Unconscious Love (Introduction & Prologue)

Go down

Unconscious Love (Introduction & Prologue)

Post by DragonFlower on Mon Jul 15, 2013 4:45 am



Tittle : Unconscious Love
Genre : Romantic Comedy

By : Lovelyn Ian Wong



Main Cast :
Lee Min Ho as Goo Jun Pyo, pewaris perusahaan terbesar Korea 'Shinhwa Group'. Sahabat kental Jandi sejak kecil. Kaya, tampan dan terdidik. Disukai para wanita dari berbagai kalangan. Hampir sempurna. Cuma satu kekurangannya, .. Goo Jun Pyo dikenal dengan skandalnya yang suka gonta-ganti wanita.

Goo Hye Sun as Geum Jan Di, anak tunggal pemilik 'Korean News', perusahaan percetakan/koran terbesar di Korea. Karena sering ditinggal orangtuanya buat kerja sejak kanak-kanak, Jandi jadi terbiasa mandiri dan tumbuh menjadi gadis berpikiran dewasa. Hal yang paling tidak disukainya adalah kebiasaan buruk Goo Jun Pyo yang selalu melibatkan dirinya dalam skandal-skandalnya dengan para wanita yang ingin dikejar dan dikencaninya.


Another Cast :
Kim Hyun Joong as Yoon Ji Hoo
Kim Bum as So Yi Jeong
Lee Min Jung as Ha Jae Kyung

Maki Horikita as Yukie Hashimoto
Kim Joon as Song Woo Bin
Ha Ji Won as Ha Ji Won

 

_______________oOo_________________



PROLOGUE



Dua anak kecil berusia antara 5 sampai 8 tahun tampak bermain dengan gembira di taman bermain sekolah dasar Shin Hwa. Anak gadis berkulit putih dengan tubuh montok itu berjalan mundur sambil mengeluarkan suara ketawa nyaring. Tanpa disadarinya ada tangga pendek agak menjorok ke bawah di dekat tempat dia berpijak.

"Awassssssssssssss !!!!", anak laki-laki yang usianya lebih besar dari anak gadis tadi berteriak keras. Tapi peringatannya terlambat. Si gadis cilik salah pijak dan tak pelak tubuhnya tersungkur ke bawah.

"Akhhhhhhhhhhhhhhhhh ..", teriakan kesakitan langsung terdengar, diikuti isak tanggis membahana di taman yang masih sepi itu.

"Jandyaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!", anak laki-laki tadi berlari kearahnya. Kekhawatiran tergambar jelas dari wajah ganteng yang agak kekanakan itu. "Bagaimana .. keadaanmu?"

"Huuuu ... huuu .. sakitttttt ....", anak gadis itu menanggis tersedu-sedu.

Si anak cowok semakin gelisah. Tanpa memperdulikan keadaan sekitar dia merangkul anak gadis yang sedang menanggis itu .."Jangan takut .. Jangan takut Jandya .. Apapun yang terjadi saya akan melindungi .. "

Gadis kecil itu menghentikan tanggisnya. Tapi isakan pelan masih terdengar dari mulutnya. Dia memandangi anak cowok tadi dengan seksama.
"Benar kamu akan selalu melindungiku, Junpyo a ?"

Anak tadi mengangguk.

"Selamanya? ... Apakah kamu akan melindungiku selamanya?", tanya si anak gadis lagi.

Anak cowok itu tertawa terbahak, "Tentu saja tidak! .. Saya tidak bisa melindungimu selamanya Jandya!"

"Mengapa?"

"Karena jika kita sudah besar nanti kita akan menemukan orang lain yang akan kita lindungi .. karena itu Jandya, saya tidak bisa melindungimu selamanya .. Kelak kamu juga akan menemukan orang lain yang rela melindungimu seumur hidup ..",jawab si anak cowok dengan bijak. Terlihat jelas kalau dia hanya mengutip perkataan yang pernah didengarnya dari seseorang atau dibacanya dari buku.

"Apakah benar orang yang sudah besar semuanya akan begitu? .. Tidak akan bersama lagi setelah dewasa?"

Anak cowok itu mengangguk lagi dengan sangat bijak.

"Kalau begitu .. mulai sekarang saya tidak memerlukan bantuanmu Junpyo-a .. Saya akan berusaha bangkit sendiri kalau terjatuh .. ", anak gadis itu langsung mencibirkan bibirnya. Dia sudah lupa dengan sakit yang tadi dirasakannya.

-----------------------


Delapan tahun kemudian ... Liburan semester terakhir di Jepang. Semua siswa bersendagurau sambil menyusuri jalan yang diapit pohon-pohon sakura yang sedang berbunga. Semilir angin menjatuhkan kuntum-kuntum sakura ke jalan sehingga menjadikan hampir seluruh jalan yang dilewati berselimutkan bunga sakura.

Dua remaja sedang duduk di bangku panjang yang tersedia di sepanjang jalan. Si gadis meringgis, wajahnya kelihatan pucat.

"Kamu tidak apa-apa kan Jandya? .. Atau .. apakah kamu sedang sakit?", tanya pemuda tanggung di sampingnya gelisah.

Gadis dengan kulit putih mulus yang dipanggil Jandi itu berusaha tersenyum, "Saya .. baik-baik saja .. Saya hanya merasa sedikit nyeri ... Junpyo a!! Bisakah kamu menolongku membelikan sesuatu?"

Junyo mengangga. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun Jandi minta pertolongannya, "A .. a pa?", tanyanya gugup.

"Ehmmmmmm .. tapi kamu janji dulu kamu tidak akan menolaknya!!"

"Katakanlah .. jangan bertele-tele seperti itu ...", Junpyo menjadi tidak sabar.

"Saya .. saya sedang datang bulan ... jadi tolong belikan pembalut buatku .."

"APAAAAAAAAAAAAAAAA??", bola mata Junpyo seperti mau meloncat keluar dari tempatnya.

"Kamu tidak bisa menolaknya .. kamu sudah janji!!", Jandi berkeras dengan permintaannya, "Lagipula saya tidak bisa berjalan dengan keadaan sekarang .. jika tidak saya tidak akan meminta bantuanmu .. "

"Yaaaaaaaaaaa Geum Jan Diiiiiiiiiiiii!!! Kamu sadar tidak siapa yang sedang kamu perintah ...  SAYA! Saya penerus Shin Hwa .."

"Ini tidak ada kaitannya dengan Shin Hwa ..", ujar Jandi ringan.

"TIDAK MAU!!", Junpyo berteriak keras.

"Kalau begitu kamu jangan minta pertolonganku lagi!! ... si Yuki, saya rasa akan lebih cocok dengan Yijeong ..", ejek Jandi.

"YAAAAAAAAA GEUM JAN DIIIIIIIIIIIII .."

Setelah pertarungan akhir, Junpyo dengan wajah tertunduk meninggalkan Jandi menuju supermarket yang terletak tidak begitu jauh dari situ. Jandi tersenyum lebar, "Kelemahanmu ada padaku Junpyo a ..."


##############0000Dua anak kecil berusia antara 5 sampai 8 tahun tampak bermain dengan gembira di taman bermain sekolah dasar Shin Hwa. Anak gadis berkulit putih dengan tubuh montok itu berjalan mundur sambil mengeluarkan suara ketawa nyaring. Tanpa disadarinya ada tangga pendek agak menjorok ke bawah di dekat tempat dia berpijak.

"Awassssssssssssss !!!!", anak laki-laki yang usianya lebih besar dari anak gadis tadi berteriak keras. Tapi peringatannya terlambat. Si gadis cilik salah pijak dan tak pelak tubuhnya tersungkur ke bawah.

"Akhhhhhhhhhhhhhhhhh ..", teriakan kesakitan langsung terdengar, diikuti isak tanggis membahana di taman yang masih sepi itu.

"Jandyaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!", anak laki-laki tadi berlari kearahnya. Kekhawatiran tergambar jelas dari wajah ganteng yang agak kekanakan itu. "Bagaimana .. keadaanmu?"

"Huuuu ... huuu .. sakitttttt ....", anak gadis itu menanggis tersedu-sedu.

Si anak cowok semakin gelisah. Tanpa memperdulikan keadaan sekitar dia merangkul anak gadis yang sedang menanggis itu .."Jangan takut .. Jangan takut Jandya .. Apapun yang terjadi saya akan melindungi .. "

Gadis kecil itu menghentikan tanggisnya. Tapi isakan pelan masih terdengar dari mulutnya. Dia memandangi anak cowok tadi dengan seksama.
"Benar kamu akan selalu melindungiku, Junpyo a ?"

Anak tadi mengangguk.

"Selamanya? ... Apakah kamu akan melindungiku selamanya?", tanya si anak gadis lagi.

Anak cowok itu tertawa terbahak, "Tentu saja tidak! .. Saya tidak bisa melindungimu selamanya Jandya!"

"Mengapa?"

"Karena jika kita sudah besar nanti kita akan menemukan orang lain yang akan kita lindungi .. karena itu Jandya, saya tidak bisa melindungimu selamanya .. Kelak kamu juga akan menemukan orang lain yang rela melindungimu seumur hidup ..",jawab si anak cowok dengan bijak. Terlihat jelas kalau dia hanya mengutip perkataan yang pernah didengarnya dari seseorang atau dibacanya dari buku.

"Apakah benar orang yang sudah besar semuanya akan begitu? .. Tidak akan bersama lagi setelah dewasa?"

Anak cowok itu mengangguk lagi dengan sangat bijak.

"Kalau begitu .. mulai sekarang saya tidak memerlukan bantuanmu Junpyo-a .. Saya akan berusaha bangkit sendiri kalau terjatuh .. ", anak gadis itu langsung mencibirkan bibirnya. Dia sudah lupa dengan sakit yang tadi dirasakannya.

-----------------------


Delapan tahun kemudian ... Liburan semester terakhir di Jepang. Semua siswa bersendagurau sambil menyusuri jalan yang diapit pohon-pohon sakura yang sedang berbunga. Semilir angin menjatuhkan kuntum-kuntum sakura ke jalan sehingga menjadikan hampir seluruh jalan yang dilewati berselimutkan bunga sakura.

Dua remaja sedang duduk di bangku panjang yang tersedia di sepanjang jalan. Si gadis meringgis, wajahnya kelihatan pucat.

"Kamu tidak apa-apa kan Jandya? .. Atau .. apakah kamu sedang sakit?", tanya pemuda tanggung di sampingnya gelisah.

Gadis dengan kulit putih mulus yang dipanggil Jandi itu berusaha tersenyum, "Saya .. baik-baik saja .. Saya hanya merasa sedikit nyeri ... Junpyo a!! Bisakah kamu menolongku membelikan sesuatu?"

Junyo mengangga. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun Jandi minta pertolongannya, "A .. a pa?", tanyanya gugup.

"Ehmmmmmm .. tapi kamu janji dulu kamu tidak akan menolaknya!!"

"Katakanlah .. jangan bertele-tele seperti itu ...", Junpyo menjadi tidak sabar.

"Saya .. saya sedang datang bulan ... jadi tolong belikan pembalut buatku .."

"APAAAAAAAAAAAAAAAA??", bola mata Junpyo seperti mau meloncat keluar dari tempatnya.

"Kamu tidak bisa menolaknya .. kamu sudah janji!!", Jandi berkeras dengan permintaannya, "Lagipula saya tidak bisa berjalan dengan keadaan sekarang .. jika tidak saya tidak akan meminta bantuanmu .. "

"Yaaaaaaaaaaa Geum Jan Diiiiiiiiiiiii!!! Kamu sadar tidak siapa yang sedang kamu perintah ...  SAYA! Saya penerus Shin Hwa .."

"Ini tidak ada kaitannya dengan Shin Hwa ..", ujar Jandi ringan.

"TIDAK MAU!!", Junpyo berteriak keras.

"Kalau begitu kamu jangan minta pertolonganku lagi!! ... si Yuki, saya rasa akan lebih cocok dengan Yijeong ..", ejek Jandi.

"YAAAAAAAAA GEUM JAN DIIIIIIIIIIIII .."

Setelah pertarungan akhir, Junpyo dengan wajah tertunduk meninggalkan Jandi menuju supermarket yang terletak tidak begitu jauh dari situ. Jandi tersenyum lebar, "Kelemahanmu ada padaku Junpyo a ..."


##############Dua anak kecil berusia antara 5 sampai 8 tahun tampak bermain dengan gembira di taman bermain sekolah dasar Shin Hwa. Anak gadis berkulit putih dengan tubuh montok itu berjalan mundur sambil mengeluarkan suara ketawa nyaring. Tanpa disadarinya ada tangga pendek agak menjorok ke bawah di dekat tempat dia berpijak.

"Awassssssssssssss !!!!", anak laki-laki yang usianya lebih besar dari anak gadis tadi berteriak keras. Tapi peringatannya terlambat. Si gadis cilik salah pijak dan tak pelak tubuhnya tersungkur ke bawah.

"Akhhhhhhhhhhhhhhhhh ..", teriakan kesakitan langsung terdengar, diikuti isak tanggis membahana di taman yang masih sepi itu.

"Jandyaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!", anak laki-laki tadi berlari kearahnya. Kekhawatiran tergambar jelas dari wajah ganteng yang agak kekanakan itu. "Bagaimana .. keadaanmu?"

"Huuuu ... huuu .. sakitttttt ....", anak gadis itu menanggis tersedu-sedu.

Si anak cowok semakin gelisah. Tanpa memperdulikan keadaan sekitar dia merangkul anak gadis yang sedang menanggis itu .."Jangan takut .. Jangan takut Jandya .. Apapun yang terjadi saya akan melindungi .. "

Gadis kecil itu menghentikan tanggisnya. Tapi isakan pelan masih terdengar dari mulutnya. Dia memandangi anak cowok tadi dengan seksama.
"Benar kamu akan selalu melindungiku, Junpyo a ?"

Anak tadi mengangguk.

"Selamanya? ... Apakah kamu akan melindungiku selamanya?", tanya si anak gadis lagi.

Anak cowok itu tertawa terbahak, "Tentu saja tidak! .. Saya tidak bisa melindungimu selamanya Jandya!"

"Mengapa?"

"Karena jika kita sudah besar nanti kita akan menemukan orang lain yang akan kita lindungi .. karena itu Jandya, saya tidak bisa melindungimu selamanya .. Kelak kamu juga akan menemukan orang lain yang rela melindungimu seumur hidup ..",jawab si anak cowok dengan bijak. Terlihat jelas kalau dia hanya mengutip perkataan yang pernah didengarnya dari seseorang atau dibacanya dari buku.

"Apakah benar orang yang sudah besar semuanya akan begitu? .. Tidak akan bersama lagi setelah dewasa?"

Anak cowok itu mengangguk lagi dengan sangat bijak.

"Kalau begitu .. mulai sekarang saya tidak memerlukan bantuanmu Junpyo-a .. Saya akan berusaha bangkit sendiri kalau terjatuh .. ", anak gadis itu langsung mencibirkan bibirnya. Dia sudah lupa dengan sakit yang tadi dirasakannya.

-----------------------


Delapan tahun kemudian ... Liburan semester terakhir di Jepang. Semua siswa bersendagurau sambil menyusuri jalan yang diapit pohon-pohon sakura yang sedang berbunga. Semilir angin menjatuhkan kuntum-kuntum sakura ke jalan sehingga menjadikan hampir seluruh jalan yang dilewati berselimutkan bunga sakura.

Dua remaja sedang duduk di bangku panjang yang tersedia di sepanjang jalan. Si gadis meringgis, wajahnya kelihatan pucat.

"Kamu tidak apa-apa kan Jandya? .. Atau .. apakah kamu sedang sakit?", tanya pemuda tanggung di sampingnya gelisah.

Gadis dengan kulit putih mulus yang dipanggil Jandi itu berusaha tersenyum, "Saya .. baik-baik saja .. Saya hanya merasa sedikit nyeri ... Junpyo a!! Bisakah kamu menolongku membelikan sesuatu?"

Junyo mengangga. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun Jandi minta pertolongannya, "A .. a pa?", tanyanya gugup.

"Ehmmmmmm .. tapi kamu janji dulu kamu tidak akan menolaknya!!"

"Katakanlah .. jangan bertele-tele seperti itu ...", Junpyo menjadi tidak sabar.

"Saya .. saya sedang datang bulan ... jadi tolong belikan pembalut buatku .."

"APAAAAAAAAAAAAAAAA??", bola mata Junpyo seperti mau meloncat keluar dari tempatnya.

"Kamu tidak bisa menolaknya .. kamu sudah janji!!", Jandi berkeras dengan permintaannya, "Lagipula saya tidak bisa berjalan dengan keadaan sekarang .. jika tidak saya tidak akan meminta bantuanmu .. "

"Yaaaaaaaaaaa Geum Jan Diiiiiiiiiiiii!!! Kamu sadar tidak siapa yang sedang kamu perintah ...  SAYA! Saya penerus Shin Hwa .."

"Ini tidak ada kaitannya dengan Shin Hwa ..", ujar Jandi ringan.

"TIDAK MAU!!", Junpyo berteriak keras.

"Kalau begitu kamu jangan minta pertolonganku lagi!! ... si Yuki, saya rasa akan lebih cocok dengan Yijeong ..", ejek Jandi.

"YAAAAAAAAA GEUM JAN DIIIIIIIIIIIII .."

Setelah pertarungan akhir, Junpyo dengan wajah tertunduk meninggalkan Jandi menuju supermarket yang terletak tidak begitu jauh dari situ. Jandi tersenyum lebar, "Kelemahanmu ada padaku Junpyo a ..."


##############000 Dua anak kecil berusia antara 5 sampai 8 tahun tampak bermain dengan gembira di taman bermain sekolah dasar Shin Hwa. Anak gadis berkulit putih dengan tubuh montok itu berjalan mundur sambil mengeluarkan suara ketawa nyaring. Tanpa disadarinya ada tangga pendek agak menjorok ke bawah di dekat tempat dia berpijak.

"Awassssssssssssss !!!!", anak laki-laki yang usianya lebih besar dari anak gadis tadi berteriak keras. Tapi peringatannya terlambat. Si gadis cilik salah pijak dan tak pelak tubuhnya tersungkur ke bawah.

"Akhhhhhhhhhhhhhhhhh ..", teriakan kesakitan langsung terdengar, diikuti isak tanggis membahana di taman yang masih sepi itu.

"Jandyaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!", anak laki-laki tadi berlari kearahnya. Kekhawatiran tergambar jelas dari wajah ganteng yang agak kekanakan itu. "Bagaimana .. keadaanmu?"

"Huuuu ... huuu .. sakitttttt ....", anak gadis itu menanggis tersedu-sedu.

Si anak cowok semakin gelisah. Tanpa memperdulikan keadaan sekitar dia merangkul anak gadis yang sedang menanggis itu .."Jangan takut .. Jangan takut Jandya .. Apapun yang terjadi saya akan melindungi .. "

Gadis kecil itu menghentikan tanggisnya. Tapi isakan pelan masih terdengar dari mulutnya. Dia memandangi anak cowok tadi dengan seksama.
"Benar kamu akan selalu melindungiku, Junpyo a ?"

Anak tadi mengangguk.

"Selamanya? ... Apakah kamu akan melindungiku selamanya?", tanya si anak gadis lagi.

Anak cowok itu tertawa terbahak, "Tentu saja tidak! .. Saya tidak bisa melindungimu selamanya Jandya!"

"Mengapa?"

"Karena jika kita sudah besar nanti kita akan menemukan orang lain yang akan kita lindungi .. karena itu Jandya, saya tidak bisa melindungimu selamanya .. Kelak kamu juga akan menemukan orang lain yang rela melindungimu seumur hidup ..",jawab si anak cowok dengan bijak. Terlihat jelas kalau dia hanya mengutip perkataan yang pernah didengarnya dari seseorang atau dibacanya dari buku.

"Apakah benar orang yang sudah besar semuanya akan begitu? .. Tidak akan bersama lagi setelah dewasa?"

Anak cowok itu mengangguk lagi dengan sangat bijak.

"Kalau begitu .. mulai sekarang saya tidak memerlukan bantuanmu Junpyo-a .. Saya akan berusaha bangkit sendiri kalau terjatuh .. ", anak gadis itu langsung mencibirkan bibirnya. Dia sudah lupa dengan sakit yang tadi dirasakannya.

-----------------------


Delapan tahun kemudian ... Liburan semester terakhir di Jepang. Semua siswa bersendagurau sambil menyusuri jalan yang diapit pohon-pohon sakura yang sedang berbunga. Semilir angin menjatuhkan kuntum-kuntum sakura ke jalan sehingga menjadikan hampir seluruh jalan yang dilewati berselimutkan bunga sakura.

Dua remaja sedang duduk di bangku panjang yang tersedia di sepanjang jalan. Si gadis meringgis, wajahnya kelihatan pucat.

"Kamu tidak apa-apa kan Jandya? .. Atau .. apakah kamu sedang sakit?", tanya pemuda tanggung di sampingnya gelisah.

Gadis dengan kulit putih mulus yang dipanggil Jandi itu berusaha tersenyum, "Saya .. baik-baik saja .. Saya hanya merasa sedikit nyeri ... Junpyo a!! Bisakah kamu menolongku membelikan sesuatu?"

Junyo mengangga. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun Jandi minta pertolongannya, "A .. a pa?", tanyanya gugup.

"Ehmmmmmm .. tapi kamu janji dulu kamu tidak akan menolaknya!!"

"Katakanlah .. jangan bertele-tele seperti itu ...", Junpyo menjadi tidak sabar.

"Saya .. saya sedang datang bulan ... jadi tolong belikan pembalut buatku .."

"APAAAAAAAAAAAAAAAA??", bola mata Junpyo seperti mau meloncat keluar dari tempatnya.

"Kamu tidak bisa menolaknya .. kamu sudah janji!!", Jandi berkeras dengan permintaannya, "Lagipula saya tidak bisa berjalan dengan keadaan sekarang .. jika tidak saya tidak akan meminta bantuanmu .. "

"Yaaaaaaaaaaa Geum Jan Diiiiiiiiiiiii!!! Kamu sadar tidak siapa yang sedang kamu perintah ...  SAYA! Saya penerus Shin Hwa .."

"Ini tidak ada kaitannya dengan Shin Hwa ..", ujar Jandi ringan.

"TIDAK MAU!!", Junpyo berteriak keras.

"Kalau begitu kamu jangan minta pertolonganku lagi!! ... si Yuki, saya rasa akan lebih cocok dengan Yijeong ..", ejek Jandi.

"YAAAAAAAAA GEUM JAN DIIIIIIIIIIIII .."

Setelah pertarungan akhir, Junpyo dengan wajah tertunduk meninggalkan Jandi menuju supermarket yang terletak tidak begitu jauh dari situ. Jandi tersenyum lebar, "Kelemahanmu ada padaku Junpyo a ..."


############ 000 ###########


_________________


♥️ "Everywhere ★ we learn ★ only from ★ those whom ★ we love" ♥️
avatar
DragonFlower

Posts : 94
Join date : 2013-06-17
Location : | Trapped in CNBLUE Dorm |

View user profile

Back to top Go down

Unconscious Love (Chapter One]

Post by DragonFlower on Mon Jul 15, 2013 7:16 pm



Tittle : Unconscious Love
Genre : Romantic Comedy

By : Lovelyn Ian Wong



[center]CHAPTER ONE


"Kali ini kamu harus membantuku, Jandya ...!!", kata Junpyo suatu hari ke Jandi.

Mereka sedang lunch bersama di salah satu restoran Perancis terkenal di Korea. Jandi mengenyitkan dahinya. Perasaannya langsung tidak enak. Dia tidak bergeming. Seperti biasa dia mengerti kearah mana pembicaraan Junpyo. Dia sudah merasa muak dengan semua permintaan-permintaan yang tidak masuk akal darinya.

"NOOOOOOOOOOOOOO!!!!!", jawab Jandi keras-sekerasnya.

Untung saja mereka berada di ruangan khusus restoran itu jika tidak mungkin semua mata sudah melotot kearah mereka.

"Yaaaaaaaaaaaa .. saya belum mengatakan apa-apa!!!", protes Junpyo. Permohonannya ditolak begitu saja oleh Jandi membuat sifat kekanak-kanakannya langsung muncul.

"Kamu tidak perlu mengatakannya Junpyo-ssi .. Saya sudah tahu kearah mana pembicaraan ini ... Lupakan saja, saya tidak mau melakukannya lagi .. Jika kamu masih berkeras, lakukan sendiri!!"

"Yaaaaaaaaaa!!! .. Kamu tahu saya tidak bisa melakukannya sendiri, Jadi dengarkan saya!!"

"NOOOOOOOOOOOOOO!!!!!!!!!!!!!!", jawaban itu sekali lagi keluar dari mulut Jandi.

"Dengar dulu perkataanku ...!!"

"SUDAH KUBILANG, NOOOOOOOOOOO!!!"

"Heiiiii .. kamu tidak adil padaku Jandya !!"

"APAAA??". Mata Jandi terbelalak lebar.

"Beri saya kesempatan mengatakannya!! .... Jika kamu menolak tanpa memberi kesempatan padaku, itu tidak adil namanya .. ", Junpyo tersenyum mengejek. Mungkin saja Jandi tahu kelemahannya tapi dia juga tidak kalah jenius dari Jandi. Dia sangat memahami sifat Jandi.

"Oke ... katakan padaku sekarang!! ... siapa orang itu?!! ... Jangan berkata saya tidak memberi kesempatan padamu!! ..". Setelah mengatakan ini, Jandi langsung mengetok kepala dengan kebodohan sendiri. Sekali lagi dia masuk dalam perangkap yang telah dipersiapkan Junpyo.

Junpyo tersenyum nakal. Wajahnya didekatkan ke Jandi, kemudian berkata, "Saya tahu kamu akan menolongku, sayang .... Gadis itu rekan kerjamu, kalau tidak salah dia baru masuk 'Korean News' dua hari yang lalu .. "

Dahi Jandi berkerut lagi, "Maksudmu .. Ha Jae Kyung?"

"Yeahh .. benar! .. Sudah saya bilang kamu tahu segalanya ... ". Junpyo mengacungkan jempol ke Jandi.

Jandi mendesah perlahan, "Tidakkah kamu merasa berita yang kamu dapat itu terlalu cepat, haaa Goo Jun Pyo-ssi? ... Baru masuk dua hari sudah ingin kamu embat?"

"Yaaaaa Geum Jan Di!! .. Kamu berkata seperti saya ini seorang monster yang siap memakan semua korban saja ..", Junpyo mengajukan protesnya lagi.

"Bukankah begitu??", tanya Jandi sambil tersenyum geli.

"YAAAAAAAAAAAAAAA ...... "

"Oke .. saya sudah mendengar penjelasanmu dan jawabanku ........... tetappp ........... NOOOOOOOOO!!!!". Jandi berdiri dari duduknya, "Saya sudah selesai ... Thanks Junpyo-sii"

"Yaaa Jandya ... ". seru Junpyo gugup.

Jandi membalikan badan ke Junpyo sebelum meneruskan langkah berlalu dari situ.
"Dia lain dari yang lain Junpyo a ... jadi saya harap kamu tidak mempermainkannya .. "

Junpyo langsung lemas dalam duduknya.

---------------------


Hal yang paling tidak diinginkan Jandi terulang lagi. Kebodohan yang sering dilakukannya. Menuruti keinginan Junpyo walaupun sudah menolak keras sebelumnya. Kali ini lebih parah lagi. Dia harus berpura-pura makan siang bersama Jaekyung dan membiarkan Junpyo seperti tidak sengaja menemukan mereka.

Jaekyung sangat gugup menghadapi Jandi. Dia tidak mengerti mengapa anak gadis dari majikannya ini tiba-tiba mengajaknya makan siang bersama.

"Kamu jangan gugup seperti itu Jaekyung a ... Oh ya, saya boleh memanggilmu begitu kan?"

Jaekyung mengangguk. Masih kelihatan gugup.
"Saya .. saya merasa terhormat bisa makan siang bersama agashi ... "

"Mengapa ...?", tanya Jandi heran.

"Karena .. karena .. agashi sudah berbaik hati ... padaku .. ", Jaekyung menjawab tergagap, "Saya .. saya .. tidak pernah membayangkan seorang .. seorang gadis kaya seperti agashi .. akan bersikap begitu baik .. pada .. pada seorang karyawan biasa seperti saya ini ..", lanjutnya lagi.

"Saya juga karyawan biasa seperti karyawan lainnya .. ", jawab Jandi tenang.

"Sebenarnya .. saya sudah merasa heran .. mengapa agashi sampai mau bekerja dari bawah? .. Itu .. itu tidak perlu kan?", tanya Jaekyung pelan. Sangat pelan karena dia takut akan dimarahi Jandi dengan pertanyaan yang sangat pribadi itu.

Jandi tersenyum. Pertanyaan itu mungkin juga pertanyaan dari setiap orang. Dia hanya diam saja. Dia tidak bermaksud menjawab pertanyaan itu. Lalu suara sapaan dari belakang menyadarkannya dengan tujuan semula.

------------------------

"Heii bukankah ini Geum Jan Di-ssi? .. Wah kebetulan sekali saya bertemu denganmu di sini Jandya!!"

Junpyo menghampiri mereka dan tanpa persetujuan dari kedua gadis itu, dia duduk di salah satu kursi kosong yang ada di situ.

"Hi .. !!", sapanya ke Jaekyung, kemudian dia beralih ke Jandi, "Apakah kamu tidak perlu mengenalkan sahabatmu, Jandya?"

Wajah Jandi berubah suram sejak kehadiran Junpyo. Mengingat tugas menyebalkan yang harus dilakukannya membuat perasaannya tidak enak. Dia merasa dosanya sudah menumpuk gara-gara Junpyo. Bagaimana tidak jika Junpyo selalu berganti pacar dalam beberapa bulan, beberapa minggu bahkan ada yang hanya dalam beberapa hari dan semua itu hasil dari bantuannya? "Goo Jun Pyo!! dosa itu harus kamu tanggung sendiri .. akan kukembalikan padamu kalau memang ada hukuman yang akan diterima di kehidupan nanti ..", teriak Jandi dalam hati.

"Heiii Jandya ?". Junpyo menyenggol lengan Jandi dengan gugup.

Jandi tersentak seketika. Dia menoleh kearah Junpyo. Matanya berkejap-kejap. Kemudian dia berpaling ke Jaekyung.

"Jaekyung, kenalkan ini Goo Jun Pyo!!", lalu dia mendelik kearah Junpyo, "Goo Jun Pyo!! .. ini Ha Jae Kyung .. "

Jaekyung tersenyum. Seperti halnya semua penduduk Korea yang mengenal Goo Jun Pyo, Jaekyung juga mengetahui kebesaran nama pemuda ini. Dan bisa bertemu dengannya merupakan suatu kehormatan bagi Jaekyung.
"Anyongheseyo Goo Jun Pyo-ssi .. "

Junpyo mengibaskan tangannya, "Jangan terlalu formal .. Panggil saja saya Junpyo .. "

Jandi tertawa pelan di tempatnya. Junpyo mengenyitkan dahi, merasa kesal dengan reaksi Jandi terhadap perkataannya tadi.
"Jandya, bukankah tadi pagi kamu mengatakan ada acara penting jam begini?"

"Ohhh bagus!! Dia mengusirku sekarang!! ... Setelah mendapat pertolongan dariku? ... Ya, Geum Jan Di, kamu seharusnya tahu begini yang akan terjadi akhirnya!!"

Jandi menepuk jidatnya. "Ahhh benar!!!", dia berdiri dari tempat duduk, kemudian berkata ke Jaekyung, "Saya hampir melupakan acara siang ini .. Miane Jaekyung a, saya harus pergi sekarang .. Oh tidak!! kamu tidak perlu pergi sekarang, makanan kita belum keluar kan?", kata Jandi ketika melihat Jaekyung berdiri dari tempatnya, "Kamu temani Junpyo-si makan siang .. Saya rasa dia belum makan ..", lanjut Jandi sambil berpaling ke Junpyo, "Benar kan Goo Jun Pyo-ssi?". Senyum mengejek terhias di bibir seiring dengan pertanyaan yang diajukannya tadi.

"Iya, benar ... ", jawab Junpyo. Ekpresi wajahnya berubah perlahan. Dia agak terganggu dengan senyuman Jandi.

Sekali lagi Jandi memperlihatkan senyumnya ke Junpyo. Setelah itu dia menoleh ke Jaekyung.
"Saya pergi sekarang Jaekyung a ... dan ... pandai-pandai lah menjaga diri .."

Jandi menepuk pundak Jaekyung, kemudian berlalu dari situ. Meninggalkan Junpyo yang sedang berusaha keras merendam kemarahannya akibat perkataan tadi. Begitu sampai di pintu luar, Jandi langsung tertawa lebar.
"Rasakan itu Goo Jun Pyo  ... Ahhh .. perasaanku lebih enak sekarang ..."
Dengan langkah ringan Jandi meninggalkan tempat itu.

------------------------

Dari restoran Perancis, Jandi tidak kembali ke kantor. Dia langsung menuju rumahnya di sudut selatan kota Seoul. Hari ini omma kembali dari London dan dia ingin segera bertemu ommanya itu. Jadi sebenarnya benar kata Junpyo kalau dia ada acara hari ini. Tapi karena dia tidak ingin kalah pada Junpyo jadi dia tidak mengatakannya.

Hari sudah menunjukkan pukul 1 siang saat itu. Omma pasti sudah sampai ke rumah. Dua puluh menit kemudian, Jandi sampai di pintu depan. Seorang pelayan terburu membuka pintu buatnya. Pelayan itu membungkuk hormat ke Jandi.

"Apakah omma sudah tiba?", tanya Jandi.

Pelayan itu membungkuk lagi, "Nyonya besar ada di ruang istirahat, agashi .. "

"Gumawo .. ", Jandi tersenyum halus. Dia menyodorkan tas LV yang dijinjingnya ke pelayan yang segera menerima dengan sikap hormat.

Jandi berlari kecil ke ruang istirahat yang berada di lantai dua. Begitu sampai di depan pintu, dia mengetok perlahan.

"Masuk!!", suara memerintah itu membuat Jandi tertawa. Sikap omma tidak berubah. Tetap saja omma yang suka memerintah yang sangat dikenalnya.

Jandi membuka pintu. Omma tidak berpaling. Pandangannya terarah ke luar jendela. Jandi mendekatinya dan menepuk pelan bahu wanita setengah baya yang masih kelihatan cantik itu.
"My omma ... welcome home ... "

Omma berpaling ke Jandi. Agak kaget dengan kehadiran Jandi di situ.
"Jandya??!!! ... Mengapa kamu ada di sini? ... Omma mengira kamu masih sibuk dengan pekerjaan kantor!"

"Yaaaa .. apa yang lebih penting daripada omma? .. Omma segalanya bagiku .. pekerjaan bisa menanti .."

Omma tertawa bahagia. Dia memeluk Jandi erat-erat. Jandi membalasnya. Bertemu dengan omma bukanlah hal yang gampang. Sebagai wakil presiden direktur dari 'Korean News' omma selalu terbang kesana kemari. Jadwal beliau sangat ketat. Mereka hanya bisa bertemu beberapa kali dalam setahun. Appa lebih parah lagi. Mungkin hanya dua sampai tiga kali dalam setahun.

"Apakah kamu sudah makan siang, Jandya?", tanya omma.

Jandi mengeleng perlahan. Teringat kembali olehnya, lunch yang gagal akibat ulah Junpyo. Wajah Jandi berubah kelam. "Pemuda berengsek .. ", maki Jandi dalam hati.

"Ada yang mengkhawatirkanmu, Jandya?", omma bertanya lagi ketika melihat perubahan wajah Jandi.

"Ohh tidak, omma ... ayo kita makan siang bersama!!"

Jandi segera mengalihkan perhatian omma. Dia mengandeng tangan omma dan mengajaknya keluar ruangan.

-----------------------

Sementara itu di restoran Perancis yang ditinggalkan Jandi ...

Junpyo dan Jaekyung menghabiskan makanan yang dihidangkan di depan mereka tanpa bersuara. Beberapa kali Junpyo melirik Jaekyung. Begitu pula sebaliknya.

Dalam hati Junpyo berkata, "Kamu tidak akan lepas dari tanganku .. lihat saja nanti!!"

Sedangkan Jaekyung mempunyai pikiran lain, "Ohhh tuhan, dia tampan sekali dan ... yang lebih penting, dia sangat kaya .. Akan beruntung sekali gadis yang kelak menikah dengannya ... Saya jadi bertanya-tanya bagaimana sebenarnya hubungan agashi dengannya? .. Apakah benar hanya sekedar teman biasa? .. Apa yang saya dengar, mereka berteman sejak kecil .... Ya, Jaekyung, kamu masih punya kesempatan itu!! .. Jangan menyerah!!"

Junpyo tersenyum ke Jaekyung, "Bagaimana makanannya?"

"Enak .. ", jawab Jaekyung singkat.

"Setelah ini kamu mau kemana?", tanya Junpyo lagi.

"Kembali ke kantor ... Pekerjaan saya menumpuk ..", jawab Jaekyung sambil tersenyum.

"Ya, si Geum Jan Di pasti memberikan semua pekerjaan padamu kan? ... Saya akan menasehatinya nanti .. "

Mata Jaekyung langsung terbelalak lebar, "Ohhh tidak, bukan begitu .... Agashi tidak memerintah saya .. Posisi agashi di perusahaan sama dengan posisi saya ... "

Junpyo kelihatan sangat terkejut mendengar berita itu, "Maksudmu .. Geum Jan Di memulai pekerjaan dari bawah?"

"Iya, apakah Junpyo tidak tahu ... ?". Jaekyung merasa agak gugup ketika memanggil Junpyo dengan nama saja. Dia melirik Junpyo.

Tapi pemuda itu seperti tidak mendengar pertanyaannya. Alisnya berkerut. Pikirannya melayang.
"Geum Jan Di ... Kamu ini aneh-aneh saja .... ", ujarnya pelan dan tidak terdengar oleh Jaekyung.

"Goo Jun Pyo ...", panggil Jaekyung pelan. Junpyo tidak bereaksi. "Jun pyo a ... ", kali ini panggilannya lebih keras.

Junpyo tersentak dari lamunannya. Dia menatap Jaekyung seperti orang baru bangun tidur.
"Ya ... "

"Kamu tidak apa-apa kan?"

"Tidak .. saya tidak apa-apa ... ", Junpyo mengeleng cepat, "Dan jika kamu tidak keberatan Jaekyung a, saya ingin mengajakmu dinner bersama malam ini ...", lanjut Junpyo.

"Tentu saja ... Saya sangat menghargainya .. ", jawab Jaekyung dengan senyum lebar.


############ 000 ###########

_________________


♥️ "Everywhere ★ we learn ★ only from ★ those whom ★ we love" ♥️
avatar
DragonFlower

Posts : 94
Join date : 2013-06-17
Location : | Trapped in CNBLUE Dorm |

View user profile

Back to top Go down

Unconscious Love--Chapter Two

Post by DragonFlower on Mon Jul 15, 2013 7:17 pm



Tittle : Unconscious Love
Genre : Romantic Comedy

By : Lovelyn Ian Wong



CHAPTER TWO


Junpyo menyiapkan makan malam istimewa buat Jaekyung. Dan kali ini tanpa bantuan Jandi. Sejak dari siang Jandi tidak bisa dihubungi. Ponselnya tidak aktif. Sedangkan telepon rumah hanya diangkat oleh pelayan yang mengatakan kalau Nyonya Geum sudah pulang dari dinasnya dan sekarang sedang menghabiskan waktu bersama Jandi agashi.
"O jadi tante Geum sudah kembali .. pantesan Jandi tidak bisa dihubungi!!", Junpyo bergumam sendiri.


Tangannya sibuk membetulkan serbet yang mengalasi meja. Sekali-sekali serbet itu diremasnya, gugup. Segala sesuatu sudah ditata rapi di atas meja. Karangan bunga yang terdiri dari 99 kuntum mawar merah, anggur terbaik keluaran tahun 1993 lengkap dengan tiga batang lilin besar buat candle light dinner nanti. Sedangkan makanan istimewa dari makanan pembuka, utama dan penutup sudah siap disajikan hanya dengan satu perintah dari Junpyo.
Pikiran Junpyo masih melayang ke Jandi ketika Jaekyung memasuki ruangan pribadi yang telah dipesan khusus olehnya dengan dikawal dua orang suruhan.
"Anyongheseyo Junpyo-a ... "
Sapaan Jaekyung membuat Junpyo mengangkat wajahnya. Jaekyung tampak sempurna dengan gaun hitam panjang yang agak terbuka bagian punggung dan lengan. Kulitnya kelihatan bercahaya tertimpa sinar lampu yang agak redup. Rambut sepunggungnya dibiarkan tergerai, mengayun indah ke kanan dan kiri. Sepatu berhak 5 cm membuat penampilannya semakin memikat. Seuntai kalung mutiara melingkari lehernya yang jenjang, menambah kesempurnaan penampilannya malam ini.


"Anyong Jaekyung-a ... ", jawab Junpyo. Kedengaran tidak bersemangat. Pikirannya masih melayang pada Jandi. 'Apa sebenarnya yang dilakukan gadis itu? Mengapa tidak membalas panggilannya? Biasanya, dalam keadaan apapun, Jandi pasti akan membalas teleponnya ..' Pertanyaan-pertanyaan itu yang terus-menerus bermain dalam pikiran Junpyo.
"Junpyo-a?", sapa Jaekyung lagi, menyadarkan Junpyo dari lamunannya.
"Ohhh ... ", Junpyo mendongak ke Jaekyung, " .. duduklah ... ", katanya sambil mempersilahkan Jaekyung duduk dihadapannya.
Jaekyung memandangi Junpyo dengan pandangan bertanya. Tapi walaupun begitu dia tidak mengeluarkan suara sama sekali. Dia duduk di kursi yang ditunjuk Junpyo untuknya.
"Gumawo .. ", katanya pelan.
Junpyo tidak berkomentar sedikitpun. Diangkatnya tangan ke atas, sebagai isyarat bagi para pelayan untuk menyajikan makanan yang telah dipesan sebelumnya. Beberapa pelayan memasuki ruangan dengan sikap sempurna. Piring-piring berisi makanan terletak di telapak tangan mereka. Makanan tersebut diletakkan di depan Junpyo dan Jaekyung. Seorang kepala pelayan mulai menuangkan anggur ke gelas yang terletak di atas meja, bersebelahan dengan piring yang berisi makanan.
"Makanlah .. "
Setelah perintah resmi dari Junpyo, mereka memulai acara makan malam itu. Rencana semula Junpyo untuk menciptakan dinner yang romantis buat Jaekyung menjadi berantakan gara-gara otaknya yang dipenuhi bayangan Jandi. Selama acara makan malam itu mereka tidak mengeluarkan suaranya. Jaekyung memperhatikan Junpyo lewat sudut matanya. Penampilan Junpyo malam itu sangat menawan. Posturnya yang tinggi terbalut kemeja putih dan jas hitam panjang dengan dasi hitam, selaras dengan warna jasnya.
Akhirnya makanan penutup dikeluarkan. Mereka masih tidak mengeluarkan suara selama itu. Junpyo sibuk menghabiskan semua makanan dengan pikiran menerawang. Sedangkan Jaekyung yang melihat ekspresi wajahnya tidak berani menganggu sama sekali.
Junpyo dan Jaekyung menyelesaikan makan malam itu selama 45 menit. Junpyo meraih gelas berisi anggur kemudian meneguknya sampai habis. Jaekyung mengikuti tindakannya.
"Ok sudah selesai! .. sekarang saya akan menyuruh Mr. Kim untuk mengantarmu pulang!"
"Mwooo??", Jaekyung terheran-heran dengan perkataan Junpyo.
"Miane Jaekyung-a .. malam ini saya benar-benar tidak bersemangat .. Kita membuat janji dinner lain kali lagi .."
Junpyo berdiri dari duduknya dan mempersilahkan Jaekyung mengikuti Mr. Kim yang sudah membungkuk hormat padanya.
"DHOOO ... "
Teriakan Jaekyung terputus oleh perkataan Junpyo kemudian.
"Jaekyung-a please!! .. Saya menyukaimu dan saya akan lebih menghargaimu jika kamu mau mendengarkan perkataanku!". Junpyo berhenti sebentar, kemudian melanjutkan lagi perkataannya, "Saya akan menjemputmu besok pagi .. sekitar pukul 9, kita akan sarapan bersama .. "
Jaekyung terdiam. Perkataan Junpyo membuatnya tak berkutik. Dia mengangguk perlahan. Lalu ..dengan lemas dia berjalan mendahului Mr. Kim meninggalkan ruangan itu.
--------------------------------------
Jandi membuka mata ketika sinar mata menyilaukan menimpa wajahnya. Matahari pagi sudah mengintip malu-malu dari balik jendela bertirai transparan. Jandi menguap perlahan. Dia bangun dari ranjang, tapi belum beranjak dari sana. Sekilas dia melirik kearah jam perak di atas perapian, di tengah ruangan itu. Waktu sudah menunjukkan pukul 8:30 pagi. Dia bangun agak terlambat hari ini. Jandi menghembuskan nafas perlahan. 'Untung hari ini hari sabtu ... '
Jandi turun dari pembaringan. Dia berjalan ke pintu dan bermaksud keluar dari kamar. Ketika pintu kamar dibuka, seraut wajah sudah berada di depan pintu sehingga mengangetkannya. Jandi hampir bertabrakan dengan orang itu.
"YAAAAAAAAA .. GOO JUN PYOOOOOOOOO!!!", Jandi berteriak keras. "Apa yang kamu lakukan pagi-pagi begini berdiri di depan kamarku!!!"
Junpyo tertawa lebar melihat kekagetan Jandi. Muncul mendadak di hadapan Jandi, sebenarnya sudah sering dilakukannya. Tapi tidak seperti hari ini, tidak sepagi ini. Karena khawatir dengan keadaan Jandi yang tidak bisa dihubungi sejak kemarin siang (dan ini tidak biasanya) membuat Junpyo tidak bisa memejamkan matanya semalaman. Oleh sebab itu pula , pagi-pagi sekali dia sudah berada di rumah Jandi tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
Junpyo memperhatikan Jandi dengan seksama. Penampilan gadis itu berantakan layaknya orang yang baru bangun tidur. Rambut panjang bergelombang yang dikuncir dua tampak awut-awutan. Sweater putih longgar yang dikenakannya agak miring, membalut tubuh mungilnya. panjang sampai sedikit diatas lutut.
Bagian kanan bahu itu agak turun sampai memperlihatkan dada dan lengannya yang putih mulus. Tali bra berwarna senada mengintip keluar dari bagian itu. Sedangkan celana panjang longgar yang dipakainya berwarna cream lembut, menjuntai menyapu lantai. Wajahnya polos tanpa sepuhan alat kosmetik. Alami dengan kulit putih mulus, agak kemerah-merahan.
Junpyo berdeham perlahan.
"Yaaaaaaaaaa .. Goo Jun Pyo, kamu sudah tuli ya? .. Saya sedang bertanya padamu!!". Jandi mengibaskan tangannya di depan wajah Junpyo.
Pemuda itu tersentak.
"Ohh .. penampilanmu sangat jelek .. Lain kali, jangan berpakaian seperti ini lagi!!", Junpyo tersenyum mengejek, berusaha mengalihkan perhatian Jandi dari keterpanaannya tadi.
Jandi langsung melotot kearah Junpyo.
"Apa perdulimu dengan penampilanku?! ... Lagipula tidak ada yang menyuruhmu datang sepagi ini?"
Junpyo mengangkat bahunya, kemudian melangkahkan kaki memasuki kamar Jandi dengan cuek. Mata Jandi terbelalak lebar. Dia sudah akan berteriak ketika seorang pelayan sampai dihadapannya. Pelayan berbadan kecil itu membungkuk hormat kepada Jandi.
"Anyongheseyo agashi ..., Sarapan sudah tersedia sejak satu jam yang lalu .. Apakah agashi akan sarapan di kamar atau di ruang makan?"
Jandi berpikir sebentar, kemudian dia berkata, "Di ruang makan saja!!". Dia berbalik ke belakang, memandangi Junpyo yang sudah menjatuhkan diri di ranjangnya, "Bagaimana denganmu, Junpyo-a?". Kekesalan Jandi pada Junpyo tadi sirna sudah, dan ini tanpa disadarinya.
Sebelum Junpyo menjawab pertanyaan Jandi, pelayan tadi berkata lagi, "Agashi! nyonya besar menitipkan sepucuk surat buat agashi, .. Beliau sudah berangkat ke Jepang dengan pesawat pribadi pukul 7 pagi tadi .. "
Mulut Jandi mengangga. Dengan tangan gemetar dia menerima surat yang disodorkan pelayan padanya.
"Tadi pagi .... ", katanya pelan. Seperti pertanyaan, tapi sebenarnya hanya berupa penekanan atas ketidakpercayaannya.
"Iya, agashi ... ", pelayan kecil itu menjawab tegas.
Jandi mengangguk. Sinar matanya meredup perlahan.
"Saya mengerti, .. Kamu boleh pergi sekarang .. dannn .. bereskan saja sarapan yang ada di ruang makan! .. Sa.. saya tidak lapar ... "
Pelayan itu memperhatikan Jandi selama dua detik. Hanya dua detik! Dia tidak berani menatap majikannya lama-lama. Dan dia dapat menangkap kesedihan dari sinar mata itu walaupun hanya tatapan dalam waktu dua detik. Dia segera membungkukan badan kearah Jandi.
"Baiklah agashi .. ". Kemudian pelayan itu berlalu dari hadapan Jandi.
Jandi mendesah perlahan. Dia bergerak dari tempatnya, menutup pintu kamar, kemudian melangkah kearah Junpyo. Dia menjatuhkan diri di samping Junpyo. Pikirannya menerawang dan matanya tak bercahaya.
Junpyo menoleh kearah Jandi. Keningnya berkerut.
"Gwencana Jandi-a?"
Jandi mendesah perlahan.
"O gwencana ... Saya sudah biasa ...". Jandi berusaha tersenyum kepada Junpyo tapi tidak berhasil. Senyum itu sangat terpaksa.
Kemudian Jandi membuka surat di tangannya. Membaca surat itu dengan kilat. Surat yang sangat pendek. Hanya menerangkan kalau omma berangkat ke Jepang untuk menyelesaikan pertikaian antara beberapa sponsor besar 'Korean News'. Sambil mendesah Jandi melipat surat itu.
Junpyo memperhatikannya sejak tadi. Ikut membaca surat itu karena Jandi tidak melarangnya. Ini merupakan salah satu kebiasaan buruk Junpyo. Dia selalu bersikap semaunya sendiri kalau sudah menyangkut masalah Jandi. Tiba-tiba Junpyo memegang tangan Jandi kemudian menariknya, bangkit dari pembaringan.
"Ayo, ikut saya!!"
Jandi memandangi Junpyo dengan sinar mata bertanya.
"Mwoo??!"
"Kita sarapan di luar dan bermain sepuasnya hari ini ...!", Junpyo kembali menarik tangannya sambil tersenyum lebar.
"Mengapa?", tanya Jandi penasaran.
"Tentu saja untuk menghilangkan kesedihanmu!!!"
Mata Jandi melebar. "Apa?! .. Saya .. tidakk ... "
Tapi perkataannya segera terpotong oleh kata-kata Junpyo selanjutnya, "Iya, saya tahu kamu sudah biasa dengan kepergian tante Geum yang mendadak ... Lupakan perkataanku tadi!.. Anggap saja hari ini kamu lagi liburan ....". Junpyo melebarkan senyumnya, yang mau tidak mau dibalas oleh Jandi.
Tiba-tiba Junpyo menepuk keningnya, "Ohhh .. ada yang terlupakan olehku!!", kemudian tergesa dia mengeluarkan ponsel dari saku celana.
------------------------------
Ha Jae Kyung memperhatikan penampilannya di depan kaca besar yang terpasang di dinding kamar mandi.
"Hmm ... sempurna .. ", gumamnya sambil tersenyum puas.
Gaun pink pendek yang membungkus ketat bagian atas dada dan melebar ke bawah dengan pita putih besar terikat di pinggangnya yang ramping membuat penampilannya sangat memikat. Jaekyung mengibaskan rambut sepunggungnya ke belakang, sambil menyentuh bibirnya yang terpoles lipgloss pink berkilat.


Jaekyung tersenyum lagi. Dan sekali lagi dia memeriksa penampilannya di depan cermin. Dia menarik gaun bagian dada ke bawah sehingga dada penuhnya itu semakin menyembul dari balik gaun yang dipakainya.
Sambil tersenyum puas, Jaekyung keluar dari kamar mandi. Dia memperhatikan sebentar keadaan apartemennya yang dingin dan tidak begitu besar. Dia melirik sekilas jam kecil di atas meja, dekat jendela. Jam 9 pagi! Junpyo berjanji akan menjemputnya sekitar jam ini. Dan setelah itu mereka akan sarapan bersama.
Pandangan Jaekyung beralih dari jam kecil ke bingkai foto berukuran 5 R yang tersampir di dinding, dekat jam kecil tadi. Dia berjalan kesana. Berdiri di samping meja kecil itu dan meraih bingkai foto tersebut. Diperhatikannya sejenak. Seorang wanita setengah baya yang sangat kurus dan pucat dengan mata redup tak bercahaya berdiri di sampingnya dalam foto itu. Jaekyung tersenyum perlahan. Senyuman pahit dengan sedikit ejekan.
"Kamu lihat sendiri kan? .. Tidak seperti perkataanmu, huhhhhhhhhh .. saya bisa mendapatkan seseorang yang tidak bisa dibayangkan olehmu!!!!"
kringggg ............ kringgggggggggg ........ kringgggggggg ..........
Deringan yang nyaring itu mengangetkan Jaekyung. Hampir saja dia menjatuhkan bingkai foto dalam genggamannya. Masih dengan ekspresi dingin, Jaekyung meletakkan foto itu ke tempatnya. Kemudian dia berlari ke sofa, di mana tas kecilnya terletak, mengeledah tas kecil itu dan mengeluarkan ponsel yang masih berdering. Dia tersenyum perlahan ketika melihat nama Junpyo terpapang di monitor.
Dengan tergesa dia memencet tombol penerima dan mendekatkan ponsel itu ke telinga.
"Ya, Junpyo-a!".
Dia mendengarkan sejenak. Perlahan ekspresi wajahnya berubah. Dari senang menjadi muram, lalu berubah suram. Benar-benar suram.
"Iya, araso Junpyo-a .... Tidak! .. saya baik-baik saja ... "
Lengan Jaekyung yang memengang ponsel menurun perlahan. Dia berpaling ke bingkai foto dekat jendela, sangat perlahan dan berirama. Satu .. dua .. tiga .. pandangannya bertemu kembali dengan foto wanita setengah baya yang tadi diajaknya berbicara.
"Puas!!!", katanya pelan, "Puass!!", mulai mengeras, "APAKAH KAMU PUAS SEKARANG!!", semakin keras ........"MENGAPA KAMU TERSENYUM? .. MENERTAWAKANKU!! .. KAMU MENERTAWAKANKU!!!!", seperti orang gila, Jaekyung berlari ke meja kecil itu dan menyapu jam kecil serta beberapa hiasan ke lantai.
BRAKKKKKKKKKKKKKKK ............. suara berisik yang sangat keras terdengar ketika barang-barang itu pecah berantakan.
Masih belum puas, Jaekyung mengambil foto yang masih tersampir di dinding, memandanginya dengan sinar mata berapi-api seperti kerasukan, kemudian melempar foto itu ke jendela.
PRANGGGGGGGGGG ................ Jendela dari kaca itu pecah berkeping-keping ....
-------------------------------------
Junpyo berusaha menghibur Jandi setelah mengetahui kepergian omma yang tiba-tiba itu. Junpyo membawa Jandi ke restoran siap saji yang belum pernah didatanginya. Sampai-sampai Jandi melonggo melihatnya. Biasanya Junpyo paling tidak suka melakukan sesuatu yang bertentangan dengan pedoman hidupnya. Hidup mewah, terpandang, selalu dihormati dan disanjung orang  merupakan pedoman hidup Junpyo. Dia tidak pernah mau pergi ke tempat-tempat yang biasa didatangi orang kebanyakan.
Walaupun tindakan Junpyo membuat Jandi keheranan, tapi dia merasa sedikit terhibur. Dia tidak menyangka, demi dia Junpyo bersedia mengambil inisiatif itu. Apalagi waktu sarapan semua orang dalam restoran itu memandanginya terus seperti melihat benda langka yang dipajang di museum. Jandi sampai tidak kuat menahan ketawanya ketika melihat Junpyo kikuk setengah mati. Makanan yang tersaji tidak disentuhnya sama sekali. Entah karna dia tidak biasa dengan makanan itu atau kegugupan yang membuatnya terpaku sepanjang acara sarapan itu.
Sehabis sarapan, Junpyo membawa Jandi berkeliling kota Seoul. Jandi sangat senang karena itu adalah sesuatu yang sudah lama tidak dilakukannya. Memandangi kota Seoul dari jendela mobil yang bergerak perlahan membuat perasaannya lebih baik. Semua kesedihan dan kesepiannya terasa terobati ketika angin semilir mengelus rambutnya lewat jendela mobil yang terbuka.
"Junpyo-a .. gumawo .. Saya sudah agak baikan sekarang .. ", kata Jandi sambil tersenyum lembut. Pandangannya masih terarah keluar jendela.


"Berjanjilah padaku .. "
"Mwoo??". Jandi menoleh kearah Junpyo.
"Apapun masalah yang kamu hadapi, kamu harus segera menceritakannya padaku! ... Aku akan selalu berada di sampingmu .."
Jandi tersenyum lagi. Kali ini lebih terlihat senyum yang agak dipaksakan. Dia tidak menjawab pertanyaan Junpyo. Pandangannya dilemparkan ke pemandangan di luar sana.
"Tapi tidak selamanya ...", ujarnya lirih. Sangat pelan hingga tidak terdengar oleh Junpyo.
"Mwoo?", tanya Junpyo kebingunggan.
"Ohh .. aniyo ..", sahut Jandi keras. Dia berpaling kembali pada Junpyo, "Maksudku, ... kita sudah sepakat kan kalau kamu tidak bisa melindungiku selamanya? .. karena itu saya harus mandiri ..". Setelah itu Jandi tertawa lebar.
Junpyo mengerutkan alisnya, kelihatan kebingunggan dengan perkataan Jandi.
"Tidak ingat? ... Kejadian di taman kanak-kanak Shinhwa delapan belas tahun yang lalu  .. ", kata Jandi lagi.
Junpyo menepuk jidatnya, "Ohhhh itu!!", kemudian dia tertawa keras, "Ha .. ha .. Iya, saya ingat sekarang! ... setelah kejadian itu kamu jadi berubah, .. Saya sering berpikir sejak kapan kamu tidak memerlukan pertolonganku lagi .. dan .. ternyata sejak kejadian itu ...".


Jandi ikut tertawa. Bayangan masa lalu kembali bermain dalam pikirannya.
"Tidak benar seluruhnya, ... Saya .. saya pernah meminta pertolonganmu .. sekali setelah .. kejadian itu .. dan .. dan .. itu permintaan yang .. memalukan .."
Junpyo berpikir sebentar. Apakah benar Jandi pernah meminta pertolongannya setelah kejadian masa kanak-kanak itu? Seingatnya dia yang terus-menerus meminta pertolongan Jandi. Dan semua pertolongan itu berkaitan dengan wanita-wanita yang ingin dikejarnya.
"Benarkah kamu pernah meminta pertolonganku?", tanya Junpyo penasaran. Dia menyerah setelah usaha keras untuk mengingat semua itu tidak berhasil.
Jandi memandangi Junpyo untuk beberapa menit, kemudian mengangkat bahunya.
"Sudahlah, lupakan itu!"
"Yaaaa .. Geum Jan Di ... ", teriak Junpyo yang semakin penasaran melihat kecuekan Jandi.
"Bagaimana kencanmu dengan Jaekyung?", tanya Jandi , berusaha mengalihkan perhatian Junpyo dari masalah tadi.
Junpyo mengerutkan alisnya.
"Kamu tidak mau menjawab pertanyaanku?"
Jandi berdecak, tidak sabar, "Ckkk ..Sudah kubilang lupakan itu! .. dan tentang Jaekyung, saya berharap kamu bersungguh-sungguh dengannya! ..  dia lain dari yang lain, .. kehidupannya tidak seperti model-model dan anak orang kaya yang pernah kamu kencani .. "
Junpyo melemparkan pandangan keluar jendela. Memajukan bibirnya, kemudian berpaling kembali pada Jandi, "Kamu jangan mengkhawatirkan hubungan kami .. Ini baru tahap permulaan .. Masalah kami bisa ditunda ..". Dia berhenti sebentar sebelum melanjutkannya lagi, "Lalu sekarang kamu ingin kemana?". Senyum lebar kembali menghiasi wajahnya.
Jandi menegakkan badannya kemudian berkata keras, "SAYA INGIN NONTON!! .. TAPI BUKAN NONTON DI BIOSKOP PRIBADI .. SAYA MAU NONTON DI BIOSKOP UMUM, BERHIMPITAN DENGAN PENONTON LAIN!!"
Mata Junpyo terbelalak lebar, "YAAAAA ... GEUM JAN DI!! .. Setelah kejadian di restoran fastfood itu saya sudah berjanji pada diri sendiri kalau saya tidak akan menginjakan kaki di tempat umum lagi!!.. pokoknya tidak, titik."
Jandi mendengus dengan pandangan mendelik.
"Saya tidak meminta padamu !.. kamu sendiri yang menawarkan permintaan itu padaku, JADI KAMU HARUS MENYETUJUINYA .. dan TITIK JUGA."
"Geum Jan Di ...", hanya teriakan itu yang keluar dari mulut Junpyo. Dia langsung teler mendengar balasan Jandi. Semuanya masuk akal dan dia kalah lagi. Kali ini sangat telak. Seperti kata pepatah 'senjata makan tuan', itulah yang terjadi padanya saat ini.
Junpyo melorot dari duduknya. Jandi segera memalingkan wajah keluar jendela. Senyum tertahan tersungging di wajahnya.
---------------------------
Dua hari sudah berlalu setelah kejadian itu. Hyesun sedang sibuk dengan berita financial yang mesti diperbaiki dengan segera ketika Jaekyung mendekatinya. Jandi mengangkat wajah menghadapi Jaekyung. Wajah gadis itu agak pucat. Hyesun mengenyitkan alisnya. Sudah dua hari ini Jaekyung kelihatan tidak bersemangat.
"O Jaekyung-a .. ada apa? .. Apakah kamu sakit?"
"Aniyo!", jawab Jaekyung cepat.
"Tapi wajahmu kelihatan pucat .. "
"Saya baik-baik saja ... ", sahut Jaekyung. Dia berhenti sebentar, sebelum melanjutkan perkataannya, "Agashi .. ada seorang pria sedang menunggu agashi di luar ..."
Jandi memandanginya dengan sinar mata bertanya. Dia ingin menyuruh Jaekyung untuk tidak memanggilnya agashi, tapi dia segera mengurungkan niatnya ketika rasa penasaran tentang pria yang menunggunya itu tidak tertahankan lagi.
Jandi bangkit dari duduknya.
"gumawo ..", katanya pada Jaekyung, kemudian dia melangkah keluar dari ruangan itu menuju ruang bagian headline.
Jandi mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Semua karyawan sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Hanya ada seorang pria yang berdiri di sana, menghadap jendela. Jandi mendekatinya. Dia semakin penasaran.
Dan ... seperti mengetahui kedatangan Jandi di sana, pria itu membalikan badannya.
"Anyongheseyo Geum Jan Di-si!!", sapa pria itu hangat.


############ 000 ###########



_________________


♥️ "Everywhere ★ we learn ★ only from ★ those whom ★ we love" ♥️
avatar
DragonFlower

Posts : 94
Join date : 2013-06-17
Location : | Trapped in CNBLUE Dorm |

View user profile

Back to top Go down

Re: Unconscious Love (Introduction & Prologue)

Post by Sponsored content


Sponsored content


Back to top Go down

Back to top

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum