia ada dimana?"

"Agashi ada di kamarnya .. tuan .. "

"MINTA DOKTER KIM DATANG KE SINI, SEKARANG JUGA!!!", perintah Junpyo. Suaranya mengelegar ke seluruh ruangan.

"Dokter Kim sudah memeriksa agashi tadi sore .. katanya agashi demam ... "

"TADI SORE??? .... MENGAPA TIDAK ADA YANG MEMBERITAHUKU??", teriak Junpyo.

Pelayan itu semakin ketakutan. Dia langsung mundur ke belakang..
"Agashi .... agashi yang menyuruh .. kami .. untuk tidak menghubungi .. tuan ... "

Mata Junpyo terpejam perlahan ... "Huhhh Geum Jan Di .. kamu ..  ini ... ", giginya bergemelatuk hebat, "Apakah dia sudah makan obat?", tanya Junpyo setelah berhasil meredam emosinya.


"Sudah, tuan .. "

"Lalu kemana tuan dan nyonya besar ...?"

"Mereka sedang berada di luar kota tuan ... Ada undangan pesta dari teman nyonya besar .. mereka akan berada di sana selama tiga hari ... ", jawab si pelayan dengan sangat hormat.

Junpyo mengangkat tangannya, "Teruskan pekerjaanmu ...!!", lalu dia berlari menaiki tangga berputar menuju kamar tidurnya di lantai atas.

Junpyo membuka pintu dan mendapati Jandi sedang terbaring tidak berdaya di ranjang. Wajahnya sangat pucat. Junpyo mengigit bibirnya. Hatinya seperti dihantam palu besar, sakit dan nyeri. Dengan perlahan dia berjongkok di dekat Jandi. Salah satu tangannya mengenggam erat tangan Jandi yang dingin, sedangkan yang lainnya lagi menyentuh jidat Jandi yang terasa panas membara.
"Jandi-ya ... bisakah kamu mendengarku, Jandi-ya?", suaranya terdengar sangat lembut.

Sepasang mata Jandi terbuka perlahan .. "Goo Jun Pyo ... ?", desahnya pelan.

"O .. ini Goo Jun Pyo ..., kamu baik-baik saja, kan?"

Jandi berusaha bangkit dari pembaringannya tapi dia tidak punya tenaga untuk itu. Tangannya mengenggam erat tangan Junpyo ...
"Junpyo-ya ... bolehkah .... bolehkah .. sa ..ya  .. meminta se .. suatu .. pada .. mu ?"

Junpyo menekan pelan kedua bahu Jandi sehingga membuatnya terbaring kembali, "Jangan bergerak .. badanmu masih sangat lemah ..., Apa yang kamu mau? Katakan padaku ... "

"Saya .. sa .. ya ingin pulang .. ke rumah haraboji .. "

"Tidak bisa!!!", tolak Junpyo cepat, "Apapun permintaanmu akan saya turuti, tapi tidak yang satu ini ... "

"Cuma malam ini .. Junpyo-ya .. dan .. saya berjanji .. cuma sekali  .. saya tidak akan .. memintanya lagi .. ", suara Jandi terdengar memelas.

"Yaaaa Geum Jan Di!!! .. Jangan memakai penyakitmu sebagai senjata untuk memaksaku melakukan sesuatu yang tidak kusukai .... sudah kubilang aku akan mengabulkan semua permintaanmu, tapi tidak untuk yang satu ini ............. Jika kamu sudah sembuh, saya akan membuatkan makanan istimewa buatmu .. saya yang akan membuatnya sendiri, dengan tanganku, .. bagaimana? kamu puas kan?"


Jandi mengeleng cepat ..
"TIDAKKKKK!!!! .. Saya tidak mau apapun, saya hanya ingin bertemu haraboji!!!!", Airmata dan isakan keras mulai keluar dari mulut Jandi. Dia tersedu sambil menarik selimut menutupi wajahnya.

Junpyo tertegun. Untuk pertama kalinya dia melihat Jandi menanggis. Biasanya cewek ini sangat tangguh, walaupun diledek dan dimarahi sedemikian rupa tetap tidak akan memperlihatkan airmatanya. Tapi kali ini sangat lain. 'Dia mungkin sangat merindukan kakeknya..', Junpyo menghembuskan nafas sekuat tenaga.

Sekarang baru disadari oleh Junpyo bahwa gadis ini, setangguh apapun dia ... tetap saja gadis yang masih sangat muda. Umur delapan belas tahun tidak akan menjadikannya benar-benar mandiri. Ada saatnya dia akan meledak juga. Seperti saat ini, sifatnya yang kekanakan dan tidak mau menyerah keluar juga.

"Baiklah, kamu jangan menanggis lagi .. Saya akan mengabulkan permintaanmu .. tapi, ingat Jandi-ya!!, hanya sekali ini saja .. jangan memintanya lagi padaku, aku tidak akan mengabulkannya ... ", Junpyo menatap tajam ke Jandi, kemudian melanjutkan perkataannya lagi, "Cuma kamu Jandi-ya yang bisa membuatku menelan kembali kata-kata yang telah kukeluarkan .... "

Jandi tersenyum kecil. Matanya menyiratkan sesuatu yang tidak dimengerti oleh Junpyo.
"Gumawo, Junpyo-ya ... Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi .... "

"Kita berangkat sekarang ... apakah kamu bisa berjalan sendiri? atau ... mungkin lebih baik saya mengendongmu?", Junpyo segera mengalihkan pembicaraan dari pandangan mata Jandi yang membuatnya gugup.

"TIDAKKK!! .. saya .. saya bisa berjalan sendiri ... ", tolak Jandi segera. Dia berusaha bangkit dari pembaringan tapi tidak berhasil. Kepalanya terasa pusing.

"Jangan membantah lagi !!! .. saya tidak ingin kamu pingsan di tengah jalan .... !!!"

Junpyo tidak membiarkan Jandi membantah lagi. Dia menyelipkan tangan ke leher dan pinggang Jandi kemudian mengangkatnya.

"YAAAAA .. GOO JUN PYO ..!!!!", teriakan Jandi menarik perhatian semua pelayan. Dia segera menutup mulut dengan kedua tangan. Sedangkan Junpyo dengan cuek mengendongnya ke dalam mobil.


************


Junpyo dan Jandi sampai di tempat haraboji setelah perjalanan yang memakan waktu setengah jam. Karena kelelahan dan pengaruh obat yang dimakannya, Jandi tertidur di mobil, dalam perjalanan itu. Junpyo mengendong Jandi keluar dari dalam mobil dengan sangat hati-hati. Haraboji memandanginya tanpa bertanya apa-apa. Jandi tidak terpengaruh dengan perubahan tempat di sekelilingnya. Dia masih tertidur pulas dalam dekapan Junpyo.


"Dia sedang sakit dan memintaku untuk mengantarnya kesini .. ", kata Junpyo ke haraboji. Sangat pelan seakan takut membangunkan Jandi dari tidur.

Haraboji mengangguk perlahan. Tanpa banyak bertanya, beliau membawa Junpyo ke kamar Jandi. Junpyo membaringkan Jandi ke ranjang yang terbalut seprai putih. Kemudian dia menyelimuti Jandi. Junpyo memperhatikan kamar Jandi untuk beberapa lama. Tidak ada yang menarik dari kamar ini. Semua yang ada di sini hanya terdiri dari warna putih dan abu-abu. Sama sekali tidak melukiskan sifat dari pemiliknya.

Haraboji mendesah perlahan. Seperti mengerti pertanyaan di kepala Junpyo, dia berkata ..
"Sejak kecil Jandi tinggal di luar negeri ... bagaimana sifatnya?, haraboji juga tidak begitu tahu .. apa yang dipikirkannya? apa yang diinginkannya? dan apa yang tidak disukainya? ... huhhhhh ..... tapi walaupun begitu haraboji mengetahui satu hal, dia sangat menyayangiku ... "

Junpyo berpaling ke haraboji. Wajah keriput itu terlihat semakin keriput. 'Apakah ini yang membuat Jandi menyetujui pernikahan ini? .. Apakah benar hanya karena harabojinya ini dan bukan karena uang yang sangat mereka perlukan? .. lalu ... apakah kedua hal ini ada bedanya?'. Junpyo mengeleng perlahan.

"Nak Junpyo, bisakah kita berbicara sebentar? .. ", haraboji berpaling ke Jandi, "Kita bicara di ruang kerja saja .. "

Haraboji keluar dari kamar. Junpyo tidak punya jalan lain selain mengikuti langkah kakek itu. Mereka melewati beberapa kamar sebelum akhirnya sampai di ruang kerja haraboji. Junpyo dan haraboji duduk saling berhadapan di antara beberapa lemari buku yang mendominasi kamar itu.

"Gumawo nak Junpyo-ya ...", ujar haraboji perlahan.

"Untuk apa?", tanya Junpyo. Dia tidak bisa menangkap maksud haraboji.

"Karena kamu sudah mengantar Jandi kesini .. karena perhatianmu, karena kasih sayangmu terhadap Jandi ... ", jawab haraboji. Pandangannya terarah lurus ke mata Junpyo.

Junpyo menjadi gugup .., "Saya .. saya tidak begitu ... Dia .. dia menanggis dihadapanku .. dan saya muak dengan tampang cengengnya .. jadi .. saya .. mengabulkan permintaannya itu ... "

Haraboji tertawa perlahan. Sebagai orang yang sudah hidup lebih dari enampuluh tahun  di dunia ini, haraboji dapat membaca sifat seseorang. Junpyo adalah seorang pemuda dengan ego besar. Dia tidak akan menyerah terhadap apapun dan siapapun. Karena itu dia lebih suka berkelit dari perhatian yang telah diberikannya ke Jandi. Dia tidak akan mengakuinya.

"Apapun alasanmu nak Junpyo, haraboji tetap ingin berterimakasih padamu ... Anak itu sudah kehilangan kasih sayang dari orangtuanya sejak bayi .. , haraboji tidak mempunyai waktu menemaninya sehingga dia hanya menghabiskan waktu dengan nanny ... sampai sepuluh tahun yang lalu, ketika dia baru berusia delapan tahun, dia mengambil keputusan sekolah ke luar negeri ..  ", haraboji berhenti sejenak. Junpyo memperhatikannya dengan seksama.

Haraboji menghembuskan nafas panjang, sebelum melanjutkan ceritanya ..
"Huuuu .... bisakah kamu bayangkan, anak berusia delapan tahun sudah bisa mengambil keputusan seperti itu? .... saat itu haraboji tidak mempunyai waktu untuk memikirkan apa yang menjadi penyebabnya, sekarang haraboji mengerti bahwa dia tidak ingin haraboji terlalu memperhatikannya ... dia ingin haraboji bisa bekerja dengan tenang ... "

"Lalu .. mengapa dia tidak membencimu?", tanya Junpyo yang membuat haraboji tersentak kaget.
"Apa yang kamu lakukan sangat keterlaluan, kan? .. jadi mengapa dia masih mau berkorban untukmu? .. maksudku ..dengan pernikahan kami ini .. ?", tanya Junpyo lebih lanjut.

"Karena .. dia adalah Geum Jan Di .. ", jawab haraboji perlahan, "selain jawaban itu .. haraboji tidak bisa memikirkan alasan yang lain ... Karena dia adalah seorang Geum Jan Di .. gadis yang dari luar tidak ketebak kepribadiannya tapi dari dalam mempunyai hati yang sangat lembut, yang mampu memaafkan tanpa pamrih ... "

Junpyo membisu. Penjelasan haraboji mengetok pintu hatinya yang paling dalam.

"Tapi sekarang haraboji tahu ada yang mengelisahkan hatinya ... "

Perkataan haraboji menarik perhatian Junpyo, "Apa itu?", tanyanya.

"Nanny ... pernikahan kalian tidak diketahui nanny, .. Jandi tidak tahu bagaimana cara untuk memberitahu nanny.. "

"Nanny itu siapa?"

"Pengasuhnya sejak bayi ... . Seseorang yang sudah seperti orangtuanya, yang selalu berada di sampingnya ... Jandi lebih dekat dengan nanny daripada dengan haraboji ... ", sepasang mata haraboji meredup.

Junpyo terdiam. Mendengar cerita dari haraboji tentang masa lalu Jandi membuat dia berpikir tentang kehidupannya sendiri. Mereka mempunyai masa kecil yang sangat berbeda. Dia sudah dimanja sejak kecil sehingga menyebabkan apapun harus dijalankan sesuai dengan keinginannya. Sedangkan Jandi mandiri sejak kecil. Dia tidak pernah memikirkan dirinya sendiri. Dia lebih mementingkan kepentingan orang-orang yang dicintainya.

Junpyo mengarahkan pandangan ke luar ruangan, "Untuk malam ini .. biarkan dia tidur di sini saja .. Saya akan menjemputnya besok, sepulang dari kantor ..", Junpyo berdiri dari kursi yang didudukinya, "Saya pulang sekarang ... sampai bertemu lagi .. ha.. ra boji .. ", panggilan haraboji terdengar kaku ketika terucap dari mulut Junpyo.

Haraboji tersenyum perlahan. Beliau menganggukan kepalanya. Junpyo membungkuk pelan kemudian keluar dari ruangan itu.


************


Seminggu kemudian ....
Jandi baru selesai membersihkan diri ketika seorang pelayan berlari kearahnya .., "A.. aga.. shi ... ", suaranya terdengar cemas.

"Ada apa?", tanya Jandi keheranan.

"Tuan .. tuan muda .. dokumen ini ... ketinggalan di .. ruang kerja ... ", jawab pelayan itu terbatah-batah.

Jandi sangat terkejut. Diraihnya dokumen yang disodorkan pelayan itu. Kalau tidak salah dokumen ini akan digunakan Junpyo untuk meeting penting pagi ini. Kemarin malam dia tidak sengaja mendengar pembicaraan Junpyo dengan Mr. Choi, sekretaris pribadinya. Jandi melihat jam yang terletak di dekat jendela, sudah jam 8 dan rapat itu akan dimulai setengah jam lagi.

Jandi bimbang sejenak. Dia mempertimbangkan apa yang harus dilakukannya. Menelepon Junpyo akan lebih menghabiskan waktu percuma. Menyuruh pelayan mengantarnya ke kantor, dia tidak bisa. Biasanya para pelayan sangat ceroboh. Bagaimana kalau mereka sampai menghilangkannya di tengah jalan? Tapi kalau dia pergi sendiri, berarti dia telah melanggar janjinya untuk tidak melangkah keluar dari rumah ini.

Setelah pertimbangan yang kesekiankali dan yang telah menghabiskan waktu lima menit, akhirnya Jandi mengambil keputusan terakhir. Setelah menganti pakaian dengan kemeja putih ketat dan rok mini warna hitam, Jandi berlari keluar rumah. Dia sudah menelepon taxi dan sekarang mobil itu sudah menunggunya di luar gerbang depan.

Jandi masuk ke dalam mobil. Dalam waktu lima belas menit Jandi sampai ke gedung Shin Hwa. Dia keluar dari mobil setelah membayar biayanya. Diperhatikannya gedung Shin Hwa dengan seksama. Gedung itu sangat megah dan mengambarkan kekayaan Shin Hwa Group.

Jandi menghembuskan nafas perlahan. 'Persetan dengan kekayaan Shin Hwa .. Semua itu hanya deretan angka yang tidak berpengaruh terhadapnya .. ". Jandi memasuki gedung Shin Hwa. Dia berjalan ke meja resepsionis.

"Saya ingin bertemu dengan presiden Goo  ..", kata Jandi ke gadis muda yang menjaga di sana.

"Apakah agashi sudah membuat janji dengan presiden Goo?", tanya resepsionis itu.

"Tidak, tapi ... ",

Perkataan Jandi segera dipotong oleh gadis itu ..
"Soseongheyo agashi .. presiden Goo ada rapat penting hari ini .. "

"Saya juga ada keperluan penting dengan presiden Goo ... "

"Maaf agashi .. tapi untuk saat ini kami tidak bisa menghubungi presiden Goo .. , Jika agashi tidak keberatan, agashi bisa menunggu pak presiden di sana ... ", resepsionis muda itu menunjuk sofa besar yang terdapat di tengah ruangan itu.

"Maaf nona tapi saya tidak bisa menunggu ... "

Jandi melangkahkan kakinya ke lift yang terdapat di belakang meja resepsion.

"AGASHIIII ...", gadis muda itu mengejar Jandi dan menghentikan langkahnya.

"Saya harus bertemu presiden Goo sekarang juga ... dokumen ini buat rapat penting yang akan diadakan beberapa saat lagi .. jadi jangan menghalangiku .."


Gadis keras kepala itu tidak menyingkir dari tempatnya.
"Soseongheyo agashi .. tapi saya tidak mendapat perintah untuk menerima dokumen apapun hari ini .. lalu siapa sebenarnya nama agashi? , jika saya boleh tahu, agar saya dapat menanyakannya ke presiden Goo .."

"Saya adalah ... ", Jandi berhenti di sini, setelah berpikir sejenak, dia melanjutkan perkataannya, "Saya bukan siapa-siapa .. saya hanya pembantu keluarga Goo .. "

"Jika agashi tidak berkeberatan, dokumen itu bisa ditaruh di tempat kami dan nanti ada petugas yang akan membawakannya untuk presiden Goo ... "

Jandi berdecak tak sabar ..
"Sudah saya katakan kalau dokumen ini buat rapat sekarang ... ", Jandi mendorong gadis reseh didepannya ke belakang lalu berlari ke lift yang pintunya terbuka.


************


Di ruang rapat utama Shin Hwa ...
Junpyo sedang kebingungan dengan dokumen yang tidak didapati di tas kerjanya. Mr. Choi memandang cemas ke majikannya itu. Semua orang dalam ruang rapat memandangi mereka, berharap rapat bisa segera dimulai.

Utusan dari Jung's Corporation, perusahaan Korea yang berpusat di Italia, yang dikepalai oleh Jung Jae Hea berdeham pelan ..
"Ehemmm .. Goo Jun Pyo-ssi, apakah bisa dimulai sekarang?"

Junpyo mengalihkan perhatian ke Jaehea. Mulutnya seperti terkunci, tidak mampu bersuara. Mr. Choi mendekatkan wajahnya ke Junpyo.
"Apa yang harus dilakukan sekarang, pak presiden?"

Junpyo tidak menjawab. Dia melirik sekilas ke Mr. Choi, lalu berbalik lagi ke Jaehea. Mulutnya baru terbuka, bersiap untuk menjawab pertanyaan Jaehae ketika pintu rapat terbuka dengan satu hentakan dari luar. 'BRAKKKKK ...........'  
Semua yang ada di ruangan itu langsung mengalihkan perhatiannya ke pintu.

Jandi sudah berdiri di sana. Perhatiannya tertuju ke Junpyo yang duduk di ujung meja rapat. Jandi berlari ke Junpyo dan menyerahkan dokumen di tangannya.
"Bagaimana .. bagaimana mungkin .. ada di kamu?", tanya Junpyo gugup.

"Ka .. hmmm .. dokumen itu tertinggal di kantor tuan ..", jawab Jandi pelan.

Mendengar jawaban Jandi, wajah Junpyo langsung berkerut. Dia bermaksud mengeluarkan suara ketika panggilan dari belakang terdengar ...
"JANDI-YAAA .... ??"

Jandi tersentak. Dengan cepat dia berpaling ke belakang dan ....
"OPPAAAAA .... ??"

Jandi dan Jaehea saling menatap. Ketidakpercayaannya terlukis jelas dari wajah mereka. Melihat itu, ekspresi wajah Junpyo berubah perlahan. Tanpa sadar dia menarik tangan Jandi sehingga mendekat kearahnya. Lalu dia melingkarkan tangannya ke pinggang Jandi ..
"ANDA MENGENAL ISTRIKU, JUNG JAE HEA-SSI?", tanya Junpyo dengan sikap menantang.


Sepasang mata mereka bertemu dan semua yang ada di ruangan itu bisa melihat ada kobaran api dari pandangan mereka. Jandi menghela nafas perlahan. Diliriknya wajah Junpyo yang begitu dekat dengan wajahnya. 'Apa maksud orang ini dengan mengakuinya sebagai istri di depan begitu banyak orang .. ?'


**************


cre all pics from baidu ~~~

Vayza

Posts : 10
Join date : 2013-06-15

View user profile

Back to top Go down

Re: My Everything Season 1 by Lovelyn

Post by Vayza on Thu Jun 27, 2013 12:03 pm

LJH's_wife wrote:hollaaaaaaaa!!! sepoiiiii ihhhhhh Twisted Evil

Agak ribet nih forum Mom Ntar kasih tau ye klo udh tau gmn cara ngedit postingan

Vayza

Posts : 10
Join date : 2013-06-15

View user profile

Back to top Go down

Re: My Everything Season 1 by Lovelyn

Post by lee minsun4ever on Fri Jun 28, 2013 9:49 am

Emang gK ada bosan nya baca FF minsun,,meskipun udah lama.
avatar
lee minsun4ever

Posts : 5
Join date : 2013-06-26
Age : 28

View user profile

Back to top Go down

My Everything Season 1 Chapter 3

Post by Vayza on Sun Jun 30, 2013 10:59 pm

My Everything Season 1

by Lovelyn

CHAPTER 3



Jandi duduk termenung di ruang kantor Junpyo yang besar dan sunyi. Masih terbayang dalam pikirannya, lima menit yang lalu, pandangan menyelidik dan kobaran api dari sepasang mata Junpyo dan Jaehea. Pikiran Jandi menjadi kacau. Bagaimana mungkin Jaehae oppa sampai berada di Korea? Tidak pernah terpikirkan olehnya, dalam mimpi sekalipun, kalau Shin Hwa akan bekerjasama dengan Jung's Corporation, yang biasanya hanya bergelut dalam perekonomian Eropa.

Teringat kembali oleh Jandi, janji yang pernah diucapkan sebelum kepulangannya ke Korea dua bulan yang lalu. Sekarang .. bagaimana dia harus menghadapi Jaehae? Sinar mata penuh tanda tanya, tidak percaya dan kecewa yang campuraduk itu membuatnya menjadi kecil dan rendah dihadapan Jaehae.

Sedangkan Junpyo ... ada apa dengan orang itu? Bukankah dia tidak ingin hubungan mereka diketahui orang luar? Lalu mengapa .. mengapa sekarang dia mengakuinya sebagai istri dalam rapat yang dihadiri begitu banyak rekan bisnis terpenting Shin Hwa? Apa sebenarnya yang terjadi dengan orang itu? Apakah ini bagian dari permainannya? Pertanyaan bertubi-tubi terlontar keluar dari pikiran Jandi.

Satu jam kemudian ... Jandi hampir tertidur di sofa panjang yang terletak di pojok kanan ruangan ketika pintu kantor terbuka dari luar. Jandi menoleh kearah pintu dengan pikiran setengah sadar. Matanya menyipit dan kepalanya terangguk-angguk akibat rasa kantuk yang menyerangnya. Tapi itu hanya sesaat saja. Detik berikut kesadarannya langsung pulih ketika merasakan api panas yang hampir membakar seisi ruangan.

Junpyo dan Jaehae memasuki ruangan. Wajah Junpyo merah padam. Begitu juga tampang Jaehae, sekeruh Junpyo. Keduanya kelihatan sangat tegang. Tidak saling memandang tapi Jandi bisa melihat kalau mereka saling tidak menyukai.


Jaehae menghampiri Jandi, kemudian menarik tangannya. Sedangkan Junpyo tidak bergeming dari posisinya semula.
"Ikut saya!! .. kita perlu membicarakan masalah ini, Jandi-ya ... "

Perkataan Jaehae sangat mengejutkan Jandi. Apalagi tangan Jaehae mengenggam erat tangannya. Dengan segera Jandi mengibaskan tangan Jaehae. Dia langsung berpaling kearah Junpyo, seakan meminta persetujuannya.

"Sepuluh menit ... , hanya sepuluh menit!! ... tidak lebih dan tidak kurang!! .. Saya akan menunggumu di luar ... ", ujar Junpyo dengan suara parau. Dia tidak rela melakukannya tapi dia tidak punya pilihan lain.

Jandi mengangguk. Dia berdiri dari sofa dan mengikuti Jaehae keluar dari ruangan itu. Junpyo mengikuti mereka dari belakang sampai di cafe' Deffa yang terletak di lantai satu gedung Shin Hwa.


**************


Kepala Jandi tertunduk. Dia tidak mampu membalas pandangan tajam dari Jaehae. Sekarang mereka sudah duduk berhadapan di ruang tengah cafe. Kopi dan makanan kecil baru saja disajikan oleh seorang pelayan. Jaehae melirik ke pintu masuk cafe dimana Junpyo tampak berdiri di sana.

"Hmmmm ... apakah tidak ada yang perlu kamu jelaskan padaku, Jandi-ya? .. Apa sebenarnya yang terjadi?", Jaehae memulai pembicaraan mereka.

"Miane oppa .... jeongmalmiane ... ", jawab Jandi. Sangat lirih.


"Bukan kata maaf yang ingin saya dengar Jandi-ya, tapi penjelasan darimu ... Mana janjimu? Mana janji yang kita sepakati bahwa setelah kepulanganmu dari Korea kamu akan memikirkan rencana pertunangan kita?", suara Jaehae mulai mengeras.

"Karena itu saya minta maaf .... soseongheyo oppa .."

"Ada apa sebenarnya?", Jaehae mengulangi pertanyaannya.

"Terjadi sesuatu yang tidak diinginkan .... ", Jandi memulai ceritanya. Bagaimana dia tidak sengaja mendengar dan mengetahui keadaan keuangan Geum's Corporation yang hampir ambruk, keputusan sepihak darinya untuk meminta bantuan Mr. Goo Hyun Jun, lalu tawaran yang diajukan Mr. Goo untuk menyalurkan dana ke Geum's dengan syarat menikah dengan putranya. Jandi menjelaskan semuanya tanpa ada yang terlewatkan.

Jaehae menyimak semua penjelasan kilat dari Jandi dengan pandangan tak percaya. Mulutnya mengangga lebar. Setelah Jandi menyelesaikan perkataannya, Jaehae masih terpaku di tempat. Dia tidak ingin mempercayai pendengarannya sendiri.

"Oppa ..??", Jandi menepuk lengan Jaehae sehingga mengembalikannya dari alam bawah sadar.

"Karena alasan itu kamu ... kamu menyetujui pernikahan tersebut, bagaimana .. bagaimana mungkin? ... lalu  .. mengapa ... mengapa kamu tidak mencariku? .. Mengapa kamu tidak meminta bantuanku? .. Mengapa Jandi-ya? .. kamu tahu kan, kalau demi kamu oppa rela melakukan apa saya ... "

Perlahan kepala Jandi tertunduk lagi ..
"Miane oppa .. jeongmalmiane .. waktu itu keadaan sangat mendesak .. saya tidak bisa berpikir dengan kepala jernih .. dan .... saya .. saya baru sadari sekarang .. kalau .. kalau .. tidak pernah terlintas dalam pikiranku untuk meminta bantuan oppa .. lebih tepatnya lagi .. saya ... saya melupakan oppa ... Yang terlintas dalam pikiran saya cuma keluarga Goo yang bisa menolong haraboji dan Geum's ... sekali lagi miane oppa ... miane karena saya belum memberi jawaban dari janji itu .... dan miane .. karena jawaban dari janji itu tidak bisa lain selain ... saya tidak mungkin menerima pertunangan oppa ... "

Jaehae mendesah perlahan. Kekecewaan terlukis jelas dari wajahnya.
"Setidakberarti itukah kedudukanku dalam hatimu, Jandi-ya?", pertanyaan itu keluar dari mulutnya. Pelan dan penuh tekanan.

"Miane oppa .... ", jawaban Jandi juga terdengar sangat pelan. Bahkan di cafe yang sepi itu sekalipun suaranya hampir tak terdengar.

"Apakah kamu mencintainya, Jandi-ya?"

Pertanyaan itu sangat mengejutkan Jandi ..
"TIDAKKK!!!", jawabnya cepat, "Saya tidak mencintainya dan saya juga yakin dia tidak mencintaiku .. semua itu tidak mungkin terjadi ... ", Jandi mengeleng keras.

"Lalu .. mengapa kamu masih bertahan?"

Pandangan Jandi terarah lurus ke mata Jaehae ketika menjawab pertanyaan itu ..
"Walaupun saya tidak mencintainya, saya tidak mungkin lari darinya .. karena saya menghargai keputusan yang telah kuambil. Saya menghargai posisi saya sebagai menantu dari appa dan omma, mereka mencintaiku ... terlepas dari hubunganku dengan Junpyo, saya juga menyayangi dan mencintai mereka .. "

"Jadi percuma saja kalau saya menunggumu ya, Jandi-ya?", suara Jaehae terdengar bergetar.

Jandi membisu selama beberapa detik, kemudian dia berujar pelan, "Miane oppa .."

Jaehae menghembuskan nafasnya. Sepasang matanya terpejam perlahan. Hatinya sudah hancur begitu mengetahui pernikahan Jandi dengan Junpyo, sekarang menjadi berkeping-keping setelah mendengar permintaan maaf dari Jandi. Putus sudah harapannya supaya Jandi kembali ke dalam kehidupannya.

Jaehae membuka mata dan bermaksud mengatakan sesuatu. Tetapi suaranya tertahan di tenggorokan ketika mendapati Junpyo sudah berdiri di samping mereka.
"Soseongheyo Jung Jae Hae-ssi .. saya rasa sudah cukup waktu yang saya berikan pada anda .. Saya membutuhkan istriku sekarang juga ...", suara Junpyo terdengar sinis.

Jandi berpaling kearahnya dan dahinya langsung berkerut. 'Mengapa orang ini begitu tak bersahabat?'. Junpyo tidak memberi kesempatan Jandi untuk berpikir lebih lanjut. Dia segera menarik Jandi berdiri dari kursi dan memaksanya pergi dari situ.


"YAAAA .. GOO JUN PYOOO!!! Kamu mau apa? .. Saya bisa berjalan sendiri ..", Jandi memukulkan tangannya berkali-kali ke tangan Junpyo yang mengenggam erat tangan kanannya. Tapi usahanya untuk melepaskan diri dari cengkeraman Junpyo sia-sia saja. Tenaga Junpyo terlalu besar.

"Apakah anda tidak bisa bersikap lebih lembut terhadap istri anda sendiri?".

Pertanyaan Jaehae menghentikan langkah Junpyo. Dia berbalik kearah Jaehae. Dia kelihatan tidak senang.
"Tidak ada urusannya denganmu Jung Jae Hae-ssi!!!! .. ini adalah masalah pribadiku dengan Jandi, jadi saya berharap anda tidak ikut campur .. ", bibir Junpyo tertarik keatas membentuk senyum ejekan ke Jaehae.

Dia berbalik lagi ke pintu keluar cafe. Cenkraman di tangan Jandi dilepaskannya, kemudian dia melingkarkan tangannya ke leher Jandi dan memaksanya berlalu dari situ.

"YAAA ... GOO JUN PYOOO!!!", protes Jandi.

"Jangan berteriak lagi!! .. Saya ada kejutan untukmu jadi ikut denganku ... "

"Kejutan apa? .. Saya peringatkanmu, Junpyo-ya, jangan mempermainkanku atau kamu akan merasakan akibatnya!!!"

Suara Junpyo dan Jandi semakin samar dan lenyap sama sekali dari pendengaran Jaehae begitu mereka menghilang di tikungan pintu luar cafe.

"Kamu mencintainya, Jandi-ya! ... mungkin kamu belum menyadari perasaanmu sendiri, tapi .. saya tahu kamu mencintainya ...Sepuluh tahun saya mengenalmu dan sikapmu terhadapku tidak pernah seperti itu, kamu selalu hormat dan tidak menunjukkan perasaanmu, sehingga .. seringkali saya harus menerka apa sebenarnya yang ada dalam pikiranmu .. tapi hari ini ... saya melihat perubahan itu ... kamu seperti menemukan sesuatu yang bisa dijadikan tempat untuk menumpahkan segala sesuatu yang selama ini tersimpan dalam hatimu yang paling dalam .. yang bahkan .. mungkin .. nanny sekalipun tidak pernah melihatnya ... ", desah Jaehae, sangat pelan, seperti bicara dengan diri sendiri.


****************


"Yaaa ... Goo Jun Pyo!!! .. kamu mau membawaku kemana??", teriak Jandi, dari dalam porsche perak yang sekarang lagi melaju di tengah jalan raya.

Junpyo yang memegang kemudi tidak menjawab pertanyaan Jandi. Pandangannya tetap terpusat ke jalan raya yang mereka lewati. Dia seperti tidak mendengar pertanyaan Jandi. Akan tetapi secara perlahan senyum misterius terbentuk di wajahnya yang tampan.


"GOO JUN PYOOOOOOOOOOO!!!!!!"

Teriakan Jandi yang sangat keras dan mendadak itu mengejutkan Junpyo. Badannya langsung tersentak ke belakang. Untung saja kakinya yang hampir menginjak break masih bisa dikendalikan, jika tidak kejadian fatal mungkin akan terjadi.

"YAAAA ... APA YANG KAMU LAKUKAN?? TIDAKKAH KAMU MELIHAT SAYA SEDANG MENYETIR??", protes Junpyo dengan keras.

Menyadari kecelakaan fatal yang hampir terjadi akibat dari teriakannya, Jandi langsung membungkam mulut erat-erat dengan kedua tangan dan tubuhnya menyusut di tempat.


**************


Lima belas menit kemudian, porsche perak yang mereka tumpangi memasuki area Gimpo airport. Melihat tampang Jandi yang seperti tercetak tanda tanya besar di jidatnya, Junpyo terkekeh perlahan. Suara ketawanya terdengar renyah. Tapi walaupun begitu tetap tidak mampu menghilangkan keheranan Jandi.

"Junpyo-ya, apakah kamu ingin menjemput seseorang? .. siapa?"

"He .. he .. he .. nanti kamu juga tahu sendiri .., sekarang keluarlah dari mobil!"

Junpyo membuka pintu mobil samping, kemudian melangkah keluar. Dahi Jandi berkerut. Dia tidak mengerti maksud dari semua perbuatan Junpyo. Yang bisa dilakukannya cuma mengikuti langkah Junpyo dari belakang.

Junpyo melewati pintu masuk bandara dan melangkah terus sampai ke ruang tunggu yang luas. Jandi menyejajari langkahnya dengan susah payah. 'Apa dia tidak sadar kalau dengan kaki sepanjang itu dia tidak perlu berjalan begitu cepat?', umpat Jandi dalam hati.

Seorang wanita muda yang melihat kedatangan Junpyo dan Jandi segera membungkuk dengan penuh hormat. Junpyo mengangguk pelan kearahnya, kemudian berpaling ke Jandi ..
"Lihat siapa itu?", tangannya menunjuk ke wanita setengah baya, berbadan kurus dengan kulit agak pucat, yang berdiri di samping wanita muda tadi.

Tubuh Jandi langsung membeku. Dia tidak bisa mempercayai penglihatannya sendiri. Pandangannya terpusat ke wanita setengah baya yang berdiri di hadapannya, yang kelihatan tidak kalah terkejutnya dengan Jandi.

"Nan .. ny ...", desah Jandi.

"Jandi .. Jan .. di .. anakku ... ", airmata mengalir keluar dari sepasang mata nanny yang sudah keriput.

"NANNYYYY!!!!"

Jandi menghambur ke pelukan nanny. Sebentar saja kedua wanita dengan perbedaan mencolok itu sudah menanggis tersedu-sedu.

"Nanny .. mengapa .. bisa sampai .. berada di sini?"

Nanny menunjuk kearah Junpyo,
"Orang itu ... maksud nanny, Goo Jun Pyo-ssi, dia yang menyuruh orang menjemput nanny ke sini ... "

"Miane nanny .. hu hu .. ", isak tanggis terdengar makin jelas dari mulut Jandi. Bukan karena sedih tapi lebih karena bahagia.

"Jika kamu tahu ini kesalahanmu, mengapa kamu sampai melakukannya, Jandi-ya? .. Dan kamu tidak memberitahu nanny .. mengapa?"

"Miane .. karena saya tahu nanny tidak akan menyetujuinya .. jadi saya ... "

Perkataan Jandi terpotong oleh nanny,
"Tentu saja nanny tidak akan menyetujuinya!!! .. Jandi-ya, pernikahan adalah sesuatu yang sangat sakral, bagaimana mungkin kamu menyetujuinya dengan mudah? .. kamu tidak mengenalnya dengan baik .. Lalu bagaimana dengan nak Jaehae?"

Kepala Jandi tertunduk perlahan ..
"Karena itu saya merasa bersalah .. nanny miane .. ", jawab Jandi penuh penyesalan.

Di seberang .. Junpyo melirik jam tangannya, kemudian berteriak kearah mereka.

"Kalian sebaiknya meneruskan pembicaraan di rumah saja!! .. saya akan mengantar kalian pulang sekarang,.. saya masih ada rapat penting sejam lagi ..!!!"

Jandi melepaskan diri dari pelukan nanny. Dia mengangguk kearah Junpyo, kemudian membimbing nanny melangkah dari situ. Junpyo menunggu mereka dari tempatnya. Begitu sampai di samping Junpyo, Jandi tersenyum kecil sambil berbisik halus ..
"Gumawo .. Junpyo-ya .."

Mendengar itu, Junpyo langsung tersenyum-senyum sendiri.



************


Setelah mengantar Jandi dan nanny sampai ke rumah, Junpyo dalam perjalanan kembali ke kantor. Di tengah jalan dia mendapat telepon dari Woobin.

JP :"O Woobin-a ... "
WB :"Junpyo-ya .. malam ini berkumpul di tempat biasa!!"
JP :"Ada apa? .. kalau tidak ada yang penting, saya tidak ingin keluar malam ini .. saya sangat capek .. "
WB :"Kamu akan mengetahuinya sendiri nanti malam ... Ingat, ini kejutan jadi jangan sampai kamu tidak datang .. Saya yakin kamu akan menyesal kalau tidak datang ... " (nada suara Woobin terdengar misterius)
JP : (mendecak keras) " Ckkkk ... saya lagi malas!!!! kalian main saja sendiri!!!"

Junpyo bermaksud memutuskan hubungan telepon ketika Woobin berkata cepat ..

WB :"Takut dimarahi Jandi karena sering keluar malam ya?" (tertawa mengejek)
JP : (kesal dan marah) "Yaaaaa ... siapa bilang saya takut sama Jandi? .. Baiklah.. sampai ketemu nanti malam!!!"

Junpyo melempar ponselnya ke jok belakang.


****************


Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam ketika Junpyo memasuki bar yang biasa dia datangi dengan F3. Berpuluh pasang mata mengikuti langkahnya dengan penuh kekaguman. Kebanyakan dari pelangan bar itu adalah wanita dari kalangan atas yang mengenal siapa itu Goo Jun Pyo. Mereka saling berbisik satu sama lain dengan kerlingan penuh arti ketika Junpyo lewat di samping mereka. Pemuda itu berlalu dengan tak acuh.

Junpyo memasuki ruangan yang sudah dipesan khusus oleh Woobin. Langkahnya terhenti ketika mendapati siapa yang berada dalam ruangan itu. Matanya melebar. Dia kelihatan sangat terkejut. F3 sudah berada di sana. Dan .. di samping mereka, duduk seorang gadis cantik berambut pendek dengan senyum simpul yang sangat dikenalnya.

"GOO JUN PYOOO ...."

Gadis itu berdiri dari sofa yang didudukinya dan berlari kearah Junpyo yang masih terpaku di tempat semula. Dia memeluk Junpyo erat-erat.
"Saya sangat merindukanmu ... ", bisiknya di telinga Junpyo.


Mata Junpyo terbelalak lebar. Tanpa sadar dia mendorong gadis itu ke belakang. Dia sangat terkejut dan tidak bisa mempercayai penglihatan sendiri.

"Ha Jae Kyung!!!"

"Iya, benar!! .. ini Jaekyungmu!!", goda Jaekyung. Dia tertawa terbahak melihat tampang Junpyo yang mengkerut, "Ha .. ha .. ha .. mengapa tampangmu seperti itu? .. Apakah kamu tidak merindukanku?", lanjut Jaekyung.

Junpyo menelan ludah perlahan kemudian bertanya dengan gugup,
"Mengapa .. kamu bisa berada di sini?... kapan kamu pulang .. dan .. mengapa tidak mengabariku?"

Jaekyung tersenyum lebar. Matanya menatap lekat ke wajah Junpyo, pemuda yang pernah mengisi hidupnya dan akan selalu menghuni dalam hatinya.
"Sudah dua tahun ya, Junpyo-ya?"

"Benar, sudah dua tahun kita tidak bertemu ... dan semua itu kesalahanmu yang menghilang begitu saja selama dua tahun ini tanpa kabar sedikitpun ..", ujar Junpyo.

Jaekyung langsung cemberut, "Yaaaa .. kamu menyalahkanku? .. kalau bukan kamu yang memutuskan hubungan kita secara sepihak, saya tidak akan pergi begitu saja!!"

Keadaan dalam ruangan itu mulai memanas. Junpyo akan memprotes lagi jika Yijeong tidak segera mengeluarkan suara, "Heiiii .. kalian berdua, duduklah dulu .. jangan bertengkar terus .. Selesaikan masalah kalian secara baik-baik ... "

Teriakan Yijeong segera menyadarkan Junpyo dan Jaekyung kalau mereka tidak berduaan saja dalam ruangan itu. Wajah mereka masih terlihat tegang ketika menjatuhkan diri di sebelah Jihoo. Dahi Junpyo berkerut. Dia tidak senang disalahkan Jaekyung begitu saja. Sedangkan Jaekyung masih cemberut di tempatnya. F3 memperhatikan keduanya sambil saling melempar pandangan.

"Bagaimana? .. sekarang sudah agak baikan, kan?", tanya Jihoo.

Junpyo dan Jaekyung tidak mengeluarkan suara. Woobin mengeleng perlahan, "Kita sudah dua tahun lamanya tidak berkumpul seperti ini, jadi saya mohon bisakah kalian melupakan peristiwa yang lalu? ... Bukankah persahabatan kita melebihi segalanya? .. jadi mengapa peristiwa itu bisa begitu mudah menghancurkan persahabatan kita?"

Junpyo dan Jaekyung tidak mampu menjawab pertanyaan bertubi-tubi dari Woobin. Mereka menyadari apa yang dikatakan Woobin itu benar adanya. Mereka berlima sudah bersahabat sejak dari kecil, bahkan sejak bayi. Mereka sudah seperti saudara. Dulu mereka selalu melakukan segala sesuatu bersama. Tidak ada rahasia di antara mereka. Bahkan hubungan mereka lebih erat daripada hubungan saudara kandung.

Jaekyung memutar badannya perlahan menghadapi  Junpyo, kemudian bertanya pelan ..
"Saya dengar kamu .. sudah menikah .... , benarkah itu?"


Junpyo mendesah halus,
"Benar .. "

"Sungguh tidak bisa dipercaya!!", ujar Jaekyung, "Bagaimana mungkin Junpyo yang saya kenal sampai bersedia menerima pernikahan yang diatur oleh orangtua? ... Saya jadi ingin tahu seperti apa istrimu itu!!"

Junpyo langsung tersentak begitu mendengar perkataan Jaekyung,
"Yaaa ... Ha Jae Kyung, apa yang ingin kamu lakukan? .. Saya peringatkanmu, jangan sekali-kali kamu mengusik Jandi!! .. Jika saya mengetahui kamu melakukan itu, saya tidak akan memaafkanmu!!!"

Junpyo memandang tajam ke Jaekyung, "Saya bersungguh-sungguh dengan perkataanku .. "

Jaekyung membisu di tempatnya. Melihat ketegangan yang mulai menjalari mereka, Yijeong segera mengeluarkan suara lagi, "Sudahlah ... apapun itu, semua sudah terjadi, tidak bisa dirubah lagi ... Jaekyung-a, sebenarnya apa maksud kepulanganmu, jangan katakan pada kami kalau kamu merindukan korea dan kami, sahabat dekatmu!! .. Setelah kepergianmu selama dua tahun itu, kami tidak akan mempercayai jawaban itu .."

Jaekyung menghembuskan nafasnya. Dia tersenyum perlahan. Benar kata Yijeong, tidak ada gunanya dia memikirkan masa lalu.
"Saya pulang karena permintaan appa dan omma. ... Seperti kalian, appa ingin saya segera menikah .... , dan sekarang mereka sedang mencarikan calon yang pantas untuk disandingkan denganku .. "

F4 langsung menganggakan mulutnya.

"Kalian merasa heran kan? .. Setelah memberontak selama bertahun-tahun, saya akhirnya menyerah juga!! .... Tidak ada jalan lain karena saya menyadari dan saya yakin kalian juga menyadari bahwa inilah nasib kita sebagai anak-anak dari keturunan keluarga terhormat .. ", Jaekyung tersenyum kecut.

F4 mengangguk perlahan. Mereka bisa mengerti perasaan Jaekyung sekarang. Dua diantara mereka, yaitu Junpyo dan Yijeong sudah mengalami nasib seperti yang dikatakan Jaekyung. Beginilah hidup mereka. Sebagai keturunan dari keluarga terhormat seKorea, mereka tidak bisa memilih jalan hidup sendiri.

"Kami mengerti bagaimana perasaanmu sekarang, Jaekyung-a!! ... Kejadian yang dialami Junpyo dan Yijeong juga akan terjadi padaku dan Jihoo, begitu juga denganmu ... appaku bahkan sudah membuat janji makan malam dengan rekan kerja dan putrinya huhhhh ... ", Woobin mendesah keras.

Beberapa menit kemudian seisi ruangan menjadi sepi. Semuanya seperti tidak berkeinginan mengeluarkan suara. Yijeong meraih bir yang tersaji diatas meja kemudian meneguknya sampai habis. Diperhatikannya gelas kosong yang terpegang di tangan, tersenyum kecil kemudian berpaling kearah Junpyo,
"Junpyo-ya, bagaimana hubunganmu dengan Jandi?"

"Apa maksud dari pertanyaanmu?", tanya Junpyo dengan kening berkerut.

"Ohh come on Junpyo-ya .. Saya tahu kamu mengerti kearah mana pertanyaanku itu .. ", Yijeong mendekatkan wajahnya ke Junpyo, kemudian bertanya halus, "Apakah kalian sudah tidur bersama?"

"Yaaaa .... ", Junpyo mendorong Yijeong kebelakang. Pertanyaan itu sangat mengejutkannya. F2 dan Jaekyung terbahak melihat tampang salah tingkah Junpyo.

"Heiii .. itu pertanyaan wajar .. kenapa kamu kelihatan malu begitu? ... Yang dilakukan pria dan wanita setelah menikah tentu saja tidur bersama .. Saya tidak akan malu mengatakannya padamu kalau saya dan Gaeul sudah melakukannya di malam pertama. .. Heiii Junpyo-ya!!, jangan katakan padaku kalau kamu belum menyentuhnya?"

Junpyo semakin serba salah dengan perkataan Yijeong. Dia ingin membantah tapi tidak bisa. Bagaimana mungkin dia bisa membantah kalau yang dikatakan Yijeong itu benar adanya. Jihoo yang lebih peka perasaannya, segera mengeluarkan suara untuk meredakan kegelisahan Junpyo.

"O sudahlah .. kita jangan saling mengolok lagi .. sebaiknya kita menikmati malam ini sebagai hari perjumpaan dan perayaan persahabatan yang telah lama terjalin ... Ingat, jangan ada yang beranjak dari sini sampai besok pagi .... "

Perkataan Jihoo sangat berpengaruh. Mereka semua langsung melupakan semua ketegangan yang sempat terjadi. Detik berikutnya suara detingan gelas yang diadu dan suara ketawa mewarnai seisi ruangan. Obrolan mereka berlangsung sampai pagi.


******************


Jandi mengedipkan mata berulangkali. Seberkas sinar menerobos masuk lewat gorden jendela yang terbuka dan tepat mengenai wajahnya. Jandi tersentak bangun dari pembaringan. Dengan cepat dia meraih jam weker dari meja dekat ranjang. Gara-gara menunggu kepulangan Junpyo semalam, dia jadi terlambat bangun. Dan .. oh tuhan, waktu sudah menunjukkan pukul 7:45 pagi.

Jandi bergegas ke kamar mandi. Mengosok gigi dan membasuh muka dengan cepat. Setelah berganti pakaian seadanya, dia berlari keluar dari kamar, menuruni tangga menuju ruang makan.

Kedua mertuanya, Goo Jun Hyun dan Moon Yong Hee, dan juga nanny sudah duduk di tempatnya masing-masing. Begitu juga dengan sarapan pagi hari ini juga sudah tersaji di meja makan. Tapi makanan tersebut belum disentuh sedikitpun oleh mereka.

"Anyongheseyo appa, omma dan nanny .. ", Jandi menyapa mereka bertiga dengan hormat. Badannya membungkuk sangat dalam.

Jun Hyun, Yong Hee dan nanny tersenyum padanya. Dengan isyarat tangan Jun Hyun mempersilahkan Jandi duduk di hadapan mereka.
"Anyong Jandi-ya ... Bagaimana tidurmu semalam?"

"Ba .. baik .. Miane appa dan omma, saya turun terlambat pagi ini .. ", kepala Jandi tertunduk perlahan.

Jun Hyun segera mengibaskan tangannya, "Sudahlah! .. Jangan dipikirkan itu .. Oh ya, mana Junpyo? .. Apakah dia masih belum bangun dari tidur?"

Pertanyaan itu membuat Jandi gugup. Dia tidak tahu bagaimana menjawabnya. Beruntung pada waktu bersamaan, Junpyo memasuki ruangan. Wajahnya terlihat lelah. Dia menguap perlahan. Semua yang berada di ruang makan itu langsung memusatkan perhatian kearahnya.

"Junpyo-yaaa ... kamu baru pulang? Semalaman kamu kemana saja?", Yong Hee mengeluarkan pertanyaan sambil mengerutkan wajahnya.

Beberapa detik lamanya, Junpyo tidak mengeluarkan suara. Dia membalas pandangan Jun Hyun dan Yong Hee secara bergantian. Melirik sekilas ke nanny dan yang terakhir tatapannya jatuh ke Jandi, yang kelihatan tidak terpengaruh oleh keadaan di ruangan itu. Pandangannya tetap terpusat pada hidangan di atas meja.

Junpyo mendesah perlahan. Agak kecewa dengan sikap cuek dari Jandi.
"Saya dari pesta bersama F3 ..", jawabnya pelan.

Kemudian dia berbalik kearah tangga yang menghubungkan ruang tamu dengan kamarnya di lantai atas. Tapi sebelum dia sampai di anak tangga pertama, perkataan Yong Hee menghentikan langkahnya,
"Oh ya Junpyo-ya, tahukah kamu kalau Jaekyung sudah kembali ke Seoul? .. Bibi Ha mengabari omma kemarin .."

Pertanyaan itu sangat mengejutkan Junpyo. Dengan cepat dia memutar badan menghadapi orang-orang yang ada di ruang tamu itu. Sepasang matanya terbelalak lebar. Dia kelihatan gugup ketika melihat kearah Jandi. Tapi sikap tidak perduli dari gadis itu langsung membuatnya kecewe. Entah mengapa hatinya terasa tertekan.


"Junpyo-ya, apakah tidak sebaiknya kamu menghubungi Jaekyung dan mengundangnya makan malam di sini? .. Sudah lama rasanya omma tidak melihat anak itu! .. dan hmm .. bagaimanapun juga, apapun yang terjadi di antara kalian, persahabatan sejak kecil tidak akan putus begitu saja, kan?"

Junpyo mengalihkan perhatian ke Yong Hee, kemudian menjawab, pelan dan terdengar agak terpaksa,
"Kami baik-baik saja omma ... jadi jangan khawatir .. Tadi malam ... saya .. maksudnya kami .. F3 dan Jaekyung bertemu dan .. mengobrol sampai subuh .. "

Yong Hee mengangguk. Senyuman terhias di wajahnya yang masih cantik. Jun Hyun juga tersenyum. Mereka berdua telah mengenal Jaekyung sejak bayi jadi mereka mengerti hubungan antara putranya dengan gadis itu. Begitu juga dengan hubungannya dengan F3. Mereka berlima mempunyai hubungan yang sangat kental, bahkan melebihi hubungan saudara kandung.

Junpyo melirik kearah Jandi lagi. Sepasang tangan Jandi yang memegang garpu dan pisau tersampir di meja. Tidak bergerak. Kesibukkannya tadi berhenti sama sekali. Samar-samar Junpyo mendapati gadis itu menghembuskan nafas perlahan.

Junpyo mendesah pelan. Dia tidak mengerti apa arti dari sikap Jandi. Kemudian dia membungkuk kecil kearah Jun Hyun, Yong Hee dan nanny. Mundur kebelakang dan berbalik kembali ke tangga bundar di belakang.

"Kamu tidak sarapan dulu, Junpyo-ya?"

Pertanyaan Yong Hee menghentikan langkah Junpyo.
"Saya ada rapat penting hari ini jadi saya baru bisa makan setelah itu .. ", jawab Junpyo tanpa berpaling kearah mereka. Kemudian dia berlalu dari situ.

Yong Hee menghembuskan nafas panjang, "Anak ini!!",  dia tersenyum kearah nanny ketika menangkap pandangan bertanya dari orang tua itu.

Mereka lalu melanjutkan sarapan yang terganggu tadi.

"Sudah berapa lama kita tidak bertemu Jaekyung ya, appa? .... Hmmm sudah lebih dari dua tahun ya? ... Kalau tidak salah setelah putus dari Junpyo, anak itu menghilang begitu saja .. "

Jun Hyun segera menyentuh lengan Yong Hee dan mengeleng kearahnya. Dia memberi isyarat kepada istrinya untuk berhenti membicarakan itu dengan cara melirik ke Jandi. Yong Hee mengangga perlahan. Kemudian dia mengangguk ketika menyadari kata-kata yang keceplosan dari mulutnya tadi.

"Ohh .. Jandi-ya, omma berharap kamu jangan salah paham .. Junpyo dan Jaekyung sudah bersahabat sejak kecil, begitu juga dengan Jihoo, Yijeong dan Woobin .. Walaupun mereka berdua pernah kencan dua setengah tahun yang lalu, tapi itu hanya berlangsung selama setengah tahun .. Sekarang mereka hanya sebatas sahabat dekat saja, tidak lebih dari itu ... "

Jandi tersenyum perlahan.
"Omma tidak perlu menjelaskan itu padaku ... Saya tidak apa-apa!!"

Yong Hee segera memprotes perkataan Jandi,
"Omma tidak tahu apakah Junpyo sudah menceritakan semua hubungan pribadinya dulu kepadamu atau tidak, tapi melihat sikapnya tadi, omma yakin dia belum melakukannya ... Omma ingin kamu mengetahui satu hal Jandi-ya, walaupun kami menyukai Jaekyung dan pernah berharap dia bisa menjadi menantu kami .. tapi sekarang hanya kamu menantu kami, tidak ada yang lain dan kami juga tidak mau menerima yang lain .. Kami mencintaimu Jandi-ya,  ... bagaimanapun sikap Junpyo padamu, kami tidak akan membiarkannya menyakitimu, percayalah pada kami .. "

Jandi semakin memperlebar senyumannya. Sepasang matanya berkaca-kaca karena terharu dengan perkataan Yong Hee. Sedangkan nanny mendesah pelan di tempatnya. Hampir tidak terdengar tapi sempat tertangkap mata Jandi.
"Terima kasih omma dan appa .. Saya tahu kalian mencintaiku, karena itu pula saya akan bertahan di sini, sampai .. sampai .. saya tidak punya alasan lagi untuk bisa mempertahankan hubungan ini ... "

Sambil mengatakan ini, mata Jandi melirik ke nanny. Wanita setengah baya itu menatapnya dengan pandangan sendu. Nanny tidak menyetujui perkataan yang baru saja dikeluarkannya, Jandi tahu itu, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia harus memilih antara kasih dari mertuanya dan ketidakpersetujuan dari nanny.


**************


Jandi sedang merapikan kamarnya ketika nanny masuk ke ruangan tanpa bersuara. Junpyo sudah berangkat ke kantor waktu itu. Suara dehaman pelan membuat Jandi segera berpaling kearah pintu.

"Ohh nanny!!", seru Jandi.

"Kenapa? .. Tidak mengharapkan kehadiran nanny?"

"Tidak! .. Bukan begitu!! .. Mengapa nanny menjadi sensitif begini? .. A .. ada apa sebenarnya?", tanya Jandi gugup.

Dia segera berjalan ke nanny dan membimbingnya ke sofa yang terletak di sudut ruangan.

"Ada yang ingin nanny bicarakan denganmu!!"

Jandi mengarahkan perhatiannya ke nanny.

"Bagaimana kehidupan pernikahanmu, Jandi-ya?", tanya nanny dengan pandangan menyelidik.

Jandi menjadi gugup, "Ba .. ba .. ik ", suaranya terdengar bergetar.

"Baik??", nanny kedengaran tidak mempercayainya, "Jika memang baik mengapa dia sampai semalaman tidak pulang ke rumah dan tidak juga mengabarimu?", lanjut nanny.

"Mungkin .. dia .. dia lupa memberitahuku .. ", jawab Jandi. Dia berusaha menekankan jawabannya walaupun dia tidak yakin dengan jawabannya sendiri.

"Lupa? ... Ohh Jandi-ya, kamu mengira bisa membohongi nanny? ... jangan lupa kalau nanny yang membesarkanmu!!"

Kepala Jandi tertunduk perlahan. Dia kelihatan bodoh di hadapan nanny. Benar kata wanita tua itu, bagaimana mungkin dia dapat membohongi nanny. Wanita ini tahu segalanya.
"Miane .. nanny "

"Nanny tidak ingin mendengar permintaan maaf darimu, Jandi-ya .. Kamu tidak bersalah padaku .. Yang kamu sakiti bukan nanny tapi nak Jaehae .. ".

Kepalanya Jandi tertunduk semakin dalam.

"Jandi-ya, tahukah kamu kalau nak Jaehae akan kembali ke Roma besok?", lanjut nanny lagi.

Jandi sangat terkejut. Dia langsung mengangkat wajah ke nanny.
"Oppa akan pergi .. besok?"

Nanny mengangguk, "Iya .. Nak Jaehae menghubungi nanny tadi pagi ...", dia memperhatikan sikap Jandi, kemudian melanjutkan perkataannya, "Kamu jangan salah sangka kalau nak Jaehae yang meminta nanny untuk memberitahu keberangkatannya padamu .. Sama sekali bukan Jandi-ya .."

"Saya .. saya tidak pernah menyangka begitu .. ", jawab Jandi pelan.

"Mengetahui pernikahanmu yang tidak diketahui oleh nanny, nak Jaehae ingin memastikan keadaan nanny jadi dia menghubungi nanny di Roma kemarin dan lewat pelayan di sana, dia mengetahui kepulangan nanny ke sini ..", nanny memperhatikan Jandi yang membisu di tempatnya, "Nak Jaehae memberitahu kepulangannya besok ke nanny tapi dia meminta nanny untuk tidak memberitahukannya kepadamu .... ", lanjut nanny.

Jandi tetap tidak bergerak dari sikapnya semula.


"Kamu tahu apa maksudnya, Jandi-ya? ... Karena nak Jaehae tidak ingin melihat posisimu terpojok di keluarga ini, karena itu dia meminta dengan sangat supaya nanny tidak mengatakannya kepadamu ...", nanny berhenti sejenak, kemudian melanjutkan perkataannya lagi, "Tapi setelah nanny memikirkannya dengan seksama .. sebagai seorang sahabat yang sudah saling mengenal selama sepuluh tahun, nanny rasa sebaiknya kamu menemuinya .. apapun persoalan di antara kalian harus diselesaikan baik-baik ... "

Jandi mengeleng perlahan, "Saya tidak bisa .. nannya"

"Mengapa tidak bisa? Kamu takut pada suamimu? ... Jandi-ya, jika benar dia suamimu, dia harus menghormati kehidupan pribadimu .. Selain keluarga, kamu masih harus berhubungan dengan dunia luar dan teman sejati juga termasuk di dalamnya .."

Jandi bergeser dari duduknya. Dia kelihatan gelisah.

"Temuilah dia Jandi-ya!! ... Kamu tidak ingin persahabatan selama sepuluh tahun putus begitu saja, kan?"

"Tapi .... ", Jandi masih kelihatan ragu.

"Kamu bisa pulang sebelum kepulangan suamimu dari kantor! .. Hanya sebentar Jandi-ya, ... berilah waktu pada dirimu sendiri untuk mengendorkan urat-urat syarafmu yang tegang .. Nanny akan menghubungi nak Jaehae dan membuat perjanjian untukmu .. "

Setelah memikirkan semua itu selama beberapa menit. Akhirnya Jandi tersenyum perlahan dan mengangguk ke nanny.


***************


Dua setengah jam kemudian, Jandi sampai di restoran Italia yang berada di pusat kota sesuai perjanjian yang telah dibuat dengan Jaehae. Dia diantar masuk oleh seorang pelayan berseragam hitam putih. Jaehae sudah memesan sebuah ruangan khusus buat pertemuan mereka. Semua makanan sudah terhidang di meja bundar besar dengan seprai krem lembut bermotif bunga-bunga kecil itu. Musik lembut terputar dari mesin kuno di sudut ruangan. Pelayan yang mengantar Jandi tadi membungkuk hormat kepada mereka, kemudian berlalu dari situ.

"Duduklah, Jandi-ya ..", Jaehae mengulurkan tangan ke kursi yang berada di dekat Jandi sambil tersenyum lembut.

Jandi mengangguk, kemudian mendorong kursi itu kebelakang dan mendudukinya.
"Gumawo oppa .. "

"Kamu kelihatan pucat .. Apakah kamu baik-baik saja?", tanya Jaehae, penuh kekhawatiran.

"Ohhh gwencana .. Saya baik-baik saja ... ", jawab Jandi cepat.

Jaehae mengangguk. Senyuman kembali menghiasi wajahnya yang putih pucat.
"Kalau begitu ... mari kita mulai makan lunch yang sudah disajikan .. "

Jandi tersenyum. Lalu mereka mulai menyantap makan siang yang terhidang di atas meja. Mereka menikmati makanan tersebut tanpa mengeluarkan suara. Hanya suara garpu dan pisau beradu dengan piring dan alunan musik lembut yang terdengar dari ruangan itu.


Hampir setengah jam mereka gunakan untuk menghabiskan makanan di atas meja. Setelah mengelap mulut dengan serbet dan menghirup anggur dari gelas masing-masing, mereka mulai mengeluarkan suara.

"Bagaimana menurutmu makanan dan anggur ini?", tanya Jaehae.

Jandi mengangkat gelas anggur di tangannya, "Sempurna ... Oppa selalu tahu mana anggur yang istimewa .. tapi ... hmmm .. makanan-makanan itu tidak sesempurna anggur ini .. "

"Setelah tinggal beberapa lama di Korea ternyata Jandi masih bisa membedakan mana makanan yang lezat dan mana yang tidak!! ..", Jaehae  terkekeh perlahan.

Jandi tertawa renyah ketika menangkap godaan dari perkataan Jaehae, "Ha .. ha .. oppa sengaja menanyakan pertanyaan itu, kan? ... Hmmm walaupun statusku sudah berubah, aku masih saja Jandi yang dulu ... "

Jaehae mengangguk, "Benar, kamu tetap saja Jandi yang dulu .. Jandi si rakus, ha ..ha .. , Jangan cemberut begitu, oppa cuma bercanda !! ..", Jaehae tertawa keras melihat Jandi memonyongkan bibirnya, "Yah ... di sini Korea bukan Roma .. jadi tidak mungkin mendapatkan makanan Italia yang benar-benar lezat  .. "

Jandi menyetujui perkataan Jaehae. Memang benar, ini Korea, dan tidak seharusnya dia mengharapkan makanan khas Italia yang istimewa di sini. Dia merasa mulai sekarang dia harus menyesuaikan diri dengan kehidupan di sini. Yang terutama adalah makanannya.

Jandi memperhatikan Jaehae dengan seksama. Dia bersyukur pembicaraan antara mereka hanya perbincangan ringan. Hanya berkisar dari makanan, keadaan perusahaan masing-masing dan kehidupan masa kecil. Jaehae tidak menyinggung hubungan persahabatan di antara mereka, yang hampir menuju ke hubungan yang lebih serius dua bulan yang lalu. Jaehae sudah mulai bisa menerima kenyataan ini. Satu hal yang tidak diketahui Jandi. Jaehae bisa melepaskannya dengan mudah karena dia bisa melihat perasaan Jandi yang sebenarnya ke Junpyo. Jaehae tahu kalau Jandi sudah jatuh cinta pada Junpyo.


***************


Junpyo pulang dari kantor agak awal sore itu. Karena semalaman tidak tidur, kepalanya terasa pusing, jadi dia memutuskan untuk beristirahat di rumah. Junpyo sampai ke rumah sebelum kepulangan Jandi. Dia memasuki rumah dengan tampang dingin, tanpa senyuman. Semua pelayan yang melihat itu segera menghindarinya.

Junpyo sampai di kamarnya sendiri di lantai atas. Dahinya berkerut. Dia tidak mendapati Jandi di ruang bawah tadi, begitu juga di kamar ini.
"HEIIIII ....  !!!", teriakannya mengetarkan seisi ruangan.

Seorang pelayan muda tergopoh-gopoh menghampirinya.
"Dhore-nim ... a .. ada ... perintah ...  apa?"

"Jandi, .... Maksudku, agashi ... ada di mana?", tanya Junpyo gusar.


Pelayan itu tampak kebinggungan. Kepergian Jandi memang tidak diketahui oleh para pelayan.
"Sa ... sa ... ya ... "

"Mengapa tergagap-gagap? .... DIMANA AGASHI KATAKU?", Junpyo mulai kehilangan kesabarannya.

"Jangan bertanya padanya .. Dia tidak tahu apa-apa!!"

Junpyo berpaling kearah suara itu. Nanny sudah berdiri di ambang pintu.
"Nanny!! ... "

"Jandi ada acara di luar ... ", jawab nanny.

Junpyo langsung mengerutkan dahinya, "Acara? ... Acara apa? ... Apakah dia lupa kalau tanpa ada ijin dariku, dia tidak boleh keluar dari rumah ini?"

"Jandi bukan hidup dalam penjara, Junpyo dhore-nim ... Dia juga mempunyai kehidupan sendiri ", jawab nanny pendek.

"Tapi dia sudah berjanji padaku .... Itu sudah menjadi perjanjiannya ketika memasuki rumah ini!!!", Junpyo bersikeras dengan perkataannya.

"Apakah anda tidak merasa kalau sikap anda terlalu kekanak-kanakan dan terlalu memaksakan kehendak sendiri dhore-nim ... ".

Nanny menatap tajam ke Junpyo. Tidak ada perasaan gentar dalam hatinya ketika menghadapi pemuda ini. Tampang garang Junpyo tidak mempan di nanny.

"Sa .. ya ... ka .. mu ....", Junpyo menjadi serba salah. Tangannya terangkat ke nanny. Perkataannya tidak dimengerti sama sekali.

Dan sebelum dia berhasil menguasai dirinya untuk membantah nanny, Jandi muncul di ambang pintu.
"GOO JUN PYOO!!", teriakan keras keluar dari mulut Jandi, "Mengapa.... mengapa ... kamu pulang seawal ini?"

Junpyo mengalihkan perhatiannya ke Jandi, "Kenapa? ... Tidak bolehkah? ... Apakah saya merusak acaramu dengan kepulangan yang terlalu dini ini? .... Yaaaa Geum Jan Di, kamu sudah berani main di belakangku ya? .. Siapa yang mengajarimu?"

Pertanyaan bertubi-tubi dari Junpyo membuat Jandi pusing tujuh keliling. Mulutnya mengangga tanpa ada suara yang keluar.

"Dhore-nim, apakah anda menganggap Jandi seorang tertuduh? ... Dia cuma keluar sebentar .. Tidak seharusnya anda bersikap seperti itu!!", perkataan nanny mendahului jawaban yang sudah siap meluncur keluar dari mulut Jandi.

"Saya .. saya cuma ingin mengetahui kemana dia pergi ... Sebagai suaminya saya berhak mengetahui segalanya ... ", bela Junpyo.

Nanny membuka mulutnya. Tapi sebelum dia berhasil mengeluarkan suara, Jandi sudah membalik badannya kearah pintu,
"Nannya .. saya mohon, biarkan kami yang menyelesaikan masalah ini ...", bisik Jandi di telinga nanny.

Wanita setengah baya itu menatapnya dengan pandangan tidak yakin.
"Please!! ... ", Jandi berbisik lagi dengan penuh harap.

Akhirnya nanny mengangguk kemudian melangkah keluar dari kamar itu diikuti oleh pelayan muda yang dari tadi membeku di tempat. Jandi menghembuskan nafas lega. Perlahan dia menutup pintu itu.

"SEKARANG JAWAB PERTANYAANKU!!"

Perkataan keras itu menghentak Jandi. Tubuhnya langsung menegang. Lalu dia berbalik menghadapi Junpyo.
"Apa yang ingin kamu ketahui?"

"Semuanya!! .. Kamu dari mana saja? Pergi dengan siapa dan mengapa tidak memberitahuku?"

Junpyo memandang tajam ke Jandi. Urat-urat lehernya sudah menegang semua. Matanya seakan mengobarkan sinar api yang bersiap melahap Jandi.

"Saya minta maaf karena tidak memberitahumu .. saya tahu ini kesalahanku, miane .. ", jawab Jandi halus. Dia tidak ingin bertengkar. Melihat kemurkaan Junpyo, dia merasa lebih bijaksana kalau dia mengambil jalan halus dalam menghadapinya.

Junpyo langsung tertegun. Tidak biasanya Jandi tidak membalas kemarahannya dengan teriakan. Sekarang giliran dia menjadi serba salah.
"Tentu ... tentu saja ... itu ke .. salahanmu  ... ", ujarnya terputus-putus.

Jandi tersenyum, "Iya, kesalahanku ... Tadi saya dari restoran Italia bersama Jaehae oppa .."

"APAAAAAAAAAAA??", teriak Junpyo keras. Setelah kemarahannya yang agak mereda tadi, sekarang meledak lagi, "JAEHAE KATAMU!!! ... MENGAPA DIA? ... MENGAPA HARUS DIA? .. KAMU SENGAJA MEMPERMAIKANKU YA, JANDI-YA?"

Wajah Jandi langsung berkerut, "Apa maksudmu dengan perkataan 'sengaja mempermainkanmu?' ... Saya tidak mengerti!! ... Jaehae oppa adalah seorang sahabat sejati bagiku, bahkan lebih dari itu .. "

"Ho hoo .. bagus Jandi-ya!! .. Akhirnya kamu mengaku juga kalau dia melebihi seorang sahabat bagimu!!! ... Kamu jangan lupa Jandi-ya, saya adalah suamimu!!! ... CUMA SAYA SEORANG YANG SEHARUSNYA ORANG YANG PALING PENTING DALAM HATIMU .. BUKAN PRIA LAIN ..."

Junpyo mendekati Jandi. Wajahnya sangat garang dan ganas. Jandi langsung mundur beberapa langkah ke belakang. Tapi sampai langkah kelima tubuhnya sudah membentur dinding. Dia terpojok. Tidak ada jalan buatnya untuk melarikan diri. Sekarang Junpyo sudah berdiri di depannya. Sangat tinggi dan menjulang. Kelihatan menakutkan. Jandi mengigil ketakutan.
"Ka .... mu ... mau .. a .. a ..pa ..?"

"Kamu takut saya akan memukulmu? Kamu mengira saya pria seperti itu?", suara Junpyo terdengar parau dan rendah. Kalau saja Jandi tidak sedang ketakutan pasti dia akan mendapati kalau suara itu kedengaran sangat memikat.

"TIDAAKKK!! .. Bukan begitu! .. saya ... saya ... ", Jandi menjadi semakin gugup dan takut. Dia menyusut di tempatnya. Selama dua menit lamanya mereka berada dalam posisi yang sama. Tidak ada yang bersedia mengambil langkah lebih lanjut. Kemudian sesuatu teringat oleh Jandi. Perbincangannya dengan omma dan appa Junpyo merayap masuk ke dalam pikirannya. Tampangnya langsung mengeras.

"SUAMI KATAMU? ... JIKA BENAR KAMU SUAMIKU, KAMU TIDAK AKAN BERSIKAP SEPERTI INI TERHADAPKU, TIDAK AKAN MEMARAHIKU DAN BISA MENGHORMATI KEPUTUSANKU .. JIKA BENAR KAMU SUAMIKU, KAMU TIDAK AKAN MELARANGKU MENEMUI KELUARGA DAN TEMAN-TEMANKU ... JIKA BENAR KAMU SUAMIKU, KAMU AKAN MENJAGA PERASAANKU ... JIKA BENAR KAMU SUAMIKU, KAMU TIDAK AKAN KELUAR DENGAN JAEKYUNG APALAGI KELUAR SEMALAMAN .. JIKA BENARRR ........"

Perkataan Jandi yang bertubi-tubi itu terpotong ketika Junpyo dengan mendadak memegang erat wajahnya dengan kedua tangan dan mendaratkan ciumannya. Jandi langsung tersentak. Dia tidak siap menerima perlakuan ini. Sepasang matanya terbelalak lebar. Junpyo semakin mendalamkan tancapan bibirnya. Mata Junpyo terpejam. Nafas Jandi tertahan ketika dia merasakan sesuatu yang hangat memasuki bibirnya. Lidah Junpyo bermain di dalam bibirnya dengan panas.



Hati Jandi semakin terguncang. Tapi detik berikutnya, matanya terpejam perlahan. Hembusan nafas hangat dari hidung Junpyo membuat pikirannya melayang. Mulutnya mulai bergerak ketika Junpyo mulai melumat bibirnya. Dia membalas lumatan Junpyo. Desahan kecil keluar dari Jandi.


Junpyo berdeham pelan dan menurunkan tangannya ke pinggang Jandi. Dia memeluk Jandi erat-erat. Sementara itu bibirnya terus melumat bibir Jandi dengan ganas. Jandi membalasnya dengan tidak kalah ganasnya. Bibir Jandi hampir tenggelam dalam bibir Junpyo. Perlahan Junpyo meneruskan ciuman ke hidung kemudian ke telinga Jandi.
"Kamu sangat hebat ... ", desahnya lembut.

"Ahhhhhhh ..... ", balas Jandi.

****************


cre all pics, as labeled@baidu

bersambung ke chp 4 ~~~~

Vayza

Posts : 10
Join date : 2013-06-15

View user profile

Back to top Go down

My Everything Season 1 Chapter 4

Post by Vayza on Sun Jun 30, 2013 11:28 pm

My Everything Season 1

by Lovelyn

CHAPTER 4




Junpyo mengangkat tangan yang melingkari pinggang Jandi. Mengelus lembut wajahnya. Sepasang mata Jandi masih terpejam. Desahan pelan keluar dari mulutnya. Junpyo menunduk dan menempelkan bibirnya ke bibir Jandi yang agak mengangga, mengecupnya perlahan. Hanya berupa ciuman pendek.


"Hhhhh ..... ", desahan Jandi terdengar makin jelas.

Junpyo mendaratkan ciumannya lagi, dua kali berturut-turut. Kilat dan menyentuh halus.

"Jandya ... ", panggil Junpyo, sangat pelan dan hampir tak terdengar, setelah ciuman tadi.

"Emhhhh ...??", Jandi membuka mata perlahan.

Pandangan mereka langsung bertemu. Sepasang mata yang bersinar  redup akibat perasaan yang masih melayang setelah ciuman tadi. Junpyo kembali meraba wajah Jandi yang merona.

"Tentang Jaekyung ... "

Sebelum Junpyo sempat menyelesaikan kata-katanya, Jandi sudah mengangkat tangan dan menutup mulut Junpyo dengan  tangannya.

"Kamu tidak perlu menceritakan itu padaku .... "

Dengan sigap Junpyo melepaskan bekapan tangan Jandi dari mulutnya,
"HARUSSSSSSSS!!!!!", katanya keras,  sampai-sampai mengangetkan Jandi.

Pandangan gadis itu langsung melebar ke Junpyo,
"Ottoke?", tanyanya keheranan.

Junpyo menatap Jandi lekat-lekat,
"Karena ... saya tidak ingin hubungan kita begini terus-menerus, tanpa kemajuan sedikitpun, hanya berhenti di satu titik, nol besar .. saya tidak ingin hubungan seperti ini ... Jadi .. saya mengambil keputusan untuk memulainya sekarang, yaitu dengan menceritakan semua hubungan masa laluku ... Saya berharap setelah ini  .. hubungan kita akan berubah ..."

Jandi membisu. Kepalanya tertunduk perlahan. Dia tidak sanggup membalas pandangan Junpyo. Kemudian Junpyo bergerak pelan, tangannya mengenggam erat tangan Jandi.
"Ayo .. ikut denganku!". Junpyo sedikit menarik tangan Jandi.

"Kemana?"

Junpyo tidak menjawab. Dia membawa Jandi ke ranjang, kemudian mendudukkannya di situ.
"Sekarang dengarkan ceritaku!"

Jandi mengangguk. Sepasang matanya berkedip berkali-kali, menyimak seksama apa yang akan dikatakan Junpyo.


"Saya dan Jaekyung ... oh, tidak! bukan hanya dengan Jaekyung, tapi juga dengan Jihoo, Yijeong dan Woobin, kami berlima sudah saling kenal sejak ... mungkin sejak dalam kandungan, kalau kamu mengerti apa maksudku, ... Orangtua kami bersahabat baik karena itu hubungan kami sangat dekat, bahkan boleh dikatakan kedekatan itu melebihi hubungan saudara .. Karena kami berlima tidak mempunyai saudara kandung maka kami bisa saling melengkapi satu sama lain ..", Junpyo berhenti sejenak.

Jandi memperhatikannya, kemudian berkata, "Saya sudah mengetahui itu dari appa dan omma."

Junpyo mengangguk, lalu melanjutkan ceritanya,
"Sampai kami dewasa, kami menyadari kalau hubungan cinta dan pernikahan tidak berada di tangan kami sendiri .. Dari dulu pernikahan di keluarga kami selalu diatur orangtua, sangat mustahil kami bisa menikah dengan orang yang kami cintai .. Tapi aku, Goo Jun Pyo! tidak mau menyerah begitu saja .. Saya ingin membuktikan ke appa dan omma kalau saya juga bisa mendapatkan seorang gadis yang benar-benar saya cintai .. dan mereka harus menerimanya. Karena itu terjadi kesepakatan antara saya dan appa .. dia memberi waktu lima tahun padaku, apapun yang akan kulakukan dan siapapun gadis yang kukencani, mereka tidak akan campur tangan tapi jika dalam waktu lima tahun itu, saya tidak berhasil menemukan gadis idaman yang akan kunikahi, maka saya harus menerima pilihan mereka tanpa dapat diganggu-gugat ..", Junpyo menarik nafas sebentar, kemudian melanjutkannya lagi, "Selama lima tahun saya telah berkencan dengan beberapa wanita .... "

"Beberapa?", potong Jandi dengan nada tak percaya.

Junpyo tergangga, agak grogi ketika melanjutkan perkataannya, "Well ... baiklah! saya akan jujur .. mungkin lebih dari beberapa ... ", Junpyo semakin serba salah ketika menangkap sinar mata menyelidik Jandi, "Beberapa puluh, ok? .. saya .. saya tidak ingat lagi jumlah sebenarnya .. hei! jangan memandangiku seperti itu dan .. jangan berpikiran tidak-tidak! hubungan itu bukan hubungan seperti bayanganmu ... Hubungan tersebut hanya sebatas saling memahami perasaan masing-masing ...Semua hubungan itu tidak lama, paling lama hanya bertahan dua bulan ..."

"Lalu bagaimana dengan Jaekyung?"

"Jaekyung! ... Sekitar dua setengah tahun lalu, setelah tidak berhasil dengan beberapa wanita yang kukencani sebelumnya, saya memutuskan untuk mencobanya dengan Jaekyung, karena perasaanku padanya berbeda dengan wanita-wanita sebelum itu jadi saya berpikir mungkin saya akan mencintainya .. Tapi hubungan itu hanya berjalan setengah tahun, hubungan yang hambar, tidak ada bumbu sama sekali, lebih parah dari persahabatanku dengannya .. karena itu saya memutuskannya ... "

"Apakah dia tidak menolak ketika kamu memutuskannya?", Jandi bertanya serius.

"Dia memprotes mati-matian .. Katanya, dia sangat mencintaiku dan tidak dapat hidup tanpaku .. Tapi, walaupun dia merengek memintaku kembali ke sisinya tetap percuma saja karena saya tidak punya perasaan apa-apa padanya selain perasaan sebagai seorang sahabat sejati yang melebihi seorang saudara .. ", Junpyo kelihatan menyesal ketika menceritakan ini.

Setelah terbatuk kecil, Junpyo melanjutkan perkataannya, "Sekarang giliranmu ..."

"Mo?"

"Bagaimana hubungan masa lalumu?"

"Tidak ada yang istimewa .. ", jawab Jundi.

"Tidak ada?"

"Ya, tidak ada!!"

"Lalu bagaimana dengan .. Jung Jae Hea-ssi?", Junpyo menatap Jandi dengan pandangan tajam.


"Jaehae oppa? ... saya mengenalnya sepuluh tahun yang lalu, dia sangat menjagaku ... "

"Bagaimana hubungan kalian?"

"Tidak lebih dari sahabat baik .. sampai .. "

"Iya, sampai apa?", tanya Junpyo menyelidik.

"Sampai oppa mengajakku bertunangan dua setengah bulan yang lalu, saat kepulanganku yang terakhir ke Korea .. "

"Kamu tidak menerimanya?"

"Tidak, saya tidak menerimanya, tapi saya juga tidak menolaknya .. saya berjanji akan memikirkannya dan memberikan jawaban begitu pulang ke Roma, tapi ... ", Jandi menghentikan perkataannya.

"Tapi karena peristiwa yang terjadi antara kita membuatmu melupakan perjanjian itu, benar begitu kan?"

Jandi menatap Junpyo dengan tajam, "Tidak seluruhnya!! .. Yang sebenarnya adalah setelah perjanjian yang kami buat, saya .. saya ... melupakannya sama sekali .. Saya juga tidak tahu mengapa .. Mungkin benar kata Jaehae oppa, kalau saya .. saya tidak menganggap penting perjanjian itu ... "

"Apakah kamu menyesal Jandya?", tanya Junpyo. Nada suaranya penuh tekanan.

Jandi tidak memberi tanggapan lebih lanjut. Dia membisu di tempatnya. Begitu juga dengan Junpyo. Mereka berada dalam posisi itu selama sepuluh menit. Lalu Jandi mengeluarkan suaranya, "Hmmm .. jika boleh saya tahu .. kalau kamu tidak menyetujui pernikahan yang diatur orangtua, mengapa kamu menyetujui pernikahan kita? ... Apakah benar-benar cuma karena perjanjian dengan appa?"

Junpyo terpaku mendengar pertanyaan itu. Apakah dia harus menjawabnya? Apa reaksi Jandi jika dia menjawab 'iya'. Apakah Jandi akan memaafkannya? Dia tidak yakin akan itu. Junpyo berdiam diri selama beberapa menit. Sebelum akhirnya dia berkata perlahan, "Jandya ..!"

Jandi menoleh ke Junpyo dengan sinar mata bertanya. Junpyo berhenti sejenak, seperti ragu melanjutkan kata-katanya. Kening Jandi berkerut. Melihat ekpresi wajah Jandi, akhirnya Junpyo mengeluarkan pertanyaannya, "Apakah .. kamu .. mencintaiku?"

Sepasang mata Jandi langsung terbelalak lebar. Dia tidak menyangka Junpyo akan menanyakan pertanyaan luar biasa itu. Dia berdeham keras. Gugup dan serba salah. Dengan cepat dia berdiri dari ranjang.
"Ehemmm .. ada .. ada .. yang ingin saya .. bicarakan dengan ... dengan nanny .... "

Jandi berbalik kearah pintu. Dia melangkah ke sana dengan terburu. Langkahnya sangat lebar.

"Jandya!!!!!", panggil Junpyo.

Langkah Jandi terhenti di tengah Jalan. Panggilan keras itu seakan memiliki tenaga untuk menariknya kembali ke samping Junpyo. Perlahan Jandi berbalik, menghadapi Junpyo. Sinar mata keduanya bertemu. Junpyo memandangi Jandi dengan penuh harap. Menanti jawaban yang sangat ingin didengarnya. Sedangkan Jandi masih tidak mampu menjawab. Kebisuan dan keheningan dalam ruangan itu membuat telinga mereka berdenging.

"Jandya ....???"

Jandi mengigit bibirnya. Suaranya masih sulit dikeluarkan ketika dia menjawab pertanyaan itu. Agak tersendat, dia berkata, "Saya .. saya tidak tahu .. Saya benar-benar tidak bisa menjawabnya .. dan .. saya juga tidak mau menjawab sesuatu yang belum pasti!! .. Miane, ... Jika saya bertanya pertanyaan yang sama padamu, saya yakin kamu juga tidak bisa menjawabnya! .. bukankah begitu, Junpyo-a?"

Jandi menatap Junpyo seksama. Tapi itu hanya sebentar saja. Detik berikutnya, dia sudah berbalik lagi kearah pintu. Ketika dia berniat pergi dari kamar itu, jawaban Junpyo mengejutkannya.

"Saranghe!!"

Jandi langsung membalikkan tubuhnya. Sepasang matanya terbelalak lebar. Dia menatap Junpyo dengan pandangan tak percaya. Apakah yang tertangkap oleh pendengarannya itu tidak salah? Junpyo baru saja mengungkapkan cintanya? Semudah itu dia mangakui perasaannya sendiri?

"Mhoragu??"

"Saya bilang SARANGHE!! .. Dan saya bersungguh-sungguh, Jandya! .. Saya sangat menyadari perasaan sendiri .. Saya tidak pernah cemburu tidak jelas terhadap seorang pria, tidak pernah ingin membahagiakan seseorang, tidak pernah merasa bersedih dan merana melihat penderitaan seseorang dan juga tidak pernah melakukan sesuatu tidak jelas hanya untuk melihat seorang wanita tersenyum dan tertawa, hanya kamu!! ... hanya di dalam kamu saya menemukan perasaan itu ... perasaan yang membuatku sangat dongkol, benci dan sekaligus tersenyum sendiri seperti orang gila ...", Junpyo berhenti sebentar, memandangi Jandi yang membisu. "Dan apakah kamu tahu perasaan apa itu, Jandya? Cinta! .. Itu adalah cinta! .. sesuatu yang tidak pernah kurasakan sebelum kehadiranmu dalam kehidupanku .. "

Jandi memejamkan mata perlahan. Apa yang harus dilakukannya? Walaupun dia mempunyai perasaan yang sama dengan Junpyo tapi dia belum yakin kalau perasaan itu adalah cinta. Masih terlalu dini untuk mengambil keputusan dari perasaan yang belum jelas ini.

"Jandya .."

Panggilan pelan itu menyadarkan Jandi dari lamunannya. Matanya terbuka perlahan.
"Miane .. jeongmalmiane, Junpyo-a ... Saya .. saya belum bisa memberi jawaban dari .. dari pertanyaanmu tadi .. Saya .. saya belum yakin ... saya ...", perkataan Jandi terhenti setengahnya.

Junpyo menghembuskan nafas perlahan.
"Gwencana, Jandya .. Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang .. Saya akan menunggu, sampai kapanpun saya akan menunggumu ... ", kemudian Junpyo tersenyum perlahan, "Jika kamu bersedia menerima cintaku, saya akan merayakan pesta pernikahan kita secara besar-besaran ..."

Jandi ikut tersenyum mendengarnya, "Yaaaa .. kamu tidak perlu melakukan itu!!"

"Mengapa tidak? .. Kamu adalah segalanya bagiku!!"

Jandi tersipu malu. Pipinya memerah, semerah tomat. Junpyo terbahak melihat ekspresi wajah Jandi. Junpyo berdiri dari duduknya. Dia menghampiri Jandi yang masih berdiri dekat pintu. Wajahnya menunduk, hanya berjarak beberapa inchi dari wajah Jandi. Jandi sangat terkejut dan segera mundur beberapa langkah ke belakang.

"Yaaaa .. apa yang ingin kamu lakukan?", protes Jandi.

Junpyo semakin terbahak, "Ha .. ha .. ha .. tenang saja, saya tidak akan memakanmu, walaupun .. hmmm .. saya ingin melakukannya!!"

Godaan Junpyo tepat pada sasaran. Mata Jandi terbelalak lebar. Dia sangat terguncang dengan perkataan itu.
"GOO JUN PYOOOOOO!!!!!"

"Ha .. ha .. ha .... ", Junpyo tertawa keras. Tapi langsung terhenti ketika Jandi melempar sebuah buku yang diraih dari lemari dekat pintu kearahnya. Buku itu sukses mengenai dada Junpyo.
"Ahhh .... ok .. ok .. serius sekarang!!". Junpyo menatap Jandi dengan mata bersinar, "Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu!"

Jandi langsung mendelik. Perasaan curiga menghantuinya.
"A .. ada .. apa? ... Awas kalau kamu mengatakan yang tidak-tidak!!"

"Tidak! Kali ini sangat serius .. Saya sudah membicarakan kelanjutan kuliahmu dengan tuan Kim dan mulai besok atau kapanpun kamu suka, kamu bisa memulai kuliahmu di universitas Shin Hwa .. Bagaimana? Kamu senang kan mendengar berita ini ... ". Junpyo tersenyum bangga.

Mulut Jandi langsung mengangga.
"APAAAA?? ... Dan kamu .. kamu tidak membicarakannya dulu denganku?"

"Saya bermaksud memberi kejutan padamu ... dan ini dia, surpriseeeee!! ... , kamu bahagia kan?"

Mata Jandi terpejam karena menahan gejolak emosinya. Orang ini tidak bisa berubah. Tetap saja seenak perutnya.
"TIDAKKKKK!! SAYA TIDAK BAHAGIA!!"

"Mengapa?", tanya Junpyo heran.

"Saya tidak membutuhkan kejutan darimu!! .... Saya mohon, lain kali kalau kamu mau melakukan sesuatu dirundingkan dulu denganku .. Saya tidak mau mendapat kejutan yang dapat membuat jantungku berhenti berdetak seketika setiap saat ..", jawab Jandi kesal.

Wajah Junpyo berubah sendu. Dia tidak pernah berpikir kalau Jandi tidak menyukai kejutan darinya.
"Mian ... Saya tidak tahu kalau kamu tidak menyukainya .. Saya hanya bermaksud menghiburmu .. Saya tahu kamu selalu kesepian di rumah ini dan saya juga tahu kalau kamu sangat mencintai sekolahmu .... sekali lagi miane Jandya .. "

Tampang sedih Junpyo membuat Jandi tidak tega melihatnya. Apalagi ditambah penjelasan yang diberikannya tadi, membuat Jandi terharu.
"Sudahlah! .. lupakan saja masalah itu, tapi ingat, lain kali jangan melakukannya lagi! ... Saya akan merasa bahagia jika kamu menceritakan semuanya terlebih dahulu padaku ... "

Junpyo tersenyum perlahan. Kesedihan tadi langsung terlupakan olehnya.
"Jadi kamu tetap senang kan dengan kejutanku itu?"

Melihat sifat kekanak-kanakan Junpyo, Jandi tidak mampu menahan senyumnya.
"Iya, saya senang .. gumawo, Junpyo-a .. "

"YEAHHHHHHHHHHH!!!". Junpyo berteriak keras. Mendadak dia mengunci wajah Jandi dengan tangannya dan mendaratkan ciuman yang teramat panas di bibir Jandi. Disedotnya bibir mungil itu sepenuh hati. Keras dan agak menyakitkan, sehingga menyebabkan Jandi berteriak keras.


"AKHHHHHHHHHHH .. GOO JUN PYOOOOOOOOOO!!!!"


--------------------------------------


Setelah peristiwa diatas, hubungan Junpyo dan Jandi mulai berubah. Mereka lebih saling menghargai. Apapun akan dirundingkan terlebih dahulu. Dan jika ada masalah, mereka juga akan menyelesaikannya bersama.

Jandi memulai kuliahnya di universitas Shin Hwa, dua hari kemudian. Dia sangat bahagia bisa mendapatkan kebebasannya lagi. Walaupun setelah kuliah dia harus segera pulang ke rumah, sesuai perjanjiannya dengan Junpyo, dia tetap menikmati hari-hari menyenangkan pemberian Junpyo itu. Setelah pulang kuliah, dia akan mendapatkan Junpyo sudah menunggunya di rumah. Bahkan Junpyo juga sering menjemputnya di universitas Shin Hwa, memberi kejutan terus-menerus, tidak ada habisnya.

Junpyo menjadi betah di rumah setelah kedekatannya dengan Jandi. Dia! yang biasanya sering keluar sampai larut malam bahkan pulang pagi, sepulang dari kantor lebih memilih menghabiskan waktu di rumah bersama Jandi. Menonton DVD, main masak-masakan ataupun hanya bersendagurau sudah sangat membahagiakannya.


-----------------------------


Dua minggu kemudian, di suatu malam yang sangat indah. Rembulan bersinar penuh dari balik jendela. Sinarnya yang lembut menerobos masuk ke kamar Junpyo. Bintang-bintang juga bersinar terang, tidak tertutup awan. Pemandangan luar biasa yang jarang terlihat dari tempat itu.

Jandi baru membersihkan dirinya ketika Junpyo memasuki kamar. Penampilannya malam itu sangat luar biasa. Kemeja putih ketat membalut bagian atas tubuhnya. Otot-otot lengan dan dada terlukis jelas dari balik kemeja transparan itu. Dipadu jeans hitam ketat dan ikat pinggang perak berkilat melilit di pinggang membuat Junpyo kelihatan sangat mempesona. Apalagi .. sinar lembut rembulan dari luar jendela tepat menimpa sekujur postur tubuhnya yang sempurna.


Jandi mengigit bibir perlahan. Wajahnya mulai memerah. Dia agak gugup ketika Junpyo mendekatinya. Otot-otot di sekujur tubuh Junpyo makin terlihat jelas ketika dia bergerak. Jandi menelan ludah perlahan.

"Jandya, ganti bajumu! .. Kita akan keluar malam ini ... "

"Mho? ... Kemana?", tanya Jandi gugup.

Junpyo tersenyum. Dia tidak segera menjawab. Dia berjalan ke lemari baju dekat jendela. Membuka pintunya dan mengubek-ubek sebentar baju-baju dan gaun-gaun yang tergantung di sana. Kemudian dia mengeluarkan sebuah gaun pendek berwarna kuning terang. Menyodorkannya ke Jandi.
"Pakai ini!!"

"Mengapa harus memakai gaun?", kening Jandi berkenyit.

"Kita akan keluar .. ", Junpyo mengulangi jawabannya.

"Kemana?"

"Woobin menghubungiku tadi siang, katanya ada masalah penting yang mesti dibicarakannya .. dia juga mengundang, Yijeong dan istrinya, Jihoo dan juga Jaekyung ..."

"Jaekyung?", potong Jandi.

Junpyo tersenyum perlahan, "Iya, Jaekyung! .. kenapa? .. Kamu cemburu, Jandya?"

"Cihhhh .. mengapa saya harus cemburu?", Jandi segera mencibirkan bibirnya. Dia sangat grogi ketahuan Junpyo kalau dia merasa terganggu ketika mendengar nama Jaekyung.


"Ha .. ha .. ha .. Baiklah, kamu memang tidak perlu cemburu pada Jaekyung .. Saya sudah mengatakannya padamu kalau kamu segalanya bagiku, Jandya .. "

Jandi berdeham pelan, berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Ehmmmm ...... Lalu mengapa kamu mengajakku, Junpyo-a? .. biasanya kamu pergi sendiri kan? .. Kamu tidak pernah memintaku bergabung dengan kelompokmu itu .. Lalu mengapa sekarang .. kamu ... ", Jandi menghentikan perkataannya.

"Karena saya ingin kamu memasuki duniaku!! .. Saya ingin kamu mengenal semua temanku, tempat yang biasa kudatangi dan apa sebenarnya yang kulakukan di situ! ... Dan .. terutama .. saya ingin mengenalkanmu pada Jaekyung .. ". Junpyo memandangi Jandi lekat-lekat. Sinar matanya sangat dalam.

Jandi membalas pandangan Junpyo. Perhatiannya tidak bisa dialihkan dari mata Junpyo. Perlahan Junpyo mendekatinya. Melingkarkan tangan di pinggangnya dan menariknya lebih dekat ke pelukan. Jarak mereka hanya beberapa inci sekarang. Jandi bisa mencium aroma laut segar merebak keluar dari parfum yang dipakai Junpyo. Hatinya langsung berdegup kencang. Perasaan ini selalu dirasakannya jika berada dekat Junpyo.

Junpyo menundukan wajahnya. Perlahan dan perlahan, mendekat ke wajah Jandi. Mata Jandi terpejam ketika merasakan sesuatu yang hangat dan padat menyentuh bibirnya. Nafas Jandi langsung memburu. Bibir Junpyo bergerak dan mulai melumat bibirnya. Tubuh Jandi menegang. Tapi itu hanya sesaat. Beberapa detik kemudian, Jandi mulai membalas lumatan bibir Junpyo.


Desahan dan erangan lembut terdengar dari mulut mereka. Ciuman, lumatan dan jilatan semakin memanas. Junpyo mulai menurunkan ciumannya. Dan tangannya juga mulai bergerak, membuka kancing baju Jandi. Sebuah, dua buah, tiga buah ... kancing-kancing itu mulai terbuka satu persatu. Sampai kancing keempat, mereka berdua terhentak dari ketidaksadarannya oleh deringan nyaring ponsel dari saku celana Junpyo.

Dengan gugup Junpyo merogoh ponsel dari saku celana. Jandi segera melepaskan diri dari dekapan Junpyo. Monitor ponsel memperlihatkan nama Woobin. Junpyo mengangkat wajah dari ponsel ke Jandi.
"Woobin ...", katanya pelan.

Jandi mengangguk, kemudian mundur ke belakang. Sebelum Junpyo menjawab telepon Woobin, dia berkata ke Jandi, "Jandya .. pakai gaun ini!!". Junpyo meraih gaun yang tadi ditaruhnya di sofa dan memberikannya ke Jandi.

Kemudian dia menekan tombol penerima ponsel, menjawab telepon dari Woobin.
"O Woobin a?"


----------------------------------


Junpyo dan Jandi sampai di bar yang biasa didatangi F4 sekitar setengah jam kemudian. F3, Gaeul dan Jaekyung sudah berada dalam ruangan yang dipesan khusus atas nama Woobin. Semua yang berada dalam ruangan itu langsung menoleh kearah Junpyo dan Jandi, begitu mereka memasuki ruangan yang rada redup itu.

"YO YO YO APA YANG TERJADI PADA GOO JUN PYO? .. GEUM JAN DI? ... SEBUAH KEJUTAN MELIHATMU DISINI!!!!", teriak Woobin. Senyum mengoda tersungging di bibirnya.

Junpyo mendelik kearah Woobin. Sedangkan Jandi, dia ikut tersenyum mendengar perkataan Woobin.

"Junpyo-a, bawa Jandi kemari ... duduklah!!". Yijeong bergeser dari duduknya, menyerempet ke Gaeul, memberi tempat pada Junpyo dan Jandi duduk di sebelah Jaekyung dan Jihoo.

Junpyo mengangguk. Dia mengandeng tangan Jandi dan mengajaknya berjalan ke tempat yang disediakan Yijeong. Mereka duduk di situ, dengan posisi Junpyo disebelah Yijeong dan Jandi di sebelah Jaekyung. Sedangkan Jihoo, berdiri dari tempatnya. Dan memisahkan diri ke sudut ruangan. Dia tidak mengeluarkan suara sejak kehadirannya di situ. Dan tidak seorangpun menyadari hal itu.

"Junpyo-a .. apakah ini istrimu?", Jaekyung berusaha menangkap sinar mata Junpyo dari posisi Jandi yang menghalangi pandangannya.

Junpyo mengangguk, "Benar! .. Jandya, ini Jaekyung! .. dan Jaekyung, ini Jandi ... "

Kedua gadis itu saling menganggukan kepalanya sambil tersenyum manis. Dalam hati, Jaekyung mengagumi Jandi yang mampu melunakan hati Junpyo. Sedangkan Jandi, juga mengagumi kecantikan dan kebesaran hati Jaekyung. Gadis itu tidak terlihat kecewa melihat kemunculannya bersama Junpyo di situ.

"Senang bertemu denganmu Jandya .."

"Saya juga ... "


Mereka bergandeng tangan sambil tersenyum lebar. Dalam hitungan detik sudah terjalin keakraban di antara kedua gadis itu. Sementara itu, Woobin yang sedari tadi berdiri dekat pintu berjalan kearah mereka, dan menjatuhkan dirinya di samping Jaekyung.

Junpyo memperhatikan Jandi dan Jaekyung yang terlibat perbincangan seru. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis. Ternyata tidak salah dia membawa Jandi ke sini. Yijeong melirik sekilas arah pandangan Junpyo. Dia ikut tersenyum. Kemudian dia menyenggol lengan Junpyo, dan berbicara padanya dengan nada halus, "Junpyo-a .. sudah sampai di mana hubunganmu dengan Jandi .. "

Jandi segera menoleh ke Yijeong. Dahinya berkenyit, "Maksudmu?"

"Saya yakin kamu mengetahui maksudku, Junpyo-a ... Saya sudah menanyakan ini padamu sebelumnya .. "

Junpyo membalas pandangan Yijeong tanpa mampu menjawab pertanyaannya.

"Belum memulainya?", tanya Yijeong lagi.

Junpyo masih tidak menjawab. Yijeong menghembuskan nafas perlahan, kemudian tersenyum simpul.
"Kalau begitu .. kali ini kamu kalah padaku Junpyo-a! ... Saya sudah akan menjadi seorang ayah .. "

"MHOOOOOOOOO!!!!!!!!!!!!!", Junpyo berteriak keras. Semua yang berada di ruangan itu langsung mengalihkan perhatian kearahnya. "KAMU AKAN MENJADI AYAH .. BERARTI .. BERARTI ISTRIMU SEDANG HAMIL?". Sepasang mata Junpyo berkejap-kejap. Dia tidak mempercayai pendengarannya sendiri.


Yijeong tertawa keras. Kepalanya mengangguk berkali-kali. Sedangkan Gaeul langsung tertunduk malu.

"Wahhh hebat Yijeong-a !!". Woobin mengacungkan jempol ke Yijeong.

"Chukae .. ", kata Jandi dan Jaekyung bersamaan.

Sedangkan Junpyo masih terpaku di tempatnya. Yijeong mengalahkannya? Bagaimana mungkin?

"Heiii .. Junpyo-a, apakah kamu baik-baik saja? .. Wajahmu sedikit pucat?", Yijeong menepuk lengan Junpyo.

"Ohh gwencana .. "

"Chukae Yijeong-a ..". Untuk pertama kalinya sejak memasuki bar itu, Jihoo mengeluarkan suara. Yijeong mengangguk dan mengangkat tangan ke Jihoo.

"Lalu Woobin-a ... bagaimana acara makan malam yang diatur orangtuamu?", tanya Jihoo.

Woobin mengangkat bahu. Kemudian mengeleng cepat.
"Buruk! .. Sangat buruk! .. kalian tidak akan percaya seperti apa gadis itu ... Dia mengajakku menginap di hotel hanya dalam perjumpaan pertama ...", katanya jijik.

"Ha .. ha .. ha .. bukankah tipe seperti itu yang kamu sukai Woobin-a?", goda Junpyo. Ketawanya membahana di ruangan itu sehingga menyebalkan Woobin.

"TIDAKKKKKKKKK!!! Untuk dijadikan seorang istri, saya tidak menyukai tipe itu!!"

Melihat kekesalan Woobin, Jandi langsung menyenggol lengan Junpyo, untuk menghentikan ketawanya.

"Miane ..", kata Junpyo, dia berusaha keras meredam kegeliannya. Kemudian dia berpaling ke Jaekyung, "Lalu bagaimana denganmu, Jaekyung-a? ... Kalau tidak salah kamu pernah bilang kalau minggu lalu kamu juga ada acara seperti itu ... "

Tampang Jaekyung meredup. Pertanyaan itu mengingatkan kembali ke peristiwa yang terjadi seminggu yang lalu. Pemuda kekanakan yang selalu menempel di sampingnya. Menanyakan segala hal padanya. Pemuda yang kadar cerewetnya melebihi seorang ahjumma. Huhhhh ....
"Jangan membicarakan masalah itu lagi!!!"

"Kenapa? .. Sepertinya calon kalian berdua terlalu istimewa ya?", tanya Junpyo sambil tersenyum lebar.

Woobin dan Jaekyung langsung mendelikan matanya ke Junpyo,
"STOPPPPPPP!!!", teriak mereka hampir bersamaan.

"Mengapa harus berhenti? .. Setelah kegagalan pertemuan pertama, saya yakin orangtua kalian akan mengadakan perjanjian kedua, ketiga, keempat dan seterusnya ... Kalian tetap tidak bisa menghindari takdir ini ... "

Woobin mendengar seksama perkataan Junpyo. Beberapa detik kemudian dia tersenyum perlahan.
"Kamu jangan khawatir .. Appa dan omma tidak akan melakukan itu lagi, begitu juga dengan orangtua Jaekyung ... "

"Mengapa?", tanya Yijeong penasaran.

"Karena .. kami berdua mengaku ke orangtua masing-masing kalau kami sudah berpacaran!!"

Semua yang berada di ruangan itu langsung terbelalak lebar.
"APAAAAAA??? ... BAGAIMANA MUNGKIN KALIAN MELAKUKAN INI?"

"Mengapa tidak?", Woobin balik bertanya. Senyum mengejek tersungging di wajahnya, "Dengan berkata begitu kami bisa terlepas dari desakan mereka .. Lagipula kami tidak berbohong!! ... Kami sedang mencoba hubungan ini .. Kami sudah memulainya beberapa hari yang lalu dan tidak ada masalah sama sekali dari hubungan ini ... "

Semuanya terbengong-bengong mendengar penjelasan Woobin. Jihoo berdiri dari tempat duduk di pojok ruangan, dan berjalan ke dekat Woobin. Ditepuknya pundak Woobin dengan pandangan iri.
"Yaaaaa kamu!!! .. Mendapat cara sebagus ini kenapa tidak memberitahuku?", kemudian dia menoleh ke Jaekyung, "Jaekyung-a .... bagaimana kalau kamu berkencan denganku saja?"

"APAAAAAAAAAA??". Woobin langsung terlonjak dari sofa. Matanya melotot ke Jihoo.
"Hentikan bercandamu, Yoon Ji Hoooo!! .. Ini ide dariku, dan saya yang mengutarakannya terlebih dahulu ke Jaekyung! .. Ada apa sebenarnya denganmu? .. Sejak tadi sikapmu sangat aneh?"

"Iya Jihoo-a .. Kamu tidak boleh begitu!!", Junpyo mengeluarkan suaranya. Yijeong dan Gauel mengangguk, ikut mengiyakan perkataan Junpyo.

Semua terlihat tegang. Kemudian suara ketawa dari Jaekyung segera mencairkan keadaan itu.
"Ha .. ha .. kalian jangan khawatir .. saya tidak tertarik pada Jihoo ..". Mengandeng tangan Woobin sambil tersenyum lebar, "Saya sudah merasa cocok dengan Woobin .. "

Woobin ikut tersenyum dan agak mendongakkan kepalanya. Bangga dengan perkataan Jaekyung.
"You see? ... Jaekyung sudah menolakmu, Jihoo-a .. jadi pikirkan cara lain, tapi .. sebenarnya mengapa kamu harus berbuat seperti kami? Apakah orangtuanya juga sudah mulai mengambil tindakan, berusaha menjodohkanmu dengan gadis pilihan mereka?"

Jihoo menarik nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya kuat-kuat. Wajahnya terlihat keruh. Pikirannya sangat kusut. Dia mempertimbangkan sebentar apakah perlu menceritakan peristiwa yang terjadi padanya atau tidak. Semua yang berada dalam ruangan itu mengamatinya dengan seksama. Sekali lagi Jihoo menghembuskan nafasnya, kemudian berkata, "Eomma telah membuat janji pertemuan dengan sepupu jauh dari Roma ..."

Semua saling melirik. Melempar pandangan satu sama lain.

"Sepupu jauh? .. Sejak kapan kamu mempunyai sepupu yang tinggal di Roma?", tanya Woobin penasaran. Pertanyaan itu mewakili pertanyaan-pertanyaan dari otak mereka.

Jihoo mendengus kesal. "Saya saja baru bertemu sekali dengannya dan itupun sudah terjadi tujuh belas tahun yang lalu!"

"Tujuh belas tahun?", Yijeong melonggo. Begitu juga yang lain. "Waktu itu kamu baru berusia delapan tahun kan? .. Lalu .. bagaimana kamu bisa mengenali wajahnya?"

Jihoo tertawa keras. Bukan karena bahagia. Lebih terlihat tertekan dan histeris.
"Ha .. ha .. ha .. Mengenali wajahnya, katamu? ... Saya bersumpah .. SEUMUR HIDUP SAYA TIDAK AKAN MELUPAKAN WAJAH ITU!!! ... bayi berumur dua tahun dengan mata hijau menyala yang sangat besar dan rambut ikal coklat terang dengan kulit pucat mengerikan!! .. Ohhh my god, waktu itu saya benar-benar mengira telah melihat hantu!! .. Selama beberapa hari saya tidak bisa tidur nyenyak, wajah itu selalu kebawa mimpi!!"


Wajah Jihoo berubah perlahan. Mulai memucat dan kengerian tergambar jelas dari wajahnya. Melihat keadaan Jihoo, .. Yijeong, Woobin dan Junpyo malah terbahak-bahak. Sedangkan para gadis tersenyum-senyum sendiri di tempatnya.

"Ha .. ha .. ha ... Jihoo-a .. ha .. ha .. ternyata .. ternyata .. ha.. kamu .. ha .. ha .. takut pada .. pada bule ya?", Yijeong tertawa keras.

Ekspresi wajah Jihoo berubah lagi. Dari ngeri menjadi kesal setengah mati.
"JANGAN TERTAWA!!!! .. Saya sudah kesal dengan keputusan omma dan appa dan sekarang .. kalian selaku sahabat baikku malah mengejekku HUHHHHH!!!! .. Dan .. dia bukan bule asli .. hanya bule gadungan karena ommanya orang Korea asli, dia sepupu jauh dari omma ...."

Dengan susah payah Yijeong, Woobin dan Junpyo berusaha menghentikan ketawanya. Mereka menutup mulut rapat-rapat supaya suara ketawanya tidak keluar. Jihoo sudah memasang tampang dingin seperti biasa.
"KALIAN HARUS MEMBANTUKU!!!", katanya tegas dan sedikit memaksa.

"Mbo? .. Bagaimana caranya?", tanya Woobin.

"Minggu depan, kalian harus tiba di restoran @Dellicious lebih awal dari kami dan kalian harus berpura-pura tidak sengaja bertemu dengan kami di sana .. dengan begitu kita bisa makan bersama .. sehingga saya tidak perlu menghadapi keluarga itu sendirian .. araso!!"

"Heiiii .. kamu memerintahku? .. NOOO!!! tidak bisa!!!!!!!!!!!!! .. mengapa saya harus mengikuti ide gila itu?!!!". Junpyo memprotes keras.

Jihoo memandanginya. Wajahnya berkerut. Dia masih berkeras dengan rencananya itu.
"KALIAN HARUS MENGIKUTI CARA YANG KUANJURKAN INI!!! .. HARUS!!! ... Junpyo-a, kamu juga harus ikut di dalamnya karena kamu tadi telah menertawakanku!!"

Mata Junpyo melebar. Dia tidak percaya Jihoo ganti memerintahnya sekarang. Mulutnya terbuka, sudah siap menyemburkan kata-kata penolakan ketika Jandi menyentuh tangannya dan mengeleng perlahan.

Jandi menghadapi Jihoo. Tersenyum dan mengangguk pelan.
"Jihoo-a .. kamu jangan khawatir, saya dan Junpyo bersedia menolongmu!"

"Yaaa Geum Jan Di .. !!", Junpyo memprotes. Tapi perkataannya hanya tertahan di situ. Karena Jandi mendelik kearahnya, dia langsung terbungkam rapat-rapat.

Woobin dan Yijeong berdiri dari duduknya. Mereka menepuk pelan lengan Jihoo.
"Kami selalu mendukungmu, my brother ..."

Jihoo langsung tersenyum lebar. Dia sangat habagia melihat perhatian besar yang diberikan kedua sahabatnya itu. Gaeul dan Jaekyung bertepuktangan dari tempat duduknya. Jihoo melirik Junpyo. Pemuda itu masih terlihat kesal. Begitu mendapati pandangan Jihoo yang tertuju padanya, Junpyo terpaksa mengangguk pelan.
"Saya akan membantumu tapi dengan syarat ... KAMU!! JANGAN MEMERINTAHKU LAGI, ARASO?!"

Jihoo tersenyum lebar mendengar syarat kekanak-kanakan yang diajukan Junpyo. Dia mengangguk perlahan.
"Araso ...", jawabnya. Kemudian dia beralih ke Jandi, "Heiiii Jandya! .. bagaimana kamu bisa bertahan dengan bocah gede ini?"

Sebentar saja, ruangan itu menjadi berisik oleh suara ketawa yang meledak berbarengan.

"YAAAAAAAAA YOON JI HOOOOOOOOOOO!!!!!"


--------------------------


Junpyo dan Jandi tiba di rumah tepat pukul 2 dini hari. Semua penghuni rumah sudah terlelap dalam tidurnya waktu itu. Kecuali tiga orang penjaga rumah yang masih setia dalam tugasnya. Melihat lewat layar monitor pemantau, mercedes perak yang dikendarai Junpyo berhenti di gerbang depan, salah seorang dari mereka segera menekan tombol pembuka pintu gerbang otomatis dari perunggu asli itu.

Junpyo menginjak pedal gas dan mercedes perak itu bergerak perlahan, melewati pintu gerbang yang terbuka. Dalam hitungan detik, pintu gerbang menutup secara otomatis. Setelah memarkir mobilnya di pelataran depan, Junpyo keluar dari mobilnya. Dia membukakan pintu buat Jandi dan mengandeng tangannya, memasuki rumah bersama.

Keadaan dalam rumah sangat sepi. Tapi penerangan yang didapat dari seluruh ruangan lebih dari cukup. Lampu-lampu masih menyala terang. Para pelayan memang tidak berani memadamkan lampu jika tuan mudanya belum kembali.

Junpyo dan Jandi memasuki kamar tidur di lantai atas. Setelah sepanjang hari sibuk dengan kegiatan masing-masing, ditambah pesta kecil yang baru saja mereka hadiri bersama F3, Gaeul dan Jaekyung, juga cukup banyaknya kadar alkohol yang memasuki tubuh mereka, membuat Junpyo dan Jandi ingin segera beristirahat dengan tenang.

"Cepatlah tidur, Jandya! .. Kamu pasti sangat capek setelah kesibukan seharian ini ..."

"Saya ingin mandi dulu ..", Jandi bergegas mengambil piyama dari lemari dan berlari ke kamar mandi.

"Bukankah kamu sudah mandi sebelum berangkat tadi??!!", teriak Junpyo dari tempatnya.

"BADANKU LENGKET SEMUA!!!!", Jandi balas berteriak dari kamar mandi.

"O ..", Junpyo membuka mulutnya, membentuk huruf O. Dia mengangguk perlahan.

Sebentar kemudian terdengar bunyi air disiramkan dari kamar mandi. Jandi menghabiskan dua puluh menit menguyur tubuhnya yang lelah dengan air hangat. Badannya terasa segar ketika dia keluar dari ruangan kecil itu.

Junpyo sedang duduk di ranjang dengan sebuah majalah tergenggam di tangannya. Begitu mendengar bunyi pintu dibuka, dia mengalihkan pandangannya dari malajah kearah suara itu. Pandangannya langsung tertuju ke Jandi yang sedang berjalan kearahnya.

Junpyo menganga. Penampilan Jandi saat itu sangat luar biasa. Langsung membangkitkan gairahnya sebagai seorang laki-laki normal. Jandi dengan piyama agak kebesaran yang biasa dipakainya, wajah putih kemerahan yang sangat alami, dan rambut basah yang masih meneteskan air dari setiap helai rambut yang menempel ketat di sekitar wajah dan lehernya. Nafas Junpyo sedikit memburu ketika Jandi sudah berada di sampingnya.

"Kamu tidak mandi?", tanya Jandi, membuyarkan lamunan Junpyo.

"Saya .. saya sudah mandi, memakai .. kamar mandi .. bawah ...", jawab Junpyo gugup.

Jandi mengangguk sambil tersenyum halus.

"Ohhh my goddddddddd!!!". Junpyo mengetok kepalanya sendiri. "Hentikan senyuman itu Jandya!! ... Jika tidak .... saya .. saya akan menyentuhmu!! saya bersumpah akan melakukannya!!  .. jadi jangan tersenyum lagi padaku!!"

"Ada apa Junpyo-a? .. Apakah kamu sakit? .. Wajahmu terlihat pucat ..". Dengan cepat Jandi menempelkan tangannya ke jidat Junpyo. Tampangnya berkerut. Dia sangat khawatir.

"TIDAKKKKKKKKK!!!! Jangan menyentuhku!!!". Junpyo berteriak lagi dalam hati. Hatinya berdegup kencang. Sepasang matanya terpejam perlahan.

"Junpyo-a ...", Jandi menguncang tubuh Junpyo sehingga menyadarkannya sekali lagi dari lamunan.

"Saya baik-baik saja!". Junpyo berusaha menahan dirinya.


Matanya terbuka dan mendapati sorot mata kekhawatiran Jandi.
"Benar .. gwencana?"

Junpyo mengangguk. Dia berusaha keras memikirkan cara untuk mengalihkan pembicaraan ke hal lain.
"Yijeong akan menjadi seorang ayah ... lucu ya?"

Jandi mengangga. Tidak menyangka akan mendapat pertanyaan menyimpang jauh itu. Tapi begitu memikirkan seorang playboy Yijeong akan menjadi ayah membuat Jandi tersenyum lebar. Dia menganggukan kepalanya.

Dan .. usaha keras Junpyo untuk membalikkan situasi tidak mengenakan itu tidak berhasil setelah sebuah pertanyaan nakal tiba-tiba melintas dalam pikirannya.
"Menurut kamu kalau kita mempunyai anak akan mirip siapa, Jandya?"

Jandi sangat terkejut. Pandangan tajam, lekat dan mengetarkan dari Junpyo membuatnya gugup. Pipinya langsung memerah. Hatinya berdegup kencang. Pertanyaan apa ini?
"Saya .. saya harus tidur sekarang ..."

Jandi segera membaringkan tubuhnya ke ranjang. Menutup tubuh rapat-rapat dengan selimut tebal. Bahkan wajahnya hampir tenggelam setengahnya dalam selimut.

"Jandya ..", panggil Junpyo halus.

Jandi tidak menjawab. Matanya terpejam rapat. Tangannya menutup telinga. Junpyo mendesah perlahan. Apa yang dilakukan Jandi sangat jelas. Dia tidak ingin mendengar perkataannya.

Jandi berada dalam posisi itu selama sepuluh menit. Keadaan dalam ruangan itu sangat sunyi. Tidak ada suara yang terdengar. Jandi tidak berani bergerak dari tempatnya. Saat ini dia sangat takut pada Junpyo. Sampai akhirnya dia mendengar bunyi pintu dibuka dan ditutup pelan dalam ruangan itu.

Mata Jandi terbuka. Apakah suara yang didengarnya tadi bukan mimpi akibat kesunyian dari kamar ini? Dia berbalik sembilan puluh derajat dalam tidurnya dan .. langsung tersentak bangun. Junpyo sudah tidak berada di sampingnya lagi. Jandi melempar pandangan ke seluruh sudut ruangan. Tidak ada seorangpun di situ. Kosong sama sekali. Jandi menghembuskan nafas perlahan. Matanya meredup. Kemudian dia membaringkan tubuhnya lagi. menyelimuti diri dengan selimut tadi. Kemana perginya Junpyo?



--------------------------------


Setelah keluar dari kamar, Junpyo menuju kolam renang tertutup di belakang rumah. Dia bermaksud menjernihkan pikirannya dengan berenang sebentar. Setelah menganti pakaiannya dengan celana renang, Junpyo berendam di pinggir kolam renang.


Berbagai pikiran memasuki otaknya. Semuanya tentang Jandi. 'Ohhh sungguh sial .. mengapa selalu Geum Jan Di yang memenuhi pikiranku!!!. Junpyo memukulkan tinjunya ke air kolam yang agak kelam karena hanya diterangi beberapa lentera dan bintang-bintang dari atas atap kaca transparan. Tangannya memerah dan terasa nyeri.

Junpyo menghembuskan nafas kuat-kuat dan mulai berenang ke seberang kolam. Dia hanya akan berenang satu putaran. Dia tidak mungkin melakukan lebih dari itu. Kadar alkohol cukup tinggi dalam tubuhnya sehingga bisa membayakan dirinya sendiri kalau dia berbuat nekat begitu.


Selesai berenang, Junpyo berendam di pinggir kolam lagi. Sekarang, pikirannya sudah agak jernih.


--------------------------------


Jandi semakin gelisah dalam pembaringannya. Dia melirik jam kecil dekat ranjang. Sudah lebih dari satu jam Junpyo belum kembali ke kamar. Apakah sesuatu terjadi padanya? Tiba-tiba Jandi teringat wajah pucat Junpyo. Apakah dia benar-benar sakit?

Memikirkan kemungkinan itu, Jandi turun dari pembaringan. Membuka pintu kamar dan berlari keluar. Dia mengeledah setiap sudut ruang atas. Tapi tidak menemukan Junpyo. Kemudian Jandi berlari menuruni tangga menuju lantai bawah. Sekali lagi dia mengeledah seluruh ruangan yang ada di situ. Tapi dia tetap tidak menemukannya.

Dengan pikiran menerawang karena kehilangan akal tentang kemana perginya Junpyo, langkah Jandi terbawa ke belakang rumah, dimana kolam renang berada.


-------------------------------------


Junpyo keluar dari kolam renang setelah merasa kulitnya sudah mengkerut akibat berendam terlalu lama. Dia mengambil handuk dari bangku dekat kolam renang dan mulai mengeringkan tubuh dan rambutnya. Ketika dia berbalik karena bermaksud kembali ke dalam rumah, dilihatnya Jandi berjalan kearahnya dengan pandangan menerawang. Dia sepertinya tidak sadar dengan keadaan sekitar. Bahkan dia tidak melihatnya di situ.

"Jandya .. apa yang kamu lakukan di sini?"

Suara Junpyo menyadarkan Jandi dari lamunannya. Dia mengangkat wajahnya yang sedikit tertunduk. Dia kelihatan terkejut. Dengan cepat Jandi berlari kearah Junpyo.
"Junpyo-a!! .. ternyata kamu ada di sini ... Saya mencarimu sejak tadi, kamu baik-baik saja kan?". Ada perasaan lega tergambar jelas dalam pandangannya.

"Saya baik-baik saja! .. Memangnya apa yang akan terjadi padaku?"

"Oh tidak .. tadi wajahmu agak pucat .. saya mengira kamu sedang sakit!"

"Tidak,  .. saya baik-baik saja ..", Junpyo menguatkan jawabannya sekali lagi.

Jandi mengangguk, kemudian berkata halus, "kalau ... kalau begitu saya .. saya akan kembali tidur .. "

Jandi berbalik dan bermaksud pergi dari situ. Tapi tarikan dari tangan Junpyo menghentikan langkahnya.

"Jandyaaa .. jangan pergi!! .. saya mohon .. jangan pergi!! .. temani saya ... malam ini ...", kata Junpyo pelan, dengan nada dalam mengetarkan hati dan sinar mata redup yang menghanyutkan .


----------------------------------

cre all pics as labeled, baidu
bersambung ke chp5/ending ...

gara2 diejek Yijeong, Junpyo jadi pingin punya anak, dia tidak terima dikalahkan Yijeong, jp pecicilan banget deh hehehe ... ayo jp bikin anak, bikin anak, bikin anak!!! .. tp kalau adegannya dipotong pas sedang on ya kapan bakal jadi tuh anak?

Vayza

Posts : 10
Join date : 2013-06-15

View user profile

Back to top Go down

My Everything Season 1 Chapter 5 (Final)

Post by Vayza on Mon Jul 01, 2013 12:03 am

My Everything Season 1

by Lovelyn

CHAPTER 5 (FINAL)




Jandi membeku di tempatnya. Selama beberapa saat dia tidak bergerak. Matanya yang tidak berkedip, terarah lurus ke sepasang mata Junpyo yang bersinar redup dan teduh. Permintaan Junpyo berulangkali berputar di otaknya.

"Jandiya ...", panggil Junpyo pelan, sambil mengerakkan tangan yang masih mengenggam erat tangan Jandi.

Jandi tetap tidak bergeming. Perlahan .. Junpyo menarik tangannya sehingga posisi mereka berdekatan. Sepasang mata mereka masih saling menatap. Seperti terhipnotis, pandangan mereka tidak bisa dialihkan ke tempat lain. Junpyo mengangkat tangan kirinya dan menyentuh lembut pipi Jandi. Sedangkan tangan kanannya yang tadi mengenggam tangan Jandi sudah melingkar di pinggang ramping Jandi, yang terbungkus piyama longgar.

Mata Jandi terpejam perlahan. Sentuhan Junpyo membuat jantungnya berdegup kencang. Jarak mereka sangat dekat, sehingga dia dapat merasakan detak jantung Junpyo yang bergerak cepat dari telapak tangannya yang menempel di  depan dada Junpyo.

Kepala Junpyo bergerak, menunduk dengan gerakan pelan, semakin dekat, sampai akhirnya menyentuh wajah Jandi. Hidung mereka saling menempel. Jandi bisa merasakan hembusan nafas Junpyo, ... hangat, panas dan memabukkan. Bibir Jandi terbuka seiring desahan halus yang keluar dari rongga mulut dan hidungnya.

Junpyo mengecup lembut bibir mungil yang mengangga itu. Semula dengan ciman pendek. Hanya menyentuh pelan, kemudian melepaskannya lagi. Matanya memandangi wajah Jandi, menunggu reaksinya. Mata Jandi tetap terpejam dengan mulut yang masih terbuka. Dia tidak menolak ciuman dari Junpyo. Tidak juga memprotes. Junpyo mengerakkan tangannya, mengelus wajah Jandi lagi. Sepasang mata Jandi yang terpejam bergerak-gerak kecil ketika merasakan sentuhan tangan Junpyo.


Kemudian Junpyo menundukkan wajahnya lagi dan mencium bibir Jandi. Kali ini lebih agresif dan bergelora. Dilumatnya bibir Jandi sehingga membuat tubuh gadis itu menegang. Desahan semakin keras terdengar dari bibirnya. Jandi mulai membalas lumatan-lumatan dari bibir Junpyo ketika tubuhnya mulai memanas. Apalagi tubuh bagian atas Junpyo yang polos menempel ketat di tubuhnya. Desahan dan erangan terdengar semakin jelas.

Junpyo melepaskan lumatannya dari bibir Jandi dan mulai menyelusuri pipi, telinga dan leher Jandi dengan kecupan dan jilatan lidahnya yang panas.

"O .. Junpyo ..a ..", Jandi mendesahkan nama Junpyo di sela-sela desahan dan erangannya yang mendirikan bulu roma.

"Hmmm ..", balas Junpyo, masih dengan lumatan dan kecupan dari wajah dan lehar Jandi.

Keduanya hanyut dalam gairah yang semakin memuncak, sampai-sampai kehadiran seseorang juga tidak diketahui oleh mereka.


---------------------------


Jun Hyun keluar dari kamarnya dan berjalan ke dapur yang terletak di lorong belakang, bersebelahan dengan ruang dalam kolam renang, dengan maksud mengambil segelas air untuk melepas dahaga. Sambil berjalan dia mengeleng perlahan. Tidak biasanya dia merasa haus di jam segini, sekitar jam tiga dini hari.

Langkahnya terhenti ketika samar-samar pandangannya menangkap dua sosok yang sedang berpelukan dan berciuman dalam ruangan paling ujung yang berfungsi sebagai tempat renang. Pendengarannya juga menangkap desahan dan erangan halus yang keluar dari mulut mereka. Dahi Jun Hyun berkerut. Dia mendekati ruangan itu dan berusaha mempertajam penglihatannya.

Ruangan dalam kolam renang itu agak redup. Penerangan hanya didapat dari beberapa lentera yang memancarkan sinar buram kekuning-kuningan dan cahaya bintang dan bulan dari langit ruangan yang terbuat dari kaca. Kedua insan yang sedang kasmaran itu tidak menyadari kehadiran Jun Hyun di sana. Mereka tidak terpengaruh dan tetap sibuk dengan ciuman dan lumatan yang semakin memanas. Mereka berpelukan erat seakan takut terpisahkan.


Jun Hyun membungkukkan badan dan mengamati lewat jendela kayu yang terpahat bordiran. Kedua insan itu agak bergerak dari tempatnya. Cahaya lentera di atas kepala yang menimpa langsung ke wajah mereka membuat Jun Hyun bisa melihat lebih jelas wajah mereka.

Sesaat Jun Hyun membelalakan mata, terkejut dengan apa yang dilihatnya. 'Apakah dia tidak salah lihat? .. Benarkah itu mereka? .. Penglihatannya masih beres kan?' .. Antara percaya dan tidak, dengan penglihatan sendiri, tanpa sadar Jun Hyun tersenyum lebar. Tangannya bergerak, menarik tali pengendali tirai jendela sehingga tirai berwarna hijau itu menutup perlahan. Kemudian dia berjalan ke pintu masuk ruangan itu dan menutupnya. Sangat pelan sehingga tidak terdengar oleh kedua insan yang sedang dimabuk asmara itu.

"Kamu tidak mengecewakanku, Junpyo-a ...Akhirnya kamu sadar kalau apa yang appa lakukan dan pilihkan untukmu adalah yang terbaik .. ", ucap Jun Hyun pelan, seperti berkata pada dirinya sendiri.

Dia berbalik ke dapur, menuang segelas air dan kembali ke kamarnya dengan senyum puas.


-------------------------


Jandi membuka matanya ketika merasakan pelukan Junpyo merengang dari tubuhnya. Dan wajah pemuda itu juga menjauh dari wajahnya. Sepasang mata redup Jandi memandangi Junpyo dengan pandangan bertanya.
"Weoo?"

Junpyo terdiam sebentar, sebelum akhirnya mengeluarkan suara dengan penuh tekanan, "Apakah kamu sudah siap, Jandiya? .. Saya ingin kamu menjadi milikku malam ini! .. hanya milikku seorang! .. tapi saya tidak ingin memaksamu .. jika .. jika .. kamu masih belum siap, .. saya bisa menunggu .. Sungguh, saya bisa menunggu! .. Sampai kapanpun saya akan menunggu! .. Demi kamu apapun akan saya lakukan .. "


Jandi tidak segera menjawab. Kepalanya menunduk perlahan.

Apa yang kamu pikirkan, Jandiya? .. Kamu masih ragu dengan perasaan sendiri? .. Kamu masih takut perasaan itu bukan perasaan cinta seperti yang kamu harapkan? .. Ohhh .. lalu mengapa kamu membalas ciumannya? Mengapa kamu mengharapkan sentuhannya? Mengapa juga kamu selalu runtuh dengan tatapannya? ... Apakah kamu mampu melihat pandangan penuh pengharapan darinya? Penharapan untuk menyentuhmu! .. Kasih sayang yang tulus itu! Bisa kamu lihat kan? Bisa kamu rasakan kan? .. Lalu untuk apa kamu masih memusingkan perasaan itu? .. Buang semua keraguan itu, Jandiya! Berilah dia kesempatan .. dan ... juga beri dirimu kesempatan! .. Kesempatan untuk mengenalnya! Kesempatan mendalaminya dan .. kesempatan untuk menjadi wanitanya .. wanita satu-satunya di dunia ...

BENAR!!! Persetan dengan perasaan yang akan datang, masa depan yang tidak jelas, yang penting adalah perasaannya detik ini. Junpyo menginginkannya dan .. tidak bisa dipungkiri dia juga merindukan sentuhan-sentuhan dan sensasi dari pemuda ini. Pemuda yang sudah menjadi suaminya sejak beberapa bulan yang lalu. Dia ingin menyentuh dada bidang itu, membalas lumatan-lumatan bibirnya yang panas, mendengar desahan-desahan memabukan dari mulutnya, .. yang jelas, menyatu dengan dirinya!


"Jandiya ..."

Jandi mengangkat wajah menghadapi Junpyo.
"I .. i .. ni .. pertama kali .. nya  .. ba .. gi .. ku .. ", jawabnya gugup.

Junpyo tersenyum, teduh. Dia bergerak, merapat ke tubuh Jandi. Mereka saling berhadapan. Junpyo mengangkat tangannya ke depan dan mulai membuka kancing piyama yang dikenakan Jandi.
"Saya akan berusaha sehalus mungkin ... Kita akan memulainya dengan ini .. ", kata Junpyo pelan, mirip desahan. Sangat halus dan mendayu di telinga Jandi.

Kancing piyama Jandi terbuka satu persatu. Dada penuh dan montok yang terbalut bra warna pink mulai menonjol keluar dari piyama yang terbuka itu. Junpyo mendesah ketika melihat dada indah seputih salju seperti menantang kejantanannya.
"Dadamu sangat indah, Jandiya .. "

Jandi mendesah perlahan. Junpyo melepaskan piyama Jandi dan membuangnya ke lantai. Dia mulai mengunci leher Jandi dan melumat bibirnya dengan nafsu meluap. Jandi membalas lumatannya. Lidah mereka bertemu, saling menyentuh dan bertaut dalam rongga mulut yang teramat panas. Desahan dan erangan terdengar semakin keras. Tangan kanan Junpyo turun perlahan, dari bagian leher, meraba lengan dan bagian atas dada Jandi, kemudian menyusup masuk ke dalam bra yang dipakai Jandi.

Jandi memekik tertahan ketika merasakan sensasi luar biasa dari permainan tangan Junpyo di balik bra yang dikenakannya. Setiap rabaan, remasan dan pintiran tangan Junpyo di pusat dada membuat pikirannya melayang. Dunianya terguncang hebat dan hanyut dalam kenikmatan.

Junpyo menurunkan jilatan lidahnya ke leher Jandi, menelusuri dagunya sampai ke daun telinga ..
"Apakah kamu menyukainya, sayang?", tanyanya diantara desah nafasnya yang memburu.

Jandi menjawab dengan desahan. Matanya masih terpejam rapat. Tangannya bergerak terus, mengelus  punggung polos Junpyo, dari atas ke bawah kemudian balik lagi, dari bawah ke atas, begitu seterusnya.

Junpyo meneruskan lumatan ganas di bibir Jandi, yang dibalas dengan ciuman tidak kalah hebatnya dari Jandi. Tangan Junpyo bergerak ke belakang dan melepas pengait bra yang dikenakan Jandi. Bra itu mengendor, dan Jandi bisa merasakannya. Dia tidak memprotes, malahan membantu Junpyo melepaskan bra pinknya dan menjatuhkannya ke lantai. Sekarang mereka sama-sama polos bagian atas.

Dengan satu gerakan, Junpyo mengangkat tubuh Jandi. Ciuman dan lumatan masih tidak terlepas dari bibir mereka. Junpyo berjalan ke kursi panjang yang terletak di pinggir kolam renang dan membaringkan Jandi di sana.

"Apakah tidak masalah kita melakukannya di sini?", tanya Junpyo pelan.

Jandi menatap Junpyo dengan pandangan nanar. Tangannya melingkar ke leher Junpyo dan menarik kearahnya. Dilumatnya bibir Junpyo dengan bernafsu.
"Dimanapun .. hmm .. tidak jadi masalah ..", jawab Jandi, suaranya tenggelam dalam bibir Junpyo yang melumatnya dengan bergairah.

Detik berikutnya, celana yang dipakai Jandi, dan handuk yang melingkari pinggang Junpyo berserakan di lantai. Suara rintihan terdengar ketika Jandi mendapatkan pengalaman pertamanya seumur hidup dalam hubungan suami istri dengan Junpyo. Tapi rintihan tertahan dari Jandi itu hanya sesaat, selanjutnya rintihan itu digantikan dengan desahan dan erangan penuh kenikmatan sampai diakhiri desisan panjang dan cukup keras ketika orgasme dicapai dalam waktu bersamaan.


-----------------------------


Jandi tersenyum bahagia dalam dekapan Junpyo. Jemarinya bermain di dada bidang pemuda itu, mengelusnya dari atas ke bawah dan berpindah dari bawah keatas, begitu seterusnya. Mereka masih terbaring di kursi panjang dekat pinggir kolam renang. Junpyo mengelus lembut rambut Jandi, yang sekarang terbaring di dadanya.

"Mau berenang sebentar?"

Jandi mengangkat wajahnya, "Mwoo?"

Junpyo tersenyum, menepuk pelan lengan Jandi, sebagai isyarat padanya agar berdiri. Jandi mengikuti arahan Junpyo, bangkit dari rebahan di atas dada Junpyo. Kemudian mengikutinya ke kolam renang. Mereka masih dalam keadaan polos tanpa seutas benangpun.

Jandi berjalan dengan canggung. Sebentar-sebentar dia melirik kearah pintu, takut kalau ada orang akan datang dari sana.
"Junpyo-a, apakah kita tidak sebaiknya berpakaian dulu?"

Junpyo segera menarik Jandi ke dalam pelukannya.
"Jangan khawatir, sayang .. Tidak ada yang berani memasuki ruangan ini kalau pintunya tertutup!"

"Tapi ... "

"Sssstttttsss ...". Bantahan Jandi terputus ketika Junpyo menempelkan telunjuk ke bibirnya.

"Kamu sangat cantik, Jandiya .. ", bisik Junpyo di sekitar daun telinga Jandi sehingga membuatnya merinding. Gairahnya kembali bangkit ketika Junpyo mulai mendaratkan ciuman maut ke bibirnya.


Jandi membalas lumatan-lumatan dari bibir Junpyo. Lidah mereka saling bertaut. Desahan dan erangan terdengar saling bersahutan.

Sambil meneruskan ciuman mereka, Junpyo mengendong Jandi ke dalam kolam renang. Di sana mereka mengulangi lagi hubungan yang sudah mereka lakukan tadi. Satu kali tidak cukup. Mereka melakukannya dua kali berturut-turut.


---------------------------



Setelah mengeringkan badan dan membalutkan handuk besar ke tubuh masing-masing, Junpyo mengendong Jandi naik ke kamar mereka, di lantai atas. Sampai di kamar, Junpyo membaringkan Jandi di atas ranjang dan membuka handuk yang meliliti tubuhnya.

"Hadiah terbesar dan terindah bagiku .. ", kata Junpyo sambil tersenyum lebar.

Wajah Jandi memerah. Walaupun tubuhnya sudah menjadi milik Junpyo, tetap saja dia merasa malu ketika mendapati pandangan Junpyo menyelusuri sekujur tubuhnya. Perlahan .. Junpyo melepas handuk yang melingkari pinggangnya dan merapatkan tubuhnya ke tubuh polos Jandi ..
"Apakah kamu menginginkannya lagi, sayang?", bisik Junpyo halus sambil meniup telinga Jandi.

Jandi tidak menjawab. Tangannya langsung melingkar ke leher Junpyo dan menariknya, sehingga wajah mereka saling menyentuh. Jandi membuka mulut dan melumat bibir Junpyo dengan bergairah. Setelah itu apa yang terjadi bisa ketebak kan?


----------------------------


Junpyo tersentak dari tidurnya. Dia mengeleng keras. TIDAKKK!!! Dia tidak bermimpi!!! .. Dia tidak mungkin bermimpi!! .. Kenikmatan yang diperoleh dari Jandi masih terasa di sekujur tubuhnya!

Junpyo berpaling ke samping, dan ... tersenyum lega ketika mendapati Jandi tertidur pulas dalam pelukannya. Dia menyingkap sedikit selimut yang menyelimuti tubuh mereka, Benar! tubuh mereka masih dalam keadaan polos, berarti dia tidak bermimpi!

Junpyo mengalihkan perhatiannya kearah lain, ke jam perak yang terletak di atas meja kecil dekat ranjang, pukul 8:30 pagi. Dia dan Jandi baru terlelap menjelang fajar, sekitar pukul 5:30, setelah permainan cinta yang sangat panas dan berulangkali yang mereka lakukan. Junpyo mengerakkan badannya perlahan. Otot-otot di sekujur tubuhnya terasa nyeri dan daerah seputar paha terasa ngilu.

Junpyo menepuk pelan lengan Jandi, "Jandiya .. ". Wanita itu tidak bergerak, masih tertidur pulas. Junpyo kemudian menguncang tubuhnya perlahan.

Mata Jandi bergerak kemudian terbuka, memandangi Junpyo. Matanya berkedip berulangkali untuk menghilangkan rasa kantuk yang masih tersisa.


"Anyongheseyo, Junpyo-a .."

"Anyong .. Jandiku sayang ..".


Junpyo mengecup bibir Jandi. Makin lama makin bergairah. Jandi membalasnya. Terjadi lagi lumatan hebat antara mereka sampai Junpyo melepaskan dekapannya dengan tiba-tiba.

"Mweooo?"

Junpyo tersenyum perlahan.
"Ada hal penting yang harus kita lakukan sekarang juga! .. Bangunlah dan pakai bajumu, kita akan keluar sekarang!!"

"Kemana .. ?"

"Ssstttss ...."

Jandi langsung terdiam. Dia memperhatikan Junpyo bangkit dari ranjang, berjalan ke lemari tengah, mengambil celana jeans putih ketat dan mengenakannya. Kemudian Junpyo mengambil ponsel dari sofa, menekan beberapa nomor, lalu mendekatkannya ke telinga.

"Ya Mr. Choi .. tolong batalkan semua jadwalku hari ini! .. Persetan dengan meeting itu!! .. Katakan pada mereka kalau mereka bisa menunggu selama tiga hari, saya akan memikirkan rencana kerjasama dengan mereka, jika tidak .. hapus proyek itu dari daftar proyek Shin Hwa tahun ini!! .. Iya, kamu mendengar perkataanku kan?!!! .. dan saya ingin kamu buatkan janji dengan Endree Kim bagiku, SEGERA!! Dua puluh menit lagi saya akan tiba di tempatnya, ... Iya!!! Endree Kim, pemilik Endree's bridal and fashion collection!! .. BENAR, SEKARANG JUGA!! .. segitu! .. TIDAK, SAYA TIDAK AKAN MASUK KANTOR!!"

Junpyo menutup ponselnya dengan tampang kesal.

"Gwencana?", tanya Jandi halus.

Junpyo mengangkat wajah kearah Jandi. Dalam sekejap kekesalannya lenyap. Dia tersenyum manis pada Jandi.
"O gwencana ..Sekarang bersiaplah, kita akan keluar sebentar lagi ...."

"Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi .. kita mau kemana?"

"Kamu ikut saja .. Nanti juga tahu sendiri .. ", kata Junpyo sambil tersenyum, misterius.


----------------------------


Junpyo dan Jandi tiba di butik Endree Kim sekitar dua puluh lima menit kemudian. Endree Kim, pemilik Endree's Bridal & Fashion Collection adalah fashion desainer terkemuka sekorea dan dia lebih mengkhususkan diri dengan desain pakaian-pakaian pengantin. Mendengar kedatangan CEO Shin Hwa dan istri di butiknya, Endree Kim segera keluar dari kantornya dan menjemput sendiri kedatangan mereka.

Jandi mengangga ketika tiba di butik yang sangat luas dengan gaun-gaun pengantin berbagai model  yang terpajang di sana. Apalagi orang yang menjemput mereka, semakin membuatnya tergangga. Dari nama orang ini, Endree Kim, dia mengira kalau desainer ini seorang wanita. Tapi .. ternyata dia salah. Desainer terkenal ini ternyata seorang pria dengan penampilan seronok mirip seorang wanita.


Endree Kim tersenyum lebar melihat pandangan Jandi padanya. Dia sudah biasa dengan pandangan para langganan padanya, jadi dia tidak menyalahkan Jandi. Junpyo berdeham pendek sehingga segera menyadarkan Jandi dengan matanya yang sudah melotot kearah desainer setengah baya itu.

"Ehemmmm ... anyongheseyo, Endree noona .. Saya memerlukan bantuan noona untuk mendesain pakaian pengantin kami ...", kata Junpyo, berusaha seberwibawa mungkin. Dia agak gugup dengan sikap Jandi.

Endree Kim dikenal baik olehnya karena Endree Kim merupakan perancang busana Moon Yong Hee, ommanya. Dan karena itu pula dia memanggil Endree Kim dengan panggilan noona. Endree Kim memang lebih suka dipanggil begitu daripada dipanggil ajushi atau tuan atau panggilan lainnya. Desainer kesayangan ommanya itu mempunyai kelainan mental yang sudah diketahui semua pelanggannya. Jandi tidak mengetahuinya karena ini pertama kali dia bertemu dengan Endree Kim.

"Anyongheseyo, Junpyo-a .. Bagaimana keadaaan nyonya Goo?  .. Pakaian pengantin katamu? .. Yaaa, mengapa kamu tidak mencari perancang terkemuka dari luar negeri?", Endree Kim tersenyum lebar, memperlihatkan giginya yang putih dengan sebuah gigi taring dari emas berkilat.

Junpyo mengenggam erat tangan Jandi ketika menjawab pertanyaan Endree, "Saya ingin segala sesuatu yang paling istimewa buat pengantinku, karena itu saya tidak memerlukan semua perancang terkemuka dari luar negeri .. Saya menginginkan produk dalam negeri dan semua itu hanya bisa saya dapatkan dari noona .. Omma percaya pada noona sehingga menyerahkan semua desain busananya ke tangan noona jadi saya juga percaya pada noona .. saya harap noona bisa memberikan yang terbaik buat kami .. "

Endree tersenyum semakin lebar. Ditepuknya lengan Junpyo, berpaling kearah Jandi sesaat, memperhatikan postur tubuhnya, kemudian kembali lagi ke Junpyo, "Beres, Junpyo-a! .. Saya sudah menganggapmu seperti anakku sendiri, jadi jangan khawatir, serahkan semuanya ke tangan noona!"

Junpyo membalas senyuman Endree, "Gumawo noona .. "

Sepuluh menit kemudian berpuluh-puluh album yang menyimpan semua koleksi gaun pengantin rancangan Endree Kim sudah berada di tangan Jandi. Tadi, mereka juga sempat melihat-lihat gaun pengantin yang terpajang di butik itu. Tapi Junpyo tidak puas dengan semua gaun pengantin yang dipajang di sana. Dia tidak ingin Jandi memakai gaun pengantin yang sudah pernah dilihat orang lain.

Jandi membuka album foto itu satu persatu. Memperhatikannya dengan seksama. Wajahnya berkerut berkali-kali. Dia sangat kebinggungan dengan koleksi gaun pengantin yang bejubun itu.
"Junpyo-a, kamu yang pilih saja .. Saya pusing melihatnya!"

Dahi Junpyo berkenyit. Permintaan Jandi terdengar aneh ditelinganya. 'Bukankah semua wanita akan sangat bersemangat kalau disuruh memilih gaun pengantin? Mengapa Jandi malah meminta bantuannya?'

Junpyo berpaling kearah Endree Kim dan berusaha meminta pendapatnya.
"Menurut noona, gaun pengantin bagaimana yang paling cocok buat istriku?"

Endree memamerkan senyumnya lagi. Dia memperhatikan Jandi dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Gaun pendek akan membuat agashi kelihatan lebih muda dan atraktif .. kalau gaun panjang akan menampilkan sisi sensual dan feminimnya, agashi akan kelihatan anggun dan memikat kalau memakai gaun panjang .. "

"Jadi ..", tanya Junpyo, tidak mengerti.

Endree tidak menjawab. Dia memandangi Junpyo dengan sinar mata berkilat. Seakan menunggu keputusan Junpyo sendiri.

"Apakah .. apakah noona bisa membuat sebuah gaun dengan menampilkan kedua sisi itu .. maksudku atraktif dan anggun sekaligus?", tanya Junpyo dengan suara pelan dan kening berkenyit.

"BINGOO!!", teriak Endree, "Itu yang saya maksud! .. Tidak ada masalah untuk itu .. Saya akan merancang gaun dengan model pendek di depan dan kain sutra lembut dengan kristal-kristal berkilat memanjang ke belakang, sekitar tiga meter .. Saya yakin agashi akan menjadi pengantin tercantik hari itu .. "


Junpyo tersenyum lebar. Dia tidak mengerti perkataan Endree, tapi penjelasannya kedengaran menarik.
"Gumawo .. jadi saya serahkan semuanya ke tangan noona .. Ingat! saya ingin gaun ini selesai sebelum hari pernikahan kami, sebulan kemudian ..", dia berpaling kearah Jandi, "Apakah kamu tidak perlu memilih beberapa gaun lagi?"

"Tidak! .. Cukup dengan satu gaun .. Itu akan terlihat lebih special ..", jawab Jandi cepat.

Junpyo mengangguk dan tidak membantah lagi. Dia mengenal betul sifat Jandi, jadi dia tidak ingin memaksanya. Lagi pula apa yang dikatakan Jandi itu benar adanya. Satu atau sebuah memang lebih istimewa, seperti juga Jandi merupakan satu-satunya wanita yang paling special dalam hidupnya.

"Kalau begitu kami pergi dulu, Endree noona! .. Masih banyak rencana yang harus kami persiapkan ..."

Keluar dari butik Endree Kim, Junpyo mengeluarkan ponselnya dan langsung menelepon sekretarisnya, Mr. Choi.

"Tuan Choi, persiapkan segala sesuatu buat pesta pernikahanku bulan depan .."

Junpyo berhenti sebentar, kemudian berpaling pada Jandi, "Kamu ingin pesta pernikahan kita diselenggarakan di Korea atau di luar negeri? .. Atau mungkin di sebuah pulau terpencil? saya bisa membelikannya untukmu!"

"Tidak!! .. Kamu tidak perlu membeli sebuah pulau buatku!!". Mata Jandi terbelalak lebar mendengar ide gila dari Junpyo.

Junpyo langsung cemberut, "Apa salahnya dengan rencana itu? .. Sudah saya katakan kamu segala-galanya bagiku dan saya akan melakukan segala sesuatu yang tidak terbayangkan buatmu .. Tapi karena janjiku padamu dulu, bahwa apapun yang saya lakukan harus didiskusikan dulu denganmu maka saya tidak bisa memberikan itu sebagai kejutan untukmu .."

Jandi termangu mendengar penjelasan Junpyo. Dia sama sekali tidak menyangka kalau perkataannya akan disimpan Junpyo dalam hati.
"Tidak, kamu tidak perlu melakukan itu Junpyo-a .. Menjadi istrimu sudah merupakan kebahagian terbesarku, aku tidak memerlukan semua kejutan dan kemewahan itu .. Cukup kamu di sampingku, sudah lebih dari cukup! .. Sungguh!", kata Jandi pelan.

Junpyo mengangguk, "Kalau begitu kita menyelenggarakannya di rumah saja .. Pesta besar-besaran! .. Setelah itu kita akan melaksanakannya lagi di Roma, kota yang kamu tinggali sejak kecil! .. Saya ingin seluruh dunia mengetahui kalau kamu milikku, hanya milikku seorang, Jandiya!! .. Dan saya, si hebat Goo Jun Pyo, hanya milik Jandi seorang! .. Biar semua wanita di dunia langsung patah hati karena kenyataan ini .."

Jandi langsung mendorong Junpyo yang sedang membusungkan dadanya.
"Rubahlah sikapmu! ... Jangan kekanak-kanakan seperti itu, tidak tahu malu!!"

Junpyo tertawa keras melihat Jandi memonyongkan bibirnya. Kemudian dia tersentak ketika mengingat perintahnya pada Mr. Choi yang belum diselesaikan lewat telepon.

"O .. tuan Choi, .. iya, lakukan perintahku! .. Pestanya akan diselenggarakan di kediaman Goo, setelah itu di kota Roma, kediaman Jandi dulu, waktunya berselang sepuluh hari setelah pesta pertama, jadi tolong persiapkan semuanya!"

Junpyo memutuskan sambungan telepon dengan senyum puas. Tangannya bergerak, merangkul pinggang Jandi dan menariknya ke dalam pelukan.
"Puas ..?"

Jandi mengangguk sambil tersenyum lembut. Tangannya diangkat, mengelus wajah Junpyo.
"Gumawo Junpyo-a .. Sarangheyo .. "

Kemudian ... mereka berciuman, tanpa memperdulikan beberapa puluh mata yang melirik kearah mereka.



----------------------------


Sabtu, pukul 7 malam ...

Rombongan yang terdiri atas Junpyo, Jandi, Yijeong, Gaeul, Woobin dan Jaekyung sudah berkumpul di depan pintu ruangan hotel Hyatt yang dipesan khusus oleh keluarga Yoon, tempat mereka akan menyelenggarakan dinner bersama keluarga sepupu jauh dari Roma, sejak lima menit yang lalu. Mereka bergerombol di depan pintu dan berusaha mengintip ke dalam ruangan lewat celah kecil dari daun pintu yang terbuka.

Ruangan di depan mereka sangat luas, dengan sebuah meja panjang terletak di tengah ruangan yang dikelilingi dua puluh buah kursi dari kayu berkilat. Langit-langitnya sangat tinggi, bergaya roma kuno dengan lampu kristal besar menjuntai sampai ke tengah meja, yang hanya berjarak sekitar tiga meter dari lantai. Sebuah vas bunga transparan yang besar dengan rangkaian bunga mawar yang sangat rimbun terletak di tengah meja. Beberapa barang antik seperti keramik-keramik kuno dari Cina dan lukisan-lukisan dari pelukis-pelukis terkenal jaman dulu mendominasi ruangan itu. Sedangkan jendelanya yang tinggi terbuat dari kaca manik-manik beraneka warna dengan gorden krem lembut berbunga kecil-kecil yang agak menonjol.

Ada tiga orang yang berada dalam ruangan itu. Jihoo tampak gelisah di kursinya, tepat di depan mereka. Sedangkan orang tuanya, Mr. dan Mrs. Yoon duduk membelakangi mereka.


Yijeong menyenggol lengan Junpyo, yang berdiri di sampingnya,
"Apakah tidak sebaiknya kita masuk sekarang?"

"Kita lihat dulu keadaannya ..", jawab Junpyo pelan.

"Apa yang dilakukan Jihoo? ... Kenapa tidak keluar menjemput kita? .. Kita tidak punya alasan untuk memasuki ruangan khusus itu kan?", Woobin ikut mengeluarkan suaranya.


Yang lain langsung menganggukan kepala, menyetujui perkataan Woobin. Yijeong secara perlahan memalingkan wajah dari ruangan di depannya kearah Junpyo. Senyum kecil langsung tersungging di bibirnya ketika melihat tangan kanan Junpyo melingkari pinggang Jandi dan tangan satunya lagi memegang erat tangan gadis itu.

Sekali lagi, Yijeong menyenggolkan tangannya ke lengan Junpyo.
"Sudah beres?", tanyanya, dengan senyum mengoda dan alis dinaikan kearah Jandi.

"Mwoo?", tanya Junpyo keras. Matanya melebar kearah Yijeong.

"SSsshhh ... ", Yijeong segera mendekatkan jari telunjuk ke bibirnya sebagai tanda pada Junpyo kalau dia terlalu berisik, "Jangan terlalu keras, nanti kedengaran sama mereka yang berada dalam ruangan!!", setelah itu Yijeong tersenyum lagi, kemudian melanjutkan perkataannya, "He .. he .. saya tahu kamu mengerti kearah mana pertanyaanku!"

"Heyyyyy .. So Yi Jeong, kamu ingin mati ya!!", Junpyo berusaha menekan kata-katanya supaya tidak terlalu keras. Sedangkan Jandi yang berada dalam pelukan Junpyo hanya menunduk malu.

"Lihat! .. wajah Jandi memerah! .. ha .. ha .. ". Yijeong tertawa keras, diikuti yang lain. Woobin dengan sigap menutup pintu di depan mereka supaya suara ketawa mereka tidak kedengaran oleh Jihoo dan orangtuanya.

Jandi semakin menundukkan wajahnya. Junpyo memperhatikan Jandi dengan prihatin, kemudian dia mendelik kearah Yijeong.
"Kamu tidak perlu mengetahui bagaimana hubungan kami! .. Lebih baik kamu perhatikan istrimu, dia kelihatan pucat ... "

Yijeong menghentikan ketawanya dan berpaling pada Gaeul. Wajah istrinya itu memang agak pucat. Tapi tidak ada kekhawatiran tersirat dari wajah Yijeong. Dia tersenyum perlahan, meletakkan tangannya di atas punggung tangan Gaeul kemudian beralih kepada Junpyo.
"Istriku baik-baik saja kok! ...  dia hanya merasa mual dan sering muntah-muntah, .. jadi ya wajahnya terlihat pucat ... wanita yang sedang mengandung memang begitu .. "

Mata Junpyo terbelalak lebar. Dia langsung mengalihkan perhatiannya pada Jandi, terlihat sangat khawatir.
"O .. bagaimana jika kamu hamil juga seperti itu?"

"OOOOOOOOOOOOO!!!". Semua telunjuk langsung tertunjuk kearah Junpyo, ketika ketahuan kalau telah terjadi sesuatu antara dia dan Jandi. Mereka tertawa keras. Lorong luar itu menjadi sangat berisik.

Jandi langsung melotot kearah Junpyo dan langsung mendorong pemuda itu ke belakang.
"PABO YAAA!!"

Junpyo mengaruk kepalanya dengan tampang polos.
"Saya hanya mengkhawatirkan keadaanmu makanya saya keceplosan,  .. Jika memang mengandung itu sangat menyiksa sebaiknya kita tidak usah punya anak saja ... "

Ketika Junpyo mengatakan perkataan ini, mereka semua langsung membisu. Kata-kata yang sederhana dan polos itu begitu menyentuh perasaan mereka.

Gaeul menyenggol lengan suaminya dan berbisik, "Belajar tuh dari Junpyo ... ". Yijeong tidak bisa menyahut, hanya bisa merenungi perkataan Junpyo .

Jandi memandangi Junpyo, yang masih menatapnya dengan tampang polos. Perlahan dia mendekati Junpyo, mengangkat tangan dan mengelus wajahnya.
"Saya tidak akan merasa menderita, Junpyo-a, ... Bisa mengandung anakmu merupakan suatu kehormatan bagiku .. Saya rela dan akan menjadi wanita terbahagia di dunia jika memang tuhan mengijinkannya .. "

Junpyo terpana. Dia menunduk perlahan dan mengecup lembut bibir Jandi.


"Yaaaaaaa!! .. kalian ini tidak tahu malu!! .. Kami masih berada di sini .. SADARR!!", Jaekyung memprotes keras sambil menunjuk  kearah Junpyo dan Jandi. Tapi walaupun begitu senyuman tetap tersungging dibibirnya.

Woobin yang berada di sebelah Jaekyung segera menarik gadis itu kedalam pelukannya.
"Kalau begitu, apakah kamu juga ingin dicium, sayangku?"

Jaekyung mencibirkan bibirnya. Woobin tertawa keras.
"Saya hanya bercanda kok .. ha .. ha ..". Tapi suara ketawanya terhenti ketika mendadak Jaekyung memengang erat wajahnya dan mendaratkan ciuman panas ke bibirnya.

Kembali .. seisi lorong heboh oleh suara ketawa yang meledak bersamaan dari mulut mereka. Dua orang pelayan hotel yang mendekati ruangan khusus itu sampai dibuat tergangga oleh suara ketawa yang berisik itu.

Junpyo berdehem perlahan, berusaha mempertahankan wibawanya ketika melihat kehadiran dua pelayan hotel tersebut.
"Ehemmm .. kami sedang menunggu tuan Yoon keluar dari kamar ini dan .. kalian tidak perlu memberitahukannya pada tuan Yoon, dia sudah mengetahui kedatangan kami ..."

Pelayan hotel yang mengenal Junpyo itu segera membungkukan badannya.
"Araso Goo Jun Pyo-sii".

Kemudian, salah satu dari mereka membuka pintu ruangan itu bertepatan dengan keluarnya Jihoo dari dalam ruangan. Jihoo tampak terkejut melihat teman-temannya sudah berkumpul di situ.
"Yaaaaaaa .. mengapa kalian tidak masuk ke dalam? .. Saya sudah menunggu sejak tadi!!"

"Heyyy .. Yoon Ji Ho!! Bagaimana kami bisa masuk ke ruangan itu tanpa alasan yang jelas? .. Apa yang harus kami katakan jika paman dan bibi Yoon menanyakan maksud kedatangan kami? ... Seharusnya kamu yang menjemput kami .. ", balas Junpyo keras. Dia memang sudah kesal karena disuruh menunggu di luar ruangan seperti orang dungu.

Jihoo mengangkat bahunya. Kemudian berpaling ke teman-temannya yang lain.
"Ya sudahlah, ... ayo masuk sekarang!!"

Dia berbalik dan masuk kembali ke dalam kamar, diikuti yang lain.


------------------------------------


Mr dan Mrs. Yoon membalikan badan kearah pintu ketika mendengar suara ribut dari sana. Mata mereka terbelalak lebar ketika melihat rombongan yang memasuki ruangan.


"Junpyo, Woobin .. dan .. Yijeong ... juga .. Jandi, Gauel dan .. Jaekyung .. ohh .. mengapa kalian bisa berada di sini?!!", seru Mrs. Yoon diikuti deheman perlahan dari Mr. Yoon.

"Anyongheseyo, paman dan bibi Yoon .. ", sapa mereka bersamaan, sambil membungkukkan badannya.

"Saya tidak sengaja bertemu mereka di luar, appa dan omma ..", jawab Jihoo tak acuh.

"O .. ", Mr. dan Mrs. Yoon menganggukan kepalanya.

"Mereka boleh ikut makan bersama kan, appa?"

Mr. Yoon mengerutkan alisnya, "Tapi .. acara malam ini ... ", suaranya kedengaran ragu-ragu.

"Keluarga Adams kan belum sampai! .. jadi apa salahnya?", Jihoo berkeras dengan permintaannya, dan tentu saja ini disengaja karena dia tidak mau berhadapan sendirian dengan keluarga sepupu jauh ommanya itu.

Setelah perdebatan singkat, akhirnya Mr. dan Mrs. Yoon menyerah. Mereka mempersilahkan teman-teman putranya itu makan malam bersama. Perbincangan ringan terjadi antara mereka. Mrs. Yoon tersenyum ketika melihat kearah Yijeong.
"Yijeong-a, saya dengar dari ommamu kalau istrimu sedang hamil ya?"

Yijeong tertawa dan mengangguk perlahan, "Iya, bi Yoon ..."

"Chukae ... ", ucap Mr. dan Mrs. Yoon secara bersamaan.

"Gumawo ... "

Mrs. Yoon kemudian beralih pada Junpyo, "Lalu .. bagaimana denganmu, Junpyo-a? .. Kamu menikah lebih dulu kan, jadi kapan kamu berencana punya anak?"

Junpyo tersenyum sambil melingkarkan tangannya ke pinggang Jandi.
"Secepatnya, .. bi Yoon .. "

Mrs.Yoon mengangguk puas, "Bagus! .. saya yakin omma dan appamu sangat bahagia mendengarnya .. ", kemudian dia melirik Woobin dan Jaekyung, "Dan kalian berdua!! .. saya juga sudah mengetahui hubungan kalian dari orangtua kalian masing-masing .."

Woobin dan Jaekyung mengangguk sambil tersenyum lebar. Mrs. Yoon mendesah perlahan.
"Di antara kalian berempat, tinggal Jihoo yang belum menemukan pasangannya ... "

"OMMAA!!", teriak Jihoo keras.

"Jangan khawatir, bi Yoon! .. Bukankah acara malam ini, acara pengenalan pasangan buat Jihoo?", Woobin tertawa keras ketika melihat mata Jihoo langsung terbelalak lebar.

"YAAAAA SONG WOO BINNNNNNNN!!!!"

Sesaat kemudian, ruangan itu langsung heboh oleh suara ketawa mereka. Semua tertawa terbahak-bahak, kecuali Jihoo! yang cemberut di tempatnya.


--------------------------


Sepuluh menit berlalu ...
Pintu ruangan terbuka .. semua yang berada dalam ruangan segera memalingkan wajah kearah pintu. Seorang pria asing berumur di atas empat puluhan dan seorang wanita Korea dengan umur serupa memasuki ruangan.

"Wajah hantu kecilmu seperti itu ya?", bisik Woobin di telinga Jihoo, sehingga membuat dia segera mendelik kearahnya.

Ketika Jihoo bermaksud membalas perkataan Woobin, tiba-tiba teriakan keras terdengar ..

"PAMAN DAN BIBI ADAMS!!!??"

Dua orang yang baru memasuki ruangan itu kelihatan tidak kalah terkejutnya. Mereka terbelalak kearah Jandi.
"JANDIYAAA!!", teriak mereka bersamaan.

Jandi berdiri dari duduknya dan berlari kearah mereka.
"Mengapa paman dan bibi bisa berada di sini?", tanya Jandi dengan wajah berseri. Dia kelihatan sangat bahagia melihat kehadiran dua orang asing itu. Tapi .. sesaat kemudian, keningnya berkerut dan matanya menyapu ke seluruh sudut di belakang mereka, "Dan .. kemana onnie?"

Sebelum pertanyaan itu dijawab, Mrs. Yoon berdiri dari tempatnya dan berjalan kearah mereka.
"Chae In, duduklah dulu! .. ajak suamimu duduk juga! .. Senang bertemu denganmu lagi Robby .. ", kemudian dia berpaling kearah Jandi, "Jandiya, kamu mengenal keluarga Adams?"

Jandi menganggukan kepalanya, "Iya, bi Yoon .. "

"Kami sudah mengenal Jandi sejak sepuluh tahun yang lalu, .. waktu itu dia baru pindah ke Roma dan rumahnya bersebelahan dengan rumah kami  .. Dia bersahabat baik dengan Lily .."

Semua mendengarkan dengan seksama penjelasan Mrs. Adams. Junpyo berdiri dari duduknya, berjalan kearah Jandi dan bermaksud mengajaknya kembali ke tempatnya. Dahi Jandi berkenyit. Ada sesuatu yang menganggu pikirannya. Sesuatu yang tidak wajar. Dia mengibaskan tangan Junpyo yang menuntunnya dan berbalik lagi ke Mrs. Adams.
"Bibi dan paman berada di sini, .. berarti .. berarti yang akan dijodohkan dengan Jihoo adalah ... adalah Lily onnie?"

Mrs. Adams menganggukan kepalanya.

Jandi semakin mengerutkan wajahnya.
"Tapi ... bagaimana mungkin? .. Sejak dulu onnie selalu menolak pria yang mengejarnya, bagaimanapun tampan dan kayanya pria itu .. Onnie selalu berkata padaku kalau dia sudah punyai pria idaman yang ingin dinikahinya kelak ... "


Mr. dan Mrs. Adams tersenyum penuh arti ketika mendengar perkataan Jandi, sehingga membuat Jandi semakin penasaran. Dia berpikir keras, sebelum akhirnya mengambil kesimpulan yang membuatnya terkejut setengah mati.
"Bu .. bu .. kan Jihoo ... kan pria .. idamannya onnie?"

"BENARRR!!", jawab Mr. Adams sambil mengangkat jempol ke udara.

"HAHHHHHHHHHH???!!"

Semua yang berada dalam ruangan itu membelalakan matanya. Jihoo sampai terlonjak dari tempatnya. Dia berkata keras,
"Omong kosong apa ini!! .. Terakhir kali saya melihat putri anda sekitar tujuh belas tahun yang lalu .. Bagaimana mungkin bayi berumur dua tahun sampai mengenaliku?!!"

"Kendalikan perasaanmu, Jihoo-a!!", perintah Mr. Yoon, lalu dia berpaling kearah Mr dan Mrs. Adams yang sekarang sudah duduk di sampingnya, "Lalu kemana Lily?"

"Anak itu ada urusan sebentar di luar, katanya sih mengajukan formulir pendaftaran ke universitas Shin Hwa .. Dia mungkin akan tiba beberapa menit lagi ... "

Hening sejenak. Jihoo meniup nafas kuat-kuat, kemudian mengulangi pertanyaannya lagi.
"Apakah paman dan bibi bisa menjawab pertanyaanku tadi?"

Sebelum Mr. dan Mrs. Adams mengeluarkan suara, pintu di belakang mereka dibuka dengan suara keras.

BAMMMMMMMMMMMMMM ....

Seorang gadis asing berambut panjang dan berpostur tinggi memasuki ruangan dengan nafas terengah-engah.
"Hhhhhh ..... soseongheyo .. sa .. saya .. hhhh .. terlambat .... "


----------------------------------


"ONNIEEEE!!". Jandi menghambur kearah gadis yang baru memasuki ruangan itu. Dia memeluk gadis itu erat-erat.

"JANDIYAA!!". Gadis bernama Lily Adams itu kelihatan terkejut melihat Jandi, "Ottoke .. ??"

"Saya sudah menikah, onnie ... jadi saya akan tinggal di sini bersama suamiku ..", jawab Jandi, sambil melirik kearah Junpyo.

"O ... benarkah? .. chukae, Jandiya!"

"Gumawo, .. onnie, duduklah dulu dan ceritakan padaku bagaimana mungkin pria idaman onnie bisa Jihoo adanya?"

Lily tersenyum perlahan, "Jadi .. kamu sudah mengetahuinya?"

Jandi mengangguk. Tangannya mengandeng tangan Lily, mengajaknya berjalan ke kursi yang berada di samping Jihoo.

"Anyongheseyo, Jihoo-si ..", sapa Lily halus.

Jihoo mengangguk perlahan. Sejak gadis ini memasuki ruangan, dia tidak bergerak dari tempatnya. Bukan karena tidak ingin bergerak, tapi karena dia benar-benar tidak mampu bergerak. Dia terpana. Seluruh bayangan masa lalu tentang gadis ini salah semua.

Sepasang mata hijau yang selalu terbayang di pikirannya itu ternyata tidak semenyala yang dibayangkannya. Tidak! .. mata itu sangat teduh, warna hijau yang belum pernah dilihatnya, hijau botol yang teramat bening dan dalam .. Rambut coklat itu juga tidak seterang yang dibayangkannya. Warna coklat itu lebih cenderung ke coklat lembut, sangat lebat berombak dan panjang sampai ke punggung. Kulit itu juga tidak pucat tapi putih kemerah-merahan, serupa dengan warna kulit Jandi.

"Jihoo-si ... ", Lily menyapa Jihoo dengan suara halus. Tangannya menepuk pelan lengan Jihoo sehingga menyadarkannya dari lamunan.

"Hmmm .... "

Lily tersenyum perlahan. Kemudian mengedarkan pandangan ke seisi ruangan.
"Kalian tentu penasaran bagaimana saya mengenali Jihoo setelah tujuh belas tahun berlalu kan? ... Sebenarnya terakhir kali saya bertemu dengannya dua tahun yang lalu di Roma .. "

"Apaaa?? .. Roma?"

Lily berpaling pada Jihoo, "Iya, Roma! kamu lupa? ... Mungkin kamu tidak ingat, karena kita memang tidak bertutursapa waktu itu  ..  saya yakin kamu tidak melihatku, dan walaupun melihatku sekalipun, kamu tidak akan mengenaliku .. Tapi saya mengenalimu, Jihoo-a! .. Omma memberi foto-fotomu, yang diambil bersama paman dan bibi Yoon beberapa tahun yang lalu padaku,  dan omma juga memberitahuku kalau kamu adalah Jihoo oppa yang dulu sangat takut padaku .. Saya jadi penasaran mengapa seorang pria sepertimu bisa takut padaku, sementara semua teman sekolah pria berusaha keras mengejarku ... Sampai .. saya melihatmu langsung tahun lalu! .. Saya berusaha menyapamu tapi kamu tidak mendengarnya dan saya juga berusaha mengejarmu tapi kamu sudah lenyap dari hadapanku .. Mulai saat itu juga saya tahu kalau saya makin penasaran padamu, dan rasa penasaran itu semakin kuat! .. Saya tidak bisa membuang bayanganmu dari ingatanku! .. Dan saya menyadari kalau mulai saat itu .. saya .. saya benar-benar jatuh sedalam-dalamnya padamu!"

Jandi tersenyum perlahan. Dia sangat tersentuh mendengar penjelasan Lily. Perlahan dia menyenggol tangan Jihoo.
"Kamu beruntung mendapatkan Lily onnie .."


Jihoo melorot dari tempat duduknya. Pandangannya nanar ke depan. Sadar atau tidak, begitu gadis itu memasuki ruangan ini, hatinya sudah bertekuk lutut padanya. Dia termakan kata-kata dan perasaan takut di masa lalu. Dia! Yoon Ji Hoo kalah telak.


------------------------


Sebulan kemudian ....
Pesta pernikahan Junpyo dan Jandi diselenggarakan besar-besaran. Kediaman Goo yang dijadikan tempat penyelenggarakan pesta pernikahan itu didekorasi sedemikian rupa. Halaman rumah yang luas sudah siap menampung beratus mobil para undangan. Bunga beranekawarna melatarbelakangi seisi ruangan, halaman depan dan taman belakang. Bahkan kolam renang juga tidak lepas dari dekorasi sesuai perintah Junpyo pada Mr. Choi.

Makanan-makanan khas dan mewah dari berbagai negara, yang dibuat khusus oleh para koki terkenal yang sengaja didatangkan dari negara-negara bersangkutan, tersaji di beberapa meja panjang di tengah ruang depan dan taman belakang. Champagne dan wine terbaik yang dipilih seorang ahli anggur terkenal sedunia tertuang ke barisan gelas di tengah ruangan. Musik mengalun lembut dari alat musik kuno dan antik di sudut ruangan. Begitu juga di taman belakang, yang dikhususkan bagi mereka yang menyukai pesta taman/luar ruangan.

Jandi tampil cantik dengan balutan gaun pengantin rancangan Endree Kim. Begitu juga Junpyo, tampil menawan dengan balutan jas putih yang agak gemerlap, juga hasil rancangan Endree Kim. Mereka tampak sangat serasi. Semua undangan membicarakan mereka. Memuji kecantikan dan ketampanan mereka. Semua tampak bahagia dan merestui pernikahan tersebar sekorea ini.


Dua hari setelah pesta pernikahan itu, Jandi dan Junpyo, diikuti keluarga dan teman dekat mereka, termasuk F3 dan istri serta pacar-pacar mereka, terbang dengan pesawat pribadi menuju Roma. Pesta pernikahan kedua akan diselenggarakan di sana seminggu kemudian.


-------------------------


Junpyo berlari menuruni tangga dari marmer berkilat, menuju ruang bawah tanah yang terdapat di taman belakang rumah ketika mendengar tanggisan keras datang dari sana. Ruangan bawah tanah itu dibuat khusus sebagai tempat bermain dan berkumpul anak-anak. Sejenis ruang rahasia buat kebebasan anak-anak berkreasi tanpa terganggu dunia luar. Anak-anak sangat menyukai tempat itu karena mereka merasa ruangan itu sudah menjadi dunia mereka.

Junpyo sampai di tengah ruangan dan mendapati seorang gadis kecil berusia sekitar dua tahun, dengan rambut coklat ikal terduduk di lantai. Gadis kecil itu sedang menanggis keras. Junpyo segera meraih anak itu ke dalam pelukannya. Sedangkan suara berisik terdengar dari sudut ruangan, dimana tiga orang anak laku-laki kecil berusia sekitar lima tahun sedang bertengkar dan saling mendorong.

"Ohh ada apa Edys sayang? Mengapa kamu menanggis? ... cup .. cup .. jangan menanggis, nanti paman Junpyo beri permen ya?", hibur Junpyo. Tapi .. makin dihibur, tanggisan gadis cilik itu makin mengeras sehingga membuat Junpyo kalang kabut.
"Yaaa yaaaaaa .. Edys .. jangan .. jangan menanggis lagi .. yaaa .. "

Kemudian Junpyo berpaling kearah tiga anak laki-laki yang sedang bertengkar itu.
"Goo Jan Pyo, apa yang terjadi?"

Salah satu anak yang masih saling mendorong itu berbalik kearah Junpyo. Wajah anak itu sangat mirip Junpyo, bahkan rambutnya juga keriting gelap seperti rambut Junpyo.
"Jaebin dan Gajeong yang mendorong Jilly sampai jatuh ke lantai, appa .. "

Junpyo beralih kearah dua anak laki-laki lainnya.
"Benarkah begitu, Jaebin dan Gajeong? .. Mengapa kalian melakukan itu?"

"Cihhh .. ", Gajeong, putra Yijeong dan Gauel mencibirkan bibirnya.

"Kami tidak mendorong Jilly, paman Junpyo .. kami hanya tidak sengaja mengenainya ketika kami sedang bermain .. Dia terjatuh ke lantai dan itu tidak kami sengaja .. ", Jaebin, putra Woobin dan Jaekyung menjelaskan keadaan yang sebenarnya pada Junpyo. Setelah itu dia menyambungnya lagi, "Janpyo saja yang terlalu sensitif ... saya dan Gajeong paling benci dengan anak cewek, mereka terlalu cengeng .. "

"Jilly tidak cengeng!! .. Kalian yang keterlaluan, mendorongnya ke lantai ..", bela Janpyo sengit.

"Sudah kami bilang kalau kami tidak mendorong! .. apa kamu tuli? ..", teriak Jaebin.

Gajeong menyentuh tangan Jaebin, kemudian berkata dengan suara mengejek, "Sudahlah Jaebin .. Kita semua tahu kan kalau Janpyo menyukai Jilly?"

"Saya memang menyukainya! .. lalu apa salahnya?", balas Janpyo keras.

Junpyo segera menempelkan tangan ke telinganya. Teriakan-teriakan yang saling bersahutan itu membuat kepalanya pusing. Ditambah tanggisan Edys yang belum mereda membuatnya semakin pening.
"Sudah .. sudah! .. hentikan pertengkaran kalian anak-anak!"

Sesaat kemudian ... terdengar bunyi langkah kaki menuruni tangga, menuju kearah mereka. Bunyi langkah itu sangat ramai sehingga bisa ditebak kalau cukup banyak orang yang memasuki tempat itu. Junpyo dan anak-anak berpaling kearah suara itu.

"HEIII .. ADA APA INI?", tanya Jihoo dengan kening berkerut.

"Bidadari kecilmu jatuh ke lantai, Jihoo-a .."

Mata Jihoo terbelalak. Dia terlihat sangat khawatir. Dia segera berlari kearah Junpyo dan meraih Edys, yang berada dalam pelukan Junpyo.
"Mengapa bisa terjatuh? ... ohh Edys sayang, apakah kamu merasa sakit? .. katakan pada appa siapa yang mendorongmu?"

"Heii Jihoo-a, kamu jangan terlalu protektif begitu! ... Biarkan dia bangkit sendiri kalau terjatuh ... Jika kamu terus-terusan melindunginya seperti itu, dia akan tumbuh menjadi anak manja dan tidak bisa mandiri .. ". Lily sudah berada di samping Jihoo dan menegurnya ketika melihat luapan emosi suaminya itu.

"Tapi .. ", suara Jihoo tertahan di tenggorokan ketika Lily segera mendelik kearahnya.

"Sudahlah! .. masalah anak-anak, biar mereka yang menyelesaikannya .. bukankah itu alasannya mengapa kita sepakat mendirikan tempat ini? .. Semua demi kemandirian dan kebebasan anak-anak?", Jandi mengeluarkan suaranya. Semua yang berada dalam ruangan langsung terdiam. Memang benar perkataan Jandi, jadi tidak ada seorangpun yang ingin membantahnya.

"Sekarang kita naik ke atas, makanan sudah siap .. ", lanjut Jandi. Lalu dia berpaling ke anak-anak, "Kalian juga anak-anak .. Cuci tangan dan makan bersama!!"

"Horeeeeeee!!!!". Ketiga anak laki-laki itu berteriak hampir bersamaan. Mereka sudah melupakan kejadian tadi. Kemudian mereka berlari meninggalkan para orangtua yang hanya bisa mengeleng-gelengkan kepala di tempatnya. Sedangkan Edys, yang berada dalam dekapan Jihoo sudah menghentikan tanggisnya.

"Saya ingin gadis kecilku segera lahir .. ", desah Junpyo tiba-tiba.

Semua orang memandang padanya, lalu pada perut Jandi yang membuncit.

"Segera my brother! .. bidadari kecilmu akan lahir empat bulan lagi, jadi kamu tidak perlu menjadikan Edys sebagai mainanmu terus ... ha .. ha ..". Woobin tertawa terbahak dengan leluconnya sendiri, yang segera mendapat godem dari Junpyo."Akhhh .."

Semua ikut tertawa dan mulai berlalu dari ruangan itu. Jandi berhenti di anak tangga terakhir, berpaling lagi ke belakang, memandangi ruang bawah tanah yang laus dengan mainan anak-anak yang berserakan di lantai. Matanya nanar ketika berbisik pelan pada Junpyo,
"Tapi semua ini akan menjadi kenangan setahun lagi, ... Keributan dan suara ketawa anak-anak tidak akan terdengar lagi di sini .. tempat ini akan menjadi tempat mati .. "

Junpyo melingkarkan tangannya ke pundak Jandi, kemudian ditepuknya lengan itu pelan, "Kita tidak punya pilihan lain, Jandiya! .. perusahaan sana memerlukan landasan kuat, karena itu kita harus pindah ke sana! .. tapi kamu jangan khawatir, suatu saat kita akan kembali lagi ke sini dan semuanya akan seperti dulu .. tidak ada yang berubah!"

Jandi mengangguk perlahan. Kemudian dia berlalu dari tempat itu dengan dituntun oleh Junpyo.


-----------------------------


Setahun kemudian .... keluarga besar Goo bersiap berangkat ke Amerika dengan pesawat pribadi. Mereka berada di lapangan terbuka, tempat pesawat pribadi akan lepas landas.

F4 dan keluarga mereka sudah saling mengucapkan pesan terakhir. Jun Hyun, Yong Hee, Junpyo dan Jandi bergerak, menuju pesawat pribadi mereka. Tapi Jan Pyo kecil masih berdiri di depan Lily, sambil memegangi tangan Edys kecil yang berada dalam gendongan ommanya.

"Janpyo-ya! .. pesawat kita akan berangkat sekarang, .. Jadi cepatlah kemari!", Jandi berteriak dari tempatnya.

Janpyo berpaling sebentar ke Jandi, kemudian beralih lagi ke Edys.
"Ingat ini, Jilly-ya! .. Suatu saat saya akan kembali, dan kamu harus ingat padaku! .. Berapa lamapun kita tidak bertemu, kamu jangan melupakanku! Ingat pesanku ini! .. "

Lily tersenyum mendengar perkataan si Janpyo kecil.
"Janpyo-ya, kamu harus merubah panggilan ke Edys! .. Mungkin dia akan melupakan panggilan itu setelah pertemuan kalian nanti .. "

Janpyo langsung cemberut.
"Mengapa harus begitu, bi Lily? .. Jilly! putri paman Jihoo dan bibi Lily .. Saya menyukai panggilan ini, dan Jilly juga menyukainya, saya tahu itu .. "

Lily hanya dapat tersenyum dan mengeleng-gelengkan kepalanya.

"JANPYO-YA!! .. SUDAH TIDAK ADA WAKTU LAGI, CEPATLAH KEMARI!!", kali ini Junpyo yang berteriak tidak sabar ke putranya. Tapi kekesalannya hanya sesaat, setelah Jandi menyenggol lengannya, dia langsung tersenyum, tangannya tertumpu pada kain yang digunakan untuk mengendong bidadari kecilnya.


Janpyo melirik sekilas ke appanya kemudian berpaling lagi ke Edys kecil. Memengang erat tangannya dengan sepasang mata yang mulai memerah.
"Saya harus pergi sekarang, Jilly-ya .. Ingat janjiku! .. Saya akan kembali padamu!!"

Setelah itu, anak laki-laki kecil berumur enam tahun itu berlari kearah keluarganya. Untuk terakhir kali mereka semua saling melambaikan tangan. Sepuluh menit kemudian, pesawat pribadi dengan tulisan Shin Hwa itu lepas landas sambil diiringi doa restu dan aimata dari orang-orang di bawahnya.


------------------------


THE END

the next short fanfic .......


Vayza

Posts : 10
Join date : 2013-06-15

View user profile

Back to top Go down

Re: My Everything Season 1 by Lovelyn

Post by lee minsun4ever on Thu Jul 04, 2013 3:09 pm

 
mkasih dah update mami....
btw mna ff baru nya,,,ditunggu ya mi:emoticon 6: 
avatar
lee minsun4ever

Posts : 5
Join date : 2013-06-26
Age : 28

View user profile

Back to top Go down

Re: My Everything Season 1 by Lovelyn

Post by Sponsored content


Sponsored content


Back to top Go down

Back to top

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum